Anda di halaman 1dari 56

MODUL MATA LBM 1 SGD 8 ORGAN PENGLIHATAN NORMAL STEP 1 STEP 2 1. Jelaskan anatomi dan fisiologi organ penglihatan!

2. Apa saja otot kelopak mata dan fungsinya! 3. Apa saja adneksa mata beserta fungsinya! 4. Bagaimana mekanisme melihat? 5. Bagaimana mekanisme berkedip? (volunter dan involunter)! 6. Bagaimana mekanisme gerak bola mata? Saat melihat tanpa merubah posisi tubuh dan kepalanya? 7. Mengapa Arief tidak merasakan matanya kering/tidak sakit ketika ada debu? 8. Mengapa tidak merasakan sakit kepala meskipun lama berdiri? 9. Bagaimana mekanisme bisa membedakan warna?

STEP 3 1. Jelaskan anatomi dan fisiologi organ penglihatan! Anatomi, tambahkan gambar!!!

Mata ada 2:

a. Oculus: N.optivus, bulbus oculi Bulbus oculi: 1) selubung (tunica fibrosa(kornea dan sclera), tunica nervosa (retina, stratum pigmenti), tunica vasculosa (iris,corpus cillaris) 2) isi (aquous humor, lensa crystalina, dan corpus vitreum) b. Occuli accessorius: ada 4: palpebra, konjungtiva, kelenjar lakrima, Mm.oculi

a. Cornea: bentuk transparan, refraksi cahaya (membiaskan cahaya), berapa kekuatannya (dioptri)? Fungsi cornea? b. Pupil: mengatur jumlah cahaya yang diterima. Gelap pupil melebar, terang menyempit Ketika menutup mata, bagaimana keadaan pupil?

c. Iris: ada 2 otot: M. dilator pupil kontraksi pupil melebar. M. sphincter pupil kontraksi mengecilkan pupil GAMBAR nya M. dilator pupil dan M. Sphincter pupil? Jarasnya!

d. Lensa: memfokuskan cahaya dg cara akomodasi (kemampuan adaptasi lensa agar bayangan jatuh tepat di retina).

Lensa mata tetap biconcave, yang membedakan hanya jarak (ditentukan oleh ukuran diameter yang menebal atau menipis.

e. Retina: macula lutea 1) sel batang/sel basal(adaptasi gelap dan melihat samping) dan 2) sel kerucut/sel konus (adaptasi terang, melhat sentral dan warna). Bagaimana proses pembentukan warna di iris? Warna mata dipengaruhi oleh melanosit pada lapisan yg berpigmen pada retina mata. a) Lapisan berpigmen: melanin dan menyimpan vitamin A. b) Lapisan batang dan kerucut yang menonjol pada lapisan pigmen c) Lapisan limitan luar d) Lapisan nucleus luar; mengandung badan sel batang dan kerucut - Sel batang: rodopsin 10% Isomerase

11 cis-retinol (vit. A) 11 cis-retinal +skotopsin rodopsin.

Cari skema!!

- Sel kerucut: reseptor warna - iodopsin Adakah pengaruh dari vitamin A juga?

e) Lapisan pleksiform luar f) Lapisan nucleus dalam g) Lapisan pleksiform dalam h) Lapisan ganglion i) Lapisan serabut saraf optik j) Membrane limitan dalam

Mata tidak kering karena adanya cairan aquous humor (anterior lensa) dan vitreous humor(antara posteror lensa dan retina). Aliran vitreous humor ke aquous humor?

- Produksi Aquous humor tidak terbatas dibandingkan vitreous humor, disekresi oleh epitel proc. Cilliaris corpus cilliare.

Mekanisme pembentukan dan fungsi aquous humor?

- Menjaga agar tidak kering karena ada kelenjar lacrimal.

Diameter vertical mata: 23,5 mm, transversal 24 mm, anteroposterior 17,5mm,

Organon visuum
Oculi accessorius Supercilium (bulu mata) Palpebrae & conjunctiva Musculi extrinsic bulbi Apparatus lacrimalis Oculus Bulbus Oculi (isi & pembungkus) Nervus opticus Isi Bulbus Oculi Humor aqueous Diproduksi oleh corpus ciliaris Mengisi COA dan COP Klinis : Tekanan intraoculer naik Glaukoma Lensa cristallina Transparan, biconvex elastis Dibungkus capsula lentis

Mekanisme akomodasi * Penggantung = Lig. Suspensorium lentis (Zonula ciliaris) Klinis : Lensa keruh Katarak Humor vitreus Massa gelatinous, transparan yang mengisi ruang lensa - retina Fungsi : menjaga retina ditempatnya & memberi sandaran lensa

Pembungkus Bulbus Oculi Tunica Fibrosa Cornea Sclera Tunica Vasculosa (Uvea) Choroidea Corpus ciliaris Iris Tunica Neurosa Retina

Cornea 1/6 bagian anterior Fungsi : media refraksi, proteksi Avaskular transparan free nerve ending (dr N.I) sangat sensitif Reflek cornea : reflek mata berkedip bila ada rangsangan mekanis pada kornea Angulus iridocornealis berhubungan dengan canalis Schlemm sekresi humor aquoues

Sclera
5/6 bagian posterior Serabut kolagen dan elastis non transparan Ditembus musculi extrinsik dan n. opticus (pada lamina cribrosa) Fungsi : Menyesuaikan diri terhadap tekanan dari dalam bulbus oculi

Choroidea Terletak diantara sclera dengan retina Berpigmen Banyak pembuluh darah Fungsi : nutrisi retina, corpus ciliaris, iris

Corpus cilliare Menghubungkan choroid --- iris Terdiri atas Processus ciliaris Memproduksi humor aquoues M.ciliaris : Proses akomodasi

Iris Struktur berpigmen

Membagi ruang cornea lensa menjadi Camera oculi anterior (COA) dan Camera oculi posterior (COP)

Fungsi : diaphragma : mengatur jumlah cahaya yang masuk pupil (celah antara 2 iris) Miosis : m. sphincter pupillae cahaya << Midriasis : m. dilator pupillae cahaya >> Klinis : Radang tunica vasculosa (choroid, corpus ciliaris, iris) Uveitis Musculi Intrinsic Bulbus Oculi
Nama otot

Lokasi Serat otot dalam corpus ciliaris

fungsi Kontraksi lensa lebih cembung

m. ciliaris m. sphingter pupil m. delatator pupil

Serabut circuler dalam Kontraksi pupil iris Serabut radial dalam iris Dilatasi pupil

Retina - Pars iridis : posterior iris - Pars ciliari - Pars optica : di bulbus oculi posterior, sel sensoris [+]
PARS CILIARIS

PARS

Pars optica

Pars optica : - dapat dilihat melalui funduscopi - Terdapat : Discus opticus (Blind spot)

Tempat keluar N. opticus & a. centralis retina Receptor [-] Klinis : Retinopathy diabetic kerusakan pembuluh darah kapiler pada retina karena hiperglikemia kronis

OCULI ACESSORIUS
Oculi accessorius meliputi : Supercilium (eye brow) Palpebrae - Conjunctiva Musculi extrinsik bulbi Apparatus lacrimalis

Palpebrae
Palpebrae Superior et inferior membatasi fissura palpebralis yang berakhir pada anguli oculi lateralis et medialis Limbus anterior palpebrae : cilia (bulu mata) Fissura palpebralis

LIMBUS ANTERIOR PALPEBRA

ONGULI OCULI MEDMEDIALIS

Gld. tarsales (Meibom) di limbus posterior palpebraemencegah air mata tumpah mll pinggir palpebrae

GLANDULA TARSALE

Klinis : Radang pada glandula palpebrae Hordeolum/chalazion Struktur Palpebrae (anterior-posterior) Kulit Subkutan

Musculi oculi Tarsus superior et inferior Conjunctiva

Musculi Extrinsik Oculi di Palpebrae


MUSCULUS M.ORBICULARIS OCULI FUNGSI MENUTUP MATA DAN MENGATUR PENGELUARAN AIR MATA MEMBUKA MATA INNERVASI N. FACIALIS

M. LEVATOR PALPEBRA

N.OCCULOMOTORIUS

Conjunctiva

Palpebrae conjunctiva Melapisi dinding dalam palpebrae fornix conjunctiva sangat vascular Muara gld. lacrimalis,gld. sudorifera , gld. cebacea Ocular (bulbar) conjunctiva Dari fornix conjunctiva permukaan anterior mata limbus cornea Transparan

Apparatus lacrimalis
Sistem produksi & drainase air mata. Fungsi : membasahi & nutrisi permukaan anterior bola mata

Terdiri atas: Glandula lacrimalis et ductus lacrimalis(Terletak di atas angulus palpebrae lateralis) Punctata lacrimalis(Medial permukaan dalam palpebrae superior et inferior) Canalis lacrimalis Saccus lacrimalis Ductus nasolacrimalis

Perjalanan air mata

Sistem Lakrimasi Air mata melewati empat proses yaitu produksi dari aparatus atau sistem sekretori lakrimalis, distribusi oleh berkedip, evaporasi dari permukaan okular, dan drainase melalui aparatus atau sistem ekskretori lakrimalis. Abnormalitas salah satu saja dari keempat proses ini dapat menyebabkan mata kering (Kanski et al, 2011). 2.1.1. Aparatus Lakrimalis Aparatus atau sistem lakrimalis terdiri dari aparatus sekretori dan aparatus ekskretori (Kanski et al, 2011; Sullivan et al, 2004; AAO, 2007), yaitu : 1. Aparatus Sekretorius Lakrimalis. Aparatus sekretorius lakrimalis terdiri dari kelenjar lakrimal utama, kelenjar lakrimal assesoris (kelenjar Krausse dan Wolfring), glandula sebasea palpebra (kelenjar Meibom), dan sel-sel goblet dari konjungtiva (musin). Sistem sekresi terdiri dari sekresi basal dan refleks sekresi. Sekresi basal adalah sekresi air mata tanpa ada

stimulus dari luar sedangkan refleks sekresi terjadi hanya bila ada rangsangan eksternal (Kanski et al, 2011; Sullivan et al, 2004; AAO, 2007). 2. Aparatus Ekskretorius Lakrimalis. Dalam keadaan normal, air mata dihasilkan sesuai dengan kecepatan penguapannya sehingga hanya sedikit yang sampai ke sistem ekskresi (Sullivan, 2004). Dari punkta, ekskresi air mata akan masuk ke kanalikulus kemudian bermuara di sakus lakrimalis melalui ampula. Pada 90% orang, kanalikulus superior dan inferior akan bergabung menjadi kanalikulus komunis sebeum ditampung dalam sakus lakrimalis. Di kanalikulus, terdapat katup Rosenmuller yang berfungsi untuk mencegah aliran balik air mata. Setelah ditampung di sakus lakrimalis, air mata akan diekskresikan melalui duktus nasolakrimalis sepanjang 12-18 mm ke bagian akhir di meatus inferior. Disini juga terdapat katup Hasner untuk mencegah aliran balik (Sullivan et al, 2004; AOA, 2007).

MUSCULUS EKTRINSIK BULBI

2. Apa saja otot kelopak mata dan fungsinya! a. M. orbicularis oculi: dpersarafi N. VII (N. facialis) Menutup kelopak b. M. levator palpebra: oleh N. III (N. occulomotorius) Membuka kelopak

c. M. tarsalis Mulleri: serabut2 simpatis dari ganglion servical superior Mempertahankan saat palpebra saat membuka

3. Apa saja adneksa mata beserta fungsinya! Occuli accessorius: ada 4: a. Palpebra 1) Palpebra superior 2) Palpebra inferior Palpebra superior dan inferor bertemu di Rima palpebra, disebelah lateral dan medialnyanya ada cantus, dicantus ada caranculla, cantus medial lebih berfungsi untuk berkumpulnya air mata sebelum ke punctum lacrima.

- Punya tarsus, mengandung kelenjar Meibom mengeluarkan minyak untuk melapisi bagian luar air mata agar tidak cepat menguap. b. Konjungtiva Menghasilkan sel musin sel goblet melindungi mata. a. Konjungtiva tarsal: didepan tarsus b. Konjungtiva bulbi c. Konjungtiva fornix Fungsi masing2 konjungtiva?

c. kelenjar lakrima, a. sel acini : sel silindris, tidak beraturan, fungsi untuk menyimpan granul dan tetes lipid b. ductus excretorius intralobular: sel silindris, antarsel acini. c. ductus interlobular: sel silindris. Antara sel acini dan ductus excretorius intralobular. d. sel myoepithel

d. Mm.oculi a. M. Rectus lateral (N. VI) dan medial (N. III): pergerakan mata kesamping kanan dan kiri. b. M. Rectus inferior (N.III)dan superior(N.III): pergerakan mata ke atas ke atas dan bawah. c. M. Obliqus superior(N. IV) dan inferior (N. III): pergerakan mata memutar ke kanan dan kekiri.

4. Bagaimana mekanisme melihat?


Fisiologi Penglihatan Proses melihat terjadi karena adanya cahaya yang menyinari objek tertentu sebagai stimulusnya. Cahaya yang dapat ditangkap oleh mata manusia (visible light) adalah cahaya dalam spektrum elektromagnetik yang memiliki panjang gelombang sekitar 380 760 nm. Bila mata melihat sebuah objek maka cahaya akan masuk melalui kornea, kemudian melewati celah pupil pada iris yang akan mengatur banyaknya sinar yang masuk, lalu melewati lensa yang dapat memipih dan mencembung sehingga sinar dapat difokuskan ke bintik kuning yang berada pada retina. Setelah sampai di retina cahaya tadi diteruskan sebagai impuls saraf oleh N. II (N. optikus) menuju ke otak di lobus oksipitalis, yaitu ke korteks penglihatan primer (area 17) sehingga benda tadi dapat

dilihat, dan korteks penglihatan sekunder atau korteks asosiasi penglihatan (area 18 dan 19) sehingga benda tadi dapat dipahami. Lintas Saraf Penglihatan Jalannya saraf penglihatan dimulai dari ujung saraf neural epithel pada sel batang dan sel kerucut yang ada di retina, kemudian ke sel bipolar di lapisan reticular dalam retina yangmelepaskan bahan transmitter sehingga menyebabkan eksitasi dari sel ganglion. Keluar dari bola mata, axon sel ganglion membentuk nervus optikus. Nervus optikus dari kedua bola mata berkumpul di khiasma optikus, dimana serabut yang berasal dari bagian nasal setiap retina saling menyilang, dan bagian temporal tetap berada pada sisi yang sama. Sesudah menyilang di khiasma optikus terbentuklah traktus optikus. Serabut-serabut dari traktus optikus bersinaps di korpus genikulatum laterale, dan dari sisi serabut-serabut genikulokalkarina berjalan melalui radiasi optika atau traktus genikulokalkarina, menuju korteks primer di otak yang terletak di area kalkarina lobus oksipitalis. Sebagian serabut traktus optikus juga melalui tempat-tempat lain di otak seperti kolikulus superior dan formatio retikularis. Kolikulus superior membantu koordinasi akomodasi dan refleks cahaya, dengan penyertaan lensa, pupil, gerak bola mata dan gerak kepala. Formasio retikularis mempunyai peran dalam membuat keadaan terjaga, eksitasi, dan dalam proses tidur.

5. Bagaimana mekanisme berkedip? (volunter dan involunter)! 2.1.5. Kedipan Mata Delapan puluh persen dari mata berkedip secara sempurna, delapan belas persen berkedip secara inkomplit dan dua persen twitch. Bila ditinjau berdasarkan rangsang berkedip, berkedip terdiri dari tiga kategori, yaitu (Acosta et al, 1999; Pepose et al, 1992; Delgado et al, 2003) : 1. Berkedip involunter yaitu berkedip secara spontan, tanpa stimulus dengan generator kedipan di otak yang belum diketahui secara jelas. 2. Berkedip volunter yaitu secara sadar membuka dan menutup kelopak mata.

3. Refleks berkedip adalah berkedip yang dirangang bila ada stimulus eksternal melalui nervus trigeminus dan nervus fasialis. Berkedip melibatkan dua otot yaitu muskulus levator palpebra superior dan muskulus orbikularis okuli (AAO, 2007). Aktivitas berkedip melibatkan nukleus kaudatus (Mazzone et al, 2010) dan girus presentralis media (Kato et al, 2003), dan inhibisi berkedip melibatkan korteks frontal (Stuss et al, 1999; Mazzone et al, 2010). 6. Bagaimana mekanisme gerak bola mata? Saat melihat tanpa merubah posisi tubuh dan kepalanya?

Gerakan Mata dan Pengaturannya Selain organ-organ tersebut di atas, sistem penglihatan juga dipengaruhi oleh gerakan bola mata yang diatur oleh otot-otot penggerak bola mata, yaitu :

- Muskulus rektus lateralis, untuk gerakan mata ke samping - Muskulus rektus medialis, untuk gerakan mata ke tengah - Muskulus rektus superior, untuk gerakan mata ke atas luar - Muskulus rektus inferior untuk gerakan mata ke bawah luar - Muskulus obliqus superior untuk gerak memutar bola mata/melirik ke bawah dalam - Muskulus obliqus inferior untuk gerak memutar bola mata/melirik ke atas dalam

7. Mengapa Arief tidak merasakan matanya kering/tidak sakit ketika ada debu? 8. Mengapa tidak merasakan sakit kepala meskipun lama berdiri? 9. Bagaimana mekanisme bisa membedakan warna?
Fotokimia Penglihatan Bila sinar mencapai retina, maka terjadi rangsangan terhadap sel batang dan kerucut yang bertindak sebagai ujung-ujung saraf sensoris. Rangsangan cahaya tersebut mengakibatkan reaksi fotokimia dan listrik. Reaksi fotokimia terjadi pada sel pigmen yang terdapat dalam sel batang dan kerucut yang bila mendapat cahaya akan terurai dan menghasilkan aliran listrik yang dikirimkan melalui saraf penglihatan ke otak. Fotoreseptor (sel batang dan sel kerucut) mempunyai bahan kimia atau fotopigmen yang akan terurai bila terkena cahaya. Fotopigmen ada 2 yaitu opsin (sejenis protein) dan retinal (sejenis lipid). Bahan kimia di dalam sel batang yaitu rodopsin (visual purple) merupakan kombinasi dari skotopsin dan retinal yang disintesa dari vitamin A. Sedangkan bahan kimia yang peka terhadap cahaya di dalam sel kerucut disebut iodopsin. Bila rodopsin terkena cahaya maka ia akan terurai menjadi skotopsin dan retinal. Berikut proses penguraian rodopsin secara lengkap :

Cahaya yang berlebihan akan membuat dekomposisi rodopsin, menurunkan suplainya dan menurunkan kemampuan penglihatan. Dalam gelap, rodopsin perlahan-lahan terbentuk kembali dengan cara rekombinasi opsin dan vitamin A, menjadi bentuk oksidasi dari retinal. Selam masa daptasi gelap, kepekaan retinal meningkat bertahap (100000x dalam 30 menit). Bila terjadi defisiensi berat vitamin A dapat terjadi suatu kelianan yang disebut rabun senja (niktalopia). Hal ini terjadi karena tidak cukup tersedia vitamin A untuk dibentuk menjadi retinal dalam jumlah yang adekuat, sehingga jumlah rodopsin berkurang. Disebut rabun senja karena jumlah cahaya pada waktu malam terlalu sedikit untuk dapat menimbulkan penglihatan yang adekuat. g. Penglihatan Warna Berbagai teori telah diajukan untuk menerangkan fenomena penglihatan warna. Salah satu teori penting tentang penglihatan warna adalah yang dicetuskan oleh

Thomas Young yang dikenal dengan trichromatic theory, yang kemudian dikemabngkan lagi oleh Helmholtz sehingga dikenal sebagai teori YoungHelmholtz. Menurut teori ini, ada 3 tipe sel kerucut yang dapat berespon secara maksimal terhadap berbagai macam warna. Sel kerucut tersebut adalah sel kerucut biru, sel kerucut merah, sel kerucut hijau. Bila mata tidak mempunyai sekelompok sel kerucut yang dapat menerima warna, maka orang itu tidak akan dapat membedakan beberapa warna dari warna lainnya. Keadaan ini yang disebut Buta warna. Dikenal ada 3 macam buta warna yaitu : 1. Protanopia : penderita buta warna yang tidak mempunyai sel kerucut merah 2. Deuteranopia : penderita buta warna yang tidak mempunyai sel kerucut hijau Kedua jenis di atas sering disebut buta warna merah-hijau. Orang yang mengalami kelainan ini kesulitan membedakan warna merah dan hijau. Bagi mereka warna hijau dan merah itu terlihat kekuning-kuningan. 3. Tritanopia : kelainan ini sangat jarang, orang dengan kelainan ini sulit melihat warna dengan panjang gelombang pendek. Bagi mereka warna biru langit terlihat hijau terang, dan kuning terlihat pink. Buta warna merupakan kelainan genetik yang terkait sex (sex linkage) yang disebabkan tidak adanya gen warna yang sesuai di dalam kromosom X. Tidak adanya gen untuk warna ini bersifat resesif. Buta warna jarang didapatkan pada wanita, yaitu hanya sekitar 0,04 %, sedangkan pada pria didapatkan sekitar 4 %.

Dinding bola mata disusun oleh 3 tunika (lapisan) (Gb-1 dan Gb-2) yaitu: A. Tunika fibrosa (lapis sklera-kornea) merupakan lapisan luar bola mata terdiri atas sklera dan kornea. B. Tunika vaskularis (lapis uvea) merupakan lapisan tengah bola mata terdiri atas khoroid, badan siliaris dan iris. C. Tunika neuralis (lapis retina) merupakan lapisan dalam bola mata terdiri atas retina.

A. TUNIKA FIBROSA (LAPISAN SKLERA-KORNEA) (Gb-1) Tunika fibrosa membentuk sebuah kapsula fibroelastik yang kokoh penyokong bola mata. Lapis fibrosa ini dibagi menjadi dua bagian yaitu sclera dan kornea. Sklera merupakan bagian yang putih melingkupi lima-

perenam bagian bola mata dan terletak di sebelah belakang, sementara kornea merupakan bagian yang jernih dan transparan melingkupi seperenam depan bola mata. Tempat sambungan sklera dan kornea dikenal dengan nama limbus.

SKLERA (Gk. sclera, keras) (Gb-3) Sklera merupakan bagian bola mata yang putih seolah-olah tidak mengandung pembuluh darah. Sklera disusun oleh serat-serat kolagen tipe 1 yang diselang-selingi oleh jala-jala serat elastin. Susunan seperti ini membentuk struktur bola mata yang kokoh, disokong oleh tekanan intraokular yang berasal dari humor akwaeus yang terletak di sebelah depan lensa dan badan vitreus yang terletak di belakang lensa. Di bagian belakang sklera ditembus oleh serat-serat saraf optik pada lamina kribrosa (Gb-1). Sklera mengandung pembuluh darah terutama pada limbus (tempat pertautan sklera dan kornea).

KORNEA (Gb-4) Kornea merupakan bagian tunika fibrosa yang transparan, tidak mengandung pembuluh darah, dan kaya akan ujung-ujung serat saraf. Kornea berasal dari penonjolan tunika fibrosa ke sebelah depan bola mata. Secara histologik kornea terdiri atas 5 lapisan yaitu: 1. Epitel kornea merupakan lanjutan dari konjungtiva disusun oleh epitel gepeng berlapis tanpa lapisan tanduk. Lapisan ini merupakan lapisan kornea terluar yang langsung kontak dengan

dunia luar dan terdiri atas 7 lapis sel. Epitel kornea ini mengandung banyak ujungujung serat saraf bebas. Sel-sel yang terletak di permukaan cepat menjadi aus dan digantikan oleh sel-sel yang terletak di bawahnya yang bermigrasi dengan cepat. 2. Membran Bowman merupakan lapisan fibrosa yang terletak di bawah epitel tersusun dari serat kolagen tipe 1. 3. Stroma kornea merupakan lapisan kornea yang paling tebal tersusun dari serat-serat kolagen tipe 1 yang berjalan secara paralel membentuk lamel kolagen. Sel-sel fibroblas terletak di antara serat-serat kolagen. 4. Membran Descemet merupakan membran dasar yang tebal tersusun dari serat-serat kolagen.

5. Endotel kornea Lapisan ini merupakan lapisan kornea yang paling dalam tersusun dari epitel selapis gepeng atau kuboid rendah. Sel-sel ini mensintesa protein yang mungkin diperlukan

untuk memelihara membran Descement. Sel-sel ini mempunyai banyak vesikel dan dinding selnya mempunyai pompa natrium yang akan mengeluarkan kelebihan ion-ion natrium ke dalam kamera okuli anterior. Ion-ion klorida dan air akan mengikuti secara pasif. Kelebihan cairan di dalam stroma akan diserap oleh endotel sehingga stroma tetap dipertahankan dalam keadaan sedikit dehidrasi (kurang cairan), suatu faktor yang diperlukan untuk mempertahankan kualitas refraksi kornea. Kornea bersifat avaskular (tak berpembuluh darah) sehingga nutrisi didapatkan dengan cara difusi dari pembuluh darah perifer di dalam limbus dan dari humor akweus di bagian tengah. Kornea menjadi buram bila endotel kornea gagal mengeluarkan kelebihan cairan di stroma.

Limbus (Gb-5) Limbus merupakan tempat pertemuan antara tepian kornea dengan sklera. Pada tempat ini terdapat lekukan atau sudut akibat perbedaan kelengkungan kornea dan sklera. Bagian luarnya diliputi epitel konjungtiva bulbi yang merupakan epitel berlapis silindris dengan lamina propria di bawahnya. Stromanya merupakan tepian sklera yang menyatu dengan

kornea. Stroma ini tersusun dari jaringan ikat fibrosa. Di bagian dalam stroma ini membentuk taji sklera (scleral spur). Pada bagian anterior taji ini terdapat jaringan trabekula (trabecula sheet) dengan jalinan ruang-ruang di antaranya dikenal sebagai ruang trabekula (trabecular spaces/ space of Fontana). Schlemm. Di atas trabekula terdapat suatu saluran lebar dan panjang disebut kanal

Kanal Schlemm (Gb-5) Merupakan suatu pembuluh berbentuk cincin yang melingkari mata tepat anterior dan eksternal skleral spur. Di sebelah luar dibatasi oleh jaringan sklera dan di dalam oleh lapisan jaringan trabekula yang lebih dalam. Lumen kanal ini di batasi oleh selapis sel endotel. Kanal ini akan meneruskan diri ke dalam pleksus sklera dan akhirnya bermuara pada pleksus vena sklera. Di bagian posterior taji sklera, pada korpus siliaris terdapat otot polos, muskulus siliaris yang berfungsi untuk mengatur akomodasi mata.

B. TUNIKA VASKULOSA / UVEA (L.uva=anggur) (Gb-1) Tunika vaskulosa terdiri atas 3 bagian yaitu khoroid, badan siliaris dan iris.

Khoroid (choroid) (Gb-2 ) Khoroid merupakan lapisan yang banyak mengandung pembuluh darah dan sel-sel pigmen sehingga tampak bewarna hitam. Lapisan ini tersusun dari jaringan penyambung jarang yang mengandung serat-serat kolagen dan elastin, sel-sel fibroblas, pembuluh darah dan melanosit. Khoroid terdiri atas 4 lapisan yaitu (Gb-6):

1. Epikhoroid merupakan lapisan khoroid terluar tersusun dari serat-serat kolagen dan elastin. 2. Lapisan pembuluh merupakan lapisan yang paling tebal tersusun dari pembuluh darah dan melanosit. 3. Lapisan koriokapiler, merupakan lapisan yang terdiri atas pleksus kapiler, jaring0-jaring halus serat elastin dan kolagen, fibroblas dan melanosit. Kapiler-kapiler ini berasal dari arteri khoroidalis Pleksus ini mensuplai nutrisi untuk bagian luar retina. 4. Lamina elastika, merupakan lapisan khoroid yang berbatasan dengan epitel pigmen retina. Lapisan ini tersusun dari jarring-jaring elastik padat dan suatu lapisan dalam lamina basal yang homogen.

Badan Siliaris (Korpus siliaris) (Gb-1 dan Gb-7) Korpus siliaris (badan siliaris) adalah struktur melingkar yang menonjol ke dalam mata terletak di antara ora serrata dan limbus. Struktur ini merupakan perluasan lapisan khoroid ke arah depan. Korpus siliar disusun oleh jaringan penyambung jarang yang mengandung serat-serat elastin, pembuluh darah dan melanosit. Badan siliaris membentuk tonjolan-tonjolan pendek seperti jari yang dikenal sebagai prosessus siliaris. Dari prosessus siliaris muncul benang-benang fibrillin yang akan berinsersi pada kapsula lensa yang dikenal sebagai zonula zinii. Korpus siliaris dilapisi oleh 2 lapis epitel kuboid (Gb-7). Lapisan luar kaya akan pigmen dan merupakan lanjutan lapisan epitel pigmen retina. Lapisan dalam yang tidak berpigmen merupakan lanjutan lapisan reseptor retina, tetapi tidak sensitif terhadap cahaya. Sel-sel di lapisan ini akan mengeluarkan cairan filtrasi plasma yang rendah protein ke dalam bilik mata belakang (kamera okuli posterior). Humor akweus mengalir dari bilik mata belakang (kamera okuli posterior) ke bilik mata depan (kamera okuli anterior) melewati celah pupil (celah di antara iris dan lensa), lalu masuk ke dalam jaringan trabekula di dekat limbus dan akhirnya masuk ke dalam kanal Schlemm. Dari kanal

Schlemm humor akweus masuk ke pleksus sklera dan akhirnya bermuara ke sistem vena. Korpus siliar mengandung 3 berkas otot polos yang dikenal sebagai muskulus siliaris. Satu berkas karena orientasinya akan menarik khoroid sehingga membuka kanal Schlemm untuk aliran humor akweus. Dua berkas lain yang menempel pada skleral spur berfungsi untuk mengurangi tekanan pada zonula Zinii sehingga lensa menjadi lebih tebal dan konveks. Fungsi ini disebut akomodasi. Glaukoma merupakan suatu keadaan klinis yang ditandai oleh peningkatan tekanan intraokuler yang tinggi dalam waktu lama akibat kegagalan penyaluran humor akweus dari bilik mata depan. Bila keadaan ini dibiarkan dapat menyebabkan kebutaan.

Iris (Iris, pelangi) (Gb-1 dan Gb-8) Iris merupakan bagian yang paling depan dari lapisan uvea. Struktur ini muncul dari badan siliar dan membentuk sebuah diafragma di depan lensa. Iris juga memisahkan bilik mata depan dan belakang. Celah di antara iris kiri dan kanan dikenal sebagai pupil (pupil, gadis kecil). Iris disusun oleh jaringan ikat longgar yang mengandung pigmen dan kaya akan pembuluh darah. Permukaan depan iris yang menghadap bilik mata depan (kamera okuli anterior) berbentuk tak teratur dengan lapisan pigmen yang tak lengkap dan sel-sel fibroblas. Permukaan posterior iris tampak halus dan ditutupi oleh lanjutan 2 lapisan epitel yang menutupi permukaan korpus siliaris. Permukaan yang menghadap ke arah lensa mengandung banyak sel-sel pigmen yang akan mencegah cahaya melintas melewati iris. Dengan demikian cahaya akan terfokus masuk melalui pupil. Pada iris terdapat 2 jenis otot polos (Gb-8) yaitu otot dilatator pupil dan otot sfingter/konstriktor pupil. Kedua otot ini akan merubah diameter pupil. Otot dilatator pupil yang dipersarafi oleh persarafan simpatis akan melebarkan pupil, sementara otot sfingter pupil yang dipersarafi oleh persarafan parasimpatis (N. III) akan memperkecil diameter pupil.

Jumlah sel-sel melanosit yang terdapat pada epitel dan stroma iris akan mempengaruhi warna mata. Bila jumlah melanosit banyak mata tampak hitam, sebaliknya bila melanosit sedikit mata tampak bewarna biru.

Lensa Mata (Gb-1 dan Gb-9) Lensa terdiri atas 3 lapisan yaitu kapsul lensa, epitel subkapsul dan serat-serat lensa. Kapsul lensa merupakan lamina basal yang umumnya disusun oleh serat-serat kolagen tipe IV dan glikoprotein. Kapsul ini elastik, jernih dan kompak. Epitel subkapsul hanya terdapat pada permukaan anterior lensa tepat di bawah kapsul lensa. Epitelnya terdiri atas selapis sel kuboid. Di sebelah dalam dari epitel subkapsul terdapat serat-serat lensa yang di bentuk dari sel-sel yang kehilangan inti dan organel sel lainnya. Serat-serat ini kemudian diisi dengan protein lensa kristalin (crystallins). Adanya kristalin ini akan meningkatkan index refraksi lensa. Lensa sama sekali tidak mengandung pembuluh darah. Nutrisi untuk lensa diperoleh dari humor akweus dan korpus vitreus. Lensa bersifat impermeabel, tetapi dapat ditembus cahaya dengan mudah. Pada orang tua sering dijumpai kekeruhan pada lensa yang menyebabkan menurunnya kemampuan untuk melihat. Keadaan ini dikenal sebagai katarak. Kondisi mungkin disebabkan oleh bertumpuknya pigmen atau substansi lain dan keterpaparan sinar ultra violet secara berlebihan. Di samping itu pada orang tua terjadi suatu keadaan yang dikenal sebagai presbiopia yaitu ketidakmampuan mata untuk melihat benda-benda dalam jarak dekat yang disebabkan karena menurunnya elastisitas lensa akibat proses penuaan. Sebagai akibatnya lensa tidak dapat mencembung guna memfokuskan bayangan benda secara tepat pada retina. Keadaan ini dapat diatasi dengan pemakaian kaca mata. Lensa digantung ke korpus siliaris oleh penggantung lensa yang dikenal sebagai zonula Zinii. Korpus Vitreus (Gb-1) Korpus vitreus merupakan suatu agar-agar jernih yang mengisi ruang vitreus (ruang antara lensa dan retina). Korpus vitreus disusun hampir seluruhnya oleh air (99%) dan mengandung elektrolit, serat-serat kolagen dan asam hialuronat. Korpus vitreus melekat pada seluruh permukaan retina. Di tengah korpus vitreus berjalan sisa suatu saluran yang berisi cairan dikenal

sebagai kanal hialoidea, yang semula mengandung arteri hialodea pada masa janin. Badan vitreus berfungsi untuk memelihara bentuk dan kekenyalan bola mata.

Ruang-ruang mata (Gb-1, Gb-5, Gb-7) Ada 2 ruang mata yaitu kamera okuli anterior dan posterior. Kamera okuli anterior merupakan suatu ruangan yang dibatasi di sebelah depan oleh sisi belakang kornea dan di sebelah belakang dibatasi oleh lensa, iris dan permukaan depan badan siliar. Batas lateralnya adalah sudut iris atau limbus yang ditempati oleh trabekula yang merupakan tempat penyaluran humor akweus ke kanal schlemm. Kamera okuli posterior adalah ruangan yang dibatasi di sebelah depan oleh iris dan disebelah belakang oleh permukaan depan lensa dan zonula Zinii serta diperifer oleh prosessus siliaris. Kedua ruangan mata ini terisi oleh humor akweus, yaitu suatu cairan encer yang disekresi sebagian oleh epitel siliar dan oleh difusi dari kapiler dalam prosessus siliaris. Cairan ini mengandung materi yang dapat berdifusi dari plasma darah, tetapi mengandung kadar protein yang rendah. Humor akweus disekresi secara kontinu ke dalam kamera okuli posterior, mengalir ke ruang kamera okuli anterior melalui pupil dan disalurkan melalui jaringan trabekula ke dalam kanal Schlemm. Dalam kondisi normal jumlah cairan yang disekresi dan dikeluarkan berimbang sehingga tekanan di dalam ruang mata ini berkisar kira-kira 23 mmHg. Bila terjadi sumbatan dalam pengeluaran cairan sementara sekresi berlangsung terus, maka tekanan dalam bola mata akan meningkat. Keadaan ini disebut glaukoma dan dapat mengakibatkan kerusakan retina dan kebutaan bila dibiarkan.

C. TUNIKA NEURALIS (RETINA) ( Gb-9 dan Gb-10)

Retina merupakan lapisan terdalam bola mata, mengandung sel-sel fotoreseptor yaitu sel-sel batang dan kerucut. Retina berkembang dari cangkir optik (optic cup (Gb-9)), suatu struktur berbentuk cangkir yang terbentuk sebagai hasil proses invaginasi (penonjolan ke arah dalam) gelembung optik primer (primary optic vesicle) . Gelembung optik primer ini berkembang dari penonjolan keluar prosencephalon (otak depan). Tangkai dari cangkir optik (optic stalk) akan berkembang menjadi saraf optikus (optic nerve). Dinding luar cangkir optik (optic cup) berkembang menjadi lapisan pigmen luar sementara bagian saraf retina (neural retina) berkembang dari lapisan dalam cangkir optik. Lempeng optik (optik disk) (Gb-1) yang terletak di dinding belakang bola mata merupakan tempat keluarnya nervus optikus. Serat-serat saraf di daerah ini akan bertumpuk membentuk suatu tonjolan yang disebut papila nervus optikus. Daerah ini tidak mengandung sel-sel fotoreseptor, tidak peka terhadap cahaya, sehingga di sebut juga sebagai bintik buta (blind spot). Pada papila nervus optikus terdapat arteri dan vena sentralis. Pada umumnya arteri sentralis merupakan satu-satunya arteri bagi retina. Sumbatan pada arteri ini dapat mengakibatkan kebutaan yang menetap. Pada beberapa individu sebagian kebutuhan darah untuk retina juga disuplai dari arteri silioretina untuk makula. Penyumbatan arteri sentralis pada individu ini mengakibatkan kehilangan penglihatan perifer, karena makula tak terganggu. Saraf optik bukan merupakan saraf perifer tetapi suatu traktus sistem saraf pusat antara sel ganglion retina dan otak tengah (midbrain) . Saraf ini berjalan ke posterior ke kiasma optikus dan mengandung lebih dari seribu berkas serat saraf bermielin yang disokong oleh neuroglia (astrosit) dan bukan endoneurium. Selaput otak dan ruang subarakhnoid melanjutkan diri dari otak sebagai sarung pembungkus saraf optik. Kira-kira 2,5 mm lateral dari bintik buta terdapat daerah berpigmen kuning yang dikenal sebagai Makula lutea (bintik kuning) (Gb-1). Bagian

tengah makula lutea dikenal sebagai fovea sentralis (Gb-1 dan Gb-11) yang merupakan daerah penglihatan yang paling peka. Fovea sentralis merupakan suatu sumur dangkal berbentuk bulat terletak 4 mm ke arah temporal dari lempeng optik dan sekitar 0,8 mm di bawah meridian meridian horizontal. Cekungan ini disebabkan tidak adanya lapisan dalam retina, pada retina di daerah ini. Sel penglihat pada lantai fovea terdiri dari hanya kerucut yang tersusun rapat dan berukuran lebih panjang di bandingkan dengan yang dibagian perifer retina. Retina optikal atau neural melapisi khoroid mulai dari papila saraf optik di bagian posterior hingga ora serrata di anterior. Pada irisan histologik (Gb-9, Gb-12 dan Gb-13) terdapat 10 lapisan retina dari luar ke dalam yaitu: 1. Epitel pigmen 2. Lapisan batang dan kerucut 3. Membran limitans luar 4. Lapisan inti luar 5. Lapisan pleksiform luar 6. Lapisan inti dalam 7. Lapisan pleksiform dalam 8. Lapisan sel ganglion 9. Lapisan serat saraf 10. Membran limitans dalam

Epitel pigmen adalah suatu lapisan sel poligonal yang teratur, ke arah ora serrata bentuk selnya menjadi lebih gepeng. Inti sel berbentuk kuboid dengan sitoplasmanya kaya akan butir-butir melanin. Fungsi epitel pigmen adalah 1. Menyerap cahaya dan mencegah terjadinya pemantulan. 2. Berperan dalam nutrisi fotoreseptor

3. Penimbunan dan dan pelepasan vitamin A 4. Berperan dalam proses pembentukan rhodopsin Lapisan batang dan kerucut mengandung 2 jenis sel fotoreseptor yaitu sel batang dan sel kerucut yang merupakan modifikasi sel saraf. Lapisan ini mengandung badan sel batang dan kerucut. Sel batang merupakan sel khusus yang ramping dengan segmen luar berbentuk silindris dengan panjang 28 mikrometer mengandung fotopigmen rhodopsin dan suatu segmen dalam yang sedikit lebih panjang yaitu sekitar 32 mikrometer. Keduanya mempunyai ketebalan 1,5 mikrometer. Inti selnya terletak di dalam lapisan inti luar. Ujung segmen luar tertanam dalam epitel pigmen. Segmen luar dan dalam dihubungkan oleh suatu leher yang sempit. Dengan mikroskop electron segmen luar tampak mengandung banyak lamel-lamel membran dengan diameter yang seragam dan tersusun seperti tumpukan kue dadar. Sel batang ini di sebelah dalam membentuk suatu simpul akhir yang mengecil pada bagian akhirnya pada lapisan pleksiform luar yang disebut sferul batang (rod spherule). Sel batang yang hanya teraktivasi dalam keadaan cahaya redup (dim light) sangat sensitive terhadap cahaya. Sel ini dapat menghasilkan suatu sinyal dari satu photon cahaya. Tetapi sel ini tidak dapat menghasilkan sinyal dalam cahaya terang (bright light) dan juga tidak peka terhadap warna. Cahaya yang masuk ke dalam retina diserap oleh rhodopsin, suatu protein yang tersusun dari opsin (protein transmembran) yang terikat pada aldehida vitamin A . Penyerapan cahaya ini akan menyebabkan isomerisasi rhodopsin dan memisahkan opsin dari ikatannya dengan aldehida vitamin A menjadi opsin bentuk aktif. Opsin bentuk aktif kemudian memfasilitasi pengikatan guanosin triphosphate (GTP) dengan protein transducin. Kompleks GTP-transducin ini kemudian mengaktifkan ensim cyclic guanosin monophosphate phosphodiesterase suatu ensim yang berperan dalam pembentukan senyawaan cyclic guanosin monophosphate (cGMP). Siklik guanosin monophosphate (cGMP) ini berperan dalam pembukaan kanal natrium di dalam plasmalema sel batang dan menyebabkan masuknya natrium dari segmen luar sel batang menuju

ke segmen dalam sel batang. Keadaan ini akan menyebabkan hiperpolarisasi di segmen dalam sel batang dan merangsang dilepaskannya neurotransmitter dari sel batang menuju ke sel bipolar. Oleh sel bipolar rangsang kimiawi ini dirubah menjadi impuls listrik yang akan diteruskan menuju ke sel ganglion untuk selanjutnya dikirim ke otak. Sel kerucut mempunyai struktur yang mirip dengan sel batang tetapi segmen luar yang mengecil dan membesar ke arah segmen dalam, sehingga berbentuk seperti botol. Inti sel kerucut lebih besar dibandingkan dengan sel batang. Sel kerucut di sebelah dalam melebar pada bagian akhirnya pada lapisan pleksiform luar membentuk kaki kerucut (cone pedicle). Sel kerucut teraktivasi dengan cahaya terang (bright light) dan menghasilkan aktivitas visual yang lebih besar di bandingkan sel batang. Sel kerucut merupakan sel fotoreseptor yang peka terhadap warna. Ada 3 jenis sel kerucut yang masing-masing mengandung pigmen iodopsin yang berbeda. Setiap jenis iodopsin mempunyai sensitivitas tertentu terhadap warna merah, biru dan hijau. Membran limitans luar merupakan rangkaian kompleks tautan antara sel batang, sel kerucut, dan sel Muller. Dengan mikroskop cahaya tampak sebagai garis. Lapisan inti luar merupakan lapisan yang terdiri atas inti-inti sel batang dan kerucut bersama badan selnya. Lapisan pleksiform luar dibentuk oleh akson sel batang dan kerucut bersama dendrit sel bipolar dan sel horizontal yang saling bersinaps. Lapisan inti dalam dibentuk oleh inti-inti dan badan sel bipolar, sel horizontal, sel amakrin, dan sel Muller. Sel bipolar dapat mempunyai dendrit yang panjang atau pendek. Aksonnya lurus dan berjalan vertikal ke dalam lapisan pleksiform dalam disini berhubungan dengan dendrit sel ganglion. Sel horizontal mempunyai badan sel yang lebih besar daripada sel bipolar. Dendritnya berakhir dalam keranjang berbentuk cangkir disekeliling sejumlah besar kaki kerucut. Sel amakrin terletak pada baris kedua atau

ketiga sebelah dalam lapisan inti dalam. Bentuknya seperti buah pir dengan sebuah tonjolan yang berjalan ke arah dalam untuk berakhir pada lapisan pleksiform dalam. Di lapisan ini tonjolan sel ini bercabang secara luas dan bersinaps dengan beberapa sel ganglion. Sel Muller disebut juga gliosit retina, berukuran raksasa dengan intinya terletak pada lapisan inti dalam. Dari badan sel, juluran sitoplasma yang panjang dan tipis meluas ke membran limitans luar dan dalam. Lapisan pleksiform dalam dibentuk oleh sinaps antara sel bipolar, amakirn, dan sel ganglion. Lapisan ganglion dibentuk oleh badan dan inti sel ganglion. Sel ganglion merupakan sel yang besar, sangat mirip dengan neuron pada otak dengan suatu massa terdiri dari materi kromofil (badan Nissl) dalam badan sel. Akson sel ganglion membentuk serat saraf optik. Aksonnya tak pernah bercabang Lapisan serat saraf optikus dibentuk oleh akson sel ganglion. Membran limitans dalam sebenarnya adalah membrana basalis sel Muller yang memisahkan retina dari korpus vitreum.

STEP 4 MAPPING

STEP 7 1. Jelaskan anatomi dan fisiologi organ penglihatan! Anatomi, tambahkan gambar!!!

Mata ada 2: a. Oculus: N.optivus, bulbus oculi Bulbus oculi:

1) selubung (tunica fibrosa(kornea dan sclera), tunica nervosa (retina, stratum pigmenti), tunica vasculosa (iris,corpus cillaris) 2) isi (aquous humor, lensa crystalina, dan corpus vitreum) b. Occuli accessorius: ada 4: palpebra, konjungtiva, kelenjar lakrima, Mm.oculi

a. Cornea: bentuk transparan, refraksi cahaya (membiaskan cahaya), berapa kekuatannya (dioptri)? Fungsi cornea? b. Pupil: mengatur jumlah cahaya yang diterima. Gelap pupil melebar, terang menyempit Ketika menutup mata, bagaimana keadaan pupil?

c. Iris: ada 2 otot: M. dilator pupil kontraksi pupil melebar. M. sphincter pupil kontraksi mengecilkan pupil GAMBAR nya M. dilator pupil dan M. Sphincter pupil? Jarasnya!

d. Lensa: memfokuskan cahaya dg cara akomodasi (kemampuan adaptasi lensa agar bayangan jatuh tepat di retina). Lensa mata tetap biconcave, yang membedakan hanya jarak (ditentukan oleh ukuran diameter yang menebal atau menipis.

e. Retina: macula lutea 1) sel batang/sel basal(adaptasi gelap dan melihat samping) dan 2) sel kerucut/sel konus (adaptasi terang, melhat sentral dan warna). Bagaimana proses pembentukan warna di iris? Warna mata dipengaruhi oleh melanosit pada lapisan yg berpigmen pada retina mata. a) Lapisan berpigmen: melanin dan menyimpan vitamin A. b) Lapisan batang dan kerucut yang menonjol pada lapisan pigmen c) Lapisan limitan luar d) Lapisan nucleus luar; mengandung badan sel batang dan kerucut - Sel batang: rodopsin 10% Isomerase

11 cis-retinol (vit. A) 11 cis-retinal +skotopsin rodopsin.

Cari skema!! - Sel kerucut: reseptor warna - iodopsin Adakah pengaruh dari vitamin A juga?

e) Lapisan pleksiform luar f) Lapisan nucleus dalam g) Lapisan pleksiform dalam h) Lapisan ganglion i) Lapisan serabut saraf optik j) Membrane limitan dalam

Mata tidak kering karena adanya cairan aquous humor (anterior lensa) dan vitreous humor(antara posteror lensa dan retina). Aliran vitreous humor ke aquous humor?

- Produksi Aquous humor tidak terbatas dibandingkan vitreous humor, disekresi oleh epitel proc. Cilliaris corpus cilliare.

Mekanisme pembentukan dan fungsi aquous humor?

- Menjaga agar tidak kering karena ada kelenjar lacrimal.

Diameter vertical mata: 23,5 mm, transversal 24 mm, anteroposterior 17,5mm,

2. Apa saja otot kelopak mata dan fungsinya! a. M. orbicularis oculi: dpersarafi N. VII (N. facialis) Menutup kelopak b. M. levator palpebra: oleh N. III (N. occulomotorius) Membuka kelopak c. M. tarsalis Mulleri: serabut2 simpatis dari ganglion servical superior Mempertahankan saat palpebra saat membuka

3. Apa saja adneksa mata beserta fungsinya! Occuli accessorius: ada 4: a. Palpebra 1) Palpebra superior 2) Palpebra inferior Palpebra superior dan inferor bertemu di Rima palpebra, disebelah lateral dan medialnyanya ada cantus, dicantus ada caranculla, cantus medial lebih berfungsi untuk berkumpulnya air mata sebelum ke punctum lacrima.

- Punya tarsus, mengandung kelenjar Meibom mengeluarkan minyak untuk melapisi bagian luar air mata agar tidak cepat menguap. b. Konjungtiva

Menghasilkan sel musin sel goblet melindungi mata. a. Konjungtiva tarsal: didepan tarsus b. Konjungtiva bulbi c. Konjungtiva fornix Fungsi masing2 konjungtiva?

c. kelenjar lakrima, a. sel acini : sel silindris, tidak beraturan, fungsi untuk menyimpan granul dan tetes lipid b. ductus excretorius intralobular: sel silindris, antarsel acini. c. ductus interlobular: sel silindris. Antara sel acini dan ductus excretorius intralobular. d. sel myoepithel

d. Mm.oculi a. M. Rectus lateral (N. VI) dan medial (N. III): pergerakan mata kesamping kanan dan kiri. b. M. Rectus inferior (N.III)dan superior(N.III): pergerakan mata ke atas ke atas dan bawah. c. M. Obliqus superior(N. IV) dan inferior (N. III): pergerakan mata memutar ke kanan dan kekiri.

4. Bagaimana mekanisme melihat?

5. Bagaimana mekanisme berkedip? (volunter dan involunter)! 6. Bagaimana mekanisme gerak bola mata? Saat melihat tanpa merubah posisi tubuh dan kepalanya? 7. Mengapa Arief tidak merasakan matanya kering/tidak sakit ketika ada debu? 8. Mengapa tidak merasakan sakit kepala meskipun lama berdiri? 9. Bagaimana mekanisme bisa membedakan warna?