Anda di halaman 1dari 33

1

I. JUDUL

: PENGARUH PEMBERIAN RENDAMAN URINE SAPI DALAM KONSENTRASI YANG BERBEDA TERHADAP

PERTUMBUHAN AKAR SETEK TANAMAN KOPI JENIS ROBUSTA (Coffea canephora)

II. IDENTITAS PENULIS NAMA NIM : KADEK RENY PURNAMA YANTI : 0913041051

JURUSAN : PENDIDIKAN BIOLOGI FAK/UNIV : MIPA/UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

III. LATAR BELAKANG MASALAH

Minat penduduk Indonesia semakin meningkat terhadap tanaman pangan. Hal ini dikarenakan pangan merupakan salah satu kebutuhan penting. Usaha budidaya tanaman pangan dewasa ini berkembang dengan pesat. Perkembangan ini berkaitan erat dengan meningkatnya ilmu pengetahuan di segala bidang. Salah satu ciri meningkatnya pengembnagan usaha tanaman pangan adalah adanya berbagai cara memperbanyak tanaman. Mulai dari yang sedehana sampai yang rumit. Ada tingkat keberhasilan hidup tinggi, ada pula yang rendah. Ini semua tergantung pada beberapa faktor misalnya cara perbanyakan yang dipilih, jenis tanaman, waktu perbanyakan, keterampilan dalam bekerja dan sebagainya. Menurut Gembong Tjitrosoepomo (1985) perkembangbiakan dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu perkembangbiakan generatif dan perkembangbiakan vegetatif. Perkembangbiakan atau perbanyakan tanaman secara generatif dengan biji sudah sangat umum kita jumpai. Di dalam biji terkandung calon individu baru (lembaga) yang pembentukannya diawali dengan peleburan antara gamet jantan dan betina. Pada perkembangan vegetatif, tanaman baru terbentuk tanpa peleburan gamet jantan dan gamet betina. Perkembangbiakan vegetatif terjadi dari bagian bagian vegetatif tumbuhan tersebut yaitu akar, batang dan daun. Perkembangbiakan vegetatif dapat terjadi secara alami dan secara alami dan secara buatan (Tjitrosoepomo, 1985). Perkembangbiakan vegetatif alami terjadi menurut sifat bawaan tumbuhan tersebut.

Sedangkan perkembangbiakan vegetatif buatan terjadi karena ada campur tangan manusia. Misalnya setek (akar, batang dan daun ), cangkokan dan okulasi. Perbanyakan tanaman kopi dengan stek dewasa ini telah berkembang dengan pesat, terutama pada kopi robusta. Sebagian besar perusahaan perkebunan beasar negara dan swasta telah menggunakan bahan tanam stek sebagai bahan tanam atau untuk peremajaan tanaman kopinya. Menurut Hartobudoyo dan Soedarsono (dalam Nur, 1989) Pertumbuhan tanaman stek lebih seragam dan memiliki sifat genetik sama dengan induknya. Sistem perakaran tanaman stek juga cukup kokoh menyerupai tanaman semaian (Nur dan Zainudin dalam Nur, 1989). Kopi robusta sering kali diperbanyak dengan cara vegetatif, atau menggunakan stek. Dalam perbanyakan tanaman secara vegetatif atau menggunakan stek, pembentukan akar merupakan faktor awal yang paling terpenting dalam pertumbuhan tanaman, tetapi dengan cara ini sukar terjadi pembentukan akar. Masalah ini memang dapat diatasi dengan pemberian hormon tumbuh, yang tujuannya untuk merangsang keluarnya akar (Abdurrani, 1990).Keuntungan yang dapat diperoleh dalam

perkembangbiakan menggunakan setek batang adalah 1) teknik pelaksanaannya sederhana, cepat, dan murah; 2) dihasilkan banyak bibit dari satu tanaman induk dalam waktu yang relatif singkat; dan 3) seluruh bibit yang dihasilkan memiliki sifat genetik yang sama dengan tanaman induk. Setek batang yang telah ditanam ke dalam media tanam sedapat mungkin membentuk akar agar setek tersebut mampu menyerap air dan zat-zat yang terdapat pada tanah untuk digunakan menjalankan metabolisme tubuhnya. Jika tidak, setek tersebut akan mati. Hal inilah yang sering dialami oleh pertumbuhan setek kopi robusta. Keberhasilan hidup setek tanaman ini tergolong cukup kecil karena setek akan cepat membusuk dan kemudian mati. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan akar yang relatif lambat. Oleh karena itu, untuk memperoleh pertumbuhan akar setek yang cepat, dapat dibantu dengan pemberian hormon pertumbuhan. Pemberian hormon tersebut dapat dilakukan dengan cara mencelupkan pangkal setek ke dalam larutan hormon. Hormon pertumbuhan merupakan senyawa organik yang bukan hara (nutrient), yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung (promote), menghambat (inhibitor), dan

dapat merubah proses fisiologis tumbuhan (Abidin, 1993). Hormon pertumbuhan tertentu, secara alami dapat ditemui pada seluruh bagian tumbuhan, baik pada bagian ujung batang, daun muda, bagian batang yang masih tumbuh, dan ujung akar (Heddy, 1996). Hormon pertumbuhan dapat dijumpai pada semua jenis tumbuhan. Salah satu hormon pertumbuhan yang mempunyai kemampuan untuk mendukung terjadinya pemanjangan sel (cell elongation) pada pucuk , ataupun untuk mendorong pembentukan primordial akar adalah auksin. Auksin merupakan salah satu zat pengatur tumbuh yang disebut juga fitohormon. Lucwill (1956) berhasil

membuktikan bahwa auksin berperan dalam pertumbuhan akar pada stek. Cara kerja hormon Auksin adalah menginisiasi pemanjangan sel dan juga memacu protein tertentu yang ada di membran plasma sel tumbuhan untuk memompa ion H+ ke dinding sel. Ion H+ mengaktifkan enzim tertentu sehingga memutuskan beberapa ikatan silang hidrogen rantai molekul selulosa penyusun dinding sel. Sel tumbuhan kemudian memanjang akibat air yg masuk secara osmosis. Auksin merupakan salah satu hormon tanaman yang dapat meregulasi banyak proses fisiologi, seperti pertumbuhan, pembelahan dan diferensiasi sel serta sintesa protein (Darnell, dkk., 1986). Auksin diproduksi dalam jaringan meristimatik yang aktif (yaitu tunas , daun muda dan buah) (Gardner, dkk., 1991). Kemudian auksin menyebar luas dalam seluruh tubuh tanaman, penyebarluasannya dengan arah dari atas ke bawah hingga titik tumbuh akar, melalui jaringan pembuluh tapis (floem) atau jaringan parenkhim (Rismunandar, 1988). Salah satu sumber auksin dapat ditemukan pada urine sapi. Penelitian Manston & Vagg (1970) menunjukkan bahwa air seni merupakan sumber fosfat yang penting. Sebagai produk ekskresi ginjal, air seni juga mengandung hormon yang bersumber dari bahan makanan yang dicerna dalam usus. Penelitian awal yang dilakukan Suprijadji et. al. (1988) menunjukkan bahwa air seni hewan ternak mengandung hormon auksin, asam giberelin (GA) serta kinetin, yang kadarnya beragam menurut ransum pakannya. Berdasarkan penelitian Prawoto (1992) menunjukkan bahwa kadar hormon auksin yang tertinggi yaitu rata rata sebesar 783 ppm terdapat pada urine sapi. Selain mengandung hormon, urine sapi juga mengandung zat hara antara lain: Nitrogen (1,0%), Fosfor (0,5%) dan Kalium (1,5%) (Lingga,1991).

IV. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut. Apakah ada perbedaan pengaruh pemberian rendaman urine sapi dalam konsentrasi yang berbeda terhadap pertumbuhan akar setek tanaman kopi robusta (Coffea canephora).

V. TUJUAN PENELITIAN Penelitian ini bertujuan : 1. Mengetahui ada tidaknya perbedaan pengaruh pemberian rendaman urine sapi dalam konsentrasi yang berbeda terhadap pertumbuhan akar setek tanaman kopi robusta (Coffea canephora). 2. Mengetahui konsentrasi urine sapi yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan akar setek tanaman kopi robusta (Coffea canephora).

VI. MANFAAT HASIL PENELITIAN Secara rinci manfaat yang diperoleh melalui penelitian ini adalah sebagai berikut. 1) Manfaat Teoritis a. Hasil penelitian ini dapat mengungkapkan pengaruh pemberian urine sapi dalam konsentrasi yang berbeda terhadap pertumbuhan akar setek tanaman kopi robusta (Coffea canephora). b. Hasil penelitian ini dapat mengungkapkan konsentrasi rendaman urine sapi yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan akar setek tanaman kopi robusta (Coffea canephora). c. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai penunjang proses pembelajaran biologi siswa SMA dalam materi tentang fisiologi tumbuhan 2) Manfaat Praktis a. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar memberikan saran kepada masyarakat yang mempunyai usaha tanaman pangan kopi robusta dalam upaya mempercepat perbanyakan vegetatif tanamannya.

b. Hasil penelitian ini dapat memberikan pengetahuan pada mahasiswa tentang pengaruh pemberian urine sapi terhadap pertumbuhan tanaman.

VII. ASUMSI DAN KETERBATASAN PENELITIAN 1. Asumsi Penelitian Pada penelitian ini, ada beberapa asumsi yang digunakan sebagai landasan berpikir. Kebenaran penelitian ini terbatas pada asumsi yang berlaku. 1) Memotong bahan stek hingga tersisa 2-3 ruas dengan gunting pangkas, panjangnya kira-kira 15-20 cm. Ruas yang digunakan sebagai bahan stek adalah ruas kedua dan ruas ketiga, sedangkan ruas pertama yang paling atas dibuang 2) Memotong mendatar ujung stek bagian atas sekitar 2 cm diatas buku kedua. Potong miring ujung bagian bawah sekitar 3-5 cm dibawah buku ketiga atau ke empat. Helaian daun dipotong hingga tersisa bagian, tujuanya untuk mengurangi penguapan. Beri lilin parafin diujung stek sebelah atas untuk mengurangi penguapan dan mencegah serangan penyakit. Sedangkan pada bagian bawah dapat direndam dengan rooton f atau direndam dengan urine sapi sebagai zat pengatur tumbuh.Faktor lingkungan seperti cahaya, suhu, kelembaban udara, kecepatan angin, memberikan pengaruh yang sama terhadap subyek penelitian karena semuanya ditempatkan pada tempat yang sama. 3) Tancapkan stek pada bedengan sedalam 7,5 cm dengan kemiringan 10-20 derajat. Jarak tanam stek 15 x 15 cm. Siram dengan air secukupnya. 4) Selain itu keberhasilan dalam pennyetekan harus didukung pula dengan lingkungan yang memadai. Umumnya menggunakan sungkup plastik transparan. Sungkup ini berfungsi sebagai penjaga kelembaban dan suhu sehingga diharapkan pertumbuhan stek dapat tumbuh dengan baik (Erviyanti, 2005)..

2. Keterbatasan Penelitian Di samping adanya beberapa asumsi diatas, penelitian ini juga memiliki beberapa keterbatasan sebagai berikut. 1) Penelitian ini berlaku sepanjang asumsi-asumsi diatas dapat dipertahankan. 2) Variabel-variabel lain yang mungkin berpengaruh dalam penelitian ini tidak diteliti.

VIII. TINJAUAN PUSTAKA (1). Tinjauan tentang Tanaman Kopi Robusta (Coffea canephora). Ada bermacam-macam jenis kopi, namun dalam garis besarnya hanya ada tiga jenis kopi yaitu Arabika, Liberica, dan Robusta. Yang paling dulu diusahakan di Indonesia adalah jenis arabica, kemudian menyusul golongan liberica, dan yang terakhir adalah golongan robusta (AAK, 1982). Kopi robusta disebut juga kopi canephora (Coffea canephora). Kopi ini memiliki batang yang lebih besar dari jenis kopi lainya. Di perkebunan tinggi tanaman ini tidak lebih dari 4 m karena selalu dipangkas. Apabila tidak dipangkas tinggi pohon bisa mencapai 2-3 kali lipatnya. Daun kopi robusta berbentuk lonjong, lebar, dengan bagian pangkal yang tumpul atau membundar, sedangkan ujungnya meruncing. Bunganya muncul pada cabang-cabang yang mendatar, menggerombol, umumnya terdiri atas 2-4 bunga yang tak bertangkai pada setiap gerommbol. Warna bunga putih dan baunya sangat harum. Buahnya termasuk buah batu dan berwarna merah kebiruan kalau sudah masak (Balai Pustaka, 1980). Dalam penelitian ini bahan stek diammbil jenis kopi robusta klon BP 42, dengan sifat-sifat agronomi: a. Perawakan sedang. b. Percabangan mendatar, ruas pendek. c. Bentuk daun membulat besar, permukaan bergelombang sedikit, dan berwarna pupus hijau kecoklatan. d. Buah berbentuk besar, dompolan rapat, warna hijau pucat, masak merah. e. Biji berukuran medium besar, saat pembungaan agak akhir (lambat). f. Produktivitas (kg kopi biji/ha/th): 800 1.200 (Balai Penelitian Kopi dan kakau Indonesia, 2008).

Kopi robusta dapat tumbuh baik pada ketinggian 0 1000 m diatas permukaan laut, menghendaki curah hujan yang cukup dengan masa kering 3-4 bulan. Temperatur yang dikehendaki untuk jenis kopi ini adalah 21-240C (AAK, 1989). Tanaman kopi Robusta memiliki klasifikasi sebagai berikut : Kingdom Divisio Class Ordo Familia Genus Species : : Spermatophyta : Dicotyledonae : Rubiales : Rubiaceae : Coffea : Coffea canephora

Gambar 1. Tanaman kopi robusta (Coffea canephora) di perkebunan kopi Cara Pemeliharaan a. Media tanam Tanah sedapat mungkin dipilih yang agak datar, subur, dan banyak mengandung bunga tanah.

Dekat perumahan dan sumber air, agar memudahkan pengamatan dan pemeliharaan pada musim kemarau, terutama dalam melakukan penyiraman.

Ada pohon pelindung, agar dapat menahan terik matahari dan percikan air hujan yang lebat, sehingga tidak merusakkan bibit

Terhindar dari bibit penyakit dan hama, tempattempat yang akan dipergunakan sebagai persemaian sebaiknya diselidiki terlebih dahulu terhadap kemungkinan adanya infeksi penyakit dan hama. Sehingga apabila ada bibit penyakit atau hama harus diadakan pencegahan dan pemberantasan b. Lingkungan Kopi Robusta menyukai suhu panas sedang seperti di daerah tropis (30 -35 C). Sinar matahari penuh akan disukai oleh kopi robusta terutama saat kelembaban tinggi.. Agar dapat berbunga dan berbuah dengan baik, kebanyakan kopi robusta butuh paling tidak 4-5 jam cahaya matahari langsung. c. Pemupukan Kuncinya adalah sedikit dan sering. Jika kopi robusta mendapat kondisi yang ideal, maka dia dapat tumbuh dengan sangat cepat. Namun jika terlalu banyak pupuk, maka kopi robusta akan mati. Jenis pupuk disesuaikan dengan kebutuhan. Kombinasi yang pas membutuhkan coba-coba disesuaikan dengan keadaan media, tingkat pertumbuhan, dan stressing (untuk pertumbuhan atau untuk pembungaan). (2). Tinjauan tentang Setek Setek merupakan potongan bagian vegetatif tanaman yang digunakan untuk perbanyakan tanaman. Setek banyak dipilih oleh orang yang berkecimpung di dunia jual beli tanaman hias,dan juga tanaman pangan yang belakangan ini marak dibudidayakan karena perbanyakan dengan setek memeiliki keunggulan-keunggulan yang dapat meningkatkan produktivitas bibit tanaman. Keunggulan perbanyakan dengan

menggunakan cara setek adalah sebagai berikut (Ariyantoro, 2006). a. b. Teknik pelaksanaannya sederhana, cepat, dan murah. Tidak ada masalah ketidakcocokan (Incompatibility) seperti yang mungkin timbul pada perbanyakan secara penyambungan atau okulasi. c. Dihasilkan banyak bibit dari satu tanaman induk dalam waktu yang relatif singkat. d. Seluruh bibit yang dihasilkan memiliki sifat genetik yang sama dengan tanaman induk.

Bagian-bagian tanaman yang dapat di setek adalah akar, batang, umbi, pucuk tergantung jenisnya (Astra, 1996). Jenis-jenis setek berdasarkan bagian tanaman yang disetek, yaitu dibedakan menjadi sebagai berikut (Wudianto, 2001). a) Setek cabang Setek cabang disebut juga dengan setek kayu karena pada umumnya tanaman yang dikembangbiakkan dengan setek cabang adalah jenis tanaman berkayu. b) Setek daun Daun yang diperlukan adalah daun yang masih segar dan berwarna hijau. Cara pembiakan ini diterapkan pada tanaman yang daunnya berdaging, tebal dan kandungan airnya tinggi. c) Setek akar Cara pembuatan setek ini yaitu dicari akar tanaman yang dekat dengan permukaan tanah dan mempunyai mata. Akar yang dekat dengan pohon induk dipotong dengan maksud agar mata tunas membentuk tanaman baru dengan makanan dari akar tanaman. d) Setek umbi Setek ini dapat dilakukan pada beberapa tanaman yang berumbi. Dari jenis umbi yang ada seperti umbi batang, umbi akar, dan umbi palsu, semuanya ini dapat disetek dengan setek umbi tetapi caranya berbeda-beda. e) Setek tunas Setek tunas disebut juga setek mata. Memiliki ukuran setek yang lebih pendek dibandingkan dengan setek batang. cara mengambil setek adalah dengan mengambil batang yang ada mata tunasnya. Jenis tanaman yang dapat dikembangbiakkan dengan setek ini adalah anggur terutama varietas baru yang belum banyak mempunyai batang dalam cabangnya. f) Setek pucuk Setek pucuk dimabil dari pucuk tanaman, kemudian ditanam pada media. Jenisjenis tanaman yang dapat disetek dengan cara ini adalah soka, akalipa, dan anggur.

(3). Tinjauan tentang Setek Batang

10

Wudianto (2001), menyebutkan bahwa batang yang dipilih untuk setek biasanya yang memiliki umur kurang lebih satu tahun. Batang yang terlalu tua kurang baik digunakan untuk setek karena batang yang tua memiliki kemampuan yang sangat rendah dalam membentuk akar. Sedangkan jika menggunakan batang yang terlalu muda (biasanya ditandai dengan tekstur yang lunak) untuk diguankan setek, maka proses penguapan akan sangat cepat sehingga setek menjadi lemah dan akhirnya mati. Selain umur setek, hal lain yang patut diperhatikan dalam memilih batang atau cabang yang akan digunakan setek adalah kesehatan batang atau cabang tanaman itu sendiri. Batang atau cabang tanaman yang akan diguanakan harus bebas dari hama dan penyakit. Salah satu penyakit yang dapat mengagalkan pertumbuhan setek adalah penyakit defisiensi nitrogen. Tanaman yang terkena penyakit defisiensi nitrogen memiliki ciri warna daun kekuningan. Defisiensi nitrogen pada setek dapat menyebabkan pertumbuhan akar pada setek akan terhambat atau terganggu dan tunastunas yang terbentuk akan sangat lemah. Untuk menghindari pemilihan batang atau cabang yang akan digunakan setek dari penyakit defisiensi nitrogen, maka pemilihan batang atau cabang yang diguanakan setek harus berwarna hijau. Batang atau cabang seperti ini, mempunyai kandungan karbohidrat dan nitrogen yang tinggi (Wudianto, 2001), sehingga akar dan tunas pada setek dapat tumbuh dengan baik. Pengambilan setek merupakan kegiatan memotong batang atau cabang tanaman yang akan digunakan sebagai setek. Pemotongan ini harus menggunakan pisau yang tajam, sehingga dihasilkan permukaan batang atau cabang setek yang halus. Permukaan batang yang halus akan mempercepat pertumbuhan kalus, sedangkan bila pemotongan yang dilakukan menghasilkan permukaan setek yang kasar maka permukaan potongan akan sangat sulit membentuk kalus. Kalus sendiri merupakan cikal bakal terbentuknya akar, sehingga jika kalus tidak terbentuk, maka akar pun tidak terbentuk. Bentuk potongan pangkal maupun ujung setek dapat dibuat datar atau miring. Irisan yang berbantuk miring akan mempunyai permukaan potongan yang lebih luas jika dibandingkan dengan potongan bentuk datar. Pada ujung setek dapat dibuat potongan datar ataupun miring. Potongan miring memiliki keunggulan yaitu katika air hujan atau air siraman jatuh pada ujung setek, maka air tersebut bisa mengalir ke bawah sehingga setek tidak akan busuk.

11

Panjang setek yang ditanamn juga perlu diperhatikan. Panjang setek yang ditanamn tergantung pada jenis tanaman, dengan jumlah tunas berkisar 3 6 mata tunas (Wudianto, 2001). Keberadaan daun pada setek memiliki peranan yang cukup besar. Di dalam daun terjadi proses fotosintesis yang hasilnya dapat mempercepat pertumbuhan akar. Namun perlu juga diperhatikan bahwa jumlah daun yang terlalu banyak pada setek justru dapat menghambat pertumbuhan akar setek karena daun yang banyak menyebabkan proses penguapan cukup besar. Oleh karena itu, daun yang diikutkan dalam setek cukup satu hingga dua helai saja atau lebih aman dihilangkan saja (Wudianto, 2001). Saat pemotongan setek yang baik adalah saat kelembaban udara tinggi. Pemotongan setek dilakukan di dalam air. Tujuanny adalah agar jaringan pembuluh pada setek yang baru dipotong terisi oleh air, dengan demikian akan memudahkan penyerapan zat makanan. Bila setek dipotong di tempat terbuka, udara tentu saja akan masuk ke dalam jaringan pembuluh, sehingga penyerapan air dan zat-zat makanan akan dipersulit atau dihalangi oleh adanya rongga udara (Wudianto, 2001). Dalam usaha penyemaian setek, dapat dilakukan dengan dua cara yaitu disemaikan dalam suatu wadah dan disemaikan dengan menggunakan bedengan. Cara penyemaian menggunakan wadah digunakan bila setek yang akan desemai jumlahnya sedikit, sedangkan cara penyemaian menggunakan bedengan dipilih ketika setek yang akan disemai jumlahnya banyak. Wadah yang digunakan bisa berupa kotak kayu, pot, keranjang, atau kantung plastik. Media yang dapat digunakan untuk menyemai setek harus memenuhi kriteri seperti gembur dan halus. Campuran antara pasir : lumut : tanah gembur atau kompos dengan perbandingan 2 : 1 : 1 dapat digunakan. Untuk memudahkan pertumbuhan akar pada setek, dapat dibantu dengan mencelupkan pangkal satek ke dalam larutan hormon perangsang pertumbuhan akar sebelum disemaikan pada media semai (Astra, 1996). Bila media semai telah tersedia, setek langsung bisa disemaikan. Selanjutnya media setek perlu dijaga suhu dan kelembabannya.

(4). Tinjauan tentang Pertumbuhan

12

Pertumbuhan dapat didefinisikan sebagai suatu proses kenaikan volume yang irreversibel, karena adanya pertambahan substansi termasuk perubahan yang terjadi bersama proses tersebut (Wareing dan Philips, 1970 dalam Astra, 1986). Sementara Salisbury dan Cleon W. Ros (1995) mendefinisikan pertumbuhan sebagai pertambahan ukuran. Karena organisme multisel tumbuh dari zigot, pertambahan itu bukan hanya dari volume, tetapi juga dalam bobot, jumlah sel, banyaknya protoplasma, dan tingkat kerumitan. Definisi lain menyebutkan bahwa pertumbuhan adalah sintesis protoplasma, biasanya diikuti oleh perubahan bentuk dan penambahan masa yang dapat lebih besar dari penambahan plasma itu (Sarna, dkk., 1999). Pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan terdiri dari fase generatif dan fase vegetatif. Fase vegetatif tumbuhan terutama terjadi pada perkembangan akar, daun dan batang baru. Fase ini berhubungan dengan proses penting dari sel yang meliputi fase pembelahan sel, fase perpanjangan sel, dan fase diferensiasi sel. a. Pembelahan sel Pembelahan sel terjadi pada pembentukan sel-sel baru. Sel-sel baru ini selama pembentukkannya memerlukan karbohidrat dalam jumlah yang besar, karena dinding selnya terdiri atas selulosa dan protoplasmanya kebanyakan tersusun atas gula. Pembelahan sel terjadi di dalam jaringan-jaringan meristematis pada titik-titik tumbuh batang, ujung-ujung akar dan kambium. Hormon dan vitamin sangat diperlukan dalam proses pembelahan sel. b. Perpanjangan sel Perpanjangan sel terjadi saat pembesaran dan pemanjangan sel-sel baru. Proses ini membutuhkan air dalam jumlah yang relatif banyak. Selain itu, juga diperlukan hormon dan gula. c. Diferensiasi sel Diferensiasi sel tahap pertama terjadi pada perkembangan jaringan primer. Perkembangan tersebut meliputi penebalan dinding sel-sel pelindung pada epidermis batang dan perkembangan pembuluh-pembuluh kayu baik pada batang maupun akar.

13

Untuk menilai pertumbuhan dilakukan dengan pengukuran. Salah satu cara pengukuran yang dapat digunakan adalah dengan menimbang berat basah tumbuhan secara utuh atau bagian tertentu yang ingin diteliti misalnya untuk mengukur pertumbuhan akar, maka berat basah akar tersebut ditimbang untuk kemudian dianalisis. Berat basah tumbuhan sangat ditentukan oleh kadar airnya dalam jaringan, oleh karena itu kegiatan menimbang berat basah tumbuhan harus dilakukan dengan cepat sebelum terjadinya penguapan terlalu banyak. Keuntungan yang diperoleh mengukur pertumbuhan dengan cara menimbang berat basah tumbuhan adalah lebih mencerminkan volume total sel sesungguhnya dan tidak perlu mematikan tumbuhan saat pengukuran atau penimbangan (Astra, 1996). (5). Tinjauan tentang Akar Tumbuhan Akar merupakan bagian tumbuhan yang biasanya tumbuh di dalam tanah, namun ada yang di udara (seperti akar epifit) dan di air (seperti akar hidrofit). Secara morfologi, akar berbeda dengan batang, pada akar tidak ditemukannya adanya buku (nodus), ruas (internodus), dan organ berbentuk daun (Adnyana, dkk., 2001). Sementara itu Gardener (1985) dalam Astra (1996), menyebutkan bahwa akar merupakan organ vegetatif utama memasok air, mineral, dan bahan-bahan yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Akar embrio (radikula) pada tumbuhan memperlihatkan perkembangan yang berbeda, sehingga secara umum dibedakan dua macam akar, yaitu sebagai berikut (Adnyana, dkk., 2001). a. Sistem akar tunggang, adalah sistem akar yang terdiri dari akar utama yang berkembang dari radikula dan akar-akar cabang. Tipe sistem akar ini umumnya terdapat pada tumbuhan dikotil yang berkembang dengan biji. b. Sistem akar serabut, adalah sistem akar yang terdiri dari akar-akar adventif dengan cabang-cabangnya. Sistem akar ini umumnya terdapat pada tumbuhan monokotil.

Perkembangan akar ada dua yaitu pertumbuhan primer dan pertumbuhan sekunder (Astra, 1996). Pada pertumbuhan primer, akar berasal dari calon akar yang terdapat pada embrio, yaitu dari meristem apeks di ujung akar embrio. Calon akar yang tumbuh menjadi akar tersebut adalah akar primer (Sarna, dkk., 1998).

14

Struktur akar primer terdiri atas beberapa bagian, yaitu tudung akar, epidermis, korteks, endodermis, perisekel, dan silinder pembuluh. Gambar struktur penampang melintang akar primer adalah sebagai berikut.

Gambar 2. Struktur penampang melintang akar primer Sumber : Kimball, 1991 Wereing dan Philip (1970) dalam Astra (1996), menyatakan bahwa pertumbuhan akar pada setek batang diawali dengan pembentukan kalus sebagai hasil pembelehan kambium. Kalus merupakan hasil perubahan sel-sel yang berada pada daerah kambium vaskuler. Dalam kalus (meristem sekunder) terdapat titik-titik tumbuh akar (Rismunandar, 1990 dalam Astra,1996). Ada tiga tahap yang dilalui selama pembentukan akar pada setek batang yaitu sebagai berikut. a. b. c. Adanya diferensiasi sel yang diikuti oleh migrasi sel-sel meristem. Diferensiasi kelompok sel untuk membentuk premordia akar. Menumbuhkan akar-akar baru. Kalus akan terbentuk bila kondisi saat tersebut menguntungkan, seperti tersedianya hormon dan nutrisi bagi tanaman. Semakin cepat terbentuk kalus, maka semakin cepat pula terbentuk akar baru. Sehingga terbentuknya kalus merupakan petunjuk regenerasi (daya tumbuh baru) tumbuhan. Regenerasi merupakan

kecendrungan suatu organisme yang sedang berkembang untuk memulihkan atau memperbaharui bagian-bagian yang hilang atau dipisahkan secara fisiologis. Dengan demikian, akan didapatkan kembali bentuk tubuhnya yang lengkap.

15

Pertumbuahan akar dipengaruhi oleh beberpa faktor antara lain adalah sebagai berikut (Kalsum, 2000). a. Kelembaban tanah Kelembaban tanah berkaitan dengan air yang terkandung di dalam tanah. sejumlah ahli berpendapat dan menemukan bahwa terjadi penurunan pertumbuhan bila kelembaban tanah terus meningkat. b. Kesuburan tanah Akar memerlukan nutria mineral yang cukup untuk pertumbuhannya. Tanah yang subur adalah tanah yang cukup nutria dan mineral bagi tumbuhan. Oleh sebab itu, tanah perlu dijaga kesuburannya dengan melakukan pemupukan, antara lain dengan N, P, dan K. c. Temperatur tanah Temperatur optimum bagi akar lebih rendah dibandingkan dengan pucuk, yang konsisten terhadap pertumbuhan alami. Selama musim semi, temperatur di bawah suatu hamparan rumput atau vegetasi lebih rendah dari temperatur di atas tanah. d. pH tanah pH di luar rentangan 5,0 8,0 secara potensial mempunyai pengaruh langsung dalam menghambat pertumbuhan akar. Sedangkan pH tanah yang kurang dari 6,0 meningkatkan keterlarutan alumunium, mangan, dan besi yang dapat bersifat racun dan membatasi pertumbuhan akar. e. Penghilangan daun Dalam setek, untuk mengurangi penguapan perlu dilakukan pengurangan atau penghilangan daun. f. O2 dan CO2 O2 esensial untuk proses metabolik, termasuk transfer dan penyerapan aktif. Penyerapan air tanah oleh akar meningkat dengan meningkatnya O2. O2 dalam tanah mempunyai pengaruh tidak langsung seperti perangsangan aktivitas mikroorganisme yang pada gilirannya mempengaruhi ketersedian nutrien bagi akar. Sedangkan konsentrasi CO2 sampai 2 % atau mendekati 10 kali lebih besar dari konsentrasi atmosfer udara, mendorong pertumbuhan akar. g. Kandungan karbohidrat

16

Setek yang karbohidratnya tinggi, mudah berakar dari pada kadar karbohidratnya rendah. Bila kadar proteinnya tinggi, maka setek yang demikian pertumbuhan akarnya ketinggalan sedangkan pertumbuhan cabangnya pesat. h. Zat tumbuh Beberapa zat tumbuh yang mempengaruhi pertumbuhan akar antara lain adalah auksin, giberilin, sitokinin, dan etilin. Auksin mendorong primordial akar dan perpanjangan akar. Pemberian auksin yang relatif tinggi pada akar, akan menyebabkan terhambatnya perpanjangan akar dan meningkatkan jumlah akar. Giberilin berpengaruh terhadap perpanjangan batang dan mempertinggi aktivitas pembelahan sel. Sedangkan sitokinin berperan dalam pembelahan sel dan diferensiasi, juga sangat berperan dalam proses fisiologis lain seperti proses kematian dan dorminasi tumbuh pucuk.

(6). Tinjauan tentang Auksin Auksin adalah salah satu hormon turnbuh yang tidak terlepas dari proses pertumbuhan dan perkembangan suatu tanaman. Auksin ini mula-mula ditemukan oleh Darwin pada tahun 1897 rnelalui percobaan pengaruh phototropisme (penyinaran) terhadap koleoptil. Pada saat penyinaran dilakukan terhadap koleoptil tersebut, ternyata ujung koleoptil itu melengkung ke arah datangnya sinar. Hal ini rnenunjukkan adanya sesuatu yang mengontrol terhadap gerakan tanaman tersebut. Efek karakteristik auksin adalah kernampuannya ntendorong pembengkokan suatu benih dan efek ini berhubungan dengan adanya suatu group atom di dalam molekul auksin tersebut. Walaupun mempunyai struktur yang sama, macam-macam auksin berbeda potensi biologisnya dan dalarn reaksi spesifiknya (Heddy, 1996). 6.1 Macam macam Auksin Menurut Mustika (1987), auksin yang diperoleh secara alami dapat digolongkan sebagai berikut. 1). Auksin a Pada mulanya Went mendapatkan auksin pada tanaman sejenis gandum Avena sativa. Kemudian setelah perkentbangln lcbih lanjut temyata ditemukan juga zat yang mempunyai fungsi yang sama dengan auksin pada ujung spesies tanaman yang lain.

17

Dengan ditenrukannya auksin jenis lain, maka auksin yang ditemukan pada Avena sativa disebut auksin a dengan rumus molekul C18H32O5 dan rurnus bangun sebagai berikut.

Gambar 3. Rumus Bangun senyawa auksin a 2). Auksin b Auksin b ditemukan oleh Kogl dkk, pada minyak jagung. Selain pada minyak jagung auksin b juga diternukan pada ujung-ujung spesies selain Avana. Auksin a mempengaruhi pertumbuhan Avena dan tidak pada spesies-spesies lainnya , tetapi auksin b berpengaruh terhadap spesies-spesies lain. Rumus molekul auksin b serupa dengan auksin a, tetapi auksin a mempunyai sebuah molekul air lebih banyak dari pada auksin b. rumus molekul auksin b adalah C18H30O4 dan rumus bangunnya dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Rumus bangun senyawa auksin b

18

3). lndole Acetic Acid (lAA) Dari penelitian selanjutnya diperoleh bahwa urine manusia ataupun hewan terutama yang habis makan zat-zat makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan mengandung auksin, baik auksin a, auksin b dan suatu zat yang disebut heteroauksin. Setelah diteliti ternyata yang disebut sebagai heteroauksin adalah indole acetat yang biasa disebut asam Indole Acetic Acid (lAA). IAA mempunyai pengaruh yang agak kurang terhadap pertumbuhan bila dibandingkan dengan auksin a dan auksin b, tetapi IAA sudah bisa dibuat sedangkan auksin a dan auksin b sulit diperoleh dalam jumlah besar. Rumus bangun IAA dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Rumus bangun senyawa lndole Acetic Acid (lAA)

6.2 Fisiologi Auksin Pada Pertumbuhan Tanaman Auksin sebagai salah satu hormon tumbuh bagi tanaman mempunyai peranan terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Dilihat dari segi fisiologi, hormon ini berpengaruh terhadap hal-hal berikut. I). Pengembangan sel Dari hasil studi tentang pengaruh auksin terhadap perkembangan sel menunjukkan bahwa terdapat indikasi yaitu auksin dapat menaikkan tekanan osmotik, meningkatkan permeabilitas sel terhadap air, menyebabkan pengurangan tekanan pada dinding sel, meningkatkan sintesis protein, nreningkatkan plastisitas dan pengembangan dinding sel. Dalam hubungannya dengan permeabilitas sel, kehadiran auksin meningkatkan difusi masuknya air ke dalam sel (Abidin,l993).

19

Menurut Wareing dan Phillips (1970) di dalarn tanarnan fase pertumbuhan dalam siklusnya terdiri dari dua fase yaitu fase pembelahan dan fase pelebaran. Hal ini terjadi pada sel yang mengalarni vokualisasi. Pada saat sel mengalami fase pelebaran, sel tidak hanya mengalami kerenggangan, tetapi juga mengalami penebalan dalam pembentukan material-rnaterial dinding sel baru. Pertumbuhan sel ini distimulasi oleh karena kehadiran auksin. Adapun pengaruh auksin terhadap keadaan fisik sel perlu dilakukan penelitian lebih lanjut (Abidin, 1993). 2). Fototropisme Suatu tanaman apabila disinari cahaya, nraka tanaman tersebut akan rnernbengkok ke arah datangnya sinar. Mernbengkoknya ranaman tersebut adalah karena terjadinya pemanjangan sel pada bagian yang tidak tersinari lebih besar dibanding dengan sel yang ada pada bagian tanaman vang tersinari. Perbedaan rangsangan tanaman terhadap penyinaran dinamakan fototropisme (Abidin, 1993). Teori Cholodny-Went tentang fototropisrne menetapkan bahwa penyinaran sepihak merangsang penyebaran yang berbeda (diferensiasi ) IAA dalam batang. Sisi batang yang disinari rnengandung IAA yang lebih rendah dari pada sisi yang gelap. Akibatnya sel-sel pada sisi yang gelap tumbuh memanjang lebih dari pada sel-sel pada sisi yang disinari, sehingga batang akan membengkuk kearah sumber cahaya (Heddy, 1996). 3). Geotropisrne Geotropisme adalah pengaruh gravitasi bumi tanaman. Apabila suatu tanaman diletakkan horizontal, maka akumulasi auksin akan berada dibagian bawah. Hal ini menunjukkan adanya transportasi auksin kearah bawah sebagai akibat dari pengaruh geotropisme. Dolk (1936) dalam eksperimennya menempatkan coleoptil Avena sativa dan Zea mays secara horizontal. Dari hasil penelitiannya diperoleh petunjuk bahwa auksin yang terkumpul di bagian bawah memperlihatkan lebih banyak dibandingkan dengan bagian atas (Abidin, 1993). 4). Apical Dominance Di dalam pola pertumbuhan tanaman, pertumbuhan ujung batang yang dilengkapi dengan daun tnuda apabila rncngalarni hambatan, maka pertumbuhan tunas akan tumbuh ke arah samping yang dikenal dengan tunas lateral. Misalnya saja terjadi

20

pemotongan pada ujung batang (pucuk), maka akan turnbuh tunas pada ketiak daun. Fenomena ini disebut "apical dominance" (Abidin, 1993) Jika auksin ditambahkan pada sisa batang vang terpotong, setelah apeks tajuk dipangkas maka perkembangan kuncup samping dan arah pertumbuhan cabang vang tegak akan terhambat lagi pada banyak spesies (Salisbury dan Ross, 1995). 5). Perpanjangan Akar Pemberian auksin memacu pemanjangan potongan akar atau bahkan akar utuh pada banyak spesies. tapi hanya pada konsentrasi yang sangat rendah (10-7 sampai 10-3M, tergantung pada umur spesies dan umur akar). Pada konsentrasi yang tinggi, pemanjangan hampir selalu terhambat. Terdapat bukti yang kuat bahwa auksin dari batang sangat berpengaruh pada awal pembentukan akar. Bila daun muda dan kuncup dipangkas, jurnlah pembentukan akar samping berkurang. Bila hilangnya organ tersebut diganti dengan auksin, kemampuan memtrcntuk akar sering menjadi pulih kernbali (Salisbury dan Ross, 1995). Auksin juga memacu perkembangan akar liar pada batang. Banyak spesies berkayu telah mernbentuk primordia akar liar terlebih dahulu dalam batangnya, yang tetap tersembunyi selama beberapa waktu lamanya, dan hanya tumbuh bila dipacu dengan auxin. Pada tahun 1935, Went dan Kenneth V Thirmann menunjukan bahwa IAA memacu pertumbuhan awal akar pada stek batang, dan dari situlah pertama kali berkernbang penggunaan auxin dalarn praktek (Salisbury dan Ross, 1995).

6.3 Sintesis dan Pengrusakan Auksin (IAA) Ada dua mekanisme sintesis IAA yang dikenal dan keduanya rneliputi pengusiran gugus asam amino dan gugus karboksil-akhir dari cincin samping triptofan. Lintasan yang lebih banyak terjadi pada sebagian besar spesies mencakup tahapan berikut . gugus amino bergabung dengan sebuah asam -keto rnelalui reaksi transaminasi rnenjadi asam indolepiruvat, kemudian dekarboksilasi indolepiruvat mernbentuk indolasetaldehid. akhimya indolasetaldehid dioksidasi menjadi IAA. Enzim yang paling aktif diperlukan untuk mengubah triptofan menjadi IAA terdapat di jaringan rnuda, seperti meristem tajuk, serta daun dan buah yang sedang tumbuh. Di semua jaringan ini, kandungan auksin juga paling tinggi, yang rnenunjukan bahwa IAA memang disintesis di situ (Salisbury dan Ross, 1995).

21

Mekanisme pengrusakan IAA dapat dilakukan melalui pembentukan konyugat auksin. Pada konyugat disebut juga auksin terikat, gugus karboksil IAA bergabung secara kovalen dengan molekul lain mernbentuk bc.berapa turunan. Jenis konyugat IAA sudah banyak dikenal, termasuk peptida usam intlolusetil aspartat dan ester lAA-inositol dan lAA-glukosa. Umumnya tumbuhan dapat melepaskan IAA dari konyugat ini dengan bantuan enzim hidrolase, yang menunjukan bahwa konyugat merupakan bentuk cadangan IAA. Ada dua proses lain untuk menyingkirkan IAA, yang bersifat merusak. Yang pertanra meliputi oksidasi dengan O2 dan hilangnva gugus karboksil CO2 hasilnya bermacammacam, tapi biasanya yang utama adalah 3-metilenoksindol. Enzim yang mengkatalisis reaksi ini adalah IAA oksidase.

(7). Tinjauan tentang Urine Sapi Urine merupakan hasil ekskresi ginjal yang mengandung air, urea, dan produk metabolik yang lain. Di dalamnya terkandung pula berbagai jenis mineral dan hormon yang diekstrak dari makanan yang dicerna dalam usus. Sapi yang mengkonsumsi pakan hijau, diduga dalam urinenya terdapat zat pengatur tumbuh yang mempunyai efek fisiologis terhadap tanaman dalam mendorong pembesaran dan pembelahan sel. Ada dua jenis hormon penting yang dikandung dalam urine sapi yaitu auksin dan asam giberelin (GA). Rata rata kadar auksin yang terdapat pada urine sapi dapat mencapai 782,82 ppm (Prawoto, 1992). Kadar hormon ini juga dipengaruhi oleh jenis pakan yang diberikan. Kadar auksin dan GA dalam urine cenderung lebih tinggi pada ternak betina daripada ternak jantan. Demikian pula dalam urine sapi kereman kadarnya lebih tinggi daripada dalam urine sapi pekerja. Secara terbatas urine merupakan sumber auksin dan asam giberelin serta dapat menggantikan fungsi zat pengatur tumbuh sintetis dalam mengatur perakaran pada stek. Selain itu juga terkandung unsur hara lain dalam urine sapi yang juga sangat bermanfaat bagi tanaman seperti Nitrogen, Fosfor dan Kalium. Tisdale dan Nelson dalam Henni Mas Tuti menerangkan bahwa komposisi unsur hara yang terdapat di dalam urine sapi adalah air 92%, N 1%, P2O5 0,20% dan K2O 1,35%. Nitrogen, Fosfor, dan Kalium merupakan bagian dari unsur hara utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Nitrogen cenderung merupakan unsur yang membatasi pertumbuhan tanaman. Sumber

22

nitrogen adalah bahan organik sisa tumbuhan dan hewan, serta hasil nitrogen bebas dari udara oleh bakteri-bakteri rhizobium yang terdapat dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminasae). Nitrogen diambil oleh tanaman dalam bentuk ion NH4+ atau NO3. Peranan utama nitrogen bagi tanaman adalah untuk merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan, khususnya batang dan daun yang terutama terjadi pada tanaman muda. Nitrogen juga merupakan komponen penyusun senyawa esensial misalnya asam-asam amino dan enzim. Setiap molekul protein tersusun dari asam-asam amino. Protein dan asam-asam amino merupakan senyawa penyusun jaringan tanaman. Selanjutnya menurut Setyamidjaja dalam Henni Mas Tuti (2001) bahwa peranan utama unsur nitrogen adalah membuat tanaman menjadi hijau karena banyak mengandung butir-butir hijau daun yang penting dalam fotosintesis yaitu penyusunan klorofil daun, protein dan lemak. Hasil fotosintesis akan merangsang pertumbuhan vegetatif yaitu menambah tinggi tanaman. Kalium juga merupakan unsur hara utama yang diperlukan tanaman dan berpengaruh terhadap berbagai proses pertumbuhan tanaman. Sumber kalium dalam tanah diambil oleh tanaman dalam bentuk ion K+. Dwidjoseputro menerangkan bahwa kalium dalam tanaman terdapat sebagai garam organik. Pada bagian tanaman yang melakukan pertumbuhan terdapat lebih banayk kalium daripada didalam daun yang tua, karena K+ mudah disalurkan dari organ dewasa ke orang muda. Unsur ini mempunyai peranan yang penting sebagai katalisator, terutama dalam pengubahan protein menjadi asam amino. Kalium berperan dalam penyusunan dan pembongkaran karbohidrat, karena kalium dapat mengaktifkan enzim yang diperlukan untuk membuat pati. Selanjutnya menurut Lingga bahwa kalium juga berperan meperkuat tubuh tanaman agar daun, bung dan buah tidak mudah gugur. Fungsi lain dari kalium adalah sebagai sumber kekuatan bagi tanaman menghadapi kekeringan dan penyakit. Unsur kalium dapat memperkuat tubuh tanaman, karena dapat menguatkan serabut-serabut akar sehingga daun dan bhuah tidak mudah gugur. Bila kekurangan kalium tanaman akan memperlihatkan gejala daun menjadi kuning, ada noda-noda jaringan mati di tengah-tengah lembaran atau sepanjang tepi daun sehingga pertumbuhan tanaman terhambat, batang kurang kuat sehingga mudah terpatahkan oleh angin. Menurut Setyamidjaja dalam Henni Mas Tuti (2001), peranan fosfor adalah memacu pertumbuhan akar dan pembentukan sistem perakaran yang baik dari benih dan

23

tanaman muda, mempercepat pembungaan dan pemasakan buah dan biji, memperbesar persentase bunga menjadi buah atau biji, sebagai bahan penyusun inti sel, lemak dan protein. Beberapa akibat kekurangan fosfor yaitu keadaan perakaran tanaman sangat kurang dan tidak berkembang, dalam keadaan kekurangan fosfor yang parah menyebabkan daun, cabang dan batang berwarna ungu. (8). Kerangka berpikir Tanaman Kopi Robusta

Perkembangbiakan Vegetatif

Perkembangbiakan Generatif

Setek

Biji

Cara mudah Membutuhkan waktu yang lebih singkat dalam pengembangbiakan Keberhasilan hidup rendah

Waktu pengembangbiakan sangat lama

Pengembangbiakan tumbuhan cepat Keberhasilan hidup lebih tinggi Cara mudah dan sederhana

Perlakuan ekstra pada setek

Memberikan hormone auksin alami dari urine sapi untuk mempercepat pertumbuhan akar pada setek

24

Penjelasan: Tanaman kopi robusta dapat dikembangbiakan dengan cara vegetatif dan generatif, Perkembangbiakan vegetatif dapat dilakukan salah satunya dengan setek. Perkembangbiakan secara generatif dilakukan dengan biji. Kedua cara tersebut masingmasing memiliki kelemahan dan kelebihan misalnya setek membutuhkan waku yang lebih singkat daiam pengembangbiakannya, caranya mudah tetapi keberhasilan hidupnya rendah. Biji membutuhkan waktu yang sangat lama dalam

pengembangbiakannya. Melihat permasalahan di atas maka muncullah pemikiran bagaimana mengembangbiakkan kopi robusta dengan cepat (cepat tumbuhnya akar), keberhasilan hidup tinggi dan caranva tidak rumit yaitu dengan menambahkan hormon pertumbuhan pada setek tanaman kopi robusta. Hormon yang dimaksudkan adalah hormon auksin yang secara alami terdapat pada urine sapi. Kandungan auksin pada urine sapi ini akan mempercepat pertumbuhan akar pada setek. Pertumbuhan akar yang cepat pada setek akan menyebabkan tanaman ini mampu bertahan dan tidak akan cepat membusuk pada bagian pangkal setek. Dengan demikian dapat diduga bahwa perendaman setek batang dalam urine sapi memiliki pengaruh yang lebih baik terhadap pertumbuhan setek tanaman kopi robusta (Coffea canephora). Dimana kebenaran dari dugaan tersebut akan diuji melalui penelitian ini.

IX. Hipotesis Bertolak dari landasan teori di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut. Ada perbedaan pengaruh pemberian rendaman urine sapi dengan konsentrasi yang berbeda terhadap pertumbuhan akar setek tanaman kopi robusta (Coffea canephora).

X. Metode Penelitian A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian eksperimental yaitu penelitian yang bertujuan untuk meneliti kemungkinan adanya hubungan sebab akibat

25

dengan memberikan perlakuan pada kelompok eksperimen dengan pola dasar the posttest only control group design, dengan bagan sebagai berikut (Bawa, 1997). R R Keterangan : R X : Pengambilan sampel diambil secara acak : Menunjukkan bahwa sampel setek batang tanaman kamboja jepang (Adenium obesum) diberi perlakuan rendaman urine sapi dengan konsentrasi yang berbeda, sebagai kelompok eksperimen. Tanpa X : Menunjukkan sampel setek batang tanaman kamboja jepang (Adenium obesum) yang tidak diberi perlakuan rendaman urine sapi dengan konsentrasi yang berbeda. 0 : Menunjukkan hasil observasi yang dilakukan pada akhir penelitian. X 0 0

B. Rancangan Penelitian Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakukan dan 10 ulangan. Pengacakan pada Rancangan Acak Lengkap (RAL) dilakukan dengan teknik random sederhana dengan undian. Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut (Arnyana, 2005). 1. Menentukan jumlah anggota sampel yang diperlukan, sesuai dengan jenis penelitian yang dilaksanakan. 2. Menulis nomor anggota populasi tersebut pada kertas kecil-kecil dan kemudian menggulung kertas-kertas tersebut dan memasukkannya ke dalam suatu wadah dan dikocok. 3. Menarik kertas-kertas kecil-kecil satu persatu sejumlah yang diperlukan.

C. Variabel Penelitian Dalam penelitian ini melibatkan dua variabel yaitu 1). konsentrasi rendaman urine sapi sebagai variabel bebas; dan 2). pertumbuhan akar setek kopi robusta (Coffea canephora).sebagai variabel terikat.

26

D. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah setek batang tanaman kopi robusta (Coffea canephora). Setek batang yang digunakan adalah setek batang setengah tua dengan ciriciri cukup lentur dan mudah dilengkungkan (Kalsum, 2000). Dari populasi yang diasumsikan homogen, dipilih secara acak 100 setek sebagai sampel. Kemudian dipilih menjadi 5 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 10 setek, setiap kelompok diberi perlakuan berbeda dengan kode sebagai berikut. A. Terdiri atas kelompok setek yang tidak diberi rendaman urine sapi (sebagai kontrol). B. Terdiri atas kelompok setek yang diberi rendaman air urine sapi dengan konsentrasi 25%. C. Terdiri atas kelompok setek yang diberi rendaman urine sapi dengan konsentrasi 50%. D. Terdiri atas kelompok setek yang diberi rendaman urine sapi dengan konsentrasi 75%. E. Terdiri atas kelompok setek yang diberi rendaman urine sapi dengan konsentrasi 100%.

E. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa instrumen keras yaitu neraca Ohaus dan penggaris.

F. Teknik Pengumpulan Data Untuk memperoleh data, dilakukan langkah-langkah meliputi tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap observasi. 1. Tahap Persiapan Tahap persiapan meliputi hal-hal sebagai berikut. a) Menyiapkan alat dan bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, gunting, , ayakan besar, neraca Ohaus, pisau besar, lumpang dan alu, penggaris, gelas ukur, gelas kimia, corong kaca, kertas saring, pupuk kandang, tanah kebun,

27

pasir, alkohol 75%, urine sapi, dan batang tanaman kopi robusta (Coffea canephora). b) Menyiapkan tempat penelitian Tanaman kopi robusta sangat cocok ditanam ditempat yang kena cahaya matahari langsung. Penelitian dilakukan pada areal kebun Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja tepatnya pada rumah hijau kebun biologi. c) Menyiapkan media tanam Media tanam yang dipergunakan adalah campluan dari tanah. pasir, dan pupuk kandang, dengan perbandingan 1 : 2 : 1. Tanah yang digunakan adalah tanah tegalan yang diambil pada satu areal. Pasir yang diigunakan ialah pasir yang telah diayak sebelumnya. Kemudian pupuk kandang yang digunakan berasal dari kotoran sapi. Ketiga campuran media tanam ini diaduk dengan menggunakan cangkul dan sekcp sampai rata. Media tanam tersebut dijemur selama 2 hari. Kemudian media tanam dimasukkan ke dalam kantong plastik/polybag1 kg. Polybag ini sudah berlubang, sehingga tidak perlu dilubangi lagi. Lubang pada polybag berfungsi sebagai tempat keluarnya air berlebih yang terdapat dalam polybag tersebut. d) Menyiapkan rendaman urine sapi Pembuatan rendaman dilakukan dengan cara sebagai berikut. 1. Semua alat yang akan digunakan dibersihkan dengan menggunakan alkohol 75%. 2. Mengumpulkan urine sapi yang didapat dari peternakan peternakan di daerah Singaraja. 3. 4. Urine sapi disaring dengan corong yang dilengkapi dengan kertas saring. Hasil saringan urine sapi ini selanjutnya dianggap memiliki konsentrasi 100%. 5. Dari hasil saringan urine sapi ini kemudian akan dibuat dengan

konsentrasi yang berbeda sebagai berikut. 100 ml aquades tanpa ditambah dengan urine sapi (larutan ini diberi kode A).

28

25 ml urine sapi ditambah dengan aquades sampai mencapai volume 100 ml, untuk konsentrasi 25% (larutan ini diberi kode B). 50 ml urine sapi ditambah dengan aquades sampai mencapai volume 100 ml, untuk konsentrasi 50% (larutan ini diberi kode C). 75 ml urine sapi ditambah dengan aquades sampai mencapai volume 100 ml, untuk konsentrasi 75% (larutan ini diberi kode D). 100 ml urine yang sudah disaring dianggap konsentrasi 100% (larutan ini diberi kode E). e) Menyiapkan sampel Bahan setek yang diperlukan diperoleh dari 50 tanaman kopi robusta. Sampel setek dipilih menurut kriteria yang telah ditentukan. Tanaman yang dipilih cukup sehat dan segar. Setek terdiri dari potongan-potongan batang dewasa. Masing-masing potongan pada umumnya mempunyai 23 tunas. Potongan ditanam secara horisontal dan ditutup dengan suatu lapisan tipis tanah. Pada setek dilakukan pemotongan bagian pangkal 1 cm di bawah mata tunas terbawah dengan kemiringan irisan 45o. Bagian pangkal atas setek juga dilakukan pemotongan yang serupa seperti pada pangkal. Potongan batang merupakan benih yang diambil dari tumbuhan dalam pembibitan khusus pada usia sekitar 68 bulan. Tangkai kopi robusta yang utuh dapat juga ditanam. Pemotongan setek dilakukan di dalam air agar mengurangi terjadinya penguapan dan daun-daun yang terdapat pada setek dihilangkan.

2. Tahap Pelaksanaan Penanaman dilakukan dengan empat mata tunas masuk ke dalam media atau 10 cm setek tertanam pada media tanam. Sebelum dilakukan penanaman setek, terlebih dahulu direndam dalam masing-masing perlakuan selama 25 menit. Penyiraman dilakukan dua kali sehari sebanyak 15 ml per polybag. Penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore. Penyiangan dilakukan bila terlihat gulam pada polybag.

3. Tahap Observasi Observasi hanya dilakukan pada akhir eksperimen, yaitu pada saat setek batang tanaman Kopi robusta (Coffea canephora).Berumur 30 hari setelah tanam. Parameter

29

yang diamati untuk mendapatkan perbedaan pengaruh rendaman urine sapi terhadap pertumbuhan akar setek tanaman kopi robusta (Coffea canephora)adalah berat basah akar setek (sebagai data pokok yang dianalisis secara statistik), jumlah akar, dan panjang akar (sebagai data penunjang). Data tersebut dipandang sudah mencerminkan pertumbuhan akar tanaman kopi robusta (Coffea canephora).. Untuk menghindari putusnya akar selama observasi dilakukan, maka sebelum dipotong, sampel direndam dalam air agar tanah-tanahnya lepas. Setelah itu, dicuci bersih dengan hati-hati dan dianginkan, kemudian dilakukan perhitungan jumlah akar, pengukuran panjang akar, dan penimbangan berat basah akar. Kemudian data yang diperoleh dimasukkan ke dalam tabel pengumpul data sebagai berikut. Tabel 1. Tabel pengumpul data hasil observasi ULANGAN A I . . . XX Total Rerata YA1 . . . YA20 YA
A

PERLAKUAN B YB1 . . . YB20 YB


TOTAL D YD1 . . . YD20 YD

C YC1 . . . YC20 YC

E YE1 . . . YE20 YE

Sumber : Gasperz, 1991 : 66 dalam Kalsum, 2000.

G. Teknik Analisis Data Data yang telah terkumpul pada tabel pengumpul data hasil observasi, selanjutnya dianalisis dengan analisis varian satu arah (ANAVA satu arah). Adapun langkah-langkahnya adalah 1) perhitungan statistik; dan 2) membuat varian sebagai berikut. 1. Perhitungan statistik, langkah-langkah perhitungannya adalah : T 2 ... a. FK = rt b. JKTotal = (Yij) - FK perhitungan

30

c. d. e. f. g.

JKPerlakuan JKGalat KTP KTG FHitung

(Total Perlakuan) 2 FK r

= JKTotal JKPerlakuan = = =
JKPerlakuan t 1

JK Galat db galat
KTP KTG

2. Membuat daftar analisis varian Sumber Keragam an Perlakuan Galat Total t1 db total perlakuan rt 1 JKP JKG JKT KTP KTG
KTP KTG

TTabel Db JK KT FHitung 5 % 1 %

Keterangan : JK rt JKP JKT Yij t r = Jumlah kuadrat = Banyaknya pengematan = Jumlah kuadrat perlakuan = Jumlah kuadrat total = Nilai pada perlakuan ke I, ulangan ke j = Perlakuan = Ulangan Untuk menguji F hitung yang diperoleh digunakan taraf signifikansi 5% dan 1%. Jika F hitung F tabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya bahwa ada perbedaan pengaruh rendaman urine sapi dengan konsentrasi yang berbeda terhadap pertumbuhan akar setek tanaman kopi robusta (Coffea canephora). Sebaliknya, jika F hitung F tabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak. Artinya bahwa tidak ada perbedaan

31

pengaruh rendaman urine sapi dengan konsentrasi yang berbeda terhadap pertumbuhan akar setek tanaman kopi robusta (Coffea canephora). Untuk mengetahui perlakuan mana yang paling berpengaruh, maka dilakukan pengujian lanjutan dengan uji beda nyata terkecil (BNT), adapun prosedurnya sebagai berikut. BNT = TTabel
A A

dimana T tabel = (, db), dicari di dalam tabel, kemudian nilai BNT dibandingkan dengan selisih rata-rata perlakuan ( ) : | | BNT atau BNT Untuk menyajikan nilai rata-rata perlakuan ( ) dan mempermudah perbandingan dibuat matrik selidih nilai rata-rata dari yang terkecil sampai yang terbesar atau sebaliknya. Bentuk matrik adalah sebagai berikut.

Tabel 2. Model matrik selisih nilai rata-rata berat basah akar setek kopi robusta (Coffea canephora). Perlakuan Nilai Rata-rata E D C B A
A

A
A

0 0 0 0 0

Seluruh perhitungan analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan bantuan program computer yakni program SPSS V13 for windows.

32

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.

2008. Urin Sapi, Potensi yang Terbuang. (http://www.trobos.com/diakses pada tanggal 10 desember 2011).

Online.

Abidin, Zainal. 1993. Dasar-dasar Tentang Zat Pengatur Tumbuh. Bandung : Angkasa. Adnyana, Putu Budi & Ida Bagus Putu Arnyana. 2001. Buku Ajar Morfologi Tumbuhan. Singaraja : Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA IKIP Negeri Singaraja. Prawoto, Adi & Suprijadji,Gatut. 1992. Kandungan Hormone dalam Air Seni Beberapa Jenis Ternak. Jurnal Penelitian Pelita Perkebunan. Vol. 7 No. 4. Halaman 7984. (Online). (http://jurnal.pdii.lipi.go.id/ diakses pada tanggal 5 desember 2011). Ariyantoro, Hadi. 2006. Teknik Perbanyakan Tanaman. Klaten : PT Intan Sejati. Arnyana, Ida Bagus Putu. 2005. Dasar-dasar Metodologi Penelitian. Singaraja : Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA IKIP Negeri Singaraja. Bawa, Wayan. 1997. Dasar-dasar Metodologi Penelitian. Singaraja : Program Studi Pendidikan Biologi STIKIP Singaraja. Fatimah, Siti nur. 2008. Efektivitas Air Kelapa dan Leri Terhadap Pertumbuhan Tanaman Hias Bromelia (Neoregelia carolinae) Pada Media yang Berbeda.Skripsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Online. (http://etd.eprints.ums.ac.id/ diakses pada tanggal 10 desember 2011). Heddy, Suwasono. 1996. Hormon Tumbuhan. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada. Hidayat, Estiti B. 1994. Morfologi Tumbuhan. Jakarta : Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Tenaga Akademik. Kalsum, Umi. 2000. Pengaruh Ekstrak Buah Tomat (Solanum lycopersicum) Terhadap Pertumbuhan Akar Setek Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis). Skripsi (Tidak Diterbitkan). Singaraja : Program Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan MIPA STKIP Singaraja. Kimball, John W. 1991. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. Terjemahan oleh H. Siti Soetarmi Tjitrosomo dan Nawangsari Sugiri. Jakarta : Erlangga. Salisbury, Frank B. & Cleon W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 3. Bandung : ITB Bandung.

33

Sarna, Ketut, dkk. 1998. Buku Ajar Anatomi Tumbuhan. Singaraja : Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan MIPA STIKIP Singaraja. Sarna, Ketut, dkk. 1999. Buku Ajar Fisiologi Tumbuhan. Singaraja : Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan MIPA STIKIP Singaraja. Tjitrosoepomo, Gembong. 1989. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta : Gajah Mada University Press. Tjitrosoepomo, Gembong. 1989. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Yogyakarta : Gajah Mada University Press. Wudianto, Rini. 2001. Membuat Setek, Cangkok Dan Okulasi. Jakarta : Penebar Swadaya.