Anda di halaman 1dari 11

Fraktur Antebrachii

Benedictus Aldwin Ainsley C6 10-2010-134

17 Maret 2012

Aldwin_the_pianist@yahoo.com

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Fraktur Antebrachii
Benedictus Aldwin Ainsley Citra Garden 1 blok c 14 no 4, Kalideres, Jakarta Barat

PENDAHULUAN Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Fraktur dapat dibagi menjadi: 1. Fraktur tertutup (closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. 2. Fraktur terbuka (open/compound), bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan di kulit. Fraktur terbuka terbagi atas tiga derajat (menurut R. Gustillo) yaitu: Derajat I : Luka <1cm Kerusakan jaringan lunak sedikit, tak ada tanda luka remuk Fraktur sederhana, transversal, oblik, atau kominutif ringan Kontaminasi minimal

Derajat II : Laserasi >1cm Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap/avulsi Fraktur kominutif sedang Kontaminasi sedang

Derajat III :

Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot, dan neurovaskular serta kontaminasi derajat tinggi. Fraktur derajat III terbagi atas: a. Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat, meskipun terdapat laserasi luas/flap/avulsi; atau fraktur segmental/sangat kominutif yang disebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa melihat besarnya ukuran luka. b. Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau kontaminasi masif. c. Luka pada pembuluh arteri/saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa melihat kerusakan jaringan lunak. Fraktur antebrachii adalah terputusnya kontinuitas tulang radius ulna, pada anak biasanya tampak angulasi anterior dan kedua ujung tulang yang patah masih berhubungan satu sama lain. Gambaran klinis fraktur antebrachii pada orang dewasa biasanya tampak jelas karena fraktur radius ulna sering berupa fraktur yang disertai dislokasi fragmen tulang.

JENIS DAN ETIOLOGI Menurut Mansjoer (2000), ada empat jenis fraktur antebrachii yang khas beserta penyebabnya yaitu : Fraktur Colles Fraktur dari radius distal dengan angulasi dorsal. Deformitas pada fraktur ini berbentuk seperti sendok makan (dinner fork deformity). Pasien terjatuh dalam keadaan tangan terbuka dan pronasi, tubuh beserta lengan berputar ke ke dalam (endorotasi). Tangan terbuka yang terfiksasi di tanah berputar keluar (eksorotasi/supinasi). Fraktur Smith Juga dikenal sebagai kebalikan dari Colles, dengan angulasi volar dari fraktur radius. Fraktur ini biasa terjadi pada orang muda. Pasien jatuh dengan tangan menahan badan sedang posisi tangan dalam keadaan volar fleksi pada pergelangan tangan dan pronasi. Garis patahan biasanya transversal, kadang-kadang intraartikular. Fraktur Galeazzi Fraktur Galeazzi merupakan fraktur radius distal disertai dislokasi sendi radius ulna distal. Saat pasien jatuh dengan tangan terbuka yang menahan badan, terjadi pula rotasi lengan

bawah dalam posisi pronasi waktu menahan berat badan yang memberi gaya supinasi. Fraktur Montegia Fraktur Montegia merupakan fraktur sepertiga proksimal ulna disertai dislokasi sendi radius ulna proksimal. Terjadi karena trauma langsung. PATOFISIOLOGI

Apabila tulang hidup normal mendapat tekanan yang berlebihan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan tersebut mengakibatkan jaringan tidak mampu menahan kekuatan yang mengenainya. Maka tulang menjadi patah sehingga tulang yang mengalami fraktur akan terjadi perubahan posisi tulang, kerusakan hebat pada struktur jaringan lunak dan jaringan disekitarnya yaitu ligament, otot, tendon, pembuluh darah dan persyarafan yang mengelilinginya (Long, B.C, 1996). Periosteum akan terkelupas dari tulang dan robek dari sisi yang berlawanan pada tempat terjadinya trauma. Ruptur pembuluh darah didalam fraktur, maka akan timbul nyeri. Tulang pada permukaan fraktur yang tidak mendapat persediaan darah akan mati sepanjang satu atau dua millimeter.

Setelah fraktur lengkap, fragmen-fragmen biasanya akan bergeser, sebagian oleha karena kekuatan cidera dan bias juga gaya berat dan tarikan otot yang melekat. Fraktur dapat tertarik dan terpisah atau dapat tumpang tindih akibat spasme otot, sehingga terjadi pemendekkan tulang (Apley, 1995), dan akan menimbulkan derik atau krepitasi karena adanya gesekan antara fragmen tulang yang patah (Long, B.C, 1996). BIOMEKANIKA Fraktur Colles Biasanya fraktur ini terjadi pada saat seseorang jatuh dengan menumpu pada telapak tangan dengan lengan bawah pada keadaan pronasi (menghadap ke bawah). Keadaan ini (dorsifleksi tangan dan deviasi dari radial) menyebabkan kekhasan lokasi dan karakeristik dari fraktur ini.

Fraktur Smith

MANIFESTASI KLINIK Berikut adalah manifestasi klinik dari fraktur antebrachii menurut Mansjoer (2000) : Fraktur Colles 1)Fraktur metafisis distal radius dengan jarak _+ 2,5 cm dari permukaan sendi distal radius. 2)Dislokasi fragmen distalnya ke arah posterior/dorsal. 3)Subluksasi sendi radioulnar distal. 4)Avulsi prosesus stiloideus ulna. Fraktur Smith Penonjolan dorsal fragmen proksimal, fragmen distal di sisi volar pergelangan, dan deviasi ke radial (garden spade deformity). Fraktur Galeazzi Tampak tangan bagian distal dalam posisi angulasi ke dorsal. Pada pergelangan tangan dapat diraba tonjolan ujung distal ulna. Fraktur Montegia Terdapat 2 tipe yaitu tipe ekstensi (lebih sering) dan tipe fleksi. Pada tipe ekstensi gaya yang terjadi mendorong ulna ke arah hiperekstensi dan pronasi. Sedangkan pada tipe fleksi, gaya mendorong dari depan ke arah fleksi yang menyebabkan fragmen ulna mengadakan angulasi ke posterior.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan radiologis dilakukan untuk menentukan ada/tidaknya dislokasi. Lihat kesegarisan antara kondilus medialis, kaput radius, dan pertengahan radius. Pemeriksaan penunjang menurut Doenges (2000), adalah: 1. Pemeriksaan rontgen. 2. Scan CT/MRI. 3. Kreatinin. 4. Hitung darah lengkap. 5. Arteriogram. Hasil pemeriksaan radiologi pada keempat fraktur:

Gambar 1. Fraktur Colles

Gambar 2. Fraktur Smith

Gambar 3. Fraktur Monteggia

Gambar 4. Fraktur Galeazzi PENATALAKSANAAN Berikut adalah penatalaksanaan fraktur antebrachii menurut Mansjoer (2000) : Fraktur Colles Pada fraktur Colles tanpa dislokasi hanya diperlukan imobilisasi dengan pemasangan gips sirkular di bawah siku selama 4 minggu. Bila disertai dislokasi diperlukan tindakan reposisi tertutup. Dilakukan dorsofleksi fragmen distal, traksi kemudian posisi tangan volar fleksi, deviasi ulna (untuk mengoreksi deviasi radial) dan diputar ke arah pronasio (untuk mengoreksi supinasi). Imobilisasi dilakukan selama 4 6 minggu. Fraktur Smith Dilakukan reposisi dengan posisi tangan diletakkan dalam posisi dorsofleksi ringan, deviasi ulnar, dan supinasi maksimal (kebalikan posisi Colles). Lalu diimobilisasi dengan gips di atas siku selama 4 6 minggu. Fraktur Galeazzi Dilakukan reposisi dan imobilisasi dengan gips di atas siku, posisi netral untuk dislokasi radius ulna distal, deviasi ulnar, dan fleksi. Fraktur Montegia Dilakukan reposisi tertutup. Asisten memegang lengan atas, penolong melakukan tarikan lengan bawah ke distal, kemudian diputar ke arah supinasi penuh. Setelah itu, dengan jari kepala radius dicoba ditekan ke tempat semula. Imobilisasi gips sirkuler dilakukan di atas siku dengan posisi siku fleksi 90 dan posisi lengan bawah supinasi penuh. Bila gagal, dilakukan reposisi terbuka dengan pemasangan fiksasi interna (plate-screw).

PENYEMBUHAN FRAKTUR Stadium-stadium penyembuhan fraktur meliputi: 1. Stadium penyatuan: absorpsi energi pada tempat fraktur.

2. Stadium inflamasi: hematoma, nekrosis tepi fraktur, pelepasan sitokin, jaringan granulasi dalam celah-celah dan berlangsung selama sekitar 2 minggu. 3. Stadium reparatif: kartilago dan tulang berdiferensiasi dari periosteal dan sel-sel mesenkim; kartilago mengalami kalsifikasi endokondral, dan tulang membranosa yang dibentuk oleh osteoblas pada perifer dari kalus, secara bertahap mengganti kartilago yang berkalsifikasi dengan tulang. Proses ini berlangsung satu sampai beberapa bulan. 4. Stadium remodeling: tulang yang berongga-rongga berubah menjadi tulang lamelar melalui resorpsi dan pembentukan ganda; tulang cenderung untuk mempunyai bentuk aslinya melaui remodeling di bawah pengaruh dari stres mekanik; berlangsung berbulan-bulan sampai bertahun-tahun.

KOMPLIKASI Menurut Long (2000), komplikasi fraktur dibagi menjadi : 1. Immediate complication yaitu komplikasi awal dengan gejala: a) Syok neurogenik. b) Kerusakan organ syaraf. 2. Early complication: a) Kerusakan arteri. b) Infeksi. c) Sindrom kompartemen. d) Nekrosa vaskuler. e) Syok hipovolemik. 3. Late complication: a) Mal union. b) Non union. c) Delayed union.

KESIMPULAN

Berdasarkan dari hasil anamnesa, pemeriksaan fisik, dan menurut biomekanika fraktur, dapat ditarik kesimpulan bahwa si anak mengalam fraktur Colles.

DAFTAR PUSTAKA

Doenges M, 2001. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pemdokumentasian Perawatan pasien. Edisi III. EGC:Jakarta Long, B.C, 2000. Perawatan Medikal Bedah. Edisi VII. Yayasan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran:Bandung Mansjoer, A, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jilid II. Media Aesculapius:Jakarta