Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM ANALISIS FARMASI ANALISIS Piridoksin HCl DALAM SEDIAAN TABLET MENGGUNAKAN INSTRUMEN SPEKTROFOTOMETRI UV DENGAN

METODA INTERNAL STANDAR

Nama NPM Kelompok Hari/Jam

: Firda Aryanti Widyana : 260110100021 : 5 (Lima) : Selasa/10.00-13.00

LABORATORIUM ANALISIS FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2013

ANALISIS Piridoksin HCl DALAM SEDIAAN TABLET MENGGUNAKAN INSTRUMEN SPEKTROFOTOMETRI UV DENGAN METODA INTERNAL STANDAR
I. Tujuan Analisis kualitatif dan kuantitatif (zat aktif) dalam sediaan (sampel obat) menggunakan instrumen Spektrofotometri UV.

II.

Prinsip 1. Spektrofotometri UV Jika suatu molekul dikenai suatu radiasi ultraviolet pada panjang gelombang yang sesuai, maka molekul tersebut akan mengabsorpsi cahaya uv yang mengakibatkan transisi elektronik yaitu promosi elektron-elektron dari orbital keadaan dasar berenergi lemahke orbital keadaan tereksitasi berenergi lebih tinggi. Panjang gelombang saat absorpsi yang terjadi bergantung pada kekuatan elektron yang terikat dalam molekul. 2. Hukum Lambert-Beer Menyatakan bahwa konsentrasi suatu zat berbanding lurus dengan jumlah cahaya yang diabsorbsi, atau berbanding terbalik dengan logaritma cahaya yang ditransmisikan. A = a . b . c = log Dimana : A = absorban a = absorbtivitas b = jalannya sinar pada larutan c = konsentrasi larutan %T= persen transmitan 3. Metode Standar Adisi (sesuai metode yang dipake) Penjelasan cari sendiri 4. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi = 2 log %T

Pemisahan campuran senyawa pada kolom yang diisi dengan partikel kecil (kurang dari 10 m) melalui elusi dengan cairan dibawah tekanan tinggi. Pemisahan terjadi akibat interaksi pemisahan spesifik antara molekul sampel dengan fasa diam dan fasa gerak. III. Reaksi 1. Reaksi FeCl3 Dengan FeCl3 , piridoksin bereaksi sebagai zat fenolik , FeCl3 memberikan tambahan gugus penarik electron kepada Piridoksin , sehingga memberikan warna merah tua(merah kecokelatan) (Vandamme,1989).

IV.

Teori Dasar Bagian molekul yang mengabsorbsi dalam daerah UV/VIS dinyatakan sebagai kromofor. Suatu molekul dapat mempunyai beberapa kromofor. Untuk berbagai bahan farmasi, pengukuran spektrum dalam daerah UV dan visibel dapat dilakukan dengan ketelitian dan kepekaan yang lebih baik daripada dalam daerah IR-dekat dan IR. Panjang gelombang daerah spektrum UV adalah 190-380nm, sedangkan spektrum visible adalah 380-780nm (Depkes RI, 1995). Spektrofotometer yang sesuai untuk pengukuran di daerah spektrum UV/VIS terdiri dari suatu sistem optik dengan kemampuan menghasilkan cahaya monokromatik dalam jangkauan 200-800nm dan suatu alat yang sesuai untuk menetapkan serapan(Satiadarma,2004). Spektrum UV/VIS dari suatu zat umumnya tidak mempunyai derajat spesifikasi yang tinggi. Walaupun demikian, spektrum tersebut sesuai untuk pemeriksaan kuantitatif dan untuk berbagai zat spektrum tersebut bermanfaat sebagai tambahan pada identifikasi. Penggunaan kualitatif sangat terbatas karena rentang daerah radiasi yang relatif sempit (500 nm) hanya dapat mengakomodasi sedikit sekali puncak absorpsi maksimum dan minimum, karena itu identifikasi senyawa yang tidak diketahui tidak memungkinkan (Satiadarma, hal 89) Alasan penggunaan Spektrofotomeri UV Adanya kromofor pada suatu struktur kimia zat yang akan dianalisis, seperti : 1. Ikatanrangkap terkonjugasi

2. Senyawa aromatik 3. Gugus karbonil 4. Auksokrom 5. Gugus anorganik (Satiadarma,2004). Prinsip Kerja Spektrofototri UV Radiasi polikromatis dipancarkan dari sumber radiasi melewati

monokromator sehingga diperoleh radiasi monokromatis. Radiasi monokromatis diteruskan ke kuvet yang berisi larutan/pelarut yang akan dianalisis. Radiasi tersebut akan dipantulkan, diabsorbsi dan ditransmisikan. Jika Io adalah intensitas radiasi yang dipancarkan; dan I adalah intensitas radiasi setelah melewati larutan; maka Io-I adalah intensitas radiasi yang diabsorbsi oleh larutan. Nilai Absorban (A) adalah sebagai berikut A = log Io/I Menurut hukum Lambert-Beer A = a b C Dimana: A = absorban a = absorptivitas b = lebar medium (cm) C = konsentrasi senyawa yang menyerap radiasi C Molar g/L % (b/v, g/100mL) A = absorptivitas molar (L molabsorptivitas (L g-1cm-1) 1a = -1 1% ) cm A 1cm = absorptivitas jenis (Satiadarma,2 004).

MONOGRAFI 1.Nama Resmi : PYRIDOXINI HYDROCHLORIDI COMPRESSI Nama Lain : Tablet Piridoksin Hidroklorida

Tablet Piridoksin Hidroklorida mengandung Piridoksin Hidroklorida tidak kurang dari 95% dan tidak lebih dari 115% , dari jumlah yang tertera pada etiket (Depkes RI,1995).

2. Piridoksin HCl

(British Pharmacopoeia, 2009).

Nama Resmi : PYRIDIXINI HYDROCLORIDUM Nama lain RM /BM Pemerian : Piridoksin Hidroklorida : C8H11NO3.HCl / 205,64 : Hablur atau Serbuk hablur putih, atau hampir putih: stabil di

udara: secara perlahan-lahan dipengaruhi oleh cahaya matahari. Kelarutan eter. Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat dan tidak tembus cahaya Kegunaan : Sebagai sampel (Depkes RI , 1995). : Mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam

3. Nama Resmi

: THIAMINI HYDROCLORIDUM

(British Pharmacopoeia, 2009). Nama lain RM /BM Pemerian : Thiamin Hidroklorida : C12H17ClN4OS.HCl / 337,27 : Hablur kecil atau Serbuk hablur putih, bau khas lemah

miripnragi; rasa pahit. Kelarutan : Mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol.

Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat dan terlindung cahaya Kegunaan : Sebagai internal standar (Depkes RI , 1995) .

B. KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI 1. DEFINISI Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) merupakan salah satu jenis kromatografi kolom cair yang memiliki sistem pemisahan dengan kecepatan dan efisiensi tinggi yang menerapkan kemampuan kemajuan teknologi kolom, sistem pompa bertekanan tinggi dan detektor yang sensitive (FI IV, 1009). Kromatografi ini terdiri dari fase diam yang terikat secara kimia pada penyangga, fase gerak yang dialirkan cepat dengan bantuan tekanan tinggi dan hasil analisis yang dapat dideteksi dengan instrumen. (Gritter,1991). Pelarut pada fase gerak dapat menggunakan dua sistem yaitu sistem isokratik dan sistem elusi gradien.

2. KEUNTUNGAN METODE KCKT antara lain : Waktu analisis cepat, penentuan dapat dalam jumlah mikro, daya pemisahan tinggi, dan ada eksipien yang mengganggu. Pada prinsipnya senyawa dapat dipisahkan dengan metode KCKT jika senyawa tersebut dapat larut dalam pelarut yang digunakan sebagai fase gerak. KCKT merupakan metode yang lebih baik

untuk cuplikan atau sampel yang jumlahnya sedikit. (Roth, Analisis Farmasi, hlm 431-432) KCKT dapat dipakai untuk senyawa anorganik, yang sebagian besar tidak atsiri. KCKT biasanya dilakukan pada suhu kamar. Jadi, senyawa yang tidak tahan panas dapat ditangani dengan mudah. Satu keuntungan KCKT yang lain adalah difusi linarut yang sangat lambat dalam zat cair dibandingkan difusi di dalam gas. Kromatogram KCKT dapat dihentikan selama beberapa hari dan dijalankan lagi tanpa terlihat pelebaran pita. Hal tersebut tidak dapat dilakukan pada KG(Gritter,1991).

3. JENIS SENYAWA YANG DAPAT DIPISAHKAN SECARA KCKT Jenis senyawa yang dapat dipisahkan secara KCKT adalah senyawa padat yang larut dalam pelarutnya, cairan yang kurang atsiri, senyawa polimer dan berbobot molekul tinggi, senyawa anorganik yang sebagian besar tidak atsiri, senyawa berbobot molekul tinggi, senyawa ionik dan produk alam yang labil (Gritter,1991).

4. PERBEDAAN KCKT DENGAN KROMATOGRAFI KOLOM KLASIK Metode ini dapat dibedakan dari kromatografi kolom klasik oleh 4 sifat khas, yaitu : a. Menggunakan kolom pendek untuk mempersingkat waktu b. Menggunakan kolom sempit dengan diameter yang kecil (1-3 mm) untuk memungkinkan pemisahan dalam jumlah mikro. c. Ukuran partikel bahan sorpsi dibawah 50 m , hingga akan tercapai suatu bilangan dasar teoritik yang tinggi. d. Pelarut elusi dialirkan ke dalam kolom dengan tekanan untuk

mengkompensasikan tekanan arus di dalam kolom. ( Roth,1985). Internal Standar

Pengertian Suatu metode dimana internal standar ditambahkan ke dalam sampel dan respon dari puncak spektrum analit sampel dibandingkan dengan internal standar. Faktor rasio (FR) Perbandingan antara respon absorbansi sampel dengan absorbansi standar pada konsentrasi standar yang sama. Dapat dilakukan jika: Sampel berupa senyawa kompleks Sampel memiliki respon instrumen sangat rendah

Syarat Internal Standar Sampel dan internal standar tidak saling memberikan respon pada panjang gelombang maksimum masing- masing Tidak ada komponen internal standar dalam sampel Struktur internal standar memiliki kemiripan dengan struktur sampel (Harmita , 2006). V. Alat Bahan A. Alat

1. Batang pengaduk gelas 2. Beaker glass 3. Botol semprot 4. Bulb Pipet 5. Corong gelas 6. Erlenmeyer 7. Gelas ukur 8. Indikator pH universal

9. Jangka sorong 10. Kertas saring 11. Kompor listrik 12. Kuvet kuarsa 13. Labu ukur 20 mL, 250 mL dan 1000 mL 14. Neraca analitis 15. Plat tetes 16. Perkamen 17. Pipet tetes 18. Pipet volume 19. Spatel 20. Spektrofotometer UV B. Bahan 1. Aquades 2. Asam klorida (HCl) pekat 3. Reagen FeCl3 4. Tablet sampel piridoksin HCl 5. Thiamin HCl BPFI C. Gambar Alat

Labu UkurPipet Gelaskertas saring

KuvetMortir dan StamperPipet Tetes

Bulb Pipet Corong gelasNeraca Analitis

Spatel VI. Prosedur

Spektrofotometer UV- Vis

1. Uji Kualitatif a. Uji Organoleptik Tablet yang diduga mengandung piridoksin HCl terlebih dahulu diuji kepastiannya, apakah tablet tersebut mengandung piridoksin HCl. Salah satu uji pendahuluannya adalah uji organoleptik, uji ini melihat

keadaan secara fisik dari zat tersebut. Uji organoleptik meliputi uji bentuk, warna, bau, kelarutan, rasa, dan diameter tablet b. Uji FeCl3 Sejumlah serbuk tablet yang setara dengan 100 mg zat ditambal ml air lalu dikocok , kemudian disaring kedalam tabung reaksi menggunakan kertas saring wathman, dan filtrate diberi FeCl3 c. Uji pH Sejumlah tablet piridoksin HCl digerus dan dilarutkan dalam aquadest kemudian saring larutan dengan kertas saring (ekstraksi piridoksin HCl), diukur pH filtrat menggunakan indikator universal. d. Uji Keseragaman Bobot Ditimbang bobot tablet masing masing tablet sebanyak 20 tablet. Rata rata bobot tablet dihitung dan ditentukan apakah memenuhi syarat. e. Uji Keseragaman Ukuran Diukur tebal tablet dan diameter masing masing tablet sebanyak 20 tablet. Rata rata diameter dan tebal tablet dihitung dan ditentukan apakah memenuhi syarat.

2. Uji Kuantitatif Uji kuantitatif Tablet Piridoksin HCl dengan spektrofotometri UV- Vis Metode Standar Internal

a. Pembuatan larutan stok standar internal Thiamin HCl (BPFI)100 ppm Ditimbang sebanyak 2 mg Thiamin HCl, kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 20 mL, dilarutkan dengan aquadest. Ditambahkan 5 mL asam klorida pekat, add dengan aquadest hingga tanda batas. Lakukan pengenceran dengan konsentrasi 2 ppm, 4 ppm, 6 ppm, 8 ppm, dan 10 ppm. Ukur absorbansi pada panjang gelombang 246 nm dengan menggunakan spektrofotometri uv- vis. Pilih satu

konsentrasi yang memenuhi hukum Lambert Beer (absorbansi diantara 0,2- 0,8). b. Pembuatan larutan stok Piridoksin HCl (Sampel) 40 ppm Ditimbang satu per satu tablet piridoksin HCl, hitung berat total tablet tersebut. Hitung rata-rata bobot satu tablet. Kemudian ditimbang seksama sebanding dengan kurang lebih 10 mg piridoksin HClyaitu 0,1873 gram. Masukkan ke dalam beaker glass, ditambahkan aquadest hingga serbuk piridoksin HCl larut. Ditambahkan 5 mL asam klorida pekat, kocok add homogen. Panaskan diatas waterbath hingga serbuk piridoksin HCl larut sempurna, saring larutan dengan menggunakan kertas saring.Add 250 mL dengan aquadest. Larutan sampel siap digunakan. Lakukan pengukuran absorbansi pada panjang gelombang 290 nmdengan spektrofotometri uv- vis, amati absorbansi sampel yang terbentuk. c. Preparasi sampel Ditimbang sebanyak 20 tablet sampel kemudian dihitung bobot rata-rata per satu tablet. Tablet yang telah ditimbang kemudian diserbukan dengan cara digerus. Serbuk ditimbang setara dengan 10 mg piridoksin HCl yaitu 0,1873 gram. Kemudian dimasukkan dalam beaker glass dan dilarutkan dengan aquadest hingga serbuk tablet larut. Asam klorida ditambahkan sebanyak 5 mL kemudian di add hingga 250 mL. Larutan dipanaskan diatas waterbath hingga serbuk tablet larut sempurna. Larutan difiltrasi dengan kertas saring kedalam labu ukur 1000 mL dan kemudian di add hingga tanda batas. d. Pengenceran Dari larutan stok thiamin HCl BPFI dilakukan pengenceran untuk scanning konsentrasi internal standar yang memiliki absorbansi sekitar 0,2-0,8. Pengenceran dilakukan dengan

menggunakan V1.N1 = V2.N2 e. Kurva Baku Internal Standar

Kurva baku dibuat dengan cara membuat larutan piridoksin HCl dengan berbagai variasi konsentrasi dari stok 40 ppm yang di spike dengan 1,6 mL larutan internal standar thiamin HCl 100 ppm sehingga diperoleh hasil akhir pengenceran 8 ppm.
Labu 20 mL V.thiamin HCl 100 ppm C.thiamin akhir V.piridoksin HCl 40 ppm C.piridoksin akhir

1. 2. 3. 4. 5.

1,6 mL 1,6 mL 1,6 mL 1,6 mL 1,6 mL

8 ppm 8 ppm 8 ppm 8 ppm 8 ppm

4 mL 4,5 mL 5 mL 5,5 mL 6 mL

8 ppm 9 ppm 10 ppm 11 ppm 12 ppm

Masing-masing labu di add hingga tanda batas. Lalu di ukur absorbansinya dengan spektrofotometri uv- vis pada panjang gelombang 220-300 nm. Sumbu x merupakan faktor rasio dan sumbu y merupakan konsentrasi larutan piridoksin HCl. Faktor rasio diperoleh dengan rumus: VII. Data Pengamatan

Nama Dagang: Vitamin B6 Tiap tablet mengandung 10 mg Piridoksin HCl Produsen: PT. Bima Mitra Farma Golongan Obat : Obat Bebas 1. Uji Organoleptik Bentuk Rasa Bau Warna : Bulat bikonkav : Tidak berasa : Tidak berbau : putih

Rata- rata diameter: 8,237 mm

Rata- rata tebal tablet: 3,607 mm

2. Uji FeCl3 Tabel 1 Reaksi FeCl3 Test Hasil Pengamatan Perubahan Awal: Warna Orange Akhir: Merah tua kecoklatan Parameter Hasil Sumber Keterangan Teoritis Awal: (Vandamme,1989). Sesuai Orange Akhir: Merah tua (merah kecoklatan)

Gambar hasil uji piridoksin dengan FeCl3Uji Mayer 3. Uji pH Tabel Uji pH Parameter Ph 3 Hasil Pengamatan 3 Hasil Teoritis Sumber (FI III, hal 541,1979). Keterangan Sesuai

4. Data Keseragaman Bobot Tabel 1.1 Bobot 20 Tablet Berat Tablet ( g) 1. 0,1895 2. 0,1869 3. 0,1875 4. 0,1874 5. 0,1811 6. 0,1895 7. 0,1808 Berat Tablet ( g) 11. 0,1893 12. 0,1843 13.0,1877 14.0,1863 15. 0,1871 16. 0,1845 17. 0,1874

8. 0,1880 9. 0,1884 10. 0,1896

18. 0,1891 19. 0,1888 20. 0 , 1904

5. Data Keseragaman Ukuran Tabel 1.2 . Diameter 20 tablet Diameter tablet (mm) 1. 8,23 2. 8,23 3. 8,24 4. 8,24 5. 8,22 6. 8,22 7. 8,24 8. 8,25 9. 8,23 10. 8,26 Tabel 1.3 . Tebal 20 tablet Tebal tablet (mm) 1. 3,63 2. 3,66 3. 3,60 4. 3,63 5. 3,64 6. 3,67 7. 3,66 8. 3,60 9. 3,63 10. 3,63 Tebal tablet (mm) 11. 3,64 12. 3,60 13. 3,66 14. 3,63 15. 3,63 16. 3,66 173,60 18. 3,63 19. 3,57 20. 3,68 Diameter tablet (mm) 11. 8,25 12. 8,23 13. 8,25 14. 8,24 15. 8,23 16. 8,21 17. 8,23 18. 8,24 19. 8,23 20. 8,24

6. Data Pemilihan Konsentrasi Internal Standar Thiamin HCl yang baik No 1 2 3 4 5 Thiamin HCl 2 ppm 4 ppm 6 ppm 8 ppm 10 ppm Absorbansi 0,4 0,6

Maka dipilih Thiamin HCl 8ppm sebagai internal standar

7. Data Pembuatan Kurva Internal Standar Piridoksin HCl Labu C (ppm) 8 9 10 11 12 (nm) 290 290 290 290 290 290 Absorbansi Internal Standar Thiamin HCl C Absorbansi (ppm) (nm) 8 8 8 8 8 8 246 246 246 246 246 246 0,4707 0,4597 0,4680 0,4713 0,4782 0,4869

1 2 3 4 5

0,3255 0,3558 0,4043 0,4390 0,4750 0,4037

Unknown Sampel

VIII.

Perhitungan

1. Uji Keseragaman Bobot Tabel . Uji Keseragaman Bobot Tablet Berat Tablet (g) 1. 0,1895 2. 0,1869 3. 0,1875 4. 0,1874 5. 0,1811 6. 0,1895 7. 0,1808 8. 0,1880 9. 0,1884 10. 0,1896 11. 0,1893 12. 0,1843 13.0,1877 14.0,1863 15. 0,1871 16. 0,1845 A 172,88 mg < x < 200,92 mg 172,88 mg < x < 200,92 mg 172,88 mg < x < 200,92 mg 172,88 mg < x < 200,92 mg 172,88 mg < x < 200,92 mg 172,88 mg < x < 200,92 mg 172,88 mg < x < 200,92 mg 172,88 mg < x < 200,92 mg 172,88 mg < x < 200,92 mg 172,88 mg < x < 200,92 mg 172,88 mg < x < 200,92 mg 172,88 mg < x < 200,92 mg 172,88 mg < x < 200,92 mg 172,88 mg < x < 200,92 mg 172,88 mg < x < 200,92 mg 172,88 mg < x < 200,92 mg B 158,87 mg < x < 214,935 mg 158,87 mg < x < 214,935 mg 158,87 mg < x < 214,935 mg 158,87 mg < x < 214,935 mg 158,87 mg < x < 214,935 mg 158,87 mg < x < 214,935 mg 158,87 mg < x < 214,935 mg 158,87 mg < x < 214,935 mg 158,87 mg < x < 214,935 mg 158,87 mg < x < 214,935 mg 158,87 mg < x < 214,935 mg 158,87 mg < x < 214,935 mg 158,87 mg < x < 214,935 mg 158,87 mg < x < 214,935 mg 158,87 mg < x < 214,935 mg 158,87 mg < x < 214,935 mg

17. 0,1874 18. 0,1891 19. 0,1888 20. 0 , 1904

172,88 mg < x < 200,92 mg 172,88 mg < x < 200,92 mg 172,88 mg < x < 200,92 mg 172,88 mg < x < 200,92 mg

158,87 mg < x < 214,935 mg 158,87 mg < x < 214,935 mg 158,87 mg < x < 214,935 mg 158,87 mg < x < 214,935 mg

Rata rata Bobot tablet =

= 0, 186965 g = 186,965 mg

Syarat Bobot: A: tidak lebih dari 2 tablet yang melewati batas= = (186,9 mg (7,5% . 186,9 mg)) < x < (186,9 mg + (7,5% . 186,9 mg)) = 172,88 mg < x < 200,92 mg B: tidak ada satupun tablet yang boleh melewati batas = (186,9 mg (15% . 186,9 mg)) < x < (186,9 mg + (15% . 186,9 mg)) = 158,87 mg < x < 214,935 mg 2. Uji Keseragaman Ukuran Tabel 1.2 . Diameter 20 tablet Diameter tablet (mm) Syarat 1. 8,23 4,809 mm < x < 10,821 mm 2. 8,23 4,809 mm < x < 10,821 mm 3. 8,24 4,809 mm < x < 10,821 mm 4. 8,24 4,809 mm < x < 10,821 mm 5. 8,22 4,809 mm < x < 10,821 mm 6. 8,22 4,809 mm < x < 10,821 mm 7. 8,24 4,809 mm < x < 10,821 mm 8. 8,25 4,809 mm < x < 10,821 mm 9. 8,23 4,809 mm < x < 10,821 mm 10. 8,26 4,809 mm < x < 10,821 mm 11. 8,25 4,809 mm < x < 10,821 mm 12. 8,23 4,809 mm < x < 10,821 mm 13. 8,25 4,809 mm < x < 10,821 mm 14. 8,24 4,809 mm < x < 10,821 mm 15. 8,23 4,809 mm < x < 10,821 mm 16. 8,21 4,809 mm < x < 10,821 mm 17. 8,23 4,809 mm < x < 10,821 mm 18. 8,24 4,809 mm < x < 10,821 mm 19. 8,23 4,809 mm < x < 10,821 mm 20. 8,24 4,809 mm < x < 10,821 mm Rata rata Diameter Tablet = = 8,237 mm

Tabel 1.3 . Tebal 20 tablet Tebal tablet (mm) 1. 3,63 2. 3,66 3. 3,60 4. 3,63 5. 3,64 6. 3,67 7. 3,66 8. 3,60 9. 3,63 10. 3,63 11. 3,64 12. 3,60 13. 3,66 14. 3,63 15. 3,63 16. 3,66 173,60 18. 3,63 19. 3,57 20. 3,68 Rata rata Tebal Tablet =

= 3,607 mm

Syarat : Kecuali dinyatakan lain, diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 1/3 tebal tablet. Diameter tablet= = <x< (3 . 3,607 mm)

= 4,809 mm < x < 10,821 mm

3. Pembuatan larutan stock Thiamin HCl 100 ppm dalam 20 ml 100 ppm = = =

2 mg Thiamin HCl dilarutkan add 20 ml

4. Pembuatan larutan stock Piridoksin HCl 40 ppm dalam 250 ml

10 mg Piridoksin HCl ~ 186,9 mg serbuk tablet Piridoksin HCl

40 ppm = = = =

187 mg serbuk tablet Piridoksin HCl dilarutkan add 250 ml 3. Pengenceran larutan stock Thiamin HCl bertingkat untuk Pemilihan Konsentrasi Internal Standar Thiamin HCl yang baik a. 2 ppm V1 x N1 = V2 x N2 V1 x 100 ppm = 20ml x 2 ppm V1 = 0,4 ml add 20 ml b. 4 ppm V1 x N1 = V2 x N2 V1 x 100 ppm = 20ml x 4 ppm V1 = 0,8 ml add 20 ml c. 6 ppm V1 x N1 = V2 x N2 V1 x 100 ppm = 20ml x 6 ppm V1 = 1,2 ml add 20 ml

d. 8 ppm V1 x N1 = V2 x N2 V1 x 100 ppm = 20ml x 8 ppm V1 = 1,6 ml add 20 ml e. 10 ppm V1 x N1 = V2 x N2 V1 x 100 ppm = 20ml x 10 ppm V1 = 2 ml add 20 ml 8. Pembuatan larutan Piridoksin HCl berbagai variasi konsentrasi dengan Internal Standar Thiamin HCl untuk Kurva Internal Standar a. Labu 1: 8 ppm Piridoksin HCl dan 8 ppm Thiamin HCl dalam 20 ml 1). Larutan Piridoksin = V1 x N1 = V2 x N2 V1 x 40 ppm = 20ml x 8 ppm V1 = 4 ml 2). Larutan Thiamin HCl = V1 x N1 = V2 x N2 V1 x 100 ppm = 20ml x 8 ppm V1 = 1,6ml dimasukkan dalam labu ukur 20ml diadd 20ml

b. Labu 2: 9 ppm Piridoksin HCl dan 8 ppm Thiamin HCl dalam 20 ml 1). Larutan Piridoksin = V1 x N1 = V2 x N2 V1 x 40 ppm = 20ml x 9 ppm V1 = 4,5 ml 2). Larutan Thiamin HCl = V1 x N1 = V2 x N2 V1 x 100 ppm = 20ml x 8 ppm

V1 = 1,6ml dimasukkan dalam labu ukur 20ml diadd 20ml

c. Labu 3 : 10 ppm Piridoksin HCl dan 8 ppm Thiamin HCl dalam 20 ml 1). Larutan Piridoksin = V1 x N1 = V2 x N2 V1 x 40 ppm = 20ml x 10 ppm V1 = 5 ml 2). Larutan Thiamin HCl = V1 x N1 = V2 x N2 V1 x 100 ppm = 20ml x 8 ppm V1 = 1,6ml dimasukkan dalam labu ukur 20ml diadd 20ml

d. Labu 4 : 11 ppm Piridoksin HCl dan 8 ppm Thiamin HCl dalam 20 ml 1). Larutan Piridoksin = V1 x N1 = V2 x N2 V1 x 40 ppm = 20ml x 11 ppm V1 = 5,5 ml 2). Larutan Thiamin HCl = V1 x N1 = V2 x N2 V1 x 100 ppm = 20ml x 8 ppm V1 = 1,6ml dimasukkan dalam labu ukur 20ml diadd 20ml

e. Labu 5: 12 ppm Piridoksin HCl dan 8 ppm Thiamin HCl dalam 20 ml 1). Larutan Piridoksin = V1 x N1 = V2 x N2 V1 x 40 ppm = 20ml x 12 ppm V1 = 6 ml 2). Larutan Thiamin HCl =

V1 x N1 = V2 x N2 V1 x 100 ppm = 20ml x 8 ppm V1 = 1,6ml dimasukkan dalam labu ukur 20ml diadd 20ml 9. Pembuatan larutan Piridoksin HCl konsentrasi tidak diketahui (unknown) dengan Internal Standar Thiamin HCl untuk Kurva Internal Standar Labu unknown sampel berisi : Piridoksin HCl unknown dan Thiamin HCl 8ppm 1). Larutan Piridoksin = 5 ml 2). Larutan Thiamin HCl = V1 x N1 = V2 x N2 V1 x 100 ppm = 20ml x 8 ppm V1 = 1,6ml dimasukkan dalam labu ukur 20ml diadd 20ml 10. Perhitungan Kurva Internal Standar Piridoksin HCl Internal Standar Thiamin HCl Labu C Absorbans i 0,6915 0,7740 0,8639 0,9315 0,9933 0,4037 C (ppm) 8 8 8 8 8 8 (nm) 246 246 246 246 246 246 0,4707 0,4597 0,4680 0,4713 0,4782 0,4869 0,6915 0,7740 0,8639 0,9315 0,9933 0,8291 Absorbansi Faktor Rasio

(ppm) (nm) 8 9 10 11 12 290 290 290 290 290 290

1 2 3 4 5

Unknown Sampel

FR
1.2 1 0.8 0.6 0.4 0.2 0 8 9
Konsentrasi Piridoksin HCl

10

11

12

Kurva Internal Standar Piridoksin HCl dengan Internal Standar Thiamin HCl Persamaan Garis : a = 0,07611 b = 0,08974 r = 0,997 y = ax + b y = 0,07611 x + 0,08974 11. Perhitungan Konsentrasi Piridoksin HCl dan Kadar Piridoksin HCl dalam tablet Piridoksin HCl a. Konsentrasi Piridoksin HCl y = ax + b y = 0,07611 x + 0,08974 0,8291 = 0,07611 x + 0,08974 x= x = 9,71436 ppm

Konsentrasi Piridoksin HCl adalah 9,71436 ppm

b. Kadar Kadar Piridoksin HCl dalam tablet Piridoksin HCl Konsentrasi Piridoksin HCl = 9,71436 ppm 9,71436 ppm =

x factor pengenceran

38 , 8574

=38 , 8574

= 9,714

x 250 ml = 97,14

1tablet ~ 187 mg serbuk tablet ~10 mg zat aktif Piridoksin HCl ~ x 100 %= 97,14%. Kadar Piridoksin HCl dalam 1tablet Piridoksin HCl x 100 %= 97,14%

IX.

Pembahasan

Pada praktikum kali ini yang bertujuan menganalisis kualitatif dan kuantitatif sediaan Tablet Piridoksin HCl . Untuk mengetahui kepastian bahwa zat aktif yang terkandung dalam tablet adalah piridoksin HCl maka terlebih dahulu dilakukan uji kualitatif. Adapun uji kualitatif yang dilakukan adalah uji organoleptik, uji pH, uji reaksi warna dengan FeCl3, keseragaman bobot, dan keseragaman ukuran meliputi diameter dan tebal tablet. Dan untuk menganalisis

kuantitatif menggunakan instrumen Spektrofotometri UV, merupakan suatu analisis untuk mengetahui kepastian suatu tablet mengandung zat aktif piridoksin HCl serta mengetahui kadar dari piridoksin HCl dalam sediaan tablet tersebut. Untuk uji kuantitatif, dilakukan dahulu uji organoleptik dari tablet dengan mengamati dan merasakan secara fisiologi menggunakan indera penglihatan, penciuman, dan perasa. Didapatkan hasil dari uji organoleptik adalah bentuk tablet bulat bikonkav, tidak berasa, berwarna putih, tidak memiliki bau, dengan diameter 8,237 mm dan tebal tablet 3,607 mm. Menurut farmakope Indonesia, diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 1/3 tebal tablet, pada pemeriksaan didapat bahwa diameter tablet berada pada rentang 4,809 mm < x < 10,821 mm. Berdasarkan hasil pengukuran diameter dan tebal tablet piridoksin HCl bahwa syarat dari farmakope Indonesia untuk diameter dan tebal tablet terpenuhi. Selanjutnya adalah uji pH dari tablet piridoksin HCl, terlebih dahulu dilakukan ekstraksi terhadap zat aktif dari tablet, yaitu mengambil zat aktif piridokzin HCl dari tablet karena komposisi dari tablet bukan hanya zat aktif saja tetapi terdapat komponen penyusun lainnya (zat tambahan). Ekstraksi dilakukan dengan cara melarutkan sebagian serbuk piridoksin HCl (tablet yang telah digerus) dengan pelarut yang sesuai, yaitu aquadest, lalu disaring dengan kertas saring guna mengambil filtrat bening. Masukkan kertas pH universal ke dalam filtrat bening tadi, lalu amati atau tentukan pH dari piridoksin HCl dan didapatkan pH dari piridoksin HCl adalah 3. Hal ini sesuai dengan nilai pH yang tercantum pada Farmakope Indonesia. Untuk uji kualitatif selanjutnya adalah reaksi warna dengan menggunakan reagen FeCl3.Adapun prosedur yang dilakukan adalah ditimbang sejumlah serbuk tablet yang setara dengan 100 mg zat (serbuk tablet yang ditimbang adalah 1872,9 mg), lalu di larutkan dengan 5 mL aquadest, kocok hingga serbuk larut dan homogen. Saring ke dalam plat tetes, ke dalam filtrat ditambahkan 2- 3 tetes pereaksi besi (III) klorida. Amati perubahan warna yang terjadi pada larutan.Jika hasil positif maka menghasilkan warna jingga sampai merah tua. (Depkes

RI,1995). Hasil percobaan didapat perubahan warna dari orange (warna larutan FeCl3) menjadi warna merah tua kecokelatan . Reasi yang terjadi adalah piridoksin bereaksi sebagai zat fenolik dengan FeCl3, FeCl3 memberikan tambahan gugus penarik electron kepada Piridoksin , sehingga memberikan warna merah tua(merah kecokelatan) (Vandamme,1989). Hasil menunjukkan bahwa zat yang terkandung dalam tablet adalah benar Piridoksin HCl. Selanjutnya untuk uji keseragaman bobot dan ukuran, dilakukan prosedur sebagai berikut untuk keseragaman bobot Ditimbang satu per satu tablet sampel sebanyak 20 tablet dengan bantuan neraca analitis, didapatkan berat total 20 tablet. Hitung berat rata- rata tablet.Didapatkan hasil rata- rata dari tablet piridoksin HCl adalah 0,1869 gram, pada hasil pemeriksaan didapat tidak ada satu tablet pun yang berada di luar rentang A: 172,88 mg < x < 200,92 mg maupun rentang B: 158,87 mg < x < 214,935 mg. Sesuai pada Farmakope IV , maka tablet memenuhi syarat . Selanjutnya dilakukan uji kuantitatif penentuan kadar Piridoksin HCl dengan cara spektrofotometri UV . Tablet Piridoksin HCl tidak dilakukan dengan metode KCKT karena dilihat dari sifat sampel yang tidak kompleks maka cukup digunakan menggunakan spektrofotometri UV saja, Piridoksin HCl memiliki maksimal pada 290nm sedangan internal standarnya yaitu Thiamin HCl memiliki maksimal pada 246nm . Pertama , dilakukan pembuatan larutan stok Piridoksin HCl 40ppm dalam 250ml dari sampel Tablet Piridoksin HCl ,Serbuk tablet dilakukan proses ekstraksi zat aktif terlebih dahulu agar seluruh zat aktif diharapkan terambil dan masuk kedalam proses analisis, dilarutkan 187 mg sampel sebuk tablet Piridoksin HCl yang setara dengan 10 mg Piridoksin HCl dalam HCl P (37%) 5 ml pada beaker glass , dan ditambah 100ml aquadest kemudian dipanaskan pada waterbath hingga panas , perlakuan ini bertujuan untuk menambah kelarutan zat aktif Piridoksin HCl dalam pelarutnya yaitu air, setelah panas larutan didiamkan hingga dingin , kemudian disaring dengan kertas saring wathman kedalam labu ukur 250 ml , lalu add dengan aquadest add 250ml . Kemudian dilakukan pembuatan larutan stok standar Thiamin HCl BPFI 100ppm

dalam 20ml,dilarutkan 2 mg standar Thiamin HCl BPFI dalam 5 ml HCl P (37%) dalam labu ukur 20ml , lalu add dengan aquadest add 20ml , perlakuan pelarutan zat dengan pelarut yang sama dengan pelarut yang digunakan untuk melarutkan Piridoksin HCl , karena untuk standar internal , perlakuan antara sampel dan larutan internal standar harus sama.

Dari larutan stok thiamin HCl BPFI dilakukan pengenceran untuk scanning konsentrasi internal standar yang memiliki absorbansi sekitar 0,2-0,8. Pengenceran dilakukan dengan menggunakan V1.N1 = V2.N2. Hasil absorbansi yang memenuhi 0,2 0,8 adalah absorbansi thiamin HCl BPFI 8 ppm dan 10 ppm , sehingga dipilihlan thiamin HCl BPFI 8 ppm sebagai konsentrasi internal standar ttap yang akan dipakai saat pembuatan kurva internal standar. Kurva baku dibuat dengan cara membuat larutan piridoksin HCl dengan berbagai variasi konsentrasi dari stok 40 ppm yang di spike dengan 1,6 mL larutan internal standar thiamin HCl 100 ppm sehingga diperoleh hasil akhir pengenceran 8 ppm.
Labu 20 mL V. thiamin HCl 100 ppm C.thia min akhir V. piridoksin HCl 40 ppm C. Piridoksin akhir

1. 2. 3. 4. 5.

1,6 mL 1,6 mL 1,6 mL 1,6 mL 1,6 mL

8 ppm 8 ppm 8 ppm 8 ppm 8 ppm

4 mL ppm 4,5 mL ppm 5 mL ppm 5,5 mL ppm 6 mL ppm

8 9 10 11 12

Masing-masing labu di add hingga tanda batas. Lalu di ukur absorbansinya dengan spektrofotometri uv- vis pada panjang gelombang 220-300 nm. Sumbu x

merupakan faktor rasio dan sumbu y merupakan konsentrasi larutan piridoksin HCl. Faktor rasio diperoleh dengan rumus:

Metode standar internal biasanya dilakukan untuk sampel yang terlalu kompleks , atau karena respon instrument yang kurang baik. Namun pada kasus ini , digunakan metode internal standar karena tidak tersedianya baku Sampel , yaitu baku Piridoksin HCl , sehingga Baku diganti menjadi Thiamin HCl . Pemilihan Thiamin HCl sebagai standar Piridoksin HCl , karena Thiamin HCl memiliki fisik , struktur dan molekul yang sama dengan sampel Piridoksin HCl . Terdapat perbedaan panjang gelombang absobsi maksimal antara Piridoksin HCl dan Thiamin HCl, yaitu 246nm untuk Thiamin HCl dan 290nm untuk Piridoksin HCl , pada spectrum hasil running pada spektrofotometer UV , terlihat bahwa spectrum tidak saling bertumpuk , atau dapat dikatakan bahwa terdapat dua peak yang saling berdiri sendiri tanpa saling tumpang tindih , atau dapat dikatakan bahwa Piridoksin HCl tidak memberikan serapan pada panjang gelombang absorbansi maksimal milik Thiamin HCl , dan Thiamin HCl tidak memberikan serapan pada panjang gelombang absorbansi maksimal milik Piridoksin HCl. Sehingga perhitungan dapat dilakukan dengan melihat Absorbansi pada panjang gelombang absorbansi maksimal Thiamin HCl di 246nm dan Absorbansi pada panjang gelombang absorbansi maksimal Piridoksin HCl pada 290nm, kemudian dibuat rasio Absorbansi sampel(Piridoksin HCl) dibanding Absorbansi Standar(Thiamin HCl) , didapat persamaan garis y = 0,07611 x + 0,08974 dengan r = 0,997 , r = 0,997 merupakan regresi linier yang baik dan menyatakan bahwa persamaan garis yang didapat memnuhi linieritas. Setelah dibuat kurva baku dengan persamaan garis linier , absorbansi Unknown sampel sebagai y dimasukkan ke persamaan garis y = 0,07611 x + 0,08974 , dimana y = Absorbansi = 0,8291 y = ax + b y = 0,07611 x + 0,08974 0,8291 = 0,07611 x + 0,08974

x= x = 9,71436 ppm Maka Konsentrasi Piridoksin HCl adalah 9,71436 ppm Kada Piridoksin HCl didapat dengan cara 9,71436 ppm = x factor pengenceran

38 , 8574

=38 , 8574

= 9,714

x 250 ml = 97,14

1tablet ~ 187 mg serbuk tablet ~10 mg zat aktif Piridoksin HCl ~ x 100 %= 97,14%. Maka Kadar Piridoksin HCl dalam 1tablet Piridoksin HCl 97,14%. Kadar Piridoksin HCl dalam 1tablet Piridoksin HCl ini memenuhi syarat pada farmakope bahwa Tablet Piridoksin Hidroklorida mengandung Piridoksin Hidroklorida tidak kurang dari 95% dan tidak lebih dari 115% , dari jumlah yang tertera pada etiket (Depkes RI,1995), sehingga Tablet Piridoksin HCl degan nama dagang Vitamin B6 (Tiap tablet mengandung 10 mg Piridoksin HCl yang tertera pada etiket) produksi PT. Bima Mitra Farma memenuhi standar syarat Farmakope Indonesia IV.

X. Kesimpulan 1. Analisis Kualitatif pada sediaan Tablet Piridoksin HCl degan nama dagang Vitamin B6 produksi PT. Bima Mitra Farma dinyatakan benar mengandung Piridoksin HCl dan memenuhi syarat kualifikasi tablet sesuai dengan metode analisis kualitatif tablet Pirdoksin HCl yang tertera pada Farmakope Indonesia IV 2. Analisis Kuantitatif pada sediaan Tablet Piridoksin HCl degan nama dagang Vitamin B6 produksi PT. Bima Mitra Farma dinyatakan mengandung Piridoksin HCl dengan kadar 97,14% dan memenuhi syarat bahwa Tablet Piridoksin Hidroklorida mengandung Piridoksin Hidroklorida tidak kurang dari 95% dan tidak lebih dari 115% , dari jumlah yang tertera pada etiket )sesuai dengan metode analisis kualitatif tablet Pirdoksin HCl yang tertera pada Farmakope Indonesia IV.