Anda di halaman 1dari 12

AKLIMATISASI ANGGREK

Oleh : Nama NIM Kelompok Rombongan Asisten : Pety Wulandari : B1J010121 :2 :I : Asna

LAPORAN PRAKTIKUM ORCHIDOLOGI

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2013

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Bibit anggrek yang dikembangkan menggunakan metode kultur jaringan telah banyak diproduksi dan dipasarkan dalam kemasan botol. Pemeliharaan bibit anggrek ini menjadi tanaman dewasa masih menemukan banyak permasalahan terutama pada fase aklimatisasi, yaitu pemindahan bibit dari lingkungan aseptik dalam botol kelingkungan non aseptik. Kemungkinan tanaman sangat sensitif terhadap serangan hama penyakit, tanaman ini masih memiliki aktifitas autotrofik yang masih rendah, sulit mensintesa senyawa organik dari unsur hara anorganik (Adiputra, 2009). Penyesuaian terhadap iklim pada lingkungan baru yang dikenal dengan aklimatisasi merupakan masalah penting dalam membudidayakan tanaman menggunakan bibit yang diperbanyak dengan teknik kultur jaringan. Masalah ini dapat terjadi karena beberapa faktor, yaitu : 1. Pada habitatnya yang alami, anggrek epifit biasanya tumbuh pada pohon atau ranting. Oleh karena itu, pemindahan dari botol ke media dalam pot sebenarnya telah menempatkan tanaman pada lingkungan yang tidak sesuai dengan habitatnya, 2. Tumbuhan yang tidak dikembangkan menggunakan teknik kultur jaringan memiliki kondisi lingkungan yang aseptik dan senyawa organik yang

digunakan tanaman sebagian besar didapat secara eksogenous. Oleh karena itu, apabila dipindahkan kedalam pot, maka tanaman dipaksa untuk dapat membuat sendiri bahan organik secara endogenous. Perbedaan faktor lingkungan antara habitat asli dengan habitat pot atau antara habitat kultur jaringan dengan habitat pot memerlukan penyesuaian agar faktor lingkungan tidak melewati batas kritis bagi tanaman. Salah satu metode yang digunakan pada proses aklimatisasi tanaman botol ke tanaman pot yang sering digunakan adalah metode aklimatisasi kering. Masa aklimatisasi ini memerlukan media beraerasi dan draenasi baik serta kelembaban yang cukup, bebas organisme pengganggu dan bahan berbahaya, cukup hara mineral dan memiliki bobot yang ringan (Adiputra, 2009).

B. Tujuan Tujuan dari praktikum aklimatisasi anggrek adalah dapat : 1. Meningkatkan ketrampilan melakukan aklimatisasi anggrek. 2. Meningkatkan prosentase keberhasilan bibit anggrek yang jadi ( tetap hidup ) samai dapat diperjual belikan. 3. Menentukan macam media aklimatisasi yang sesuai untuk masing-masing jenis anggrek.

II. MATERI DAN METODE

A. Materi Alat-alat yang digunakan pada praktikum aklimatisasi anggrek adalah kawat menyerupai huruf U, baskom, pot, plastik, tray, kertas merang, dan pinset. Sedangjan, bahan yang digunakan pada praktikum aklimatisasi anggrek adalah bibit anggrek botolan, sterioform, fungisida, dan mos.

B. Metode 1. 2. 3. 4. 5. Siapkan alat dan bahan. Bibit anggrek dalam botol dikeluarkan, dan dicuci dengan air mengalir. Selanjutnya dicelupkan ke fungisida. Kemudian ditanam di media mos. Amati selama 6 hari.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Gambar hasil praktikum aklimatisasi anggrek Dendrobioum sp.

B. Pembahasan Hasil praktikum yang didapat adalah bahwa adanya pertambahan tinggi, panjang akar serta bertambahnya helaian daun. Hal ini disebabkan karena tanaman anggrek ditempatkan pada tempat yang teduh dan tidak terkena matahari langsung serta kelembapan dan suhu yang terjaga. Hal ini serupa dengan TRUBUS (2005) yang menjelaskan bahwa pertumbuhan tanaman anggrek tergantung oleh faktor lingkungan. Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan anggrek adalah sebagai berikut : 1. Ketinggian tempat Anggrek biasanya tumbuh pada ketinggian lebih dari 1.000 m diatas permukaan laut (dpl). 2. Cahaya Anggrek bersifat epifit, tumbuh menumpang pada pohon lain tanpa merugikan inangnya. Oleh karena itu, anggrek hanya membutuhkan intensitas cahaya sekitar 1.500 3.000 footcandle (fc). Bila intensitas cahaya tinggi,

ultraviolet akan terserap oleh lapisan sel di bawah epidermis daun. Akibatnya, warna menjadi kekuningan dan akhirnya kecoklatan seperti terbakar. 3. Kelembapan Kelembapan yang cocok bagi anggrek berkisar 60 85%. Dengan kisaran tersebut maka penguapan besar-besaran pada siang hari bisa dicegah. 4. Suhu Suhu udara sangat mempengaruhi proses metabolisme tanaman. Suhu tinggi memacu proses metabolisme dan suhu rendah akan memperlambat metabolisme. Untuk itu dibutuhkan suhu yang sesuai, yaitu 25C 27C. 5. Ketersediaan air Anggrek sangat menyukai air tetapi tidak boleh berlebihan. Air digunakan saat pertumbuhan vegetatif laju pesat, tunas-tunas muda tumbuh dan sebelum berbunga. Pertumbuhan anggrek juga berpengaruh pada media tanam yang digunakan. Pada praktikum aklimatisasi kali ini menggunakan media sterofoam dan mos. Fungsi dari media mos adalah untuk mengikat air sehingga air tidak langsung terbuang. Sedangkan sterofoam berfungsi sebagai pembuangan air, sehingga air yang turun kebawah bisa langsung terbuang dan tidak mengendap dibawah pot sehingga tidak akan tumbuh jamur atau lumut. Secara umum fungsi media tumbuh bagi tanaman anggrek selain sebagai tempat berpijak tanaman, juga harus bisa berperan sebagai tempat menyimpan unsur hara serta air yang diperlukan bagi tanaman anggrek. Menurut Anggorowati (2010) media yang sesuai bagi tanaman anggrek harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Tidak cepat lapuk Tidak menjadi sumber penyakit Mempunyai aerasi yang baik Mampu mengikat air dan unsur hara mineral Mudah didapat dalam jumlah yang diinginkan Relatif murah harganya Aklimatisasi adalah masa adaptasi tanaman hasil pembiakan pada kultur jaringan yang semula kondisinya terkendali kemudian berubah pada kondisi

lapangan yang kondisinya tidak terkendali lagi, disamping itu tanaman juga harus mengubah pola hidupnya dari tanaman heterotrof ke tanaman autotrof, dalam melakukan aklimatisasi pengelompokan plantlet hasil seleksi. Plantlet

dikelompokan berdasarkan ukurannya untuk memperoleh bibit yang seragam. Plantlet sebelum ditanam sebaiknya diseleksi terlebih dahulu berdasarkan kelengkapan organ, warna, hekeran pertumbuhan, dan ukuran. Plantlet yang baik adalah yang organnya lengkap, mempunyai pucuk dan akar, warna pucuknya hijau mantap artinya tidak tembus pandang dan pertumbuhan akar bagus (Adiputra, 2009). Menurut Adiputra (2009), ciri-ciri bibit yang berkulitas baik yaitu planlet tampak sehat dan tidak berjamur, ukuran planlet seragam, berdaun hijau segar, dan tidak ada yang menguning. Planlet tumbuh normal, tidak kerdil, komposisi daun dan akar seimbang, pseudobulb atau umbi semu mulai tampak dan sebagian kecil telah mengeluarkan tunas baru, serta memiliki jumlah akar serabut 3 4 akar dengan panjang 1,5 2,5 cm. Prosedur pembiakan dengan kultur in vitro baru bisa dikatakan berhasil jika planlet dapat diaklimatisasi ke kondisi eksternal dengan keberhasilan yang tinggi. Aklimatisasi bertujuan untuk mempersiapkan planlet agar siap ditanam di lapangan. Tahap aklimatisasi mutlak dilakukan pada tanaman hasil perbanyakan secara in vitro karena planlet akan mengalami perubahan fisiologis yang disebabkan oleh faktor lingkungan. Hal ini bisa dipahami karena pembiakan in vitro (dalam botol) semua faktor lingkungan terkontrol sedangkan di lapangan faktor lingkungan sulit terkontrol (Hendastuti, 1985). Metode aklimatisasi yang digunakan pada saat praktikum adalah metode kering yang sering digunakan oleh penganggrek. Dengan meningkatkan efektifitas metode yang digunakan maka masalah fisiologis yang dihadapi oleh tanaman mungkin dapat terhindarkan (Adiputra, 2009). Menurut Parnata (2005), setelah proses aklimatisasi anggrek diperlakukan sebagai berikut: a. Compotting Ukuran pot yang digunakan untuk kompot berdiameter sekitar 7 cm pada pot ini diisi bibit sekitar 30 bibit anggrek atau tergantung ukuran bibitnya.

Pertama-tama pot yang akan digunakan diisi dengan sterofoam sekitar 1/3 bagian, kemudian pakis cacah lalu bibit anggrek ditata dengan rapi. b. Seedling (Penanaman ke Single Pot) Seedling adalah proses memindahkan bibit dari kompot ke pot individu. Seedling dilakukan pada saat bibit berusia 5 bulan. Apabila tanaman terlambat diseedling dapat mengakibatkan bibit dalam kompot kompetisi sehingga penyerapan hara terhalang dan akar beresiko menjadi rusak. Biasanya seedling dilakukan diletakkan di dalam gelas bekas air mineral. Media yang digunakan untuk setiap anggrek berbeda-beda tergantung pada kebutuhan airnya. Media untuk Dendrobium adalah sphagnum yang dibalutkan pada akar tanaman, kemudian tanaman ditanam dalam gelas plastic yang telah diisi sterofoam dan pakis cacah. Biasanya juga ditanam pada media pakis batangan yang kemudian diikat menggunakan tali raffia. Ciri-ciri dari bibit yang siap di seedling yaitu ditandai dengan perakaran yang tumbuh lebih kuat dan daun daun tampak sudah keluar dari bibir pot. c. Overpot (Pemindahan bibit) Overpot dilakukan ketika tanaman dalam single pot memenuhi syarat untuk dipindahkan, yaitu ditandai denga banyaknya umbi. Tanamn dipindahkan ke pot yang lebih besar. Biasanya dilakukan setelah seedling berumur 2-3 bulan. Media yang digunakan adalah potongan pakis batangan yang disusun secara teratur atau satu per satu dan diikat denga tali raffia. d. Repotting Repotting atau pengepotan ulang adalah pemindahan tanaman tanaman dari pot yang lama ke pot yang baru. Repotting dilakukan jika anggrek pada pot seedling telah tumbuh besar dan memenuhi popt plastik. Pengepotan ulang dilakukan dengan alasan media dalam pot seedling telah lapuk dan hancur sehingga ph menjadi rendah (asam) dan rentan terhadap serangan penyakit (Parnata, 2005). Selain itu juga untuk mengantisipasi media yang telah kehabisan unsur hara. Media untuk repotting juga berbeda untuk setiap jenis anggrek tergantung kebutuhan airnya. Menurut Yusnita (2004), ciri-ciri bibit yang berkulitas baik yaitu : 1. Plantlet tampak sehat dan tidak berjamur.

2. Ukuran planlet seragam. 3. Berdaun hijau segar, dan tidak ada yang menguning. 4. Plantlet tumbuh normal dan tidak kerdil. 5. Komposisi daun dan akar seimbang. 6. Pseudobulb atau umbi semu mulai tampak dan sebagian kecil telah mengeluarkan tunas baru. 7. Memiliki jumlah akar serabut 3-4 akar dengan panjang 1,5-2,5 cm. Menurut Widiastoety (1986), media tumbuh yang baik untuk aklimatisasi harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu tidak lekas melapuk, tidak menjadisumber penyakit, mempunyai aerasi baik, mampu mengikat air dan zat-zat hara secara baik, mudah didapat dalam jumlah yang diinginkan dan relatif murah harganya. Kemasaman media (pH) yang baik untuk pertumbuhan tanaman anggrek berkisar antara 56. Media tumbuh sangat penting untuk pertumbuhan dan produksi bunga optimal, sehingga perlu adanya suatu usaha mencari media tumbuh yang sesuai. Media tumbuh yang sering digunakan di Indonesia antara lain: moss, pakis, serutan kayu, potongan kayu, serabut kelapa, arang dan kulit pinus. Praktikum aklimatisasi ini menggunakan media moss. Media mos ini mengandung 23% unsur N dan mempunyai daya mengikat air yang baik, serta mempunyai aerasi dan drainase yang baik. Media yang lain yang biasanya dipakai untuk aklimatisasi adalah pakis, karena memiliki daya mengikat air, aerasi dan drainase yang baik, melapuk secara perlahan-lahan, serta mengandung unsurunsur hara yang dibutuhkan anggrek untuk pertumbuhannya. Jaringan meristem yang bisa dipakai untuk kultur jaringan antara lain adalah ujung tunas, tunas samping, ujung batang, ujung daun dan tunas apikal. Planlet yang dipelihara dalam keadaan steril dengan lingkungan (suhu, dan kelembaban) optimal, sangat rentan terhadap lingkungan eksternal. Planlet yang tumbuh dalam kultur jaringan di laboratorium memiliki karakteristik stomata daun yang lebih terbuka dan sering tidak memiliki lapisan lilin pada permukaan daun. Planlet sangat rentan terhadap kelembaban rendah. Mengingat sifat-sifat tersebut, sebelum ditanam di lapangan maka planlet memerlukan aklimatisasi, dalam aklimatisasai, lingkungan tumbuh (terutama kelembaban) berangsur-angsur disesuaikan dengan kondisi lapangan. Media tumbuh bagi bibit merupakan

lingkungan baru dalam proses aklimatisasi. Media tumbuh yang baik bagi anggrek (family Orchidaeae) harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain tidak cepat melapuk dan terdekomposisi, tidak menjadi sumber penyakit bagi tanaman, mempunyai aerasi dan draenase yang baik secara lancar, mampu mengikat air dan zat-zat hara secara optimal, dapat mempertahankan kelembaban di sekitar akar, untuk pertumbuhan anggrek dibutuhkan pH media 5-6, ramah lingkungan serta mudah di dapat dan relatif murah harganya (Wardani, 2010).

IV. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil serta pembahasan diatas maka : 1. Aklimatisasi merupakan masa adaptasi tanaman hasil pembiakan pada kultur jaringan yang semula kondisinya terkendali kemudian berubah pada kondisi lapangan yang kondisinya tidak terkendali lagi. 2. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan selama satu minggu anggrek Dendrobium dapat beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan. 3. Praktikum aklimatisasi ini menggunakan media moss, media moss ini mengandung 23% unsur N.

DAFTAR REFERENSI

Adiputra, Dr. I Gede Ketut. 2009. Aklimatisasi Bibit Anggrek Pada Awal Pertumbuhannya Diluar Kultur Jaringan. Universitas Hindu Indonesia. Denpasar. Anggorowati, Dra. Sulastri, MS. 2010. Petunjuk Praktikum Orkhidologi. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto. Hendastuti, L. 1985. Pengaruh penggunaan berbagai macam medium tumbuh terhadap pertumbuhan anggrek Phalaenopsis sp. Bulletin Penelitian Hortikultura 12 (3): 39 48. Parnata, A. S. 2005. Panduan Budi Daya dan Perawatan Anggrek. Agro Media, Jakarta. TRUBUS. 2005. Anggrek Dendrobium. PT Trubus Swadaya. Depok. Wardani, S. Hot Setiado, dan Syarifuddin Ilyas. 2010. Pengaru hMedia Tanam dan Pupuk Daun terhadap Aklimatisasi Anggrek Dendrobium sp. Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian USU, Medan. Widiastoety, D. dan F. A. Bahar. 1995. Pengaruh Berbagai Sumber dan Karbohidrat Terhadap Planlet Anggrek Dendrobium. Jurnal Hortikultura 5 (3): 76-80. Widiastoety, D. 1986. Percobaan berbagai macam media dan kedudukan mata tunas pada kultur jaringan anggrek. Bulletin Penelitian Hortikultura 13 (3) : 1-8. Yusnita. 2004. Kultur Jaringan: Cara memperbanyak tanaman secara efisien. Agro Media Pustaka, Jakarta.