Anda di halaman 1dari 16

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Kolaborasi merupakan istilah umum yang sering digunakan untuk mengambarkan suatu hubungan kerja sama yang dilakukan pihak tertentu. Berdasarkan kamus Heritage Amerika ( 2000), kolaborasi adalah bekerja sama khususnya dalam usaha pengambungkan pemikiran. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Gray ( 1989) mengambarkan bahwa kolaborasi sebagai suatu proses berpikir di mana pihak yang terlibat memandang aspek- aspek perbedaan dari suatu masalah serta menemukan solusi dari perbedaan tersebut dan keterbatasan pandangan mereka terhadap apa yang dapat dilakukan. American medical assosiasiation ( AMA) 1994 setelah mealaui diskusi dan negosiasi yang panjang dalam kesepakatan hubungan propesional dokter dan perawat, mendefinisikan istilah kalaborasi sebagai berikut: Kaloborasi adalah proses dimana dokter dan perawatmerencanakan dan praktek bersama sebagai kolega,bekerja saling ketergantungan dalam batasan-batasan lingkup praktek mereka dengan berbgai nilai-nilai dan saling mengakui dan menghargai terhadap setiap oeang yang berkontribusi untuk merawat individu dan masyarakat. Perawat bertanggung jawab dalam pemberian obat obatan yang aman. Perawat juga harus mengetahui semua komponen dari perintah pemberian obat dan mempertanyakan perintah tersebut jika tidak lengkap atau tidak jelas atau dosis yang diberikan di luar batas yang direkomendasikan . Secara hukum perawat bertanggung jawab jika

mereka memberikan obat yang diresepkan dan dosisnya tidak benar atau obat tersebut merupakan kontraindikasi bagi status kesehatan klien. Perawat harus bertanggung jawab pada efek obat yang telah diberikan pada kliennya. Buku-buku referensi obat seperti , Daftar Obat Indonesia (
1

DOI ), Physicians Desk Reference (PDR), dan sumber daya manusia , seperti ahli farmasi , harus dimanfaatkan perawat jika merasa tidak jelas mengenai reaksi terapeutik yang diharapkan, kontraindikasi, dosis, efek samping yang mungkin terjadi, atau reaksi yang merugikan dari pengobatan ( Kee and Hayes, 1996 ).

1.2

Rumusan Masalah ? 1.2.1 1.2.2 Apa pengertian dari kolaboratif ? Apa saja peran kolaborasi perawat dalam penatalaksanaan farmakologi ? 1.2.3 1.2.4 1.2.5 Apa saja prinsip farmakologi ? Bagaimana Prinsip pemberian obat ? Apa saja hal yang harus perlu diperhatikan dalam kolaborasi pemberian obat ?

1.3

Tujuan Penulisan 1.3.1 1.3.2 1.3.3 Untuk mengetahui tentang pemberian obat dalam tubuh manusia. Untuk menegtahui prinsip farmakologi. Utuk mengetahui peran kolaboratif perawat dalam penatalaksanaan farmakologi. 1.3.4 Menambah wawasan dan pengetahuan tentang peran perawat dalam pemberian obat. 1.3.5 Menambah wawasan pembelajaran bagi mahasiswa (i) mengenai biotransformasi/metabolisme obat 1.3.6 Untuk mengetahui hal-hal yang perlu diperhatikan dalam permberian obat.

1.4

Manfaat Penulisan Adapun manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini selain memenuhi tugas dari Dosen Mata Kuliah, juga bertujuan untuk memberi masukan ilmu pengetahuan bagi semua khalayak pada umumnya dan khususnya bagi penulis pribadi sehingga kedepannya dapat lebih mengetahui peran kolaboratif perawat dalam penatalaksanaan farmakologi, prinsi farmakologi, dan prinsip pemberian obat.

BAB 2 TINJAUAN TEORI

2.1

Peran Kolaborasi Perawat dalam Penatalaksanaan Farmakologi Kolaborasi merupakan hubungan kerja sama anggota tim dalam memberikan asuhan keperawatan. Pemberian obat menjadi salah satu tugas kolaboratif perawat yang paling penting, karena : 2.1.1 Perawat merupakan mata rantai terakhir dalam proses pemberian obat kepada pasien. 2.1.2 Perawat bertanggung jawab bahwa obat sudah diberikan dan memastikan bahwa obat itu benar diminum oleh pasien. 2.1.3 Perawat yang paling tahu tentang kebutuhan dan respon pasien terhadap pengobatan. Misalnya : pasien yang sukar menelan, muntah atau tidak dapat minum obat tertentu. 2.1.4 Perawat hampir 24 jam waktunya disediakan untuk memenuhi kebutuhan pasien.

2.2

Prinsip Farmakologi lmu Farmakologi adalah ilmu yang mempelajari pengetahuan obat dalam segala seginya termasuk sumber, sifat kimia/fisika, kegiatan fisiologis, ADME, serta penggunaannya dalam pengobatan.

Prinsip farmakologi menyatakan bahwa molekul obat harus dapat mempengaruhi secara kimia satu atau lebih isi sel agar menghasilkan respon farmakologis. Farmakologi berasal dari kata pharmacon (obat) dan logos (ilmu pengetahuan). Farmakologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari obat dan cara kerjanya pada system biologis. Farmakognosi adalah ilmu yang mempelajari tentang bagianbagian tanaman atau hewan yang dapat digunakan sebagai obat. Farmasi adalah bidang profesional kesehatan yang merupakan kombinasi dari ilmu kesehatan dan ilmu kimia, yang mempunyai

tanggung-jawab memastikan efektivitas dan keamanan penggunaan obat. Profesional bidang farmasis disebut farmasis atau apoteke Farmakologi Klinik adalah ilmu farmakologi yang mempelajari pengaruh kondisi klinis pasien terhadap efikasi obat, misalkan kondisi hamil dan menyusui, neonates dan anak, geriatric, inefisiensi ginjal dan hepar. Farmakologi Terapi atau sering disebut farmakoterapi adalah ilmu yang mempelajari pemanfaatan obat untuk tujuan terapi. Toksikologi adalah pemahaman mengenai pengaruh-pengaruh bahan kimia yang merugikan bagi organisme hidup.

2.3

Implikasi Keperawatan dalam Farmakologi Implikasi keperawatan dalam farmakologi mencakup hal-hal yang berkaitan dengan proses keperawatan antara lain pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Beberapa hal yang perlu dikaji dalam pengelolaan farmakologi : 2.3.1 Keadaan pasien/identifikasi pasien a. Usia : Bayi, Anak-anak , Dewasa Dan Lansia b. Reaksi : Bagaimana Reaksi pasein setelah minum obat. c. Pola kebiasaan : Kebiasaan pasien pada waktu minum obat, misalnya dengan memakai air minum, pisang dan lain-lain. d. Persepsi pasien tentang obat : khasiat obat, sugesti terhadap obat. 2.3.2 Keadaan obat / identifikasi obat a. Dosis obat sesuai umur pasien b. Bentuk obat apakah padat, cair suspensi c. Pengunaan obat : oral, sub-lingual, ditelan atau dikunyah. 2.3.3 2.3.4 Efek samping obat (side effect) Etiket a. Obat luar atau obat dalam (obat dalam diberi etiket putih, obat luar diberi ektiket biru). b. Tanggal/bulan/tahun kadaluarsa obat.

c. Jenis obat (sedative, antihistamine, antibiotic, deuresis dll. 2.3.5 Keadaan pasien Hal yang perlu dikaji adalah apakah pasien sedang menjalani terapi khusus Penderita TBC Aktif: a. b. c. 2.3.6 Penderita Kusta Aktif Penderita Epilepsi Penderita Malnutrisi

Ada tidaknya riwayat alergi obat Bila mana ada pasien yang tidak tahan akan jenis obat tertentu maka harus ditulis dengan jelas pada status pasien dengan tinta merah, agar dokter dapat memilih obat lain yang lebih aman.

2.4

Prinsip-Prinsip Pemberian Obat Perawat harus terampil dan tepat saat memberikan obat, tidak sekedar memberikan pil untuk diminum (oral) atau injeksi obat melalui pembuluh darah (parenteral), namun juga mengobservasi respon klien terhadap pemberian obat tersebut. Pengetahuan tentang manfaat dan efek samping obat sangat penting dimiliki oleh perawat. Perawat memiliki peran yang utama dalam meningkatkan dan mempertahan kesehatan klien dengan mendorong klien untuk lebih proaktif jika membutuhkan pengobatan. Perawat berusaha membantu klien dalam membangun pengertian yang benar dan jelas tentang pengobatan, mengkonsultasikan setiap obat yang dipesankan dan turut serta bertanggungjawab dalam pengambilan keputusan tentang pengobatan bersama dengan tenaga kesehatan lain. Perawat dalam memberikan obat juga harus memperhatikan resep obat yang diberikan harus tepat, hitungan yang tepat pada dosis yang diberikan sesuai resep dan selalu menggunakan prinsip 12 benar, yaitu: 2.4.1 Benar Klien Klien yang benar dapat dipastikan dengan memeriksa identitas klien, dan meminta klien menyebutkan namanya sendiri. Beberapa klien akan menjawab dengan nama sembarang atau tidak

berespon, maka gelang identifikasi harus diperiksa pada setiap klien pada setiap kali pengobatan. Pada keadan gelang identifikasi hilang, perawat harus memastikan identitas klien dan meminta klien menyebutkan namanya sendiri. Beberapa klien akan menjawab dengan nama sembarang atau tidak berespon, maka gelang identifikasi harus diperiksa pada setiap klien pada setiap kali pengobatan. Pada keadan gelang identifikasi hilang, perawat harus memastikan identitas klien sebelum setiap obat diberikan. Dalam keadaan dimana klien tidak memakai gelang identifikasi (sekolah, kesehatan kerja, atau klinik berobat jalan), perawat juga bertanggung jawab untuk secara tepat

mengidentifikasi setiap orang pada saat memberikan pengobatan. 2.4.2 Benar Obat Klien dapat menerima obat yang telah diresepkan oleh seorang dokter, dokter gigi, atau pemberi asuhan kesehatan yang memiliki izin praktik dengan wewenang dari pemerintah. Perintah melalui telepon untuk pengobatan harus ditandatangani oleh dokter yang Perintah pengobatan mungkin diresepkan menelepon dalam waktu 24 jam. Komponen dari perintah pengobatan adalah : a. Tanggal dan saat perintah ditulis. b. Nama obat. c. Dosis obat.. d. Rute pemberian. e. Frekuensi pemberian. f. Tanda tangan dokter atau pemberi asuhan keperawatan.

Meskipun merupakan tanggung jawab perawat untuk mengikuti perintah yang tepat, tetapi jika salah satu komponen tidak ada atau perintah pengobatan tidak lengkap, maka obat tidak boleh diberikan dan harus segera menghubungi dokter tersebut untuk mengklarifikasinya ( Kee and Hayes, 1996 ).

2.4.2.1

Perawat bertanggungjawab untuk mengikuti perintah yang tepat.

2.4.2.2

Perawat harus menghindari kesalahan yaitu dengan membaca label obat minimal 3x.

2.4.2.3 2.4.2.4 2.4.2.5 2.4.2.6 2.4.2.7

Pada saat melihat botol atau kemasan obat. Sebelum menuang atau mengisap obat. Setelah menuang atau mengisap obat. Memeriksa apakah perintah pengobatan lengkap dan sah. Mengetahui alasan mengapa klien menerima obat tersebut.

2.4.2.8

Memberikan obat-obatan tanda: nama obat, tanggal kadaluarsa.

2.4.3

Benar Dosis Obat 2.4.3.1 2.4.3.2 Dosis yang diberikan klien sesuai dengan kondisi klien. Dosis yang diberikan dalam batas yang

direkomendasikan untuk obat yang bersangkutan. 2.4.3.3 Perawat harus teliti dalam menghitung secara akurat jumlah dosis yang akan diberikan, dengan

mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: tersedianya obat dan dosis obat yang diresepkan atau diminta, pertimbangan berat badan klien (mg/KgBB/hari), jika ragu-ragu dosis obat harus dihitung kembali dan diperiksa oleh perawat lain. 2.4.3.4 Melihat batas yang direkomendasikan bagi dosis obat tertentu. 2.4.4 Benar Waktu Pemberian 2.4.4.1 Pemberian obat harus sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. 2.4.4.2 Waktu yang benar adalah saat dimana obat yang diresepkan harus diberikan. Dosis obat harian diberikan pada waktu tertentu dalam sehari, seperti b.i.d ( dua kali sehari ), t.i.d ( tiga kali sehari ), q.i.d ( empat kali sehari),

atau q6h ( setiap 6 jam ), sehingga kadar obat dalam plasma dapat dipertahankan. Obat-obat dengan waktu paruh pendek diberikan beberapa kali sehari pada selang waktu yang tertentu. 2.4.4.3 Pemberian obat harus sesuai dengan waktu paruh obat (t1/2). Obat yang mempunyai waktu paruh panjang diberikan sekali sehari, dan unutk obat yang memiliki waktu paruh pendek diberikan beberapa kali sehari pada selang waktu tertentu. 2.4.4.4 Pemberian obat juga memperhatikan diberikan sebelum atau sesudah makan atau bersama makanan. 2.4.4.5 Memberikan obat seperti kalium dan aspirin yang dapat mengiritasi mukosa lambung bersama-sama dengan makanan. 2.4.4.6 Menjadi tanggung jawab perawat untuk memeriksa apakah klien telah dijadwalkan untuk memeriksa diagnostik, seperti tes darah puasa yang merupakan kontraindikasi pemeriksaan obat. 2.4.5 Benar Cara Pemberian 2.4.5.1 Memperhatikan proses absorbsi obat dalam tubuh harus tepat dan memadai. 2.4.5.2 Memperhatikan kemampuan klien dalam menelan sebelum memberikan obat-obat peroral. 2.4.5.3 Menggunakan teknik aseptic sewaktu memberikan obat melalui rute parenteral. 2.4.5.4 Memberikan obat pada tempat yang sesuai dan tetap bersama dengan klien sampai obat oral telah ditelan. 2.4.6 Benar Dokumentasi Pemberian obat sesuai dengan standar prosedur yang berlaku di rumah sakit. Dan selalu mencatat informasi yang sesuai mengenai obat yang telah diberikan serta respon klien terhadap pengobatan.

2.4.7

Benar Pendidikan Kesehatan Perihal Medikasi Klien. Perawat mempunyai tanggung jawab dalam melakukan pendidikan kesehatan pada pasien, keluarga, dan masyarakat luas terutama yang berkaitan dengan obat seperti manfaat obat secara umum, penggunaan obat yang baik dan benar, alasan terapi obat dan kesehatan yang menyeluruh, hasil yang diharapkan setelah pemberian obat, efek samping dan reaksi yang merugikan dari obat, interaksi obat dengan obat dan obat dengan makanan, perubahan-perubahan yang diperlukan dalam menjalankan

aktivitas sehari-hari selama sakit dan sebagainya. 2.4.8 Benar Hak Klien untuk Menolak Klien berhak untuk menolak dalam pemberian obat. Perawat harus memberikan inform consent dalam pemberian obat. 2.4.8.1 Hak Klien Mengetahui Alasan Pemberian Obat Hak ini adalah prinsip dari memberikan persetujuan setelah mendapatkan informasi ( Informed concent ) , yang berdasarkan pengetahuan individu yang diperlukan untuk membuat suatu keputusan. 2.4.8.2 Hak Klien untuk Menolak Pengobatan Klien dapat menolak untuk pemberian suatu

pengobatan. Adalah tanggung jawab perawat untuk menentukan, jika memungkinkan, alasan penolakan dan mengambil langkahlangkah yang perlu untuk

mengusahakan agar klien mau menerima pengobatan. Jika suatu pengobatan dtolak, penolakan ini harus segera didokumentasikan. Perawat yang bertanggung jawab, perawat primer, atau dokter harus diberitahu jika pembatalan pemberian obat ini dapat membahayakan klien, seperti dalam pemberian insulin. Tindak lanjut juga

diperlukan jika terjadi perubahan pada hasil pemeriksaan laboratorium , misalnya pada pemberian insulin atau

10

warfarin ( Taylor, Lillis and LeMone, 1993; Kee and Hayes, 1996 ). 2.4.9 Benar Pengkajian Perawat selalu memeriksa ttv sebelum pemberian obat. 2.4.10 Benar Evaluasi Perawat selalu melihat atau memantau efek kerja dari obat setelah pemberiannya. 2.4.11 Benar Reaksi terhadap Makanan Obat memliki efektivitas jika diberikan pada waktu yang tepat. Jika obat itu harus diminum sebelum makan (ante cimum atau a.c) untuk memperoleh kadar yang diperlukan harus diberi satu jam sebelum makan misalnya tetrasiklin dan sebaiknya ada obat yang harus diminum setelah makan misalnya indometasin. 2.4.12 Benar Reaksi dengan Obat Lain Pada penggunaan obat seperti chloramphenicol diberikan dengan omeprazol penggunaan pada penyakit kronis. Hal Hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Pelaksanaan Kolaborasi Pemberian Obat. 2.5.1 Perawat yang membagi obat harus bekerja dengan penuh konsentrasi dan tenang. 2.5.2 Setelah mengecek perintah pengobatan, bacalah tabel tiga kali ketika mempersiapkan obat: 2.5.2.1 Saat mengambil obat 2.5.2.2 Saat membuka/menuang atau mencampur 2.5.2.3 Saat mengembalikan. 2.5.3 Obat yang sudah lama, lebih-lebih yang sudah hilang etiketnya atau tidak jelas jangan dipakai. 2.5.4 2.5.5 Cara pemberian obat harus memperhatikan prinsip 12 benar Perhatikan pasien waktu minum obat, jangan meninggalkan obat diatas meja.

2.5

11

2.5.6

Jangan sekali-kali memberikan obat-obatan yang telah disiapkan orang lain, kecuali jelas ditugaskan kepada kita.

2.5.7 2.5.8

Perhatikan reaksi pasien setelah minum obat. Mencatat atau membubuhkan paraf pada waktu atau pada status pasien setelah memberikan obat.

2.5.9

Obat-obatan

harus

disimpan

sesuai

dengan

syarat-syarat

penyimpanan masing-masing obat, misalnya : Lemari es, tempat yang sejuk, gelap dan lain-lain. 2.5.10 Obat-obat yang dibeli sendiri oleh pasien harus disimpan dalam lemari obat pada tempat khusus, dengan etiket nama yang jelas. 2.5.11 Menuangkan obat-obatan cair, jangan pada sisi yang ada etiketnya dan sejajar dengan mata. 2.5.12 Setiap kali selesai mengambil obat, tempat obat ditutup kembali. 2.5.13 Bila terjadi kesalahan dalam memberikan obat harus segera dilaporkan kepada yang bertanggung jawab. 2.5.14 Usahakan agar tangan selalu bersih, ketika akan memberikan obatobatan.

2.6

Peran dan Tanggung jawab perawat sehubungan dengan pemberian obat: 2.6.1 Perawat harus mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang memadai mengenai obat. 2.6.2 2.6.3 2.6.4 2.6.5 2.6.6 Mendukung keefektivitasan obat. Mengobservasi efek samping dan alergi obat. Menyimpan, menyiapkan dan administrasi obat Melakukan pendidikan kesehatan tentang obat. Perawatan, pemeliharaan dan pemberian banyak obat-obatan merupakan tanggung jawab besar bagi perawat. Kesalahan dapat terjadi pada instruksi, pembagian, penamaan dan pengintrepretasian instruksi sesuai dengan penatalaksanaan obat. Obat harus tidak diberikan perawat tanpa membawa resep tertulis kecuali pada saat kegawatan. Tanggung jawab ini hanya bisa dilimpahkan dengan persetujuan dari petugas yang memiliki wewenang. Berdasarkan hal-hal

12

tersebut di atas, jelaslah bahwa pemberian obat pada klien merupakan fungsi dasar keperawatan yang membutuhkan ketrampilan teknik dan pertimbangan terhadap perkembangan klien. Perawat yang memberikan obat-obatan pada klien diharapkan mempunyai pengetahuan dasar mengenai obat dan prinsip-prinsip dalam pemberian obat.

13

BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan Untuk mencapai pelayanan yang efektif maka perawat, dokter dan tim kesehatan harus berkolaborasi satu dengan yang lainnya. Perawat bertanggung jawab dalam pemberian obat obatan yang aman. Perawat juga harus mengetahui semua komponen dari perintah pemberian obat dan mempertanyakan perintah tersebut jika tidak lengkap atau tidak jelas atau dosis yang diberikan di luar batas yang direkomendasikan . Secara hukum perawat bertanggung jawab jika mereka memberikan obat yang diresepkan dan dosisnya tidak benar atau obat tersebut merupakan kontraindikasi bagi status kesehatan klien. Perawat harus bertanggungjawab pada efek obat yang telah diberikan pada kliennya. Pemberian obat menjadi salah satu tugas kolaboratif perawat yang paling penting, karena: Perawat merupakan mata rantai terakhir dalam proses pemberian obat kepada pasien, perawat bertanggung jawab bahwa obat sudah diberikan dan memastikan bahwa obat itu benar diminum oleh pasien, perawat yang paling tahu tentang kebutuhan dan respon pasien terhadap pengobatan, misalnya : pasien yang sukar menelan, muntah atau tidak dapat minum obat tertentu dan perawat hampir 24 jam waktunya disediakan untuk memenuhi kebutuhan pasien. 3.2 Saran Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat untuk pembaca dan dapat mengetahui tentang peran kolaborati perawat dalam penatalaksanaan farmakologi, prinsip farmakologi dan prinsip pemberian obat. Kami juga berharap kritik dan saran yang bersifat membangun, sehingga dalam penyusunan makalah berikutnya bisa lebih baik lagi.

14

DAFTAR PUSTAKA
http://www.docstoc.com/docs/6579452/KOLABORASI-DALAMKEPERAWATAN---DOC http://evebutik.blogspot.com/2011/07/prinsip-prinsip-dalam-farmakologi.html http://meetabied.blogspot.com/2010/03/hal-hal-yang-perlu-diketahui-dalam.html (diakses 17 April 2012) http://www.fkep.unpad.ac.id/2008/11/peran-perawat-dalam-pemberian-obat/ (diakses 17 April 2012) http://materifarmakologi.blogspot.com/2012/03/pengorganisasianfarmakologi.html (diakses 17 April 2012)

15

Daftar Pustaka
http://www.docstoc.com/docs/6579452/KOLABORASI-DALAMKEPERAWATAN---DOC http://evebutik.blogspot.com/2011/07/prinsip-prinsip-dalam-farmakologi.html http://meetabied.blogspot.com/2010/03/hal-hal-yang-perlu-diketahui-dalam.html (diakses 17 April 2012) http://www.fkep.unpad.ac.id/2008/11/peran-perawat-dalam-pemberian-obat/ (diakses 17 April 2012) http://materifarmakologi.blogspot.com/2012/03/pengorganisasianfarmakologi.html (diakses 17 April 2012)

16