Anda di halaman 1dari 15

SEKILAS TENTANG NEGARA HUKUM Konsep negara hukum Konsep eropa kontinental Islam (nomokrasi islam) : alquran& hadist

rechsstaat konsep legality konsep ini memiliki dinamika sendiri

Konsep anglo saxon (rule of law) Konsep negara hukum pancasila

Gagasan negara hukum dikemukakan oleh Plato , gagasan plato tentang negara hukum itu semakin tegas ketika didukung oleh muridnya aristoteles yg menuliskannya dalam buku politica. Menurut aristoteles, suatu negara yang baik ialah negara yang diperintah dengan konstitusi dan berkedaulatan hukum. Ada 3 unsur dari pemerintahan yg berkonstitusi yaitu: @pemerintahan dilaksanakan untuk kepentingan umum; @pemerintahan dilaksanakan menurut hukum yg berdasarkan ketentuan-ketentuan umum, bukan sewenang-wenang yg mengenyampingkan konstitusi dan konvensi; @pemerintahan berkonstitusi berarti pemerintahan yang dilaksanakan atas kehendak rakyat, bukan berupa paksaantekanan yang dilaksanakan pemerintahan. Gagasan negara hukum tersebut masih bersifat samar-samar dan tenggelam dalam waktu yg sangat panjang kemudian muncul kembali secara lebih eksplisit(lebih nyata) pada abad ke 19, yaitu dengan munculnya konsep rechtsstaat dari Freidrich Julius Stahl, yg diilhami oleh Immanuel Kant. Menurut Stahl, unsur-unsur negara hukum (rechtsstat) adalah: @perlindungan hak-hak asasi manusia; @pemisahan atau pembagian kekuasaan untuk menjamin hak-hak itu; @pemerintahan berdasarkan peraturan perundang-undangan; @peradilan administrasi dalam perselisihan. Pada saat yang hampir bersamaan muncul pula konsep negara hukum (rule of law) dari A. V. Dicey, yang lahir dalam naungan sistem hukum anglo-saxon. Dicey mengemukakan unsur-unsur rule of law sebagai berikut: @supremasi aturan-aturan hukum (supremacy of the law), yaitu tidak adanya kekuasaan sewenang-wenang (absence of arbitrary power), dalam arti bahwa hanya boleh dihukum oleh melanggar hukum; @kedudukan yang sama dalam menghadapi hukum (equality before the law). Dalil ini berlaku baik untuk orang biasa maupun untuk pejabat. @terjamin hak-hak manusia oleh undang-undang (di negara lain oleh undang-undang dasar) serta keputusan-keputusan pengadilan. Munculnya unsur peradilan administrasi dalam perselisihan pada konsep rechsstaat menunjukkan adanya hubungan historis antara negara hukum Eropa Kontinental dengan hukum Romawi. Philipus M. Hadjon memberikan pendapat berikut ini. Konsep rechtsstat bertumpu pads sistem hukum kontionental yang disebut Civil Law atau Modem Roman Law, sedangkan konsep rule of law bertumpu atas sistem hukum yang disebut common law. Karakteristik civil law adalah administratif, sedangkan karakteristik common law adalah judicial. Perbedaan karakteristik yang demikian disebabkan karena latar belakang daripada kekuasaan raja. Pada zaman Romawi, kekuasan yang menonjol itu kemudian didelegasikan kepada pejabat-pejabat administratif yang membuat pengarahan-pengarahan tertulis bagi hakim tentang bagaimana memutus suatu sengketa. Begitu besarnya peranan administrasi, sehingga tidaklah mengherankan kalau dalam sistem kontinental mulai muncul cabang hukum baru yang disebut Droit administratif adalah hubungan antara administrasi dengan rakyat. Dalam perkembangannya konsepsi negara hukum tersebut kemudian mengalami penyempurnaan, yang secara umum dapat dilihat di antaranya: 1. Sistem pemerintahan negara yang didasarkan atas kedaulatan rakyat. 2. Bahwa pemerintah dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya harus berdasar atas hukum atau peraturan perundang-undangan. 3. Adanya jaminan terhadap hak-hak asasi manusia (warga negara) 4. Adanya pembagian kekuasaan dalam negara. 5. Adanya pengawasan dari badan-badan peradilan (rechterlijke controle) yg bebas dan mandiri, dalam arti lembaga peradilan tersebut benar-benar tidak memihak dan tidak berada di bawah pengaruh eksekutif. 6. Adanya peran yang nyata dari anggota-anggota masyarakat atau warga negara untuk turut serta mengawasi perbuatan dan pelaksanaan kebijaksanaan yg dilakukan oleh pemerintah 7. Adanya sistem perekonomian yang dapat menjamin pembagian yang merata sumber daya yang diperlukan bagi kemakmuran warga negara. Negara Demokrasi: @Dalam sistem demokrasi, penyelenggaraan Negara itu harus bertumpu pada partisipasi dan Kepentingan rakyat. Implementasi Negara itu harus didukung dengan sistem demokrasi. @Hubungan antara Negara hukum dan demokrasi tidak dapat dipisahkan. Demokrasi tanpa pengaturan hukum akan kehilangan bentuk dan arah, sedangkan hukum tanpa demokrasi akan kehilangan makna. Menurut Magnis Suseno, demokrasi yg bukan negara hukum bukan demokrasi dalam arti sesungguhnya. Demokrasi merupakan cara yang paling aman untuk mempertahankan kontrol atas Negara hukum. Dengan demikian, Negara hukum yang bertopang pada sistem demokrasi dapat disebut sebagai Negara hukum demokratis (democratische rechtsstaat), sebagai perkembangan lebih lanjut dari demokrasi konstitusional. Disebut Negara hukum demokratis karena didalamnya mengakomodasi prinsip-prinsip negara hukum dan prinsip-prinsip demokrasi. J. B. J. M. ten berge Menyebutkan prinsip-prinsip Negara hukum dan prinsip-prinsip demokrasi tersebut adalah sebagai berikut:

1. Prinsip-prinsip Negara hukum. a. Asas legalitas. @Pembatasan kebebasan warga Negara (oleh pemerintah) harus ditemukan dasarnya dalam undang-undang yang merupakan peraturan umum. Undang-undang secara umum harus memberikan jaminan (terhadap warga Negara) dari tindakan (pemerintah) yang sewenang-wenang, kolusi, dan berbagai jenis tindakan yang tidak benar. Pelaksanaan wewenang oleh organ pemerintah harus ditemukan dasarnya pada undang-undang tertulis (undang-undang formal) @Perlindungan hak-hak asasi. @Pemerintahan terikat pada hukum. @Monopoli paksaan pemerintah untuk menjamin penegakan hukum. Hukum harus dapat ditegakkan ketika hukum itu dilanggar. Pemerintah harus menjamin bahwa ditengah masyarakat terdapat instrument yuridis penegakan hukum. Pemerintah dapat memaksa seseorang yang melanggar hukum melalui system peradilan Negara. Memaksakan hukum publik secara prinsip merupakan tugas pemerintah. @Pengawasan oleh Hakim yang merdeka. Superioritas hukum tidak dapat ditampilkan jika aturan-aturan hukum hanya dilaksanakan organ pemerintah. Oleh karena itu, dalam setiap Negara hukum diperlukan pengawasan oleh hakim yang merdeka. 2. Prinsip-prinsip demokrasi. @Perwakilan politik kekuasaan politik tertinggi dalam suatu Negara dan dalam masyarakat diputuskan oleh badan perwakilan, yang dipilih melalui pemilihan umum. @pertanggungjawaban politik, Organ-organ pemerintahan dalam menjalankan fungsinya sedikit banyak tergantung secara politik yaitu kepada lembaga perwakilan. @Pemencaran kewenangan, konsentrasi kekuasaan dalam masyarakat pada satu organ pcmerintahan adalah kesewenang-wenangan. Oleh karena itu, kewenangan badan-badan publik itu harus dipencarkan pada organ-organ yang berbeda. @Pengawasan dan kontrol, (penyelenggaraan) pemerintahan harus dapat dikontrol @Kejujuran dan keterbukaan pemerintahan untuk umum @Rakyat diberi kemungkinan untuk mcngajukan keberatan. H.D. van Wijk / Willem Konijnenbelt menyebutkan prinsip-prinsip rechtsstaat dan prinsip-prinsip demokrasi sebagai berikut: A. Prinsip-prinsip rechtsstaat: @Pemerintahan berdasarkan undang-undang. Pemerintah hanya mcmiliki kewenangan yang secara tegas diberikan oleh UUD atau UU lainnya. @Hak-hak asasi. Terdapat hak-hak manusiavyang sangat fundamental yang harus dihormati oleh pemerintah. @Pembagian kekuasaan. Kewenangan pemerintah tidak boleh dipusatkan pada satu lembaga, tetapi harus dibagi-bagi pada organ-organ yang berbeda agar saling mengawasi yang dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan. @Pengawasan lembaga kehakiman. Pelaksanaan kekuasaan pemerintahan harus dapat dinilai aspeknya oleh hakim yang merdeka. B. Prinsip-prinsip demokrasi: @Keputusan-keputusan penting, yaitu undang-undang, diambil bersama-sama dengan perwakilan rakyat yang dipilih berdasarkan pemilihan umum yang bebas dan rahasia. @Hasil dari pemilihan umum diarahkan untuk mengisi dewan perwakilan rakyat dan untuk pengisian jabatan-jabatan pemerintahan. @Keterbukaan pemerintahan. @Siapa pun yang memiliki kepentingan yang (dilanggar) oleh tindakan penguasa, (harus) diberi kesempatan untuk membela kepentingannya. @Setiap keputusan harus melindungi berbagai kepentingan minoritas, dan harus seminimal mungkin menghindari ketidakbenaran dan kekeliruan. HUKUM ADMINISTRASI NEGARA I. Pengertian dan istilah Sejarah Hukum Administrasi Negara dari Negara Belanda yang disebut Administratif recht atau Bestuursrecht yang berarti Lingkungan Kekuasaan. Administratif diluar dari legislatif dan yudisial. Di Perancis : Droit Administrative. Di Inggris : Administrative Law. Di Jerman: Verwaltung recht. Di Indonesia banyak istilah untuk mata kuliah ini. E. Utrecht dalam bukunya yang berjudul Pengantar Hukum Administrasi pada cet. I memakai istilah hukum tata usaha Indonesia, cet. II menggunakan istilah Hukum tata usaha Negara Indonesia, dan cet. III menggunakan istilah Hukum Administrasi Negara Indonesia. W.F. Prins dalam bukunya inhiding in het administrative recht van Indonesia, menggunakan istilah, Hukum Tata Usaha Negara Indonesia. Rapat Staf Dosen Fakultas Hukum Negeri seluruh Indonesia bulan Maret I973 di Cirebon, memutuskan sebaiknya menggunakan istilah Hukum Administrasi Negara dengan alasan Hukum Administrasi Negara pengertiannya lebih luas dan sesuai dengan perkembangan pembangunan dan kemajuan Negara Republik Indonesia kedepan. Surat Keputusan Mendikbud tahun 1972, tentang Pedoman Kurikulum minimal Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta, menggunakan istilah Hukum Tata Pemerintahan (HTP). Undang-undang Pokok Kekuasaan Kehakiman No. 14 tahun 1970 dan TAP MPR No. 11/1983 tentang GBHN memaknai istilah Hukum Tata Usaha Negara(HTUN). Surat Keputusan Mendikbud No. 31 thn 1983. tentang kurikulum inti Program Pendidikan Sarjana Hukum mcnggunakan Hukum Administrasi Negara. Sejarah Hukum Administrasi Negara ( HAN ) atau Hukum Tata usaha Negara (HTUN) atau hukum Tata Pemerintahan (HTP) di Negeri Belanda disatukan dalam Hukum Tata Negara yang disebut Staats en Administratiefrecht. Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa Ilmu Hukum Administrasi Negara adalah ilmu yang sangat luas dan terus berkembang mengikuti tuntutan Negara/masyarakat, sehingga lapangan yang akan dibahas menjadi beraneka ragam dan campur tangan pemerintah dalam kehidupan masyarakat.

PENGERTIAN HUKUM ADMINISTRASI NEGARA 1. Oppen Heinn mengatakan Hukum Administrasi Negara adalah sebagai suatu gabungan ketentuan-ketentuan yang mengikat badan-badan yang tinggi maupun rendah apabila badan-badan itu menggunakan wewenangnya yang telah diberikan kepadanya oleh Hukum Tata Negara. 2. J.H.P. Beltefroid mengatakan Hukum administrasi negara adalah keseluruhan aturan-aturan tentang cara bagaimana alat-alat pemerintahan dan badan-badan kenegaraan dan majelis-majelis pengadilan tata usaha hendak memenuhi tugasnya. 3.Hukum administrasi negara adalah hukum yang menguji hubungan hukum istimewa yang diadakan, akan kemungkinan para pejabat melakukan tugas mereka yang khusus. (E. Utrecht.). 4. Hukum administrasi negara adalah keseluruhan aturan yang harus diperhatikan oleh para pengusaha yang diserahi tugas pemerintahan dalam menjalankan tugasnya (Van Apeldoorn). 5. De La Bascecoir Caan, mengatakan Hukum Administrasi Negara adalah himpunan peraturan-peraturan tertentu yang menjadi sebab Negara berfungsi/bereaksi dan peraturan-peraturan itu mengatur hubungan-hubungan antara warga Negara dengan pemerintahnya. 6. Logemann mengatakan Hukum Administrasi Negara adalah seperangkat dari norma-norma yang menguji hubungan Hukum Istimewa yang diadakan untuk para pejabat administrasi Negara melakukan tugas mereka yang khusus. 7. Sir W. Ivor Jennings mengatakan Hukum Administrasi negara adalah hukum yang berhubungan dengan administrasi negara, hukum ini menentukan organisasi kekuasaan dan tugas-tugas dari pejabat-pejabat administrasi. 8. Marcel Waline mengatakan Hukum Administrasi Negara adalah keseluruhun aturan-aturan yang menguasai kegiatan-kegiatan alat-alat perlengkapan Negara yang bukan alat perlengkapan perundang-undangan atau kekuasaan kehakiman menentukan luas dan batas-batas kekuasaan alat-alat perlengkapan tersebut, baik terhadap warga masyarakat maupun antara alat-alat perlengkapan itu sendiri, atau pula keseluruhan aturan-aturan yang menegaskan dengan syarat-syarat bagaimana badan-badan tata usaha negara/administrasi memperoleh hak-hak dan membebankan kewajibankewajiban kepada para warga masyarakat dengan peraturan alat-alat perlengkapannya guna kepentingan pemenuhan kebutuhankebutuhan umum". Dari pengertian di atas jelas bahwa bidang hukum administrasi Negara sangatlah luas, banyak segi dan macam ragamnya. Pemerintah adalah pengurus dari pada Negara, pengurus Negara adalah keseluruhan dari jabatan-jabatan di dalam suatu Negara yang mempunyai tugas dan wewenang politik Negara dan pemerintahan. Apa yang dijalankan oleh pemerintah adalah tugas Negara dan merupakan tanggungjawab dari pada alat-alat pemerintahan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Hukum Administrasi Negara adalah Hukum mengenai Pemerintah/Eksekutif didalam kedudukannya, tugas-tugas, fungsi dan wewenangnya sebagai Administrator Negara. SUMBER-SUMBER HUKUM ADMINISTRASI NEGARA Pada umumnya dapat dibedakan menjadi dua: 1. Sumber hukum material, yaitu sumber hukum yg turut menentukan isi kaedah hukum. Sumber hukum material ini berasal dari peristiwa-peristiwa dalam pergaulan masyarakat dan peristiwa-peristiwa itu dapat mempengaruhi bahkan menentukan sikap manusia. 2. Sumber hukum formal, yaitu sumber hukum yg sudah diberi bentuk tertentu. Agar berlaku umum, suatu kaidah harus diberi bentuk sehingga pemerintah dapat mempertahankannya. Sumber hukum adalah segala sesuatu yang menimbulkan aturan hukum dan ditentukan aturan hukum itu. Sumber hukum dikenal dua macam yaitu :1. Sumber Hukum Materiil; Sumber hukum materiil adalah sumber hukum yang menentukan isi aturan hukum itu, dan untuk menentukan isi hukum itu dipengaruhi oleh banyak faktor yaitu : a. Sejarah, yaitu undang-undang peraturan-peraturan masa lalu yang dianggap baik dapat dijadikan bahan untuk membuat undang-undang dan dapat diberlakukan sebagai hukum positif. b. Faktor Sosiologis, yaitu ukuran untuk menentukan aturan itu bersifat adil atau tidak dan sejauhmana aturan itu ditaati oleh warga masyarakat atau mengapa masyarakat mentaati aturan itu. c. Faktor Filosos. 2. Sumber Hukum Formil; Yaitu kaidah hukum dilihat dari segi bentuk, dengan diberi suatu bentuk melalui suatu proses tertentu, maka kaidah itu akan berlaku umum dan mengikat seluruh warga masyarakat dan ditaati oleh warga masyarakat. Sumber hukum formil Hukum Administrasi Negara adalah : a. Undang-undang;Aturan-aturan Hukum Administrasi Negara yang diatur dalam Undang-undang Dasar, dilaksanakan lebih lanjut oleh undang-undang. Seluruh peraturan-peraturan organik merupakan Sumber Hukum Administrasi Negara. Jadi sumber hukum administrasi Negara adalah sesuai dengan tata urutan / hirarki peraturan perundang-undangan Republik Indonesia, seperti tercantum dalam Undang-undang No. 12 tahun 2011, yaitu: @UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945; @Tap MPR; @Undang-Undang / Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang; @Peraturan Pemerintah; @Peraturan Presiden; @Peraturan Daerah: I. Perda Provinsi; II. Perda Kabupaten / Kota; III. perdes/peraturan yg setingkat. Kebiasaan/Praktek hukum administrasi Negara: Alat administrasi Negara dapat mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan konkrit yang terjadi diluar dari Undang-undang. Dalam mengeluarkan keputusan-keputusan merupakan praktek administrasi Negara dalam rangka kepentingan umum. Alat administrasi Negara dapat bertindak cepat menyelesaikan suatu masalah untuk kepentingan umum tanpa adanya suatu undang-undang. Yurisprudensi: Yaitu keputusan hukum yang sudah mempunyai kekuatan hukum yang tetap dapat menjadi sumber hukum administrasi Negara, terutama Keputusan Hakim Peradilan Tata Usaha Negara.

Doktrin: Pendapat para ahli terutama teori-teori yang baru mengenai pelaksanaan hukum administrasi Negara dapat dijadikan sumber hukum administrasi Negara. Pendapat para ahli yang merupakan hasil pemikiran dan penulisan diterima oleh masyarakat dan dijadikan dasar untuk membuat kebijakan-kebijakan bagi administrasi negara. Ruang Lingkup Hukum Administrasi Negara Prajudi Atmosudirdjo mengatakan bahwa ruang lingkup Hukum Administrasi Negara adalah : a. Hukum tentang dasar-dasar dan prinsip-prinsip umum daripada Administrasi Negara. b. Hukum tentang organisasi dari Administrasi negara. c. Hukum tentang aktitas-aktifitas dari Administrasi Negara yang bersifat yuridis. d. Hukum tentang sarana-sarana dari Administrasi Negara terutama mengenai kepegawaian Negara dan keuangan Negara. e. Hukum Administrasi Pemerintahan Daerah dan wilayah yang dibagi menjadi: I. Hukum Administrasi Kepegawaian; 2. Hukum Administrasi keuangan; 3. Hukum Administrasi Materiil; 4. Hukum Administrasi Perusahaan Negara; f. Hukum tentang Peradilan Administrasi Negara. Kedudukan dan Hubungan Hukum Administrasi negara dengan Ilmu Hukum lainnya Dalam sistematika Ilmu Hukum, Hukum Administrasi Negara termasuk dalam hukum publik dan merupakan bagian daripada hukum Tata Negara. Dilihat dari sejarahnya sebelum abad 19 Hukum Administrasi Negara menyatu dengan Hukum Tara Negara dan baru setelah abad ke 19 Hukum Administrasi Negara berdiri sendiri sebagai suatu disiplin ilmu hukum tersendiri. Pada penengahan abad 20 Hukum Administrasi Negara berkembang dengan pesat sebagai akibat tuntutan timbulnya Negara hukum modern (welfarestate) yang mengutamakan kesejahteraan rakyat. Hukum Administrasi Negara sebagai suatu disiplin ilmiah tersendiri dapat dilihat dalam teori Residu dari Van Vollen Hoven yang membagi seluruh materi hukum itu secara terperinci sebagai berikut :1. Hukum Tata Negara(materiil): a. Pemerintahan; b. Peradilan; c.Kepolisian; d. Perundang-undangan. 2. Hukum Perdata (materiil). 3. Hukum Pidana(materiil). 4. Hukum Administrasi Negara (materiil dan formil), meliputi: a. Pemerintahan (Bestuursrecht); b. Peradilan yang meliputi : 1) Peradilan Tata Negara, 2) Peradilan Administrasi Negara, 3) Acara Perdata, 4) Acara Pidana, 5) Kepolisian, 6) Proses Perundang-undangan. Ilmu Hukum Administrasi Negara sebagai suatu disiplin ilmiah tersendiri maka harus ditentukan batasan-batasan serta hubunganhubungan antara ilmu administrasi Negara dengan beberapa cabang ilmu hukum lainnya seperti Hukum Tata Negara. Perbedaan prinsip Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara Oppen Heim: Mengatakan bahwa pokok bahasan Hukum Tata Negara adalah Negara dalam keadaan diam (Strats in rust), dimana Hukum Tata Negara membentuk alat-alat perlengkapan Negara dan memberikan kepadanya wewenang serta membagi-bagikan tugas pekerjaan kepada alat-alat perlengkapan Negara ditingkat tinggi dan tingkat rendah. Sedangkan Hukum Administrasi Negara adalah Negara dalam keadaan bergerak ( Staats ini beveging) dimana Hukum Administrasi Negara melaksanakan aturan-aturan yang sudah ditetapkan oleh Hukum Tata Negara baik ditingkat tinggi maupun ditingkat rendah. Van Vollen Hoven: Hukum Administrasi Negara adalah semua peraturan-peraturan hukum setelah dikurangi hukum-hukum materiil Tata Negara, Pidana dan Perdata. Hukum Administrasi Negara merupakan pembatasan dari kebebasan pemerintah dalam melaksanakan tugasnya. Badan-badan kenegaraan memperoleh kewenangan dari Hukum Tata Negara, dan dalam melaksanakan kewenangan itu badan-badan kenegaraan harus berdasarkan pada Hukum Administrasi Negara. Donner: Hukum Tata Negara menetapkan tugas, sedangkan Hukum Administrasi Negara melaksanakan tugas itu yang telah ditentukan oleh Hukum Tata Negara. Logemann: Hukum Tata Negara merupakan suatu pelajaran tentang kompetensi, sedangkan Hukum Administrasi Negara tentang hubungan hukum istimewa. Perbedaan prinsip Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara Hukum Tata Negara mempelajari : 1. Jabatan-jabatan apa yang ada dalam susunan suatu Negara; 2. Siapa yang mengadakan jabatanjabatan itu; 3. Cara bagaimana ditempati olch pejabat; 4. Fungsi jabatan-jabatan itu; 5. Kekuasaan hukum jabatan-jabatan itu; 6.Hubungan antara jabatan-jabatan; 7. Dalam batas-batas manakah organ-organ kenegaraan dapat melakukan tugasnya. Hukum Administrasi Negara mempelajari sifat bentuk dan akibat hukum yang timbul karena perbuatan hukum istimewa yang dilakukan oleh para pejabat dalam melaksanakan tugasnya. Tidak ada Perbedaan prinsip Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara Kranenburg, tidak ada perbedaan yang prinsipil antara Hukum Tata Negara dcngan Hukum Administrasi Negara, perbedaannya hanya terjadi dalam praktek dalam rangka tercapainya suatu kemanfaatan saja. Hukum Tata Negara adalah hukum mengenai struktur hukum daripada Suatu pemerintahan Negara. Sedangkan Hukum Administrasi Negara merupakan peraturan-peraturan yang bersifat khusus.

Prins, hukum Tata Negara mempelajari hal-hal yang fundamental yang merupakan dasar-dasar dari Negara. Hukum Administrasi Negara menitikberatkan kepada hal-hal yang bersifat teknis, yang selama ini kita tidak berkepentingan hanya penting bagi para spesialis. Golongan ini berpendapat bahwa antara Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara tidak ada perbedaan prinsipil, hanya pada titik berat/fokus pembahasan Hukum Tata Negara fokusnya adalah hukum rangka dasar dari Negara, sedangkan Hukum Administrasi Negara adalah administrasi dari Negara, dengan demikian Hukum Administrasi Negara merupakan hukum khusus dari Hukum Tata Negara. OBJEK HUKUM ADMINISTRASI NEGARA Pengertian objek adalah pokok permasalahan yang akan dibicarakan. Dengan pengertian tersebut, yang dimaksud objek hukum administrasi negara adalah pokok permasalahan yang akan dibicarakan dalam hukum administrasi negara. Berangkat dari pendapat Prof. Djokosutono, S.H., bahwa hukum administrasi negara adalah hukum yang mengatur hubungan hukum antara jabatan-jabatan dalam negara dan para warga masyarakat, maka dapat disimpulkan bahwa objek hukum administrasi negara adalah pemegang jabatan dalam negara itu atau alat-alat perlengkapan negara dan warga masyarakat. Pendapat Soehino, S,H., bahwa sebenarnya objek hukum administrasi adalah sama dengan objek hukum tata negara, yaitu negara. Pendapat demikian dilandasi alasan bahwa hukum administrasi negara dan hukum tata negara sama-sama mengatur negara. Namun, kedua hukum tersebut berbeda, yaitu hukum administrasi negara mengatur negara dalam keadaan bergerak sedangkan hukum tata negara dalam keadaan diam. Maksud dari istilah negara dalam keadaan bergerak adalah bahwa negara tersebut dalam keadaan hidup. Hal ini berarti bahwa jabatan-jabatan atau alat-alat perlengkapan negara yang ada pada negara telah mclaksanakan tugasnya sesuai dengan fungsinya masing-masing. lstilah "negara dalam keadaan diam berarti bahwa negara itu belum melakukan aktitas sebagaimana mestinya. Alat-alat perlengkapan negara yang ada belum menjalankan fungsinya. Dari penjelasan di atas dapat diketahui tentang perbedaan antara hukum administrasi negara dan hukum tata negara. BENTUK-BENTUK PERBUATAN PEMERINTAHAN Pengertian pemerintahan dibedakan menjadi dua : 1.Pemerintahan dalam arti luas, yaitu pemerintahan yang terdiri dari tiga kekuasaan yang masing-masing terpisah satu sama lain. Ketiga kekuasaan itu adalah : a. Kekuasaan legislatif. b. Kekuasaan ekskutif. c. Kekuasaan yudikatif. Pemerintahan kekuasaan di atas berdasarkan teori Trias Politica dari Montesquieu. Menurut Van Vollenhoven, pemerintahan dalam arti luas berbeda dengan teori trias politica. Pemerintahan dalam arti luas mencakup :1. Tindakan / kegiatan pemerintahan dalam arti sempit( bestuur). 2. Tindakan / kegiatan polisi(politie). 3. Tindakan / kegiatan peradilan (rechts praak). 4. Tindakan membuat peraturan (regeling, wetgeving). Pemerintahan dalam arti luas menurut Lemaire: adalah pemerintahan yang meliputi : a. Kegiatan penyelengaraan kesejahteraan umum (bestuurzorg). b. Kegiatan pemerintahan dalam arti sempit. c. Kegiatan kepolisian. d. Kegiatan peradilan. e. Kegiatan membuat peraturan. 2. Pemerintahan dalam arti sempit ialah badan pelaksana kegiatan eksekutif saja tidak termasuk badan kepolisian, peradilan dan badan perundang-undangan. Pemerintahan dalam arti sempit itu dapat disebut dengan istilah lain, yaitu "administrasi negara ". Bentuk perbuatan pemerintahan atau bentuk tindakan administrasi negara secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu @Perbuatan hukum / tindakan hukum. @Bukan perbuatan hukum. Perbuatan pemerintahan menurut hukum publik dibedakan menjadi dua, yaitu :1. Perbuatan menurut hukum publik bersegi satu. Perbuatan menurut hukum publik bersegi satu, yaitu suatu perbuatan hukum yang dilakukan oleh aparat administrasi negara berdasarkan wewenang istimewa dalam hal membuat Suatu ketetapan yang mengatur hubungan antara sesama administrasi negara maupun antara administrasi negara dan warga masyarakat. Misalnya, ketetapan tentang pengangkatan seseorang menjadi pegawai negeri. 2.Perbuatan menurut hukum publik bersegi dua. Perbuatan menurut hukum publik bersegi dua, yaitu suatu perbuatan aparat administrasi negara yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih secara sukarela. Misalnya mengadakan perjanjian pembuatan gedung, jembatan dengan pihak swasta (pemborong). I. KONSEP DASAR WEWENANG Menurut SF Marbun, wewenang mengandung arti kemampuan melakukan suatu tindakan publik, atau secara yuridis adalah kemampuan bertindak yang diberikan oleh undang-undang yang berlaku untuk melakukan hubungan-hubungan hukum. Wewenang pemerintahan memiliki sifat-sifat: 1.Express implied; 2.Jelas maksud dan tujuan; 3.Terikat pada waktu tertentu; 4.Tunduk pada batasan-batasan hukum tertulis dan tidak tertulis; 5.Isi wewenang dapat bersifat umum (abstrak) dan konkrit. Menurut Hene van Maarseveen sebagaimana dikutip Philipus M. Hadjon, di dalam hukum publik wewenang sekurang-kurangnya terdiri dari tiga komponen, yaitu: a. Komponen pengaruh, ialah bahwa penggunaan wewenang dimaksudkan untuk mengendalikan perilaku subjek hukum; b.Komponen dasar hukum. Bahwa wewenang itu harus selalu dapat ditunjuk dasar hukumnya; dan c.

Komponen konformitas hukum, mengandung makna adanya standard umum (semua jenis wewenang) maupun standard khusus (untuk jenis wewenang tertentu). Wewenang Pemerintahan Berdasarkan Sifatnya dapat dilakukan pembagian sebagai berikut: l.Wewenang yang bersifat terikat yakni wewenang yang harus sesuai dengan aturan dasar yang menentukan waktu dan keadaan wewenang tersebut dapat dilaksanakan, termasuk rumusan dasar isi dan keputusan yang harus diambil. 2.Wewenang yang bersifat fakultatif, yakni wewenang yang dimiliki oleh badan atau pejabat administrasi, namun demikian tidak ada kewajiban atau keharusan untuk menggunakan wewenang tersebut dan sedikit banyak masih ada pilihan lain walaupun pilihan tersebut hanya dapat dilakukan dalam hal dan keadaan tertentu berdasarkan aturan dasarnya. 3. Wewenang bersifat bebas, yakni wewenang badan atau pejabat pemerintahan (administrasi) dapat menggunakan wewenangnya secara bebas untuk menentukan sendiri mengenai isi dari putusan yang akan dikeluarkan, Karena peraturan dasarnya memberi kebebasan kepada penerirna wewenang tersebut. Menurut N.M. Spelt dan J.B.J.M. Ten Berge sebagaimana dikutip Philipus M. Hadjon, kewenangan bebas dibagi atas dua kategori yakni, kebebasan kebijaksanaan (beleidsvrijheid) dan kebebasan penilaian (beoordelingsvrijheid). a. Kebebasan kebijaksanaan (beleidsvrijheid) wewenang diskresi dalam arti sempit, yakni bila peraturan perundang-undangan memberikan wewenang tertentu kepada organ pemerintahan, sedangkan organ tersebut bebas untuk (tidak) menggunakan meskipun syarat-syarat bagi penggunaanya secara sah telah dipenuhi. b. Kebebasan penilaian (beoordelingsvrijheid) wewenang diskresi dalam arti yang tidak sesungguhnya ada, yakni wewenang menurut hukum diserahkan kepada organ pemerintahan untuk menilai sendiri secara mandiri dan eksklusif apakah syarat-syarat bagi pelaksanaan suatu wewenang secara sah telah dipenuhi. Menurut Philipus M. Hadjon, menyimpulkan ada dua jenis kekuasaan bebas atau kekuasaan diskresi yaitu:1) Kewenangan untuk memutus secara mandiri; 2) Kewenangan interpretasi trhadap norma yang samar (vage norm). II. DASAR-DASAR WEWENANG PEMERINTAHAN Wewenang yang diperoleh dari peraturan perundang-undangan merupakan legalitas formal, artinya yang memberi legitimasi terhadap tindakan pemerintahan, maka dikatakan bahwa substansi dari asas legalitas tersebut adalah wewenang, yakni wewenang yang diperoleh dari peraturan perundang-undangan. Asas legalitas (legalitiet beginsel) mengandung makna, setiap tindakan badan atau pejabat tata usaha negara harus berdasarkan atas undang-undang formal atau hukum (hukum tidak tertulis). Dari asas legalitas tersebut lahir pengertian administrasi atau pemerintahan dalam arti yuridis, yakni sebagai pelaksana atau penyelenggara dalam arti luas (wet in ruine zin). Asas legalitas dalam hukum administrasi Indonesia ditemukan dalam pasal 1 angka 2 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986 jo Undang-undang Nomor 9 Tahun 2004 Tentang PTUN : Badan atau pejabat tata usaha negara melaksanakan urusan pemerintahan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan Pasal 7 Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, mengatur Tata Urutan Peraturan perundang-undangan dimana peraturan perundangundangan tersebut menjadi dasar wewenang pemerintah. III. CARA MEMPEROLEH WEWENANG PEMERINTAHAN Secara teori terdapat tiga cara untuk memperoleh wewenang pemerintahan, yakni atribusi, delegasi, dan mandat. Menurut H.D, van Wijk/Willem Konijnenbelt, wewenang pemerintah diperolch dari tiga cara, yakni atribusi ( arributie) adalah pemberian wewenang pemerintahan oleh pembuat undang-undang kepada organ pemerintahan; delegasi ( delegatie) adalah pelimpahan wewenang pemerintahan dari satu organ pemerintahan kepada organ pemerintahan lainnya; mandat ( mandaat) adalah terjadi ketika organ pemerintahan mengijinkan kewenangannya dijalankan oleh organ lain atas namanya. Wewenang atribusi oleh H.D. van Wijk/Willem Konijnenbelt, dikatakan sebagai cara normal untuk memperoleh wewenang pemerintahan, dan dikatakan juga bahwa Wewenang atribusi merupakan wewenang untuk membuat keputusan ( beschikking) yang langsung bersumber kepada undang-undang. Menurut F.A.M. Stroink dan J.G. Steenbeek, mengatakan ada dua cara organ pemerintahan memperoleh wewenang, yakni atribusi dan delegasi. Atribusi berkenaan dengan penyerahan suatu wewenang baru sedangkan delegasi adalah menyangkut pelimpahan wewenang yang telah ada. Untuk wewenang mandat dikatakan tidak terjadi perubahan wewenang apapun, yang ada hanyalah hubungan internal. Dilihat dari beberapa pendapat dapat disimpulkan, bahwa secara teoritis pemerintah memperoleh wewenang melalui tiga cara dan sekaligus melekat sebagai wewenangnya, yakni wewenang atribusi, wewenang mandat, dan wewenang delegasi. Wewenang atribusi, adalah wewenang pemerintahan yang diperoleh dari peraturan perundang-undangan, artinya wewenang pemerintah dimaksud telah diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku, wewenang ini kemudian yang disebut sebagai asas legalitas (legalitietbeginsel), wewenang ini dapat didelegasikan maupun dimandatkan. Wewenang delegasi, adalah wewenang

yang diperoleh atas dasar pelimpahan wewenang dari badan/organ pemerintahan yang lain. Sifat wewenang delegasi adalah pelimpahan yang bersumber dari wewenang atribusi. Akibat hukum ketika wewenang dijalankan menjadi tanggungjawab penerima delegasi ( delegataris), Wewenang tersebut tidak dapat digunakan lagi oleh pemberi wewenang, kecuali pemberi wewenang (delegans) menilai terjadi penyimpangan atau pertentangan dalam menjalankan wewenang tersebut, sehingga wewenang dicabut kembali oleh pemberi delegasi ( mandans). Kesimpulannya wewenang delegasi dapat dicabut kembali oleh pemberi wewenang ( delegans) apabila dinilai ada pertentangan dengan konsep dasar pelimpahan wewenang. Wewenang mandat, adalah pelimpahan wewenang yang pada umumnya dalam hubungan rutin antara bawahan dengan atasan, kecuali dilarang secara tegas oleh peraturan perundang-undangan. Ditinjau dari segi tanggungjawab dan tanggunggugatnya, maka wewenang mandat tanggungjawab dan tanggunggugat tetap berada pemberi mandat ( mandans), penerima mandat (mandataris) tidak dibebani tanggungjawab dan tanggunggugat atas wewenang yang dijalankan. Setiap saat wewenang tersebut dapat digunakan atau ditarik kembali oleh pemberi mandat (mandans). S.F. Marbun menjelaskan, bahwa pengertian mandat menurut hukum administrasi negara dengan mandat menurut hukum tata negara ada perbedaan yang prinsipil, terkait dengan penjelasan UUD 1945 sebelum di amandemen yang merujuk kepada; Hubungan fungsional antara MPR dan Presiden, yakni Presiden sebagai mandataris MPR. Disini hubungan fungsional yang ada menggunakan istilah mandat (mandataris). Perbedaan yang sangat prinsipil, yakni berkaitan dengan tanggungjawab dan tanggunggugat pemberi mandat. Menurut hukum administrasi tanggungjawab dan tanggunggugat tetap ada pada pemberi mandat, sedangkan Presiden sebagai mandataris MPR dimaknai Presiden bertanggungjawab kepada MPR dan MPR bertanggungjawab kepada rakyat yang berdaulat, namun tanggunggugat tetap berada pada Presiden, sebenamya Wewenang dimaksud cenderung wewenang delegasi. PERBEDAAN WEWENANG ATRIBUSI, DELEGASI DAN MANDAT Cara perolehan Kekuatan mengikat Tanggung jawab dan tanggung gugat Hubungan wewenang ATRIBUSI Perundang-undangan Tetap melekat sebelum ada perubahan peraturan perundang-undangan Penerima wewenang bertanggung jawab mutlak akibat yg timbul dari wewenang Hubungan hukum pembentuk undang-undang dengan organ DELEGASI Pelimpahan Dapat dicabut atau ditarik kembali apabila ada pertentangan atau penyimpangan (contrarius actus) Pemberi wewenang (delegans) melimpahkan tanggung jawab dan tanggung gugat kepada penerima wewenang (delegataris) Berdasarkan atas wewenang atribusi yg dilimpahkan kepada MANDAT Pelimpahan Dapat ditarik atau digunakan sewaktu-waktu oleh pemberi wewenang (mandans) Berada pada pemberi mandat (mandans) Hubungan yang bersifat internal antara bawahan

KEBEBASAN BERTINDAK (FREIES ERMESSEN) Secara etimologis, istilah freies ermessen berasal dari bahasa Jerman, dalam bahasa Inggris dikenal dengan discretion, dan di Indonesia dikenal dengan diskresi yang diterjemahkan kebebasan bertindak atau keputusan yang diambil atas dasar penilaian sendiri. Menurut Laica Marzuki freies ermessen adalah Suatu kebebasan yang diberikan kepada badan atau pejabat administrasi dalam rangka penyelengaraan pemerintahan. Menurut Thomas J. Aaron pemaknaan diskresi mensyaratkan bahwa tindakan dilakukan atas dasar hukum, walaupun pertimbangan hukum dikesampingkan dan lebih bersifat pada pertimbangan moral. Dengan demikian moral lebih mendasari pertimbangan atas tindakan yang dilakukan daripada hukum, sehingga moral pejabat publik menjadi sangat menentukan tepat dan tidaknya tindakan yang dilakukan. Menurut Prajudi Admosudirdjo, diskresi adalah suatu kebebasan bertindak atau mengambil keputusan menurut pendapat sendiri, menurut Nata Saputra memaknai freies ermessen, adalah suatu kebebasan yang diberikan kepada alat administrasi, yaitu kebebasan yang pada asasnya memperkenankan alat administrasi negara menggunakan keeffektifan tercapainya suatu tujuan daripada berpegang teguh kepada ketentuan hukum. Menurut Bachsan Mustafa bahwa freies ermessen diberikan kepada pemerintah mengingat fungsi pemerintah atau administrasi negara yaitu menyelenggarakan kesejahteraan umum yang berbeda dengan fungsi kehakiman untuk menyelesaikan sengketa antara penduduk. Dari beberapa pengertian dan latar belakang pemberian wewenang freies ermessen dapat disimpulkan bahwa freies ermessen (discretion), adalah suatu wewenang untuk bertindak atau tidak bertindak atas dasar penilaiannya sendiri dalam menjalankan kewajiban hukum. Oleh karena tindakan yang dilakukan atas dasar penilaian dan pertimbangannya sendiri maka tepat dan tidaknya penilaian sangat dipengaruhi oleh moralitas pengambil tindakan.

Menurut Philipus M. Hadjon kekuasaan diskresi meliputi dua kewenangan yakni: @Kewenangan untuk memutuskan secara mandiri. @Kewenangan interpretasi terhadap norma-norma tersamar (vage norm). Batasan daripada diskresi menurut Muchsan : a. Tidak boleh bertentangan dengan sistem hukum yang berlaku(kaidah hukum positif). b.Hanya ditujukan demi kepentingan umum. Sjachran Basah merumuskan unsur-unsur freies ermessen dalam negara hukum diantaranya: a. Ditujukan untuk menjalankan tugastugas service public. b.Merupakan sikap tindak yang aktif dari administrasi negara. c. Sikap tindak itu dimungkinkan oleh hukum. d.Sikap tindak itu diambil atas inisatif sendiri. e. Sikap tindak itu dimaksudkan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang konkrit. f. Sikap tindak itu dapat dipertanggungjawabkan, baik secara moral kepada Tuhan YME maupun secara hukum. PENYELENGGARAAN KEPENTINGAN UMUM Menurut Jazim Hamidi menemukan pengertian Asas-asas Umum Pemerintahan yang Layak (AAUPL) berikut ini:a. Asas-asas umum pemerintahan yang layak merupakan nilai-nilai etik yang hidup dan berkembang dalam lingkungan hukum administrasi Negara. b. Asas-asas umum pemerintahan yang layak berfungsi sebagai pegangan bagi pejabat administrasi Negara dalam menjalankan fungsinya, merupakan alat uji bagi hakim administrasi dalam menilai tindakan administrasi Negara (yang berwujud penetapan/beschikking), dan sebagai dasar pengajuan gugatan bagi pihak penggugat. c. Sebagian besar dari asas-asas umum pemerintahan yang layak masih merupakan asas-asas yang tidak tertulis, masih abstrak, dan dapat digali dalam praktik kehidupan di masyarakat. d. Sebagian asas yang lain sudah menjadi kaidah hukum tertulis dan terpencar dalam berbagai peraturan hukum positif. Meskipun sebagian dari asas itu berubah menjadi kaidah hukum tertulis, sifatnya tetap sebagai asas hukum. ASAS-ASAS PEMERINTAHAN YANG BAIK (Algemen Beginselen van Behoorlyk Bestuur) Dalam perubahan tentang pelaksanaan suatu pemerintahan yang baik ada beberapa pandangan yaitu : Komisi de Monchy: Pada tahun 1950 pemerintah Belanda membentuk komisi yang diketuai oleh Mr. De Monchy yang bertugas menyelidiki cara-cara perlindungan bagi penduduk/rakyat. Komisi ini telah berhasil menyusun asas-asas umum untuk pelaksanaan suatu pemerintahan yang baik yang diberi nama General Principle of Good Government Adapun asas-asas umum tersebut adalah : 1. Asas Kepastian, artinya didalam pemerintah menjalankan wewenangnya haruslah sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkannya. Pemerintah harus menghormati hak-hak seseorang yang diperoleh dari pemerintah dan tidak boleh ditarik kembali. Pemerintah harus konsekwen atas keputusannya demi terciptanya suatu kepastian. 2. Asas keseimbangan, yaitu adanya keseimbangan antara pemberian sanksi terhadap suatu kesalahan seseorang pegawai, janganlah hukuman bagi seseorang berlebihan dibandingkan dengan kesalahannya, misalnya seorang pegawai baru tidak masuk kerja langsung dipecat, hal ini tidak seimbang dengan hukuman yang diberikan kepadanya. Dengan adanya asas ini maka lebih menjamin terhadap perlindungan bagi pegawai negeri. 3. Asas Kesamaan, artinya pemerintah dalam menghadapi kasus yang sama/fakta yang sama, pemerintah harus bertindak yang sama tidak ada perbedaan, tidak ada pilih kasih dan lain sebagainya. 4. Asas Bertindak Cermat, artinya pemerintah senantiasa bertindak secara hati-hati agar tidak menimbulkan kerugian bagi Warga masyarakat, misalnya kewajiban pemerintah memberi tanda peringatan terhadap jalan yang sedang diperbaiki, jangan sampai dapat menimbulkan korban akibat jalan diperbaiki. 5. Asas Motivasi, artinya setiap keputusan pemerintah harus mempunyai alasan atau motivasi yang benar dan adil dan jelas. Jadi tindakan-tindakan pemerintah disertai alasan-alasan yang tepat dan benar. 6. Asas Jangan Mencampuradukan Kewenangan, artinya pemerintah jangan menggunakan wewenang untuk tujuan yang lain, selain tujuan yang sudah ditetapkan untuk wewenang itu. 7. Asas Fair Play, artinya pemerintah harus memberikan kesempatan yang layak kepada warga masyarakat untuk mencari kebenaran dan keadilan, misalnya memberi hak banding terhadap keputusan pemerintah yang tidak diterima. 8. Asas Keadilan dan Kewajaran, artinya pemerintah tidak boleh bertindak sewenang-wenang atau menyalahgunakan wewenang yang diberikan kepadanya untuk kepentingan pribadinya. 9. Asas Menanggapi Penghargaan Yang Wajar, artinya agar tindakan pemerintah dapat menimbulkan harapan-harapan yang wajar bagi yang berkepentingan, misalnya seorang pegawai negeri minta izin untuk menggunakan kendaraan pribadi pada waktu dinas, yang kemudian izin yang telah diberikan untuk menggunakan kendaraan pribadi dicabut, tindakan pemerintah demikian dianggap salah/tidak wajar. 10.Asas Meniadakan Akibat-Akibat Suatu Keputusan Yang Batal Asas ini menghendaki jika terjadi pembatalan atas suatu keputusan, maka yang bersangkutan harus diberi ganti rugi atau rehabilitasi. 11. Asas Perlindungan artinya bahwa setiap pegawai negeri diberi hak kebebasan untuk mengatur kehidupan pribadinya sesuai dengan pandangan hidup yang dianutnya atau sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. 12. Asas Kebijaksanaan, artinya pemerintah dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan undang-undang dan menyelenggarakan kepentingan umum. Unsur bijaksana harus dimiliki oleh setiap pegawai/Pemerintah. 13. Asas Penyelenggaraan Kepentingan Umum, artinya tugas pemerintah untuk mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Pegawai negeri Sebagai aparatur Negara, abdi Negara, dan abdi masyarakat dan Pemerintah menyelenggarakan tugas pemerintah dan pembangunan. Azas Umum Pemerintahan Yang Baik (AUPB) Menurut UU RI Nomor 28 Tahun 1999. Dalam Undang-Undang RI Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, pasal 1 angka 6 menyebutkan bahwa Azas Umum Pemerintahan Negara yang Baik adalah azas yang menjunjung tinggi norma kesusilaan, kepatutan, dan untuk mewujudkan Penyelenggara Negara yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme.

Dalam Bab III Pasal 3 UU No. 28 Tahun 1999 menyebutkan Azas-Azas Umum Penyelengaraan Negara meliputi : 1.Azas Kepastian; 2.Azas Tertib Penyelenggaran Pemerintahan; 3. Azas Kepentingan Umum; 4. Azas Keterbukaan; 5. Azas Proporsionalitas; 6. Azas Profesionalitas; 7. Azas Akuntabilitas. Dalam penjelasan dari Pasal 3 dijelaskan yang dimaksud dengan : 1. Azas Kepastian adalah azas dalam Negara yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, kepatutan dan keadilan dalam setiap kebijakan Penyelenggara Pemerintah. 2. Azas Tertib Penyelenggaran Negara adalah azas yang menjadi landasan keteraturan, keserasian, dan keseimbangan dalam pengendalian penyelenggaraan Negara. 3. Azas Kepentingan Umum adalah azas yang mendahulukan kesejahteraan umum, dengan cara yang aspioratif, akomodatif, san selektif. 4. Azas Keterbukaan adalah azas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan Negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia Negara. 5. Azas Proporsionalitas adalah azas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban Penyelenggara Negara. 6. Azas Profesionalitas adalah azas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 7. Azas Akuntabilitas adalah azas yang menemukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan Penyelenggara Negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi Negara sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

KETETAPAN TATA USAHA NEGARA Pengertian Ketetapan: Istilah beschikking" sudah sangat tua dan dari segi kebahasaan digunakan dalam berbagai arti. Meskipun demikian dalam pembahasan ini istilah beschikking hanya dibatasi dalam pengertian yuridis, khususnya Administrasi Negara (HAN). Menurut H.D van Wijk/Willem Konijnenbelt, ketetapan merupakan keputusan pemerintahan untuk hal yang bersifat konkret dan individual (tidak ditujukan untuk umum) dan sejak dulu telah dijadikan instrumen yuridis pemerintahan yang utama. Beberapa denisi tentang beschikking: a. Ketetapan adalah pernyataan kehendak dari organ pemerintahan untuk (melaksanakan) hal khusus, ditujukan untuk menciptakan hubungan baru, mengubah atau menghapus hubungan yang ada. b.Ketetapan adalah suatu pernyataan kehendak yang disebabkan oleh surat pemohonan yang diajukan, atau setidak-tidaknya keinginan atau keperluan yang dinyalakan. c. Secara sederhana denisi ketetapan dapat diberikan: suatu tindakan publik sepihak dari organ pemerintahan yang ditujukan pada peristiwa konkret. d. Ketetapan adalah keputusan publik yang bersifat konkret dan individual: keputusan itu berasal dari organ pemerintahan, yang didasarkan pada kewenangan publik dibuat untuk satu atau lebih individu atau berkenaan dengan satu atau lebih perkara atau keadaan. Keputusan itu memberikan suatu kewajiban pada seseorang atau organisasi, memberikan kewenangan atau hak pada mereka e. Secara umum, ketetapan dapat diartikan; keputusan yang berasal dari organ pemerintahan yang ditujukan untuk menimbulkan akibat. f. Beschikking adalah keputusan tertulis dari administrasi Negara yang mempunyai akibat hukum. g. Beschikking adalah suatu tindakan yang bersifat sepihak dalam bidang pemerintahan yang dilakukan oleh suatu badan pemerintahan berdasarkan wewenang yang khusus. Unsur-unsur Ketetapan; Unsur yang terdapat dalam beschikking, yaitu: 1.Pernyataan kehendak sepihak ( enjizdige schriftelijke wilsverklaring); 2.Dikeluarkan oleh organ pemerintahan (bestuursorgaan); 3.Didasarkan pada kewenangan yang bersifat publik (publiekbevoegdheid); 4.Ditujukan untuk hal khusus atau peristiwa konkret dan individual; 5.Dengan maksud untuk menimbulkan akibat dalam bidang administrasi. Sebelum menguraikan unsur-unsur ketetapan ini, terlebih dahulu dikemukakan pengertian ketetapan berdasarkan Pasal 1 angka 3 UU No.5 tahun 1986 tentang PTUN jo UU No.9 Tahun 2004 tentang Perubahan UU No.5 tahun 1986 tentang PTUN yaitu sebagai berikut: Pernyataan kehendak tertulis secara sepihak dari organ pemerintah pusat, yang diberikan berdasarkan kewajiban atau kewenangan dari tata Negara atau administrasi, yang dimaksudkan untuk penentuan, penghapusan atau pengakhiran hubungan yang sudah ada, atau menciptakan hubungan baru, yang memuat penolakan sehingga terjadi penetapan, perubahan, penghapusan atau penciptaan" Berdasarkan denisi ini tampak ada enam unsur keputusan yaitu sebagai berikut: a. Suatu pernyataan kehendak tertulis. b.Diberikan berdasarkan kewajiban atau kewenangan dari tata Negara atau administrasi. c. Bersifat sepihak. d. Dengan mengecualikan keputusan yang bersifat umum. e. Yang dimaksudkan untuk penentuan, penghapusan, atau pengakhiran huhungan yang sudah ada, atau menciptakan hubungan baru, yang memuat penolakan sehingga terjadi penetapan, perubahan, penghapusan, atau penciptaan. f. Berasal dari organ pemerintahan.

Berdasarkan pasal 1 angka 3 UU No.5 Tahun 1986, ketetapan didenisikan sebagai bcrikut: suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan atau pejabat tata Usaha Negara yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang bersifat konkret, individual dan nal, yang menimbulkan akibat bagi seseorang atau badan perdata." Berdasarkan Definisi ini tampak bahwa KTUN memiliki unsur-unsur antara lain: a. penetapan tertulis. b. Dikeluarkan oleh Badan/Pejabat TUN. c. Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. d. Bersifat konkret, individual, dan nal. e.Menimbulkan akibat hukum. f. Seseorang atau badan perdata. PERNYATAAN KEHENDAK SEPIHAK SECARA TERTULIS. Secara teoretis, hubungan publik (publiekrechtsbetrekking) senantiasa bersifat sepihak atau bersegi satu, tindakan administrasi adalah tindakan sepihak. Oleh karena itu, hubungan publik berbeda halnya dengan hubungan dalam bidang perdata yang selalu bersifat dua pihak (tweejizdige) atau lebih karena dalam perdata disamping ada kesamaan kedudukan juga ada asas otonomi yang berupa kebebasan pihak yang bersangkutan untuk mengadakan hubungan atau tidak serta menentukan apa isi hubungan itu. Sebagai wujud dari pernyataan kehendak sepihak, pembuatan dan penerbitan ketetapan hanya berasal dari pihak pcmerintah, tidak tergantung kepada pihak lain. Ketika pemerintah dihadapkan pada peristiwa konkret dan pemerintah memiliki motivasi dan keinginan untuk menyelesaikan peristiwa tersebut, pemerintah diberi wewenang untuk mengambil tindakan secara sepihak dengan menuangkan motivasi dan keinginannya itu dalam bentuk ketetapan. Artinya ketetapan merupakan hasil dari tindakan yang dituangkan dalam bentuk tertulis, sebagai wujud dari motivasi dan keinginan pemerintah. Menurut F.C.M.A Michiels, ketetapan adalah sebagai tindakan, yang merupakan wujud dari motieven-wil-keuze-gedrag/handeling (alasan-alasan-kehendak-pilihan-tindakan). Menurut Soehardjo, keputusan Tata Usaha Negara adalah keputusan sepihak dari organ pemerintah. Ini tidak berarti bahwa pihak kepada siapa keputusan itu ditujukan sebelumnya sama sekali tidak mengetahui akan adanya keputusan itu. Dengan kata lain, inisiatif sepenuhnya ada pada pihak pemerintah. Pada umumnya para ahli berpendapat bahwa keputusan itu adalah keputusan sepihak karena bagaimanapun keputusan itu tergantung dari pemerintah, yang dapat memberikan atau menolaknya. Dengan kata lain, dikatakan sepihak karena pemerintah memutuskan untuk melakukan tindakan itu sepihak, artinya tanpa persetujuan kehendak pihak lainnya. Pernyataan kehendak sepihak yang dituangkan dalam bentuk tertulis ini muncul dalam dua kemungkinan yaitu:1. Ditujukan ke dalam (naar binnen gericht), yang artinya ketetapan berlaku ke dalam lingkungan administrasi Negara sendiri. 2.Ditujukan ke luar ( naar buiten gericht), yang berlaku bagi Warga Negara atau badan perdata. Atas dasar pembagian ini lalu dikenal dua jenis ketetapan, yaitu : a. ketetapan intern ( interne beschikking)dan b. ketetapan ekstern (externe beschikking). Ketetapan yang relevan dengan pembahasan ini hanyalah ketetapan ekstern, yang berarti ditujukan keluar dari administrasi. Berdasarkan penjelasan Pasal 1 angka 3 UU No. 5 tahun 1986, istilah penetapan tertulis menunjuk kepada isi dan bukan kepada bentuk keputusan yang dikeluarkan oleh badan atau pejabat TUN. Keputusan itu memang diharuskan tertulis, namun yang disyaratkan tertulis bukanlah bentuk formatnya seperti surat keputusan pengangkatan dan sebagainya. Persyaratan tertulis itu diharuskan untuk kemudahan segi pembuktian. Oleh karena itu, sebuah memo atau nota dapat memenuhi syarat tertulis tersebut dan akan merupakan keputusan badan atau pejabat tata usaha Negara menurut undang-undang ini apabila sudah jelas: a. badan atau pejabat TUN yang mengeluarkannya. b. maksud serta mengenai hal apa isi tulisan itu. c. kepada siapa tulisan itu ditujukan dan apa yang ditetapkan di dalamnya. B. Dikeluarkan oleh Pemerintah Keputusan dan ketetapan merupakan fenomena kenegaraan dan pemerintahan. Hampir semua organ kenegaraan dan pemerintahan berwenang untuk mengeluarkan ketetapan atau keputusan. Dalam praktik, kita mengenal ketetapan atau keputusan yang dikeluarkan oleh organ-organ kenegaraan seperti ketetapan atau keputusan MPR, keputusan Ketua DPR, keputusan presiden selaku kepala Negara, keputusan hakim dan sebagainya. Meskipun demikian, ketetapan yang dimaksudkan di sini hanyalah ketetapan yang dikeluarkan oleh pemerintah selaku administrasi Negara. Ketetapan yang dikeluarkan oleh organ-organ kenegaraan tidak termasuk dalam pengertian beschikking berdasarkan administrasi. Bila ketetapan dibatasi pada ketetapan yang dikeluarkan oleh pemerintah atau Tata usaha Negara, maka akan memunculkan pertanyaan siapa yang dimaksud dengan pemerintah atau tata usaha Negara. C. Berdasarkan peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Telah disebutkan bahwa ketetapan merupakan hasil dari tindakan pemerintahan. Dalam Negara, setiap tindakan pemerintah harus didasarkan pada asas legalitas, yang berarti pcmerintah tunduk pada undang-undang. Dalam hubungannya dengan pelaksanaan tugas, pemerintah harus tunduk pada asas legalitas sebagaimana telah dirumuskan secara tersendiri dalam prinsip Negara melalui ungkapan; prinsip pemerintahan berdasarkan undang-undang. Esensi dari asas legalitas adalah wewenang, yaitu kemampuan untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu.

Menurut H.D. Stout, wewenang adalah pengertian yang berasal dari organisasi pemerintahan, yang dapat dijelaskan sebagai keseluruhan aturan yang berkenaan dengan perolehan dan penggunaan wewenang-wewenang pemerintahan oleh subjek publik di Menurut F.P.C.L Tonnaer, kewenangan pemerintah dalam kaitan ini dianggap sebagai kemampuan untuk melaksanakan positif, dan dengan begitu, dapat diciptakan hubungan antara pemerintah dengan warga Negara. Pembuatan dan penerbitan ketetapan harus didasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku atau harus didasarkan pada wewenang pemerintahan yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan. Tanpa dasar kewenangan pemerintah atau tata usaha Negara tidak dapat membuat dan menerbitkan ketetapan atau ketetapan itu menjadi tidak sah. Secara teoretis, kewenangan yang bersumber dari peraturan perundang-undangan tersebut diperoleh melalui tiga cara yaitu: l. Atribusi; 2. Delegasi; 3. Mandat. Indroharto mengatakan bahwa atribusi terjadi pemberian wewenang pemerintahan yang baru oleh suatu ketentuan dalam peraturan perundang-undangan. Di sini diciptakan suatu wewenang baru. Lebih lanjut disebutkan bahwa legislator yang kompeten untuk memberikan atribusi wewenang pemerintahan itu dibedakan antara: a. Yang berkedudukan sebagai original legislator, di Negara kita di tingkat pusat adalah MPR sebagai pembentuk konstitusi dan DPR bersama-sama pemerintah sebagai yang melahirkan suatu undang-undang, dan di tingkat daerah adalah DPRD dan pemda yang melahirkan Peraturan Daerah, b. Yang bertindak sebagai delegated legislator, seperti presiden yang berdasar pada suatu ketentuan undang-undang mengeluarkan peraturan pemerintah di mana diciptakan wewenang-wewenang pemerintahan kepada badan atau jabatan tata usaha Negara tertentu. Pada delegasi terjadilah pelimpahan suatu wewenang yang telah ada oleh badan atau jabatan tata usaha Negara yang telah memperoleh wewenang pemerintahan secara atributif kepada badan atau jabatan tata usaha Negara lainnya. Jadi suatu delegasi selalu didahului oleh adanya Negara tertentu. Mengenai atribusi, delegasi dan mandate ini, H.D. van Wijk/Willem Konijnenbelt mendefinisikan sebegai berikut:a. Attributie adalah pemberian wewenang pemerintahan oleh pembuat undang-undang kepada organ pemerintahan. b. Delegatie adalah pelimpahan wewenang pemerintahan dari satu organ pemerintahan kepada organ pemerintah lainnya. c. Mandat terjadi ketika organ pemerintahan mengizinkan kewenangannya dijalankan oleh organ lain atas namanya. Pelimpahan wewenang oleh organ pemerintahan kepada organ lain untuk mengambil keputusan dengan tanggungjawab sendiri. Artinya dalam penyerahan wewenang melalui delegasi ini, pemberi wewenang telah lepas dari tanggungjawab hukum atau dari tuntutan pihak ketiga jika dalam penggunaan wewenang itu menimbulkan kerugian pada pihak lain. Berdasarkan keterangan tersebut di atas, tampak bahwa wewenang yang diperoleh secara atribusi itu bersifat asli yang berasal dari peraturan perundang-undangan. Dengan kata lain, organ pemerintahan memperoleh kewenangan secara langsung dari redaksi pasal tertentu dalam suatu peraturan perundang-undangan. Dalam hal atribusi, penerima wewenang dapat menciptakan wewenang baru atau memperluas wewenang yang sudah ada dengan tanggungjawab intern dan ekstern pelaksanaan wewenang yang diatribusikan sepenuhnya berada pada penerima wewenang (atributaris). Pada delegasi tidak ada penciptaan wewenang, namun hanya ada pelimpahan wewenang dari pejabat yang satu kepada pejabat yang lainnya. Tanggungjawab yuridis tidak lagi berada pada pemberi delegasi ( delegans), tetapi beralih pada penerima delegasi (delegataris). Sementara itu, pada mandate, penerima mandate ( mandataris) hanya bertindak untuk dan atas nama pemberi mandate (mandans), tanggungjawab akhir keputusan yang diambil mandataris tetap berada pada mandans. Hal ini karena pada dasarnya, penerima mandate ini bukan pihak lain dari pemberi No. 1 2 3 4 5 PERBEDAAN ANTARA DELEGASI DAN MANDAT Delegasi Mandat Pelimpahan wewenang Perintah untuk melaksanakan Kewenangan tidak dapat dijalankan secara incidental oleh Kewenangan dapat sewaktu-waktu dilaksanakan oleh mandans organ yang memiliki wewenang asli Terjadi peralihan tanggung jawab Tidak terjadi peralihan tanggung jawab Harus berdasarkan UU Tidak harus berdasarkan UU Harus tertulis Dapat tertulis, dapat pula secara lisan

Philipus M. Hadjon; memuat perbedaan antara delegasi dan mandate sebagai berikut: Mandat Delegasi a. Prosedur pelimpahan Dalam hubungan rutin atasan-bawahan: hal Dari suatu organ pemerintahan kepada organ lain: biasa kecuali dilarang secara tegas dengan peraturan perundang-undangan b. tanggung jawab dan Tetap pada pemberi mandat Tanggung jawab dan tanggung gugat beralih pada tanggung gugat delegataris c. kemungkinan si pemberi Setiap saat dapat menggunakan sendiri Tidak dapat menggunakan wewenang itu lagi menggunakan wewenang wewenang yg dilimpahkan itu. kecuali

D. Bersifat Konkret, Individual dan Final Berdasarkan rangkaian norma, sebagaimana yang dikenal dalam ilmu administrasi Negara dan tata Negara, ketetapan memiliki sifat norma yang individual-konkret dari rangkaian norma yang bersifat umum dan abstrak ke dalam peristiwa-peristiwa kongkret, maka dikeluarkanlah ketetapan-ketetapan yang membawa peristiwa umum itu sehingga dapat dilaksanakan. Tidak untuk umum, tertentu berdasarkan apa yang dituju oleh keputusan itu, dan konkret berarti tidak bersifat umum (tidak abstrak) objeknya, yang mungkin terbatas waktu atau tempatnya. Berdasarkan Pasal 1 angka 3 UU N0. 5 tahun 1986, sebagaimana disebutkan di atas, ketetapan memiliki sifat konkret, individual, dan final. Dalam penjelasannya disebutkan bahwa konkret berarti objek yang diputuskan dalam KTUN itu tidak abstrak, tetapi berwujud, tertentu atau dapat ditentukan, umpamanya keputusan mengenai rumah si A, izin usaha bagi si B, pemberhentian si A sebagai pegawai negeri. Individual artinya KTUN itu tidak ditujukan untuk umum, tetapi tertentu baik alamat maupun hal yang dituju. Kalau yang dituju itu lebih dari seorang, tiap-tiap nama orang yang terkena ketetapan itu disebutkan Umpamanya, ketetapan tentang pembuatan atau pelebaran jalan dengan lampiran yang menyebutkan nama-nama orang yang terkena ketetapan tersebut. Final, berarti sudah definitive sehingga dapat menimbulkan persetujuan instansi atasan atau instansi lain belum bersifat nal sehingga belum dapat menimbulkan suatu hak atau kewajiban pada pihak yang bersangkutan. Umpamanya, ketetapan pengangkatan seorang pegawai negeri memerlukan persetujuan dari Badan Administrasi Kepegawaian Negara (BAKN). E. Menimbulkan Akibat Telah disebutkan bahwa ketetapan merupakan wujud konkret dari tindakan pemerintahan. Secara teoretis, tindakan berarti tindakantindakan yang berdasarkan sifatnya dapat menimbulkan akibat tertentu. Atau tindakan adalah tindakan yang dimaksudkan untuk menciptakan hak dan kewajiban. Dengan demikian, tindakan pemerintahan merupakan tindakan yang dilakukan oleh organ pemerintahan untuk menimbulkan akibat-akibat tertentu khususnya di bidang pemerintahan atau administrasi Negara. Meskipun pemerintah dapat melakukan tindakan privat, dalam hal ini hanya dibatasi pada tindakan pemerintah yang bersifat publik. Tindakan publik, yaitu tindakan-tindakan yang dilakukan berdasarkan kewenangan yang bersifat publik. Menurut J.B.J.M. ten Berge, tindakan-tindakan yang bersifat publik hanya dapat lahir dan kewenangan yang bersifat publik. Telah disebutkan bahwa tindakan publik yang bersifat sepihak dan dua pihak atau lebih. Dalam hubungannya dcngan ketetapan ini, tindakan yang dimaksud hanyalah tindakan publik yang bersifat sepihak. Berdasarkan paparan mengenai tindakan hukum pcmerintahan tersebut tampak bahwa ketetapan merupakan instrument yang digunakan oleh organ pemerintahan dalam bidang publik dan digunakan untuk menimbulkan akibat-akibat tertentu. Akibat yang dimaksud lahir dari keputusan adalah munculnya hak, kewajiban, kewenangan, atau status tertentu. Dengan kata lain, akibat yang dimaksudkan adalah muncul atau lenyapnya hak dan kewajiban bagi subjek tertentu. Akibat yang lahir dari tindakan, dalam hal ini akibat dikeluarkannya ketetapan, berarti muncul atau lenyapnya hak dan kewajiban bagi subjek tertentu. F. Seseorang atau Badan Perdata Dalam lalu lintas pergaulan khususnya dalam bidang keperdataan dikenal istilah subjek yaitu, pendukung hak-hak dan kewajibankewajiban, Subjek ini terdiri dari manusia dan badan. Kualikasi untuk menetukan subjek adalah mampu atau tidak mampu untuk mendukung atau memikul hak dan kewajiban. Berdasarkan keperdataan, seseorang atau badan yang dinyatakan tidak mampu seperti orang yang berada dalam pengampuan atau perusahaan yang dinyatakan pailit tidak dapat dikualikasi sebagai subjek. Orang yang berada dalam pengampuan dan perusahaan pailit dikategorikan tidak memiliki kecakapan untuk mendukung hak dan kewajiban. Ketetapan sebagai wujud dari tindakan publik sepihak dari organ pemerintahan ditujukan pada subjek yang berupa seseorang atau badan perdata yang memiliki kecakapan untuk melakukan tindakan. Macam-macam Ketetapan atau Badan Perdata Secara teoretis, dalam administrasi, dikenal ada beberapa macam dan sifat ketetapan, yaitu sebagai berikut: a. Ketetapan Deklaratoir dan Ketetapan Konstitutif: Ketetapan deklaratoir adalah ketetapan yang tidak mengubah hak dan kewajiban yang telah ada, tetapi sekadar menyatakan hak dan kewajiban tersebut. Ketetapan mempunyai sifat deklaratoir ketika ketetapan itu dimaksudkan untuk menetapkan mengikatnya suatu hubungan hukum atau ketetapan itu maksudnya mengakui suatu hak yang sudah ada, sedangkan ketika ketetapan itu melahirkan atau menghapuskan suatu hubungan hukum atau ketetapan itu menimbulkan suatu hak baru yang sebelumnya tidak dipunyai oleh seseorang yang namanya tercantum dalam ketetapan itu, ia disebut dengan ketetapan yang bersifat konstitutif. Ketetapan yang bersifat konstitutif dapat berupa hal-hal diantaranya: 1. Ketetapan-ketetapan yang meletakkan kewajiban untuk melakukan sesuatu, tidak melakukan sesuatu, dan memperkenankan sesuatu. 2. Ketetapan-ketetapan yang memberikan status pada seseorang atau perusahaan, dan oleh karena itu seseorang atau perusahaan itu dapat menerapkan aturan tertentu. 3. Ketetapanketetapan yang meletakkan prestasi atau harapan pada perbuatan pemerintah subsidi atau bantuan. 4. Ketetapan yang mengizinkan

sesuatu yang sebelumnya tidak diizinkan. 5. Ketetapan-ketetapan yang menyetujui atau membatalkan berlakunya ketetapan organ yang lebih rendah pengesahan (goedkeuring) atau pembatalan (vernietiging). b. Ketetapan yang menguntungkan dan yang memberi beban: Ketetapan bersifat menguntungkan artinya ketetapan itu memberikan hak-hak atau memberikan kemungkinan untuk mcmperoleh sesuatu yang tanpa adanya ketetapan itu tidak akan ada atau bila ketetapan itu memberikan keringanan beban yang ada atau mungkin ada. Sementara itu, ketetapan yang memberi beban adalah ketetapan yang meletakkan kewajiban yang sebelumnya tidak ada atau ketetapan mengenai penolakan terhadap permohonan untuk memperoleh keringanan. Pemilahan jenis ketetapan yang menguntungkan dan memberi beban ini penting terutama dalam kaitannya dengan pencabutan ketetapan. Ketetapan yang memberi beban atau yang memberatkan ini relatif lebih mudah dalam pencabutannya. Di samping itu, relevansi pembedaan ini ialah kemungkinan terjadinya gugatan. Dalam KTUN itu menguntungkan, gugatan bakal muncul dari pihak ke III, sedangkan dalam hal KTUN memberi beban (penetapan pajak), gugatan berasal dari pihak II. c. Ketetapan Eenmalig dan ketetapan yang permanen: Ketetapan eenmalig adalah ketetapan yang hanya berlaku sekali atau ketetapan sepintas lalu, yang dalam istilah lain disebut ketetapan yang bersifat kilat seperti IMB atau izin untuk mengadakan rapat umum. Ketetapan permanen adalah ketetapan yang memiliki masa berlaku yang relatif lama. WF. Prins menyebutkan beberapa ketetapan yang dianggap sebagai ketetapan sepintas lalu, yaitu: 1. Keputusan yang bermaksudkan mengubah teks keputusan yang terdahulu. 2. Keputusan negatif sebab keputusan semacam ini maksudnya untuk tidak melaksanakan sesuatu hal dan tidak merupakan halangan untuk bertindak, bila terjadi perubahan dalam anggapan atau keadaan. 3. Penarikan kembali atau pembatalan, karena tidak membawa hasil yang positif dan tidak menjadi halangan untuk mengambil keputusan yang identik dengan yang dibatalkan itu. 4. Pernyataan dapat dilaksanakan d. Ketetapan yang bebas dan terikat. Ketetapan yang bersifat bebas adalah ketetapan yang didasarkan pada kewenangan bebas atau kebebasan bertindak yang dimiliki oleh pejabat tata usaha Negara baik dalam bentuk kebebasan kebijaksanaan maupun kebebasan interpretasi. Ketetapan yang terikat adalah ketetapan yang didasarkan pada kewenangan pemerintahan yang bersifat terikat ( gebonden bevoegdheid), berarti ketetapan itu hanya melaksanakan ketentuan yang sudah ada tanpa adanya ruang kebebasan bagi pejabat yang bersangkutan. e. Ketetapan Positif dan Negatif Ketetapan positif adalah ketetapan yang menimbulkan hak dan kewajiban bagi yang dikenai ketetapan, sedangkan ketetapan negatif adalah ketetapan yang tidak menimbulkan perubahan keadaan hukum yang telah ada. Ketetapan positif terbagi dalam lima golongan, yaitu: l. Keputusan, yang pada umumnya melahirkan keadaan hukum baru. 2. Keputusan, yang melahirkan keadaan hukum baru bagi objek tertentu. 3. Keputusan, yang menyebabkan berdirinya atau bubarnya badan hukum. 4. Keputusan, yang membebankan kewajiban baru kepada seseorang atau beberapa orang(perintah). 5. Keputusan, yang memberikan hak baru kepada seseorang atau beberapa orang (keputusan yang menguntungkan) Ketetapan negatif dapat berbentuk pernyataan tidak berkuasa ( onbevoegd verklaring) atau suatu penolakan (afwizing). Ketetapan negatif yang dimaksudkan di sini adalah ketetapan yang ditinjau dari akibatnya, yakni tidak menimbulkan perubahan hukum yang telah ada. Dengan kata lain, bukan ketetapan negatif atau ktif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 UU No.5 Tahun 1986 tentang PTUN jo. UU No.9 Tahun 2004 tentang Perubahan UU PTUN tersebut di atas. f. Ketetapan Perorangan dan Kebendaan Ketetapan perorangan (persoonlijk beschikking) adalah ketetapan yang diterbitkan berdasarkan kualitas pribadi orang tertentu atau ketetapan yang berkaitan dengan orang, seperti ketetapan tentang pengangkatan atau pemberhentian seseorang sebagai pegawai negeri atau sebagai pejabat Negara, ketetapan mengenai surat izin mengemudi, dan sebagainya. Ketetapan kebendaan (zakelijk beschikking) adalah keputusan yang diterbitkan atas dasar kualitas kebendaan atau ketetapan yang berkaitan dengan benda, misalnya sertikat hak atas tanah. Dapat terjadi suatu ketetapan itu dikategorikan bersifat perorangan sekaligus kebendaan, misalnya surat izin mendirikan bangunan atau izin usaha industri. Dalam hal ini ketetapan itu memberikan hak pada seseorang yang akan mendirikan bangunan atau industri (tertuju pada orang), dan di sisi lain ketetapan itu memberikan keabsahan didirikannya bangunan atau industri (tertuju pada benda). Syarat-syarat Pembuatan Ketetapan Pembuatan ketetapan tata usaha Negara harus memperhatikan beberapa persyaratan agar keputusan tersebut menjadi sah menurut hukum (rechtsgeldig) dan memiliki kekuatan hukum ( rechtskracht) untuk dilaksanakan. Syarat-syarat yang harus diperhatikan dalam pembuatan ketetapan ini mencakup syarat material dan syarat formal, yaitu: a. Syarat-syarat material terdiri dari : 1. Organ pemerintahan yang membuat ketetapan harus berwenang 2. Karena ketetapan suatu pernyataan kehendak (wilsverklaring), ketetapan tidak boleh mengandung kekurangan-kekurangan yuridis, seperti penipuan( bedrog),

paksaan (dwang) atau suap(omkoping), kesesatan (dwaling). 3. Ketetapan harus berdasarkan suatu keadaan tertentu. 4. Ketetapan harus dapat dilaksanakan dan tanpa melanggar peraturan-peraturan lain, serta isi dan tujuan ketetapan itu harus sesuai dengan isi dan tujuan peraturan dasarnya. b. Syarat-syarat formal terdiri dari: 1. Syarat-syarat yang ditentukan berhubung dengan persiapan dibuatnya ketetapan dan berhubung dengan cara dibuatnya ketetapan harus dipenuhi. 2. Ketetapan harus diberi bentuk yang telah ditentukan dalam peraturan perundangundangan yang menjadi dasar dikeluarkannya ketetapan itu. 3. Syarat-syarat berhubung dengan pelaksanaan kettapan itu harus dipenuhi 4. Jangka waktu harus ditentukan antara timbulnya hal-hal yang menyebabkan dibuatnya dan diumumkannya ketetapan itu harus diperhatikan. Apabila syarat material dan syarat formal ini telah terpenuhi, ketetapan itu sah menurut hukum ( rechtsgeldig), artinya dapat diterima sebagai suatu bagian dari tertib hukum atau sejalan dengan ketentuan hukum yang ada baik secara prosedural/formal maupun material. Sebaliknya, bila satu atau beberapa persyaratan itu tidak terpenuhi, ketetapan itu mengandung kekurangan dan menjadi tidak sah. A.M.Donner mengemukakan akibat-akibat dari ketetapan yang tidak sah yaitu sebagai berikut: a. Ketetapan itu harus dianggap batal sama sekali, b. Berlakunya ketetapan itu dapat digugat: 1. Dalam banding( beroep); 2. Dalam pembatalan oleh jabatan ( amtshalve vernietiging) karena bertentangan dengan undang-undang; 3. Dalam penarikan kembali ( intrekking) oleh kekuasaan yang berhak (competent) mngeluarkan ketetapan itu. c. Dalam hal ketetapan tersebut, sebelum dapat berlaku, memerlukan persetujuan (peneguhan) suatu badan kenegaraan yang lebih tinggi, persetujuan itu tidak diberi. d. Ketetapan itu diberi tujuan lain daripada tujuan permulaannya(conversie). Van der Wel menyebutkan enam macam akibat suatu ketetapan yang mengandung kekurangan yaitu sebagai berikut: 1. Ketetapan tersebut menjadi batal karena hukum. 2. Kekurangan itu menjadi sebab atau menimbulkan kewajiban untuk membatalkan ketetapan itu untuk sebagiannya atau seluruhnya. 3. Kekurangan itu menyebabkan bahwa alat pemerintah yang lebih tinggi dan yang berkompeten untuk menyetujui atau meneguhkannya, tidak sanggup memberi persetujuan atau peneguhan itu. 4. Kekurangan itu tidak mempengaruhi berlakunya ketetapan. 5. Karena kekurangan itu, ketetapan yang bersangkutan dikonversi ke dalam ketetapan lain. 6.Hakim sipil menganggap ketetapan yang bersangkutan tidak mengikat. Kranenburg dan Vegting menyebutkan empat cara mengajukan permohonan banding terhadap ketetapan, yaitu sebagai berikut: 1. Pihak yang berkepentingan dapat mengajukan permohonan pembatalan ketetapan pada tingkat banding, dimana kemungkinan itu ada. 2. Pihak yang berkepentingan dapat mengajukan permohonan kepada pemerintah supaya ketetapan itu dibatalkan. 3. Pihak yang dikenai ketetapan itu dapat mengajukan masalahnya kepada hakim biasa agar ketetapan itu dinyatakan batal karena bertentangan dengan hukum. 4. Pihak yang dikenai ketetapan itu dapat berusaha apabila karena tidak memenuhinya ketetapan itu, untuk memperoleh keputusan dari hakim seperti yang dimaksudkan dalam bagian 3. Pada umumnya batas waktu mengajukan banding itu ditentukan dalam peraturan dasar yang terkait dengan ketetapan itu. Jika batas waktu banding telah berakhir dan tidak digunakan oleh mereka yang dikenai ketetapan itu, maka ketetapan itu mulai berlaku sejak saat berakhimya batas waktu banding itu. c. Jika ketetapan itu memerlukan pengesahan dari organ atau instansi pemerintahan yang lebih tinggi, ketetapan itu mulai berlaku setelah mendapatkan pengesahan. Berkenaan dengan pengesahaan atau persetujuan ini, terdapat tiga pendapat yaitu sebagai berikut: 1. Karena berhak untuk memberikan persetujuan, mahkota (pemerintah) menjadi pembuat undang-undang, jadi merupakan hak pengukuhan. 2. Hak memberikan persetujuan, artinya melepaskan tanggungjawab (jadi,pernyataan dapat dilaksanakan). 3. Persetujuan merupakan tindakan terus-menerus, artinya tidak berakhir pada saat diberikan, tetapi dapat ditarik kembali selama yang disetujuinya masih berlaku. Penegakan Administrasi Penegakan Administrasi Bagian Dari Wewenang Pemerintah, penegakan administrasi merupakan penegakan yang khas. Penegakan administrasi (handhaving van het bestuursrecht) merupakan bagian dari bestuuren. Penegakan administrasi merupakan bagian dari kewenangan pemerintahan. Menurut P. de Haan, penegakan administrasi diartikan sebagai penerapan sanksi administrasi. Berdasarkan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa kewenangan penegakan administrasi merupakan kewenangan organ pemerintah. Jadi, memerintah juga dilengkapi kewenangan untuk memaksakan agar itu ditaati. Oleh karena itu, yang melakukan penegakan administrasi adalah organ pemerintah, bukan pengadilan atau di luar aparatur pemerintah. Menurut Philipus M. Hadjon, ada empat hal pokok yang berkaitan dengan penggunaan wewenang penegakan administrasi, legitimasi, instrumen yuridis, norma administrasi, dan kumulasi sanksi.

Masalah legitimasi adalah persoalan kewenangan, yaitu wewenang pengawasan dan wewenang penerapan sanksi. Dua wewenang itu bersifat mutlak. Wewenang itu harus ditetapkan, baik melalui atribusi maupun melalui delegasi. Perkecualian untuk sanksi berupa pencabutan keputusan tata usaha negara yang menguntungkan. Jenis sanksi ini tidak perlu diatur secara khusus karena wewenang untuk mencabut dengan sendirinya melekat pada wewenang untuk menerbitkan keputusan tata usaha negara. Penegakan administrasi merupakan salah satu jenis penegakan yang banyak dilakukan di bidang perizinan. Hal ini dapat dipahami karena terhadap pelanggaran yang dapat dipandang relatif ringan diterapkan sanksi administrasi. Penegakan administrasi relatif mudah diterapkan, selain karena prosedurnya yang tidak terlalu rumit, juga pelanggaran yang dilakukan relatif lebih mudah dipastikan dan dengan demikian menjadi terlihat sederhana. Pelanggaran tertentu yang dipandang belum tergolong pelanggaran berat di suatu bidang sering kali dikenai konsekuensi yang setimpal. Misalnya, seorang karena lupa selama satu atau dua hari tidak memperpanjang izin untuk jenis izin tertentu yang telah habis waktu berlakunya. Selain pelanggaran yang dalam hal tertentu dapat dipandang sebagai pelanggaran ringan sehingga dikenai sanksi administrasi dan ada sanksi administrasi yang berat terhadap pelanggaran yang dipandang berat. Sebagai contoh, penertiban pendirian bangunan tidak berizin serta pencabuhan izin bagi pelaku kegiatan usaha tertentu yang melakukan pelanggaran. Adakalanya pemerintah memandang bahwa pendirian bangunan yang tidak berizin perlu ditertibkan dan ditindak secara tegas. Penegakan administrasi yang dikenakan terhadap pelanggaran-pelanggaran tersebut dimaksudkan sebagai sarana untuk mengubah perilaku. Tujuan utama penegakan administrasi adalah bagaimana agar perilaku yang dapat dipandang sebagai pelanggaran tidak terjadi lagi. Terutama yang diharapkan dengan pengenaan sanksi administrasi adalah bukan semata-mata untuk memberikan beban kepada pelakunya, melainkan mengubah perilakunya.

Penegakan Preventif dan Penegakan Represif Menurut Satjipto Rahardjo, penegakan adalah suatu proses untuk mewujudkan keinginan-keinginan menjadi kenyataan. Penegakan preventif merupakan serangkaian upaya tindakan yang dimaksudkan sebagai pencegahan agar tidak terjadi pelanggaran atau penyimpangan ketentuan yang ada. Dalam hal ini, didasarkan pada pengandaian bahwa yang dibuat dalam bentuk peraturan itu sekaligus mencerminkan kehendak pembuatnya. Kehendak pembuat merupakan hal yang selaras dengan cita yang akan diwujudkan. Penegakan preventif dapat dilakukan dengan memberikan bekal pemahaman dan kesadaran bagi masyarakat maupun pihak-pihak yang berkaitan dengan masalah perizinan agar memahami apa yang diinginkan oleh pembuat peraturan perundang-undangan. Penegakan preventif yang bersifat pencegahan, dikenal penegakan represif. Penegakan represif dilakukan apabila telah terjadi pelanggaran, khususnya menyangkut soal perizinan. Maksud dari penegakan represif bukan sebagai upaya mencegah pelanggaran di bidang perizinan, tetapi lebih dimaksudkan untuk mengulangi kalau ada persoalan, terutama jika ada pelanggaran. Penegakan represif dalam hal ini dapat berupa penegakan administrasi, penegakan pidana, atau penegakan perdata. Penegakan ada yang dilakukan oleh aparatur peradilan dan ada pula yang dilaksanakan oleh aparatur pemerintah. Sanksi Administrasi sebagai Instrumen Penegakan Penegakan administrasi di bidang perizinan dilakukan sendiri oleh aparatur pemerintah. Sanksi administrasi yang dapat diterapkan terhadap pelanggaran di bidang perizinan meliputi berbagai hal, yaitu: 1. Paksaan administrasi ( bestuursdwang), paksaan nyata; 2.Pencabutan keputusan yang menguntungkan; 3. Uang paksaan(dwangsom); 4. Denda administrasi (administrative boete).