Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

Insomnia merupakan gangguan tidur yang paling sering ditemukan. Setiap tahun diperkirakan sekitar 20%-50% orang dewasa melaporkan adanya gangguan tidur dan sekitar 17% mengalami gangguan tidur yang serius. Prevalensi gangguan tidur pada lansia cukup tinggi yaitu sekitar 67 %. Walaupun demikian, hanya satu dari delapan kasus yang menyatakan bahwa gangguan tidurnya telah didiagnosis oleh dokter. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-IV (DSM-IV), mendefinisikan insomnia sebagai kesulitan memulai tidur, mempertahankan tidur, merasa tidak fresh pada waktu bangun pagi dan mengalami kualitas tidur yang buruk. Tidur merupakan suatu proses otak yang dibutuhkan oleh seseorang untuk dapat berfungsi dengan baik. Pada saat tidur biasanya tubuh menjadi tidak sadar dan kita pun tidak menyadari keadaan sekitarnya. Tidur sendiri terdiri dari 5 fase, yaitu perasaan mengantuk, tidur ringan, 2 tahap tidur lelap dan yang terakhir tahap REM (rapid eye movement). Pada tahap REM ini pernafasan, detak jantung dan gerakan mata menjadi lebih kencang dan otot-otot di anggota badan menjadi lumpuh sementara, pada tahapan inilah biasanya mimpi terjadi. Tiap orang bisa jadi berbeda kebutuhan tidurnya dan seringkali orang dengan usia yang berbeda membutuhkan lama tidur yang berbeda pula. Bayi membutuhkan waktu tidur sekitar 17 jam, sedangkan anak yang lebih besar membutuhkan waktu tidur sebanyak 10 jam. Untuk orang dewasa kebanyakan membutuhkan waktu tidur 7-8 jam. Orang cenderung untuk tidur lebih sedikit pada saat semakin tua. Orang tua biasanya membutuhkan waktu yang lebih lama untuk tidur, dengan jumlah dan panjang fase mengantuk yang semakin meningkat maka waktu untuk tidur lelap pun menjadi berkurang.

1|Page

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22

BAB II ISI
FISIOLOGI TIDUR NORMAL

Rata-rata dewasa sehat membutuhkan waktu 7 jam untuk tidur setiap malam. Walaupun demikian, ada beberapa orang yang membutuhkan tidur lebih atau kurang. Tidur normal dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya usia. Seseorang yang berusia muda cenderung tidur lebih banyak bila dibandingkan dengan lansia. Waktu tidur lansia berkurang berkaitan dengan faktor ketuaan. Fisiologi tidur dapat dilihat melalui gambaran ekektrofisiologik sel-sel otak selama tidur. Polisomnografi merupakan alat yang dapat mendeteksi aktivitas otak selama tidur. Pemeriksaan polisomnografi sering dilakukan saat tidur malam hari. Alat tersebut dapat mencatat aktivitas EEG, elektrookulografi, dan elektromiografi. Elektromiografi perifer berguna untuk menilai gerakan abnormal saat tidur. Stadium tidur - diukur dengan polisomnografi - terdiri dari tidur rapid eye movement (REM) dan tidur nonrapid eye movement (NREM). Tidur REM disebut juga tidur D atau bermimpi karena dihubungkan dengan bermimpi atau tidur paradoks karena EEG aktif selama fase ini. Tidur NREM disebut juga tidur ortodoks atau tidur gelombang lambat atau tidur S. Kedua stadia ini bergantian dalam satu siklus yang berlangsung antara 70 120 menit. Secara umum ada 4-6 siklus NREM-REM yang terjadi setiap malam. Periode tidur REM I berlangsung antara 5-10 menit. Makin larut malam, periode REM makin panjang. Tidur NREM terdiri dari empat stadium yaitu stadium 1,2,3,4.
STADIUM TIDUR NORMAL PADA DEWASA

2|Page

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22

Stadium 0 adalah periode dalam keadaan masih bangun tetapi mata menutup. Fase ini ditandai dengan gelombang voltase rendah, cepat, 8-12 siklus per detik. Tonus otot meningkat. Aktivitas alfa menurun dengan meningkatnya rasa kantuk. Pada fase mengantuk terdapat gelombang alfa campuran. Stadium 1 disebut onset tidur. Tidur dimulai dengan stadium NREM. Stadium 1 NREM adalah perpindahan dari bangun ke tidur. Ia menduduki sekitar 5% dari total waktu tidur. Pada fase ini terjadi penurunan aktivitas gelombang alfa (gelombang alfa menurun kurang dari 50%), amplitudo rendah, sinyal campuran, predominan beta dan teta, tegangan rendah, frekuensi 4-7 siklus per detik. Aktivitas bola mata melambat, tonus otot menurun, berlangsung sekitar 3-5 menit. Pada stadium ini seseorang mudah dibangunkan dan bila terbangun merasa seperti setengah tidur. Stadium 2 ditandai dengan gelombang EEG spesifik yaitu didominasi oleh aktivitas teta, voltase rendah-sedang, kumparan tidur dan kompleks K. Kumparan tidur adalah gelombang ritmik pendek dengan frekuensi 1214 siklus per detik. Kompleks K yaitu gelombang tajam, negatif, voltase tinggi, diikuti oleh gelombang lebih lambat, frekuensi 2-3 siklus per menit, aktivitas positif, dengan durasi 500 mdetik. Tonus otot rendah, nadi dan tekanan darah cenderung menurun. Stadium 1 dan 2 dikenal sebagai tidur dangkal. Stadium ini menduduki sekitar 50% total tidur. Stadium 3 ditandai dengan 20%-50% aktivitas delta, frekuensi 1-2 siklus per detik, amplitudo tinggi, dan disebut juga tidur delta. Tonus otot meningkat tetapi tidak ada gerakan bola mata. Stadium 4 terjadi jika gelombang delta lebih dari 50%. Stadium 3 dan 4 sulit dibedakan. Stadium 4 lebih lambat dari Stadium 3 Rekaman EEG berupa delta. Stadium 3 dan 4 disebut juga tidur gelombang lambat atau tidur dalam. Stadium ini menghabiskan sekitar 10%-20% waktu tidur total. Tidur ini terjadi antara sepertiga awal malam dengan setengah malam. Durasi tidur ini meningkat bila seseorang mengalami deprivasi tidur. Tidur REM ditandai dengan rekaman EEG yang hampir sama dengan tidur

3|Page

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22

stadium 1. Pada stadium ini terdapat letupan periodik gerakan bola mata cepat. Refleks tendon melemah atau hilang. Tekanan darah dan nafas meningkat. Pada pria terjadi ereksi penis. Pada tidur REM terdapat mimpimimpi. Fase ini menggunakan sekitar 20%-25% waktu tidur. Latensi REM sekitar 70-100 menit pada subyek normal tetapi pada penderita depresi, gangguan makan, skizofrenia, gangguan kepribadian ambang, dan gangguan penggunaan alkohol durasinya lebih pendek. Sebagian tidur delta (NREM) terjadi pada separuh awal malam dan tidur REM pada separuh malam menjelang pagi. Tidur REM dan NREM berbeda dalam hal dimensi psikologik dan fisiologik. Tidur REM dikaitkan dengan mimpimimpi sedangkan tidur NREM dengan pikiran abstrak. Fungsi otonom bervariasi pada tidur REM tetapi lambat atau menetap pada tidur NREM. Jadi, tidur dimulai pada stadium 1, masuk ke stadium 2, 3, dan 4. Kemudian kembali ke stadium 2 dan akhirnya masuk ke periode REM 1, biasanya berlangsung 70-90 menit setelah onset. Pergantian siklus dari NREM ke siklus REM biasanya berlangsung 90 menit. Durasi periode REM meningkat menjelang pagi. Kondisi tidur siang hari dapat dinilai dengan multiple sleep latency test (MSLT). Subyek diminta untuk berbaring di ruangan gelap dan tidak boleh menahan kantuknya. Tes ini diulang beberapa kali (lima kali pada siang hari). Latensi tidur yaitu waktu yang dibutuhkan untuk jatuh tidur. Waktu ini diukur untuk masing-masing tes dan digunakan sebagai indeks fisiologik tidur. Kebalikan dari MSLT yaitu maintenance of wakefulness test (MWT). Subyek ditempatkan di dalam ruangan yang tenang, lampu suram, dan diinstruksikan untuk tetap terbangun. Tes ini juga diulang beberapa kali. Latensi tidur diukur sebagai indeks kemampuan individu untuk mempertahankan tetap bangun.
KLASIFIKASI GANGGUAN TIDUR

I.

Gangguan tidur primer Gangguan tidur primer adalah gangguan tidur yang bukan disebabkan

oleh gangguan mental lain, kondisi medik umum, atau zat. Gangguan tidur ini dibagi dua yaitu disomnia dan parasomnia. Disomnia ditandai dengan gangguan pada jumlah, kualitas, dan waktu tidur. Parasomnia
4|Page Neurology and Behavior Science_Blok 22

dikaitkan dengan perilaku tidur atau peristiwa fisiologis yang dikaitkan dengan tidur, stadium tidur tertentu atau perpindahan tidur-bangun. Disomnia terdiri dari insomnia primer, hipersomnia primer, narkolepsi, gangguan tidur yang berhubungan dengan Pernafasan, gangguan ritmik sirkadian tidur, dan disomnia yang tidak dapat diklasifikasikan. Parasomnia terdiri dari gangguan mimpi buruk, gangguan teror tidur, berjalan saat tidur, dan parasomnia yang tidak dapat diklasifikasikan. Cermin Dunia Kedokteran No. 157, 2007196 Gangguan Tidur Lanjut Usia II. Gangguan tidur terkait gangguan mental lain Gangguan tidur terkait gangguan mental lain yaitu terdapatnya keluhan gangguan tidur yang menonjol yang diakibatkan oleh gangguan mentallain (sering karena Gangguan mood) tetapi tidak memenuhi syarat untuk ditegakkan sebagai gangguan tidur tersendiri. Ada dugaan bahwa mekanisme patofisiologik yang mendasari gangguan mental juga mempengaruhi terjadinya gangguan tidur-bangun. Gangguan tidur ini terdiri dari: Insomnia terkait aksis I atau II dan Hipersomnia terkait aksis I atau II. III. Gangguan tidur akibat kondisi medik umum Gangguan akibat kondisi medik umum yaitu adanya keluhan gangguan tidur yang menonjol yang diakibatkan oleh pengaruh fisiologik langsung kondisi medik umum terhadap siklus tidur-bangun. IV. Gangguan tidur akibat zat Yaitu adanya keluhan tidur yang menonjol akibat sedang

menggunakan atau menghentikan penggunaan zat (termasuk medikasi). Penilaian sistematik terhadap seseorang yang mengalami keluhan tidur seperti evaluasi bentuk gangguan tidur yang spesifik, gangguan mental saat ini, kondisi medik umum, dan zat atau medikasi yang digunakan, perlu dilakukan.

5|Page

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22

_Sulit Tidur_
ANAMNESIS

Anamnesis adalah wawancara antara dokter dengan pasien dan atau keluarganya guna memperoleh datadata pasien yang diperlukan untuk proses pengobatannya. Salah satu masalah yang dialami oleh para dokter adalah sulitnya memperoleh riwayat penyakit dengan baik. Hal ini disebabkan karena pasien seringkali sudah beradaptasi dengan masalah atau penyakit yang dialami. Pada kondisi tersebut pada umumnya pasien beradaptasi dengan penyakitnya malalui mekanisme penyangkalan, pengabaian, atau adaptif.
II.2.1 Identitas.

Data

identitas

sangat

penting

untuk

membantu

dokter

dalam

memberikan penanganan kepada pasien. Ada beberapa penyakit yang berhubungan dengan usia, pekerjaan, keturunan, lingkungan tempat tinggal dan lain lain.

II.2.2

Sumber data.

Dapat didapatkan dari pasien sendiri (auto anamnese) maupun dari keluarga/orang yagn mengantar pasien (allo anamnese). Data dari pasien sendiri dapat menyangkut keluhan keluhan yang dialaminya, seperti gatal-gatal, nyeri, adanya benjolan yang tak kunjung sembuh dan lain sebagainya.
II.2.3 Keluhan utama.

Merupakan keluhan yang dirasakan pasien yang menjadi alasan

ia

datang ke dokter. Penting sekali bagi dokter untuk mendengarkan secara aktif apa yang diungkapkan pasien, menelusurinya sehingga didapatkan data yang akurat mengenai masalah utama pasien. Data hendaknya dirangkum secara jelas menyangkut kronologis yagn mencakup awitan masalah, keadaan di mana hal tersebut terjadi, manifestasinya, serta semua pengobatannya. Gejala gejala penting
6|Page Neurology and Behavior Science_Blok 22

harus digambarkan dengan jelas letak, kualitas, kuantitas atau keparahan, factor factor yang memperberat atau mengurangi.

Berikut hal-hal yang biasa ditanyakan kepada pasien :

Apakah Anda sering merasa lelah dan tertekan pada waktu pagi atau malam hari?

Apakah Anda memiliki lingkaran gelap dan membengkak di sekitar mata ? (tidak ada kaitannya dengan kelainan fisik atau bawaan lahir)

Apakah Anda pernah atau sering jatuh tertidur di suatu tempat, biasanya bukan pada waktu dan tempat untuk tidur, misalnya saat pesta ?

Apakah Anda merasa seperti kehilangan fokus perhatian, sehingga Anda tidak dapat merespon rangsangan dari luar dan membuat Anda sensitif terhadap hal lainnya ?

Apakah Anda sangat sensitif terhadap rangsangan internal, seperti sakit perut (maag) atau kejang-kejang ?

Apakah Anda sering tidak dapat tidur, tidur tidak nyenyak atau bangun terlalu dini ?

Apakah Anda takut menghadapi malam hari karena susah tidur ? Apakah Anda mudah tersinggung atas hal-hal yang tidak penting ? Apakah Anda mengonsumsi obat-obat tidur dalam beberapa bulan terakhir ?

Apakah Anda sering merokok, alkohol, atau obat-obatan untuk menenangkan diri dan membantu agar bisa tidur ?

Apakah Anda kecanduan obat-obatan, terutama yang mengandung zat penenang?

7|Page

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22

Apakah Anda mengonsumsi makanan atau minuman berkafein seperti kopi, soft drink, dan sebagainya ?

Pertanyaan selanjutnya adalah:


Berapa lama biasanya Anda tertidur ? Apakah Anda sering terbangun untuk ke kamar mandi ? Apakah Anda terbangun lebih dini ? Apakah Anda mengalami sensasi tidak enak di tungkai/kaki yang menyebabkan Anda tidak bisa tidur ?

Apakah gangguan tidur Anda mempengaruhi fungsi Anda di siang hari ?

II.2.4

Apakah Anda mengantuk di siang hari ?


Keluhan tambahan.

Keluhan yang menyertai keluhan utama. Setiap perubahan dan masalah/gangguan kesehatan yagn dialami oleh usia lanjut akan disertai gejala gejala yagn khas.
II.2.5 II.2.6 Riwayat keluarga, psikososial, orang orang terdekat. Status kesehatan terakhir, penggunaan obat - obatan tradisional, obat

obat tanpa

resep, suplemen / vitamin.

II.2.7 Ada atau tidak alergi,

Baik terhadap makanan maupun obat obat tertentu


II.2.8 Penggunaan obat untuk penyakit yang dideritanya maupun untuk

penyakit lain

PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan fisik dapat memberikan petunjuk untuk komorbiditas insomnia.

8|Page

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22

Leher besar ukuran dari 18 inci atau lebih besar pada laki-laki, peningkatan BMI dari 30 kg/m2, pembesaran amandel, Mallampati Airway skor 3 atau 4 (lihat Media file 2), langit-langit lunak berbaring rendah terutama pada pasien dengan hipertensi atau penyakit jantung, dan apnea tidur obstruktif / hypopnea sindrom harus dipertimbangkan. Fitur lain termasuk diperbesar lidah, retrognathia, micrognathia, atau sudut rahang yang curam. Jika pasien memiliki neuropati perifer bukti (yaitu, distribusi stok hilangnya sensasi suhu) dengan atau tanpa perubahan trophic, mereka harus bertanya tentang gejala yang menyakitkan (yaitu, sensasi terbakar) di kaki mereka, dan sejarah diabetes, penyalahgunaan alkohol, dan neurologis konsultasi harus diminta. Jika pasien mengeluhkan gejala sindrom kaki gelisah atau gejala dari suatu kelainan neurologis, seperti kejang malam hari, penyakit Parkinson, atau gangguan neuromuskuler, konsultasi saraf harus diminta. Pada pasien dengan sindrom rasa sakit kronis atau sindrom rheumatologic, rujukan ke spesialis manajemen rasa sakit dan / atau rheumatologist harus dipertimbangkan. Jika dada pemeriksaan menunjukkan suara napas berkurang; clubbing atau mengi dalam pengaturan tanda-tanda klinis dan gejala dari penyakit paru obstruktif kronik, asma, atau sindrom hipoventilasi obesitas, paru konsultasi harus diminta.
PEMERIKSAAN PENUNJANG Polysomnography

Memberikan informasi mengenai tidur / bangun otak, dan merupakan 'standar emas' untuk penilaian diagnostik. Kendali polysomnography (PSG) terdiri electroencephalography (EEG), electrooculography (EOG), dagu dan tibialis anterior Elektromiografi (EMG), upaya pernapasan, aliran

9|Page

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22

udara, oksimetri dan elektrokardiografi (EKG). Sebagian besar penilaian adalah berbasis laboratorium dan malam pertama rekaman biasanya dibuang sebagai artefak yang terdiri dari hal-hal baru karena prosedur dan lingkungan. Anda mungkin mengatakan prinsip-prinsip kontrol stimulus diakui dalam praktek. Karena orang-orang tidur dengan cara yang berbeda di laboratorium, dan mungkin attributions berbeda tentang tidur mereka, rumah PSG telah dikembangkan sebagai naturalistik alternatif. PSG portabel pertama rekaman digambarkan pada 1970-an tapi sejak itu rumah perekaman telah menjadi lebih sederhana dan lebih handal. Dalam penelitian insomnia, sangat penting bahwa orang tidur di / tempat tidurnya sendiri (Edinger et al., 1997). PSG adalah penting untuk diagnosis dalam kasus-kasus yang kompleks, dan untuk memantau dampak intervensi, seperti hidung tekanan udara kontinu (nCPAP), dimana tingkat kejenuhan oksigen / desaturation, kejadian apnea dan arousal dari tidur sering harus dinilai sebelum dan selama pengobatan.

Fluid dan Tissue Analysis Metabolic atau drug screening Neuropsychological Tests Dementia, depression, anxiety, atau gangguan psikiatrik lainnya. Other Tests Sleep wake-diary untuk melihat pola tidur

10 | P a g e

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22

Gambar 1 sleep-wake diary


DIAGNOSIS : KERJA DAN BANDING

Diagnosis Kerja Diagnosis Banding

: Insomnia : Periodic limb movements of sleep

TABLE 1 Evaluation of the Patient with the Complaint of Excessive Daytime Somnolence 4

Findings on History and PhysicalExamina tion Restless legs syndrome, disturbed sleep, predisposing medical condition (e.g., anemia or renal failure)

Diagnostic Evaluation

Diagnostic

Therapy

Polysomnography with bilateral anterior tibialis EMG monitoring

Periodic limb movements of sleep

Treatment of predisposing condition, if possible; dopamine agonists (e.g., pramipexole); benzodiazepines (e.g., clonazepam)

Disturbed sleep, predisposing medical conditions (e.g., asthma) and/or predisposing medical therapies (e.g., theophylline)me dical therapies (e.g.,

Sleep-wake diary recording

Insomnias

Treatment of predisposing condition and/or change in therapy, if possible; behavioral therapy; shortacting benzodiazepine receptor agonist (e.g., zolpidem)

GANGGUAN TIDUR DAN IRAMA SIRKADIAN

11 | P a g e

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22

Menggambarkan ritme sirkadian sekitar 24-jam siklus yang dihasilkan oleh suatu organisme. Kebanyakan sistem fisiologis menunjukkan variasi sirkadian. Sistem dengan variasi yang paling menonjol adalah siklus tidurbangun, suhu, dan sistem endokrin. Gangguan ritme sirkadian dapat dikategorikan menjadi 2 kelompok utama: gangguan sementara (misalnya, jet lag; mengubah jadwal tidur karena bekerja, tanggung jawab sosial, penyakit) dan gangguan kronis. Kronis yang paling umum gangguan tidur antara lain sindrom fase tidur tertunda (DSPS), sindrom fase tidur lanjut (ASPS), dan siklus tidur-bangun tidak teratur. Katzenberg et al menyarankan korelasi genetik (yaitu, jam polimorfisme) untuk ritme sirkadian patterns. * Sindrom fase tidur lanjut : Pasien merasa mengantuk lebih awal dari waktu tidur yang diinginkan mereka (yaitu, 8 malam) dan mereka bangun lebih awal daripada yang mereka inginkan (yaitu, 4-5 am). Kondisi ini lebih umum pada orang tua. Para pasien biasanya mengeluhkan tidur perawatan insomnia. * Sindrom fase tidur tertunda : Pasien tidak merasa mengantuk sampai jauh kemudian daripada waktu tidur yang diinginkan, dan ia bangun lebih lambat dari yang dikehendaki atau diterima secara sosial. Pada buku harian atau actigraphy tidur, pasien ini menunjukkan waktu tidur yang konsisten dengan bangun lebih awal kali yang sesuai dengan sekolah atau hari kerja, dan terlambat bangun kali di akhir pekan, waktu istirahat, dan liburan. Kondisi ini sering dimulai pada masa remaja dan dapat dikaitkan dengan sejarah keluarga sampai dengan 40% pasien. Laporan pasien ini sulit tidur pada waktu tidur yang diinginkan biasanya secara sosial, dan mengeluh mengantuk berlebihan di siang hari selama sekolah atau bekerja minggu. * Gangguan tidur karena shift kerja: Sebuah keluhan insomnia atau mengantuk yang berlebihan biasanya temporal berkaitan dengan jadwal kerja yang berulang yang tumpang

12 | P a g e

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22

tindih waktu tidur yang biasa. Hal ini dapat terjadi dengan pergeseran pagi (4-6 pm), di mana pasien cemas bangun di waktu pergeseran awal mereka terutama ketika mereka memiliki jadwal pergeseran berputar. Malam pergeseran yang berakhir pada 11 dapat menyebabkan insomnia pada bahwa pasien mungkin perlu beberapa waktu untuk angin turun dari pekerjaan sebelum tidur. Shift malam dapat dikaitkan dengan kedua tidur onset dan perawatan insomnia karena paparan sinar matahari pada perjalanan pulang dari kantor, siang eksposur di kamar tidur mereka, dan isyarat-isyarat sosial dan lingkungan (mengambil anak-anak di sekolah, membayar tagihan, pekerjaan rumah tangga, dll) . * Ritme tidur-bangun irregular: Hal ini biasanya terlihat pada pasien dengan kurang tidur kebersihan, pasien yang tinggal atau bekerja sendiri dengan sedikit paparan cahaya, aktivitas, dan isyarat-isyarat sosial. Pasien tersebut secara acak tidur sepanjang hari sehingga sulit, kalau bukan mustahil, untuk jatuh tertidur pada waktu tidur kebiasaan tidur dengan konsolidasi periode
ETIOLOGI

Menurut data International Classification of Sleep Disorder, prevalensi penyebab gangguan tidur adalah: Penyakit asma (61-74%) Gangguan pusat pernafasan (40-50%) Kram kaki malam hari (16%) Psikologis (15%) Sindroma gelisah (5-15%) Ketergantungan alkohol (10%) Sindroma terlambat tidur (5-10%) Depresi (65%)
13 | P a g e Neurology and Behavior Science_Blok 22

Pikun (5%) Gangguan perubahan jadwal kerja (2-5%) Gangguan obstruksi atau sesak saluran nafas (1-2%) Penyakit lambung (<1%) Narkolepsi atau mendadak tidur (0,03%-0,16%) > yang kayak gini disebutnya pelor (nempel molor) atau tumor (tukang molor) atau sailor (dikira pingsan ternyata molor). Penyebab dari gangguan tidur ini biasanya dibagi menjadi 3 kondisi, yakni kondisi medis, kondisi psikiatri dan kondisi lingkungan. Beberapa kondisi medis yang dapat menyebabkan gangguan tidur adalah : Gangguan pada jantung seperti gagal jantung dan iskemia pada pembuluh koroner Stroke, kondisi degenerative, demensia, gangguan tidur karena gangguan CNS Hipotiroid, menopause, siklus menstruasi, kehamilan, dan

hipogonadism Gangguan paru obstruktif, asma, Pickwikian sindrom (Obstructive sleep apnea syndrome). Penyakit muntahan cairan lambung Gangguan pada darah Penggunaan bronkodilator Kondisi lainnya seperti Demam, nyeri dan infeksi obat seperti dekongestan, koritokosteroid, dan

14 | P a g e

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22

Beberapa kondisi psikologis yang dapat menyebabkan gangguan tidur : Depresi dapat menyebabkan gangguan dalam REM (rapid eye movement) Sindrom Post Trauma Obat-obatan psikotropika Pikiran yang membebani atau stress Tegang-cemas Beberapa kondisi lingkungan yang dapat menyebabkan gangguan tidur : Kejadian yang mengancam nyawa atau kejadian yang memiliki stress tinggi Gangguan siklus tidur akibat waktu kerja yang tidak tetap (malam dan pagi) Lingkungan yang bising, dingin, ataupun terlalu panas. Mekanisme tidur belum banyak diketahui. Pada malam hari otak mengeluarkan hormon melantonin yang diduga dapat merangsang keinginan untuk tidur. Tidur terdiri dari 2 fase yaitu REM (rapid eye movement) dan non REM. Pada fase REM pergerakan bola mata dan detak jantung akan meningkat, kurang lebih 20 menit dan terjadi sebanyak 3 - 4 kali sepanjang masa tidur. Pada fase non REM seluruh anggota tubuh menjadi relaks. fase ini terbagi menjadi 4 stadium. Pada stadium 3 seseorang akan masuk pada keadaan sangat lelap sehingga susah untuk dibangunkan. Pada stadium 4 tubuh mengeluarkan hormon somatostatin yang diduga menjadi zat yang membantu perbaikan pada tubuh. Pada insomnia terjadi gangguangangguan atau pemendekan waktu dari fase tidur yang normal.

15 | P a g e

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22

PATOFISIOLOGI

Tidur tidak susunan

dapat diartikan sebagai manifestasi proses de-aktivitasi tidak aktif, melainkan giat dalam mengadakan

susunan saraf pusat. Jadi, seorang yang tertidur bukannya karena sarafnya sinkronisasi terhadap neuron neuron substansia retikularis dari batang otak. Bagian susunan saraf yang berfungsi untuk melakukan sinkronisasi kegiatan neural adalah substansia retikularis di bagian rostral batang otak dan dinamakan pusat tidur. Bagian susunan saraf yang menghilangkan sinkronisasi ( de-sinkronisasi ) adalah substansia retikularis di bagian rostral batang otak dan dinamakan pusat penggugah ( arousal centre ). Insomnia dianggap sebagai gangguan dari kerja hyperarousal pada saat ini.

Gambar 3 Gangguan Sistem Arousal pada Insomnia Mengenai hyperarousal ini dapat dibuktikan dengan tingkat

kewaspadaan berlebih selama siang hari dan susahnya memulai dan menjaga untuk tidur di malam hari. Arousal ini sekarang menjelaskan bagian kognitif dan fisiologikal dari insomnia. Bagian dari kognitif memperlihatkan bahwa cemas dan pemikiran yang mendalam tentang

16 | P a g e

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22

tekanan hidup dapat menggangu tidur, menimbulkan keadaan insomnia akut, khususnya dalam memulai tidur dan tidur kembali setelah terbangun. Kemudian sekali seseorang mendapat pengalaman dalam kesusahan tidur, mencemaskan dan terlalu melakukan pemikiran pemikiran mendalam hingga bergeser kepada hidup untuk mencemaskan tentang tidur itu sendiri dan tentang konsekuensi di siang hari akibat tidak mendapat cukup tidur. Keadaan kognitif aktif yang buruk ini selanjutnya semakin bertambah buruk jika dapat ditemukan keadaan yang berhubungan dengan tidur yang bisa menjadi suatu tanda bahaya atau kurang tidur telah menjadi suatu perhatian. Selaras dengan bagian kognitf , bagian lain dari perkembangan insomnia menunjukkan bahwa hyperarousal adalah bagian yang terutama dari faktor fisiologi atau neurofisiologi. Arousal fisiologi telah dievaluasi melalui pengukuran seluruh tingkat metabolik tubuh, variabilitas heart rate, pengukuran neuroendokrin dan fungsi neuroimaging. Seluruh body metabolic rate bisa diukur oleh jumlah konsumsi oksigen (VO 2). Penelitian baru baru ini membandingkan antara good sleepers dengan pasien yang di diagnosis menderita insomnia. Pasien dengan insomnia menunjukkan tingkat metabolik yang sangat tinggi ( pengukuran pada interval melewati 24 jam ) dibandingkan dengan health control. Variabilitas heart rate bisa memberikan pengukuran tentang arousal yang mengatur aktivitas nervus simpatik dan parasimpatik. Penelitian 36 jam menemukan bahwa rata rata heart rate yang peningkatan dan variabilitas yang mengalami penurunan pada semua stadium tidur dari pasien insomnia dibandingkan dengan healthy normal sleepers. Sistem neuroendorin juga dapat menunjukkan fakta fakta arousal sebagai pengaktif terus menrus sistem respons stress. Beberapa penetilian pengukuran urin 24 jam yang bebas ekskresi kortikol ditemukan dalam jumlah yang banyak pada poor sleepers. Urinaria yang bebas kortisol juga berkolerasi positif dengan total waktu terjaga, dan katekolamin urin berkolerasi dengan persentase stadium 1 dan waktu bangun setelah waktu tidur. Pengukuran untuk kortisol dan

17 | P a g e

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22

adrenokortikotropik hormone ( ACTH) dari plasma telah dievaluasi pada pasien insomnia dan healthy normal sleepers. Meskipun keterangan agak tercampur, insomnia primer memperlihatkan tingkat komponen yang tinggi dalam plasma mereka, dengan yang peling berbeda terlihat pada malam dan setengah malam pertama. Pengukuran kortisol dan ACTH dari urinaria dan plasma menunjukkan bahwa hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) axis berasosiasi dengan patologi dari insomnia kronik. Terakhir, positron emission tomography (PET) digunakan untuk orang jumlah

menilai metabolism glukosa darah, pengukuran tidak langsung seluruh metabolisme glukosa otak pada pasien insomnia. Dibandingkan sehat, pasien dengan insomnia menunjukkan lebih besar

metabolism glukosa otak selama bangun dan stadium tidur REM. Lebih lanjut, pasien insomnia menunjukkan penurunan relatif metabolisme dari bangun hingga stadium tidur NREM dalam bagian wake-promoting dari otak. Ini memperlihatkan interaksi jaringan kerja neural meliputi ketidakmampuan untuk jatuh tertidur, yang termasuk di dalamnya sistem arousal, sistem regulasi emosi dan sistem kognitif. Berdasarkan skenario, maka etiopatofisiologi ibu tersebut adalah karena stress (ditinggal suami keluar kota, dan sendiri harus merawat anak yang masih kecil, dan juga harus bekerja, sedangkan pekerjaan menjadi ibu rumah tangga dan wanita karir menjadi terganggu akibat mengantuk berlebih di siang hari (( excessive daytime sleepiness), ditambah lagi ibu tersebut sudah berusaha dengan mengkonsumsi obat tidur tetapi tidak efektif sehingga makin stresslah ibu tersebut dan akhirnya bertambah parahlah insomnianya).
MANIFESTASI KLINIS

Gejala insomnia adalah susahnya seorang individu untuk jatuh kedalam tidur, sehingga terjadi peningkatan waktu antara tidur. Sulitnya mempertahankan tidur dan tidak dapat tidur secukupnya, hal ini mengakibatkan seorang pasien terbangun sebelum dia mendapatkan tidur yang cukup. Gangguan dari siklus tidur dapat disebabkan oleh irama

18 | P a g e

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22

sikardian (gannguan dalam irama tidur bangun) yang terganggu oleh karena jet-lag atau pekerjaan. Hipersomnia atau tidur yang berlebih adalah gejala dari kurangnya kualitas dari tidur seseorang sehingga seringkali dibutuhkan waktu tidur yang lebih lama dari normal. Beberapa gejala lain dari gangguan tidur adalah Sonambulisme atau tidur berjalan, dan Mimpi buruk (nightmares). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-IV (DSMIV), menunjukkan beberapa gejala dimana seseorang dapat didiagnosis sedang menderita insomnia karena faktor psikologis, yaitu: 1. Kesulitan untuk memulai, mempertahankan tidur, dan tidak dapat memperbaiki tidur selama sekurangnya satu bulan merupakan keluahan yang paling banyak terjadi. 2. Insomnia ini menyebabkan penderita menjadi stres sehingga dapat mengganggu fungsi sosial, pekerjaan atau area fungsi penting yang lain. 3. Insomnia karena faktor psikologis ini bukan termasuk narkolepsi, gangguan tidur yang berhubungan dengan pernafasan, gangguan ritme sirkadian atau parasomnia. 4. Insomnia karena faktor psikologis tidak terjadi karena gangguan mental lain seperti gangguan depresi, delirium. 5. Insomnia karena faktor psikologis tidak terjadi karena efek fisiologis yang langsung dari suatu zat seperti penyalahgunaan obat atau kondisi medis yang umum. Dengan adanya gejela-gejala yang disebutkan oleh Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-IV (DSM-IV), maka insomnia karena faktor psikologis dapat mengganggu berbagai fungsi sosial.
FAKTOR RESIKO

19 | P a g e

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22

Pada kehamilan khususnya pada minggu-minggu menjelang kelahiran seringkali ibu hamil tidak dapat tidur sama sekali. Orang-orang dengan gangguan fisik lain dapat pula menderita insomnia seperti : sering buang air kecil, kram pada kaki, sesak karena asma atau menderita nyeri seperti pada reumatik atau artritis. Hal-hal lain yang dapat menyebabkan susah tidur adalah umur lanjut, menonton TV terlalu malam, mengkonsumsi minuman yang mengandung kafein atau alkohol terlalu banyak, makan dalam jumlah besar sebelum tidur dan latihan berat dalam waktu 6 jam sebelum tidur. Dalam banyak kasus insomnia banyak disebabkan oleh hal-hal psikis seperti kecemasan, depresi atau rasa stress yang tidak terungkapkan.
PENATALAKSANAAN

Insomnia yang terjadi karena faktor psikologis lebih baik diobati dengan psikoterapi karena penyebabnya adalah faktor-faktor psikologis. Penting bagi penderita insomnia untuk secara terbuka mengatakan pada psikolog, terapis atau konselor tentang awal mula penyebab insomnia sehingga dapat ditentukan terapi apa yang sebaiknya diberikan. Selain itu, keluarga si penderita insomnia juga harus memberi dukungan pada penderita agar insomnia yang dialaminya perlahan-lahan dapat diturunkan sampai sembuh.
MEDIKA MENTOSA

Obat-obatan jenis hipnotik seperti diazepam dan lorazepam dapat diresepkan oleh dokter secara jangka pendek untuk mengatasi masalah insomnia atau susah tidur yang berat. Tetapi obat-obatan ini mempunyai efek samping perasaan mengantuk keesokan harinya dan menimbulkan gejala kecanduan. Obat anti alergi yang bersifat sedative seperti difenhidramin dan promethazin juga dapat digunakan untuk mengatasi insomnia atau susah tidur. Tetapi obat-obatan ini dapat berada di dalam tubuh untuk waktu yang lama serta menimbulkan efek hangover di pagi hari.

20 | P a g e

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22

Kloralhidrat saat ini

dapat

pula

bermanfaat suplemen

dan juga

cenderung dapat

tidak

disalahgunakan. Antihistamin, prekursor protein seperti l-triptofan yang tersedia dalam bentuk digunakan. Penggunaan jangka panjang obat hipnotik tidak dianjurkan. Obat hipnotik hendaklah digunakan dalam waktu terbatas atau untuk mengatasi insomnia jangka pendek. Dosis harus kecil dan durasi pemberian harus singkat. Benzodiazepin paling sering digunakan dan tetap merupakan pilihan utama untuk mengatasi insomnia, baik primer maupun sekunder. Benzodiazepin dapat direkomendasikan untuk dua atau tiga hari dan dapat diulang tidak lebih dari tiga kali. Penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan masalah tidur atau dapat menutupi penyakit yang mendasari. Penggunaan benzodiazepin harus hati-hati pada pasien penyakit paru obstruktif kronik, obesitas, gangguan jantung dengan hipoventilasi. Benzodiazepin dapat mengganggu ventilasi pada apnea tidur. Efek samping berupa penurunan kognitif dan terjatuh akibat gangguan koordinasi motorik sering ditemukan. Oleh karena itu, penggunaan benzodiazepin pada lansia harus hati-hati dan dosisnya serendah mungkin. Benzodiazepin dengan waktu paruh pendek (triazolam dan zolpidem) merupakan obat pilihan untuk membantu orang-orang yang sulit masuk tidur. Sebaliknya, obat yang waktu paruhnya panjang (estazolam, temazepam, dan lorazepam) berguna untuk penderita yang mengalami interupsi tidur. Benzodiazepin yang kerjanya lebih panjang dapat memperbaiki anksietas di siang hari dan insomnia di malam hari. Sebagian obat golongan benzodiazepin dimetabolisme di hepar. Oleh karena itu, pemberian obat-obat yang menghambat oksidasi sitokrom (seperti simetidin, estrogen, INH, eritromisin, dan fluoxetine) dapat menyebabkan sedasi berlebihan di siang hari. Antidepresan yang bersifat sedatif seperti trazodone dapat diberikan bersamaan dengan benzodiazepin pada awal malam. Antidepresan kadang-kadang dapat memperburuk gangguan gerakan terkait tidur (RLS)

21 | P a g e

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22

Triazolam tidak menyebabkan gangguan respirasi pada pasien COPD ringan-sedang yang mengalami insomnia. Neuroleptik dapat digunakan untuk insomnia sekunder terhadap delirium pada lansia. Dosis rendahsedang benzodiazepin seperti lorazepam digunakan untuk memperkuat efek neuroleptik terhadap tidur. Mirtazapine merupakan antidepresan baru golongan noradrenergic and specific serotonin antidepressant (NaSSA). Ia dapat memperpendek onset tidur, stadium 1 berkurang, dan meningkatkan dalamnya tidur. Latensi REM, total waktu tidur, kontinuitas tidur, serta efisiensi tidur meningkat pada pemberian mirtazapine. Obat ini efektif untuk penderita depresi dengan insomnia tidur Tidak dianjurkan menggunakan imipramin, desipramin, dan monoamin oksidase inhibitor pada lansia karena dapat menstimulasi insomnia. Lithium dapat menganggu kontinuitas tidur akibat efek samping poliuria. Khloralhidrat dan barbiturat jarang digunakan karena cenderung menekan pernafasan. Antihistamin dan difenhidramin bermanfaat untuk beberapa pasien tapi penggunaannya harus hati-hati karena dapat menginduksi delirium Melatonin merupakan hormon yang disekresikan oleh glandula pineal. Ia berperan mengatur siklus tidur. Efek hipnotiknya terlihat pada pasien gangguan tidur primer. Ia juga memperbaiki tidur pada penderita depresi mayor. Melatonin juga dapat memperbaiki tidur, tanpa efek samping, pada lansia dengan insomnia. Melatonin dapat ditambahkan ke dalam makanan. Selain obat-obatan resep di atas, ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa herba valerian juga efektif untuk mengatasi insomnia atau susah tidur. Selain itu Passiflora dan ekstrak wild lettuce serta Lavender dan chamomile juga secara tradisional sering digunakan untuk mengatasi insomnia atau susah tidur, walaupun belum ada penelitian untuk membuktikannya. Sebaiknya konsultasikan dahulu

22 | P a g e

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22

dengan dokter atau apoteker apabila ingin menggunakan bahan herbal tersebut untuk mengatasi insomnia atau susah tidur.
NON MEDIKA MENTOSA

Apa saja terapi yang dapat dilakukan untuk mengatasi insomnia? Ada beberapa terapi yang dapat digunakan untuk mengatasi insomnia, yaitu: 1. CBT (Cognitive Behavioral Therapy) CBT digunakan untuk memperbaiki distorsi kognitif si penderita dalam memandang dirinya, lingkungannya, masa depannya, dan untuk meningkatkan rasa percaya dirinya sehingga si penderita merasa berdaya atau merasa bahwa dirinya masih berharga. 2. Sleep Restriction Therapy Sleep restriction therapy digunakan untuk memperbaiki efisiensi tidur si penderita insomnia. Terapi ini bermanfaat untuk pasien yang berbaring di tempat tidur tanpa bisa tertidur. Misalnya, bila pasien mengatakan bahwa ia hanya tertidur lima jam dari delapan jam waktu yang dihabiskannya di tempat tidur, waktu di tempat tidurnya harus dikurangi. Tidur di siang hari harus dihindari. Lansia dibolehkan tidur sejenak di siang hari yaitu sekitar 30 menit. Bila efisiensi tidur pasien mencapai 85% (rata-rata setelah lima hari), waktu di tempat tidurnya boleh ditambah 15 menit. Terapi pembatasan tidur, secara berangsur-angsur, dapat mengurangi frekuensi dan durasi terbangun di malam hari. 3. Stimulus Control Therapy Stimulus control therapy berguna untuk mempertahankan waktu bangun pagi si penderita secara reguler dengan memperhatikan waktu tidur malam dan melarang si penderita untuk tidur pada siang hari meski hanya sesaat.

4. Relaxation Therapy

23 | P a g e

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22

Relaxation Therapy berguna untuk membuat si penderita rileks pada saat dihadapkan pada kondisi yang penuh ketegangan. Terapi ini harus dilakukan dan dipelajari dengan baik. Menghipnosis diri sendiri, relaksasi progresif, dan latihan nafas dalam sehingga terjadi keadaan relaks cukup efektif untuk memperbaiki tidur. Pasien membutuhkan latihan yang cukup dan serius. Biofeedback yaitu memberikan umpan-balik perubahan fisiologik yang terjadi setelah relaksasi. Umpan balik ini dapat meningkatkan kesadaran diri pasien tentang perbaikan yang didapat. Teknik ini dapat dikombinasi dengan higene tidur dan terapi pengontrolon tidur. 5. Cognitive Therapy Cognitive Therapy berguna untuk mengidentifikasi sikap dan

kepercayaan si penderita yang salah mengenai tidur. 6. Imagery Training Imagery Training berguna untuk mengganti pikiran-pikiran si penderita yang tidak menyenangkan menjadi pikiran-pikiran yang menyenangkan. Banyak di antara para penderita insomnia karena factor psikologis yang menggunakan obat tidur untuk mengatasi insomnianya. Namun penggunaan yang terus menerus tentu menimbulkan efek samping yang negative, baik secara fisiologis (efek terhadap organ dan fungsi organ tubuh) serta efek psikologis. Logikanya, insomnia yang disebabkan factor psikologis, berarti factor psikologis itu lah yang harus di atasi, bukan symtomnya. Kalau kita hanya focus mengatasi simtom-nya dengan minum berbagai obat tidur, maka ketika mata terbuka, masalah akan datang kembali, bahkan akan dirasa lebih berat karena dibiarkan berlarutlarut tanpa solusi pada akar masalah. 7. Terapi apnea tidur obstruktif Apnea tidur obstruktif dapat diatasi dengan menghindari tidur telentang, menggunakan perangkat gigi (dental appliance), menurunkan berat badan, menghindari obat-obat yang menekan jalan nafas, menggunakan

24 | P a g e

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22

stimulansia

pernafasan

seperti

acetazolamide

(Diamox),

nasal

continuous positive airway pressure (NCPAP), upper airway surgery (UAS). Nasal continuous positive airway pressure ditoleransi baik oleh sebagian besar pasien. Metode ini dapat memperbaiki tidur pasien di malam hari, rasa mengantuk di siang hari, dan keletihan serta perbaikan fungsi kognitif. 8. Uvulopalatopharyngeoplasty (UPP) Merupakan salah satu teknik pembedahan yang digunakan untuk terapi apnea tidur. Efikasi metode ini kurang.

Beberapa cara untuk menghilangkan insomnia adalah : 1. Lakukan hal-hal rutin sebelum waktu tidur seperti minum susu hangat, berjalan-jalan sebentar sebelum tidur atau mandi air hangat. 2. Pada beberapa orang melakukan hubungan seksual dapat

memberikan efek relaks 3. Lakukan beberapa tehnik relaksasi seperti relaksasi otot atau meditasi 4. Beberapa jenis obat-obatan dapat membantu mereka yang

menderita insomnia khususnya mereka yang menderita nyeri yang sangat atau permasalahan psikis seperti cemas atau stress, namun mengkonsumsi obat-obatan jenis ini harus tetap dibawah pengawasan dokter. 5. Sebaiknya segera konsultasi ke dokter bila insomnia : 6. Berlangsung terus tiap malam 7. Mulai menggangu kerja atau aktifitas harian 8. Dokter bisa membantu menemukan penyebab insomnia dan akan mengobati seperlunya.

25 | P a g e

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22

9. Jangan minum obat tidur tanpa nasihat dokter. Obat tersebut mungkin akan mengurangi sedikit keluhan tetapi penggunaan yang rutin dan jangka lama bisa menyebabkan adiksi.
PENCEGAHAN

Insomnia

karena

faktor

psikologis

dapat

dicegah

dengan

cara

memanage stres secara positif dan jika ada mengalami masalah sebaiknya sharing pada seseorang yang dapat Anda percaya. Semoga dengan pembahasan tentang insomnia ini, dapat memberikan manfaat bagi Anda. Dengan informasi ini, diharap kita pun bisa memahami penderita insomnia dan dapat memberikan bantuan yang tepat. Perhatian dan empati terhadap penderita insomnia, bisa sedikit mengobati kegalauan emosi jiwanya. Semoga bermanfaat. Untuk mengatasi masalah susah tidur atau insomnia ini biasanya dilakukan dengan 2 cara, yaitu secara psikologi dan melalui bantuan obatobatan. Penanganan pertama biasanya akan terlebih dahulu dibantu melalui cara psikologi, apabila kemudian dirasa perlu baru akan diberikan tambahan berupa obat-obatan. Berikut uraian dari kedua cara tersebut :
Terapi Psikologi

Konsultan psikolog biasanya dapat mengajarkan teknik relaksasi mudah yang dapat membantu mengatasi insomnia. Mereka juga biasanya menyediakan jasa konsultasi bicara (psikoterapi) yang dapat membantu orang-orang untuk menghadapi kejadian-kejadian seperti kehilangan orang terdekat ataupun masalah rumah tangga yang dapat menyebabkan terjadinya susah tidur atau insomnia.
Cognitive Behaviour Therapy (CBT)

Selain hal di atas, ada juga terapi tentang tidur, yang termasuk di dalamnya cognitive behaviour therapy (CBT) yang dapat mengatasi masalah kecemasan yang menganggu tidur dan juga membantu membangun pandangan positif mengenai tidur.

26 | P a g e

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22

Terapi cognitive behaviour ini meliputi : 1. Pengetahuan mengenai kebiasaan tidur yang baik. Kebersihan saat tidur yang dijadikan kebiasaan dapat membantu untuk meningkatkan kualitas tidur. 2. Teknik relaksasi, seperti latihan pelemasan otot dan latihan pernafasan dapat digunakan untuk mengatasi kecemasan menjelang tidur. Teknik ini membuat kita dapat mengontrol pernafasan, detak jantung, ketegangan otot serta suasana hati. 3. Terapi kognitif, ini termasuk dengan menggantikan kecemasan mengenai tidak bisa tidur dengan hal lain yang positif. 4. Kontrol stimulus, termasuk di dalamnya untuk membatasi aktivitas yang dilakukan di dalam kamar tidur hanya untuk istirahat saja. 5. Pembatasan tidur, terapi ini membatasi waktu anda di tempat tidur, sehingga menjadi tidur pun berkurang dan menjadi lebih lelah keesokan malamnya. Begitu kualitas tidur sudah meningkat, maka waktu tidur pun akan meningkat kembali secara bertahap.
Gangguan tidur dapat diatasi dengan hal-hal sederhana seperti

: Kebiasaan tidur yang baik. Jam tidur yang rutin, usahakan untuk pergi tidur pada waktu yang sama setiap malam Pastikan tempat tidur nyaman dengan suhu ruangan sesuai yang dikehendaki. Jangan memikirkan masalah dan tanggung jawab sehari-hari. Hindari konsumsi kafein di sore/malam hari (teh, kopi, coke, dsb). Hindari mengkonsumsi alkohol pada malam hari.

27 | P a g e

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22

Hindari banyak makan pada malam hari terutama yang banyak mengandung lemak. Hindari kebiasaan tidur siang. Berjalan-jalanlah sebentar sebelum tidur atau lakukan latihan ringan seperti yoga. Jangan gunakan ruang tidur anda sebagai tempat bekerja. Minumlah susu hangat sebelum tidur karena dapat meningkatkan kadar serotonin dalam otak. Mandi air hangat sebelum tidur dapat membantu. Jika telah berbaring 20-30 menit namun masih susah untuk jatuh tidur, bangun dan lakukanlah sesuatu sampai anda merasa mengantuk.
KOMPLIKASI

Komplikasi dari susah tidur atau insomnia dapat berupa : 1. Depresi 2. Kesulitan untuk berkonsentrasi 3. Aktivitas sehari-hari menjadi terganggu 4. Prestasi kerja atau belajar mengalami penurunan 5. Mengalami kelelahan di siang hari 6. Hubungan interpersonal dengan orang lain menjadi buruk 7. Menyebabkan berlebihan 8. Memunculkan berbagai penyakit fisik 9. Menurunnya performa baik di pekerjaan ataupun sekolah. kecelakaan karena mengalami kelelahan yang

28 | P a g e

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22

10. 11. 12. 13.

Dapat timbul masalah psikis, seperti depresi atau kecemasan. Berat badan berlebih atau obesitas. Menurunnya fungsi sistem kekebalan tubuh. Meningkatan resiko terjadinya penyakit jangka panjang,

seperti tekanan darah yang tinggi, penyakit jantung dan diabetes. 14. Dampak Meningkatkan risiko kematian insomnia tidak dapat di anggap remeh, karena bisa

menimbulkan kondisi yang lebih serius dan membahayakan kesehatan dan keselamatan. Oleh karenanya, setiap penderita insomnia perlu mencari jalan keluar yang tepat.
PROGNOSIS

Respon terhadap pengobatan tergantung pada etiologi insomnia. "Rebound insomnia" dapat terjadi pada penghentian tiba-tiba dan obat sedatif hipotik. Beberapa tanpa penderita obat mungkin memberikan respon dan terhadap cara-cara setelah masalah didiskusikan

etiologinya ditemukan.

29 | P a g e

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22

Bab III PENUTUP


Kesimpulan
Tidur merupakan suatu proses di otak yang dibutuhkan seseorang untuk dapat berfungsi dengan baik. Insomnia merupakan gangguan tidur yang paling sering ditemukan. Sekitar 67% lansia mengalami gangguan tidur. Gangguan tidur yang paling sering ditemukan pada lansia yaitu insomnia, gangguan ritmik tidur, dan apnea tidur. Berdasarkan dugaan etiologinya, gangguan tidur dibagi menjadi empat kelompok yaitu, gangguan tidur primer, gangguan tidur akibat gangguan mental lain, gangguan tidur akibat kondisi medik umum, dan gangguan tidur yang diinduksi oleh zat. Beberapa kondisi medik umum seperti penyakit kardiovaskuler,

penyakit paru, neurodegenerasi, penyakit endokrin, kanker, dan penyakit saluran pencernaan, serta penyakit muskuloskeletal sering menimbulkan gangguan tidur. Gangguan mental seperti depresi, anksietas, demensia serta delirium dapat pula menimbulkan gangguan tidur. Pola gangguan tidur pada penderita depresi berbeda dengan yang tidak menderita depresi; pada depresi terjadi gangguan pada setiap stadium gangguan tidur. Langkah pertama mengobati gangguan tidur adalah mengoptimalkan terapi terhadap penyakit yang mendasarinya. Terapi farmakologik seperti benzodiazepin merupakan pilihan utama untuk mengatasi gangguan tidur; walaupun demikian, lama penggunaannya harus dibatasi karena penggunaan jangka lama malah dapat menimbulkan masalah tidur atau dapat menutupi gangguan yang mendasarinya. Efek samping sedasi dapat menyebabkan kecelakaan seperti terjatuh. Obat-obat seperti antidepresan, neuroleptik dapat pula digunakan untuk gangguan tidur.

30 | P a g e

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22

DAFTAR PUSTAKA
1. Sumber: Dewanto George, dkk. Insomnia. Panduan Praktis Diagnosis dan Tata Laksana Penyakit Saraf .Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta;2009:188-92. 2. Sumber : Victor Maurice, Ropper Allan H., D Raymond. Insomnia. Adams & Victor's Principles Of Neurology . 7th Ed. McGraw-Hill Professional. Dec 19, 2000; 26. 3. Sumber: Kasper, dkk. Evaluation of Insomnia. Harrison's Principles of Internal Medicine. 16th Ed. McGraw-Hill Companies. 2005; 184. 4. Sidharta Priguna. Gangguan Tidur. Neurologi Klinis dalam Praktek Umum. Cetakan ke 13. Penerbit Dian Rakyat. Jakarta, 2008; 178-98.

5. Kasper, dkk. Evaluation of the Patient with the Complaint of Excessive Daytime Somnolence. Harrison's Principles of Internal Medicine . 16th Ed. McGraw-Hill Companies. 2005; 184. 6. McPhee Stephen J., Papadakis Maxine A. Sleep Disorder. Lange 2010 Current Medical Diagnosis and Treatment. 49th Ed. The McGraw-Hill Companies. Amerika Serikat,2010;973-5.
7.

Passaro

Erasmo

A.

Insomnia.

Diunduh

dari

www.emedicine.medscape.com. Aug 3, 2009.


8.

Internasional

Classification

of

Sleep

Disorder.

Diunduh

dari

www.google.com, 2010.
9.

Roth

Thomas.

Insomnia:

Definition,

Prevalence,

Etiology,

and

Consequences. Diunduh dari www.PubMed.org. August, 200715; 3(5 Suppl): S7S10.


31 | P a g e Neurology and Behavior Science_Blok 22

32 | P a g e

Neurology

and

Behavior

Science_Blok

22