Anda di halaman 1dari 23

Tumbuh Kembang Bayi

Ida Bagus Indrayana M 10.2009.119 Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Appucrawler@yahoo.com

A.Pendahuluan Pendidikan berlangsung sejak anak lahir bahkan secara tidak langsung proses pendidikan dimulai ketika anak masih berada dalam kandungan ibu. Pendidik yang pertama kali memberikan pengaruh terhadap anak adalah ibu bapa di dalam lingkungan keluarga. Pendidik ini sangan menentukan proses pembentukan pribadi anak. Jadi pengaruh yang berasal dari orang tua itu merupakan pengaruh atau bimbingan yang utama. Oleh karena itu orang tua wajib memberikan teladan yang baik, positif dan bersifat mendidik. Pendidikan yang tidak langsung terhadap bayi dalam kandungan berwujud kedisiplinan, ketenangan, kesehatan, ketentraman, dan pemberian makanan yang bergizi bagi ibu yang hamil. Setelah anak lahir, penjagaan yang rapi haruslah diberi kepada bayi. Gizi seimbang haruslah diteliti dengan rapi untuk mengelakkan malnutrisi sekaligus dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Tidak lupa juga melengkapkan imunisasi dasar sebelum anak menjangkau umur 1 tahun. Anak yang tidak mendapat imunisasi dasar yang lengkap lebih rentan dan senang dijangkiti penyakit karena kadar imun dalam badan yang rendah. Bayi bukanlah orang dewasa yang berukuran kecil. Jadi, bayi dan anak haruslah diberi perhatian yang lebih supaya dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangannya baik seiring dengan umurnya. B. Pembahasan 1. Anamnesis Anamnesis harus dilakukan secara teliti, teratur, dan lengkap karena sebagian besar data yang diperlukan diperoleh dari anamnesis untuk menegakkan diagnosis. hal-hal yang perlu ditanyakan dalam anamnesis yaitu :

Riwayat kehamilan ibu yaitu kesehatan ibu saat kehamilan, pernah sakit atau tidak, makan obat-obatan, atau tetanus toxoid. Riwayat kelahiran, yaitu : o Tanggal lahir, o Tempat lahir, o Ditolong oleh siapa, o Cara kelahiran, o Kehamilan ganda, o Keadaan segera setelah lahir, pasca lahir, hari-hari pertama kehidupan, o Masa kehamilan, o Berat badan dan panjang badan lahir (apakah sesuai dengan masa kehamilan, kurang atau besar) Riwayat pertumbuhan, yaitu kurva berat badan dan panjang badan terhadap umur. Riwayat perkembangan, yaitu patokan perkembangan pada bidang motor kasar, motor halus, dan sosial-personal. Riwayat imunisasi, yaitu imunisasi apa saja yang sudah diberikan kepada bayi dan waktu/tanggal pelaksanaan imunisasinya. Riwayat makanan, yaitu nutrisi apa saja yang sudah diberikan selama 6 bulan terakhir apakah pemberian ASI lancer, apakah menggunakan susu formula, apakah sudah mulai diberikan bubur susu. Riwayat penyakit yang pernah diderita, yaitu penyakit apa saja yang pernah diderita oleh bayi selama 6 bulan terakhir. Riwayat keluarga, yaitu apakah keluarga memiliki penyakit keturunan, Corak reproduksi ibu, yaitu apakah bayinya ini merupakan anak pertamanya, jika tidak berapakah jumlah anaknya sekarang dan berapakah rentang umur antara anaknya yang 1 dengan anaknya yang lain. Data perumahan, yaitu apakah daerah rumahnya bersih, apakah rumahnya tipe RSS (Rumah Sangat Sederhana) 2. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik anak dibagi menjadi 3 macam yaitu:

a.

Pemeriksaan Denver II Uji skrining yang paling sering digunakan adalah development denver screening test

(DDST). DDST memberikan penilaian empat domain perkembangan pribadi-sosial, penyesuaian motorik halus, bahasa dan motorik kasar sejak lahir sampai umur 6 tahun. Uji ini dilakukan dalam waktu 20-30 menit tanpa pelatihan yang luas dan peralatan yang mahal.1,2 Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan, DDST secara efektif dapat menidentifikasikan antara 85-100 % bayi dan anak-anak prasekolah yang mengalami keterlambatan perkembangan dan pada follow up selanjutnya ternyata 89% dari kelompok DDST abnormal mengalami kegagalan di sekolah 5-6 tahun kemudian. DDST telah dikritik karena kurang mengidentifikasi anak dengan ketidakmampuan perkembangan anak khususnya masalah bahasa. Uji ini bukan untuk meramalkan akan tetapi untuk mendeteksi kemampuan anak di bawah normal dengan umur sebayanya. Selain itu DDST bukan pula tes diagnostik atau tes IQ.2 Uji ini kemudian diterbitkan kembali sebagai DDST-II dengan seksi bahasa yang sangat dipetluas. DDST-II dilaporkan mempunyai sensitivitas yang lebih besar terutama untuk keterlambatan bahasa. Frankenburg melalui DDST mengemukakan empat parameter perkembangan yang dipakai dalam menilai perkembangan anak balita yaitu: Personal social Aspek ini berhubungan dengan kemandirian, bersosialisasi, dan berinterraksi dengan lingkungannya. Fine motor adaptive Aspek ini berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu saja dan

dilakukan otot-otot kecil saja tetapi memerlukan koordinasi yang cermat. Misalnya kemampuan untuk menggambar, memegang suatu benda, dan lainlain. Language Kemampuan untuk memberikan respon pada suara, mengikuti perintah, dan berbicara spontan Gross motor Aspek ini berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh. Sektor-sektor ini dapat dijabarkan pada tabel 2.1.1.

Tabel 2.1.1. DDST II Personal sosial


0 bulan Menatap muka -

Fine motor adaptive

Language
Suara vokal Bereaksi pada suara Suara vokal (>90%) Bereaksi pada bel (>90%)

Grass motor
Mengangkat kepala Gerakan merata Mengangkat kepala (>90%)

1 bulan

Membalas senyum (80%) Memandang muka (90%)

Mengikuti sampai garis tengah (85%)

2 bulan

Tersenyum spontan (85%) Membalas senyum (80%) Memandang muka (90%) Memandang tangan sendiri (75%) Tersenyum spontan (>90%)

Mengikuti dan melewati garis tengah (75%)

Bersuara "Ooo atau Aaa" (80%)

Kepala terangkat 450 (80%)

3 bulan

Kedua tangan bersentuhan atau bersatu (80%) Mengikuti melewati garis tengah (>90%)

Memekik (80%) Tertawa (90%) Bersuara "Ooo atau Aaa" (>90%) Memekik (85%) Tertawa (90%)

Duduk: kepala mantap (75%) Kepala terangkat 90o (80%)

4 bulan

Memangang tangan sendiri (90%)

Mengikuti 1800 (80%) Kedua tangan bersentuhan atau bersatu (90%) Menggenggam sedikit-sedikit (>90%) Meraih benda (<75%)

Dada terangkat lengan menumpu (75%) Menumpu berat badan kaki (80%)

5 bulan

Mencoba mengambil mainan (<75%)

Menoleh ke bunyi menderik (80%)

Memandang tangan sendiri (>90%)

Memandang manik-manik (85%) Mengikuti 180o (>90%)

Berbalik (85%)

6 bulan

Makan sendiri (75%) Mencoba mengambil mainan (>90%)

Mencari benang wol (<75%) Meraih benda (>95%)

Menirukan bunyi/bicara (75%) Suku kata tunggal (>75%) Menoleh ke bunyi suara (80%)

Duduk tanpa ditumpu (<75%) Ditarik untuk duduk : Kepala tidak tertinggal (>85%) Berbalik (>90%) Duduk tanpa ditumpu (>90%)

7 bulan

Tangan melambai dag dag (<75%) Makan sendiri (>90%)

Mengambil 2 kubus (<75%)

Da da mama non spesifik (<75%) Menirukan bunyi/bicara (80%) Suku kata tunggal (80%) Menoleh ke bunyi suara (>90%) Mengoce (<75%) Da da mama non spesifik (80%) Menirukan bunyi/bicara (85% Suku kata tunggal (>90%) Mengoce (80%) Da da mama non spesifik (85%) Menirukan bunyi/bicara (90%) Da da mama spesifik (<75%) Mengoce (80%)

Memindahkan kubus (75%) Mengambil manik-manik dengan gerakan menggaruk (80%) Mencari benang wol (85%)

8 bulan

Tangan melambai dag dag (<75%) Tepuk tangan / pok ame ame / ciluk ba (<75%)

Mengambil 2 kubus (80%) Memindahkan kubus (>90%)

Berdiri, berpegangan (80%)

9 bulan

Tangan melambai dag dag (<75%) Tepuk tangan / pok ame ame / ciluk ba (<75%)

Membenturkan 2 kubus (<75%) Menggenggam pinset (<75%)

Duduk sendiri (<75%) Bangkit untuk berdiri (<75%) Bangkit untuk berdiri (<75%) Berdiri 2 detik (<75%)

Mengambil 2 kubus (85%) 10 bulan Bermain bola dengan pemeriksa (<75%) Dag dag dengan tangan (80%) Menyatakan keinginan (<75%) Tepuk tangan / pok ame ame / ciluk ba (<75%) Membenturkan 2 kubus (<75%) Menggenggam pinset (85%)

Duduk sendiri (85%)

Mengambil 2 kubus (>90%)

Mengkombinasi suku kata-suku kata (85%) Menirukan bunyi/bicara (>90%) Da da mama non spesifik (>90%) Da da mama spesifik (<75%) Mengoce (85%)

Bangkit untuk berdiri (90%) Berdiri, berpegangan (>90%)

11 bulan

Bermain bola dengan pemeriksa (<75%) Dag dag dengan tangan (80%) Menyatakan keinginan (75%)

Membenturkan 2 kubus (85%)

Berdiri 2 detik (75%)

Menggenggam pinset (>90%)

Duduk sendiri (>90%)

Mengkombinasi suku kata-suku kata

Bangkit untuk berdiri (>90%)

(>90%) Tepuk tangan / pok ame ame / ciluk ba (85%) 2 tahun Mengenakan baju (<75%) Menyuapi boneka (90%) Membuka pakaian (90%) Menara 6 kubus (75%) Menunjuk 4 gambar (<75%) Berbicara sebagian dimengerti (<75%) Bagian badan 6 (80%) Menyebut 1 gambar (75%) Mengkombinasi kata (85%) Menunjuk 2 gambar (>90%)
3 tahun Mengenakan T shirt (75%) Menyebut nama teman (85%) Mencuci dan mengeringkan tangan (85%) 4 tahun Berpakaian tanpa bantuan (80%) Mengenakan T shirt (>90%) Menara 8 kubus (80%) Mengetahui dua nama sifat (75%) Mengetahui dua kegiatan (85%) Menyebut 4 gambar (>90%) Mengetahui tiga kata sifat (80%) Mengetahui empat kata depan (80%) Berbicara seluruhnya dimengerti (85%) Mengetahui empat kegiatan (85%) Kegunaan 3 benda (85%) Menghitung 1 kubus (>90%) 5 tahun Mengambil makanan (85%) Menggosok gigi tanpa bantuan (90%) Bermain ular tangga (>90%) Menggambar orang 6 bagian (>25%) Mencontohkan (<25%) Lawan kata 2 (25%) Berjalan tumit ke jari kaki (<25%) Berdiri pada satu kaki 5 detik (80%) Berdiri pada satu kaki 4 detik (90%) Berdiri pada satu kaki 1 detik (80%) Lompatan lebar (75%)

Melempar bola tangan ke atas (<75%) Menendang bola ke depan (>90%)

Menara 4 kubus (>90%)

Meniru garis vertikal (85%)

Menara 4 kubus (>90%)

Melempar bola tangan ke atas (>90%) Berdiri pada satu kaki 3 detik (80%) Melompat dengan satu kaki (85%) Berdiri di atas satu kaki 2 detik (90%)

Mencontohkan + (<75%)

Memilih garis yang lebih panjang (75%) Mencontohkan O (85%)

Menghitung 5 kubus (25%) Mengetahui 3 kata sifat (85%) Mengartikan 5 kata (85%) Menyebutkan 4 warna (>90%)

Memilih garis yang lebih panjang (85%) Mencontohkan + (>90%)

(Dikutip sesuai dengan aslinyadari kepustakaan no.1 )

Gambar 2.1.1. Grafik development denver screening test yang terdiri atas 4 komponen yaitu

personal social, fine motor-adaptive, language, dan gross motor Alat yang digunakan dalam test ini adalah: Alat peraga Benang wol merah, kismis atau manik-manik, kubus warna merah, kuning, hijau, biru, permainan anak, botol kecil, bola tenis, bel kecil, kertas, dan pensil. Lembar formulir DDST Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes dan cara penilaiannya

Prosedur DDST terdiri dari 2 tahap yaitu:2 Tahap pertama Secara periodik dilakukan pada semua anak yang berusia antara 3 bulan sampai 5 tahun yaitu: 3-6 bulan 9-12 bulan 18-24 bulan 3 tahun 4 tahun 5 tahun Tahap kedua Tahap ini dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan perkembangan pada tahap pertama. Setelah itu dilanjutkan dengan evaluasi diagnostik yang lengkap. Interpretasi test denver adalah: Normal Tidak ada kelambatan dan maksimum dari satu kewaspadaan

Suspect Satu atau lebih kelambatan dan/ atau dua atau lebih banyak kewaspadaan

Untestable Penolakan pada satu atau lebih pokok dengan lengkap ke kiri garis usia atau pada lebih dari satu pokok titik potong berdasarkan garis usia pada area 75% sampai 90% Beberapa macam keterlambatan pada perkembangan anak yaitu:

Delay (keterlambatan) Keterlambatan bermakna di bawah rata-rata dalam suatu sektor perkembangan (DQ<75 U). Keterlambatan ini dapat terjadi dalam satu atau lebih sektor perkembangan.

Delay dibagi menjadi 2 macam yaitu: Moderate delay Delay yang usia perkembangan 2/3 dari usia kronologisnya (DQ 66,6 U).

Severe delay Delay yang usia perkembangan dari usia kronologisnya (DO 50 U).

Global Delayed Development (GDD) Adanya keterlambatan yang bermakna dalam dua atau lebih sektor-sektor perkembangan.

Dissociation (disosiasi) Perbedaan bermakna dari derajat maturasi perkembangan di antara 2 atau lebih sektor perkembangan

Deviancy (deviansi) Delay yang terjadi dalam satu sektor perkembangan dimana gugus tugas dalam sektor tersebut diselesaikan tidak sesuai dengan urutan yang seharusnya.

b.

Pemeriksaan antropometrik Pengertian istilah nutritional anthropometry mula-mula muncul dalam Body

measurements and Human Nutrition yang ditulis oleh Brozek pada tahun yang telah didefinisikan oleh Jelliffe yaitu pengukuran pada variasi dimensi fisik dan komposisi besaran tubuh manusia pada tingkat usia dan derajad nutrisi yang berbeda. Pengukuran antropometri ada 2 tipe yaitu pertumbuhan, dan ukuran komposisi tubuh yang dibagi menjadi pengukuran lemak tubuh dan massa tubuh yang bebas lemak. Penilaian pertumbuhan merupakan komponen esensial dalam surveilan kesehatan anak karena hampir setiap masalah yang berkaitan dengan fisiologi, interpersonal, dan domain sosial dapat memberikan efek yang buruk pada pertumbuhan anak. Alat yang sangat penting untuk penilaian pertumbuhan adalah kurva pertumbuhan (growth chart)

pada gambar terlampir, dilengkapi dengan alat timbangan yang akurat, papan pengukur, stadiometer dan pita pengukur. Pengukuran antropometrik terdiri atas:

Berat badan Merupakan ukuran antropometri yang terpenting dan paling sering digunakan pada bayi baru lahir (neonatus). Berat badan digunakan untuk mendiagnosa bayi normal atau BBLR. Berat badan merupakan pilihan utama karena berbagai pertimbangan:

Parameter yang baik, mudah terlihat perubahan dalam waktu singkat Memberi gambaran status gizi sekarang dan gambaran yang baik tentang pertumbuhan Merupakan ukuran antropometri yang sudah dipakai secara umum dan luas. Ketelitian pengukuran tidak banyak dipengaruhi oleh ketrampilan pengukur

Alat yang digunakan di lapangan sebaiknya memenuhi beberapa persyaratan: Mudah digunakan dan dibawa dari satu tempat ke tempat lain Mudah diperoleh dan relatif murah harganya Ketelitian penimbangan sebaiknya maksimum 0,1 kg Skala mudah dibaca Cukup aman untuk menimbang anak balita.

Cara penimbangan berat badan untuk usia kurang dari 2 tahun adalah: Timbang bayi dengan menggunakan timbangan khusus bayi atau anak Timbangan terdapat di atas permukaan yang keras dan rata Setiap kali sebelum menggunakan timbangan, timbangan tersebut harus ditera terlebih dahulu Menimbang dengan cara tidak langsung dengan cara menimbang berat ibu dengan bayi atau anaknya kemudian berat ibunya sendiri dikurangi dengan berat ibunya. Penimbangan dengan cara ini sangatlah tidak akurat Timbanglah bayi atau anak tanpa baju atau dengan popoknya saja. Popok tersebut terlebih dahulu ditimbang Berat badan dicatat dengan ketelitian 0,1 kg Penimbangan dilakukan sebanyak 2 kali

Cara penimbangan berat badan untuk usia lebih dari 2 tahun adalah:

Lege artis adalah penimbangan sesuadah buang air besar dan sebelum makan Timbangan berada di atas permukaan yang rata dan keras Setiap kali sebelum menggunakan jarum timbangan, jarum tersebut dikembalikan pada titik 0 Subyek berdiri tanpa bantuan di tengah platform, santai tapi diam, melihat lurus ke muka dalam bidang horizontal Frankfurt Pakaian subyek dilepas semua kecuali pakaian dalam yang ringan atau diberi pakaian khusus yang beratnya diketahui dan tanpa alas kaki Berat badan dicatat denga ketelitian mendekati 0,1 kg Sebaiknya penimbangan dilakukan 2 kali

Tinggi atau panjang badan Mengukur tinggi badan dilakukan pada anak yang berusia lebih dari 2 tahun atau anak tersebut dapat berdiri dengan sempurna. Pengukuran panjang badan dilakukan pada bayi atau anak di bawah umur 2 tahun. Lingkar kepala Lingkar kepala harus diperiksa selama 2 tahun pertama kehidupan anak. Pengukuran ini berguna untuk mengetahui pertumbuhan kepala anak. Lingkar kepala pada bayi dicerminkan pertumbuhan tengkorak dan otak. Yang diukur adalah lingkaran kepala terbesar. Caranya dengan meletakan pita yang melingkari kepala melalui glabela pada dahi, bagian atas alis mata, dan bagian belakanag kepala bayi yang paling menonjol yang disebut protuberantia ocipitalis. Ukuran kepala yang kecil dapat disebabkan karena terlalu cepat menutup dutura atau pada keadaan mikrosefali. Ukuran kepala yang terlalu besar (lebih dari sembilan puluh tujuh persentil atau 2 SD diatas nilai rata-rata) disebut makrosefali yang mungkin disebabkan oleh hidrocephalus Lingkar lengan Cara mengukur lingkar lengan adalah: Menentukan titik tengah lengan atas Setelah ditentukan, lengan diturunkan hingga tergantung bebas di samping tubuh dengan telapak tangan menghadap paha

Pita pengukur titempatkan di sekitar lengan atas kiri atau kanan setinggi titik tengah. Ambil ukuran dengan ketelitian mendekati 1 mm.

Metode antropometri memiliki banyak keuntungan antara lain sebagai berikut :


Sederhana, aman, non-invasive, cocok utk sampel besar Peralatan tidak mahal, portable, tahan lama, dan mudah didapat. Pengukuran dapat dilakukan berulang-ulang dengan mudah dan objektif. Metode ini tepat dan akurat, karena dapat dibakukan. Pengukuran bukan hanya dapat dilakukan oleh tenaga profesional, tetapi dapat dilakukan oleh petugas yang relatif tidak ahli (dilatih agar teliti).

Dapat digunakan sebagai sumber informasi mengenai riwayat gizi masa lampau.

Dapat digunakan untuk mengidentifikasi status gizi (gizi ringan, sedang, buruk).

Dapat digunakan untuk mengevaluasi perubahan status gizi pada periode tertentu atau sebagai alat pemantauan status gizi.

Dapat digunakan screening test mengidentifikasi individu beresiko kurang gizi.

Disamping memiliki keunggulan, metode antropometri juga memiliki kerugian sebagai berikut :

Relatif kurang sensitif dibandingkan dengan cara lainnya. Tidak dapat mengidentifikasi gangguan status gizi yang terjadi dalam waktu singkat, dan tidak dapat mengidentifikasi defisiensi zat gizi khusus.

Tidak dapat membedakan gangguan pertumbuhan atau komposisi tubuh akibat defisiensi zat gizi mikro dengan akibat gangguan intik energi dan protein

Faktor diluar gizi (penyakit, genetik, variasi diurnal) dapat mengurangi spesifisitas dan sensitivitas pengukuran antropometri.

Kesalahan ini dapat disebabkan karena pengukuran, perubahan hasil pengukuran baik fisik maupun komposisi jaringan dan analisis atau asumsi yang keliru.3

c. Pemeriksaan Tanda Fital Pada pemeriksaan Tanda Fital kita melakukan pengukuran Suhu tubuh Umumnya suhu tubuh diukur secara rektal. Anak ditengkurapkan pada pangkuan ibu dan ditahan oleh lengan kiri ibu. Dengan 2 jari tangan kirinya, ibu memisahkan dinding anus bagian kanan dan kiri dan memasukkan termometer ke dalam anus dengan tangan kanannya. Pengukuran suhu tubuh secara oral hanya dilakukan pada anak yang berumur lebih dari 6 tahun dan telah mengerti maksud pemeriksaan.4,5 Tekanan darah Sebaiknya diukur jika anak sedang tenang dan tidak menangis. Besat manset sebaiknya antara setengah dan dua pertiga panjang lengan atas. Kalau manset terlalu besat, akan memberikan anagka yang terlalu rendah, sedangkan manset yang terlalu kecil memberikan angka yang tinggi. Tekanan darah pada waktu lahir ialah 60 90 mmHg sistolik dan 20-60 mmHg diastolik. Keduanya biasnya naik 2-3 mmHg tiap-tiap tahun dan sesudah pubertas mencapai tekanan darah orang dewasa. Sampa umur 1 tahun tekanan diastolik di lengan sama dengan di paha, sesudahnya tekanan sistolik di paha lebih tinggi 10-30 mmHg, sedangkan tekanan diastolik hampir tetap sama. Pernapasan Frekuensi, tipe/pola pernapasan, kedalaman, maupun irama merupakan hal-hal yang diperhatikan saat mengukur pernapasan bayi. Tipe pernapasan yang normal adalah pernapasan abdminal/diafragmatikal dan semakin besar maka akan menjadi torakal. 3. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan Urine dan Tinja Pemeriksaan urine dan tinja bermanfaat untuk menilai ada atau tidaknya diare serta kelainan pada daerah anus. Pemeriksaan ini normal apabila bayi mengeluarkan feses cair antara 6-8 kali per menit, dapat dicurigai apabila frekuensi meningkat serta adanya lendir

atau darah. Adanya perdarahan per vaginam pada bayi baru lahir dapal terjadi selama beberapa hari pada minggu pertama kehidupan.6

b. Tes darah Pemeriksaan Hematologi untuk mengevaluasi anemia, leukemia, reaksi inflamasi dan infeksi, karakteristik sel darah perifer, tingkat hidrasi dan dehidrasi, polisitemia, penyakit hemolitik pada bayi baru lahir, dan menentukan perlu atau tidaknya kemoterapi.

4. Penatalaksanaan a.Farmakoterapi Vitamin dan mineral Adalah sejumlah zat yang terdapat dalam makanan,yang berfungsi mempertahankan fungsi tubuh.Vitamin terbagi dalam dua bagian besar yaitu vitamin yang larut dalam air dan vitamin yang larut dalam lemak. Vitamin yang larut dalam air adalah vitamin B dan C yang tidak di simpan dalam tubuh melainkan harus di konsumsi melalui makanan tertentu.Vitamin B mencakup B1,B2, dan B12. Vitamin B1 atau tiamin diperlukan tubuh untuk metabolism karbohidrat dalam pembentukan energy (sebagai koenzim).Kekurangan vitamin ini akan mengakibatkan tubuh mudah merasa lelah,kurang nafsu makan,kerusakan pembuluh darah dan sel saraf. Vitamin B2 atau riboflavin penting dalam metabolism karbohidrat,asam lemak,asam amino yaitu koenzim dari flavin enzim.Kekurangan vitamin B2 akan mengakibatkan tubuh terasa lelah sehingga kurang aktif dalam berkerja serta dapat mengurangi ketajaman penglihatan.Kekurangan vitamin B12 dan asam folat dapat menyebabkan anemia.Selanjutnya vitamin C penting bagi tubuh untuk pembentukan substansi antar sel,menigkatkan daya tahan tubuh,dan meningkatkan absorbs zat besi dalam usus. AKG untuk vitamin C pada usia 0-6 bulan adalah 40mg/hari dan untuk usia 6-12 bulan 50mg/hari. Vitamin yang larut dalam lemak adalah vitamin A,D,E, dan K.Vitamin A mempunyai peranan peranan penting dalam pertumbuhan,penglihatan,reproduksi,dan

pemeliharaan sel epitel.Vitamin D penting untuk penyerapan dan metabolism kalium dan fosfor,pembentukan tulang dan gigi.Vitamin E sebagai antioksidan penting untuk berbagai senyawa yang larut dalam lemak dan berperan dalam fertilisasi manusia.AKG untuk vitamin E untuk usia 0-6 bulan 4 mg/hari dan usia 6-12 bulan 5 mg/hari. Sedangkan vtamin K penting untuk proses pembekuan darah AKG untuk vitamin K untuk usia 0-6 bulan 2,0 mg dan usia 6-12 bulan 2,5 mg dan mineral yang di butuhkan untuk tubuh adalah mineral makro yaitu: Ca AKG untuk usia 0-6 bulan Ca: P 1,3:1( 400mg/hari), P,Mg AKG untuk usia 0-6 bulan 40mg/hari dan usia 6-12 bulan 5 mg/hari,Na, dan K.Dan mineral mikro yaitu: Fe bioavailability nya tinggi pada bahan makanan hewani dan Zn.2

b. non Farmakoterapi Imunisasi dasar Imunisasi adalah suatu pemindahan atau transfer antibodi secara pasif. Vaksinasi adalah pemberian vaksin yang dapat merangsang imunitas dan sistim imun di dalam tubuh. Imunitas pasif dapat diperoleh dari pemberian dua macam bentuk yaitu imunoglobulin yang nonspesifik atau gamaglobulin dan imunoglobulin yang spesifik yang berasal dari plasma donor yang sudah sembuh dari penyakit tertentu atau baru saja mendapatkan vaksinasi penyakit tertentu.8 Imunoglobulin non-spesifik digunakan pada anak dengan defisiensi imunoglobulin sehingga memberikan perlindungan dengan segera dan cepat yang seringkali dapat terhindar dari kematian. Imunoglobulin ini hanya memberikan perlindungan sementara yaitu beberapa minggu saja. Imunoglobulin yang non-spesifik selain mahal, memungkinkan anak menjadi sakit karena secara kebetulan atau kecelakaan memasukkan serum yang tidak bersih dan masih mengandung kuman yang aktif. Imunoglobulin yang spesifik diberikan pada anak yang belum terlindung karena belum pernah mendapatkan vaksinasi dan kemudian terserang misalnya penyakit difteria.

Imunisasi dasar terdiri atas: a. BCG Imunisasi BCG diberikan pada umur sebelum 3 bulan. Namun untuk mencapai cakupan yang lebih luas, Departemen Kesehatan menganjurkan pemberian imunisasi BCG pada umur antara 0-12 bulan.3 Imunisasi BCG ulangan tidak dianjurkan. Dosis 0.05 ml untuk bayi kurang dari 1 tahun dan 0,1 ml untuk anak lebih dari 1 tahun.3 Vaksinasi BCG diberikan secara intrakutan di daerah lengan kanan atas pada insersio Musculus deltoideus sesuai anjuran WHO dan tidak diberikan ditempat lain. Hal ini mengingat penyuntikan secara intradermal di daerah deltoid lebih mudah dilakukan, ulkus yang terbentuk tidak mengganggu struktur otot setempat dibandingkan pemberian di daerah glueus lateral, dan sebagai tanda baku untuk keperluan diagnosis apabila diperlukan.8 Vaksin BCG tidak dapat mencegah infeksi tuberculosis (TB), namun dapat mencegah komplokasinya. Para pakar menyatakan bahwa efektivitas vaksin untuk perlindungan penyakit hanya 40% dan sekitar 70% kasus tuberculosis berat (meningitis) ternyata mempunyai parut BCG, dan kasus dewasa dengan bakteri tahan asam (BTA) positif di Indonesia cukup tinggi yaitu sekitar 25%-36% walaupun mereka telah mendapat BCG pada masa kanak-kanak.3 Oleh karena itu, saat ini WHO sedang mengembangkan vaksin BCG baru yang lebih efektif. Vaksin BCG merupakan vaksin hidup sehingga tidak dapat diberikan pada pasien imunokompromais seperti leukimia, anak yang sedang mendapatkan steroid jangka panjang, atau menderita infeksi HIV. Apabila BCG diberikan pada umur lebih dari 3 bulan, sebaiknya dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu. Vaksin ini diberikan apabila uji tuberkulin negatif.

b.

Hepatitis B Vaksin Hepatitis B harus segera diberikan setelah lahir, mengingat vaksinasi Hepatitis B merupakan upaya pencegahan yang sangat efektif untuk memutuskan rantai penularan melalui transmisi maternal dari ibu ke anaknya. Jadwal imunisasi Hepatitis B yaitu:8 Imunisasi Hepatitis B-1 diberikan sedini mungkin (dalam waktu 12 jam) setelah lahir, mengingat paling tidak 3,9% ibu hamil menginap Hepatitis B aktif dengan resiko penularan kepada bayinya sebesar 45%.

Imunisasi Hepatitis B-2 diberikan setelah 1 bulan (4minggu) dari imunisasi hepatitits B-1 yaitu pada saat bayi berumur 1 bulan. Untuk mendapat respon imun optimal, interval imunisasi Hepatitis B-2 dengan Hepatitis B-3 minimal 2 bulan, terbaik 5 bulan. Maka imunisasi Hepatitis B-3 diberikan pada umur 3-6 bulan.

Jadwal dan dosis Hepatitis B-1 saat lahir dibuat berdasarkan status HBsAG ibu saat melahirkan yaitu ibu dengan status HBsAG yang tidak diketahui, ibu dengan HBsAG positif, dan ibu dengan HBsAG negatif

Departemen Kesehatan mulai tahun 2005 memberikan vaksin Hepatitis B-0 monovalen saat lahir yang kemudian dilanjutkan dengan vaksin kombinasi DTwP atau Hepatitis B pada umur 2-4 bulan. Tujuan vaksin Hepatitis B diberikan dalam kombinasi DTwP untuk mempermudah pemberian dan meningkatkan cakupan hepatitits B-3 yang masih rendah.

Hepatitis B saat bayi lahir tergantung status HBsAG ibu karena terdapat 2 faktor yaitu:8 Bayi lahir dari ibu dengan status HBsAG yang tidak diketahui: Hepatitis B-I harus diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir dan dilanjutkan pada umur 1 bulan dan 3-6 bulan. Apabila status HBsAG ibu tidak diketahui dan dalam perjalanan selanjutnya diketahui bahwa ibu HBsAG positif maka ditambahkan Hepatitis B imunoglobulin (HBIg) 0,5 ml sebelum bayi berumur 7 hari. Bayi lahir dari ibu dengan status HBsAG positif diberikan vaksin Hepatitis B-1 dan HBIg 0,5 secara bersamaan dalam waktu 12 jam setelah lahir. Ulangan imunisasi Hepatitis B yaitu:8 Telah dilakukan penelitian multisenter di Thailand dan Taiwan terhadap anak dari ibu pengidap Hepatitis B yang telah memperoleh imunisasi dasar 3 kali pada masa bayi. Pada umur 5 tahun, 90,7% diantaranya masih memiliki titer antibodi anti HBs protektif (kadar anti HBs lebih dari 10 g/ml). Mengingat pola epidemiologi Hepatitis B di Indonesia mirip dengan pola epidemiologi di Thailand, maka dapat disimpulkan bahwa imunisasi ulang (booster) pada usia 5 tahun belum diperlukan. Idealnya, pada usia 5 tahun dilakukan pemeriksaan kadar anti HBs.

Apabila sampai dengan usia 5 tahun anak belum pernah memperoleh imunisasi Hepatitis B maka secepatnya diberikan imunisasi Hepatitis B dengan jadwal 3 kali pemberian.

Ulangan imunisasi Hepatitis B (Hepatitis B-4) dapat dipertimbangkan pada umur 10-12 tahun apabila kadar pencegahan belum tercapai (anti HBs kurang dari 10 g/ml). Cakupan imunisasi Hepatitis B-3 di Indonesia sangat rendah apabila

dibandingkan dengan DTP-3. Untuk mengatasi hal tersebut, sejak tahun 2006 imunisasi Hepatitis-B pada jadwal Departemen Kesehatan dapat dikombinasikan

dengan DTwP pada tabel 2.2.1. Jadwal Departemen Kesehatan dapat dipergunakan bersama dengan jadwal imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Tabel 2.2.1. Pemberian imunisasi hepatitis B* Umur Saat lahir Imunisasi HepB-0 Kemasan Uniject (HepB-monovalen) Kombinasi DTwP atau 2 bulan DTwP dan HepB-1 HepB-1 Kombinasi DTwP atau 3 bulan DTwP dan HepB-2 HepB-2 Kombinasi DTwP atau 4 bulan DTwP dan HepB-3 HepB-3

* Jadwal Departemen Kesehatan (Dikutip sesuai dengan kepustakaan no.8)

Vaksin Hepatitis B terdiri atas partikel antigen permukaan Hepatitis B yang diinaktifkan (HBsAg) dan diabsorpsi dengan tawas, dimurnikan dari plasma manusia atau karier hepatitis. Vaksin ini sudah diganti dengan vaksin rekombinan.4 Vaksin rekombinan HBsAG (rHBsAG) diproduksi dengan rekayasa genetika galur Saccharomyces cerevisiae yang mengandung plasmid atau gen untuk antigen HBsAG. Produksi vaksin Hepatitis B dari jamur dengan teknik rekombinan merupakan cara yang lebih mudah untuk memproduksi vaksin dalam jumlah besar dan aman dibanding dengan yang diproduksi dari serum.

c.

DPT DPT adalah produk polivalen yang mengandung toksoid Korinebakteri difteri, Bordetela pertusis, dan Clostridium tetani yang dimatikan.9 Vaksin DPT terdiri atas DPT dengan komponen acelluler (DTaP) dan DPT dengan komponen whole (DTwP). DTaP merupakan vaksin DPT yang baru ditemukan. Kedua vaksin DPT dapat dipergunakan secara bersamaan dalam jadwal imunisasi. Imunisasi DPT primer diberikan 3 kali sejak umur 2 bulan dengan interval 4-8 minggu. DPT tidak boleh diberikan sebelum umur 6 minggu. Interval terbaik diberikan 8 minggu. Jadi DPT-1 diberikan pada umur 2 bulan, DPT-2 pada umur 4 bulan, dan DPT-3 diberikan pada umur 6 bulan. Ulangan booster DTP selanjutnya diberikan 1 tahun setelah DPT-3 yaitu pada umur 18-24 bulan dan DPT-5 pada saat masuk sekolah umur 5 tahun. Vaksinasi ulangan pada program BIAS adalah:8 Pada booster umur 5 tahun harus tetap diberikan vaksin dengan komponen pertusis dan DTaP untuk mengurangi demam pasca imunisasi. Penambahan komponen pertusis ini diberikan mengingat kejadian pertusis pada dewasa muda meningkat akibat ambang proteksi telah sangat rendah sehingga dapat menjadi sumber penularan pada bayi dan anak. Sejak tahun 1998, DT-5 diberikan pada kegiatan imunisasi di sekolah dasar yaitu pada bulan imunisasi anak sekolah atau BIAS. Ulangan DT-6 diberikan pada usia 12 tahun karena mengingat masih dijumpai kasus dfteria pada umur lebih dari 10 tahun. Ulangan DT-6 pada umur 12 tahun direncanakan oleh Departemen Kesehatan untuk diubah ke vaksin Dt (adult dose), buatan PT Bio Farma Indonesia. Dosis DTwP atau DTaP adalah 0,5 ml, diberikan secara intramuskular baik untuk imunisasi dasar maupun ulangan. Pemberian DPT dapat dikombinasikan dengan vaksin lain yaitu DTwP/Hepatitis B, DTaP/Hib, DTwP/Hib, DTaP/IPV, DTaP/Hib/IPV sesuai jadwal.

d.

Polio Terdapat 2 kemasan vaksin polio yang berisi virus polio-1, 2, dan 3 yaitu:

Oral Polio Vaccine (OPV) OPV merupakan vaksin yang berasal dari virus polio yang dilemahkan. OPV

diberikan dengan cara ditetes atau peroral. OPV telah berhasil membebaskan negara dari polio. Negara-negara itu adalah Amerika, Pasifik Barat, dan Eropa. Akan tetapi telah dilaporkan bahwa OPV dapat menimbulkan efek samping berupa poliomielitis paralitik. Atas dasar hal itu telah dikembangkan perbaikan delam produksi vaksin yang dimatikan dari galur Sabin yang lebih baik dibanding dengan IPV konvensional yang diproduksi dari virus virulen. Sabin Inactivated Polio Vaccine (S-IPV) Efek samping dari S-IPV yang dilaporkan hanya berupa reaksi lokal. Oleh karena itu, banyak yang menganjurkan untuk memberikan vaksinasi IPV-OPV secara berurutan. Kedua vaksin polio tersebut dapat dipakai secara bergantian. Vaksin IPV dapat diberikan pada anak sehat maupun anak yang menderita imunokompromais dan dapat diberikan sebagai imunisasi dasar maupun ulangan. Vaksin IPV dapat juga diberikan bersamaan dengan vaksin DPT baik secara kombinasi atau terpisah. Jadwal vaksin polio adalah:8 Polio-0 diberikan saat bayi lahir sesuai pedoman PPI sebagai tambahan untuk mendapatkan cakupan imunisasi yang tinggi. Hal ini diperlukan karena Indonesia rentan terhadap transmisi virus polio liar dari daerah endemik polio. Negara tersebut adalah India, Afganistan, dan Sudan. Mengingat OPV berisi virus polio maka diberikan saat bayi meninggalkan rumah sakit atau rumah bersalin agar tidak mencemari bayi lain karena vaksin virus polio dapat dieksresi melalui tinja. Untuk inilah, IPV dapat menjadi alternatif. Untuk imunisasi dasar (Polio-2,3, dan4) diberikan pada umur 2 bulan, 4 bulan, dan 6 bulan dengan interval antara dua imunisasi tidak kurang dari 4 minggu. Dalam rangka Eradikasi Polio (Erapo), masih diperlukan Pekan Imunisasi Polio yang dianjurkan oleh Departemen Kesehatan. Pada PIN semua balita harus mendapat imunisasi OPV tanpa memandang status imunisasinya kecuali pasien imunokompromais diberikan IPV untuk memperkuat kekebalan di saluran cerna dan memutuskan transmisi polio liar. Dosis imunisasi polio yaitu:8 OPV diberikan 2 tetes peroral

IPV dalam kemasan 0,5 ml, intramuskular. Vaksin IPV dapat diberikan tersendiri atau dalam kemasan kombinasi. Yaitu DTaP/IPV, DTaP/Hib/IPV) Imunisasi Polio ulangan diberikan satu tahun sejak imunisasi polio-4 dan selanjutnya saat masuk sekolah yaitu pada usia 5-6 tahun.

e.

Campak Vaksin campak rutin diberikan dalam satu dosis 0,5 mlsecara sub-kutan dalam pada umur 9 bulan. Departemen Kesehatan mengubah strategi reduksi dan eliminasi campak yaitu:8 Imunisasi campak pertama kali diberikan pada usia 9 bulan Diberikan imunisasi campak kesempatan kedua pada umur 5-59 bulan dan SD kelas 1-6 Crash progam campak telah dilakukan secara bertahap yaitu 5 tahap di semua provinsi pada tahun 2006-2007 Imunisasi campak dosis kedua diberikan pada program school based catch-up campaign yaitu secara rutin pada anak sekolah SD kelas 1 dalam program BIAS. Apanila telah mendapat imunisasi MMR pada usia 15-18 bulan dan ulangan umur 6 tahun, ulangan campak SD kelas I tidak diperlukan.

Untuk lebih mudah mengetahui jadwal pemberian imunisasi dapat dilihat pada tabel 2.2.2. Tabel 2.2.2. Jadwal Pemberian Imunisasi

Edukasi Edukatif terhadap orang tua bayi yang bersangkutan. Informasi tersebut dapat berupa info gizi, peran imunisasi, dan pentingnya kasih sayang orang tua terhadap tumbuh kembang bayi C. Kesimpulan Pertumbuhan dan perkembangan dialami oleh setiap orang dalam suatu siklus kehidupan. Pertumbuhan dan perkembangan itu dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu faktor genetik, nutrisi, dan stimulasi. Faktor-faktor tersebut juga tidak terlepas dari faktor sosial ekonomi keluarga bayi itu berasal. Status gizi yang rendah dapat menghambat perkembangan otak bayi yang tidak terlepas dari masalah kontak sosial, motor halus-adaptif, kemampuan bahasa, dan motor kasar. Oleh karena itu, perlu adanya pemberian informasi yang bersifat edukatif terhadap orang tua dari bayi yang bersangkutan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Stephen SA. Ilmu kesehatan anak Nelson. Dalam: Samik W, penyunting. Pertumbuhan dan perkembangan. Edisi ke-15. Jakarta: EGC; 2000.p.45-85. 2. Soetjiningsih. Tumbuh kembang anak. Edisi ke-1. Jakarta: EGC; 1995.p.10,71-2. 3. Rudolph AM, Hoffman JI, Rudolph CD. Pediatri vol I. Edisi ke-20. Jakarta: EGC; 2006. 4. Hassan R, Alatas H, editor. Ilmu kesehatan anak. Edisi ke-4. Jakarta: Infomedika; 2007. h. 1051-165. 5. Gunardi H. Pemantauan tumbuh kembang balita. Edisi 2004. Diunduh dari www.pikhospital.co.id.html, 11 Januari 2012. 6. Aziz Alimul A. Pemeriksaan pada fisik bayi dan balita. Edisi Oktober 2011. Diunduh dari http://danahauses.blogspot.com, 11 Januari 2012 7. Dr. Widodo Judarwanto SpA. Manfaat Pemeriksaan Laboratorium Hematologi Anaj. Edisi 9 Maret 2012. Diunduh dari http://childrengrowup.wordpress.com, 11 Januari 2012 8. Sukman TP. Pedoman imunisasi di Indonesia. Edisi ke-3. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2008.p.98-105. 9. Karen GB, Iris R. Imunologi dasar. Edisi ke-8. Jakarta: FKUI; 2009.p.582-3.