Anda di halaman 1dari 2

Antara Mangadeg dan Matah Ati | I Made Asdhiana | Kamis, 14 Juni 2012 | 15:38 WIB Dari bukit ke bukit

terentang sejarah pendiri Pura Mangkunegaran. Perjuangan, ke prihatinan, dan kisah asmara terekam dalam keindahan bukit-bukit hijau rindang. Sejarah yang terlalu indah untuk dilupakan. Langit memerah. Matahari hampir tenggelam di balik bukit di sebuah desa di Selog iri, Wonogiri, Jawa Tengah. Bukit itu tidak pernah tercatat di catatan kaki sejarah sekalipun. Namun, sebena rnya bukit yang dikitari sawah menghijau itu menyimpan sejarah. Di kemiringan le reng-lerengnya pernah terjadi pertempuran yang dipimpin perempuan bernama Rubiya h. Di kemudian hari, ia disebut sebagai Raden Ayu Matah Ati. Itu peristiwa pada era awal 1700-an ketika Raden Mas Said alias Pangeran Sambern yawa, yang kemudian menjadi Mangkunegara I, bergerilya melawan kekuatan kolonial . Di belakangnya ada seorang perempuan, Rubiyah atau Matah Ati, yang juga tak di kenal di buku sejarah. Belakangan, nama Matah Ati bagai muncul dari timbunan debu sejarah. Ia menjadi populer ketik a sepak terjangnya diangkat menjadi drama tari Matah Ati oleh Atilah Soeryajaya, y ang adalah cucu Mangkunegara VII. Atilah mencoba mendekatkan realitas sejarah dengan seni pertunjukan lewat ziarah , napak tilas sepak terjang pemberontakan Pangeran Sambernyawa dan Matah Ati, pa da 28-29 Mei lalu. Dari perjalanan itu terjelaskan mengapa lantai panggung drama tari dibuat miring. Jay Subiyakto, direktur artistik Matah Ati , menunjuk bukit di Selogiri itu sambil duduk di dangau sawah. Inspirasi saya dari bukit itu. Saya sebenarnya malah ingin sini, kata Jay. Matah Ati dipentaskan di

Antara panggung dan situs sejarah memang bertalian. Tata gerak memutar di pentas Matah Ati , misalnya, diinspirasi oleh posisi makam Matah Ati di Gunung Wijil, seb uah bukit kecil di Desa Kaliancar, Selogiri, Wonogiri. Gerak memutar, melingkar-l ingkar, itu diambil posisi makam Matah Ati yang berada di tengah, dikelilingi ol eh makam pengikutnya, kata Atilah di Gunung Wijil. Napak tilas itu seperti perjalanan menghayati sejarah, selain juga menikmati pan orama yang pernah menjadi panggung nyata sang sejarah. Peserta diajak menapaki s itus, petilasan yang pernah dijamah Matah Ati dan Pangeran Sambernyawa. Mereka, misalnya, diajak merasakan segarnya air Sendang Siwani. Di sendang atau mata air itu, dulu, RM Said dan pasukannya beristirahat dan mengatur strategi perlawanan gerilyanya. Penghayatan itu akan mereka bawa kembali ke pentas pertunjukan di Teater Jakarta , Taman Ismail Marzuki, pada 22-25 Juni dan di Mangkunegaran, Solo, pada 8-10 Se ptember. Mangkunegaran Perlawanan sang pangeran berakhir dan di kemudian hari pada 1757 berdirilah Pura Mangkunegaran. Dan, RM Said bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangku negara. Adapun Raden Ayu Matah Ati bergelar Bendara Raden Ayu Mangkunegara Sepuh . Napak tilas berawal dari Pura Mangkunegaran di Solo, yang didirikan RM Said pada 1757. Mangkunegaran pada era Lady Gaga terbuka untuk umum, termasuk keputren ya ng dulu terlarang dimasuki pria. Tamu diterima di Bangsal Pracimayasa yang diran

cang arsitek Herman Thomas Karsten pada tahun 1920 dengan gaya paduan Jawa-Eropa . Arsitek berkebangsaan Belanda ini juga dikenal sebagai perancang Pasar Gede Ha rjonegoro, Solo, dan Loji Gandrung yang menjadi rumah dinas Wali Kota Surakarta. Di bangsal yang dikitari taman ini, para tamu disambut tari Srimpi Mandrarini. T ari gemulai empat penari ini dicipta pada era Mangkunegara V (1881-1886). Srimpi ini menggambarkan prajurit perempuan yang tengah berlatih olah kanuragan. Itula h mengapa penari menggunakan cundrik atau keris kecil dan panah. Srimpi Mandrari ni menjadi pengingat bahwa Mangkunegaran mempunyai sejarah keprajuritan perempua n seperti dirintis Matah Ati. Dari Mangkunegaran, napak tilas bergerak menuju Bukit Astana Mangadeg, sebuah bu kit di Kecamatan Matesih, Karanganyar, sekitar 30 kilometer arah timur Solo. Di puncak bukit yang terletak pada ketinggian 750 meter dari permukaan laut itu terdapat makam RM Said. Di bukit itu pula, ia bersemadi di antara hari-hari pemb erontakannya yang berlangsung selama 16 tahun. Pendakian menuju puncak bukit di lereng Gunung Lawu itu terasa menyegarkan. Pana s matahari siang teredam lebatnya hutan dengan pepohonan besar. Di antaranya poh on beringin tua dengan akar-akar menjalar dan menancap, mencengkeram kukuh di ta nah. Sepanjang perjalanan terdengar kicau burung dan tonggeret (Cicada) alias garengp ung, pertanda musim panas telah menjelang. Nun jauh di dasar jurang terlihat sun gai mengalir di bebatuan. Suara kemerosok air sungai terdengar sampai di puncak bukit. Nun jauh di bawah bukit masih ada bukit-bukit yang lebih rendah yang tamp ak seperti gundukan hijau dikitari persawahan. Bertetangga bukit dengan Mangadeg adalah Astana Giribangun, tempat Pak Harto dan Ibu Tien dimakamkan. Mangadeg sungguh menjadi tempat tetirah yang indah. Bisa dibayangkan ratusan tah un lalu ketika Pangeran Sambernyawa bergerilya dan bermenung diri dalam semadi d i kesunyian bukit dan hutan. Di tempat itulah ia merumuskan semacam doktrin perj uangan yang disebut Tri Darma, yaitu rumangsa melu handarbeni (merasa ikut memil iki), wajib melu hangrungkebi (wajib ikut mempertahankan), dan mulat sarira hang rasa wani (berani bermawas diri). Sejarah dan semangat dari bukit ke bukit itu kini menjelma dalam pergelaran dram a tari....