Anda di halaman 1dari 9

PENDAHULUAN

Miopia (nearsightendness) merupakan suatu keadaan refraksi mata dimana sinar sejajar yang datang dari jarak tak terhingga dalam keadaan mata istirahat, dibiaskan di depan retina sehingga pada retina didapatkan lingkaran difus dan bayangan kabur. Cahaya yang datang dari jarak yang lebih dekat mungkin dibiaskan tepat di retina tanpa akomodasi.1-3 Berdasarkan penyebabnya, miopia dapat dibedakan atas :1,3,4 1. Miopia aksialis Jarak sumbu anterior posterior terlalu panjang. Jarak normal adalah 23mm, sedangkan pada miopia 3D = 24mm, 10D = 27mm. Dapat merupakan kelainan kongenital (makroftalmus), akuisita (membaca terlalu dekat, muka yang lebar), juga ada faktor herediter. 2. Miopia pembiasan Penyebabnya dapat terletak pada: a. Kornea : kongenital (keratokonus, keratoglobus) dan akuisita (keratektasia/kornea menonjol ke depan). b. Lensa : luksasi/subluksasi lensa, atau pada katarak imatur dimana lensa menjadi cembung akibat masuknya humor akuos. c. Cairan mata : kadar gula pada humor akuos meninggi sehingga daya biasnya meninggi (pada penderita diabetes mellitus). Miopia dapat terjadi sementara akibat :5 1. Gula darah yang tiba-tiba meninggi (diabetes). 2. Pengobatan (misalnya : sulfonamid dan asetazolamid). 3. Perubahan lensa karena usia (sklerosis nuklear) dengan meningkatnya indeks refraksi nukleus lensa. 4. Cedera benturan pada mata.

Miopia Okuli Dekstra et Sinistra

Berdasarkan derajat beratnya miopia dibagi atas :5 1. Miopia ringan (1 3 dioptri) 2. Miopia sedang (3 6 dioptri) 3. Miopia tinggi (> 6 dioptri) Secara klinis, miopia dapat dibedakan atas :1,5 1. Miopia simpleks, miopia stasioner, miopia fisiologik Timbul pada usia muda kemudian berhenti, dapat juga naik sedikit pada waktu atau segera setelah pubertas, atau dapat naik sedikit sampai umur 20 tahun. Tidak disertai kelainan patologik fundus namun dapat disertai kelainan fundus yang ringan. Berat kelainan refraktifnya kurang dari -5 D atau -6 D. 2. Miopia progresif Dapat ditemukan pada semua umur dan mulai sejak lahir, dimana kelainan mencapai puncak pada waktu remaja, bertambah terus sampai umur 25 tahun atau lebih. Kelainan refraktifnya melebihi 6 D. 3. Miopia patologik, miopia degeneratif, miopia maligna Miopia progresif yang lebih ekstrim. Terjadi peningkatan beratnya miopia dalam waktu yang relatif pendek. Disertai kelainan degenerasi di koroid dan bagian lain dari mata. Dalam hal ini miopia dapat dianggap sebagai penyakit. Hal yang biasa dikeluhkan adalah penglihatan jauh yang berkurang, sakit kepala, mata berair, rasa lekas lelah dan pusing yang hilang timbul terutama bila membaca atau menonton televisi terlalu lama. Seseorang dengan miopia mempunyai kebiasaan mengernyitkan matanya untuk mendapatkan efek lubang kecil (untuk mengurangi cahaya yang masuk sehingga ketajaman penglihatannya diperbaiki.4,5 Penanganan pada penderita miopia adalah dengan pemakaian kacamata (lensa sferis negatif terkecil yang memberikan visus maksimal), lensa kontak, pembedahan (keratotomy radial) dan LASIK (Laser In Situ Keratomiolisis).5,6,7 Miopia Okuli Dekstra et Sinistra 2

Komplikasi yang dapat terjadi adalah strabismus divergen, ablasi retina dan perdarahan badan kaca.1,2,5 Untuk mencegah agar miopia tidak bertambah, kesehatan badan, dan mata harus dijaga. Usahakan untuk cukup istirahat, mengurangi pekerjaan dekat, banyak bekerja di luar. Bila membaca jangan terus menerus dan usahakan dalam posisi tegak, jangan membungkuk di atas buku. Kacamata harus terus dipakai. Penerangan haruslah sesuai, yang terbaik adalah penerangan dari atas dan belakang. Untuk miopia tinggi, hindari olah raga seperti sepak bola, tinju, angkat berat dan yang sejenisnya.1,5,8 Prognosis pada miopia simpleks adalah baik dengan koreksi yang baik dan pemeliharaan mata yang baik. Miopia progresif yang disertai penyulit yang gawat, kadang-kadang membutuhkan pengurangan bahkan penghentian dan pekerjaan dekat.Miopia maligna, prognosisnya buruk.1,4,5 Berikut ini dilaporkan sebuah kasus mengenai Miopia Okuli Dekstra et Sinistra.

LAPORAN KASUS

Miopia Okuli Dekstra et Sinistra

Seorang penderita perempuan, 36 tahun, suku Minahasa, bangsa Indonesia, agama Kristen Protestan, pekerjaan PNS, alamat Malalayang I lingk.III, datang ke Poliklinik Mata RSU Prof. dr. R.D. Kandou pada tanggal 18 Mei 2006 dengan keluhan utama penglihatan kabur pada kedua mata.

ANAMNESIS
Penglihatan kabur dirasakan mengganggu sejak satu tahun yang lalu, terutama dialami saat melihat benda atau tulisan pada jarak jauh. Penderita merasa lebih enak bila melihat atau membaca dalam jarak dekat. Penderita sering merasa sakit kepala yang hilang timbul, mata berair, dan cepat lelah terutama bila melihat atau membaca pada jarak jauh dalam waktu yang cukup lama.

PEMRIKSAAN FISIK
Status Generalis Keadaan umum cukup, kesadaran kompos mentis. Tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 80 x/menit, respirasi 20 x/menit, suhu badan 36,5C. Pada kepala didapatkan konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterus. Jantung dan paru dalam batas normal. Abdomen dalam batas normal. Ekstremitas akral hangat. Status Psikiatri Sikap penderita kooperatif, ekspresi wajar dan bersikap baik. Status Oftalmikus Pemeriksaan Subjektif - VOD 6/12, dikoreksi dengan S 0,5 6/6 - VOS 6/10, dikoreksi dengan S 0,25 6/6 - Jarak kedua pupil 62 mm. Pemeriksaan Objektif Dari inspeksi ODS secara umum, posisi kedua bola mata normal, simetris di tengah, tidak ada benjolan, pergerakan bola mata normal. Supersilia, palpebra dan aparatus lakrimalis tidak ada kelainan, konjungtiva bulbi jernih, benjolan tidak ada. Kornea jernih, COA cukup dalam pupil bulat isokor, refleks cahaya positif normal. Palpasi ODS tidak ada nyeri tekan dan benjolan. Pemeriksaan dengan oftalmoskop pada ODS didapatkan refleks fundus (+) uniform, batas tegas, warna vitae, makula dan retina dalam batas normal. Miopia Okuli Dekstra et Sinistra 4

RESUME
Seorang penderita perempuan,36 tahun, datang berobat ke Poliklinik Mata RSU Prof. Dr. R.D. Kandou pada tanggal 18 Mei 2006 dengan keluhan utama penglihatan kabur pada kedua mata. Penglihatan kabur terutama dialami saat melihat benda atau tulisan pada jarak jauh. Penderita merasa lebih enak bila melihat atau membaca dalam jarak dekat. Status Oftalmikus Pemeriksaan Subjektif : - VOD 6/12, dikoreksi dengan S 0,5 6/6 - VOS 6/10, dikoreksi dengan S 0,25 6/6

DIAGNOSIS
Miopia okuli dekstra et sinistra.

TERAPI
Kacamata monofokus OD: S 0,5 dan OS: S 0,25 PD : 64/62 cm. Roborantia

PROGNOSIS
Dubia ad bonam

ANJURAN
Untuk menjaga kesehatan badan dan mata Usahakan untuk cukup beristirahat Mengurangi pekerjaan dekat. Bila membaca jangan terus-menerus dan usahakan dalam posisi tegak, jangan membungkuk di atas buku. Kacamata harus terus dipakai. Penerangan haruslah sesuai, yang terbaik adalah penerangan dari atas dan belakang.

DISKUSI
Miopia Okuli Dekstra et Sinistra 5

Diagnosis miopia ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan oftalmologi. Dari anamnesis didapatkan adanya keluhan berupa penglihatan kabur terutama saat melihat benda atau tulisan pada jarak jauh. Penderita merasa lebih enak bila melihat atau membaca dalam jarak dekat. Hal ini sesuai dengan kepustakaan bahwa miopia merupakan suatu keadaan refraksi mata dimana sinar sejajar yang datang dari jarak tak terhingga dalam keadaan mata istirahat, dibiaskan di depan retina sehingga pada retina didapatkan lingkaran difus dan bayangan kabur. Cahaya yang datang dari jarak yang lebih dekat mungkin dibiaskan tepat di retina tanpa akomodasi.1-3 Keluhan lain yang didapatkan pada penderita ini antara lain : sakit kepala, mata berair, rasa lekas lelah dan pusing yang hilang timbul.4,5 Pada pemeriksaan oftalmologi didapatkan visus okulus dekstra 6/12 sedangkan visus okulus sinistra 6/10. Pada pasien ini dengan inspeksi didapatkan bilik mata depan yang cukup dalam. Pada orang miopia jarang melakukan akomodasi, jarang terjadi miosis, sehingga pupil menjadi midriasis. Otot-otot siliaris menjadi atrofi menyebabkan iris letaknya lebih ke dalam, sehingga bilik mata depan menjadi lebih dalam.1,5 Pemeriksaan dengan oftalmoskop pada ODS didapatkan refleks fundus (+) uniform, batas tegas, warna vital, makula dan retina dalam batas normal. Hal ini menunjukkan bahwa belum terjadi kelainan akibat miopianya, sehingga pada pasien ini belum ditemukan adanya penyulit/komplikasi.1 Pasien ini diterapi dengan kacamata mengunakan lensa sferis. Ukuran lensa yang digunakan adalah yang terkecil yang memberikan visus maksimal pada saat dilakukan koreksi yaitu lensa sferis -0,5 D untuk mata kanan, dan lensa sferis -0,25 D untuk mata kiri. Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang menyatakan bahwa pada penderita miopia diberikan lensa sferis negatif yang terkecil yang memberikan visus maksimal agar penderita dapat melihat dengan baik tanpa melakukan akomodasi.1,5,7 Roborantia diberikan sebagai tambahan nutrisi mata. Miopia Okuli Dekstra et Sinistra 6

Berdasarkan tingginya Dioptri, pasien ini mengalami miopia ringan. Dari hasil pemeriksaan dengan oftalmoskop juga tidak ditemukan adanya kelainan. Sehingga pasien ini dapat juga digolongkan sebagai miopia simpleks yang timbul pada usia muda kemudian berhenti, atau dapat naik sedikit sampai umur 20 tahun, tidak disertai kelainan patologik fundus, dan berat kelainan refraktifnya kurang dari -5 D atau -6 D.1,5 Pada penderita miopia simpleks usia muda dianjurkan untuk menjaga kesehatan badan dan mata. Usahakan untuk cukup beristirahat, mengurangi pekerjaan dekat, banyak bekerja di luar. Bila membaca jangan terus-menerus dan usahakan dalam posisi tegak, jangan membungkuk di atas buku. Kacamata harus terus dipakai. Penerangan haruslah sesuai, yang terbaik adalah penerangan dari atas dan belakang.1,5,8 Apabila penderita miopia simpleks dikoreksi dengan baik, dan menjaga agar badan dan matanya sehat, maka prognosisnya baik.1,6

PENUTUP
Miopia Okuli Dekstra et Sinistra 7

Demikian telah dilaporkan sebuah kasus berjudul Miopia Okuli Dekstra et Sinistra dari seorang penderita laki-laki berusia 28 tahun yang datang berobat ke Poliklinik Mata RSU Prof. dr. R.D. Kandou pada tanggal 25 April 2006.

DAFTAR PUSTAKA
Miopia Okuli Dekstra et Sinistra 8

1. Wijana N. Refraksi. Dalam : Ilmu Penyakit Mata cetakan ke-6. Jakarta, 1993. 2. Agarwal LP. Subjective Examination. Principle Of Optics and Refraction 2nd ed. New Delhi : CBS Publihers and distributors, 1979 : 86 120 3. American Academy of Ophthalmology. Practical Ophthalmology 4th ed. San Fransisco, USA, 1996 : 77 85 4. Sidarta I, dkk. Sari Ilmu Penyakit Mata cetakan ke-2. Jakarta, 2000 5. Sidarta I. Kelainan Refraksi. Dalam : Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Jakarta, 1991 6. Sidarta I, dkk. Ilmu Penyakit Mata untuk Dokter Umum edisi 2. Jakarta, 2002 7. BJO Online. Myopia. Available http://www.bmjjournals.com/cgi/reprintform from :

8. New scientist Breaking News. Lifestyle causes myopia. Available from :http://www.journals.com/cgi/reprintform

Miopia Okuli Dekstra et Sinistra