Anda di halaman 1dari 5

2.3.

Artemia

Menurut Jiaxin dan Shetty (1991), Artemia dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Sub-fillum Kelas Sub-kelas Ordo Familia Genus Spesies : Branchiata : Crustacea : Branchiopoda : Anostraca : Artemidae : Artemia : Artemia sp.

Artemia memiliki sistem osmoregulasi sehingga mampu beradaptasi pada salinitas antara 1-300 o/oo tergantung jenisnya dan fase dalam siklu hidupnya. Toleransi terhadap suhu antara 6-34 oC, sedangkan kisaran suhu optimumnya antara 25-30 oC dan suhu diatas 35 oC akan mengalami kematian. Kisaran pH optimum 7,6 8,5 dan oksigen terlarut 4,0 6,5 ppm (Thariq et al, 2001). Kista artemia berukuran 200-250 m dan toleran terhadap kondisi ekstrim pada salinitas 70 o/oo. Naupli artemia yang bau menetas berukuran antara 0,4 0,5 m dengan berat 200 mg (Bombeo, 1995). Artemia dewasa mempunyai ukuran panjang antar 8-10 mm, tubuhnya memanjang dan berbentuk daun robek. Bila keadaan memungkinkan dapat bereproduksi selama 6 bulan/ 1 tahun secara terus menerus, setelah itu akan mati (Jahning, 1977).

2.3.1. Biologi Artemia

Perbedaan antara artemia dewasa jantan dan betina ada pada kedua antena, diamana pada antena dewasa jantan antena kedua berubah manjadi penjepit yang membesar dan berotot. Fungsinya untuk berpegangan pada betina pada saat perkawinan (Sumeru, 1984). Berdasarkan perkembangbiakan ada 2 jenis Artemia yaitu biseksual dan partenogenesis. Jenis biseksual tidak dapat berkembang biak secara partenogenesis, demikian pula sebaliknya pekebangbiakan secara biseksual

melalui proses perkawinan, sedangkan pada jenis partenogenetik pada perkawianan selanjutnya dikatakan pada perkembangbiakan secara biseksual maupun partenogenesis, keduanya dapat terjadi secara ovovivipar maupun ovipar. Pada ovovivipar dihasilkan induk adalah anak burayak yang disebut nauplius biasanya terjadi bila keadaan lingkungan cukup baik dan kadar garam kurang dari 50 o/oo dan kandungan oksigen terlarut cukup. Sedangkan pada cara ovipar yang dihasilkan induk berupa telur yang bercangkang tebal yang dinamakan kista dan biasanya terjadi bila kondisi lingkungan memburuk dengan kadar garam di atas 1500/00 dan oksigen rendah (Thariq, 2001). 2.3.2. Uji kualitas kista artemia

2.3.2.1. Kecepatan penetasan (HR) Kista yang direndam didalam air laut dengan tingkat salinitas 30-35 ppt, maka akan terjadi hidrasi. Setelah 24 jam, membran luar akan pecah dan kista menetas menjadi embrio. Beberapa jam kemudian embrio berkembang menjadi nauplius dan mampu berenang bebas didalam air. Individu yang baru ditetaskan ini dikenal dengan instant I. Instant I ini akan berganti kulit menjadi instant II, demikian seterusnya samapai 15 kali. Setiap tahap pergantian kulit yang terakhir disebut instant XV. Selanjutnya artemia berkembang menjadi individu dewasa dengan ukuran 10-20 mm. Perkembangan artemia dari proses penetasan sampai menjadi individu dewasa membutuhkan waktu sekitar 7-10 hari. Pada saat telah menjadi dewasa artemia siap untuk melakukan proses perkawinan. Proses perkawinan pada artemia ditandai dengan penempelan individu jantan pada tubuh betina, keadaan seperti ini berlangsung hingga telur masak (Harefa, 1997). 2.3.3.3. Efisiensi pakan (HE) Kista artemia ditetaskan dalam wadah transparan yang bagian dasarnya berbentuk kerucut. Apabila tidak ada wadah bisa terbuat dari plastik yang bagian bawahnya direkatkan sedemikian rupa hingga membentuk kerucut. Selain itu juga digunakan balon bekas mineral yang dipotong bagian luar kemudian dibalik atau bahkan bisa menggunakan stoples ukuran 3-5 liter. Wadah diisi dengan air laut dengan salinitas 5-10 o/oo, kedalam air tersebut dimasukkan kista artemia sebanyak 5 gram untuk setiap 1 liter air. Setiap pengadukan diberikan aerasi tanpa disimpan pada tempat yang dekat dengan lampu dengan kekuatan intensitas cahaya 1000 lux. Air media penetasan

dipertahankan pada suhu 25o-30o C dengan pH 8-9. Dalam 24-48 jam kista sudah menetas. 2.3.2.3. Presentase penetasan (HP) Dalam kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, misalnya karena salinitas air amat tinggi atau kadar oksigen rendah telur segera dibungkus oleh kulit luar (korion). Korion ini diproduksi oleh kelenjar kulit, lapisan kulit ini biasanya keras, tidak mudah pecah, ringan dan berwarna coklat tua. Dengan korion ini maka telurnya mampu berkembanh hingga fase gastrulla dan berkembang berlanjut kepada fase clormansi. Pada saat terbentuk korion proses metabolisme menjadi terhenti. Telur kemudian disebut dengan kista yang akan dilepas induknya kedalam air sehingga mengapung dibawa oleh angin. Karena bobotnya yang sangat ringan proses pelepasan proses pelepasan kista dari induknya ini disebut dengan ovopar. Kista artemia berbentuk bulat dan cukup keras sehingga tidak mudah pecah. Kondisi lingkungan yang baik, salinitas rendah telur langsung menetas menjadi larva yang disebut nauplius. Larva ini akan membebaskan diri dari induknya dengan berenang bebas didalam air. Proses penetasan telur langsung menjadi larva ini disebut dengan ovivipar. 2.3. Artemia

Menurut Jiaxin dan Shetty (1991), Artemia dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Sub-fillum Kelas Sub-kelas Ordo Familia Genus Spesies : Branchiata : Crustacea : Branchiopoda : Anostraca : Artemidae : Artemia : Artemia sp.

Artemia memiliki sistem osmoregulasi sehingga mampu beradaptasi pada salinitas antara 1-300 o/oo tergantung jenisnya dan fase dalam siklu hidupnya. Toleransi terhadap suhu antara 6-34 oC, sedangkan kisaran suhu optimumnya antara 25-30 oC dan suhu diatas 35 oC akan mengalami kematian. Kisaran pH optimum 7,6 8,5 dan oksigen terlarut 4,0 6,5 ppm (Thariq et al, 2001).

Kista artemia berukuran 200-250 m dan toleran terhadap kondisi ekstrim pada salinitas 70 o/oo. Naupli artemia yang bau menetas berukuran antara 0,4 0,5 m dengan berat 200 mg (Bombeo, 1995). Artemia dewasa mempunyai ukuran panjang antar 8-10 mm, tubuhnya memanjang dan berbentuk daun robek. Bila keadaan memungkinkan dapat bereproduksi selama 6 bulan/ 1 tahun secara terus menerus, setelah itu akan mati (Jahning, 1977).

2.3.1. Biologi Artemia

Perbedaan antara artemia dewasa jantan dan betina ada pada kedua antena, diamana pada antena dewasa jantan antena kedua berubah manjadi penjepit yang membesar dan berotot. Fungsinya untuk berpegangan pada betina pada saat perkawinan (Sumeru, 1984). Berdasarkan perkembangbiakan ada 2 jenis Artemia yaitu biseksual dan partenogenesis. Jenis biseksual tidak dapat berkembang biak secara partenogenesis, demikian pula sebaliknya pekebangbiakan secara biseksual melalui proses perkawinan, sedangkan pada jenis partenogenetik pada perkawianan selanjutnya dikatakan pada perkembangbiakan secara biseksual maupun partenogenesis, keduanya dapat terjadi secara ovovivipar maupun ovipar. Pada ovovivipar dihasilkan induk adalah anak burayak yang disebut nauplius biasanya terjadi bila keadaan lingkungan cukup baik dan kadar garam kurang dari 50 o/oo dan kandungan oksigen terlarut cukup. Sedangkan pada cara ovipar yang dihasilkan induk berupa telur yang bercangkang tebal yang dinamakan kista dan biasanya terjadi bila kondisi lingkungan memburuk dengan kadar garam di atas 1500/00 dan oksigen rendah (Thariq, 2001). 2.3.2. Uji kualitas kista artemia

2.3.2.1. Kecepatan penetasan (HR) Kista yang direndam didalam air laut dengan tingkat salinitas 30-35 ppt, maka akan terjadi hidrasi. Setelah 24 jam, membran luar akan pecah dan kista menetas menjadi embrio. Beberapa jam kemudian embrio berkembang menjadi nauplius dan mampu berenang bebas didalam air. Individu yang baru ditetaskan ini dikenal dengan instant I. Instant I ini akan berganti kulit menjadi instant II, demikian seterusnya samapai 15 kali. Setiap tahap pergantian kulit yang terakhir disebut instant XV. Selanjutnya artemia berkembang menjadi individu dewasa dengan ukuran 10-20 mm. Perkembangan

artemia dari proses penetasan sampai menjadi individu dewasa membutuhkan waktu sekitar 7-10 hari. Pada saat telah menjadi dewasa artemia siap untuk melakukan proses perkawinan. Proses perkawinan pada artemia ditandai dengan penempelan individu jantan pada tubuh betina, keadaan seperti ini berlangsung hingga telur masak (Harefa, 1997). 2.3.3.3. Efisiensi pakan (HE) Kista artemia ditetaskan dalam wadah transparan yang bagian dasarnya berbentuk kerucut. Apabila tidak ada wadah bisa terbuat dari plastik yang bagian bawahnya direkatkan sedemikian rupa hingga membentuk kerucut. Selain itu juga digunakan balon bekas mineral yang dipotong bagian luar kemudian dibalik atau bahkan bisa menggunakan stoples ukuran 3-5 liter. Wadah diisi dengan air laut dengan salinitas 5-10 o/oo, kedalam air tersebut dimasukkan kista artemia sebanyak 5 gram untuk setiap 1 liter air. Setiap pengadukan diberikan aerasi tanpa disimpan pada tempat yang dekat dengan lampu dengan kekuatan intensitas cahaya 1000 lux. Air media penetasan dipertahankan pada suhu 25o-30o C dengan pH 8-9. Dalam 24-48 jam kista sudah menetas. 2.3.2.3. Presentase penetasan (HP) Dalam kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, misalnya karena salinitas air amat tinggi atau kadar oksigen rendah telur segera dibungkus oleh kulit luar (korion). Korion ini diproduksi oleh kelenjar kulit, lapisan kulit ini biasanya keras, tidak mudah pecah, ringan dan berwarna coklat tua. Dengan korion ini maka telurnya mampu berkembanh hingga fase gastrulla dan berkembang berlanjut kepada fase clormansi. Pada saat terbentuk korion proses metabolisme menjadi terhenti. Telur kemudian disebut dengan kista yang akan dilepas induknya kedalam air sehingga mengapung dibawa oleh angin. Karena bobotnya yang sangat ringan proses pelepasan proses pelepasan kista dari induknya ini disebut dengan ovopar. Kista artemia berbentuk bulat dan cukup keras sehingga tidak mudah pecah. Kondisi lingkungan yang baik, salinitas rendah telur langsung menetas menjadi larva yang disebut nauplius. Larva ini akan membebaskan diri dari induknya dengan berenang bebas didalam air. Proses penetasan telur langsung menjadi larva ini disebut dengan ovivipar.