Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar belakang Varisela merupakan salah satu penyakit infeksi yang menular dan merupakan akibat dari infeksi primer Virus Varicella Zooster. Varisela ini tidak mengenal musim. Perbedaan pada kemungkinan timbulnya maupun tingkat penyebaran infeksi varisela yang ditemukan di negara beriklim sedang dan tropis dipengaruhin oleh sifat virus yang rentan panas pada temperatur tinggi. Kelembaban udara yang tinggi cenderung mempercepat transmisi virus. Melihat tingginya angka penularan akibat virus varisela semakin meningkat serta komplikasi yang ditimbulkan akibat varisela yaitu ensefalitis, pneumonia, karditis, glomerulonefritis, hepatitis, keratitis, konjungtivitis, otitis, arteritis, dan kelainan darah (beberapa macam pupura), infeksi pada ibu hamil trimester 1 dapat menimbulkan kongenital. Maka pentingnya peran perawat seperti upaya promotif dengan memberi informasi tentang varisella, upaya preventif seperti tidak kontak langsung dengan penderita varisella, memberikan vaksin pada usia anak-anak. Upaya kuratif dengan minum obat secara teratur sesuai dosis, makanmakanan yang bergizi tinggi. Upaya rehabilitatif dengan mengisolasikan klien varisella. Berdasarkan uraian tersebut diatas, prevalensi penyakit varisella semakin tahun semakin meningkat. Klien yang sudah sembuh atau dalam bentuk laten akan terjadi serangan kembali, yang akan muncul herpes zooster. Melihat tingginya angka yang tertular penyakit varisella. Sehingga pentingnya peran perawat secara promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dalam mengatasi peningkatan varisella, sehingga penulis tertarik untuk menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan varisella secara komprehensif dengan pendekatan proses keperawatan.

1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan umum Penulis mendapatkan pengalaman secara nyata dalam penerapan asuhan keperawatan pada klien dengan Varisela.

1.2.2 Tujuan khusus Setelah menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan Varisela maka penulis diharapkan mampu : a. Melakukan pengkajian pada klien dengan Varisela b. Menenukan masalah keperawatan pada klien dengan Varisela c. Merencanakan asuhan keperawatan pada klien dengan Varisela d. Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan Varisela e. Melakukan evaluasi keperawatan pada klien dengan Varisela f. Mengidentifikasi dengan kesenjangan yang dapat teori dan kasus pada klien dengan Varisela

1.3 Ruang Lingkup Masalah Makalah ini hanya membahas tentang asuhan keperawatan dengan klien yang mengalami penyakit varisela pada sistem integumen.

1.4 Rumusan Masalah 1). Apa yang dimaksud dengan varisela? 2). Jelaskan asuhan keperawatan pada klien dengan varisela!

1.5 Manfaat Semoga makalah yang kami susun ini dapat memberikan wawasan dan ilmu pengetahuan bagi mahasiswa khususnya dalam bidang keperawatan dalam pemberian asuhan keperawatan klien dengan penyakit varisela pada sistem integumen.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi Varisela merupakan suatu infeksi yang disebabkan oleh virus varisela zoester yang meyerang kulit dan mukosa dengan kelainan berbentuk vesikula yang tersebar. Infeksi ini terutama menyerang anak-anak dan bersifat mudah menular. (Arif Mutaqin, 2011) Cacar air, dalam bahasa inggris disebut sebagai chickenpox, atau dalam bahasa kedokteran disebut sebagai Varicella. Penyakit yang sangat menular ini disebabkan oleh virus bernama Varicella Zooster Virus (VZV). Varicella atau cacar air merupakan infeksi akut menular. Cacar air adalah salah suatu penyakit yang umum ditemui pada anak-anak. 90% kasus cacar air terjadi pada anak dibawah 10 tahun. Dan lebih dari 90% orang telah mengalami cacar air pada saat mereka berusia 15 tahun. Insiden penyakit ini paling tinggi terlihat pada usia 5-9 tahun. Cacar air terjadi akibat infeksi primer (pertama kali Varicella Zooster Virus (VZV) namun setelah sembuh, VZV tidak benar-benar hilang dari tubuh. Virus ini akan menetap dibagian saraf tertentu dan nantinya dapat terakifasi kembali dalam bentuk Herpes Zooster (cacar ular/shingles). Herpes Zooster ini umumnya terjadi pada usia diatas 60 tahun dan pada sebagian besar kasus hanya terjadi sekali. (Ai Yeyeh Rukiah, 2010) 2.2 Etiologi Penyebab penyakit ini adalah oleh infeksi dari virus Varicella Zoster (VZV), Virus ini ditularkan melalui percikan ludah penderita atau melalui benda-benda yang terkontaminasi oleh cairan dari lepuhan kulit. Penderita bisa menularkan penyakitnya mulai dari timbulnya gejala sampai lepuhan yang terakhir telah mengering. Untuk mencegah penularan, sebaiknya penderita diisolasi (diasingkan). Jika seseorang pernah menderita cacar air, maka dia akan memiliki kekebalan dan tidak akan menderita cacar air lagi. Tetapi virusnya bisa tetap tertidur di dalam tubuh manusia, lalu kadang menjadi aktif kembali dan menyebabkan herpes zoster.

2.3 Manifestasi Klinis Masa intubasi 14-21 hari, penyakit yang umumnya ringan ini ditandai dengan demam ringan dan ruam yang gatal diseluruh tubuh. Sebelum ruam tersebut muncul, biasanya dapat mengalami gejala awal (prodroma) seperti demam ringan, sakit kepala, sore throat, rasa lemas, atau pembesaran kelenjar getah beninng di leher bagian belakang. Gejala awal ini dapat berlangsung 1-6 hari sebelum ruam cacar muncul. Ruam cacar air pertama muncul di badan untuk kemudian menyebar ke wajah, lengan, dan tungkai. Ruam awalnya tampak sebagai bintik-bitik merah, lalu menjadi benjolan-benjolan kecil berisi cairan jernih (vesikel), untuk kemudian pecah dan mengering. Ruam ini muncul secara bertahap selama 3-4 hari sehingga pada puncak masa sakit daapat di temui ruam dalam semua tahapannya (bintik-bintik, benjolan berisi cairan, dan ruam yang mengering). Selain di kulit, ruam juga dapat muncul di selaput mukosa seperti bagian dalam mulut atau vagina. Umumnya ruam membutuhkan sekitar 7-14 hari untuk sembuh, sementara proses berlangsung muncul lagi vesikel baru sehingga menimbulkan gambaran yang polimorf. Penyebaran varicella : 1). Biasa dimulai dari badan (dada), menyebar ke wajah dan ekstermitas 2). Bentuk makula, papula, vesikula dan krusta dapat terjadi pada waktu yang sama, bila terjadi infeksi sekunder, cairan vesikula yang jernih akan berubah menjadi nanah lympodenopaty

2.4 Patofisiologi Setelah terjadi kontak dengan orang lain yang menderita varisela, maka akan terjadi respon imun dengan peningktan suhu tubuh. Setelah stadium prodromal timbul banyak makulah/papulah cepat berubah menjadi vesikula. Selama beberapa hari akan timbul vesikula baru sehingga umur dari lesi tidak sama. Kulit sekitar lesi berwarna eritematus. Adanya respon inflamasi lokal memberikan adanya keluhan nyeri, kerusakan integritas jaringan, dan gatal-gatal. Respon psikologis pada kondisi ini adalah kecemasan dan gangguan konsep diri.

`Invasi virus Varisela zoester

Kelainan kulit dan mukosa

Vesikula yang tersebar

Respon inflamasi lokal dan sistemik

Kerusakan integritas jaringan

Respon psikologis

Kerusakan saraf perifer

Suhu tubuh meningkat

Gatal-gatal

Kondisi kerusakan jaringan kulit

Nyeri

Hipertermi

Gangguan istirahat dan tidur

Kecemasan gangguan gambaran diri

2.5 Komplikasi 1). Kerusakan otak : a. Ensefalitis (radang otak) b. Mikrosefal (perkembangan otak terhambat sehingga otaknya menjadi kecil) c. Hidrosefalus (gangguan sirkulasi cairan otak, sehingga otaknya menjadi besar) d. Aplasia otak 2). Kerusakan mata : a. Mikro-oftalmik (ukurannya kecil) b. Katarak c. Korioretinitis d. Gangguan saraf mata 3). Gangguan saraf : a. Kerusakan saraf spinal (tulang belakan) b. Gangguan saraf motorik (penggerak) dan sensorik perasa c. Hilangnya reflek d. Sindroma horner 4). Kerusakan tubuh : a. Kegagalan pembentukan tungkai tubuh (jari, tangan, kaki) b. Gangguan anus dan otot kandung kencing 5). Gangguan kulit : a. Timbul jaringan parut (seperti luka dalam) b. Gangguan warna kulit

2.6 Pencegahan a. Varicella (cacar air) dapat di cegah dengan beberapa cara vaksinasi : Vaksinasi memberikan perlindungan penuh dari cacar air pada 8-9 dari 10 orang. Pada orang yang tetap mengalami cacar air setelah vaksinasi, cacar airyang di alami sangat ringan, dengan jumlah ruam dibawah 50, demam ringan atau tanpa demam, dan hanya berlangsung beberapa hari.

b. Vaksinasi di berikan pada kelompok-kelompok berikut : Anak dengan usia antara 12-18 bulan yang belum pernah mengalami cacar air harus mendapatkan satu dosis vaksinasi; anak dengan usia antara 19 bulan hingga 13 tahun yang belum pernah mengalami cacar air harus mengalami 1 dosis vaksinasi; orang dewasa yang belum pernah mengalami cacar air dan bekerja atau tinggal di lingkungan dimana penularan cacar air sangat mungkin terjadi, misalnya disekolah, penitipan anak, rumah sakit, asrama, penjara, atau barak militer.

c. Wanita usia reprodutif yang belum pernah mengalami cacar air dan tidak dalam keadaan hamil; orang dewasa dan remaja yang belum pernah yang mengalami cacar air dan tinggal dengan anak-anak; orang yang hendak bepergian ke luar negri dan belum pernah mengalami cacar air.

2.7 Penanganan a. Tirah baring secukupnya b. Paracetamol untuk menurunkan demam c. Calamine dan mandi dengan air suam-suam kuku untuk meringankan rasa gatal d. Sarungtangan untuk mencegah anak menggaruk ruam (bagi anak-anak yang sangat kecil) e. Makanan yang lembut dan menyejukan jika ada ruam didalam mulut f. Anti-virus jika cacar air dengan komplikasi yang berat

2.8 Medical management 1). Bila terdapat infeksi sekunder dapat diberikan antibiotik oral : dikloksasilin : 12,5-50 mg/kg/hr ; eritromisin stearat : 4x250 500 mg/hr. 2). Asiklovir, sebaiknya sedini mungkin (dalam 1-3 hari pertama). a. Dewasa : 5x800 mg/hr ( selama 7-10 hari) b. Anak : 20 mg/KgBB/kali 800 mg 4 kali/hr (5 hari) c. Salep antibiotik : yang erosi diberikan salep sodium fusidat.

2.9 Pengkajian Pada anamnesis ditemukan adanya kontak dengan penderita varisela atau herpes zoester. Pada anak-anak gejala prodromal adalah ringan, terdiri atas malaise, nyeri kepala, dan demam timbul setelah erupsi keluar. Pada orang dewasa gejala prodromal lebih berat dan lebih lama. Tingginya demam sesuai dengan luasnya lesi bahkan terkadang mencapai 40-410C selama 4-5 hari. Pada beberapa penderita juga sering disertai rasa gatal. Pada pemeriksaan fisik lokalis, lesi menyebar diseluruh tubuh dimulai dari suatu vesikula dan akan berkembang lebih banyak diseluruh tubuh. Sering terdapat vesikula pada mukosa mulut dan kadang-kadang juga pada mukosa lain seperti konjungtiva. Setelah 5 hari kebanyakan lesi mengalami krustasi dan lepas dalam waktu 1-3 minggu. Penyakit dianggap dapat menular sejak 4 hari sebelum erupsi timbul sampai 5 hari sesudah erupsi timbul. Ciri khas infeksi virus pada vesikula adalah terdapat bentuk umbilikalis (delle) yaitu vesikula dimana bagian tengahnya cekung kedalam.

2.10

Diagnosa keperawatan 1. Nyeri berhubungan dengan respon inflamasi lokal sekunder dari kerusakan saraf perifer kulit. 2. Hipertermi berhubungan dengan respon inflamasi sistemik 3. Gangguan gambaran diri (citra diri) berhubungan dengan perubahan struktur kulit. 4. Gangguan pemenuhan istirahat tidur berhubungan dengan respon nyeri, prognosis penyakit, dan ketidaktahuan. 5. Kebutuhan pemenuhan informasi berhubungan dengan tidak adekuat sumber informasi, resiko penurunan, ketidaktahuan program perawatan dan pengobatan.

2.11 NO

Intervensi Keperawatan DIAGNOSA KEPERAWAT AN TUJUAN INTERVENSI RASIONAL

Nyeri b.d respon

Dalam waktu 1x24 jam nyeri

Kaji nyeri dengan PQRST

Menjadi parameter dasar untuk mengetahui sejauh mana intervensi yang di perlukan dan sebagai evaluasi keberhasilan dari intervensi management keperawatan.

implamasi lokal berkurang atau sarf perifer kulit hilang atau teradaptasi Kriteria evaluasi Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat beradaptasi skala nyeri 01 (0-4) Dapat mengidentifik asi aktifitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri Pasien tidak gelisah -

Jelaskan dan bantu pasien dengan tindakan pereda nyeri non farmakologi dan non infasif Lakukan management nnyri keperawatan atur posisi fisiologis , istirahatkan klien. -

Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan non farmakologi lainnya telah menunjukan keefektifan dalam mengurangi nyeri. Posisi fisiologis akan meningkatkan asupan O2 kejaringan yang mengalami iskemia. Istirahat akan menurunkan kebutuhan O2 jaringan perifer dan akan meningkatkan suplai darah pada jaringan yang mengalami peradangan

Hipertensi b.d respon inflamasi sistemik

Dalam waktu 1x24 jam perawatan suhu tubuh menburun. Kriteria evaluasi Suhu
0

Monitor

suhu Peningkatan suhu tubuh yang berkelanjutan pada pasien varisela akan

tubuh pasien

memberikan pada kondisi

komplikasi penyakit

tubuh

yang lebih parah.

normal 36-37 c Beri kompres dingin di kepala, dan axila Pertahankan tirah baring total selama fase akut Pertahankan asupan cairan minimal 2500 ml sehari Kolaborasi pemberian analgetikantipiretik Memberikan respon dingin pada pusat pengatur panas dan pada pembuluh darah besar Mengurangi peningkatan proses metabolisme umum Selain sebagai pemenuhan hidrasi tubuh, juga akan meningkatkan pengeluaran panas tubuh melalui sistem perkemihan, maka panas tubuh juga dapat keluar melalui urin

Hipertermi b.d respon inflamasi sistemik

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam pasien menunjukkan : Suhu tubuh dalam batas normal dengan kreiteria hasil: Suhu 36-37C Nadi dan RR dalam rentang normal Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing, merasa nyaman

10

Gangguan gambaran diri (citra diri) b.d perubahan struktur kulit

Dalam waktu 1x24 jam citra diri pasien meningkat. Kriteria evaluasi: Mampu menyatakan atau mengomunika sikan dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang sedang terjadi. Mampu menyatakan penerimaan diri terhadap situasi

Kaji perubahan dari gangguan persepsi dan hubungan dengan derajat ketidakmamp uan.

Menentukan bantuan individual dalam menyusun rencana perawatan atau pemilihan intervensi

Beberapa pasien dapat menerima secara efektif kondisi perubahan fungsi yang dialaminya, sedangkan yang lain mempunyai kesulitan dalam menerima perubahan fungsi yang dialaminya sehingga memberikan dampak pada kondisi koping maladaptif

Identifikasi arti dari kehilangan atau disfungsi pada pasien

Anjurkan orang yang terdekat untuk mengijinkan pasien melakukan hal-hal sebanyakbanyak nya untuk dirinya -

Menghidupkan kembali perasaan kemandirian dan membantu perkembangan harga diri, serta mempengaruhi proses rehabilitasi. Pasien dapat beradaptasi terhadap perubahan dan pengertian tentang peran individu masa mendatang.

Dukung perilaku atau usaha seperti peningkatan minat atau partisipasi -

Dapat mengidentifikasikan

11

dalam aktivitas rehabilitasi Monitor gangguan tidur peningkatan kesulitan konsentrasi, letargi dan withdrawl 5 Kebutuhan pemenuhan informasi b.d tidak adekuatnya sumber informasi, resiko penularan, ketidaktahuan program perawatan dan pengobatan Dalam waktu 1x24 jam pasien mampu melaksanakan apa yang telah diinformasikan. Kriteria evaluasi: Pasien terlihat mengalami penurunan potensi menularkan penyakit yang ditunjukan oleh kegagalan kontak pasien Identifikasi orang lain yang beresiko. Contohnya anggota rumah, sahabat. Kaji tindakan. kontrol infeksi sementara, contoh kebersihan diri dari kontak langsung kulit Identifikasi faktor resiko individu terhadap -

terjadinya depresi yang umumnya terjadi dimana keadaan ini memerlukan intervensi dan evaluasi lebih lanjut

Orang yang terpajan ini perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran infeksi Dapat membantu menurunkan rasa terisolasi pasien dengan membuang stigma sosial sehubungan dengan penyakit menular Pengetahuan tentang faktor ini membantu pasien untuk mengubah pola hidup dan menghindari insiden eksaserbasi yang bisa menyebabkan kondisi herves zoester Periode singkat

12

pengaktivan berulang virus Tekankan pentingnya tidak menghentika n terapi obat Anjurkan intervensi untuk mencegah infeksi sekunder -

berakhir dua sampai tiga hari sedangkan resiko penyebaran infeksi daoat berlanjut sampai satu bulan Intervensi mencegah infeksi sekunder dilakukan untuk menurunkan invasi bakteri terhadap adanya pintu masuk kuman melalui lesi kulit varisela, melalui tindakan berikut. Membersihkan kulit sesering mungkin Dengan air bersih dan sabun Menjaga kebersihan tangan Memotong kuku pendek Menggunakan pakaian tetap kering dan bersih

13

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Varisela berasal dari bahasa latin, Varicella. Di Indonesia penyakit ini dikenal dengan istilah cacar air. Varisela adalah Penyakit Infeksi Menular yang disebabkan oleh virus Varicella Zoster, ditandai oleh erupsi yang khas pada kulit. Penularan dapat melalui kontak langsung dengan lesi, terutama melalui udara. Pencegahan terhadap infeksi varisela zoster virus dilakukan dengan cara imunisasi pasif atau aktif.

3.2 Saran Semoga makalah yang kami susun ini dapat membantu mahasiswa/ mahasiswi dalam melakukan asuhan keperawatan pada klien yang mengalami penyakit varisella dalam sistem integumen. Kami sadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, untuk itu kami menerima kritik dan saran yang membangun.

14

DAFTAR PUSTAKA Ai Yeyeh Rukiah S.Si.T dan Lia Yulianti, A. (2010). ASUHAN KEBIDANAN IV (PATOLOGI KEBIDANAN). Jakarta Timur: CV. Trans Info Media. Muttaqin, arif dan kumala sari. (2011). ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN SISTEM INTEGRUMEN. jakarta : Salemba Medika

15