Anda di halaman 1dari 4

Karakteristik gel Karakteristik gel harus digunakan dengan tujuan penggunaan sediaan.

Zat pembentuk gel yang ideal untuk sediaan farmasi : inert, aman, tidak bereaksi dengan komponen farmasi lain. Inkompatibilitas yang potensial dapat terjadi dengan mencampur obat yang bersifat kation, pengawet, surfaktan dengan senyawa pembentuk gel anionic. Pemilihan bahan pembentuk gel dalam setiap formulasi bertujuan membentuk sifat seperti : padatan yang cukup baik, selama penyimpanan mudah dipecah bila diberikan daya pada system. Sifat gel Beberapa macam sifat gel sebagai berikut : 1. Efek suhu mempengaruhi struktur gel. 2. Efek elektrolit, konsentrasi elektrolit yang tinggi akan mempengaruhi struktur gel hidrofilik, dimana ion berkompetisi secara efektif dengan koloid terhadap pelarut. 3. Mengembang, gel dapat mengembang karena komponen pembentuk gel dapat mengabsorpsi larutan yang dapat mengakibatkan terjadinya penambahan volume pelarut akan berpenetrasi diantara matriks gel dan terjadi interaksi antara pelarut dan gel. 4. Sineresis, yaitu suatu proses yang terjadi akibat adanya kontraksi didalam massa gel, cairan yang terjerat akan keluar dan berada diatas permukaan gel. Bentuk struktur gel resisten terhadap perubahan dan deformasi dan mempunyai aliran viskoelektrik. Struktur gel bermacam-macam tergantung dari pembentuk komponen gel. 5. Elastisitas, sifat elastis ini dapat berbentuk apabila konsentrasi zat pembentuk gel cukup tinggi. Penggolongan gel Berdasarkan sifat alami dari senyawa kimia, gel dapat dibedakan menjadi dua yaitu : 1. Gel valensi primer Gaya ikatan yang bekerja adalah gaya valensi primer, oleh karena itu keseluruhan gel yang berbentuk tampak sebagai molekul tunggal yang besar. Contoh gel valensi primer adalah karet dan elastomer lainnya. 2. Gel valensi sekunder Gaya ikatan yang bekerja adalah gaya valensi sekunder, khususnya gaya Vander Walls. Contoh gel valensi sekunder adalah gel hidrofil, gel basis hidrokarbon.

Kegunaan sediaan gel Kegunaan sediaan gel dalam bidang farmasi adalah sebagai berikut : 1. Gel merupakan suatu system yang dapat diterima untuk pemberian oral, dalam bentuk sediaan yang tepat, atau sebagai kulit kapsul yang dibuat dari gelatin dan untuk bentuk sediaan obat long action yang diinjeksikan secara intra muskular. 2. Gelling agent, biasanya digunakan sebagai bahan pengikat pada granulasi tablet, bahan pelindung koloid pada suspense, bahan pengental pada sediaan oral dan basis suppositoria. 3. Untuk kosmetik, gel telah digunakan dalam berbagai produk kosmetik, termasuk pada shampoo, parfum, pasta gigi, dan kulit serta sediaan perawatan rambut. 4. Gel dapat digunakan untuk obat yang diberikan secara topical atau dimasukkan ke dalam lubang tubuh atau mata (gel steril).

Basis Gel Basis gel terdiri dari bahan pembentuk gel, humektan, pengawet, dan air. Bahan pembentuk gel yang digunakan dapat berupa gom alam, tragakan, pektin, alginat karagen atau derivat sintetis bahan alam seperti derivat selulosa dan karbomer (Lachman, 1994). Komponen basis yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: a. Hidroksi propil metil selulose (HPMC) Merupakan turunan dari metil selulosa. Mampu menjaga penguapan air sehingga secara luas banyak digunakan dalam aplikasi produk kosmetik kosmetik dan aplikasi lainnya (Rowe, dkk., 2005). Pemerian : serbuk putih atau hampir putih, tidak berbau dan tidak berasa. Kelarutan : sangat sukar larut dalam eter, etanol atau aseton; mudah larut dalam air panas. Fungsi b. Propilen Glikol : gelling agent dengan konsentrasi sebesar 2-10%

Mengandung tidak kurang dari 99,5% C3H8O2. Propilen glikol banyak digunakan sebagai pelarut dan pembawa dalam pembuatan sediaan farmasi dan kosmetik, khususnya untuk zat-zat yang yang tidak stabil atau tidak dapat larut dalam air. Pemerian : cairan kental, jernih, tidak berwarna, rasa khas, praktis tidak berbau, menyerap air pada udara lembab. Kelarutan : mudah larut dalam aseton, kloroform, etanol (95%), gliserin dan air. Fungsi c. Metil Paraben Mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari 100,5% C8H8O3, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemerian : hablur kecil, tidak berwarna atau serbuk hablur, putih, tidak berbau atau berbau khas lemah, mempunyai sedikit rasa terbakar. Kelarutan : sukar larut dalam air (1:400 bagian), dalam benzena dan dalam karbon tetraklorida, mudah larut dalam etanol (1:2 bagian), dan dalam eter (1:10 bagian). Mudah larut dalam propilen glikol (1:5 bagian). Fungsi : antimikroba pada sediaan topikal sebesar 0,02-0,3%. : pelembab pada konsentrasi sebesar 15%.

Pada kosmetik, metil paraben adalah pengawet antimikroba yang paling sering digunakan. Jenis paraben lainnya efektif pada kisaran pH yang luas dan memiliki aktivitas antimikroba yang kuat. Metil paraben meningkatkan aktivitas antimikroba dengan panjangnya rantai alkil, namun dapat menurunkan kelarutan terhadap air, sehingga paraben sering dicampur dengan bahan tambahan yang berfungsi meningkatkan kelarutan. Kemampuan pengawet metil paraben ditingkatkan dengan penambahan propilen glikol (Rowe., dkk, 2005). d. Propil Paraben

Mengandung tidak kurang dari 99,0 % dan tidak lebih dari 100,5% C10H12O3, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemerian Kelarutan : serbuk putih atau hablur kecil, tidak berwarna. : sangat sukar larut dalam air (1:2500 bagian), mudah larut dalam etanol (1:1,1 bagian), dan dalam eter (sangat larut), sukar larut dalam air mendidih. Larut dalam propilen glikol (1:3,9 bagian). Fungsi : antimikroba pada sediaan topikal sebesar 0,01-0,6 %.

Propil paraben efektif sebagai pengawet pada rentang pH 4-8, peningkatan pH dapat menyebabkan penurunan aktivitas antimikrobanya. e. Air Jenis air yang digunakan dalam penelitian ini adalah aquadest. Aquadest atau aqua destilata yaitu air murni yang diperoleh dengan penyulingan. Pemerian : berupa cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak mempunyai rasa. Fungsi : pelarut dan pembawa pada berbagai tipe formulasi sediaan farmasi. f. Etanol Pemerian : berupa cairan jernih, tidak berwarna, aktif dan cairan yang mudah menguap, berbau khas dan mempunyai rasa membakar. Kelarutan Fungsi : sangat mudah larut dalam kloroform, eter, gliserin dan air. : antimikroba, desinfektan, penetrasi kulit dan pelarut. Konsentrasi pelarut untuk sediaan topikal yaitu 60-90 %.