Anda di halaman 1dari 13

Laporan Praktikum Fisiologi

Spirometri
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama Anggota Kevina Suwandi Kelly Tio Naro Cecillia Yuniati Jovianto Melona Emerald Jaezah Zeni Ansona Ari Matea Jessica Syella Hutapea Wendy NIM 102012001 102012011 102012331 102012173 102012313 102012321 102012192 102012464 102012271 102012 Paraf

A3 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2013

Tujuan . Tujuan Praktikum : 1. Mengetahui cara pengukuran paru dengan spirometer 2. Mengetahui kapasitas standart paru-paru Alat dan Bahan 1. Spirometri 2. Tissue 3. Tinta spirometri 4. Mouth piece dispposible 5. Penjepit hidung

Cara Kerja: 1. Isi bejana biru dengan air sampai tanda garis pengisian. Gunakan pegangan tangan di samping bejana untuk membawa bejana 2. Tukan sungkup putih perlahan-lahan ke bawah untuk meyakinkan penempatannya di dasar bejana biru 3. Masukkan pipa mulut yang disposable ke ujung pipa plastic yang fleksibel.Selalu gunakan pipa mulut disposable yang baru setiap penggantian OP 4. Tempatkan garis penunjuk pada garis 0 yang terdekat dengan ujung lengan skala, dengan mengatur cakram petunjuk yang harus berada di sebelah kanan garis penunjuk. 5. Bila mengukur volume inspirasi letakkan cakram penunjuk di sebelah kiri garis penunjuk di garis 0 yang terdekat dengan pangkal lengan skala.

Teori Proses respirasi atau pernafasan, secara harfiah berarti pergerakan oksigen (O2) dari atmosfer menuju ke sel, dan keluarnya karbon dioksida (CO2) dari sel ke udara bebas. Respirasi terdiri dari tiga proses, yaitu:

1. Pulmonary ventilation adalah proses pernafasan dimana gas mengalir/bergerak antara atmosfer (udara luar) dan paru. Pergerakan udara ini di sebabkan oleh perubahan tekanan udara dalam paru. Perbedaan tekanan yang disebabkan oleh perubahan kapasitas paru akan memaksa udara masuk ketika inhalasi dan keluar ketika ekshalasi. Dua Proses penting dalam pulmonary ventilation : a. Inhalasi - Proses pergerakan udara masuk ke paru. Agar udara masuk ke dalam paru, tekanan di alveoli harus lebih rendah daripada tekanan di atmosfer. Maka dari itu rongga thorax (dada) mengembang untuk meningkatkan kapasitas paru dan merendahkan tekanan udara di rongga dada. Apabila kapasiti rongga thorax meningkat, kapasitas paru juga meningkat dan tekanan alveolarpun menurun. Perubahan tekanan ini menyebabkan udara bergerak dari luar ke dalam paru. b. Ekshalasi Proses pergerakan udara keluar paru. Disebabkan oleh perubahan tekanan, tekanan di dalam paru lebih tinggi daripada tekanan di atmosfer. Ekshalasi adalah hasil daripada elastic recoil yang berlaku pada dinding thorax dan paru, yaitu hal yang secara alami terjadi setelah rongga dada mengembang. Apabila otot external intercostals relax, tulang rusuk akan menurun. Oleh karena itu tekanan dalam paru akan meningkat. Maka udara akan bergerak keluar dari tekanan tinggi ke daerah tekanan rendah. 2. Respirasi Eksternal Proses resapan oksigen (O2) dalam udara di alveoli ke dalam darah di kapiler alveoli serta proses resapan karbon dioksida (CO2) dalam arah sebaliknya. Darah yang dating dari ventrikulus dextra (berasal dari sistemik tubuh) kaya akan kandungan CO2 berdifusi dan bertukar tempat dengan O2. PO2 dalam alveolar = 105 mmHg sedangkan PO2 dalam kapiler pulmonary = 40 mmHg, karena itu oksigen akan terus meresap ke dalam kapiler pulmonary sehingga PO2 dalam kapiler pulmonary meningkat. 3. Respirasi Internal Merupakan pertukaran CO2 dan O2 antara kapiler sistemik dengan sel jaringan. PO2 dalam kapiler darah = 105 mmHg sedangkan PO2 dalam sel jaringan = 40 mmHg. Perbedaan tekanan ini akan menyebabkan oksigen akan meresap keluar dari kapiler darah ke dalam sel sehingga PO2 dalam kapiler darah menurun ke 40 mmHg. Saat O2 meresap ke dalam sel. CO2 akan meresap ke arah yang bertentangan.
3

Frekuensi pernafasan rata-rata pada orang dewasa normal berkisar antara 16-24 kali per menit yang mengangkut kurang lebih 5 liter udara masuk dan keluar paru. Beberapa factor seperti peningkatan PCO2 atau konsentrasi H+ dapat mempengaruhi pusat pernafasan di pons dan di medulla untuk meningkatkan frekuensi ataupun menurunkan frekuensi pernafasan. Jika konsentrasi CO2 dalam melebihi kadar normal maka tubuh akan bereaksi dengan hiperventilasi untuk mengeluarkan CO2 tersebut dan mengambil O2 dari udara luar, begitupun sebaliknya. Volume paru yang lebih rendah daripada kisaran normal seringkali menunjukan malfungsi system paru. Untuk mengetahui volume dan kapasitas paru digunakan alat ukur berupa spirometer atau respirometer. Hasil perekamannya disebut spirogram. Pada kurva hasil spirogram digambarkan defleksi ke bawah saat ekspirasi. Udara yang keluar dan masuk saluran pernafasan saat inspirasi dan ekspirasi sebanyak 500 cc di sebut volume tidal (VT). Volume tidal setiap orang bervariasi tergantung pada saat pengukuran. Rata rata pada orang dewasa 75% (350 ml) dari volume tidal secara nyata dapat masuk ke bronkiolus, duktus alveolus, kantong alveoli dan alveoli yang aktif dalam proses pertukaran gas. Sedang sisanya 25% (150 ml) menetap di ruang rugi. Volume total udara yang diperlukan dalam satu menit disebut minute volume of respiration (MVR) atau minute ventilation. MRV didapat dari perkalian antara volume tidal dan frekuensi pernafasan total permenit. Rata rata MRV dari 500 ml volume tidak sebanyak 12 kali pernafasan permenit adalah 6000 ml/menit. Dengan mengambil nafas lebih dalam maka akan mendapatkan volume pernafasan melebihi volume tidal 500 ml. Penambahan volume ini disebut volume cadangan inspirasi sebesar 3100 ml dari volume tidal sebelumnya. Sehingga volume tidal total sebesar 3600 ml. Udara ekspirasi juga dapat lebih banyak dikeluarkan (1200 ml) dari volume tidal yang ada, udara tersebut merupakan volume cadangan ekspirasi. Meskipun paru kosong setelah ekspirasi maksimal, sesungguhnya paru tersebut masih memiliki udara sisa yang disebut dengan volume residu yang mepertahankan paru dari keadaan kolaps yang besarnya sekitar 1200 cc. FEV1 adalah volume ekspirasi paksa dalam satu detik dengan pengertian volume yang masih dapat di keluarkan oleh paru setelah ekspirasi maksimal dalam satu detik. Pada penderita emphysema didapatkan nilai FEV1 menurun. Salah satu metode untuk melakukan pengukuran volume dan kapasitas dinamis paru adalah dengan spirometri. Tujuannya adalah untuk mengukur efektivitas dan
4

kecepatan paru dalam mengisi dan mengosongkan udara. Spirometri adalah suatu teknik pemeriksaan untuk mengetahui fungsi/faal paru, di mana pasien diminta untuk meniup sekuat-kuatnya melalui suatu alat yang dihubungkan dengan mesin spirometer yang secara otomatis akan menghitung kekuatan, kecepatan dan volume udara yang dikeluarkan, sehingga dengan demikian dapat diketahui kondisi faal paru pasien. Pemeriksaan spirometri digunakan untuk mengetahui adanya gangguan di paru dan saluran pernapasan. Alat ini sekaligus digunakan untuk mengukur fungsi paru. Pasien yang dianjutkan untuk melakuakan pemeriksaan ini antara lain: pasien yang mengeluh sesak napas, pemeriksaan berkala bagi pekerja pabrik, penderita PPOK, penyandang asma, dan perokok.

Nilai Normal 1. Kapasitas vital paru

Gambar 1. Gambaran kapasitas paru normal

2. Kapasitas vital paksa paru

Gambar 2. Gambaran kapasitas vital paksa paru normal

Hasil Percobaan
1. Volume Tidal TV : 480 ml 2. Volume cadangan ekspirasi ERV : 1100 ml 3. Volume cadangan inspirasi IRV : 1420 ml 4. Volume Residu RV : 1000 ml 5. Kapasitas inspirasi IC : TV + IRV IC : 480 + 1420 IC : 1900 ml 6. Kapasitas Residu Fungsional FRC : ERV + RV FRC : 1100 + 1000 FRC : 2100 ml 7. Kapasitas Vital VC : 1420 + 480 + 1100 VC : 3000 ml 8. Kapasitas Paru Total TLC : VC + RV TLC : 3000 + 1000

TLC : 4000 ml

VC standart Wanita = { 21,78 ( 0,101 x umur )} x TB = { 21,78 ( 0,101 X 18 )} X 162 = 19,962 X 162 = 3233.844 ml

Hasil Percobaan Menggunakan Spirometer dan Pembahasan 1. Pemeriksaan kapasitas vital paru Dari pemeriksaan spirometri didapatkan data sebagai berikut. NAME Y/M/D IDCODE AGE SEX H(CM) W(KG) PRED ENV1 : Kevina Suwandi : 07/05/13 :12 :18 FEMALE :162 :85 :BALDWIN :28.0 C , 70 % . 760mmhg

xxxxxxxxxxxxVCxxxxxxxxxxx Pred. VC TV IRV ERV IC 3,23 Act 2,86 0.43 1.49 0.94 1.92 % 88

2. Pemeriksaan kapasitas vital paksa paru

PRED FVC FEV1.0 FEV1.0% PEFR MMF V75 V50 V25 V25/Ht ATI FVC+FEV1 FVCbest FEV1best Long Age 3.23 L 3.16 L 3.23 L 3.16 L 91.99% 7.47 L/s 3.16 L/s --4.73 L/s 2.19 L/s 1.03 L/s

ACT 3.00 1.35 45.00 1.34 1.09 0.91 1.28 0.86 1.53 -4.86 4.35 3.00 1.35 100

% 93 43 49 18 34 --27 39 51

93 43

Pembahasan Hasil Grafik Pemeriksaan Kapasitas Vital Paru menunjukkan: Pred. VC TV IRV ERV IC 3,23 Act 2,86 0.43 1.49 0.94 1.92 % 88

Data spirogram menunjukkan adanya penurunan kapasitas vital paru yaitu 2,86 L. Sehingga presentase nya hanya sebesar 88%. Pada hasil spirogram yang normal menunjukkan banyaknya kapasitas vital paru yaitu 80% dari total kapasitas paru. Penurunan kapasitas vital paru dapat disebabkan karena adanya penurunan volume tidal, volume cadangan inspirasi maupun volume cadangan ekspirasi. Karena kapasitas vital paru diperoleh dari hasil penambahan ketiga variable tersebut. Penurunan kapasitas vital paru pada probandus disebabkan oleh penurunan: Volume tidal = 0.43 L Volume cadangan inspirasi = 1,49 L Volume cadangan ekspirasi = 0.94L Sehingga didapatkan : VC=VT+IRV+ERV VC= 0.43+ 1,49+0.94 VC=2,86 L

Hasil Grafik Pemeriksaan Kapasitas Vital Paksa Paru menunjukkan: PRED FVC FEV1.0 FEV1.0% FEV1.0%t PEF FEF25-75 MEF75 MEF50 MEF25 4,70 4,07 ---83,6 9,48 5,06 8,01 5,32 2,47 ACT 3.00 2,31 72,4 64,7 5,15 1,66 4,97 1,72 0,72 54 33 62 32 29 % 68 57

Rasio FEV1/FVC yaitu: FEV1 FVC = 2.31 = 1,29 3.00 Rasio FEV1/FVC meningkat tajam yaitu 1,29. Pada kondisi normal rasio FEV1/FVC yaitu 0,8. Data spirogram tersebut menunjukkan adanya kelainan restriktif

10

dimana adanya penurunan FEV1 dan FVC, tetapi volume udara yang terhirup dan terhembus lebih kecil dibandingkan normal.

Kesimpulan 1. Respirasi pada manusia meliputi 3 tahap penting yaitu ventilasi , respirasi eksternal dan respirasi internal. 2. Spirometri adalah suatu teknik pemeriksaan untuk mengetahui fungsi paru-paru , dimana pasien diminta sekuat-kuatnya melalui suatu alat yang dihubungkan dengan mesin spirometer yang akan menghitung kekuatan, kecepatan dan volume udara yang dikeluarkan ,sedangkan alatnya bernama spirometer, dan hasil perekamannya bernama spirogram. 3. Dengan menggunakan spirometer ini, maka kami dapat mengukur volume tidal, volume cadangan inspirasi, volume cadangan ekspirasi, kapasitas vital, kapasitas total paru, dan volume residu, dan kapasitas vital paksa. 4. Ventilasi patoogis terdiri dari ventilasi obstruktif, ventilasi restriktif, dan ventilasi campuran yaitu gabungan dari ventilasi obstruktif dan ventilasi restriktif. 5. Perhitungan dengan spirometer kepada probandus, didapatkan hasil FEV 1/ FVC 1,29. Hal tersebut menandakan diagnosa kerusakan paru restriktif.

11

DAFTAR PUSTAKA

1. American Thoracic Society. Medical section of the American Lung Association. Standards for the diagnosis and care of patients with chronic obstructive pulmonary disease (COPD) and asthma. Am Rev Respir Dis 1987; 136: 22543. 2. Dahlan Z. Pneumonia. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Edisi IV. Jakarta: FKUI;2006 3. Danusantoso H. Buku Saku Ilmu Penyakit Paru. Jakarta: Hipokrates;2000 4. Dorland, W. A Newman. Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 29. Jakarta: EGC;2006 5. Halim, Hadi. Penyakit-penyakit Pleura. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Edisi IV. Jakarta: FKUI;2006 6. Maddapa T. 2009. Atelectasis. Available at:

http://emedicine.medscape.com/article/296468-overview (9 April 2010). 7. Rubins, Jeffrey. 2009. Pleural Effusion. Available at:

http://emedicine.medscape.com/article/299959-overview (9 April 2010). 8. Silbernagl, Stefan and Lang, Florian. Teks & Atlas Berwarna Patofisiologi. Jakarta: EGC;2006 9. Yunus, Faisal.Penatalaksanaan Bronkhitis Khronik. Bagian Pulmonologi Kedokteran Universitas Indonesia Unit Paru RSUP Persahabatan: Jakarta;2009

12

13