Anda di halaman 1dari 31

Pembunuhan Dengan Penjeratan Aldwin Tanuwijaya (10.2009.025) Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jl.

Arjuna Utara no 6. Jakarta 11510 aldwin.t@hotmail.com

Pendahuluan Salah satu aspek Pancasila menyinggung tentang adanya keadilan. Untuk mengatur dan menjaga keadilan diperlukan adanya hukum atau undang-undang yang mengatur segala aspek kehidupan tidak terkecuali. Untuk menjunjung tinggi hukum tentunya peradilan harus berjalan dengan baik. Agar berjalan dengan baik, peradilan bisa dibantu oleh aspek-aspek lain diluar hukum, salah satunya adalah bidang kedokteran. Salah satu cabang ilmu kedokteran yang membantu peradilan dalam rangka penegakkan hukum adalah ilmu kedokteran forensik.1 Pihak yang menengani suatu kasus peradilan tentunya boleh meminta keterangan ahli dari para ahli forensik ini. Objeknya sendiri bisa korban yang masih hidup maupun sudah meninggal. Dengan adanya kedokteran forensik ini, nantinya akan para penegak hukum mampu mempertimbangkan dan menjunjung tinggi keadilan Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah agar kami sebagai mahasiswa kedokteran mampu memahami berbagai aspek yang berhubungan dengan ilmu kedokteran forensik dan nantinya mampu mempraktekan apa yang dipelajari, dan memiliki kesadaran akan pentingnya penegakan keadilan mengingat keterangan ahli mampu menjadi alat yang kuat dalam penegakkan peradilan.

Aspek hukum pidana2 Kejahatan Terhadap Tubuh dan Jiwa Manusia Pasal 89 KUHP Membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan menggunakan kekerasan. Pasal 90 KUHP Luka berat berarti: jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali, atau yang menimbulkan bahaya maut; tidak mampu terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencarian; kehilangan salah satu pancaindra; mendapat cacat berat; menderita sakit lumpuh; terganggunya daya piker selama empat minggu lebih; gugur atau matinya andungan seorang perempuan.

Pasal 338 KUHP Barangsiapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan, dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. Pasal 339 KUHP Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana, yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya, atau untuk melepaskan diri sendiri maupun peserta lainnya dari pidana dalam hal tertangkap tangan, ataupun untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya secara melawan hukum, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun. Pasal 340 KUHP Barangsiapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh lima tahun.

Pasal 351 KUHP 1. Penganiyaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak 4500 rupiah. 2. Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun. 3. Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama7 tahun. 4. Dengan penganiyaan disamakan sengaja merusak kesehatan. 5. Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana. Pasal 353 KUHP 1. Penganiayaan dengan rencana terlebih dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama 4 tahun. 2. Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun. 3. Jika perbuatan mengakibatkan mati, dia dikenakan pidana penjara paling lama 9 tahun. Pasal 354 KUHP 1. Barangsiapa dengan sengaja melukai berat orang lain, diancam, karena melakukan penganiayaan berat, dengan pidana penjara paling lama delapan tahun. 2. Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama sepuluh tahun.

Pasal 355 KUHP 1. Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana lebih dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama 12 tahun. 2. Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama 15tahun. Aspek medikolegal2 Kewajiban Dokter Membantu Peradilan Pasal 133 KUHAP 1. Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.

2. Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. 3. Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat. Penjelasan Pasal 133 KUHAP 1. 2. Keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan ahli, sedangkan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan. Pasal 179 KUHAP 1. Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan. 2. Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenanr-benarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.

Bentuk Bantuan Dokter Bagi Peradilan Dan Manfaatnya Pasal 180 KUHAP 1. Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang pengadilan, Hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat pula minta agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan. 2. Dalam hal timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasihat hukum terhadap hasil keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Hakim memerintahkan agar hal itu dilakukan penelitian ulang. 3. Hakim karena jabatannya dapat memerintahkan untuk dilakukan penelitian ulang sebagaimana tersebut pada ayat (2) Pasal 183 KUHAP Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu

tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah melakukannnya. Pasal 184 KUHAP 1. Alat bukti yang sah adalah: Keterangan saksi Keterangan ahli Surat Pertunjuk Keterangan terdakwa

yang bersalah

2. Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan. Pasal 186 KUHAP Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan. Sangsi Bagi Pelanggar Kewajiban Dokter Pasal 216 KUHP 1. Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya. Demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah. 2. Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan undang-undang terus-menerus atau menjalankan jabatan umum. 3. Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidanya dapat ditambah sepertiga. Pasal 222 KUHP Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. untuk sementara waktu diserahi tugas

Pasal 224 KUHP Barangsiapa yang dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi saksi, ahli atau jurubahasa, dengan sengaja tidak melakukan suatu kewajiban yang menurut undangundang ia harus melakukannnya: 1. Dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan. 2. Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6 bulan. Pasal 522 KUHP Barangsiapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli atau jurubahasa, tidak datang secara melawan hukum, diancam dengan pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah. Rahasia Jabatan dan Pembuatan Ska/ V Et R Peraturan Pemerintah No 26 tahun 1960 tentang lafal sumpah dokter Saya bersumpah/ berjanji bahwa: Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perkemanusiaan Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhormat dan bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya. Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran. Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter.dst. Peraturan Pemerintah no 10 tahun 1966 tentang wajib simpan rahasia Kedokteran. Pasal 1 PP No 10/1966 Yang dimaksud dengan rahasia kedokteran ialah segala sesuatu yang diketahui oleh orang-orang tersebut dalam pasal 3 pada waktu atau selama melakukan pekerjaannya dalam lapangan kedokteran. Pasal 2 PP No 10/1966 Pengetahuan tersebut pasal 1 harus dirahasiakan oleh orang-orang yang tersebut dalam pasal 3, kecuali apabila suatu peraturan lain yang sederajat atau lebih tinggi daripada PP ini menentukan lain. Pasal 3 PP No 10/1966 Yang diwajibkan menyimpan rahasia yang dimaksud dalam pasal 1 ialah: a. Tenaga kesehatan menurut pasal 2 UU tentang tenaga kesehatan.

b. Mahasiswa kedokteran, murid yang bertugas dalam lapangan pemeriksaan, pengobatan dan atau perawatan, dan orang lain yang ditetapkan oleh menteri kesehatan. Pasal 4 PP No 10/1966 Terhadap pelanggaran ketentuan mengenai wajib simpan rahasia kedokteran yang tidak atau tidak dapat dipidana menurut pasal 322 atau pasal 112 KUHP, menteri kesehatan dapat melakukan tindakan administrative berdasarkan pasal UU tentang tenaga kesehatan. Pasal 5 PP No 10/1966 Apabila pelanggaran yang dimaksud dalam pasal 4 dilakukan oleh mereka yang disebut dalam pasal 3 huruf b, maka menteri kesehatan dapat mengambil tindakantindakan berdasarkan wewenang dan kebijaksanaannya. Pasal 322 KUHP 1. Barangsiapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya karena jabatan atau pencariannya baik yang sekarang maupun yang dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak sembilan ribu rupiah. 2. Jika kejahatan dilakukan terhadap seorang tertentu, maka perbuatan itu hanya dapat dituntut atas pengaduan orang itu. Pasal 48 KUHP Barangsiapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa tidak dipidana. Bedah Mayat Klinis, Anatomis Dan Transplantasi2 Peraturan Pemerintah No 18 tahun 1981 tentang Bedah Mayat Klinis dan Bedah Mayat Anatomis serta Transplantasi Alat dan atau Jaringan Tubuh Manusia. Pasal 2 PP No 18/1981 Bedah mayat klinis hanya boleh dilakukan dalam keadaan sebagai berikut: a. Dengan persetujuan tertulis penderita dan atau keluarganya yang terdekat setelah penderita meninggal dunia, apabila sebab kematiannya belum dapat ditentukan dengan pasti; b. Tanpa persetujuan penderita atau keluarganya yang terdekat, apabila diduga penderita menderita penyakit yang dapat membahayakan orang lain atau masyarakat sekitarnya.

c. Tanpa persetujuan penderita atau keluarganya terdekat, apabila dalam jangka waktu 2 x 24 jam tidak ada keluarga terdekat dari yang meninggal dunia dating ke rumah sakit. Pasal 14 PP No 18/1981 Pengambilan alat atau jaringan tubuh manusia untuk keperluan transplantasi atau bank mata dari korban kecelakaan yang meninggal dunia, dilakukan dengan persetujuan tertulis keluarga yang terdekat. Pasal 17 PP No 18/1981 Dilarang memperjual belikan alat dan atau jaringan tubuh manusia. Pasal 18 PP No 18/1981 Dilarang mengirim dan menerima alat dan atau jaringan tubuh manusia dalam semua bentuk ke dan dari luar negeri. Pasal 19 PP No 18/1981 Larangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 17 dan pasal 18 tidak berlaku untuk keperluan penelitian ilmiah dan keperluan lain yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. Pasal 70 UU Kesehatan 1. 2. Bedah mayat hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dengan memperhatikan norma yang berlaku dalam masyarakat. Keterangan palsu2 Pasal 267 1. Seorang dokter yang dengan sengaja memberikan surat keterangan palsu tentang ada atau tidaknya penyakit, kelemahan atau cacat, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun 2. Jika keterangan diberikan dengan maksud untuk memasukkan seseorang ke dalam rumah sakit jiwa atau untuk menahannya di situ, dijatuhkan pidana penjara paling lama delapan tahun enam bulan. 3. Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja memakai surat keterangan palsu itu seolah-olah isinya sesuai dengan kebenaran. Pasal 7 KODEKI Seorang dokter hanya memberikan keterangan atau pendapat yang dapat dibuktikan kebenarannya.
8

Pemeriksaan jenazah Pemeriksaan luar3 1. Tutup dan bungkus mayat Mayat dikirim kepada pemeriksa bisa dalam keadaan ditutup atau dibungkus. Penutup atau pembungkus dicatat jenis bahan, warna, corak, serta adanya pengotoran dicatat pula bahan dan letaknya. 2. Pakaian Mencatat pakaian mayat dengan teliti mulai dari yang dikenakan di atas sampai di bawah, dari yang terluar sampai terdalam. Pencatatan meliputi bahan, warna dasar, warna dan corak tekstil, bentuk/model pakaian, ukuran, merk penjahit, cap binatu, monogram/inisial, dan tambalan/tisikan bila ada. Catat juga letak dan ukuran pakaian bila terdapat adanya bercak/pengotoran atau robekan. Saku diperiksa dan dicatat isinya. 3. Perhiasan Mencatat perhiasan yang dipakai olej mayat, meliputi jenis, bahan, warna, merek, bentuk serta ukiran nama/inisial pada benda perhiasan tersebut. 4. Mencatat benda di samping mayat misalnya tas ataupun bungkusan. Biasanya benda disekitar mayat akan disertakan pada saat membungkus mayat 5. Mencatat perubahan tanatologi : a. Lebam mayat1 Lebam mayat terjadi akibat terkumpulnya darah pada jaringan kulit dan subkutan disertai pelebaran pembuluh kapiler pada bagian tubuh yang letaknya rendah atau bagian tubuh yang tergantung. Keadaan ini memberi gambaran berupa warna ungu kemerahan. Setelah seseorang meninggal, mayatnya menjadi suatu benda mati sehingga darah akan berkumpul sesuai dengan hukum gravitasi. Lebam mayat pada awalnya berupa barcak. Dalam waktu sekitar 6 jam, bercak ini semakin meluas yang pada akhirnya akan membuat warna kulit menjadi gelap. Pembekuan darah terjadi

dalam waktu 6-10 jam setelah kematian. Lebam mayat ini bisa berubah baik ukuran maupun letaknya tergantung dari perubahan posisi mayat. Karena itu penting sekali untuk memastikan bahwa mayat belum disentuh oleh orang lain. Posisi mayat ini juga penting untuk menentukan apakah kematian disebabkan karena pembunuhan atau bunuh diri. Ada 5 warna lebam mayat yang dapat kita gunakan untuk memperkirakan penyebab kematian :
9

Merah kebiruan merupakan warna normal lebam Merah terang menandakan keracunan CO, keracunan CN atau suhu dingin Merah gelap menunjukkan asfiksia Biru menunjukkan keracunan nitrit Coklat menandakan keracunan aniline Pada penemuan lebab mayat, dicatat letak/distribusi, warna, dan intensitas lebam.

b. Kaku mayat1 Perubahan otot yang terjadi setelah kematian bisa dibagi dalam 3 tahap: Periode relaksasi primer (flaksiditas primer) Hal ini terjadi segera setelah kematian. Biasanya berlangsung selama 2-3 jam. Seluruh otot tubuh mengalami relaksasi,dan bisa digerakkan ke segala arah. Iritabilitas otot masih ada tetapi tonus otot menghilang. Pada kasus di mana mayat letaknya berbaring rahang bawah akan jatuh dan kelopak mata juga akan turun dan lemas. Kaku Mayat Kaku mayat akan terjadi setelah tahap relaksasi primer. Keadaan ini berlangsung setelah terjadinya kematian tingkat sel, dimana aktivitas listrik otot tidak ada lagi. Otot menjadi kaku. Fenomena kaku mayat ini pertama sekali terjadi pada otototot mata, bagian belakang leher, rahang bawah, wajah, bagian depan leher, dada, abdomen bagian atas dan terakhir pada otot tungkai. Akibat kaku mayat ini seluruh mayat menjadi kaku, otot memendek dan persendian pada mayat akan terlihat dalam posisi sedikit fleksi. Keadaan ini berlangsung selama 24 - 48 jam pada musim dingin dan 18 - 36 jam pada musim panas. Penyebabnya adalah otot tetap dalam keadaan hidrasi oleh karena adanya ATP. Jika tidak ada oksigen, maka ATP akan terurai dan akhirnya habis, sehingga menyebabkan penumpukan asam laktat dan penggabungan aktinomiosin (protein otot). Periode Relaksasi Sekunder Otot menjadi relak (lemas) dan mudah digerakkan. Hal ini terjadi karena pemecahan protein, dan tidak mengalami reaksi secara fisik maupun kimia. Proses pembusukan juga mulai terjadi. Pada beberapa kasus, kaku mayat sangat cepat berlangsung sehingga sulit membedakan antara relaksasi primer dengan relaksasi sekunder.

10

Pada penemuan kaku mayat dicatat distribusi, derajat kekakuan pada beberapa sendi, dan ada tidaknya spasme kadaverik. c. Suhu tubuh mayat1 Suhu tubuh pada orang yang sudah meninggal perlahan-lahan akan sama dengan suhu lingkungannya karena mayat tersebut akan melepaskan panas dan suhunya menurun. Kecepatan penurunan suhu pada mayat bergantung kepada suhu lingkungan dan suhu mayat itu sendiri. Pada iklim yang dingin maka penurunan suhu mayat berlangsung cepat. Pengukuran dilakukan memakai termometer rektal dam dicatat juga suhu ruangan pada saat tersebut. d. Pembusukan1 Perubahan warna. Perubahan ini pertama kali tampat pada fossa iliaka kanan dan kiri berupa warna hijau kekuningan, disebabkan oleh perubahan hemoglobin menjadi sulfmethemoglobin. Perubahan warna ini juga tampak pada seluruh abdomen, bagian depan genitalia eksterna, dada, wajah dan leher. Dengan semakin berlalunya waktu maka warnanya menjadi semakin ungu. Jangka waktu mulai terjadinya perubahan warna ini adalah 6-12 jam pada musim panas dan 1-3 hari pada musin dingin. Perubahan warna tersebut juga diikuti dengan pembengkakan mayat. Otot sfingter mengalami relaksasi sehingga urin dan faeses keluar. Lidah juga terjulur. Bibir menebal, mulut membuka dan busa kemerahan bisa terlihat keluar dari rongga mulut. Mayat berbau tidak enak disebabkan oleh adanya gas pembusukan. Gas ini bisa terkumpul pada suatu rongga sehingga mayat menjadi tidak mirip dengan korban sewaktu masih hidup. Gas ini selanjutnya juga bisa membentuk lepuhan kulit. Lepuhan kulit mulai tampak 36 jam setelah meninggal. Kulit ari dapat dengan cukup mudah dikelupas. Di mana akan tampak cairan berwarna kemerahan yang sedikit mengandung albumin. Jika pembusukan terus berlangsung, maka bau busuk yang timbul akan menarik lalat untuk hinggap pada mayat. Lalat menempatkan telurnya pada mayat, di mana dalam waktu 8-24 jam telur akan menetas menghasilkan larva-yang sering disebut belatung. Dalam waktu 4-5 hari, belatung ini lalu menjadi pupa, dimana setelah 4-5 hari kemudian akan menjadi lalat dewasa. Pada tahap ini bagian dari tulang tengkorak mulai tampak. Rektum dan uterus juga tampak dan uterus gravid juga bisa mengeluarkan isinya Rambut dan kuku dengan mudah dapat dicabut. Bagian perut dan dada bisa pecah berhubung besarnya tekanan

11

gas yang di kandungnya. Jika pembusukan terus berlangsung, maka jaringan jaringan menjadi lunak, rapuh dan berwarna kecoklatan. e. Lain-lain; misalnya mumifikasi atau adiposera. 6. Mencatat identitas mayat, seperti jenis kelamin, bangsa/ras, perkiraan umur, warna kulit, status gizi, tinggi badan, berat badan, disirkumsisi/tidak, striae albicantes pada dinding perut.3 7. Mencatat segala sesuatu yang dapat dipakai untuk penentuan identitas khusus, meliputi rajah/tatoo, jaringan parut, kapalan, kelainan kulit, anomali dan cacat pada tubuh, kalau perlu di foto. 8. Pemeriksaan rambut Memeriksa distribusi, warna, keadaan tumbuh, dan sifat dari rambut. Jika pada mayat terdapat rambut yang mempunyai sifat berlainan, perlu untuk disimpan jika suatu saat perlu. 9. Pemeriksaan mata Memeriksa mata, seperti apakah kelopak terbuka atau tertutup, tanda kekerasan, kelainan. Periksa selaput lendir kelopak mata dan bola mata, warna, cari pembuluh darah yang melebar, bintik perdarahan, atau bercak perdarahan. Kornea jernih/tidak, adanya kelainan fisiologik atau patologik. Catat keadaan dan warna iris serta kelainan lensa mata. Catat ukuran pupil, bandingkan kiri dan kanan. 10. Pemeriksaan daun telinga dan hidung Mencatat bentuk dan kelainan/anomali pada daun telinga dan hidung. 11. Pemeriksaan mulut dan rongga mulut 12. Memeriksa bibir, lidah, rongga mulut, dan gigi geligi. Catat gigi geligi dengan lengkap, termasuk jumlah, hilang/patah/tambalan, gigi palsu, kelainan letak, pewarnaan, dan sebagainya. 13. Pemeriksaan leher Bagian leher diperiksa jika ada memar, bekas pencekikan atau pelebaran pembuluh darah. Kelenjar tiroid dan getah bening juga diperiksa secara menyeluruh. 14. Pemeriksaan alat kelamin dan lubang pelepasan. Pada pria dicatat kelainan bawaan yang ditemukan, keluarnya cairan, kelainan lainnya. Perhatikan bentuk lubang pelepasan, perhatikan adanya luka, benda asing, darah dan lain-lain 15. Perlu diperhatikan kemungkinan terdapatnya tanda perbendungan, ikterus, sianosis, edema, bekas pengobatan, bercak lumpur atau pengotoran lain pada tubuh.
12

16. Bila terdapat tanda-tanda kekerasan/luka harus dicatat lengkap. Setiap luka pada tubuh harus diperinci dengan lengkap, yaitu jenis luka, lokasi bentuk, ara, tepi, sudut, dasar, ukuran, dan lain-lain. Dalam luka diukur dan panjang luka diukur setelah kedua tepi ditautkan. Lokalisasi luka dilukis dengan mengambil beberapa patokan, antara lain garis tengah melalui tulang dada, garis tengah melalui tulang belakang, garis mendatar melalui kedua puting susu, dan garis mendatar melalui pusat. 17. Pemeriksaan ada tidaknya patah tulang, serta jenis/sifatnya. Pemeriksaan dalam3 Pemeriksaan rongga dada dan perut

Mayat yang akan di bedah diletakkan terlentang dengan bagian bahu ditinggikan dengan sepotong balok kecil. Dengan demikian, kepala akan berada dalam keadaan fleksi maksimal dan daerah leher tampak jelas. Insisi kulit dilakukan mengikuti gans pertengahan badan mulai di bawah dagu, diteruskan ke arah umbilikus dan melingkari umbilikus di sisi kiri dan seterusnya kembali mengikuti garis pertengahan badan sampai di daerah simfisis pubis. Pada daerah leher insisi hanya mencapai kedalaman setebal kulit saja. Pada daerah dada, insisi kulit sampai kedalaman mencapai permukaan depan tulang dada (sternum) sedangkan mulai di daerah epigastrium, sampai menembus ke dalam rongga perut. Insisi berbentuk huruf I di atas merupakan insisi yang paling ideal untuk suatu pemeriksaan bedah mayat forensik. Insisi pada dinding perut biasanya dimulai pada daerah epigastrium dengan membuai irisan pendek yang menembus sampai peritoneum Dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri yang dimasukkan ke dalam lubang insisi ini, maka dinding perut dapat ditarik/diangkat ke atas Pisau diselipkan di antara dua jari tersebut dan insisi dapat diteruskan sampai ke simfisis pubis. Di samping berfungsi sebagai pengangkat dinding perut, kedua jari tangan kiri tersebut berfungsi juga sebagai pemandu untuk pisau, serta melindungi alat-alat dalam rongga perut dari kemungkinan teriris oleh pisau. Dengan memegang dinding perut bagian atas dan memuntir dinding perut tersebut ke arah luar (dilakukan dengan ibu jari di sebelah dalam/sisi peritoneum dan 4 jari lainnya di sebelah luar/sisi kulit), dinding dada dilepaskan dengan memulai irisan pada otot-otot sepanjang arcus costae. Pelepasan dinding dada dilakukan terus ke arah dada bagian atas sampai daerah tulang selangka dan ke samping sampai garis ketiak depan Pengirisan terhadap otot dilakukan dengan bagian perut pisau dan bidang pisau yang tegak lurus terhadap otot. Dengan demikian, dinding dada telah dibebaskan dan otot-otot pectorales, dan kelainan yang
13

ditemukan dapat dicatat dengan teliti. Pada dinding perut, diperhatikan keadaan lemak bawah kulit serta otot-otot dinding perut, catat tebal masing-masing serta luka-luka bila terdapat. Rongga perut diperiksa dengan mulamula memperhatikan keadaan alat-alat perut secara umum. Bagaimana penyebaran tirai usus (omentum), apakah menutupi seluruh usus-usus kecil, ataukah mengumpul pada satu tempat akibat adanya kelainan setempat Periksalah keadaan usus-usus, adakah kelainan volvulus, intususepsi, infark, tanda-tanda kekerasan lainnya. Bila mayat telah mengalami operasi sebelumnya, perhatikan pula bagian/alat-alat perut yang mengalami penjahitan, reseksi atau tindakan lainnya Perhatikan adakah cairan dalam rongga perut, dan bila terdapat cairan, catat sifat dan cairan tersebut serous, purulen, darah atau cairan keruh. Dinding perut sebelah dalam diperhatikan keadaan selaput lendirnya Pada selaput lendir yang normal, tampak licin dan halus berwarna kelabu mengkilat Pada kelainan peritomtis, akan tampak selaput lendir yang tidak rata, keruh dengan fibrin yang melekat. Rongga dada dibuka dengan jalan mengiris rawan-rawan iga pada tempat setengah sampai satu sentimeter medial dari batas rawan tulang masing-masing iga. Dengan bagian perut pisau dan bidang pisau yang diletakkan tegak lurus, rawan iga dipotong mulai dan iga ke-2 terus ke arah kaudal. Pemotongan ini dapat dilakukan dengan mudah pada mayat yang masih muda karena bagian rawan belum mengalami penulangan Dengan tangan kanan memegang gadang pisau dan telapak tangan kiri menekan punggung pisau, pisau digerakkan memotong rawan iga-iga tersebut mulai dari iga kedua sampai daerah arcus costae Lakukan hal yang sama pada sisi tubuh yang lain. Dengan memotong insersi otot-otot diafragma yang melekat pada dinding dada bagian depan sebelah bawah, perlekatan sternum dengan pericardium dapat dilepaskan. Iga pertama dipotong dengan meneruskan irisan pada iga kedua ke arah kraniolateral, dengan demikian, irisan dihindarkan dari mengenai manubrium sternii yang keras Setelah rawan iga pertama terpotong, pisau dapat diteruskan ke arah medial menyusuri tepi bawah tulang selangka untuk mencapai sendi antara tulang selangka dan tulang dada (articulatio sternoclavicularis) dan memotongnya Bila ini telah dilakukan pada kedua sisi, maka bagian depan dinding dada telah dapat dilepaskan. Perhatikan pertama-tama letak paru terhadap kandung jantung. Biasanya dengan mencatat bagian kandung jantung yang tampak antara kedua tepi paru-paru. Kandung jantung yang tampak hanya 1 jari di antara paru-paru menunjukkan keadaan pengembangan paru yang berlebih. Dengan tangan, paru dapat ditarik ke arah medial dan rongga dada dapat diperiksa, apakah
14

terdapat cairan, darah atau lainnya. Kandung jantung dibuka dengan melakukan pengguntingan pada dinding depan mengikuti bentuk huruf Y terbalik. Perhatikan apakah rongga kandung jantung terisi oleh cairan atau darah. Periksa pula akan adanya luka baik pada kandung jantung maupun pada permukaan depan jantung sendiri. Untuk pemenksaan lebih lanjut, alat-alat leher akan dikeluarkan bersama-sama dengan alat rongga dada, sedangkan usus halus mulai dan jejunum sampai rectum dilepaskan tersendiri dan kemudian alat dalam rongga perut dikeluarkan bersama alat dalam rongga panggul. Pengeluaran alat leher dimulai dengan melakukan pengirisan insersi otot-otot dasar mulut pada tulang rahang bawah. Irisan dimulai tepat di bawah dagu, menembus rongga mulut dan bawah Insisi diperlebar ke arah kanan maupun ke arah kiri. Lidah ditank ke arah bawah sehingga dapat dikeluarkan melalui tempat bekas irisan. Perhatikan keadaan rongga mulut dan catat kelainan yang mungkin terdapat, antara lain adanya benda asing dalam rongga mulut. Perhatikan pula langit-langit mulut, baik palatum durum maupun palatum molle, untuk mencatat kelaman yang ditemukan Palatum molle kemudian diiris sepanjang perlekatannya dengan palatum durum yang kemudian diteruskan ke arah lateral kanan dan kiri, sampai bagian lateral dan plica pharingea dengan meneruskan pemotongan sampai ke permukaan depan dan tulang belakang dan sedikit menarik alat-alat leher ke arah depan bawah, seluruh alat leher dapat dilepaskan dari perlekatannya. Lakukan pemotongan terhadap pembuluh serta saraf yang berjalan di belakang tulang selangka dengan terlebih dahulu menggenggam pembuluh pembuluh dan syaraf tersebut. Lepaskan perlekatan antara paru-paru dengan dinding rongga dada, bila perlu secara tajam. Dengan tangan kanan memegang lidah dan dua jari tangan kiri yang diletakkan pada sisi kanan dan kiri hilus paru, alat rongga dada ditarik ke arah kaudal sampai ke luar dan rongga paru.3 Lepaskan esofagus bagian kaudal dari janngan ikat sekitarnya dan buatlah dua ikatan di atas diafragma. Esofagus digunting di antara kedua ikatan tersebut di atas. Tangan kiri kini digunakan untuk menggenggam bagian bawah alat rongga dada tepat di atas diafragma dan lakukan pengirisan terhadap genggaman tersebut. Dengan demikian, alat leher bersama alat dalam rongga dada dapat dikeluarkan seluruhnya. Usus-usus dilepaskan dengan pertama-tama melakukan dua ikatan pada awal jejunum. dekat dengan tempat menembusnya duodenum dari arah retroperitoneal. Secara topografis, bagian duodenum ini terletak kaudal terhadap colon transversum, kira-kira di garis pertengahan selangka. Pengguntingan dilakukan di antara dua ikatan yang dibuat, agar isi duodenum tidak tercecer. Dengan tangan kiri memegang pada ujung distal dan mengangkatnya, maka
15

mesenterium yang melekatkan usus halus dengan dinding rongga perut dapat diiris dekat pada usus. Pengirisan dilakukan dengan pisau organ yang bidang pisaunya {knife blade) diletakkan tegak lurus pada usus dan digerakkan maju mundur seperti gerakan menggergaji. Pengirisan demikian dilakukan sepanjang usus halus sampai daerah ileum terminalis. Pada daerah coecum pengirisan dilakukan terhadap mesokolon, dengan memotong mesokolon pada bagian lateral dan kolon asendens pada daerah ini. pemotongan harus dilakukan dengan hati-hati, lapis demi lapis agar tidak teriris ginjal kanan serta duodenum pars retropentonealis Pada daerah kolon transversum, lepaskan perlekatan antara kolon dan lambung. Mesokolon kembali diiris di sebelah lateral dari kolon deseendens dengan memisahkannya juga dari limpa dan ginjal kiri. Kolon sigmoid dapat dilepaskan dari dinding rongga perut dengan memotong mesocolon di bagian belakangnya.3 Rectum dipegang dengan tangan kanan, mulai dari bagian distal dan mengurutnya ke arah proksimal, agar isi rectum dipindahkan ke arah colon sigmoid dan rectum dapat diikat dengan dua ikatan, untuk kemudian diputus di antara dua ikatan tersebut. Setelah dilakukan pelepasan usus halus dan usus besar, dapat dilakukan pemeriksaan sepanjang usus tersebut untuk menemukan kelainan, baik yang diakibatkan oleh kekerasan berupa luka, akibat penyakit dalam bentuk ulkus atau kelainan lainnya. Untuk melepaskan alat rongga perut dan panggul, pengirisan dimulai dengan memotong diafragma dekat pada insersinya pada dinding rongga badan. Pengirisan diteruskan ke arah bawah, sebelah kanan dan kin, lateral dan masing-masing ginjal, sampai memotong arteri iliaca communis. Alat rongga panggul dilepaskan dengan terlebih dahulu melepas peritoneum di daerah simfisis. Kandung kencing serta alat lain dapat dipegang dalam tangan kiri sampai ke arah belakang bersama-sama rektum Pemotongan melintang dilakukan dengan patokan setinggi kelenjar prostat pada mayat laki-laki dan setinggi sepertiga proksimal vagina pada mayat perempuan. Alat rongga panggul ini kemudian dilepaskan seluruhnya dari perlekatan dengan sekitarnya dan dapat diangkat bersama-sama dengan alat rongga perut yang telah dilepaskan terlebih dahulu Pemeriksaan pada kepala3

Pemeriksaan pada kepala dimulai dengan membuat irisan pada kulit kepala, dimulai pada prosesus mastoideus, melingkari kepala ke arah puncak kepala(vertex) dan berakhir pada prosesus mastoideus sisi lain. Pada mayat yang lebat rambut kepalanya, sebaiknya sebelum dilakukan pengirisan pada kulit kepala, dilakukan terlebih dahulu penyisiran pada rambut sehingga terjadi garis belahan rambut sepanjang kulit kepala yang akan diiris tersebut.
16

Pengirisan dibuat sampai pisau mencapai periostium. Kulit kepala kemudian dikupas, ke arah depan sampai kurang lebih 1-2 sentimeter di atas batas orbita(Margo supraorbitalis) dan ke arah belakang sampai sejauh protuberantia occipitalis externa. Perhatikan dan catat kelainan yang terdapat, baik pada permukaan dalam kulit kepala maupun permukaan luar tulang tengkorak. Kelainan yang biasa ditemukan adalah tanda kekerasan, baik merupakan resapan darah maupun garis retak/patah tulang. Untuk membuka rongga tengkorak, dilakukan penggergajian tulang tengkorak, melingkar di daerah frontal sejarak kurang lebih 2 sentimeter di atas margo supraorbitalis, di daerah temporal k.l. 2 sentimeter di atas daun telinga. Pada daerah temporal ini, penggergajian dilakukan setelah otot temporalis dipotong dengan pisau terlebih dahulu. Pemotongan otot temporalis dimaksudkan agar otot tersebut setelah selesai pemeriksaan dapat digunakan sebagai pegangan/tempat jahitan menyatukan kembali atap tengkorak dengan bagian lain tengkorak tersebut. Pada daerah temporalis ini penggergajian dilakukan melingkar ke arah belakang kurang lebih 2 sentimeter sebelah atas protuberantia occipitalis externa, dengan garis penggergajian yang membentak sudut kurang lebih 120 derajat dari garis penggergaiian terdahulu. Hal ini dilakukan agar setelah selesai pemeriksaan, atap tengkorak dapat terpasang kembali tanpa tergeser. Agar penggergajian tidak merusak jaringan otak, penggergajian harus dilakukan dengan hati-hati dan dihentikan setelah terasa tebal tulang tengkorak telah terlampaui. Atap tengkorak selanjutnya dilepas dengan menggunakan pahat berbentuk T(T-chisel) dengan jalan mendongkel pada garis penggergajian. Setelah atap tengkorak dilepaskan, pertama-tama lakukan penciuman terhadap bau yang keluar sebab pada beberapa jenis keracunan, dapat tercium bau yang khas.3 Kemudian perhatikan adanya kelainan baik pada permukaan dalam atap tengkorak maupun pada duramater yang kini tampak. Kelainan dapat berupa luka pada duramater, perdarahan epidural atau kelainan lain.. Duramater kemudian digunting mengikuti garis penggergajian, dan daerah subdural dapat diperiksa akan adanya perdarahan, pengumpulan nanah dan sebagainya. Otak dikeluarkan dengan pertama-tama memasukkan dua jari tangan kin di garis pertengahan daerah frontal, antara baga otak dan tulang tengkorak Dengan sedikit menekan baga frontal akan tampak falk cerebri yang dapat dipotong atau digunting sampai dasar tengkorak. Kedua jari tangan kin tersebut kemudian dapat sedikit mengangkat baga frontal dan memperlihatkan nn. olfatorius, nn. opticus, yang kemudian dipotong sedekat mungkin pada dasar tengkorak. Pemotongan lebih lanjut dapat dilakukan pada aa. karotis intetna yang memasuki otak, serta saraf-saraf otak yang keluar pada dasar otak. Dengan memiringkan kepala mayat ke salah satu sisi, serta jari-jari tangan kiri sedikit menarik/mengangkat baga pelipis (temporalis) sisi
17

yang lain, tentorium cerebelli akan jelas tampak dan mudah dipotong, dimulai dan foramen magnum ke arah lateral menyusuri tepi belakang tulang karang otak(os petrosum). Potong pula saraf-saraf otak yang keluar pada dasar otak. Dengan cara yang sama, tentorium cerebelli sisi lainnya juga dipotong Perlu diperhatikan bahwa bila tentorium cerebelli ini tidak dipotong, otak kecil niscaya akan tertinggal dalam rongga tengkorak.3 Kepala kemudian dikembalikan pada posisi semula dan batang otak dapat dipotong melintang dengan memasukkan pisau sejauh-jauhnya dalam foramen magnum. Dengan tangan kiri menyanggah daerah baga occipital, dua jari tangan kanan dapat ditempatkan di sisi kanan dan kiri batang otak yang telah terpotong, untuk kemudian menarik bagian bawah otak ini dengan gerakan memutar/meluksir hingga keluar dan rongga tengkorak. Setelah otak dikeluarkan, duramater yang melekat pada dasar tengkorak harus dilepaskan dari dasarnya, agar dapat diperhatikan adanya kelainan pada dasar tengkorak. Pemeriksaan alat dalam3 Pemeriksaan organ/alat tubuh biasanya dimulai dan lidah oesofagus, trachea dan seterusnya sampai meliputi seluruh alat tubuh. Otak biasanya diperiksa terakhir.3 1. Lidah Perhatikan permukaan lidah, adakah kelainan bekas gigitan, baik yang baru maupun yang lama. Bekas gigitan ini dapat pula terlihat pada penampang lidah. Pengirisan lidah sebaiknya tidak sampai teriiis putus, agar setelah selesai autopsi, mayat masih tampak berlidah utuh. 2. Tonsil Perhatikan permukaan maupun penampang tonsil, adakah selaput, gambaran infeksi, nanah, tanda bekas tonsilektomi, dan sebagainya. 3. Kelenjar gondok Perhatikan ukuran dan beratnya. Periksa apakah permukaannya rata, catat warnanya, adakah perdarahan berbintik atau resapan darah. Lakukan pengirisan di bagian lateral pada kedua baga kelenjar gondok dan catat perangai penampang kelenjar ini. 4. Kerongkongan (oesophagus) Perhatikan adanya benda-benda asing, keadaan selaput lendir serta kelainan yang mungkin ditemukan (misalnya stnktura, vances). 5. Batang tenggorok (trachea). Dimulai dari epiglotis. Perhatikan adakah edema, benda psing, perdarahan dan kelainan lain Perhatikan pula pita suara dan kotak suara. Sementara pada trachea perhatikan adanya benda asing, busa, darah, serta keadaan selaput lendirnya.
18

6. Tulang lidah (os hyoid), rawan gondok (cartilago thyroidea) dan rawan cincin (cartilago cricoidea) Perhatikan adanya patah tulang, resapan darah. Rawan gondok dan rawan cincin seringkali juga menunjukkan resapan darah pada kasus dengan kekerasan pada daerah leher (pencekikan, penjeratan, gantung). 7. Arteria carotis interna Perhatikan adanya tanda kekerasan pada sekitar artena ini,Buka pula artena ini. dengan menggunting dindig depannya dan perhatikan keadaan intima. Bila kekerasan pada daerah leher mengenai artena ini, kadang-kadang dapat ditemukan kerusakan pada intima di samping terdapatnya resapan darah Pada sekitar artena pada dinding depannya dan perhatikan keadaan intima. 8. Kelenjar kacangan (Thymus) Kelenjar kacangan biasanya telah beirganti menjadi Thymic fat body pada orang dewasa, namun kadang-kadang Perhatikan masih akan dapat ditemukan perdarahan (pada berbintik status serta

thymicolymphaticus).

adanya

kemungkinan adanya kelainan lain. 9. Paru-paru. Kedua paru masing-masing diperiksa tersendiri. Tentukan permukaan paru-paru. Perhatikan warnanya, serta bintik perdarahan, bercak perdarahan akibat aspirasi darah ke dalam alveoli (tampak pada permukaan paru sebagai bercak berwarna merah-hitam dengan batas tegas), resapan darah, luka, bulla dan sebagainya. Perabaan paru yang normal terasa seperti meraba spons/ karet busa. Pada paru dengan proses peradangan, perabaan dapat menjadi padat atau keras Penampang paru diperiksa setelah melakukan pengirisan paru yang dimulai dari apex sampai ke basal, dengan tangan kiri memegang paru pada daerah hilus Pada penampang paru ditentukan warnanya serta dicatat kelainan yang mungkin ditemukan. 10. Jantung Perhatikan besarnya jantung, bandingkan dengan kepalan tinju kanan mayat Perhatikan akan adanya resapan darah, luka atau bmtik-bintik perdarahan. Pada autopsi jantung, ikuti sistematika pemotongan dinding jantung yang dilakukan dengan mengikuti aliran darah di dalam jantung. 11. Aorta thoracalis Perhatikan kemungkinan terdapatnya deposit kapur, ateroma atau pembentukan
19

aneurisma Kadang-kadang pada aorta dapat ditemukan tanda kekerasan merupakan resapan darah atau luka 12. Aorta abdominalis Perhatikan dinding aorta terhadap adanya penimbunan perkapuran atau atheroma 13. Anak ginjal (glandula suprarenalis) Kedua anak ginjal harus dicari terlebih dahulu sebelum dilakukan pemeriksaan lanjut pada area alat rongga perut dan panggul. Hal ini perlu mendapat perhatian, karena bila telah dilakukan pemeriksaan atau telah dilakukan pemisahan alat rongga perut dan panggul, anak ginjal sukar ditemukan. Pada anak ginjal yang normal, pengguntingan anak ginjal akan memberikan penampang dengan bagian korteks dan medulla yang tampak jelas 14. Ginjal, ureter dan kandung kencing Kedua ginjal masing-masing diliputi oleh jaringan lemak yang dikenal sebagai capsula adiposa renis. Adanya trauma yang mengenai daerah ginjal seringkali menyebabkan resapan darah pada capsula ini. Dengan melakukan pengirisan di bagian lateral kapsula, ginjal dapat dibebaskan Untuk pemeriksaan lebih lanjut, ginjal digenggam pada tangan kin dengan pelvis rems dan ureter terletak antara telunjuk dan jari tengah Irisan pada ginjal dibuat dan arah lateral ke medial, diusahakan tepat di bidang tengah sehingga penampang akan melewati pelvis renis. Pada tepi irisan, dengan menggunakan pinset bergigi, simpai ginjal dapat di "cubit" dan kemudian dikupas secara tumpul. Setelah simpai ginjal dilepaskan, lakukan terlebih dahulu pemeriksaan terhadap permukaan ginjal. Perhatikan adakah kelainan berupa resapan darah, luka-luka ataupun kista-kista retensi Pada penampang ginjal, perhatikan gambaran korteks dan medula ginjal. Juga perhatikan pelvis renis akan kemungkinan terdapatnya batu ginjal, tanda peradangan, nanah dan sebagainya. Ureter dibuka dengan meneruskan pembukaan pada pelvis renis, terus mencapai vesika urinaria. Perhatikan kemungkinan terdapatnya batu, ukuran penampang, isi saluran serta keadaan mukosa. 15. Hati dan kandung empedu Pemeriksaan dilakukan terhadap permukaan hati, yang pada keadaan biasa menunjukkan permukaan yang rata dan licin, berwarna merah-cokat Kadangkala pada permukaan hati dapat ditemukan kelainan berupa janngan ikat, kista kecil, permukaan yang berbenjol-benjol, bahkan abses. Pada perabaan, hati normal memberikan
20

perabaan yang kenyal. Tepi hati biasanya tajam. Kandung empedu diperiksa ukurannya serta diraba akan kemungkinan terdapatnya batu empedu. Untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan pada saluran empedu, dapat dilakukan pemeriksaan dengan jalan menekan kandung empedu ini sambil memperhatikan muaranya pada duodenum (papilla Vateri). Bila tampak cairan coklathijau keluar dai muara tersebut, ini menandakan saluran empedu tidak tersumbat Kandung empedu kemudian dibuka dengan gunting untuk memperlihatkan selaput lendirnya vang seperti beludru berwarna hujau-kuning 16. Limpa dan kelenjar getah bening Limpa dilepaskan dan sekitarnya. Limpa yang normal menunjukkan permukaan yang berkeriput, berwarna ungu dengan perabaan lunak kenyal. Buatlah irisan penampang limpa, limpa normal mempunyai gambaran limpa yang jelas, berwarna coklat-merah dan bila dikikis dengan punggung pisau, akan ikut jaringan penampang limpa, Jangan lupa mencatat ukuran dan berat limpa Catat pula bila ditemukan kelenar getah bening regional yang membesar.3 17. Lambung, usus halus dan usus besar Lambung dibuka dengagn gunting pada curvatura mayor. Perhatikan isi lambung dan simpan dalaam botol atau kantong plastik bersih bila isi lambung ini diperlukan untuk pemeriksaan toksikologik atau pemeriksaan laboratorium lainnya. perhatikan pula selaput lendir lambung terhadap kemungkinan adanya erosi, ulserasi,

perdarahan/resapan darah. Usus diperiksa akan kemungkinan terdapat darah dalam lumen serta kemungkinan terdapatnya kelainan bersifat ulceratif, polip, dan lain-lain 18. Kelenjar liur peiut (pancreas).3 Pertama-tama lepaskan lebih dahulu kelenjar liur perut ini dari sekitarnya Kelenjar liur perut yang normal mempunyai wama kelabu agak kekuningan, dengan permukaan yang berbelah-belah dan perabaan yang kenyal. Perhatikan ukuran serta beratnya. 19. Otak besar, otak kecil dan batang otak Perhatikan permukaan luar dari otak adakah perdarahan subdural, perdarahan subarakhnoid, kontusio jaringan otak atau kadangkala bahkan sampai teijadi laserasi. Pada oedema cerebri, girus otak akan tampak mendatar dan sulkus tampak menyempit Perhatikan pula akan kemungkinan terdapatnya tanda penekanan yang menyebabkan sebagian permukaan otak menjadi datar.
21

Pada daerah ventral otak, perhatikan keadaan sirkulus Willisi. Nilai keadaan pembuluh darah pada sirkulus, adakah penebalan dinding akibat kelainan ateroma, penipisan dinding akibat aneurysma, dan perdarahan. Bila terdapat perdarahan hebat, usahakan agar dapat ditemukan sumber perdarahan tersebut. Perhatikan pula bentuk serebelum. Pada keadaan peningkatan tekanan intra kranial akibat edema serebri misalnya, dapat terjadi herniasi serebellum ke arah foramen magnum, sehingga bagian bawah serebellum tampak menonjol. Pisahkan otak kecil dari otak besar dengan melakukan pemotongan pada pedunculus cerebri kanan dan kiri. Otak kecil ini kemudian dipisahkan juga dari batang otak dengan melakukan pemotongan pada pedunculus cerebelli. Otak besar diletakkan dengan bagian ventral menghadap pemeriksa Lakukan pemotongan otak besar secara koronal/ melintang, perhatikan penampang irisan. Tempat pemotongan haruslah sedemikian rupa agar struktur penting dalam otak besar dapat diperiksa dengan teliti. Kelainan yang dapat ditemukan pada penampang otak besar antara lain perdarahan pada korteks akibat contusio cerebri, perdarahan berbintik pada substansi putih akibat emboli, keracunan barbiturat serta keadaan lain yang menimbulkan hipoksia jaringan otak, infark jaringan otak, baik yang bilateral maupun yang unilateral akibat gangguan pendarahan oleh arteri, abses otak, perdarahan intra cerebral akibat pecahnya a. lenticulostriata dan sebagainya. Otak kecil diperiksa penampangnya dengan membuat suatu irisan melintang, catatlah kelainan perdarahan, periunakan dan sebagainya yang mungkin ditemukan. Batang otak diiris melintang mulai daerah pons, medulla oblongata sampai ke bagian proksimal medulla spinalis. Perhatikan kemungkinan terdapatnya perdarahan. 20. Alat kelamin dalam (genitalia intema)3 Pada mayat laki-laki, testis dapat dikeluarkan dari scrotum melalui rongga perut. Jadi tidak dibuat irisan baiu pada scrotum. Perhatikan ukuran, konsistensi serta kemungkinan terdapatnya resapan darah. Perhatikan pula bentuk dan ukuran dan epididimis Kelenjar prostat diperhatikan ukuran serta konsistensinya Pada mayat wanita, perhatikan bentuk serta ukuran kedua indung telur, saluran telur dan uterus sendiri-sendiri. Pada uterus diperhatikan kemungkinan terdapatnya perdarahan, resapan darah ataupun luka akibat tindakan abortus provokatus. Uterus dibuka dengan membuat irisan berbentuk huruf T pada dinding depan, melalui saluran serviks serta muara kedua saluran telur pada fundus uteri. Perhatikan keadaan selaput lendir uterus, tebal dinding, isi rongga rahim serta kemungkinan terdapatnya kelainan.
22

Intepretasi temuan berupa visum dan kesimpulan

Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jl. Arjuna Utara No. 7 Telp. (021) 56942061, Jakarta 11510

Nomor : 1234-SK.III/5678/12-12

Jakarta, 19 Desember 2012

Lamp : Satu sampul tersegel----------------------------------------------------------------------------Perihal : Hasil Pemeriksaan Pembedahan atas jenazah Tn. Eddie ----------------------------------

PROJUSTITIA Visum et Repertum Yang bertanda tangan di bawah ini, Aldwin Tanuwijaya, dokter ahli kedokteran forensik pada bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta, menerangkan bahwa atas permintaan tertulis dari Kepolisian Resort Polisi Jakarta Barat No. Pol.: B/987/VR/XII/12/Serse tertanggal delapan belas Desember tahun dua ribu dua belas, maka pada tanggal sembilan belas Desember tahun dua ribu dua belas, pukul sebelas lewat 30 menit Waktu Indonesia bagian Barat, bertempat di ruang bedah jenazah Bagian Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana telah melakukan pemeriksaan atas jenazah yang menurut surat permintaan tersebut adalah: Nama : Eddie Armansyah--------------------------------------------------------------

Jenis kelamin : Laki-laki------------------------------------------------------------------------Umur Kebangsaan Agama Pekerjaan Alamat : 27 tahun------------------------------------------------------------------------: Indonesia-----------------------------------------------------------------------: Kristen--------------------------------------------------------------------------: Pegawai swasta----------------------------------------------------------------: Jl. Arjuna utara No. 3, Jakarta Barat ----------------------------------------

Mayat telah diidentifikasi dengan sehelai label berwarna muda, dengan materai lak merah, terikat pada ibu jari kaki kanan.---------------------------------------------------------------Hasil Pemeriksaan I. Pemeriksaan Luar 1. Mayat terbungkus kantong jenazah berwarna kuning, bahan plastik dengan resleting pada bagian depan. -------------------------------------------------------------------------------23

2. Mayat berpakaian sebagai berikut:-------------------------------------------------------------a. Pakaian dalam oblong dari kaus berwarna putih berukuran M. Terdapat robekan dengan permukaan rata pada daerah ketiak kiri berukuran empat setengah sentimeter kali setengah sentimeter dengan rembesan darah disekelilingnya. ----b. Celana panjang berbahan katun tidak bermerek berwarna hitam dengan satu buah saku masing-masing pada sisi kanan dan kiri. Bagian bawah celana digulung hingga setengah tungkai bawah. ---------------------------------------------------------c. Celana dalam dari kaus warna putih dengan karet berwarna putih pada pinggang dengan tulisan Rider berwarna hitam. --------------------------------------------------3. Tidak terdapat perhiasan mayat. ---------------------------------------------------------------4. Kemeja lengan panjang berwarna abu-abu berbahan katun berkantung di sebelah kiri pada kerah kemeja bertuliskan Cool berwarna merah menjerat leher korban. Terdapat robekan dengan permukaan rata pada kemeja daerah ketiak kiri berukuran empat setengah sentimeter kali setengah sentimeter dengan rembesan darah disekelilingnya.5. Lebam mayat terdapat pada bagian belakang tubuh berwarna merah keunguan, tidak hilang pada penekanan. Tidak terdapat kaku mayat pada seluruh tubuh tetapi telah terjadi penurunan suhu mayat disekujur tubuh dan juga pembusukan berupa perubahan warna kulit di daerah perut menjadi kehijauan. --------------------------------6. Mayat adalah seorang laki-laki bangsa Indonesia, umur kurang lebih dua puluh tujuh tahun, kulit berwarna sawo matang, gizi cukup, panjang badan seratus enam puluh delapan sentimeter dan berat badan lima puluh kilogram. ---------------------------------7. Rambut kepala sepanjang enam sentimeter, berwarna hitam. Alis berwarna hitam, tumbuh lebat dengan panjang setengah sentimeter. Bulu mata berwarna hitam, lurus, panjang satu sentimeter. Kumis dengan panjang lima milimeter. Jenggot tidak ada. --8. Kedua mata tertutup. Selaput bening mata jernih, kedua teleng mata bundar dengan garis tengah empat milimeter. Tirai mata berwarna coklat. Selaput bola mata kanan dan kiri terdapat bintik perdarahan, selaput kelopak mata kanan dan kiri terdapat bintik perdarahan. --------------------------------------------------------------------------------9. Hidung berbentuk mancung. Kedua daun telinga berbentuk biasa. -----------------------10. Mulut terbuka lima millimeter, lidah tidak terjulur dan tidak tergigit. Kedua bibir tampak tebal. Gigi geligi lengkap.--------------------------------------------------------------11. Dari lubang hidung, telinga, mulut, dan lubang tubuh lainnya tidak keluar apa-apa.---12. Dari lubang kemaluan dan lubang pelepasan tidak keluar apa-apa. -----------------------13. Luka-luka :
24

a. Pada leher terdapat luka lecet tekan warna cokelat, arah mendatar pada bagian depan satu sentimeter di bawah tulang jakun. -------------------------------------------b. Pada leher sisi kanan, tujuh sentimeter dari garis pertengahan depan, dua sentimeter diatas luka lecet tekan, terdapat luka lecet geser ukuran dua sentimeter kali satu sentimeter. -------------------------------------------------------------------------c. Pada daerah ketiak kiri terdapat luka sayat berukuran empat sentimeter kali setengah sentimeter dengan permukaan rata dan kedua sudut yang lancip. ---------d. Pada tungkai bawah kanan, tiga sentimeter di atas mata kaki bagian luar terdapat luka iris berukuran lima sentimeter kali setengah sentimeter dengan permukaan rata dan kedua sudut yang lancip dan enam sentimeter di bawah lutut terdapat luka iris berukuran tujuh sentimeter kali satu sentimeter dengan permukaan rata dan kedua sudut yang lancip. -------------------------------------------------------------------e. Pada tungkai bawah kiri, delapan di bawah lutut terdapat luka iris berukuran lima sentimeter kali setengah sentimeter dengan permukaan rata dan kedua sudut yang lancip. -----------------------------------------------------------------------------------------14. Patah tulang tidak ada. --------------------------------------------------------------------------II. Pemeriksaan Dalam (Bedah Jenazah) 15. Jaringan lemak bawah kulit daerah dada dan perut berwarna kuning kecoklatan, tebal di daerah dada lima milimeter sedangkan di daerah perut sebelas sentimeter. Otot-otot berwarna merah terang dan cukup tebal. Sekat rongga badan sebelah kanan setinggi sela iga keempat dan yang kiri setinggi sela iga kelima.------------------------------------16. Semua iga serta tulang dada tidak menunjukan kelainan. ----------------------------------17. Kandung jantung tampak tiga jari di antara kedua tepi paru. Kandung jantung tidak menunjukan adanya kelainan.-------------------------------------------------------------------18. Jaringan ikat bawah kulit, pada daerah kiri sisi depan leher, satu sentimeter di bawah tulang jakun terdapat resapan darah seluas satu sentimeter kali satu sentimeter. Otot leher pada pangkal anak lidah terdapat sembab dan resapan darah. ----------------------19. Dinding rongga perut tampak licin, berwarna kelabu mengkilat dengan sedikit berwarna merah terang. Dalam rongga perut tidak terdapat darah maupun cairan. Otot dinding perut berwarna cokelat cukup tebal.--------------------------------------------------20. Lidah berwarna cokelat pucat, penampang berwarna cokelat. Tulang lidah utuh, rawan gondok patah pada ujung kanan dan kiri, dan terdapat resapan darah. Tonsil tidak membesar dan penampangnya tidak menunjukan kelainan. Kelenjar gondok

25

berwarna coklat merah, perabaan kenyal, tidak membesar dan penampangnya tidak menunjukan kelainan, berat dua puluh gram. ------------------------------------------------21. Batang tenggorok berisi busa dan selaput lendirnya terdapat pelebaran pembuluh darah. ----------------------------------------------------------------------------------------------22. Kerongkongan kosong dan selaput lendirnya terdapat pelebaran pembuluh darah.-----23. Seluruh permukaan paru kanan dan kiri melekat pada dinding dada pada kedua paru terdapat perkejuan dengan perabaan padat. Paru kanan terdiri atas tiga baga, berwarna ungu, perabaan kenyal padat, penampang berwarna ungu, pada pemijatan keluar busa dan darah, berat enam ratus lima puluh gram. Paru kiri terdiri dari dua baga, berwarna ungu, perabaan kenyal padat, penampang berwarna ungu, pada pemijatan keluar busa dan darah, berat lima ratus enam puluh gram.------------------------------------------------24. Jantung tampak sebesar tinju kanan mayat, berwarna cokelat keunguan, perabaan kenyal, ukuran lingkar katub serambi kanan sebelas sentimeter, kiri sembilan sentimeter, pembuluh nadi paru lima koma lima sentimeter dan batang nadi lima sentimeter, tebal otot bilik kanan empat millimeter dan kiri dua belas millimeter, pembuluh nadi jantung tidak tersumbat, berat dua ratus gram.-----------------------------25. Hati berwarna cokelat keunguan, permukaannya rata, tepinya tajam dan perabaan kenyal padat. Penampang hati berwarna cokelat dan gambaran hati tampak jelas. Berat hati adalah seribu dua ratus gram.-------------------------------------------------------26. Kandung empedu berisi cairan berwarna hijau coklat, selaput lendirnya berwarna hijau seperti beludru. Saluran empedu tidak menunjukan penyumbatan.-----------------27. Limpa berwarna ungu pucat, permukaannya rata dan perabaan kenyal. Penampangnya berwarna ungu dengan gambaran limpa jelas. Berat limpa seratus sepuluh gram. -----28. Kelenjar liur perut berwarna cokelat, permukaan berbaga-baga, dan perabaan kenyal. Penampang berwarna cokelat dengan gambaran kelenjar jelas Berat kelenjar liur perut delapan puluh lima gram. -----------------------------------------------------------------------29. Lambung kosong. Selaput lendirnya terdapat pelebaran pembuluh darah. Usus dua belas jari, usus halus, dan usus terdapat pelebaran pembuluh darah. ---------------------30. Kelenjar anak ginjal kanan berbentuk trapezium berwarna kuning penampang berlapis. Kelenjar anak ginjal kiri berbentuk bulan sabit, warna kuning penampang berlapis. Berat anak ginjal kanan delapan gram dan yang kiri sembilan gram. ---------31. Ginjal kanan dan kiri bersimpai lemak tipis. Simpai ginjal kanan dan kiri tampak rata dan licin, berwarna coklat dan mudah dilepas. Berat ginjal kanan sembilan puluh lima gram dan yang kiri seratus gram. Penampang ginjal menunjukan gambaran yang jelas.
26

Piala ginjal terdapat bintik perdarahan dan saluran kemih tidak menunjukan sumbatan. -----------------------------------------------------------------------------------------32. Kandung kencing kosong dan selaput lendirnya licin, berwarna putih, tidak 33. Kulit kepala bagian dalam pada daerah puncak kepala terdapat resapan darah seluas dua sentimeter kali dua sentimeter dan pada puncak kepala kiri terdapat resapan darah seluas dua koma lima sentimeter kali dua sentimeter. Tulang tengkorak utuh, selaput keras otak utuh, selaput lunak otak utuh.------------------------------------------------------34. Otak besar terdapat pelebaran pembuluh darah dan permukaan agak mendatar. Otak kecil terdapat pelebaran pembuluh darah dan tampak penonjolan otak kecil bagian bawah. Batang otak utuh. Bilik otak kosong, berat seribu empat ratus enam puluh gram.------------------------------------------------------------------------------------------------Kesimpulan Pada mayat seorang laki-laki berumur dua puluh tujuh tahun ini ditemukan jejas jerat pada leher, berupa luka lecet tekan yang berjalan mendatar dan luka lecet geser, ditemukan juga luka terbuka pada daerah ketiak kiri dan pada kedua tungkai bawah akibat kekerasan tajam, selanjutnya ditemukan tanda-tanda mati lemas.-----------------------------------------------Sebab mati orang ini akibat jeratan pada leher yang mengakibatkan terhalangnya jalan napas dan terjadi mati lemas. Perkiraan mati lebih dari dua puluh empat jam. Luka terbuka dan luka-luka lecet pada orang ini tidak menyebabkan kematian dan terjadi sebelum korban mati.---------------------------------------------------------------------------------------------------------Demikianlah saya uraikan dengan sejujur-jujurnya berdasarkan keilmuan saya yang sebaik-baiknya dengan mengingat sumpah sesuai dengan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana.------------------------------------------------------------------------------------------------

Dokter yang memeriksa,

Dr. Aldwin tanuwijaya NIP 25

27

Temuan pada visum Penjeratan 1,4 Perjeratan adalah penekanan benda asing berupa tali,ikat pinggang, rantai, stagen, kawat, kabel, kaos kaki dan sebagainya melingkari atau mengikat leher yang makin lama makin kuat sehingga saluran pernafasan tertutup. Berbeda dengan gantung diri yang biasanya ,merupakan suicide maka penjeratan adalah pembunuhan. Mekanisme kematian pada penjeratan adalah akibat asfiksia atau refleks vaso vagal. Pada gantung diri, semua arteri di leher mungkin tertekan sedangkan pada penjeratan arteri vertebralis biasanya tetap paten. Hal ini disebabkan oleh kerana kekuatan atau beban yang menekan pada penjeratan biasanya tidak besar. Bila jerat masih ditemukan melingkari leher,maka jerat tersebut harus disimpan dengan baik sebab merupakan benda bukti dan dapat diserahkan kepada penyidik bersama dengan visum et repertum Terdapat 2 jenis jerat yaitu simpul hidup(melingkari jerat dapat diperbesar atau diperkecil) dan simpul mati (lingkar jerat tidak dapat diubah). Jejas jerat pada leher biasanya mendatar,melingkari leher dan terapat lebih rendah dair jejas jerat pada kasus gantung. Keadaan jejas jerat sangat bevariasi. Bila jerat lunak dan lebar seperti handuk atau selendang sutera,maka jejas mungkin tidak ditemukan dan pada otot leher sebelah dalam dapat ditemukan adanya sedikit resapan darah. Tali yang tipis seperti kaos kaki nylon akan meniggalkan jejas dengan lebar tidak lebih dari 2-3 mm. Pola jejas dapat dilihat dengan menempelkan transparant scrotch tape pada daerah jejas di leher,kemudian ditempelkan pada kaca objek dan dilihat dengan mikroskop atau dengan sinar ultra violet. Bila jejas kasar seperti tali,maka bila tali bergesekkan pada saat korban melawan akan menyebabkan luka lecet di sekitar jejas jerat yang nampak jelas berupa kulit yang mencekung berwarna coklat dengan perabaan kaku seperti kertas perkamen.Pada otot sebelah dalam tampak banyak resapan darah. Cara kematian dapat berupa : 1. Bunuh diri Hal ini jarang menyilutkan diagnosis.Pengikatan dilakukan sendiri oleh korban dengan simpul hidup atau bahan hanya dililitkan seja,dengan jumlah lilitan lebih dari satu. 2. Pembunuhan
28

Pengikatan biasanya dengan simpul nati dan sering trlihat bekas luka pada leher 3. Kecelakaan. Dapat terjadi pada orang yang sedang bekerja Luka terbuka1,4 Luka terbuka biasa terjadi akibat adanya perlukaan oleh benda-benda tajam yang mampu menembus kulit sehingga bagian dalam tubuh terhubung dengan dunia luar. Benda yang dapat mengakibatkan luka seperti ini memiliki sisi tajam baik berupa garis maupun runcing, yang bervariasi dari alat seperti pisau,golok dan sebagainya hingga keping

kaca,gelas,logam,sembilu bahkan tepi kertas atau rumput. Gambaran luka adalah tepi dan dinding luka yang rata,berbentuk garis,tidak terdapat jembatan jaringan dan dasar luka berbentuk garis atau titik. Luka akibat benda tajam dapat berupa luka iris atau sayat,luka tusuk dan luka bacok. Luka tusuk adalah luka yang dimana kedalaman luka lebih panjang daripada luka itu sendiri dan biasa terjadi akibat gerakan yang tegak lurus.4 Pada luka tusuk, sudut luka dapat menunjukkan perkiraan benda penyebabnya,apakah berupa pisau bermata satu atau bermata dua. Bila satu sudut luka lancip dan yang lain tumpul,bererti benda penyebabnya adalah benda tajam bermata satu. Bila kedua sudut luka lancip,luka tersebut dapat diakibatkan oleh benda tajam bermata dua.Benda tajam bermata satu dapat menimbulkan luka tusuk dengan kedua luka lancip apabila hanya bagian ujung benda saja yang menyentuh kulit, sehingga sudut luka dibentuk oleh ujung dan sisi tajamnya. Kulit di sekitar luka akibat kekerasan benda tajam biasanya tidak menunjukkan adanya luka lecet atau memar kecuali bila bagian gagang turut membentur kulit.

29

Kesimpulan Sesuai dengan kasus 1 problem based learning yaitu Pada mayat seorang laki-laki berumur dua puluh tujuh tahun ini ditemukan jejas jerat pada leher, berupa luka lecet tekan yang berjalan mendatar dan luka lecet geser, ditemukan juga luka terbuka pada daerah ketiak kiri dan pada kedua tungkai bawah akibat kekerasan tajam, selanjutnya ditemukan tanda-tanda mati lemas. Sebab mati orang ini akibat jeratan pada leher yang mengakibatkan terhalangnya jalan napas dan terjadi mati lemas. Perkiraan mati lebih dari dua puluh empat jam. Luka terbuka dan luka-luka lecet pada orang ini tidak menyebabkan kematian dan terjadi sebelum korban mati. Hasil penyebab dan mekanisme kematian pada visum et repertum disimpulkan berdasarkan hasil temuan pada pemeriksaan jenazah yang dilakukan yaitu pemeriksaan luar meliputi identitas, luka dan bekas perlukaan, dan sebagainya didukung dengan adanya pemeriksaan dalam untuk membantu diagnosis mekanisme kematian serta menyingkirkan kemungkinan lainnya.

30

Daftar pustaka 1. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, et al. Ilmu kedokteran forensik. Bagian Kedokteran Forensik FKUI:Jakarta.1997;1,25-33,42-4 2. Bagian Kedokteran Forensik FKUI.Peraturan perundang-undangan bidang

kedokteran. Bagian Kedokteran Forensik FKUI:Jakarta.1994;11-20,37-9 3. Bagian Kedokteran Forensik FKUI.Teknik autopsi forensik. Bagian Kedokteran Forensik FKUI:Jakarta.2000;12-44 4. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI. Kapita selekta kedokteran jilid 2. Media Aesculapius:Jakarta.2007;220-1

31