Anda di halaman 1dari 4

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Hingga saat ini penyakit kardiovaskular masih merupakan penyebab utama kematian di dunia. Deteksi dini berbagai gangguan kardiovaskular berperan penting dalam menurunkan morbiditas dan mortalitasnya. Salah satu gangguan kardiovaskular yang umum ditemui adalah Penyakit Arteri Perifer Oklusi (PAPO). Penyakit Arteri Perifer Oklusi (PAPO) adalah gangguan vaskular yang disebabkan oleh proses aterosklerosis dan tromboemboli yang mengganggu struktur dan fungsi normal aorta dan cabang viseralnya serta arteri yang memperdarahi ekstrimitas bawah. Penyakit Arteri Perifer Oklusi (PAPO) menjadi indikator terjadinya aterosklerosis pada pembuluh darah sistemik termasuk pembuluh darah koroner, karotis dan serebral. Oleh karena itu pasien dengan Penyakit Arteri Perifer Oklusi (PAPO), baik yang simptomatik maupun asimptomatik terbukti beresiko tinggi mengalami infark miokard, stroke iskemia dan kematian. Prevalensi Penyakit Arteri Perifer Oklusi (PAPO) mencapai 12-14% dan meningkat hingga 20% pada populasi diatas 70 tahun. Penyakit ini seringkali asimptomatik sehingga tidak terdeteksi. Faktor resiko Penyakit Arteri Perifer Oklusi (PAPO) adalah usia tua, hipertensi, dislipidemia, diabetes mellitus, dan merokok. Faktor resiko potensial lain adalah peningkatan kadar c-reaktif protein, fibrinogen, homosistein, apolipoprotein b, lipoprotein a, dan viskositas plasma. Diantara semua faktor tersebut, salah satu faktor yang paling berperan adalah riwayat diabetes mellitus. Penderita diabetes mellitus beresiko 2-4 kali lebih besar untuk menderita Penyakit Arteri Perifer Oklusi (PAPO) dibandingkan individu non-diabetes.

Ankle Brachial Index (ABI) adalah suatu tes sederhana, non-invasif, murah, yang umum digunakan untuk mendiagnosis Penyakit Arteri Perifer Oklusi secara objektif. Tes ini memiliki sensititivitas (79-95%) dan spesifisitas (95-96%) yang tinggi jika dibandingkan dengan gold standar angiografi. Ankle Brachial Index (ABI) adalah perbandingan tekanan sistolik pada pergelangan kaki terhadap tekanan sistolik pada lengan. Nilai ABI normal adalah 0.91-1.3 dan nilai ABI 0,9 menandakan adanya Penyakit Arteri Perifer Oklusi (PAPO). Penelitian mengenai hubungan nilai ABI dan diabetes melitus masih sangat kurang di Indonesia. Begitu pula dengan di provinsi Kalimantan Barat. Hal ini yang mendasari penulis untuk melakukan penelitian mengenai. B. RUMUSAN MASALAH Bagaimana karakteristik keratitis nummularis di Poliklinik Mata RSUD dr. Soedarso Pontianak Januari 2010-Desember 2011?

C. TUJUAN PENELITIAN C.1. Tujuan Umum Mengetahui hubungan antara Penyakit Arteri Perifer Oklusi (PAPO) dan Diabetes Melitus.

C.2. Tujuan Khusus a. Mengetahui prevalensi Penyakit Arteri Perifer Oklusi (PAPO) pada diabetes mellitus b. Mengetahui prevalensi Penyakit Arteri Perifer Oklusi (PAPO) pada non-diabetes mellitus c. Mengetahui nilai rata-rata Ankle Brachial Index (ABI) pada penderita diabetes mellitus

d. Mengetahui nilai rata-rata Ankle Brachial Index (ABI) pada nondiabetes mellitus D. MANFAAT PENELITIAN D.1. Bagi Masyarakat Menambah informasi mengenai penyakit keratitis nummularis sehingga dapat melakukan pencegahan dan penanganan secara dini.

D.2. Bagi Civitas Akademika Menambah khasanah ilmu pengetahuan yang dapat dijadikan dasar untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang keratitis nummularis.

D.3. Bagi Rumah Sakit Mendapat informasi dan pengetahuan mengenai distribusi dan proporsi keratitis nummularis berdasarkan usia, jenis kelamin, visus, riwayat trauma pada kornea, riwayat penggunaan lensa kontak, jenis pekerjaan dan keterlibatan mata pada penderita keratitis nummularis di Poliklinik Mata RSUD dr. Soedarso Pontianak Januari 2010-Desember 2011 sehingga dapat berguna sebagai dasar atau bahan dalam meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit.

D.4. Bagi Peneliti a. Menambah dan memperluas ilmu pengetahuan serta pengalaman dalam melaksanakan suatu penelitian. b. Menambah dan memperluas ilmu pengetahuan dalam bidang oftalmologi khususnya mengenai keratitis nummularis.