Anda di halaman 1dari 6

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Pola pengorganisasian program dan anggaran kinerja pembangunan pengolahan dan pemasaran hasil pertanian termasuk salah satu penentu arah dalam pelaksanaan pembangunan pertanian. Dengan adanya penataan

organisasi yang mantap dari pengelolaan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi, maka akan memberikan dampak positif terhadap keberhasilan kegiatan yang dilaksanakan. Tingkatkan mekanisme kontrol sekaligus pembinaan terhadap implementasi kegiatan berdasarkan program dan anggaran kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut : 1) Departemen Pertanian bertanggungjawaban atas

keberhasilan program dan anggaran kinerja pembangunan secara nasional 2) Gubernur bertanggung jawab terhadap keberhasilan program dan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembangunan untuk pembangunan pertanian di provinsi yang dipimpin. 3) Bupati / walikota bertanggungjawab terhadap

keberhasilan program dan anggaran tugas pembantuan untuk pembangunan pertanian di kabupaten/kota yang dipimpinnya.

1.2. Tujuan Tujuan dari penataan administrasi dan anggaran pada pengelolaan dan pemasaran hasil pertanian adalah untuk lebih jelasnya tingkatan mekanisme kontrol sekaligus pembinaan terhadap implementasi kegiatan berdasarkan program dan anggaran kinerja.

1.3. Manfaat Laporan penelitian ini diharapkan dapat lebih memahami mekanisme yang ada dalam tubuh instansi terkait dan anggaran.

BAB II METODOLOGI

2.1. Pengelolaan Anggaran Pembangunan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian di Pusat Dalam rangka pengelolaan anggaran pembangunan pertanian di pusat dan Unit Pelaksanaan Teknis Pusat (UPT Pusat), Menteri Pertanian selaku pengguna anggaran menetapkan, mengangkat Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), bendahara serta Pejabat Penguji dan Perintah Pembayaran (PPPP). Untuk memperlancar pelaksanaan kegiatan apabila diperlukan. Menteri atau KPA dapat mengangkat Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Selanjutnya untuk memperlancar pengelolaan admnistrasi keuangan dari setiap PPK serta membantu kelancaran tugas bendahara, maka KPA dapat mengangkat Pemegang Uang Muka Kerja (PUMK)

2.2. Pengelolaan Dana Dekonsentrasi Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah. Kegiatan pembangunan

pertanian yang dilaksanakan melalui dana dekonsentrasi adalah kegiatan non-fisik yang mencakup program peningkatan ketahanan pangan dan program pengembangan agribisnis. adalah koordinasi, perencanaan, Yang dimaksud kegiatan non-fisik fasilitas, pelatihan, pembinaan,

pengawasan dan pengendalian termasuk fisik berupa pengadaan barang/jasa sebagai penunjang kegiatan non-fisik. Kuasa pengguna anggaran dan bendaharawan pengeluaran dalam pencairan anggaran pelaksanaan kegiatan yang dibiayai oleh dana dekonsentrasi diadministrasikan dalam anggaran dekonsentrasi. Apabila ada sisa saldo anggaran lebih atas pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana dekonsentrasi, merupakan pembinaan kembali APBN dan disetor ke rekening kas umum negara. Dalam dekonsentrasi hal pelaksanaan kegiatan yang dibiayai maka dari dana

dapat

menghasilkan

penerimaan,

merupakan

penerimaan APBN dan harus disetor ke kas umum negara sesuai perturan perundang-undangan semua barang yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana dekonsentrasi menjadi milik negara. Pengawasan anggaran pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana dekonsentrasi dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pemeriksaan dana dekonsentrasi dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.

2.3. Pengelolaan Dana Tugas Pembantuan Dana tugas pembantuan adalah merupakan bagian anggaran kemnetrian negara / lembaga yang dialokasikan berdasarkan rencana kerja dan anggaran kementrian. Tugas pembantuan adalah penugasan dari

pemerintah pusat kepada daerah. Kegiatan tugas pembantuan di daerah dilaksanakan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang ditetapkan oleh gubernur, bupati dan walikota. Kegiatan pembangunan pertanian yang dilaksanakan melalui dana tugas pembantuan adalah untuk kegiatan fisik mencakup program peningkatan ketahanan pangan dan pengembangan agribisnis. Yang

dimaksud kegiatan fisik atas dasar potensi untuk menunjang program ketahanan pangan dan program agribisnis di provinsi/kabupaten/kota dari dana tugas pembantuan. Kegiatan fisik tugas pembantuan adalah kegiatan menghasilkan keluaran (output) penambahan dan pemeliharaan aset pemerintah, termasuk belanja mendukung kegiatan fisik itu sendiri, seperti perencanaan dan pengawasan dalam konstruksi serta pelatihan dalam rangka kegiatan fisik. Untuk pelaksanaan pelaksanaan yanh dibiayai dari dana tugas pembantuan, gubernur/walikota/bupati menetapkan kuasa pengurus

anggaran, bendahara pengeluaran, pejabat pembuat komitmen serta pejabat penguji dan perintah pembayaran. Untuk pelaksanaan kegiatan pembangunan pertanian kepada

Bupati/Walikota dilimpahkan penugasan pengelolaan anggaran tugas pembantuan sesuai dengan dokumen DIPA. Untuk pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana tugas pembantuan, bupati/walikota menetapkan kuasa pengguna anggaran, bendahara, serta pejabat penguji dan perintah pembayaran.

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

Sesuai dengan perubahan sistem penganggaran yang berorientasi kinerja, banyak sekali dijumpai masalah yang perlu diselesaikan, sehingga berdampak pada output yang akan dicapai. Permasalahan pengelolaan anggaran selama ini meliputi ketaatan disiplin pengelolaan anggaran, kegiatan maupun estimasi alokasi biaya yang tidak tepat. Ketidaktepatan waktu pelaksnaan, acuan standar kerja/biaya, kualitas SDM, perencanaan dan lain-lain. Untuk itu perlu

pembenahan dengan menciptakan aparat pengelola anggaran yang disiplin dan penuh tanggung jawab.