BAB I PENDAHULUAN

1.1 Maksud     Menginterpretasikan kenampakan bentang alam fluvial pada peta topografi. Mengetahui proses-proses pembentukan bentang alam fluvial. Mengetahui macam-macam bentang alam fluvial. Mengetahui pembagian stadia sungai.

1.2 Tujuan     Mampu menginterpretasikan kenampakan bentang alam fluvial pada peta topografi. Mampu mengetahui proses-proses pembentukan bentang alam fluvial. Mampu mengetahui macam-macam bentang alam fluvial. Mampu mengetahui pembagian stadia sungai.

1.3 Waktu dan Tempat Pelaksanaan    Hari / Tanggal Pukul Tempat : Jumat, 5 April 2013 : 13.30 – 15.00 WIB : Ruang GS 301 Gedung Pertamina Sukowati Teknik Geologi Universitas Diponegoro

1

BAB II DASAR TEORI
2.1. Macam – Macam Proses Fluvial 2.1.1 Proses Erosi Proses erosi adalah suatu proses atau peristiwa hilangnya lapisan permukaan tanah atau terangkutnya tanah atau bagian – bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh pergerakan air atau angin. Menurut Holy, 1980, agen penyebab erosi dibagi empat macam yaitu erosi oleh air, erosi oleh angin, erosi oleh gletser, dan erosi oleh salju. Dalam bentang alam fluvial, agen penyebab erosi yang paling dominan adalah air. Berdasarkan arahnya, erosi dapat dibedakan menjadi:  Erosi ke arah hulu Erosi yang terjadi pada ujung bagian hulu sungai.

Gambar 1. Erosi ke arah hulu di Lavaka, Madagaskar.

2

 Erosi vertikal Erosi yang arahnya tegak dan cenderung teradi pada daerah bagian hulu sungai dan menyebabkan terjadinya pendalaman lembah sungai.

Gambar 2. Erosi Vertikal.

 Erosi lateral Erosi yang arahnya mendatar dan dominan terjadi pada daerah tengah sungai yang menyebabkan bertmabah lebar dan penjang sungai.

Gambar 3. Erosi lateral.

Intensitas erosi suatu sungai berbanding lurus dengan kecepatan aliran sungai. Erosi akan lebih efektif apabila media yang bersangkutan mengangkut bermacam-macam material.

3

 Semakin banyak bercampur dengan material lain. yaitu material akan terangkut dengan cara menggelinding di dasar sungai.Sifat-sifat erosi:  Intensitasnya sebanding dengan aliran sungai.  Suspensi. yaitu material terangkut dengan cara menggelinding pada dasar sungai. 2. yaitu:  Traksi. Gambar 4.  Solution. Proses Transportasi 4 . yaitu pengangkutan material larut dalam air dan membentuk larutan kima.  Rolling. yaitu material yang diangkut akan terseret pada dasar sungai.  Selalu menuju ke ultimate base level.2 Proses Transportasi Sungai mengangkut material hasil erosinya dengan berbagai cara.1. maka erosi semakain efektif.  Saltasi. yaitu proses pengangkutan material secara mengambang dan bercampur dengan air sehingga menyebabkan air sungai keruh.

2. Apabila tenaga angkut semakin berkurang. energi semakin kecil.2. material yang diendapkan Slip of Slope Gambar 5. kemudian material yang halus dan ringan. maka kecepatan maksimal ada pada daerah cut off slope (terjadi erosi) karena gaya sentrifugal. Pengedapan pada bagian slip of slope.2. Ukuran material berbanding lurus dengan besarnya energi pengangkut. Pengendapan terjadi bila kecepatan menurun bahkan hilang. Semakin ke arah hilir. 5 .1.1 Kecepatan aliran sungai Kecepatan aliran sungai maksimal pada tengah alur sungai. maka material yang berukuran besar dan lebih berat akan terendapkan terlebih dahulu. Bagian sungai yang paling efektif untuk proses pengendapan adalah bagian hilir atau pada bagian slip of slope pada kelokan sungai. Apabila sungai membelok. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Proses Erosi dan Sedimentasi 2.3 Proses Sedimentasi Proses sedimentasi adalah proses pengendapan material karena aliran sungai tidak mampu lagi mengangkut material yang dibawanya.2.

kecepatan akan meningkat. Apabila kemudian ada lereng yang terjal lagi. Suatu sungai atau lebih beserta anak sungai dan cabangnya akan membentuk suatu pola atau system tertentu yang dikenal sebagai pola pengaliran. dangkal. 2. sehingga terjadi erosi yang menyebabkan pendalaman lembah.2. (drainage pattern). 2. dan permukaan dasarnya tidak kasar. dan sejenisnya.3. maka air akan mengalir lebih lambat. sehingga menyebabkan pengendapan pada dasar sungai. Pola Pengaliran (Drainage Pattern) Bentuk-bentuk tubuh air disebut pengaliran (drainage) meliputi danau. sempit. dalam.3 Bentuk alur sungai Aliran air akan menggerus bagian tepid an dasar sungai.4 Discharge Merupakan volume air yang keluar dari suatu sungai. laut.2.2. 2. 6 . Semakin besar gesekan yang terjadi. Proses erosi dan transportasi terjadi karena besarnya kecapatan aliran sugai dan discharge.2. Pola ini bervariasi bergantung pada struktur batuan dan variasi litologinya. rawa. dan permukaan dasarnya tidak kasar atau sempit. tetapi permukaan dasarnya kasar. Sungai yang lebar. sungai. Sungai yang dalam. aliran airnya deras. aliran airnya lambat.2 Gradien atau kemiringan lereng sungai Apabila air mengalir dari sungai yang kemiringan lerengnya curam ke dataran yang lebih rendah. maka kecepatan air berkurang dan tibatiba hilang.

Gambar 7.1 Pola Pengaliran Rectangular Pola pengaliran di mana anak-anak sungainya membentuk sudut tegak lurus dengan sungai utamanya.3. Pola pengaliran dendritik. 7 . 2. daerah lipatan. Pola pengaliran rectangular.3.2 Pola Pengaliran Dendritik Pola pengaliran berbentuk sepert pohon dan cabang-cabangnya yang berarah tidak beraturan. dan daerah metamorf yang kompleks. batuan beku massif. Pola ini biasanya terdapat pada daerah patahan bersistem teratur.2. Gambar 6. Pola ini berkembang pada daerah dengan batuan yang resistensinya seragam. lapisan sedimen mendatar.

sungai utamanya biasanya memanjang searah dengan jurus perlapisan batuan. Gambar 8.4 Pola Pengaliran Trellis Pola pengaliran yang berbentuk seperti daun dengan anak-anak sungai sejajar. Pola pengaliran trellis. Pola pengaliran parallel atau sejajar. 2.3. Berkembang pada daerah yang lerengnya mempunyai kemiringan yang nyata dan batuannya bertekstur halus. Gambar 9. 8 .2.3.3 Pola Pengaliran Sejajar / Parallel Pola pengaliran yang arah alirannya sejajar. Banyak dijumpai pada daerah patahan atau lipatan.

3.6 Pola Pengaliran Annular Pola pengaliran di mana sungai atau anak sungainya mempunyai penyebaran yang melingkar.2. Gambar 11. Pola pengaliran annular.3. dan pada bukitbukit berbentuk kerucut. Gambar 10. Pola pengaliran radial.5 Pola Pengaliran Radial Pola pengaliran yang arah-arah pengalirannya menyebar kesegala arah dari suatu pusat. 9 . sering dijumpai pada daerah kubah stadia dewasa. 2. pada kerucut gunungapi. Umumnya berkembang pada daerah dengan struktur kubah stadia muda.

3. Gambar 12. kadang hilang yang disebut sebagai sungai bawah tanah. Terdapat pada daerah patahan. adalah pola pengaliran yang tidak sempurna. Pola pengaliran contorted 10 .7 Pola Pengaliran Multi Basinal Disebut juga sink hole. Gambar 13.2.8 Pola Pengaliran Contorted Pola pengaliran yang arah alirannya berbalik dari arah semula. Berkembang pada daerah karst atau batu gamping. 2. Kadang tampak.3. Pola pengaliran multi basinal.

4. terdapat jeram dan air terjun.  Gradien sungai sedang. Sungai stadia muda 2.2.  Lembah sungai mempunyai profil berbentuk V.4. dan air terjun.4 Genesa Pembentukan Lembah Sungai 2. erosi berlangsung cepat. Gambar 14.  Sungai sangat aktif.1 Stadia Muda  Biasanya di daerah hulu. tidak terdapat jeram.  Aliran sungai deras (energi pengangkutnya besar). 11 .  Erosi vertikal lebih kuat daripada erosi lateral.  Gradien sungai curam.  Bentuk sungai relatif lurus.  Mulai terbentuk dataran banjir dan tanggul alam.2 Stadia Dewasa  Kecepatan aliran mulai berkurang.  Anak sungai sedikit dan kecil.

Gambar 16. dan tanggul alam.4.  Lebih banyak sedimentasi daripada erosi.  Berkembang di daera hilir.  Mulai terbentuk meander sungai.3 Stadia Tua  Kecepatan aliran semakin berkurang. Sungai stadia tua 12 .  Banyak terbentuk sungai meander.  Terjadi pelebaran lembah. Gambar 15. danau tapal kuda. Erosi lateral (ke samping) lebih kuat dari erosi vertikal.  Pada tingkat ini sungai mencapai kedalaman paling besar. Sungai stadia dewasa 2.

Alat  Gunting  Perlengkapan alat tulis  Pensil Warna  Kalkulator 3.1. 13 .2.2.2. 3.Bahan  Kertas kallir A3 tiga lembar  Kertas milimeter blok A3  Peta topografi daerah Ungaran skala 1:25. 3.2.000  Kertas HVS A4 2 lembar 3.3. Pembuatan deliniasi struktur rapat.1. Persiapan alat dan bahan di atas meja.1. 3. denudasional. Pemberian warna ungu tua pada struktur yang rapat dan pemberian warna ungu muda pada struktur yang renggang. Penghitungan persen kelerengan rata-rata dan beda tinggi.000. Pemerian garis tepi pada 3 lembar kertas kalkir A 3.1 Alat dan Bahan 3. 3. struktur renggang.1.2.2 Cara Kerja 3. Pembuatan 5 sayatan pada struktur rapat dan 5 sayatan pada struktur renggang yang masing–masing melewati 5 kontur pada hasil deliniasi yang telah diberi warna. 3. dan fluvial dengan memberi batas-batas di antara keduanya pada kertas lembar kalkir yang pertama. Pengkaitan ujung-ujung 3 lembar kertas kalkir A 3 di atas peta topografi daerah Randudongkal dan sekitarnya skala 1:25.6.2.4.BAB III METODOLOGI 3.2.2.2.7. 3.5.

3. Pemerian warna biru tua untuk pola pengaliran sungai utama.18.2.12. Pemerian warna biru muda untuk pola pengaliran anak sungai.11. 3. 3. Pergantian kertas kalkir yang baru.14.2. 3.19. 3. 14 . renggang.2.3.8.2. dan sungai pada kertas kalkir lembar pertama.17. 3. rapat. 3.2. Pembuatan profil sayatan melintang eksagrasi pada kertas millimeter blok A3.16. 3. Pengklasifikasian ke dalam klasifikasi relief Van Zuidam 1983. Pembuatan 5 sayatan pada hasil deliniasi fluvial dari batas sungai sampai kontur terdekat. Pengklasifikasian ke dalam klasifikasi relief Van Zuidam 1983. 3.2.2.20.2.9.2. Pemerian warna pada hasil profil sayatan melintang eksagrasi sesuai dengan hasil deliniasi. 3. Pembuataan dan pewarnaan deliniasi fluvial dengan warna hijau.2. Pemerian warna merah untuk jalan.15.2. Penghitungan persen kelerengan rata-rata.2. Pembuatan deliniasi denudasional dan pemerian warna coklat.13.10. Pembuatan sayatan dengan panjang 30 cm pada peta topografi yang melewati satuan kontur sangat rapat.2. 3. 3.

sayatan renggang. dan coklat untuk denudasional. rapat.500 dan skala horizontal 1:25.000 di atas kertas kalkir. struktur renggang. ungu muda untuk struktur yang renggang. Pembuatan lima garis sayatan pada struktur rapat dan lima garis sayatan pada struktur renggang yang masing-masing memotong lima kontur. dan sayatan fluvial ke dalam klasifikasi Van Zuidam. fluvial. Pemberian warna hasil deliniasi. Pembuatan deliniasi struktur rapat. Pencatatan hasil perhitungan morfometri pada kertas HVS A4.3. hijua untuk fluvial. dan denudasional yang terdapat pada peta topografi daerah Randudongkal dan sekitarnya dengan skala 1: 25. renggang. Warna ungu tua untuk struktur yang rapat. Pemindahan hasil sayatan ke kertas millimeter blok A3 dengan profil sayatan melintang dan dengan skala vertikal 1:12. Pembuatan pola pengaliran sungai pada kertas kalkir yang berbeda dan pemerian warna biru tua untuk sungai besar dan biru muda untuk anak sungai Pembuatan sayatan melintang sepanjang 30 cm pada peta topografi yang melewati kontur sangat rapat. dan lima garis sayatan pada fluvial dari batas sungai sampai kontur terdekat Penghitungan morfometri masing-masing sayatan.2 Diagram Alir Mulai Penyiapan alat dan bahan yang dibutuhkan. Pembuatan pola pengaliran jalan pada kertas kalkir yang berbeda dan pemberian warna merah pada hasil deliniasi. Pengklasifikasian relief pada sayatan rapat. dan sungai.000 Selesai 15 .

BAB IV PERHITUNGAN MORFOMETRI Klasifikasi relief berdasarkan table Van Zuidam 1983 % lereng IK = h/d x 100% = 1/2000 x skala = 1/2000 x 25.5 m d = Panjang Garis x skala peta (dalam satuan meter) = Tophill – Lowhill (dalam satuan meter) Rata-rata kelerengan = % lereng total/jumlah sayatan Beda Tinggi Tabel 1. Klasifikasi Relief Van Zuidam 1983 16 .000 = 12.

1.5 x 25000 = 12.5/125 x 100% = 50 % 17 .1.5 m 3.3.5/150 x 100 % = 41.2.5/125 x 100 % = 50 % 3.000 cm = 150 m % lereng = ∆ h/d x 100 % = 62.5 = 62. Sayatan 2 c 2 = p x skala = 0.6 x 25000 = 15.1 Satuan Struktural Kontur Rapat ∆h = n kontur x Indeks Kontur (IK) = 5 x 12.1.3. Sayatan 1 c 1 = p x skala = 0. Sayatan 3 c 3 = p x skala = 0.500 cm = 125 m % lereng = ∆ h/d x 100 % = 62.67 % 3.1.500 cm = 125 m % lereng = ∆ h/d x 100 % = 62.5 x 25000 = 12.

5 % 3.5.67 %) / 5 = 245.4. Beda Tinggi = Tophill – Lowhill = 770 .1.000 cm = 100 m % lereng = ∆ h/d x 100 % = 62.500 = 270 m (Berbukit Terjal) 18 .67 % + 50 % + 62.5/100 x 100% = 62. Rata-Rata Kelerengan = % lereng total/jumlah sayatan = (50 % + 41.000 cm = 150 m % lereng = ∆ h/d x 100 % = 62.5/150 x 100% = 41.7.4 x 25000 = 10.67 % 3.5 % + 41.17 % (Berbukit Terjal) 3. Sayatan 5 c 5 = p x skala = 0. Sayatan 4 c 4 = p x skala = 0.1.1.1.6.84 % / 5 = 49.6 x 25000 = 15.3.

67 % 3.5/500 x 100 % = 12.3.5 x 25000 = 37500 cm = 375 m % lereng = ∆ h/d x 100 % = 62.5 = 62.000 cm = 500 m % lereng = ∆ h/d x 100 % = 62. Klasifikasi Relief Jadi. 3.1. Sayatan 1 b 1 = p x skala = 1.2.1. klasifikasi relief dari satuan struktural kontur rapat yaitu berbukit berbukit terjal. Sayatan 2 b 2 = p x skala = 2 x 25000 = 50.2.8.2 Satuan Struktural Kontur Renggang ∆h = n kontur x Indeks Kontur (IK) = 5 x 12.5 % 19 .5/375 x 100 % = 16.5 m 3. dari hasil rata-rata % kelerengan dan beda tinggi.2.

5/500 x 100% = 13.5/250 x 100% = 25 % 3.5 x 25000 = 37.3.2.000 cm = 250 m % lereng = ∆ h/d x 100 % = 62.3. Sayatan 5 b 5 = p x skala = 2 x 25000 = 50.500 cm = 375 m % lereng = ∆ h/d x 100 % = 62.2.5.5/375 x 100% = 16.4.2.1 % 20 .67 % 3.000 cm = 500 m % lereng = ∆ h/d x 100 % = 62. Sayatan 4 b 4 = p x skala = 1. Sayatan 3 b 3 = p x skala = 1 x 25000 = 25.

3. klasifikasi relief dari satuan struktural kontur renggang yaitu berbukit bergelombang – berbukit terjal. dari hasil rata-rata % kelerengan dan beda tinggi.000 cm = 100 m % lereng = ∆ h/d x 100 % = 12.1 %) / 5 = 83.390 = 244 m (Berbukit Terjal) 3.4 x 25000 = 10.5 % 21 . Rata-Rata Kelerengan = % lereng total/jumlah sayatan = (16.1.3.3 Satuan Fluvial ∆h = n kontur x Indeks Kontur (IK) = 1 x 12.78 % (Berbukit Bergelombang) 3.5 m 3.6.5 % + 25 % + 16.67 % + 13.8.94 % / 5 = 16. Klasifikasi Relief Jadi. Sayatan 1 d 1 = p x skala = 0.2.5 = 12.2.2.5/100 x 100 % = 12.67 % + 12. Beda Tinggi = Tophill – Lowhill = 634 .7.3.

5 x 25000 = 12.3. Sayatan 2 d 2 = p x skala = 0.500 cm = 125 m % lereng = ∆ h/d x 100 % = 12.5/125 x 100% = 10 % 22 .2.500 cm = 125 m % lereng = ∆ h/d x 100 % = 12.3.500 cm = 225 m % lereng = ∆ h/d x 100 % = 12. Sayatan 4 d 4 = p x skala = 0.5/125 x 100% = 10 % 3.56 % 3.9 x 25000 = 22.3.5 x 25000 = 12.5/225 x 100 % = 5. Sayatan 3 d 3 = p x skala = 0.4.3.3.

7.3.06 % / 5 = 9. Sayatan 5 d 5 = p x skala = 0. klasifikasi relief dari satuan fluvial yaitu bergelombang miring.56 % + 10 % + 10 % + 10 %) / 5 = 48.612 % (Bergelombang Miring) 3.3.5.6.3. dari hasil rata-rata % kelerengan.5 % + 5. Klasifikasi Relief Jadi.5 x 25000 = 12.500 cm = 125 m % lereng = ∆ h/d x 100 % = 12.3. Rata-Rata Kelerengan = % lereng total/jumlah sayatan = (12. 23 .5/125 x 100% = 10 % 3.

5. didapatkan presentase kelerengan rata-rata sebesar 9. dibuat 5 sayatan yang masing-masing memotong 5 kontur. Setelah dihitung. Daerah ini dibatasi oleh dua kontur dan memiliki pola yang memotong kontur daerah di sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa jarak antara bagian sungai pada peta topografi dengan bagian hulu sudah jauh. Proses fluviatil akan menghasilkan suatu bantang alam yang khas sebagai tingkah laku air yang mengalir di permukaan. sehingga intensitas dan laju air yang mengalir secara terus menerus mempengaruhi bentuk-bentuk tubuh air yang ada. Presentasi ini menunjukkan bahwa klasifikasi lereng masuk ke dalam bergelombang miring. 24 . Proses pertama pendeliniasian adalah pewarnaan. Setelah daerah ini diwarnai. Bentang alam yang dibentuk dapat terjadi karena proses erosi maupun proses sedimentasi yang dilakukan oleh air permukaan. Air permukaan bersifat mengerosi daerah yang dilewatinya.1 Satuan Deliniasi Fluvial Proses pembentukan sungai dipengaruhi oleh proses fluviatil yaitu proses yang terjadi di alam baik fisika maupun kimia yang mengakibatkan adanya perubahan bentuk muka bumi yang disebabkan oleh aksi air permukaan. Setiap sayatan dihitung presentase kelerengannya dengan perhitungan morfometri untuk mendapatkan klasifikasi kelerengan yang sesuai dengan klasifikasi Van Zuidam (1983).BAB V PEMBAHASAN Bentang alam fluvial adalah bentang alam yang terbentuk karena proses fluviatil. Proses fluviatil adalah semua proses yang terjadi di alam baik fisika maupun kimia yang mengakibatkan adanya perubahan bentuk permukaan bumi yang disebabkan aksi air permukaan. Pada peta topografi. warna hijau muda digunakan untuk mendeliniasi daerah aliran sungai besar atau sungai utama.162 %.

Erosi lateral terjadi karena energi kinetik pada aliran sungai semakin berkurang pada daerah yang relatif datar atau landai. Pada aliran air yang menuju kelokan sungai akan terjadi perbedaan kecepatan antara slip of slope (lekukan yang menjorok ke dalam) dan cut off slope (lekukan yang menjorok keluar). sehingga energi kinetiknya minimum. Sungai stadia dewasa juga dicirikan oleh adanya meander. Kecepatan aliran yang semakin berkurang dan penambahan energi potensial mengakibatkan material – material besar yang dibawanya akan diendapkan terlebih dahulu. Pada saat bagian cut off slope memperoleh kecepatan aliran air yang maksimal. dapat diindikasikan bahwa sungai ini termasuk sungai stadia dewasa. Pada sungai stadia dewasa. mengakibatkan kecepatan aliran air juga semakin berkurang. Adanya channel bar dan bentuk sungainya yang lebar. transportasi. sehingga mengakibatkan energi kinetik maksimum. sehingga air hanya mampu mengerosi bagian kanan dan kiri atau tepi sungai. Erosi lateral yang terjadi dalam waktu yang cukup lama akan mengakibatkan bertambah lebarnya sungai. bagian slip of slope memperoleh kecepatan aliran air yang minimum. Energi kinetik yang minimum berbanding terbalik dengan energi potensialnya 25 . dan sedimentasi. Meander adalah bentuk sungai yang berkelok-kelok yang terjadi akibat adanya pengikisan dan pengendapan. erosi yang dominan dan berkembang yaitu erosi lateral yang menyebabkan sungai bertambah lebar dan panjang. sedangkan energi potensialnya bertambah. Energi kinetik yang semakin berkurang. Kecepatan aliran air maksimal ada pada bagian cut off slope karena gaya sentrifugal. sedangkan yang di tepi sungai disebut point bar. mengakibatkan air tidak mampu mengerosi bagian dasar sungai. menyebabkan proses erosi pada bagian cut off slope juga maksimum. Terdapatnya endapan-endapan yang kasar. Pada hasil pengamatan peta topografi. Energi kinetik yang maksimum. Apabila diendapkannya pada tengah sungai disebut channel bar. pada sungai utama terdapat gosong tengah (channel bar) sebagai hasil endapan yang ada di tengah sungai.Proses-proses fluvial yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan sungai yaitu erosi.

Batuan yang tingkat resistensinya rendah akan mudah lapuk. Pola ini berbentuk seperti pohon dan cabang-cabangnya yang berarah tidak beraturan. disebabkan oleh terakumulasinya air permukaan pada batuan yang dilaluinya. Hal ini mengindikasikan bahwa batuan penyusunnya. sehingga disebut point bar. Endapan ini terdapat pada bagian tepi. sehingga juga akan mudah tererosi. 5. Sungai merupakan salah satu bentuk tubuh air. Pada peta topografi. 26 . sedangkan potensi negatifnya yaitu rawan terjadinya banjir terutama pada wilayah dataran banjir. mengakibatkan adanya proses pengendapan karena dipengaruhi gaya gravitasi.2 Satuan Deliniasi Denudasional Daerah denudasional adalah daeah yang terbentuk akibat dari proses erosi. mengindikasikan bahwa daerah tersebut tersusun atas litologi batuannya yang seragam. maka daerah ini memiliki ketinggian atau elevasi yang hampir sama. mempunyai litologi yang seragam yaitu batuan yang mudah lapuk. sehingga daerahnya sangat landai atau hampir datar.yang maksimum. penambangan pasir. dan pergerakan massa batuan sebagai bagian dari tenaga eksogen yang menyebabkan terjadinya pengikisan muka bumi sehingga akan menjadi level yang lebih rendah dan proses tersebut akan berhenti apabila telah mencapai level dasar yang sama dengan daerah di sekitarnya. pelapukan. Potensi positif sungai ini yaitu untuk penelitian. Sungai utama dan anak sungai dapat membentuk suau pola atau dikenal sebagai pola pengaliran. Karena konturnya jarang atau hampir tidak ditemukan. Pelapukan yang terjadi. dan bendungan. Pola pengaliran yang berkembang pada hasil pengamatan peta topografi dikategorikan ke dalam pola pengaliran dendritik. Sungai besar stadia dewasa seperti ini biasa digunakan masyarakat untuk MCK dan pengairan. warna coklat digunakan untuk mendeliniasi daerah denudasional. Energi potensial yang maksimum. Pola pengaliran seperti ini. Daerah ini ditandai dengan kontur yang sangat jarang atau hampir tidak ditemukannya kontur.

Dari hasil persen kelerengan dan beda tinggi. Pada peta topografi. Akan tetapi. daerah berstruktur rapat mengindikasikan bahwa daerah tersebut terjal. Proses geomorfik yang berkembang pada daerah ini. sedangkan potensi negatifnya yaitu rawan banjir dan tanah yang ambles. Potensi positif pada daerah ini yaitu sebagai pusat atau tempat penyedia fasilitas-fasilitas dan perlengkapan kebutuhan manusia karena akses jalan yang mudah. banyak ditemukan bangunan-bangunan. Hal ini mengakibatkan terdeformasinya suatu lapisan batuan. Dari bukit tertinggi dan buki terendah dapat dihitung beda tingginya dan didapat hasil sebesar 270 meter. diperlukan survei lapangan untuk memastikan kemungkinan 27 . lebih didominasi oleh tenaga endogen.3 Satuan Deliniasi Struktural Kontur Rapat Struktur rapat adalah kontur-kontur yang memilki jarak yang sangat rapat atau rapat antara kontur yang satu dengan yang lainnya dan memiliki puncak ketinggian. 5. Setiap sayatan dihitung presentase kelerengannya dengan perhitungan morfometri untuk mendapatkan klasifikasi kelerengan yang sesuai dengan klasifikasi Van Zuidam (1983). dan infrastruktur lainnya.Pada daerah yang seperti ini. Bukit tertinggi yang ada mempunyai ketinggian 770 meter di atas permukaan laut dan bukit terendanya mempunyai ketinggian 500 meter di atas permukaan laut. Pada umumnya. mengindikasikan bahwa daerah tersebut dimungkinkan terdapat struktur. Tenaga endogen ini berasal dari aktivitas tumbukan dua lempeng.17 %. warna ungu tua digunakan untuk mendeliniasi daerah yang memiliki kontur rapat. Hasil beda tinggi ini menurut klasifikasi Van Zuidam 1983 masuk ke dalam berbukit terjal. dapat disimpulkan bahwa klasifikasi reliefnya yaitu berbukit terjal. rumah-rumah penduduk. Setelah dihitung. Setelah daerah ini diwarnai. dibuat 5 sayatan yang masing-masing memotong 5 kontur. Presentasi ini menunjukkan bahwa klasifikasi lereng masuk ke dalam berbukit terjal. Kontur rapat yang berada di sekitar kontur yang renggang. didapatkan presentase kelerengan rata-rata sebesar 49.

atau tumbuhan lain yang dapat hidup pada ketinggian ini. transportasi. Perbedaan hasil 28 . dan daerah penambangan batu. didapatkan presentase kelerengan rata-rata sebesar 16. warna ungu muda digunakan untuk mendeliniasi daerah yang memiliki kontur renggang. teh. Pada kondisi kelerengan yang seperti ini sangat jarang ditemukan jalan. dapat disimpulkan bahwa klasifikasi reliefnya yaitu berbukit miring . Presentasi ini menunjukkan bahwa klasifikasi lereng masuk ke dalam berbukit bergelombang. Potensi positif yang mungkin ada yaitu untuk daerah wisata alam. Bukit tertinggi yang ada mempunyai ketinggian 634 meter di atas permukaan laut dan bukit terendanya mempunyai ketinggian 390 meter di atas permukaan laut. 5.78 %. kopi. dan sedimentasi sebagai bagian dari tenaga eksogen dalam presentase yang kecil.berbukit terjal.4 Satuan Deliniasi Struktural Kontur Renggang Struktur renggang adalah kontur-kontur yang memilki jarak yang renggang atau tidak rapat antara yang kontur yang satu dengan yang lainnya. dibuat 5 sayatan yang masing-masing memotong 5 kontur. Setelah dihitung. penelitian. Kontur-konturnya yang renggang mengindikasikan bahwa daerah tersebut merupakan suatu dataran yang landai. Dari hasil persen kelerengan dan beda tinggi. tetapi tidak menututp kemungkinan adanya proses pelapukan. erosi. Hasil beda tinggi ini menurut klasifikasi relief Van Zuidam 1983 masuk ke dalam berbukit terjal. Dari bukit tertinggi dan buki terendah dapat dihitung beda tingginya dan didapat hasil sebesar 244 meter. Setiap sayatan dihitung presentase kelerengannya dengan perhitungan morfometri untuk mendapatkan klasifikasi kelerengan yang sesuai dengan klasifikasi relief Van Zuidam (1983). Meskipun tenaga endogen paling dominan. Daerah ini pada umumnya digunakan oleh masyarakat sekitar untuk daerah bercocok tanam sayur-sayuran. sedangkan potensi negatifnya yaitu sering terjadinya longsor. Setelah daerah ini diwarnai. sehingga juga jarang ditemukan area pemukiman warga.adanya struktur. Pada peta topografi.

Sebagai contoh yaitu proses erosi dan pelapukan. Hal ini akan menyebabkan masuknya air pada tubuh batuan. akan mudah tererosi. sedangkan potensi negatifnya yaitu rawan banjir dan longsor.klasifikasi relief antara persen kelerengan dan beda tinggi dikarenakan masih salahnya proses pendelinasian. dan kemudian akan diendapkan ketika sudah tidak ada lagi tenaga yang mengangkut material-material hasil erosi. Proses geomorfik yang berkembang pada daerh ini yaitu yang disebabkan oleh tenaga eksogen. sehingga aktivitas masyarakat di sekitar gunung mulai berkembang. maka akan menyebabkan pelapukan dan kemudian hancur. Lahanlahan pertanian dan ladang-ladang juga sering ditemukan. Tidak seperti hasil dari tenaga endogen yang bersifat membangun. Potensi positif yang mungkin ada pada daerah ini yaitu untuk daerah wisata. Ketika air permukaan yang mengalir menuruni lereng dan sampai pada permukaan yang landai. Pada kondisi kelerengan yang seperti ini jalan dan bangunan mulai ada. Batuan yang telah hancur. Apabila air tersebut terus menerus masuk. 29 . proses erosi umumnya bersifat destruktif (merusak). Hal ini dikaenakan akses jalan dan pengerjaan yang mudah. maka akan menggenang pada suatu dataran atau cekungan. tertransportasi oleh air.

teh. proses geomorfik yang dominan disebabkan oleh tenaga eksogen. proses geomorfik yang dominan disebabkan oleh tenaga endogen. proses geomorfik yang dominan disebabkan oleh tenaga eksogen. potensi positifnya yaitu sebagai daerah wisata. terutaama pada dataran banjir. potensi positifnya yaitu penelitian. dan tanah yang ambles.BAB VI PENUTUP 6. potensi positifnya yaitu sebagai tempat atau pusat penyedia fasilitas-fasilitas dan perlengkapan kebutuhan manusia. warna pendeliniasiannya ungu tua. penambangan pasir. sedangkan potensi negatifnya yaitu polusi udara.  Pada satuan deliniasi denudasional. penelitian. rawan banjir. tata guna lahannya yaitu sebagai tempat ladang dan tempat pertanian. bendungan. tata guna lahannya yaitu sebagai pemukiman. penambangan batu. 30 . tata guna lahannya yaitu sebagai tempat bercocok tanam sayuran. sedangkan potensi negatifnya yaitu rawan longsor. sedangkan potensi negatifnya yaitu rawan banjir. warna pendeliniasiannya ungu muda.  Pada satuan deliniasi struktural kontur rapat. proses geomorfik yang dominan disebabkan oleh tenaga eksogen. jenis sungainya yaitu sungai stadia dewasa. warna pendeliniasiannya hijau muda. klasifikasi reliefnya yaitu berbukit bergelombang. warna pendeliniasiannya colat. tata guna lahannya yaitu untuk MCK dan pengairan.  Pada satuan deliniasi struktural kontur renggang. klasifikasi reliefnya yaitu berbukit bergelombang – berbukit terjal. pola pengalirannya yaitu dendritik. klasifikasi reliefnya yaitu berbukit terjal. kopi. dan tanaman yang dapat tumbuh pada ketinggian ini. potensi positifnya yaitu sebagai daerah wisata alam.1 Kesimpulan  Pada satuan deliniasi fluvial. sedangkan potensi negatifnya yaitu rawan banjir dan longsor.

 Kurang tepat apabila mendirikan rumah atau bangunan di dataran banjir.  Apabila ingin mendirikan bangunan pada daerah denudasional.6.2 Saran  Tempat berkontur rapat. tidak cocok apabila didirikan bangunan-bangunan tinggi atau pencakar langit. sebaiknya dilihat dahulu jenis tanahnya. 31 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful