Anda di halaman 1dari 22

KEPANITERAAN KLINIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA STATUS ILMU PENYAKIT MATA RUMAH SAKIT MATA

DR. YAP YOGYAKARTA

Nama NIM dr. Pembimbing

: Yoserizal Ezra : 11.2011.095 : dr. Enni Cahyani P., SpM, Mkes

I. IDENTITAS
Nama Usia : An. RH : 5 bulan

Jenis kelamin : Laki-laki Agama Alamat Pekerjaan : Islam : Ngloro Saptosari, Gunung Kidul : -

II.

ANAMNESIS Aloanamnesis tanggal Keluhan Utama : 17 Maret 2013, pukul 13.00 WIB : Ada bercak abu-abu di kedua mata pasien sejak lahir.

Riwayat Penyakit Sekarang : Sejak pasien lahir, orangtua pasien mengaku terdapat bercak putih keabu-abuan di daerah hitam kedua mata pasien. Bercak tersebut tidak hilang saat berkedip. Orangtua pasien tidak langsung membawa ke dokter karena mengganggap akan hilang sendiri. Namun setelah pasien berusia 2 bulan, orangtua pasien mulai khawatir karena bercak tersebut tidak kunjung hilang malah seakan-akan semakin membesar. Riwayat selama kehamilan pasien tidak ada masalah. Ibu pasien rajin mengkontrol kandungannya ke bidan setiap 2 minggu. Ibu tidak pernah sakit selama proses kehamilan. Ibu pasien juga menyangkal mengkonsumsi obat-obatan dan jamu-jamuan.

1 Ilmu Penyakit Mata RS Mata Yap

Pasien lahir dengan cukup bulan, di bidan, dengan berat lahir 2,5 kg. Berat badan pasien sekarang 6 kg. Sejak lahir sampai sekarang, pasien tidak pernah menderita batuk, pilek, diare, demam maupun kejang. Nafsu makan baik, gerak aktif.

Riwayat Penyakit Dahulu

Keluarga pasien menyangkal pasien mempunyai penyakit sejak kelahiran pasien.

Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada orang tua, kakek dan nenek pasien yang sakit seperti ini.

III.

PEMERIKSAAN FISIK STATUS GENERALIS Keadaan Umum Kesadaran Tanda vital : Baik. : Compos Mentis : Tensi Nadi RR : 120/80 mmHg : 88 X/menit : 22 X/menit

Suhu : 36,7 C Kepala THT Thorax, jantung Paru Abdomen Ekstremitas : Normocephali : Septum deviasi (-), T1-T1 tenang, tidak hiperemis : BJ I-II reguler, gallop (-), murmur (-) : Suara nafas vesikuler, ronki (-), wheezing (-) : Datar, supel, bising usus (+) normal : Akral hangat, edema (-)

STATUS OPHTHALMOLOGIS Keterangan 1. Visus - Tajam penglihatan - Koreksi - Addisi - Distansia Pupil Respon cahaya (-) Respon cahaya (-) 2 Ilmu Penyakit Mata RS Mata Yap OD OS

- Kaca mata lama 2. Kedudukan bola mata - Eksoftalmus - Enoftalmus - Deviasi - Gerakan bola mata 3. Supersilia - Warna - Letak 4. Palpebra superior dan inferior - Edema - Nyeri tekan - Ektropion - Enteropion - Blefarospasme - Trikiasis - Sikatrik - Fisura palpebra - Ptosis - Hordeolum - Kalazion

tidak ada tidak ada tidak ada baik ke semua arah

tidak ada tidak ada tidak ada baik ke semua arah

hitam simetris

hitam simetris

tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada

tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada

5. Konjungtiva tarsalis superior dan inferior - Edema - Folikel - Papil - Sikatrik - Anemia - Kemosis - Sekret 6. Konjungtiva bulbi 3 Ilmu Penyakit Mata RS Mata Yap tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada

- Injeksi konjungtiva - Injeksi siliar - Perdarahan subkonjungtiva - Pterigium - Pingekula - Nevus pigmentosus - Kista dermoid 7. Sistem lakrimal - Punctum lakrimalis - Tes Anel 8. Sklera - Warna - Ikterik 9. Kornea - Kejernihan - Permukaan - Ukuran - Sensibilitas - Infiltrat - Ulkus - Perforasi - Arkus senilis - Edema - Tes Placido 10. Bilik mata depan - Kedalaman - Kejernihan - Hifema - Hipopion - Efek Tyndal

tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada

tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada

tidak dilakukan tidak dilakukan

tidak dilakukan tidak dilakukan

putih tidak ada

putih tidak ada

jernih licin 10 mm baik tidak ada tidak ada tidak ada ada tidak ada tidak dilakukan

jernih licin 10 mm baik tidak ada tidak ada tidak ada ada tidak ada tidak dilakukan

dalam jernih tidak ada tidak ada tidak dilakukan

dalam jernih tidak ada tidak ada tidak dilakukan 4

Ilmu Penyakit Mata RS Mata Yap

11. Iris - Warna - Kripte - Sinekia - Koloboma 12. Pupil - Letak - Bentuk - Ukuran - Refleks cahaya langsung - Refleks cahaya tak langsung 13. Lensa - Kejernihan - Letak - Shadow Test 14. Badan kaca - Kejernihan 15. Fundus okuli a. Papil - Batas - Warna b. Makula lutea - Refleks - Edema c. Retina - Perdarahan - C/D ratio - Ratio A/V - Sikatrik 16. Palpasi 5 Ilmu Penyakit Mata RS Mata Yap tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan keruh di tengah + keruh di tengah + di tengah bulat 3 mm + + di tengah bulat 3 mm + + coklat kehitaman jelas tidak ada tidak ada coklat kehitaman jelas tidak ada tidak ada

- Nyeri tekan - Massa tumor - Tensi okuli - Tonometri schiotz 17. Kampus visi - Tes konfrontasi

tidak dapat dinilai tidak ada normal perpalpasi tidak dilakukan

tidak dapat dinilai tidak ada normal perpalpasi tidak dilakukan

Tidak dilakukan

tidak dilakukan

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium tanggal 16-04-2013 Hb Leukosit Hematokrit Trombosit Waktu pembekuan darah Waktu perdarahan Ureum Kreatinin Natrium Kalium Clorida HbsAg : 10,3 : 4,65 : 30,8 : 496.000 : 12 menit : 1,5 menit : 7,6 : 0,2 : 138 : 4.3 : 106 : Non-reaktif (9,5 - 13,5) (3,1 4,5) (29 41) (150.000 450.000) (7 15 menit) (2 6 menit) (8,6 40,7) (0,2 0,4) (132 140) (3,5 5,6) (97 - -106)

V. RESUME Bayi laki-laki berusia 5 bulan datang dengan orangtuanya dengan keluhan ada bercak putih keabu-abuan di daerah hitam kedua mata pasien sejak lahir. Riwayat kehamilan dan kelahiran tidak terdapat masalah. Ibu pasien menyangkal sakit, minum obat-obat maupun jamujamuan selama proses kehamilan pasien. Tumbuh kembang pasien dalam batas normal. Sejak lahir sampai sekarang pasien tidak menderita sakit yang berarti. Orangtua, kakek, dan nenek pasien tidak ada menderita penyakit dengan keluhan yang sama seperti pasien. Refleks cahaya pada pasien negative.

6 Ilmu Penyakit Mata RS Mata Yap

VI.

DIAGNOSA KERJA 1. ODS Katarak Kongenital Kapsulolentikular

VII. DIAGNOSIS BANDING 1. ODS Katarak Kongenital Lentikular

VIII.

PEMERIKSAAN ANJURAN 1. USG biometri 2. Retinografi 3. Keratometri 4. TORCH

IX.

PENATALAKSANAAN Konsul Anak Persiapan pra bedah : Small Incision Cataract Surgery (SICS) dan pemasangan lensa intraokuler (IOL) OD. Midiatrik OD Inj. Pethidin Inj. Manitol Moxifloxacin 6xODS

X.

PROGNOSIS Okulo dekstra Ad fungsionam Ad vitam Ad sanationam : : : ad bonam ad bonam ad bonam okulo sinistra ad bonam ad bonam ad bonam

XI.

EDUKASI Pola makan yang sehat, memperbanyak konsumsi buah dan sayur Lindungi mata dari sinar matahari, karena sinar UV mengakibatkan katarak pada mata

7 Ilmu Penyakit Mata RS Mata Yap

XII. ANALISA KASUS Dari anamnesa dan pemeriksaan yang dilakukan, ditegakkan diagnosis kerja ocular dextra sinistra katarak congenital kapsulolentikular. Tajam penglihatan sulit dinilai, namun refleks cahaya ditemukan negatif. Tidak ditemukan adanya riwayat gangguan pada masa kehamilan dan melahirkan. Pada pasien ini dilakukan tindakan bedah karena pasien membutuhkan kedua matanya untuk proses tumbuh dan kembangnya. Prognosis pada pasien ini mencakup ad vitam, ad sanasionam dan ad fungsionam adalah dubia ad bonam karena tidak mengancam nyawa pasien, fungsi mata dapat pulih seperti sediakala, dan dapat kembali ke rutinitas sehari-hari.

8 Ilmu Penyakit Mata RS Mata Yap

TINJAUAN PUSTAKA KATARAK

LATAR BELAKANG Katarak berasal dari bahasa Yunani Katarrhakies, Inggris Cataract dan Latin Cataracta yang berarti air terjun. Dalam bahasa Indonesia disebut bular, dimana penglihatan seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh. Katarak adalah kekeruhan pada lensa mata yang sebelumnya jernih dan tembus cahaya. Dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau akibat kedua duanya, jadi merupakan proses kekeruhan lensa mata karena terganggunya metabolisme lensa Lensa memfokuskan cahaya pada retina -lapisan of light-sensing cells yang terdapat pada bagian belakang bola mata- sehingga dapat dihasilkan gambar yang tajam sesuai dengan yang kita lihat. Ketika lensa menjadi keruh, cahaya yang masuk tidak dapat melewati lensa dengan mudah sehingga penglihatan menjadi kabur. Jumlah dan bentuk kekeruhan pada lensa bervariasi. Seorang penderita katarak mungkin tidak menyadari telah mengalami gangguan katarak apabila kekeruhan tidak terletak dibagian tengah lensa matanya. Katarak terjadi secara perlahanperlahan sehingga penglihatan penderita terganggu secara berangsur-angsur. Katarak tidak menular dari satu mata ke mata yang lain, namun dapat terjadi pada kedua mata pada saat yang bersamaan. Katarak tidak disebabkan oleh pemakaian mata yang berlebihan dan tidak mengakibatkan kebutaan permanen apabila diatasi dengan pengobatan atau operasi. Kekeruhan pada lensa merupakan hal normal dari proses penuaan. Dan ini mengenai sekitar setengah dari jumlah populasi di Amerika yang berusia > 65 tahun. Setelah usia 75 tahun, sebanyak 70% dari jumlah penduduk di Amerika menderita katarak dengan gangguan penglihatan yang cukup signifikan.1

GEJALA KLINIK Perjalanan penyakit katarak biasanya lambat dan tidak menyebabkan rasa nyeri. Pada awalnya, kekeruhan hanya berefek pada bagian kecil dari lensa dan pasien tidak menyadari kalau penglihatannya mulai berkurang. Seiring dengan waktu, kekeruhan menjadi lebih luas dan mengenai seluruh lensa.

9 Ilmu Penyakit Mata RS Mata Yap

Gejala umum gangguan katarak meliputi : Penglihatan tidak jelas, seperti ada kabut yang menghalangi objek. Kesulitan melihat pada malam hari Peka terhadap sinar atau cahaya Terdapat halo di sekitar cahaya Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca Penglihatan ganda pada salah satu mata Lensa mata menjadi buram seperti kaca susu.1-5

PENYEBAB Katarak dapat terjadi pada salah satu atau kedua mata. Tetapi pada kebanyakan kasus kecuali yang disebabkan oleh cedera atau trauma katarak cenderung terjadi secara simetris pada kedua mata. Katarak dapat mengenai sebagian ataupun keseluruhan lensa. Lensa berlokasi di belakang iris dan pupil. Lensa terdiri dari 3 lapisan, lapisan paling luar (kapsul) merupakan lapisan yang tipis, jernih. Dikelilingi oleh korteks. Bagian tengah lensa adalah nucleus. Pada banyak kasus, penyebabnya tidak diketahui. Katarak biasanya terjadi pada usia lanjut dan bisa diturunkan. Pembentukan katarak dipercepat oleh faktor lingkungan, seperti merokok atau bahan beracun lainnya.

Katarak bisa disebabkan oleh:


Cedera mata Penyakit metabolik (misalnya diabetes) Obat-obatan tertentu seperti kortikosteroid 1-4

Katarak kongenitalis adalah katarak yang ditemukan pada bayi ketika lahir ( atau beberapa saat kemudian). Katarak kongenitalis bisa merupakan penyakit keturunan (diwariskan secara autosomal dominan) atau bisa disebabkan oleh: - Infeksi kongenital, seperti campak Jerman - Berhubungan dengan penyakit metabolik, seperti galaktosemia. 10 Ilmu Penyakit Mata RS Mata Yap

Faktor resiko terjadinya katarak kongenitalis adalah: - penyakit metabolik yang diturunkan - riwayat katarak dalam keluarga - infeksi virus pada ibu ketika bayi masih dalam kandungan. Beberapa tanda anak terkena katarak adalah: pupil tampak berwarna putih atau abu - abu, penglihatan yang buruk, nistagmus atau strabismus (mata juling) pada mata yang terkena katarak.

Penyebab katarak kongenital Katarak yang memperkeruh lensa normal biasanya terkait dengan proses penuaan. Tetapi katarak kongenital muncul pada bayi baru lahir karena berbagai alasan seperti keturunan (genetik), infeksi, masalah metabolism, diabetes, trauma (benturan), inflamasi atau reaksi obat, Sebagai contoh, pengggunaan antibiotik tetracycline yang biasa digunakan pada perawatan infeksi pada ibu hamil telah menunjukkan menyebabkan katarak pada bayi baru lahir. Katarak kongenital juga muncul jika, selama masa kehamilan, ibu bayi menderita infeksi seperti campak atau rubella (penyebab paling lazim), rubeola, chicken pox, cytomegalovirus, herpes simplex, herpes zoster, poliomyelitis, influensza, virus Epstein-Barr, sifilis, dan toxoplasmosis. Pada pupil mata bayi yang menderita katarak kongenital akan terlihat bercak putih atau leukokoria. Pada katarak kongenital total penyulit yang dapat terjadi adalah makula lutea yang tidak mendapat rangsangan. Kekeruhan pada katarak, kongenital jarang sekali mengakibatkan keruhnya seluruh lensa. Letak kekeruhannya, tergantung saat terjadinya gangguan pada kehidupan janin, sesuai dengan perkembangan embriologik lensa. 11 Ilmu Penyakit Mata RS Mata Yap

Dalam kategori ini termasuk kekeruhan lensa yang timbul sebagai kejadian primer atau berhubungan dengan penyakit ibu dan janin lokal atau umum. Untuk mengetahui penyebab katarak kongenital diperlukan pemeriksaan riwayat prenatal infeksi ibu seperti rubela pada kehamilan trimester pertama dan pemakainan obat selama kehamilan. Kadang-kadang terdapat riwayat kejang, tetani, ikterus, atau hepatosplenomegali pada ibu hamil. Bila katarak disertai uji reduksi pada urine yang positif, mungkin katarak ini terjadi akibat galaktosemia. Sering katarak kongenital ditemukan pada bayi prematur dan gangguan sistem saraf seperti retardasi mental. Pemeriksaan darah pada katarak kongenital perlu dilakukan karena ada hubungan katarak kongenital dengan diabetes melitus, fosfor, dan kalsium. Hampir 50 % katarak kongenital adalah sporadik dan tidak diketahui penyebabnya. Pada pupil bayi yang menderita katarak kongenital akan terlihat bercak putih atau suatu leukokoria. Pada setiap leukokoria perlu pemeriksaan yang lebih teliti untuk menyingkirkan diagnosis banding lainnya. Pemerisaan leukokoria dilakukan dengan melebarkan pupil. Pada katarak kongenital penyulit yang dapat terjadi adalah makula lutea yang tidak cukup mendapat rangsangan. Makula tidak akan berkembang sempurna hingga walupun dilakukan ekstraksi katarak maka visus biasanya tidak akan mencapai 5/5. Hal ini disebut ambliopia sensoris (ambyopia ex anopsia). Katarak kongenital dapat menimbulkan komplikasi berupa nistagmus dan strabismus.

Jenis Katarak Kongenital Pembentukan katarak yang lazim antara lain seperti: Anterior polar katarak terlihat jelas, terletak di bagian depan dari lensa mata dan biasanya terkait dengan sifat bawaan. Posterior polar katarak juga terlihat jelas, tetapi muncul di bagian belakang lensa mata. Nuclear cataract muncul di bagian tengah lensa. Merupakan jenis katarak yang lazim pada pembentukan katarak kongenital. Cerulean cataracts biasanya ditemukan di kedua mata bayi dan dibedakan dengan bintik kecil dan kebiruan pada mata. Cerulean cataracts terkait dengan keturunan/genetik.

Penanganan tergantung jenis katarak unilateral dan bilateral, adanya kelainan mata lain, dan saat terjadinya katarak. Katarak kongenital prognosisnya kurang memuaskan karena 12 Ilmu Penyakit Mata RS Mata Yap

bergantung pada bentuk katarak dan mungkin sekali pada mata tersebut telah terjadi ambliopia. Bila terdapat nistagmus maka keadaan ini menunjukan hal yang buruk pada katarak kongenital.

Tindakan pengobatan pada katarak kongenital adalah operasi. Operasi katarak dilakukan bila refleks fundus tidak tampak. Biasanya bila katarak bersifat total, operasi dapat dilakukan pada usia 2 bulan atau lebih muda bila telah dapat dilakukan pembiusan

Tindakan bedah yang umum dilakukan pada katarak kongenital adalah disisio lensa, ekstraksi liniar, ekstraksi dengan aspirasi. Pengobatan katarak kongenital bergantung pada : 1. katarak total bilateral, dimana sebaiknya dilakukan pembedahan secepatnya segera setelah katarak terlihat. 2. katarak total unilateral, dilakukan pembedahan 6 bulan sesudah terlihat atau segera sebelum terjadinya juling; bila terlalu muda akan mudah terjadi ambliopia bila tidak dilakukan tindakan segera; perawatan untuk ambliopia sebaiknya dilakukan sebaik-baiknya. 3. katarak total atau kongenital unilateral, mempunyai prognosis yang buruk, karena mudah terjadi ambliopia; karena itu sebaiknya dilakukan pembedahan secepat mungkin, dan diberikan kacamata segera dengan latihan bebat mata. 4. katarak bilateral partial, biasanya pengobatan lebih koservatif sehingga sementara dapat di coba dengan kacamata midriatika; bila terjadi kekeruhan yang progresif disertai mulainya tanda-tanda juling dan ambliopia maka dilakukan pembedahan, biasanya mempunyai prognosis yang lebih baik.

PENANGANAN Kebutaan katarak dapat diatasi dengan operatif yaitu pengambilan lensa yang keruh (ekstraksi), yaitu cara pembedahan dengan mengangkat lensa yang katarak. Dapat dilakukan dengan intrakapsular, yaitu mengeluarkan lensa bersama dengan kapsul lensa atau

ekstrakapsular yaitu mengeluarkanisi lensa melalui kapsul anterior yang dirobek (kapsulotomi anterior) dengan meninggalkan kapsul posterior.

13 Ilmu Penyakit Mata RS Mata Yap

Operasi katarak ekstrakapsular Tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana dilakukan pengeluaran isi lensa dengan memecah atau merobek kapsul lensa anterior sehingga masa lensa dan korteks lensa dapat keluar melalui robekan tersebut. Pembedahan ini dilakukan pada pasien katarak muda, pasien dengan kelainan endotel, bersama sama keratoplasti, implantasi lensa intra okular posterior, perencanaan implantasi sekunder lensa intra olukar, kemungkinan akan dilakukan bedah glaukoma, mata dengan predisposisi untuk t erjadinya prolaps badan kaca, mata mengalami ablasi retina, mata dengan sitoid makular edema, pasca bedah ablasi, untuk mencegah penyulit pada saat melakukan pembedahan katarak seperti prolaps badan kaca.1

Operasi katarak intrakapsular Pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsul. Dapat dilakukan pada zonula zinnii yang telah rapuh atau berdegenerasi dan mudah putus. Pada katarak ekstraksi intrakapsular tidak akan terjadi katarak sekunder dan merupakan tindakan pembedahan yang sangat lama populer. Pembedahan ini dilakukan dengan menggunakan mikroskop dan pemakaian alat khusus sehingga penyulit tidak banyak seperti sebelumnya. Katarak ekstraksi intrakapsular ini tidak boleh dilakukan atau kontra indikasi pada pasien berusia kurang dari 40 tahun yang masih mempunyai ligamen hialoidea kapsuler.

Small Incision Cataract Surgery (SICS) Sejak pertama kali dilakukan, teknik operasi katarak ekstrakapsuler berkembang pesat dalam waktu 30 tahun terakhir. SICS merupakan suatu tehnikoperasi katarak yang cukup populer saat ini. Perbedaan yang nyata dengan EKEK adalah pada irisan operasi dilakukan dengan irisan yang kecil sehingga terkadang hampir tidak membutuhkan jahitan pada luka insisi. Di samping itu, SICS juga memungkinkan dilakukan dengan anestesi topikal. Penyembuhan yang relatif lebih cepat dan risiko astigmatisma yang lebih kecil juga merupakan keunggulan SICS dibanding EKEK. Keuntungan menual SICS dibandingkan dengan faekoemulsifikasi antara lain adalah kurve pembelajaran lebih pendek, dimungkinkan dengan kapsulotomi can opener, instrumentasi lebih

14 Ilmu Penyakit Mata RS Mata Yap

sederhana, merupakan alternatif utama bila operasi fakoemulsifikasi gagal, risiko komplikasi lebih rendah, waktu pembedahan lebih singkat, dan secara ekonomis lebih murah. Bagi operator pemula, indikasi manual SICS apabila dijumpai sklerosis nukleus derajat II dan III, katarak subkapsularis posterior, awal katarak kortikalis. Bagi operator yang berpengalaman, beberapa katarak jenis lain dapat ditangani secara mudah. Beberapa kriteria ideal untuk dilakukan manual SICS adalah pada kondisi kornea dengan kejernihan baik, ketebalan normal, endotelium sehat, kedalaman bilik mata depan cukup, dilatasi pupil yang cukup, zonula yang utuh, tipe katarak kortikal, atau sklerosis nuklear derajat II dan III. Adapun langkah-langkah Small Incision Cataract Surgery yaitu insisi, kapsulotomi, hidrodiseksi, fragmentasi nukleus, pengambilan korteks atau epinukleus, serta implantasi IOL. Tunnel sklera dibuat dengan groove sklera ukuran 4 mm (variasi dapat 6 mm atau 7 mm), jarak dari limbus 2,5 mm. Parasintesis dapat dibuat di jam 9 dengan menggunakan blade 150.

Kapsulotomi dapat menggunakan tekni can opener maupun continuous curvilinier capsulotomi (CCC), hidrodiseksi dilakukan dengan subcortical cleavage, delineasi nukleus serta delaminasi epinukleus dan korteks sehingga dapat mempermudah tahap selanjutnya. Ada beberapa teknik dalam fragmentasi nukleus dan pengambilan fragmen, di antaranya yaitu dengan teknik sandwich, menggunakan Arlt loop dan spatula Barraquer, dengan posisi spatula Barraquer di atas fragmen dan bilik mata depan dilindungi oleh viskoelastik. Bila nukleus terlalu kecil maka tidak dibutuhkan forsep, dan dapat teririgasi (hidroexpressed), setelah tahap tersebut selesai maka tahap selanjutnya adalah implantasi IOL.2

Phacoemulsifikasi Yakni dengan irisan kecil, tanpa jahitan lensa dikeluarkan dengan alat phacoemulsifikasi (small incision surgery). Pemilihan teknik operasi ini tergantung keras/ lunaknya lensa. Setelah lensa katarak diambil, penderita hanya dapat menghitung jari pada jarak 1 meter, kecuali penderita diganti lensanya. Penggantian lensa ada dua cara, yaitu : 1. Penderita setelah operasi diberi kaca mata atau lensa kontak positip 10 dioptri. 2. Penderita dipasang lensa tanam bersamaan waktu dilakukan operasi, keuntungannya adalah penderita setelah operasi penderita langsung dapat melihat jelas, tidak perlu memakai kaca mata sangat tebal, lapang pandanag penderita tetap luas dan distorsi sinar dapat dihilangkan.2 15 Ilmu Penyakit Mata RS Mata Yap

Memperlambat Proses Terbentuknya Katarak Pencegahan utama adalah mengontrol penyakit yang berhubungan dengan katarak dan menghindari faktor-faktor yang mempercepat terbentuknya katarak : Menggunakan kaca mata hitam ketika berada di luar ruangan pada siang hari bisa Mengurangi jumlah sinar ultraviolet yang masuk ke dalam mata. Berhenti merokok bisa mengurangi resiko terjadinya katarak. Katarak dapat dicegah, di antaranya dengan menjaga kadar gula darah selalu normal pada penderita diabetes mellitus. Makanan-makanan sumber riboflavin di antaranya susu, daging, sayur, telur sayuran hijau seperti kol, brokoli, asparagus serta biji-bijian (cereals).

Penyulit Bedah Katarak Penyulit bedah katarak dapat dibedakan menjadi penyulit saat pembedahan, awal paska pembedahan, dan lambat paska pembedahan. Berdasarkan jaringan yang terkena, komplikasi bedah katarak dibedakan atas kornea, iris, posisi lensa tanam, media, retina, adneksa, dan penyulit yang lain.2

Pendangkalan Bilik Mata Depan a. Intraoperatif Pada saat operasi dapat terjadi pendangkalan bilik mata depan akibat masuknya cairan yang tidak cukup ke bilik mata depan, kebocoran, luka terlalu luas, tekanan dari luar bola mata atau tekanan vitreous positif. Tekanan vitreous positif dapat terjadi pada pasien kegemukan, bull-necked pasien, PPOK, pasien cemas, akibat terjadi manuver Valsava. Pasien obesitas sebaiknya diposisikan anti Trendelenburg. Pemberian manitol intravenous bisa dilakukan. Apabila penyebab tidak diketahui dipikirkan mungkin terjadi perdarahan suprakoroid atau efusi koroid. Apabila hal ini terjadi, sebaiknya luka ditutup dan operasi ditunda.

b. Posterior Infusion Syndrome

16 Ilmu Penyakit Mata RS Mata Yap

Pada kasus yang jarang, cairan infus bisa terjadi salah arah masuk ke dalam ruang badan kaca menyebabkan kenaikan volume vitreous. Komplikasi ini banyak terjadi selama hidrodiseksi. Pendangkalan bilik mata depan pada posterior infusion syndrome menunjukkan adanya desintegrasi kantong kapsul. c. Pasca Bedah Pendangkalan bilik mata depan pasca bedah dapat menimbulkan kerusakan permanen struktur bola mata. Di samping itu juga akan menimbulkan sinekia anterior perifer dan glaukoma sudut sempit kronik serta edem kornea kronik. Beberapa penyebab pendangkalan: kebocoran luka, ablasio koroid, blok pupil, blok siliar dan perdarahan perdarahan suprakoroid. Penanganan: sikloplegia disertai bebat tekan, asetazolamid, beta blocker tetes mata, menghindari penggunaan steroid lokal, lensa kontak lunak, penggunaan lem jaringan.2

Edem Kornea a. Edem Stromal dan Epitelial Edem disebabkan oleh trauma mekanik, irigasi intraokular yang terlalu lama, radang, peningkatan tekanan intra okular, dekompensasi endotelial akut dan TASS (Toxic Anterior Segment Syndrome). Pada umumnya edem akan hilang dalam 4 sampai 6 minggu. Sebagai patokan apabila kornea tepi masih jernih maka edem kornea akan menghilang dalam beberapa waktu. Edem kornea yang menetap sampai lebih dari 3 bulan biasanya dibutuhkan keratoplasti tembus. b. Sindrom Brown Mc Lean Sindrom ini ditandai dengan edem kornea perifer dan kornea sentral yang jernih. Kelainan ini disebabkan oleh karena operasi katarak intrakapsular, namun terdapat juga pada beberapa kasus ekstraksi katarak ekstra kapsular maupun fakoemulsifikasi. Secara khas edem dimulai dari inferior dan berkembang melingkar namun pada bagian sentral tidak terjadi. c. Vitreokorneal Aderen dan Edem Kornea Persisten Terjadi pada awal atau akhir pembedahan ekstraksi katarak intrakapsular atau ekstrakapsular pada katarak komplikata. Vitrektomi diindikasikan jika kornea menipis serta edem menjadi lanjut. Pada beberapa kasus berat dengan edem kornea yang lama, keratoplasti tembus dan vitrektomi dapat diindikasikan. d. Penyulit Kornea pada Fakoemulsifikasi 17 Ilmu Penyakit Mata RS Mata Yap

Selama fakoemulsifikasi, terjadi transfer panas dari probing ke kornea. Panas dapat menyebabkan kontraksi kolagen kornea. Pada fakoemulsifikasi dan hidrodiseksi fragmen lensa ke bilik mata depan tanpa perlindungan viskoelastik yang cukup, dapat menyebabkan hilangnya sel endotelial. Pada kasus ini dapat terjadi edem kornea pada hari pertama pasca operatif, pada beberapa bulan hingga tahun setelah pembedahan. e. Ablasi Membran Descemet Terjadi pada pembengkakan stroma dan bula epitelial pada area ablasi. Penyulit dapat terjadi saat instrumen atau IOL melalui insisi katarak atau ketika cairan diinjeksikan di antara membran descemet dan stroma korna. Ablasi yang kecil dapat membaik spontan. Dapat dilakukan pula injeksi udara atau gas ekspansil seperti SF6 atau C3F8 sebagai tampon pada bilik mata depan. Apabila tidak berhasil perlu dilakukan penjahitan. Viskoelastik dapat mempermudah pemeliharaan bilik mata depan. f. Cairan Toksik Irigasi pada bilik mata depan dapat bersifat toksis dan dapat menimbulkan edem kornea yang temporer atau permanen. Pembersih kulit yang terdiri dari klorheksidin glukonat dilaporkan dapat menimbulkan edem kornea ireversibel. Epineprin dengan bahan pengawet lebih dapat menimbulkan dekompensasi kornea bila diberikan intra kamera.2

Perdarahan Risiko perdarahan meningkat pada kasus pasien-pasien dengan terapi antikoagulan atau antiplatelet. Risiko tidak meningkat jika penggunaan antiplatelet dan antikoagulan dihentikan sementara sebelumnya. a. Perdarahan Retrobulbar Penyulit ini lebih sering pada anestesi retrobulber dibanding parabulbar, insidennya bervariasi antara 1-3%. Perdarahan venous retrobulbar biasanya berhenti sendiri dan menyebar secara lambat. Perdarahan arterial retrobulbar lebih cepat menimbulkan pembengkakan orbita, proptosis, peningkatan tekanan bola mata, menurunnya pergerakan bola mata, kesulitan membuka kelopak mata, ekimosis masif dan bisa menimbulkan atrofi nervus optikus. Penanganan meliputi: masase digital, pemberian manitol, pemberian timolol tetes mata, asetazolamid, kantotomi, peritomi, pada kasus tertentu perlu parasintesis bilik mata depan. Bila tekanan bola mata tidak dapat turun, dianjurkan untuk penundaan operasi. 18 Ilmu Penyakit Mata RS Mata Yap

b. Perdarahan Suprakoroidal atau Efusi Efusi koroidal dengan atau tanpa perdarahan suprakoroidal biasanya terjadi intraoperatif. Secara klinis, efusi suprakoroid sulit dibedakan dengan perdarahan suprekoroid. Kedua komplikasi ini umum terjadi pada: hipertensi, obesitas, miopia tinggi, penggunaan anti koagulan, glaukoma, atau inflamasi kronik. c. Perdarahan Suprakoroid Ekspulsif Penyulit ini relatif jarang namun serius umumnya terjadi intraoperatif. Ditandai oleh kenaikan tekanan bola mata yang mendadak dan hilangnya reflex fundus. Luka yang menganga, prolap iris, ekspulsi lensa, vitreous dan jendalan darah atau rasa sakit mendadak. Apabila ha ini terjadi dilakukan penutupan luka dengan jahitan secara cepat dan dilakukan tekanan digital kemudian skleretomi posterior yang dapat membantu dekompresi bola mata, diikuti dengan reposisi jaringan intraokular yang prolaps. Sklerotomi dilakukan 1 atau beberapa kuadran pada 5-7 mm belakang limbus untuk mengeluarkan jendalan darah. Sklretomi bisa dilakukan dengan trepan Elliot. d. Hifema Hifema berasal dari insisi atau iris, umumnya hilang secara spontan. Hifema yang berkepanjangan akan menimbulkan kenaikan tekanan bola mata dan staining kornea. Hifema yang terjadi pada beberapa bulan atau tahun sesudahnya, dapat berasal dari erosi jaringan vaskular oleh IOL atau vaskularisasi luka.2

Retinal Light Toxycity Pemaparan yang berkepanjangan dapat meningkatkan risiko edem makula kistoid atau kebakaran pada epitel pigmen retina. Masalah ini menjadi serius manakala massa lensa sudah diambil. Bila terjadi kebakaran di ekstra fovea dapat terjadi skotoma. Untuk pencegahan perlu dilakukan: tambahan filter untuk menutupi sinar dengan panjang gelombang kurang dari 515 nm. Diusahakan penyinaran oblik, gunakan pelindung pupil, minimalkan paparan langsung pada fovea. Peningkatan Tekanan Bola Mata

19 Ilmu Penyakit Mata RS Mata Yap

Kenaikan ini bisa disebabkan oleh bahan viskoelastik hialuronat yang tertinggal didalam bilik mata depan. Penyebab lain adalah blok pupil, hifema, blok siliar, endoftalmitis, sisa massa lensa, peningkatan iris pigmen, glaukoma penggunaan steroid, sinekia anterior perifer. Edem Makula Kistoid Ditandai dengan penurunan visus terjadi pada pembedahan katarak dengan atau tanpa komplikasi (sindrom Irvine Gass). Walaupun patogenesa tidak diketahui, tetapi dijumpai adanya peningkatan permeabilitas kapilar perifovea yang dihubungkan dengan pelepasan prostaglandin, traksi vitreomakular, paparan berlebihan sinar ultraviolet, ruptur kapsul posterior, prolaps vitreous, prolaps iris, hipotoni yang berkepanjangan. EMK daapat dikenali dengan gambaran karakteristik makula, FFA, atau OCT. EMK Angiografik terjadi pada 40-70% pasca bedah katarak intrakapsular dan 1-2% paska bedah ekstrakapsular.

Ablasi Retina Ablasi retina terjadi pada 2-3% pasca EKIK, dan 0,5-2% pasca EKEK. Biasanya terjadi dalam 6 bulan paska bedah katarak. Faktor-faktor predisposisi meliputi miopia axial (lebih dari 25 mm), degenerasi lattice, riwayat ablasio retina pada mata satunya, riwayat keluarga yang positif. Adanya kapsul posterior yang utut menurunkan insiden ablasi retina. Pembedahan katarak yang sulit dengan rupturnya kapsul posterior dan hilangnya vitreous meningkatkan risiko postoperatif pada ablasi retina. Endoftalmitis Gejala terjadinya endoftalmitis terdiri atas nyeri ringan hingga berat, hilangnya penglihatan, floater serta fotofobia, inflmasi, vitreous, edem palpebra atau periorbita, injeksi siliar, kemosis,

20 Ilmu Penyakit Mata RS Mata Yap

reaksi bilik mata depan, hipopion, penurunan tajam penglihatan, edema kornea serta perdarahan retina. Uveitis Kronik Uveitis kronik pasca bedah katarak dilaporkan berkaitan dengan bacteria pathogen. Diagnosisi ditegakkan berdasar pemeriksan dan kultur dari cairan akuous, vitreous, dan materi lensa. Antibiotik intravitreal diindikasikan pada kasus ini. Beberapa penyulit lain bedah katarak meliputi: ruptur kapsul, cornea melting, iridodialisis, siklodialisi, glaucoma maligna, sisa materi lensa, timbulnya astigmatisma, epithelial downgrowth, kekeruhan kapsul posterior. Sedangkan penyulit implantasi lensa tanam terdiri atas desenterasi dan dislokasi lensa tanam, Sindroma Uveitis Glaukoma Hifema, Edem Kornea dan Pseudofakik Keratopati bullosa, ketidaktepatan kekuatan lensa tanam serta model lensa tanam. Penyebab terjadinya komplikasi bedah katarak masih belum dapat dijelaskan dengan pasti. Predisposisi genetik HLA tertentu, sindrom pseudoeksfoliasi, reaksi imunologik akibat masuknya bakteri propionibacterium acne, dan reaksi toksik terhadap substansi pseudofakos merupakan dugaan penyebab penyulit bedah katarak. TASS merupakan inflamasi pasca operasi segmen depan mata, berhubungan dengan cairan irigasi, obat-obatan dan bahan-bahan lain yang digunakan pada bilik mata depan saat pembedahan. Adanya TASS biasanya ditandai dengan keluhan nyeri yang minimal atau bahkan tanpa nyeri, pembentukan fibrin, edem kornea, dan tidak adanya keterlibatan vitreus. Gejala tersebut sering muncul pada hari operasi dilakukan atau satu hari setelahnya. TASS menjadi suatu maslah yang penting sejak beberapa bulan terakhir karena sindrom ini masih sulit untuk diungkapkan karena belum ada pencegahan yang berarti.2 Komplikasi pasca operasi 1. Luka yang tidak sempurna menutup 2. Edema kornea 3. Inflamasi dan uveitis 4. Atonik pupil 21 Ilmu Penyakit Mata RS Mata Yap

5. Pupillary captured 6. Masalah yang berkaitan dengan IOL 7. Kekeruhan kapsul posterior 8. TASS (toxic anterior segment syndrome) 9. Capsular bag distention syndrome 10. Sisa massa lensa/korteks 11. Cystoid macular edema 12. Choroidal detachment 13. Ablasio retina 14. Endoftalmitis

22 Ilmu Penyakit Mata RS Mata Yap