Anda di halaman 1dari 32

MANAJEMEN KEBIDANAN

A. Pendahuluan Bidan sebagai seorang pemberi layanan kesehatan (health provider) harus dapat melaksanakan pelayanan kesehatan dengan melaksanakan manajemen yang baik. Dalam hal ini bidan berperan sebagai sebagai seorang manajer, yaitu mengelola atau memenage segala sesuatu tentang kliennya sehingga tercapai tujuan yang diharapkan. Konsep dasar manajemen adalah ilmu manajemen secara umum, dimana dengan mempelajari teori manajemen, maka diharapkan bidan dapat menjadi mendapat kedudukan sebagai seorang pimpinan, dan sebaliknya dapat melakukan pekerjaan yng baik pula ketika menjadi bawahan dalam suatu sistem organisasi kebidanan. Dalam hal memberikan pelayanan kesehatan pada kliennya, seorang bidan haruslah menjadi manajer yang baik dalam rangka pemecahan masalah dari klien tersebut. Untuk itu ilmu manajemen secara umum, teori-teori manajemen, fungsi-fungsi manajemen, dan bahkan manajemen skill. Pengertian manajemen tata laksana menurut Mary Parker Follet mengatakan seni melaksanakan suatu pekerjaan melalui orang-orang. Manajemen sering pula diartikan sebagai pengaturan atau pengelolaan sumber daya yang ada sehingga hasilnya maximal. Manajemen suatu proses kerangka kerja yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang ke arah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang nyata. (George R.Terry & Leslie W.Rue)

Seorang manajer adalah orang yang melaksakan fungsi manajemen dan melalui orang lain, dia bertanggung jawab atas pekerjaannya sendiri dan pekerjaan bekerja dengan melalui orang lain, dia bekerja dengan melalui orang lain, dia bertanggung jawab atas pekerjaannya sendiri dan pekerjaan orang lain. Fungsi-fungsi manajemen : Manajemen adalah suatu bentuk kerja. Manajer dalam pekerjaannya harus melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu yang dinamakan fungsi-fungsi

manajemen, yang terdiri dari : 1. Planning (Perencanaan) Yaitu menentukan tujuan-tujuan yang hendak dicapai selama suatu masa yang akan datang dan apa yang harus diperbuat agar dapat mencapai tujuan-tujuan itu. 2. Organizing Yaitu mengelopmpokkan dan menentukan berbagai kegiatan penting dan memberikan kekuasaan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan. 3. Staffing Yaitu menentukan keperluan-keperluan sumber daya manusia,

pengerahan, penyaringan, latihan pengembangan tenaga kerja. 4. Motivating Yaitu mengarahkan atau menyalurkan perilaku manusia ke arah tujuantujuan. 5. Controlling (Pengawasan)

Yaitu mengukur pelaksanaan dengan tujuan-tujuan, menentukan sebabsebab penyimpangan dan mengambil tindakan korektif yang diperlukan. Menurut La Monica terdapat 3 kategori yang harus dimiliki oleh manajer, yaitu : 1. Technical skill Kemampuan untuk menggunakan pengetahuan, methods, teknik, peralatan untuk melaksanakan tugas-tugas dan pekerjaan, didapatkan melalui pengalaman, pendidikan dan latihan. 2. Human skill Kemampuan untuk bekerja dengan baik bersama staff, yang meliputi pengertian dan motivasi yang diberikan dan dengan melaksanakan kepemimpinan yang efektif.

3. Conceptual skill a. Mempunyai kemampuan untuk mengetahui seluk beluk organisasi. b. Melaksanakan peran dan tanggung jawab dengan baik. c. Menggunakan pengetahuan untuk menata organisasi. d. Melakukan kontak mata dengan staf dan melakukan komunikasi yang efektif.

B. Konsep Prinsip Manajemen Kebidanan Konsep dasar manajemen kebidanan adalah ilmu manajemen secara umum yang merupakan rancangan atau pola pikir atau ide, yang dituangkan dari

peristiwa kongrit dimanan prinsip adalah azas (kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir, bertindak) dasar. Varney (1997) menjelaskan bahwa prinsip manajemen adalah pemecahan masalah. Dalam text book masalah kebidanan yang ditulisnya pada tahun 1981 proses manajemen kebidanan diselesaikan melalui 5 langkah. Setelah menggunakannya, Varney (1997) melihat ada beberapa hal yang penting disempurnakan misalnya seorang bidan dalam manajemen yang dilakukannya perlu lebih kritis untuk mengatasi masalah atau diagnosa potensial. Dengan kemampuan yang lebih dalam melakukan analisa kebidanan akan menemukan diagnosa atau masalah potensial. Proses manajemen kebidanan sesuai dengan standar yang dikeluarkan oleh American College of Nurse Midwifery (ACNM) tahun 1999 terdiri dari : 1. Secara sistematis mengumpulkan dan memperbaharui data yang lengkap dan relevan dengan melakukan pengkajian yang komprehensif terhadap kesehatan klien termasuk mengumpulkan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik 2. Mengidentifikasi masalah dan membuat diagnosa berdasarkan interpretasi data dasar 3. Mengidentifikasi kebutuhan terhadap asuhan kesehatan dalam menyelesaikan masalah dan merumuskan tujuan asuhan kesehatan bersama klien 4. Memberikan informasi dan support sehingga klien dapat membuat keputusan dan bertanggungjawab terhadap kesehatannya. 5. Membuat rencana asuhan yang komprehensif bersama klien. 6. Secara pribadi bertanggungjawab terhadap implementasi rencana individual

7. Melakukan konsultasi, perencanaan dan melaksanakan manajemen dengan berkolaborasi dan merujuk klien untuk mendapatkan asuhan selanjutnya. 8. Merencanakan manajemen terhadap komplikasi tertentu, dalam situasi darurat dan bila ada penyimpangan dari keadaan normal. 9. Melakukan evaluasi bersama klien terhadap pencapaian asuhan kesehatan dan merevisi rencana asuhan dengan kebutuhan.

C. Pengertian Manajemen Kebidanan Pengertian manajemen secara umum adalah seni melaksanakan suatu pekerjaan melalui orang-orang (Mary Pakrker Follet). Manajemen sering pula diartikan sebagai pengaturan atau pengelolaan sumber daya yang ada sehingga hasilnya maksimal. Itulah sebabnya manajemen juga diterjemahkan sebagai tata laksana. Manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang ke arah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang nyata (George R. Terry & Leslie W. Rue). Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, temuan, keterampilan dalam rangaian tahapan logis untuk pegambilan keputusan yang berfokus pada klien. Menejer kebidanan dituntut untuk merencanakan, mengorganisasi, memimpin dan mengevaluasi sarana dan

prasarana yang tersedia untuk dapat memberi asuhan kebidanan yang efektif dan efisien. Manajemen kebidanan adalah suatu metode proses berfikir logis sistematis. Oleh karena itu manajemen kebidanan merupakan alur fikir bagi seorang bidan dalam memberikan arah / kerangka dalam menangani kasus yang menjadi tanggungjawabnya. Pengertian manajemen kebidanan menurut beberapa sumber : 1. Menurut Buku 50 Tahun IBI, 2007 Manajemen kebidanan adalah pendekatan yang digunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis mulai dari pengkajian, analisa data, diagnosa kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. 2. Menurut Depkes RI, 2005 Manajemen kebidanan adalah metode dan pendekatan pemecahan masalah ibu dan anak yang khusus dilakukan oleh bidan dalam memberikan asuhan kebidanan kepada individu, keluarga dan masyarakat. 3. Menurut Hellen Varney, 1997 Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan fikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, keterampilan dalam rangkaian/tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan berfokus pada klien.

4. Menurut ICM Manajemen Kebidanan adalah: Proses perawatan dinamis, berkelanjutan dan berlangsung berkesinambungan jika diperlukan. Dengan mengikuti langkahlangkah yang teratur, memerlukan cara berpikir kritis dan berbeda dan tingkat pengambilan keputusan yang baik. Saat pengambilan data atau pengambilan keputusan atau terdapat hasil yang tidak diinginkan diperlukan penilaian kembali tahap sebelumnya dan kembali melakukan perencanaan dengan pasien

D. Langkah langkah Manajemen Kebidanan Proses manajemen kebidanan menurut Helen Varney ada 7 langkah yang berurutan, yang setiap langkahnya disempurnakan secara periodik. Proses dimulai dengan pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi. Ketujuh langkah tersebut membentuk suatu kerangka lengkap yang dapat diaplikasikan dalam situasi apapun. Akan tetapi, setiap langkah dapat diuraikan lagi menjadi langkah-langkah yang lebih rinci dan ini bisa sesuai dengan kebutuhan klien. Rencana asuhan dapat dianggap efektif jika memang benar efektif pelaksanaannya. Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana telah efektif sedangkan sebagian lainnya belum. Mengingat bahwa proses manajemen asuhan ini merupakan suatu kontineu, perlu mengulang kembali dari awal setiap asuhan yang tidak efektif melalui proses manajemen untuk

mengidentifikasi mengapa proses manajamen tidak efektif serta melakukan penyesuaian pada rencana asuhan tersebut. Adapun tujuh langkah manajemen Varney adalah : Langkah I : Pengumpulan data dasar Pada langkah ini, dilakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data yang diperlukaan untuk mengevaluasi keadaan klien secara lengkap, yaitu : riwayat kesehatan ,pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhannya, meninjau catatan terbaru atau catatan sebelumnya, meninjau data laboratorium dan membandingkan dengan hasil studi. Pada langkah pertama pretasi ini dikumpulkan semua data yang akurat dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Teknik pengumpulan data ada tiga yaitu, Observasi, Wawancara, Pemeriksaan. Observasi adalah pengumpulan data melalui indera : penglihatan (perilaku,tanda batuk,bunyi fisik,kecacatan,ekspresi (bau wajah), pendengaran luka), perabaan (bunyi (suhu

nafas,penciuman

nafas,bau

badan,nadi). Wawancara adalah pembicaraan terarah yang umumnya dilakukan pada perempuan tatap muka. Dalam wawancara yang penting diperhatikan adalah data yang ditanyakan diarah kedata yang relevan. Pemeriksaan dilakukan dengan memakai instrument /alat pengukur. Tujuannya untuk memastikan batas dimensi angka,irama,kuantitas misalnya tinggi badan dengan meteran,berat badan dengan timbangan,tekanan darah dengan tensimeter. Data secara garis besar subjektif dan data objektif. diklasifikasikan menjadi data

Pengumpulan data dapat diperoleh dari data subjektif dan data objektif. Data subjektif adalah informasi yang dicatat mencakup identitas,keluhan yang diperoleh dari hasil wawancara langsung kepada pasien/klien (anamnesis) atau dari keluarga dan tenaga kesehatan (allo anamnesis). Sedangkan Data objektif adalah pencatatan dilakukan dari hasil pemeriksaan fisik,pemeriksaan khusus kebidanan ,data penunjang seperti hasil laboratorium seperti pemeriksaan USG,Hb, dan protein urine yang dilakukan sesuai dengan beratnya masalah. Data yang telah terkumpul diolah, disesuaikan dengan kebutuhan pasien kemudian dilakukan pengolahan data yaitu menggabungkan dan

menghubungkan data satu dengan yang lainnya sehingga menunjukkan fakta. Langkah ini merupakan langkah yang akan menentukan langkah pengambilan keputusan yang akan diambil pada langkah berikutnya, sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang dihadapi akan menentukan proses interpretasi yang benar atau tidak dalam tahap selanjutnya, oleh sebab itu dalam pendekatan ini harus yang komperehensif meliputi data subjektif, objektif, dan hasil pemeriksaan sehingga dapat menggambarkan

kondisi/menilai kondisi klien yang sebenarnya dan pasti. Setelah mengumpulkan data, kaji ulang data yang sudah dikumpulkan apakah sudah tepat, lengkap dan akurat. Sebagai contoh informasi yang perlu digali ada pada Langkah II : Interpretasi data dasar Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosis atau masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-

data

yang

telah

dikumpulkan.data

dasar

yang

sudah

dikumpulkan

diinterpretasikan sehingga ditemukan masalah atau diagnosis yang spesipik. Kata masalah dan diagnosis keduanya digunakan karena beberapa masalah tidak dapat diselesaikan seperti diagnosis, tetapi sungguh membutuhkan penanganan yang dituangkan kedalam sebuah rencana asuhan terhadap klien. Masalah yang sering berkaitan dengan wanita yang diidentifikasi oleh Bidan sesuai dengan masalah ini sering menyertai diagnosis. Diagnosa Kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan oleh bidan dalam lingkup praktek kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnogsa kebidanan. Standar Nomenklatur Diagnosa Kebidanan : 1. Diakui dan telah disyahkan oleh profesi 2. Berhubungan langsung dengan praktek kebidanan 3. Memiliki ciri khas kebidanan 4. Didukung oleh clinical judgement dalam praktek kebidanan 5. Dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan Contoh diagnosa nomenklatur : 1. Ibu hamil 2. Ibu inpartu 3. Ibu nifas normal 4. Anemia 5. Preeklampsia 6. Letak sunsang

10

Contoh diagnosa non nomenklatur 1. Gangguan rasa nyaman 2. Gangguan nutrisi 3. Gangguan istirahat Diagnosa kebidanan berdasarkan nomenklatur ada 9 : 1. Hamil/ tidak 2. Primigravida/ multigravida 3. Usia kehamilan 4. Janin hidup/ mati 5. Janin tunggal/kembar Pada langkah ini bidan menganalisa data dasar yang didapat pada langkah pertama, menginterpretasikannya secara akurat dan logis, sehingga dapat merumuskan diagnosa atau masalah kebidanan. Rumusan diagnosa merupakan kesimpulan dari kondisi klien, apakah klien dalam kondisi hamil, inpartu, nifas, bayi baru lahir, apakah kondisinya dalam keadaan normal? Diagnosa ini dirumuskan menggunakan nomenklatur kebidanan. Sedangkan masalah dirumuskan apabila bidan menemukan kesenjangan yang terjadi pada respon ibu terhadap kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir. Masalah ini terjadi pada ibu tetapi belum termasuk dalam rumusan diagnosa yang ada, karena masalah tersebut membutuhkan penanganan/intervensi bidan, maka dirumuskan setelah diagnosa. (Masalah sering berkaitan dengan hal-hal yang sedang dialami wanita yang diidentifikasi oleh bidan sesuai dengan hasil pengkajian. Masalah tersebut juga sering menyertai diagnosa). 6. Janin intra uterine/ ekstra uterin 7. Presentasi 8. Keadaan jalan lahir 9. Keadaan umum ibu dan janin

11

Contoh I : Ny M. usia 26 tahun datang ke rumah bersalin, mengatakan sudah tidak datang haid selama 7 bulan. Ini kehamilan yang ke II, ibu mengatakan merasa agak lelah. Ibu pernah melahirkan 1 kali dirumah bidan 3 tahun yang lalu, BB bayi 2900 gram, PB 48 cm,bayi normal dan tidak ada kelainan. Ibu belum pernah abortus, setelah dilakukan pemeriksaan secara umum KU ibu baik, TD : 120/100 mmHg, Nadi : 84 x/i, Pernapasan : 18 x/i, Suhu : 36,6 C, pemeriksaan lain ada didalam batas normal. Diagnosa : Ibu GII,PI,AO,HI, usia kehamilan 28 mg , janin hidup,tunggal, intra uterine, let-kep, pu-ka, keadaan jalan lahir normal, KU ibu dan janin baik. Masalah : Ibu merasa agak lelah

Kebutuhan : Istirahat yang cukup

Dari rumusan diagnosa contoh diatas menunjukan, bahwa gangguan lelah yang dialami pada ibu tidak termasuk dalam kategori nomenklatur standar diagnosa sehingga tidak termasuk dalam diagnosa kebidanan yang dibuat. Tetapi kondisi ini apabila tidak di tanggulani dapat menciptakan suatu masalah pada kehamilannya, terutama masalah psikologi ibu. Oleh sebab itu kesenjangan tersebut dirumuskan sebagai masalah kebidanan, yang membutuhkan pengkajian lebih lanjut dan memerlukan

12

suatu perencanaan untuk diberikan intervensi khusus, baik berupa dukungan/penjelasan/tindakan /follow up/rujukan. Langkah III : Mengidentifikasi diagnosa/masalah potensial datau diagnosa dan mengantisipasi penanganannya Pada langkah ini Bidan mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosa potensial berdasarkan doagnosa atau masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Pada langkah ini Bidan dituntut untuk mampu mengantisipasi masalah potensial tidak hanya merumuskan masalah potensial yang akan terjadi tetapi juga merumuskan tibdakan antisipasi agar masalah atau diagnosa potensial tidak terjadi. Sehingga langkah ini benar merupakan langkah yang bersifat antisipasi yang rasional atau logis Pada langkah antisipasif ini diharapkan Bidan selalu waspada dan bersiapsiap mencegah diagnosa/masalah potensial ini menjadi benar-benar tidak terjadi. Langkah ini, penting sekali dalam melakukan asuhan yang aman. Dan langkah ini perlu dilakukan secara cepat, karena sering terjadi dalam kondisi emergensi Contoh : Seorang wanita dengan pembesaran uterus yang berlebihan. Bidan harus mempertimbangkan kemungkinan penyebab pembesaran uterus yang berlebihan tersebut, misalnya: Polyhidramnion Ibu dengan diabetes kehamilan Kehamilan kembar

13

Kemudian dia harus mengantisipasi, melakukan perencanaan untuk mengatasinya dan bersiap-siap terhadap kemungkinan tiba-tiba terjadi perdarahan postpartum yang disebabkan oleh atonia uteri karena pembesaran uterus yang berlebihan. Pada persalinan dengan bayi besar, bidan sebaiknya mengantisipasi dan bersiap-siap terhadap kemungkinan terjadinya distosia bahu dan juga kebutuhan untuk resusitasi. Bidan juga sebaiknya waspada terhadap kemungkinan wanita menderita infeksi saluran kencing yang menyebabkan tingginya kemungkinan terjadinya peningkatan partus premature atau bayi kecil Persiapan yang sederhana adalah dengan bertanya dan mengkaji riwayat kehamilan pada setiap kunjungan ulang, pemeriksaan laboratorium terhadap simptomatik terhadap bakteri dan segera memberi pengobatan jika infeksi saluran kencing terjadi. Langkah IV : Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera untuk melakuka konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain

berdasarkan kondisi klien Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan untuk

dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien. Langkah ini mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan. Jadi manajemen bukan hanya selama asuhan primer periodik atau kunjungan prenatal saja tetapi juga selama wanita

14

tersebut bersama bidan terus menerus, misalnya pada waktu wanita tersebut selama persalinan. Data baru mungkin saja perlu dikumpulkan dan dievaluasi. Beberapa data mungkin mengindikasikan situasi yang gawat dimana bidan harus bertindak segera untuk kepentingan keselamatan jiwa ibu atau anak (misalnya perdarahan kala III atau perdarahan segera setelah lahir, distosia bahu, atau nilai APGAR yang rendah). Dari data yang dikumpulkan dapat menunjukkan satu situasi yang memerlukan tindakan segera sementara yang lain harus menunggu intervensi dari seorang dokter, misalnya prolaps tali pusat. Situasi lainnya bisa saja tidak merupakan kegawatan tetapi memerlukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter. Demikian juga bila ditemukan tanda-tanda awal dari pre-eklampsia, kelainan panggul, adanya penyakit jantung, diabetes atau masalah medik yang serius, bidan perlu melakukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter. Dalam kondisi tertentu seorang wanita mungkin juga akan memerlukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter atau tim kesehatan lainnya seperti pekerja sosial, ahli gizi, atau seorang ahli perawatan klinis bayi baru lahir. Dalam hal ini bidan harus mampu mengevaluasi kondisi setiap klien untuk menentukan kepada siapa konsultasi dan kolaborasi yang paling tepat dalam manajemen asuhan klien. Langkah V : Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan lanjutan manajemen

15

terhadap masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini informasi data yang tidak lengkap dapat dilengkapi. Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa apa yang sudah teridentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang berkaitan tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut seperti apa yang diperkirakan akan terjadi berikutnya, apakah dibutuhkan penyuluhan, konseling dan apakah perlu merujuk klien bila ada masalah - masalah yang berkaitan dengan sosial ekonomi, kultural atau masalah psikologis. Dengan perkataan lain asuhan terhadap wanita tersebut sudah mencakup setiap hal yang berkaitan dengan semua aspek asuhan kesehatan. Setiap rencana asuhan haruslah disetujui oleh kedua belah pihak, yaitu oleh bidan dan klien agar dapat dilaksanakan dengan efektif karena klien juga akan melaksanakan rencana tersebut (Informed Consent). Oleh karena itu, pada langkah ini tugas bidan adalah merumuskan rencana asuhan sesuai dengan hasil pembahasan rencana asuhan bersama klien kemudian membuat kesepakatan bersama sebelum melaksanakannya, baik lisan ataupun tertulis contoh format inform consent tertulis . Semua keputusan yang dikembangkan dalam asuhan menyeluruh ini harus rasional dan benar-benar nyata berdasarkan pengetahuan dan teori yang up to date serta telah dibuktikan bahwa tindakan tersebut bermanfaat/efektif berdasarkan penelitian (Evidence Based).

16

Langkah VI : Pelaksanaan langsung asuhan dengan efisien dan aman Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah V, dilaksanakan secara efisien dan aman. Perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian lagi oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya. Walau bidan tidak melakukannya sendiri, ia tetap memikul tanggungjawab untuk mengarahkan pelaksanaannya, misalnya memastikan langkah-langkah tersebut benar-benar terlaksana. Dalam situasi dimana bidan berkolaborasi dengan dokter untuk menangani klien yang mengalami komplikasi, maka keterlibatan bidan dalam penatalaksanaan asuhan bagi klien adalah tetap bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana bersama yang menyeluruh tersebut. Penatalaksanaan yang efisien akan menyangkut waktu dan biaya serta meningkatkan mutu dan asuhan klien Kaji ulang apakah semua rencana asuhan telah dilaksanakan. Langkah VII : Mengevaluasi Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi dalam diagnosa dan masalah. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya. Mengingat bahwa proses manajemen asuhan ini merupakan suatu kontinum, maka perlu mengulang kembali dari awal setiap asuhan yang tidak efektif melalui proses manajemen untuk mengidentifikasi mengapa proses manajemen tidak efektif serta melakukan penyesuaian pada rencana asuhan tersebut.

17

Langkah-langkah

proses

manajemen

pada

umumnya

merupakan

pengkajian yang memperjelas proses pemikiran yang mempengaruhi tindakan serta berorientasi pada proses klinis. Karena proses manajemen tersebut berlangsung di dalam situasi klinik dan dua langkah yang terakhir tergantung pada klien dan situasi klinik, maka tidak mungkin proses manajemen ini dievaluasi dalam tulisan saja.Langkah ini sebagai pengecekan apakah rencana asuhan tersebut efektif.

Sedangkan menurut International Confederation of Midwives (ICM) Proses asuhan kebidanan terdiri dari 5 langkah penting: 1. Pengkajian Data

2.

Pengambilan Keputusan

18

3.

Perencanaan

4.

Implementasi

5.

Evaluasi

19

Representasi dari proses asuhan kebidanan tersebut disajikan dalam grafik di bawah ini:

20

E. Langkah Manajemen Pelayanan Kebidanan Manajemen pelayanan kebidanan adalah proses pelaksanaan pelayanan kebidanan untuk memberikan asuhan kebidanan, pengobatan dan rasa aman kepada pasien/ keluarga/ masyarakat, dengan tujuan mencapai kesehatan ibu dan anak yang optimal. Langkah-langkah dalam manajemen pelayanan kebidanan : 1. Perencanaan (P1) Konsep dan kerangka pikir yang dituangkan dalam bentuk metode/ pola yang menuntun orang untuk melakukan tindakan sesuai dengan tujuan organisasi (proses intelektual yang berdasarkan fakta dan informasi). Pelayanan kebidanan yang bermutu ditentukan dari input dan proses dari pelayanan kebidanan itu sendiri.

Contoh perencanaan dalam pelayanan kebidanan : a. Menyusun falsafah dan tujuan pelayanan kebidanan, berkoordinasi dengan atasan. b. Menyusun rencana kebutuhan tenaga pelayanan kebidanan dari segi jumlah dan kualifikasi, berkoordinasi dengan pimpinan. c. Menyusun rencana kebutuhan peralatan kebidanan dari segi jumlah, jenis maupun kualifikasi alat, berkoordinasi dengan pimpinan. d. Menyusun program pengembangan staf kebidanan sesuai dengan kebutuhan pelayanan, berkoordinasi dengan atasan. e. Menyusun program orientasi bagi tenaga kebidanan baru/ mahasiswa yang akan bekerja di pelayanan kebidanan.

21

f. Menyusun jadwal pertemuan berkala dengan staf. g. Membuat usulan mutasi tenaga pelayanan kebidanan, berkoordinasi dengan atasan.

2. Pelaksanaan (P2) Pengorganisasian sumber daya manusia (SDM) yang ada untuk bekerja sesuai dengan sumber daya meterial yang tersedia dalam organisasi untuk mencapai sasaran yang dirumuskan. Pelaksanaan dilakukan dengan melakukan pengaturan siklus informasi dan kerjasama pada setiap anggota melalui hubungan kerjasama secara berkesinambungan. Pengelolaan pelayanan kebidanan secara efektif dan efisien sesuai dengan jumlah tenaga dan fasilitas yang ada. Contoh pelaksanaan dan

pengorganisasian dalam pelayanan kebidanan : a. Melaksanakan sebagian tugas yang dilimpahkan pimpinan. b. Mewakili tugas dan wewenang atasan atas persetujuan pimpinan. c. Menyampaikan dan menjelaskan kebijakan atasan atas persetujuan pimpinan. d. Memberikan bimbingan kepada staf dalam hal pelaksanaan asuhan kebidanan. e. Melaksanakan program orientasi kepada tenaga kebidanan baru yang akan bekerja di unit pelayanan kebidanan yang menjadi tanggungjawabnya. f. Memberikan bimbingan kepada tenaga kebidanan yang berada di bawah tanggungjawabnya untuk melaksanakan program kesehatan terpadu.

22

g. Memberikan bimbingan dan motivasi kepada staf untuk berperan serta dalam penelitian. h. Mengadakan pertemuan berkala atau sewaktu-waktu dengan staf. i. Menghadiri pertemuan yang diadakan pimpinan. j. Menerima, menyusun, dan meneruskan laporan hasil rapat staf serta hasil kegiatan kebidanan, berkoordinasi dengan pemimpinan. k. Menampung dan menanggulangi usul/ keluhan tentang masalah

ketenangan maupun pelayanan kebidanan serta menyampaikannya kepada pimpinan. l. Membantu menyelesaikan masalah yang timbul. m. Melakukan koordinasi dengan institusi pendidikan kebidanan untuk menunjang kelancaran program pendidikan kebidanan. n. Meneliti dan mempertimbangkan syarat kenaikan pangkat, cuti, pindah, berhenti dan lain-lain, dari tenaga kebidanan. o. Menyimpan dokumen kepegawaian dari tenaga kebidanan yang menjadi tanggungjawabnya.

3. Pengawasan, pengendalian, dan penilaian (P3) Dalam pengawasan dan pengendalian, ada kegiatan pengarahan yang merupakan aspek hubungan manusiawi dalam kepemimpinan yang mengikat untuk bersedia mengerti dan menyumbangkan tenaganya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan. Tujuan pengawasan dan pengendalian adalah ntuk memastikan bahwa organsasi menuju ke arah pencapaian sasaran yang

23

telah ditetapkan. Jika terjadi penyimpangan, maka harus segera dicari tahu penyebabnya sehingga bisa diperbaiki.

Contoh kegiatan pengawasan, pengendalian dan penilaian : 1. Mengendalikan pelaksanaan peraturan/ tata tertib. 2. Mengendalikan pendayagunaan tenaga kebidanan. 3. Mengendalikan pendayaagunaan peralatan kebidanan secara berkala dan efektif. 4. Melakukan kunjungan keliling (supervisi) secara berkala/ sewaktu-waktu, baik secara mandiri maupun bersama unsur pimpinan lain. 5. Menilai mutu pelayanan/ asuhan kebidanan, berkoordinasi dengan pimpinan atau tim pengendali mutu. 6. Menilai kemampuan kinerja staf kebidanan yang menjadi

tanggungjawabnya, berkoordinasi dengan pimpinan.

F. Pembahasan Jurnal Introduction to The Care Planning Process Pada jurnal ini dijelaskan model manajemen pelayanan kesehatan secara umum oleh Tones dan Dziegielewski yaitu: 1. Model biomedis Model ini berfokus pada mengenal dan menangani tanda dan gejala penyakit. Biasanya model ini digunakan oleh dokter dan oleh profesi tenaga kesehatan khususnya jika ditemukan kebutuhan kompleks fisik yang

24

2. Model social Model ini berfokus pada membangun kekuatan dan kemampuan individual atau kelompok untuk meminimalisir kelemahan dan kelurangan mereka. 3. Model holistic Model ini berfokus pada kebutuhan fisik, social, psikososial, spiritual dan lingkungan untuk membantu seseorang untuk meningkatkan kesejahteraan hidup mereka 4. Model biopsikososial Model ini memperhatikan tiga area dalam kehidupan yaitu biologis, psikologis dan social dan membangun nya menjadi sebuah model dengan pendekatan holistik 5. Model pemberdayaan\ Model ini melihat lebih luas tentang apa yang mempengaruhi kesehatan sesorang dan mengetahui bahwa beberapa pengaruh berasal dari luar. Oleh karena itu diperlukan adaptasi untuk memberdayakan sesorang dan melibatkan orang tersebut dalam pelayanan yang diberilan dan membantu mereka untuk meningkatkan keahlian nya dalam promosi kesehatan mereka sendiri.

Oleh Greenstreet (2006) model model tersebut dijadikan sebuah model yang merupakan sebuah integritas dari model yang sudah ada yang saling berhubungan satu sama lain.

25

Tabel 1 Kerangka pelayanan kebidanan (diadaptasi dari Dziegiekewski, 2004) Singkatan APIE Proses Asses: pengkajian kebutuhan dan masalah yang ada dari rujukan / pada saat datang Plan: tujuan dan keluaran berdasarkan kebutuhan Implement: kebutuhan disetujui klien dan intervensi dilakukan Evaluate: proses secara keseluruhan dengan berbagai tim PIRP multidisiplin dan klien Presenting: masalah dari rujukan / pada saat datang Intervention: interventensi untuk pemulihan Response: respon dari klien terhadap intervensi Plan: rencana untuk melibatkan respon klien dan review dari SOAP dan intervensi yang dilakukan Subjective informasi dari rujukan / pada saat datang

26

SOAPIER

Objective informasi dari klien dan pemeriksaan klinis / pengkajian yang dilakukan Assesment pengkajian dari kebutuhan / tujuan yang harus dicapai Planning perencanaan intervensi yang akan dilakukan dan dicapai Implementation implementasi dari rencana Evaluation evaluasi dari proses pelayanan

Responses respom dari klien terhadap asuhan yang diberikan DAP dan DAPE Data data yang didapat dari rujukan / pada saat datang Assesment data yang didapat berdasarkan pengkajian kebutuhan dan masalah klien Planning perencaaan dari identifikasi kebutuhan dan masalah yang dilakukan Evaluation penilaian terhadap informasi dan intervensi yang diberikan Jadi pada prinsip nya langkah dalam pelaksanaan manajemen pelayanan kebidanan tetap sama dan melalui langkah pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, penagawasan dan evaluasi. Contoh untuk pengkajian data awal yang bisa dilakukan: Dilengkapi oleh: 1. Nama Tanggal Lahir: 2. Nama pemeriksa 3. Nama contact person: 4. Status perkawinan 6. Riwayat kesehatan sekarang 8. Alergi 10. Riwayat keluarga Tanggal: Alamat: No. Telp / Hp: Alamat No. Telp / Hp: Alamat: No. Telp / Hp: 5. Agama 7. Kekurangan (buta atau tuli) 9. Nutrisi 11. Riwayat organisasi yang terlibat

27

(sosial service atau sedang dalam masa 12. Pekerjaan sekarang probasi) 13. Penyakit dengan kebutuhan segera (seperti epilepsi) Pengkajian personal: Informasi Biologis Pernapasan Makan Tidur dan Istirahat Mandi Pakaian Kebiasan berjalan Aktivitas dan exercise Kebersihan diri Tanda vital Psikologis Ingatan Pemikiran yang mengganggu Mood dan emosi Kepercayaan Persepsi Sensasi (rasa, sentuhan, penciuman, penglihatan, dan suara) Sosial Dukungan keluarga Teman Pekerjaan yang berarti Anggota organisasi tertentu Aktivitas hiburan Hubungan pribadi Spiritual Hasil Observasi

28

Kepercayaan Budaya Dari pengkajian diatas dilakukan pendokumentasian dengan formula SMART (spesifik, dapat diukur, realistis, dan tepat waktu) Nama pasien: Kebutuhan Tujuan Tanggal lahir: Intervensi Evaluasi

Tanda tangan

Koordinator asuhan:

Klien:

Tanggal:

Dibawah ini merupakan grafik proses pelayanan kebidanan yang diadopsi dari beberapa model yang sudah dimodifikasi:

29

Model ini merupakan model pemberdayaan pelayanan kebidanan berdasarkan: kerjasama tim multidisiplin, keterlibatan keluarga, teman, komunitas, kekuatan keahlian dan kemampuan klien dan tenaga kesehatan, pengetahuan tenaga kesehatan yang melakukan asuhan. 1. Assesment Pengkajian disebutkan dalam semua dokumen kebijakan sebagai hak sebagian besar individu yang membutuhkan. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan alat pengkajian untuk menghasilkan analisis mendalam tentang kebutuhan orang tersebut. Pengkajian membutuhkan kemampuan komunikasi yang baik dan kemampuan untuk mengamati, perubahan sosial dan kejiwaan. Dokumentasi yang sesuai harus digunakan dan harus tersedia sebagai bukti keterlibatan. 2. Planning Perencanaan membutuhkan kemampuan untuk mengidentifikasi tujuan dari kebutuhan masing-masing klien dan menawarkan pilihan pendekatan atau intervensi untuk mencapai tujuan tersebut. Tujuan bisa berupa tujuan jangka pendek atau jangka panjang, tetapi sangat penting bahwa tujuan ini harus dipahami oleh klien. Klien juga harus menggunakan kekuatan dan dukungan dari orang terdekat. 3. Implementation Implementasi dari asuhan memerlukan cara yang sudah didentifikasi untuk mencapai tujuan. Keluaran dari implementasi ini harus dapat diukut dan fokus pada kebutuhan klien itu sendiri.

30

4. Evaluation Evaluasi adalah tahap dimana rencana secara keseluruhan dilihat kembali. Tahap evaluasi mengingatkan kita kembali untuk kembali mengkaji kebutuhan klien dan melihat apakah implementasi yang dilakukan sudah memenuhi kebutuhan klien dan sudah mengatasi masalah klien atau melihat apakah terdapat perubahan dalam implementasi dari perencanaan yang sudah dibuat. Evaluasi harus dilakukan secara formal dalam arti kata ada pendokumentasian.

G. Simpulan Organisasi dan manajemen pelayanan kebidanan dilakukan berdasarkan:

kerjasama tim multidisiplin, keterlibatan keluarga, teman, komunitas, kekuatan keahlian dan kemampuan klien dan tenaga kesehatan, pengetahuan tenaga kesehatan yang melakukan asuhan. Secara umum langkah manajemen pelayanan kebidananan adalah: 1. Assesment Pengkajian membutuhkan kemampuan komunikasi yang baik dan kemampuan untuk mengamati, perubahan sosial dan kejiwaan.

Dokumentasi yang sesuai harus digunakan dan harus tersedia sebagai bukti keterlibatan. 2. Planning Perencanaan membutuhkan kemampuan untuk mengidentifikasi tujuan dari kebutuhan masing-masing klien dan menawarkan pilihan pendekatan

31

atau intervensi untuk mencapai tujuan tersebut. Tujuan bisa berupa tujuan jangka pendek atau jangka panjang, tetapi sangat penting bahwa tujuan ini harus dipahami oleh klien. Klien juga harus menggunakan kekuatan dan dukungan dari orang terdekat. 3. Implementation Implementasi dari asuhan memerlukan cara yang sudah didentifikasi untuk mencapai tujuan. Keluaran dari implementasi ini harus dapat diukut dan fokus pada kebutuhan klien itu sendiri. 4. Evaluation Tahap evaluasi mengingatkan kita kembali untuk kembali mengkaji kebutuhan klien dan melihat apakah implementasi yang dilakukan sudah memenuhi kebutuhan klien dan sudah mengatasi masalah klien atau melihat apakah terdapat perubahan dalam implementasi dari perencanaan yang sudah dibuat.

32