Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

Tidur merupakan aktivitas susunan saraf pusat yang berperan sebagai lonceng biologi. Segala makhluk memperlihatkan irama kehidupan yang sesuai dengan masa rotasi dari bola dunia. Irama yang seiring dengan rotasi bola dunia dinamkan irama sirkadian. Tidur tidak dapat diartikan sebagai manifestasi proses de-aktivasi susunan sarafnya tidak aktif, melainkan giat dalam mengadakan sinkronisasi terhadap neuron neuron substansia retikularis ventralis medulla oblongata dan dinamakan pusat tidur. Bagian susunan saraf pusat yang menghilangkan sinkronisasi ( de sinkronisasi ) adalah substansia retikularis di bagian rostral batang otak dan dinamakan pusat penggugah (arousal centre).1 Siklus tidur-bangun diatur oleh hubungan timbal balik antara tiga sistem saraf yang berbeda di batang otak : 1. Arousal system, bagian dari reticular activating system; 2. Pusat tidur gelombang lambat (NREM), dan 3. Pusat tidur paradoksikal (REM). Aktivitas otak selama tidur dapat direkam melalui EEG.2 Terdapat 2 jenis tidur, yaitu 1. Tidur gelombang lambat ( tidur NREM) dan tidur paradoksikal ( tidur REM). Tidur NREM atau Non Rapid Eye Movement terdiri dari 4 stadium. Pada tahap I sesuai dengan keadaan seseorang baru saja terlena. Seluruh otot menjadi lebih lemas, kelopak mata menutupi mata dan kedua bola mata bergerak bolak balik ke kedua samping. EEG memperlihatkan penurunan voltasi dengan adanya gelombang gelombang alfa yang memperlihatkan pe nurunan frekuensinya. Keadaan tidur masuk ke tahap ke II. Apabila timbul sekelompok gelombang yang berfrekuensi 3 6 siklus perdetik. Gelombang gelombang tersebut pertama dikenal sebagai gelombang tidur (sleep spindles). Dalam tahap II ini, kedua bola mata berhenti bergerak, tetapi tonus otot masih terpelihara. Pada tahap tidur III, EEG memperlihatkan perubahan gelombang dasar yang berfrekuensi 3- 6 siklus perdetik menjadi 1 IV, EEG hanya memperlihatkan perubahan gelombang lambat yang berfrekuensi 1 2 siklus perdetik tanpa sleep spindles. Keadaan fisik pada tahap tidur kedua dan keempat ialah lemahlunglai karena tonus otot lenyap secara menyeluruh. Pada tahap tidur V, tonus otot meninggi kembali terutama otot otot rahang bawah. Bahkan otot otot anggota gerak dan badan
1

berkejang. Bola mata yang selama tahap V ini mulai bergerak gerak kembali dengan kecepatan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, tahap tidur V ini disebut Rapid Eye Movement (REM) atau paradoxical sleep. Julukan parodoksal ditambahkan karena sifat tidurnya yang nyenyak sekali tetapi sifat fisiknya yang dicerminkan oleh gerakan kedua bola mata sangat aktif. Tahap tidur I sampai IV, yaitu terdapatgerak bola mata yang tidak secepat sewaktu tahap tidur V dinamakan Non Rapid Eye Movement. Mimpi sendiri terjadi pada jenis tidur REM.1 Insomnia didefinisikan sebagai suatu persepsi seorang merasa tidak cukup tidur atau kualitas tidurnya buruk walaupun orang tersebut sebenarnya memiliki kesempatan tidur yang cukup sehingga mengakibatkan perasaan yang tidak bugar sewaktu atau setelah terbangun dari tidur. 2 Keluhan yang biasanya dikemukakan kepada dokter ialah tidak bisa tidur. Hanya sebagian kecil yang mengeluh selalu mengantuk. Memang cepat dugaan orang awan bahwa kebanyakan tidur ( hiperinsomnia ) merupakan gejala patologi. Sebaliknya sebagian besar dari kasus insomnia ( tidak bisa tidur ) merupakan gejala sekunder dari berbagai macam jenis psikoneurosis.1

BAB II GANGGUAN POLA TIDUR

2.1 SKENARIO Seseorang wanita berumur 32 tahun datang kepraktek anda dengan keluhan sudah 2 bulan terakhir mengalami sulit tidur. Padahal biasanya dia mengaku PELOR (nempel langsung molor). Sekarang rasa mengantuk pun kadang tidak ada, tapi disiang hari mengantuk sehingga menganggu pekerjaan. Wanita tersebut juga mengatakan timbul kekhawatiran tidak bisa tidur jika malam tiba. Pasien pernah beberapa kali mencoba minum pil tidur tetapi tidak menolong. Sehingga pasien memutuskan unutk meminta bantuan dokter. Pasien seorang karyawan disebuah perusahaan swasta, telah menikah selama 5 tahun dengan 2 anak yang masih kecil-kecil. Suami pasien juga seorang karyawan swasta yang sibuk akhir-akhir ini sering dinas keluar kota. Pasien merasa dalam tugasnya sebagai Ibu rumah tangga maupun dikantor terganggu karena keadaan ini. Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan apa-apa.

2.2 ANAMNESIS1 Anamnesis merupakan bagian yang terpenting untuk mengetahui riwayat tidur pasien yang lengkap, riwayat medis, riwayat sosial ( lingkungan ), dan riwayat pemakaian obat. Terdapat 2 hal yang penting , yaitu: 1. Rasa kantuk yang amat sangat pada siang hari ( excessive daytime sleepiness ) dan 2. Gangguan konsentrasi dan memori.

2.3 PEMERIKSAAN FISIK3 Pemeriksaan fisik dapat memberikan petunjuk untuk komorbiditas insomnia. Leher besar ukuran dari 18 inci atau lebih besar pada laki-laki, peningkatan BMI dari 30 kg/m2, pembesaran amandel, langit-langit lunak berbaring rendah terutama pada
3

pasien dengan hipertensi atau penyakit jantung, dan apnea tidur obstruktif / hypopnea sindrom harus dipertimbangkan. Fitur lain termasuk diperbesar lidah, retrognathia, micrognathia, atau sudut rahang yang curam. Jika pasien memiliki neuropati perifer bukti (yaitu, distribusi stok hilangnya sensasi suhu) dengan atau tanpa perubahan trophic, mereka harus bertanya tentang gejala yang menyakitkan (yaitu, sensasi terbakar) di kaki mereka, dan sejarah diabetes, penyalahgunaan alkohol, dan neurologis konsultasi harus diminta. Jika pasien mengeluhkan gejala sindrom kaki gelisah atau gejala dari suatu kelainan neurologis, seperti kejang malam hari, penyakit Parkinson, atau gangguan neuromuskuler, konsultasi saraf harus diminta. Pada pasien dengan sindrom rasa sakit kronis atau sindrom rheumatologi, rujukan ke spesialis manajemen rasa sakit dan / atau rheumatologist harus dipertimbangkan. Jika dada pemeriksaan menunjukkan suara napas berkurang; clubbing atau mengi dalam pengaturan tanda-tanda klinis dan gejala dari penyakit paru obstruktif kronik, asma, atau sindrom hipoventilasi obesitas, paru konsultasi harus diminta.

Sesuai skenario tidak ada kelainan pada pemeriksaan fisik. PENUNJANG4 a. Neuroimaging Focal abnormality pada kasus post-traumatic, atrophy pada degenerative diseases b. Electrophysiology PSG (Polysomnography) untuk mengindikasikan apakah gangguan lain selain sleep disorder. Memberikan informasi mengenai tidur / bangun otak, dan merupakan 'standar emas' untuk penilaian diagnostik. Kendali polysomnography (PSG) terdiri electroencephalography (EEG), electrooculography (EOG), dagu dan tibialis anterior

elektromiografi (EMG), upaya pernapasan, aliran udara, oksimetri dan elektrokardiografi (EKG). Sebagian besar penilaian adalah berbasis laboratorium dan malam pertama rekaman biasanya dibuang sebagai artefak yang terdiri dari hal-hal baru karena prosedur dan lingkungan. Anda mungkin mengatakan prinsip-prinsip kontrol stimulus diakui dalam praktek. Karena orang-orang tidur dengan cara yang berbeda di laboratorium, dan mungkin attributions berbeda tentang tidur mereka, rumah PSG telah dikembangkan sebagai naturalistik alternatif. PSG portabel pertama rekaman digambarkan pada 1970-an tapi sejak itu rumah perekaman telah menjadi lebih sederhana dan lebih handal. Dalam penelitian insomnia, sangat penting bahwa orang tidur di / tempat tidurnya sendiri (Edinger et al., 1997). PSG adalah penting untuk diagnosis dalam kasus-kasus yang kompleks, dan untuk memantau dampak intervensi, seperti hidung tekanan udara kontinu (nCPAP), dimana tingkat kejenuhan oksigen / desaturation, kejadian apnea dan arousal dari tidur sering harus dinilai sebelum dan selama pengobatan.

c.

Fluid dan Tissue Analysis Metabolic atau drug screening Neuropsychological Tests Dementia, depression, anxiety, atau gangguan psikiatrik lainnya. Other Tests Sleep wake-diary untuk melihat pola tidur

d.

e.

Gambar 1 sleep-wake diary 2.3 DIAGNOSIS

Diagnosis Kerja Diagnosis Banding

: Insomnia : Periodic limb movements of sleep

TABLE 1 Perbandingan antara Diagnostik Kerja dan Diagnosis Banding5 Findings on History and PhysicalExaminatio n Disturbed sleep, predisposing medical conditions (e.g., asthma) and/or predisposing medical therapies (e.g., theophylline)medical EMG monitoring Sleep-wake diary recording Treatment of predisposing condition and/or change in therapy, if possible; behavioral therapy; short-acting benzodiazepine receptor agonist (e.g., zolpidem)
6

Diagnostic Evaluation

Therapy

Diagnostik Kerja Insomnias

therapies (e.g., Restless legs syndrome, disturbed sleep, predisposing medical condition (e.g., anemia or renal failure) Polysomnography with bilateral anterior tibialis Treatment of predisposing condition, if possible; dopamine agonists (e.g., pramipexole); benzodiazepines (e.g., clonazepam) Diagnosis Banding Periodic limb movements of sleep

Pada Insomnia dan Periodic limb movements of sleep, terdapat persamaan rasa kantuk yang amat sangat pada siang hari ( excessive daytime sleepiness ) sehingga akan menimbulkan gangguan konsentrasi yang akan berakibat juga pada gangguan memori, sedangkan perbedaannya dapat dilihat dari table di atas.

2.4 ETIOLOGI3 Banyak clinicians sering berasumsi bahwa insomnia merupakan urutan kedua untuk ganggguan psikiatrik. Bagaimanapun, sebuah survey epidemiologi memperlihatkan bahwa setengah dari insomnia tidak didiagnosis mempunyai hubungan dengan gangguan primer psikiatri. Sebuah pendiagnosisan insomnia malahan meningkatkan resiko masa depan untuk depresi dan kecemasan.

Gambar 2 Frekuensi dari Penyebab Insomnia

2.5 PATOFISIOLOGI INSOMNIA Tidur tidak dapat diartikan sebagai manifestasi proses de-aktivitasi susunan saraf pusat. Jadi, seorang yang tertidur bukannya karena susunan sarafnya tidak aktif, melainkan giat dalam mengadakan sinkronisasi terhadap neuron neuron substansia retikularis dari batang otak. Bagian susunan saraf yang berfungsi untuk melakukan sinkronisasi kegiatan neural adalah substansia retikularis di bagian rostral batang otak dan dinamakan pusat tidur. Bagian susunan saraf yang menghilangkan sinkronisasi ( de-sinkronisasi ) adalah substansia retikularis di bagian rostral batang otak dan dinamakan pusat penggugah ( arousal centre ).1 Insomnia dianggap sebagai gangguan dari kerja hyperarousal pada saat ini. 7

Gambar 3 Gangguan Sistem Arousal pada Insomnia

Mengenai hyperarousal ini dapat dibuktikan dengan tingkat kewaspadaan berlebih selama siang hari dan susahnya memulai dan menjaga untuk tidur di malam hari. Arousal ini sekarang menjelaskan bagian kognitif dan fisiologikal dari insomnia. Bagian dari kognitif memperlihatkan bahwa cemas dan pemikiran yang mendalam tentang tekanan hidup dapat menggangu tidur, menimbulkan keadaan insomnia akut, khususnya dalam memulai tidur dan tidur kembali setelah terbangun. Kemudian sekali seseorang mendapat pengalaman dalam kesusahan tidur, mencemaskan dan terlalu melakukan pemikiran pemikiran mendalam hingga bergeser kepada hidup untuk mencemaskan tentang tidur itu sendiri dan tentang konsekuensi di siang hari akibat tidak mendapat cukup tidur. Keadaan kognitif aktif yang buruk ini selanjutnya semakin bertambah buruk jika dapat ditemukan keadaan yang berhubungan dengan tidur yang bisa menjadi suatu tanda bahaya atau kurang tidur telah menjadi suatu perhatian. Selaras dengan bagian kognitf , bagian lain dari perkembangan insomnia menunjukkan bahwa hyperarousal adalah bagian yang terutama dari faktor fisiologi atau neurofisiologi. Arousal fisiologi telah dievaluasi melalui pengukuran seluruh tingkat metabolik tubuh, variabilitas heart rate, pengukuran neuroendokrin dan fungsi neuroimaging. Seluruh body metabolic rate bisa
9

diukur oleh jumlah konsumsi oksigen (VO2). Penelitian baru baru ini membandingkan antara good sleepers dengan pasien yang di diagnosis menderita insomnia. Pasien dengan insomnia menunjukkan tingkat metabolik yang sangat tinggi ( pengukuran pada interval melewati 24 jam ) dibandingkan dengan health control. Variabilitas heart rate bisa memberikan pengukuran tentang arousal yang mengatur aktivitas nervus simpatik dan parasimpatik. Penelitian 36 jam menemukan bahwa rata rata heart rate yang peningkatan dan variabilitas yang mengalami penurunan pada semua stadium tidur dari pasien insomnia dibandingkan dengan healthy normal sleepers. Sistem neuroendorin juga dapat menunjukkan fakta fakta arousal sebagai pengaktif terus menrus sistem respons stress. Beberapa penetilian pengukuran urin 24 jam yang bebas ekskresi kortikol ditemukan dalam jumlah yang banyak pada poor sleepers. Urinaria yang bebas kortisol juga berkolerasi positif dengan total waktu terjaga, dan katekolamin urin berkolerasi dengan persentase stadium 1 dan waktu bangun setelah waktu tidur. Pengukuran untuk kortisol dan adrenokortikotropik hormone ( ACTH) dari plasma telah dievaluasi pada pasien insomnia dan healthy normal sleepers. Meskipun keterangan agak tercampur, insomnia primer memperlihatkan tingkat komponen yang tinggi dalam plasma mereka, dengan yang peling berbeda terlihat pada malam dan setengah malam pertama. Pengukuran kortisol dan ACTH dari urinaria dan plasma menunjukkan bahwa hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) axis berasosiasi dengan patologi dari insomnia kronik. Terakhir, positron emission tomography (PET) Dibandingkan digunakan untuk menilai metabolism glukosa

darah, pengukuran tidak langsung seluruh metabolisme glukosa otak pada pasien insomnia. orang sehat, pasien dengan insomnia menunjukkan lebih besar jumlah metabolism glukosa otak selama bangun dan stadium tidur REM. Lebih lanjut, pasien insomnia menunjukkan penurunan relatif metabolisme dari bangun hingga stadium tidur NREM dalam bagian wake-promoting dari otak. Ini memperlihatkan interaksi jaringan kerja neural meliputi ketidakmampuan untuk jatuh tertidur, yang termasuk di dalamnya sistem arousal, sistem regulasi emosi dan sistem kognitif. Berdasarkan skenario, maka etiopatofisiologi ibu tersebut adalah karena stress (ditinggal suami keluar kota, dan sendiri harus merawat anak yang masih kecil, dan juga harus bekerja, sedangkan pekerjaan menjadi ibu rumah tangga dan wanita karir menjadi terganggu akibat
10

mengantuk berlebih di siang hari (( excessive daytime sleepiness), ditambah lagi ibu tersebut sudah berusaha dengan mengkonsumsi obat tidur tetapi tidak efektif sehingga makin stresslah ibu tersebut dan akhirnya bertambah parahlah insomnianya).

2.6 GEJALA KLINIS3 Gejala umum: Sukar untuk tidur, berbaring dalam keadaan terjaga lebih dari satu jam atau lebih sebelum dapat terlelap Tidur yang tidak nyenyak dan sering terganggu, contohnya terjaga beberapa kali pada malam hari

Terbangun di awal pagi dan susah untuk tidur lagi Tidak merasa cukup istirahat setelah tidur malam Siang hari merasa kelelahan atau kantuk Lekas marah, depresi atau kegelisahan Ketegangan/ sakit kepala Gejala gastrointestinal Kekhawatiran tentang tidur Aktifitas tidur yang terganggu karena mimpi yang tidak biasa dan mengganggu Gejala yang tampak saat beraktifitas berupa mengantuk, resah, mudah kaget, sulit berkonsentrasi sulit mengingat, gampang tersinggung, murung, mata merah, badan lesu, pernafasan dan denyut jantung tidak normal

2.7 PENATALAKSANAAN PSIKOTERAPI8 Insomnia yang terjadi karena faktor psikologis lebih baik diobati dengan psikoterapi karena penyebabnya adalah faktor-faktor psikologis. Penting bagi penderita insomnia untuk secara terbuka mengatakan pada psikolog, terapis atau konselor tentang awal mula penyebab
11

insomnia sehingga dapat ditentukan terapi apa yang sebaiknya diberikan. Selain itu, keluarga si penderita insomnia juga harus memberi dukungan pada penderita agar insomnia yang dialaminya perlahan-lahan dapat diturunkan sampai sembuh. Selain itu, ada strategi psikologi ( cognitive and behavior ) yang di dalamnya termasuk mengedukasi pasien mengenai good sleep hygiene, yaitu : 1. Hanya pergi ke kamar jika mengantuk 2. Menggunakan tempat tidur dan kamar tidur untuk tidur dan sex 3. Jika masih terbangun setelah 20 menit, tinggalkan kamar tidur dan kembali jika sudah mengantuk 4. Bangun tidur di saat yang sama setip hari tanpa menghiraukan kuantitas waktu tidur semalam 5. Hentikan mengkonsumsi kafein dan nikotin 6. Melakukan senam harian yang teratur 7. Hindari alkohol karena dapat mengganggu penerusan tidur 8. Batasi cairan di malam hari 9. Belajar dan praktekkan relaxation techinique

Penelitian saat ini menunjukkan bahwa cognitive behavioral therapy untuk insomnia seefektif Zolpidem dengan keuntungan yang setidaknya bertahan hingga 1 tahun setelah pengobatan. FARMAKOTERAPI3 Pengobatan insomnia harus didahului dengan pemeriksaan fisik dan psikiatrik yang lengkap dan terinci. Apabila terdapat gangguan fisik, atau kondisi fisik yang tidak memungkinkan pasien tidur dengan nyaman (nyeri yang hebat, misalnya neuritis post-herpes),

12

maka kondisi itulah yang harus diatasi dahulu. Baru apabila kondisi itu dikenal dan diobati dan masih terdapat gangguan tidur, barulah dapat dipertimbangkan untuk memberikan hipnotika. Pada pasien dengan transient insomnia mungkin tidak diperlukan obat, akan tetapi apabila pasien memerlukannya dapat diberikan derivat benzodiazepin yang bekerja cepat dan hilang cepat pula dari tubuh. Beberapa obat dapat disebut di sini,seperti triazolam, lorazepam. Pasien cukup diberikan beberapa pil saja, sering tidak perlu diobati sampai seminggu. Pada pasien dengan short-term insomnia sebaiknya dianjurkan untuk menjauhi zat-zat, seperti kafein, alkohol, nikotin, dan sebagainya. Sebagai pengobatan dapat diberikan derivat benzodiazepin yang bekerja cepat. Tergantung dan kondisi psikiatriknya pasien dapat diberi obat dengan waktu-paruh cepat atau lambat. Biasanya pengobatan tidak melebihi tiga minggu. Dosis sebaiknya diturunkan dengan pelan-pelan untuk mencegah terjadinya rebound phenomena. Bila setelah tiga minggu pasien masih menderita insomnia, maka perlu dilakukan evaluasi kembali dan dicari apakah tidak ada faktor-faktor lain yang melatarbelakangi insomnianya itu, seperti depresi atau gangguan jiwa lain. Pada pasien dengan long-term insomnia diperlukan pengobatan yang lebih diarahkan terhadap sebab dan insomnia itu. Keadaan ini sering dijumpai pada pasien dengan gangguan jiwa relatif berat, seperti skizofrenla dan depresi. Dalam keadaan ini obat-obat yang lebih tepat adalah neuroleptika dengan efek hipnotik yang kuat, seperti klorpromasin, levomepromasin, klorprotiksen dan sebagainya untuk skizofrenia, sedangkan amitriptylin, mianserin atau maprotilin bila terdapat depresi. Bila terdapat kelainan fisik, maka kelainan ini harus ditangani dahulu. Ramelteon (Rozerem) adalah obat yang merangsang reseptor melatonin. Ramelteon mendorong permulaan tidur dan membantu menormalkan gangguan ritme sirkadian. Ramelteon telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) untuk pengobatan insomnia ditandai oleh kesulitan jatuh tertidur. Beberapa antidepresan misalnya, amitriptyline (Elavil, Endep) dan trazodone (Desyrel) telah digunakan untuk pengobatan insomnia pada pasien dengan rekan-rekan yang ada depresi karena ada obat penenang properti. Umumnya, mereka mungkin tidak dapat membantu untuk insomnia pada orang tanpa depresi.
13

Antihistamin dengan properti obat penenang misalnya, diphenhydramine (Benadryl) atau doxylamine juga telah digunakan untuk mengobati insomnia karena dapat menyebabkan mengantuk, tetapi mereka tidak meningkatkan tidur dan tidak boleh digunakan untuk mengobati insomnia kronis.

2.8 PENCEGAHAN3 Berdasarkan skenario, maka perlu dilakukan tindakan tindakan di bawah ini untuk mencegah terjadinya komplikasi masalah. 1. Berusaha menemukan solusi dengan berpikir positif bahwa suami pergi ke luar kota untuk tujuan mencari nafkah, kalau selama ini komunikasi kurang lancar, maka sebaiknya dicari cara yang pas untuk menghindari miskomunikasi melalui konseling bersama. Selain itu, kalau kerepotan mengurus anak kecil sambil bekerja sebaiknya menyewa baby sitter. 2. Melakukan cognitive therapy 3. Melakukan terapi gizi Diperlukan asupan gizi (magnesium dan kalsium) yang cukup jumlahnya untuk menangkal insomnia. Defisiensi magnesium dan kalsium menyebabkan tidur tidak nyenyak. Sebenarnya fungsi magnesium adalah merelaksasi otot. apabila otot kaku, timbul rasa ngilu-ngilu yang membuat badan terasa sakit. Kalsium yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan tulang juga dapat dimanfaatkan untuk menenangkan pikiran. Kalsium berdampak calming effect. Jadi, kondisi kecemasan atau stres dapat dikurangi dengan magnesium dan kalsium. Hormon melatonin bermanfaat membuat tidur lebih nyenyak. Saat ini sudah ada produk suplemen yang mengombinasikan magnesium, kasium, dan melatonin. Vitamin B kompleks dapat membantu penderita insomnia karena mendorong tercapainya kondisi istirahat. Diet sehari-hari juga perlu diperhatikan. Konsumsi karbohidrat kompleks seperti roti, crackers, atau bagel dapat membantu tidur anda. Karbohidrat kompleks bermanfaat karena ternyata zat gizi tersebut dapat memacu pengeluaran serotin, yaitu suatu neurotransmitter otak yang merangsang rasa kantuk. Segelas susu hangat dan madu juga dapat menjadi obat mujarab
14

agar lebih lelap tidur. Susu banyak mengandung asam amino triptofan yang dapat membantu pengeluaran serotin sehingga memudahkan tidur. Triptofan juga memacu pengeluaran hormon melatonin. Suplemen triptofan telah dilarang di AS karena pernah menyebabkan penyakit gangguan darah serius akibat produknya terkontaminasi. Namun, tidak ada risiko bagi orangorang yang mau mengonsumsi bahan makanan kaya triptofan seperti susu atau daging kalkun sebagai upaya mengurangi insomnia. Orang-orang yang sulit tidur dianjurkan makan lettuce di malam hari. Lettuce mengandung subtansi terkait opium yang mempercepat kantuk, dan juga mengandung hyoscyarnin yang bersifat antikram. Makan malam hendaknya juga menyertakan kacangkacangan dan ikan atau daging ayam. Jenis-jenis itu kaya akan niasin (vitamin B3) yang membantu pengeluaran serotonin.

2.9 KOMPLIKASI3 Komplikasi dari susah tidur atau insomnia dapat berupa : 1. Dapat timbul masalah psikis, seperti depresi atau kecemasan 2. Kesulitan untuk berkonsentrasi 3. Aktivitas sehari-hari menjadi terganggu 4. Mengalami kelelahan di siang hari 5. Prestasi kerja atau belajar mengalami penurunan 6. Hubungan interpersonal dengan orang lain menjadi buruk 7. Menyebabkan kecelakaan karena mengalami kelelahan yang berlebihan 8. Menurunnya fungsi sistem kekebalan tubuh 9. Memunculkan berbagai penyakit fisik 10. Meningkatkan resiko kematian
15

Dampak insomnia tidak dapat di anggap remeh, karena bisa menimbulkan kondisi yang lebih serius dan membahayakan kesehatan dan keselamatan. Oleh karenanya, setiap penderita insomnia perlu mencari jalan keluar yang tepat.

2.10 PROGNOSIS1 Prognosis baik apabila ditangani dengan tepat.

16

BAB III KESIMPULAN

Siklus tidur-bangun diatur oleh hubungan timbal balik antara tiga sistem saraf yang berbeda di batang otak : 1. Arousal system, bagian dari reticular activating system; 2. Pusat tidur gelombang lambat (NREM), dan 3. Pusat tidur paradoksikal (REM). Aktivitas otak selama tidur dapat direkam melalui EEG. Insomnia didefinisikan sebagai suatu persepsi seorang merasa tidak cukup tidur atau kualitas tidurnya buruk walaupun orang tersebut sebenarnya memiliki kesempatan tidur yang cukup sehingga mengakibatkan perasaan yang tidak bugar sewaktu atau setelah terbangun dari tidur. Insomnia yang terjadi karena faktor psikologis lebih baik diobati dengan psikoterapi karena penyebabnya adalah faktor-faktor psikologis. Penting bagi penderita insomnia untuk secara terbuka mengatakan pada psikolog, terapis atau konselor tentang awal mula penyebab insomnia sehingga dapat ditentukan terapi apa yang sebaiknya diberikan. Selain itu, keluarga si penderita insomnia juga harus memberi dukungan pada penderita agar insomnia yang dialaminya perlahan-lahan dapat diturunkan sampai sembuh.

17

DAFTAR PUSTAKA

1. Sidharta Priguna. Gangguan Tidur. Neurologi Klinis dalam Praktek Umum. Cetakan ke 13. Penerbit Dian Rakyat. Jakarta, 2008; 178-98.

2. Dewanto George, dkk. Insomnia. Panduan Praktis Diagnosis dan Tata Laksana Penyakit Saraf .Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta;2009:188-92.

3. Passaro Erasmo A. Insomnia. Diunduh dari www.emedicine.medscape.com. Aug 3,

2009.

4. Goetz Christopher G. Examination of Complaints. Textbook of Amerika Serikat, 1999; 22.

The Patient With Sleep-Wake Cycle

Clinical Neurology.1st Ed. W. B. Saunders Company.

5. Kasper, dkk. Evaluation of the Patient with the Complaint of Excessive Daytime Somnolence. Harrison's Principles of Internal Medicine . 16th Ed. McGraw-Hill

Companies. 2005; 184.

6. Internasional Classification of Sleep Disorder. Diunduh dari www.google.com, 2010.

7. Roth Thomas. Insomnia: Definition, Prevalence, Etiology, and Consequences.

Diunduh dari www.PubMed.org. August, 200715; 3(5 Suppl): S7S10.

18

8. McPhee Stephen J., Papadakis Maxine A. Sleep Disorder. Lange 2010 Current Medical Diagnosis and Treatment. 49th Ed. The McGraw-Hill Companies. Amerika Serikat,2010;973-5.

19