Anda di halaman 1dari 26

TUGAS KELOMPOK TUTORIAL

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN HEMOTHORAX


MATA KULIAH KMB I

DISUSUN OLEH : KELOMPOK A 1. Agung Jossutiarko P27220011158 2. Agus Trianto P27220011159 3. Agus Triwahyudi 4. Amalia Nuril Afifah 5. Anggie Yulianti Musyarofah 6. Ayunda Prita Mutiara 7. Bayu Cahyo Oktafian 8. Bayu Muhammad Ikhrom 9. Budi Sari Dewi 10. Cahya Ari Widya Ningrum 11. Darniati Alimah 12. Desy Indah Ratnawati P27220011160 P27220011161 P27220011162 P27220011163 P27220011164 P27220011165 P27220011166 P27220011167 P27220011168 P27220011169

PRODI DIII BERLANJUT DIV KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH SEMESTER 3

POLTEKNIK KESEHATAN SURAKARTA


2012

DAFTAR ISI

Daftar Isi

.............................................................................................

1 2 3 3 4 4 5 5 4 5 6 14 15 15 17 17 24 24 25

Kata Pengantar ............................................................................................. Bab I Pendahuluan .............................................................................. ................................................................

A. Latar Belakang Masalah

B. Tujuan Penulisan ............................................................................. C. Rumusan Masalah .............................................................................. Bab II Isi ............................................................................................

A. Pengertian trauma dada ..................................................................... B. Klasifikasi......................................................................................... C. Etiologi.............................................................................................. D. Patofisiologi...................................................................................... Skenario Kasus ............................................................................

Asuhan keperawatan ............................................................................ Pengkajian............................................................................. Diagnosa keperawatan.......................................................... Intervesi keperawatan...........................................................

Bab III Penutup .......................................................................................... A. Kesimpulan Daftar Pustaka ............................................................................

..........................................................................................

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan YME, karena berkat Rahmat-Nya makalah tentang ASKEP HEMOTHORAX dapat terselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya. Dan juga kami ucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman yang membantu menyusun makalah ini. Terutama kami ucapkan terima kasih kepada bapak/ibu dosen yang telah membimbing kami dan memberikan kami waktu serta kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Kami dari kelompok A menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna karena keterbatasan dari kemampuan kami. Untuk itu kami sebagai penyusun makalah ini mengharapkan kritikan dan saran dari pembaca yang bersifat membangun guna melengkapi makalah ini. Akhirnya penulis mengharapkan semoga makalah ini berguna dan bermanfaat serta dapat menunjang kemandirian dalam proses belajar.

Surakarta, 25 September 2012

Penulis

BAB 1 PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Trauma adalah penyebab kematian utama pada anak dan orang dewasa kurang dari 44 tahun. Penyalahgunaan alkohol dan obat telah menjadi faktor implikasi pada trauma tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja atau yang tidak disengaja. Thoraks adalah daerah pada tubuh manusia (atau hewan) yang berada di antara leher dan perut (abdomen). Thoraks dapat didefinisikan sebagai area yang dibatasi di superior oleh thoracic inlet dan inferior oleh thoracic outlet, dengan batas luar adalah dinding thoraks yang disusun oleh vertebra torakal, iga-iga, sternum, otot, dan jaringan ikat. Cedera dada sering terjadi dan menyebabkan suatu variasi luka, berkisar dari luka lecet sederhana dan luka memar sampai yang mengancam nyawa yang mengenai isi rongga dada. Trauma dada juga memiliki morbiditas yang tinggi. Dua puluh persen dari semua kematian akibat trauma disebabkan oleh trauma dada, terbanyak kedua setelah cedera pada kepala dan tulang belakang. Secara kebetulan, banyak cedera dada tidak membutuhkan intervensi bedah mayor. Banyak cedera dinding dan dalam dada dapat diatasi dengan pipa thoracostomy sederhana, ventilasi mekanik, pengendalian nyeri yang agresif, dan tindakan suportif lainnya. Pasien-pasien tua dan pasien lainnya dengan penurunan volume cadangan paru lebih mudah mendapatkan serangan gawat napas dan paling kurang akan membutuhkan observasi di instalasi gawat darurat. Karena dokter instalasi gawat

darurat akan sering menghadapi pasien-pasien dengan cedera paru dan dinding dada, perlu seluk- beluk pengetahuan patofisiologi dan pengobatan trauma dada. B. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum: Untuk memperluas wacana pengetahuan tentang asuhan keperawatan pada pasiean Hemotorax . 2. Tujuan Khusus: a. Mampu mengkaji masalah-masalah keperawatan secara komprehensif. b. Mampu menganalisa dan merumuskan serta menegakan diagnosa Keperawatan yang muncul. c. Mampu merencanakan dan melaksanakan tindakan keperawatan sesuai rencana yang meliputiupaya promotif, preventif, kuratif serta rehabilitati. d. Mampu mengevaluasi asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan. e. Mempunyai pengalaman dalam pemberian asuhan keperawatan pada klien dengan Hemotorax. C. Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan hemathorax ? 2. Apa saja etiologi dari hemathorax ? 3. Bagaimana patofisiologi dari hemathorax? 4. Bagaimana manifestasi klinis dari hemathorax ? 5. Apa saja pemeriksaan dari hemathorax ? 6. Bagaimana perawatan dari hemathorax ?

BAB 2 PEMBAHASAN

A. Pengertian Trauma Dada Trauma dada dapat merupakan trauma tajam atau tembus thoraks yang dapat menyebabkan temponade jantung, perdarahan, hematoraks, pneumotoraks. Trauma thorax adalah semua ruda paksa pada thorax dan dinding thorax, baik trauma atau ruda paksa tajam atau tumpul. Trauma thorak dapat disebut juga trauma yang terjadi pada toraks yang menimbulkan kelainan pada organ-organ di dalam toraks. B. Klasifikasi TRAUMA TEMBUS 1. Pneumothoraks terbuka 2. Hemothoraks 3. Trauma tracheobronkial 4. Contusi Paru 5. Ruptur diafragma 6. Trauma Mediastinal C. Etiologi 1. Trauma tembus - Luka Tembak - Luka Tikam / tusuk TRAUMA TUMPUL 1.Tension pneumothoraks 2.Trauma tracheobronkhial 3. Flail Chest 4. Ruptur diafragma 5. Trauma mediastinal 6. Fraktur kosta

2. Trauma tumpul - Kecelakaan kendaraan bermotor - Jatuh - Pukulan pada dada D. Patofisiologi Dada merupakan organ besar yang membuka bagian dari tubuh yang sangat mudah terkena tumbukan/ benturan. Karena dada merupakan tempat jantung, paru dan pembuluh darah besar. Trauma dada sering menyebabkan gangguan ancaman kehidupan. Luka pada rongga thorak dan isinya dapat membatasi kemampuan jantung untuk memompa darah atau kemampuan paru untuk pertukaran udara dan oksigen darah. Bahaya utama berhubungan dengan luka dada biasanya berupa perdarahan dalam dan tusukan terhadap organ. Luka dada dapat meluas dari benjolan dan goresan yang relatif kecil menjadi suatu yang dapat mengancurkan atau terjadi trauma penetrasi. Luka dada dapat berupa penetrasi atau non penetrasi (tumpul). Luka dada penetrasi mungkin disebabkan oleh luka dada yang terbuka, memberi kesempatan bagi udara atmosfir masuk ke dalam permukaan pleura dan mengganggu mekanisme ventilasi normal. Luka dada penetrasi dapat menjadi kerusakan serius bagi paru, kantung (pleura) dan struktur thorak lain. a. Trauma tumpul Trauma tumpul lebih sering didapatkan berbanding trauma tembus, kira-kira lebih dari 90% trauma thoraks. Dua mekanismeyang terjadi pada trauma tumpul: (1) hantaran energi secara langsung pada dinding dada dan organ thoraks dan (2) deselerasi differensial, yang dialami oleh

organ thoraks ketika terjadinya impak atau benturan. Benturan yang secara langsung yang mengenai dinding thoraks dapat menyebabkan luka robek dan kerusakan dari jaringan lunak dan tulang seperti tulang iga. Cedera thoraks dengan tekanan yang kuat dapat menyebabkan peningkatan tekanan intrathorakal sehingga menyebabkan ruptur dari organ-organ yang berisi cairan atau gas (udara).(2,3) Cedera yang disebabkan deselerasi dapat berlaku apabila pergerakan thoraks yang kedepan secara tiba-tiba terhenti, manakala organ viscera intratorakal terus bergerak kedepan, seperti yang berlaku pada cidera

steering-columna. Pada cedera viscera (organ-organ dalam tubuh) yang tidak melekat pada dinding dada, akan bergerak kedepan sehingga akan dihentikan oleh permukaan dalam dari dinding thoraks pada benturan internal yang kedua kalinya atau sehingga tekanan yang ditimbulkan oleh pergerakan tersebut melampaui toleransi jaringan sehingga menyebabkan cedera. Fraktur tulang iga bisa terjadi pada titik benturan dan kerusakan pada paru bisa terjadi luka berupa lebam atau luka tusuk pada paru. b. Trauma tembus Trauma tembus, biasanya disebabkan tekanan mekanikal yang dikenakan secara langsung yang berlaku tiba-tiba pada suatu area fokal. Pisau atau proyektil (projectile), misalnya, akan menyebabkan kerusakan jaringan dengan stretching dan crushing dan cedera biasanya men yebabkan batas luka yang sama dengan bahan yang tembus pada jaringan. Berat ringannya cedera internal yang berlaku tergantung pada organ yang telah terkena dan seberapa vital organ tersebut.

Derajat cedera tergantung pada dua mekanisme dari penetrasi dan temasuk, diantara faktor lain, adalah efisiensi dari energi yang dipindahkan dari obyek ke jaringan tubuh yang terpenetrasi. Faktor-faktor lain yang berpengaruh adalah karakteristik dari senjata, seperti kecepatan, ukuran dari permukaan benturan, serta densitas dari jaringan tubuh yang terpenetrasi. Pisau biasanya menyebabkan cidera yang lebih kecil karena ia termasuk proyektil dengan kecepatan rendah. Luka tusuk yang disebabkan oleh pisau sebatas dengan daerah yang terjadi penetrasi. Luka disebabkan tusukan pisau biasanya dapat ditoleransi, walaupun tusukan tersebut pada daerah jantung, biasanya dapat diselamatkan dengan penanganan medis yang maksimal.

Kelainan pada rongga pleura 1. Pneumothoraks Pneumothoraks merupakan salah satu kelainan pada rongga pleura ditandai dengan adanya udara yang terperangkap dalam rongga pleura sehingga akan menyebabkan peningkatan tekanan negatif intrapleura dan akan mengganggu proses pengembangan paru. Pneumothoraks merupakan salah satu akibat dari trauma tumpul yang sering terjadi akibat adanya penetrasi fraktur iga pada parenkim paru dan laserasi paru.

2. Hemothoraks (Hematothoraks) Hemothoraks adalah suatu keadaan yang paling sering dijumpai pada penderita trauma thoraks yang sering disebabkan oleh trauma pada paru, jantung, pembuluh darah besar. Pada lebih 80% penderita dengan trauma thoraks dimana biasanya terdapat darah >1500ml dalam rongga pleura akibat trauma tumpul atau tembus pada dada. Sumber perdarahan pada umumnya berasal dari adanya cedera pada paru-paru, arteri interkostalis, robeknya arteri mamaria interna maupun pembuluh darah lainnya seperti aorta dan vena cava. Dalam rongga pleura dapat menampung 3 liter cairan, sehingga pasien hematothoraks dapat syok berat (kegagalan sirkulasi) tanpa terlihat adanya perdarahan yang nyata, distres nafas juga akan terjadi karena paru di sisi hemothoraks akan kolaps akibat tertekan volume darah. Pada pemeriksaan dapat ditemukan shock, deviasi trakea, suara pernapasan yang melemah (unilateral), vena dileher menjadi colaps akibat hipovolemia atau penekanan karena efek mekanik oleh darah di intrathoraks.

Gambar 5. Tampak gambaran hemothoraks pada sisi kiri foto thoraks

3. Kontusio paru Kontusio paru terjadi pada kecelakaan lalu lintas dengan kecepatan tinggi, jatuh dari tempat yang tinggi dan luka tembak dengan peluru cepat (high

velocity) maupun setelah trauma tumpul thoraks, dapat pula terjadi pada trauma tajam dengan mekanisme perdarahan dan edema parenkim. Penyulit ini sering terjadi pada trauma dada dan potensial menyebabkan kematian. Proses, tanda dan gejala mungkin berjalan pelan dan makin memburuk dalam 24 jam pasca trauma. Tanda dan gejalanya adalah sesak nafas/dyspnea, hipoksemia, takikardi, suara nafas berkurang atau tidak terdengar pada sisi kontusio, patah tulang iga, sianosis. 4. Laserasi paru Laserasi paru adalah robekan pada parenkim paru akibat trauma tajam atau trauma tumpul keras yang disertai fraktur iga sehingga dapat menimbulkan hemothoraks dan pneumothoraks. Mekanisme terjadinya pneumothoraks oleh karena meningkatnya tekanan intraalveolar yang disebabkan adanya tubrukan yang kuat pada thoraks dan robekan pada percabangan trakeobronchial atau esophagus. Perdarahan dari laserasi paru dapat berhenti, menetap, atau berulang.

KONSEP DASAR HEMOTHORAK 1. Pengertian Hemothorak Hemothorak adalah adanya darah yang masuk kearea pleural (antara pleura viseralis dan pleura parietalis). Hemathorax adalah adanya darah dalam rongga pleura . Sumber berasal dari darah yang berada pada dinding dada , parenkim paru paru , jantung atau pembuluh darah besar . kondisi ini biasanya konsekuensi dari trauma tumpul atau tajam. Ini juga merupakan komplikasi dari beberapa penyakit ( Puponegoro , 1995). Etiologi Trauma dada kebanyakan disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas yang akan menyebabkan ruda paksa

10

tumpul pada rongga thorak ( Hemothorak ) dan rongga Abdomen. Trauma tajam dapat disebabkan oleh tikaman dan tembakan. a. Traumatis Trauma tumpul. Penetrasi trauma. b. Non traumatic atau spontan Neoplasia ( primer atau metastasis ). Diskrasia darah , termasuk komplikasi antikoagulasi. Emboli paru dengan infark. Emfisema. Tuberkulosis. Paru arteriovenosa fistula. 2. Pembagian Hemothorak a. Hemothorak Kecil : yang tampak sebagian bayangan kurang dari 15 % pada foto rontgen, perkusi pekak sampai iga IX. b. Hemothorak Sedang : 15 35 % tertutup bayangan pada foto rontgen, perkusi pekak sampai iga VI. c. Hemothorak Besar : lebih 35 % pada foto rontgen, perkusi pekak sampai cranial, iga IV. 3. Pathofisiologi Perdarahan ke dalam rongga pleura dapat terjadi, hampir semua gangguan dari jaringan dinding dada dan pleura atau struktur intratoracic yang fisiologis terhadap pengembangan hemathorax diwujudkan dalam 2 bidang utama hemodinamik dan pernapasan . Tingkat respons hemodinamik ditentukan oleh

11

jumlah dan kecepatan kehilangan darah . Gerakan pernapasan normal mungkin terhambat oleh ruang efek menduduki akumulasi besar darah dalam rongga pleura. Dalam kasus trauma, kelainan ventilasi dan oksigen dapat mengakibatkan, terutama jika dikaitkan dengan cedera pada dinding dada. Dalam beberapa kasus nontraumatic asal usul, terutama yang berkaitan dengan pneumothorax dan jumlah terbatas perdarahan, gejala pernapasan dapat mendominasi. Pathway Nursing Gejala / tanda klinis Hemothorak tidak menimbulkan nyeri selain dari luka yang berdarah di dinding dada. Luka di pleura viseralis umumnya juga tidak menimbulkan nyeri. Kadang-kadang anemia dan syok hipovalemik merupakan keluhan dan gejala yang pertama muncul. Secara klinis pasien menunjukan distress pernapasan berat, agitasi, sianosis, tahipnea berat, tahikardia dan peningkatan awal tekanan darah, di ikuti dengan hipotensi sesuai dengan penurunan curah jantung. 4. Manifestasi Klinis a. Blunt trauma Hemathorax dengan dinding dada cedera tumpul. Jarang hemathorax sendirian menemukan dalam trauma tumpul . Associated dinding dada atau cedera paru hampir selalu hadir. Cedera tulang sederhana terdiri dari satu atau beberapa patah tulang rusak adalah yang paling umum dada cedera tumpul.

12

b. Intrathoracic cedera tumpul Hemathorax besar biasanya berhubungan struktur vaskular cedera. Gangguan atau robekan besar struktur arteri / vena di dalam dada dapat menyebebkan perdarahan masif / exsanguinating. 5. Pemeriksaan diagnostik a. Sinar X dada : menyatakan akumulasi udara / cairan pada area pleura, dapat menunjukan penyimpangan struktur mediastinal (jantung) b. GDA : Variabel tergantung dari derajat fungsi paru yang dipengeruhi, gangguan mekanik pernapasan dan kemampuan mengkompensasi. PaCO2 kadang-kadang meningkat. PaO2 mungkin normal atau menurun, saturasi oksigen biasanya menurun. c. Torasentesis : menyatakan darah/cairan serosanguinosa (Hemothorak). d. Hb : mungkin menurun, menunjukan kehilangan darah. Komplikasi Adhesi pecah, bula paru pecah. 6. Penatalaksanaan a. Hemothorak kecil : cukup diobservasi, gerakan aktif (fisioterapi) dan tidak memerlukan tindakan khusus. b. Hemothorak sedang : di pungsi dan penderita diberi transfusi. Dipungsi sedapat mungkin dikeluarkan semua cairan. Jika ternyata kambuh dipasang penyalir sekat air. c. Hemothorak besar : diberikan penyalir sekat air di rongga antar iga dan transfusi.

13

Skenario Kasus

Tn K usia 25 tahun. Dibawa ke RS dengan keluhan 2 jam yang lalu jatuh dari sepeda motor. Tidak terjadi perdarahan tetapi merasakan nyeri dada dan nyeri bertambah saat

bernafas.
Hasil pemeriksaan foto thorak terdapat fraktur iga yang mengenai pleura dan parenkim paru.

14

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian : 1. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Tanggal MRS Diagnosa Medis Keluhan Utama Pemeriksaan Fisik : 1. Sistem Pernapasan : a. Inspeksi Pengembangan paru tidak simetris. Terdapat retraksi dada. Dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat. b. Auskultasi Adanya suara sonor. Bising napas yang menghilang. c. Palpasi Nyeri, semakin kuat saat aspirasi Fremitus menurun dibandingkan dengan sisi yang lain. : Tn. K : 25 th : Pria : Mojosongo, Surakarta : 2 September 2012, jam 17.00 WIB : Hemothorax : Nyeri dada

15

d. Perkusi Resonan 2. Sistem Kardiovaskuler : Nyeri dada meningkat karena pernapasan dan batuk. Takhikardia, lemah Pucat, Hb turun. Hipotensi. 3. Sistem Persyarafan : Normal 4. Sistem Perkemihan. Normal 5. Sistem Pencernaan : Normal 6. Sistem Muskuloskeletal - Integumen. Kemampuan sendi terbatas. Ada memar. Terdapat kelemahan. Kulit pucat, sianosis, berkeringat. 7. Sistem Endokrine : Terjadi peningkatan metabolisme. Kelemahan. 8. Sistem Sosial / Interaksi. Normal.

16

9. Spiritual : Normal. B. Diagnosa Keperawatan : 1. Ketidakefektifan pola pernapasan b/d penurunan ekpansi paru karena gangguan muskuloskeletal (Doenges Moorhouse Geissler, edisi 3, hal.197) 2. Inefektif bersihan jalan napas b/d sekresi banyak dan kental. (Doenges Moorhouse Geissler, edisi 3, hal.205) 3. Nyeri akut b/d pembengkakan jaringan. (Doenges Moorhouse Geissler, edisi 3, hal.210) C. Intevensi Keperawatan : 1. Ketidakefektifan pola pernapasan b/d penurunan ekpansi paru karena gangguan muskuloskeletal (Doenges Moorhouse Geissler, edisi 3, hal.197) Tujuan : Dalam waktu 1x24 jam pola pernapasan efektif Kriteria hasil : Memperlihatkan pola pernapasan normal/efektif dengan GDA dalam rentang normal. Bebas sianosis dan tanda/gejala hipoksia.

Intervensi : a. Berikan posisi yang nyaman, biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin. R/ Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekspansi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit.

17

b. Observasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan tanda-tanda vital. R/ Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stress fifiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia. c. Kaji pasien adanya area nyeri tekan bila batuk, napas dalam. R/ sokongan terhadap dada dan otot abdominal membuat batuk lebih efektif atau mengurangi trauma d. Kaji fremitus R/ Suara dan taktil fremitus (vibrasi) menurun pada jaringan yang terisi cairan atau konsolidasi. e. Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dnegan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam. R/ Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas. f. Perhatikan alat bullow drainase berfungsi baik, cek setiap 1 - 2 jam : 1) Periksa pengontrol penghisap untuk jumlah hisapan yang benar. R/ Mempertahankan tekanan negatif intrapleural sesuai yang diberikan, yang meningkatkan ekspansi paru optimum/drainase cairan. 2) Periksa batas cairan pada botol penghisap, pertahankan pada batas

yang ditentukan. R/ Air penampung/botol bertindak sebagai pelindung yang mencegah udara atmosfir masuk ke area pleural. 3) Observasi gelembung udara botol penempung.

18

R/ gelembung udara selama ekspirasi menunjukkan lubang angin dari penumotoraks/kerja yang diharapka. Gelembung biasanya menurun seiring dnegan ekspansi paru dimana area pleural menurun. Tak adanya gelembung dapat menunjukkan ekpsnsi paru lengkap/normal atau slang buntu. 4) Posisikan sistem drainage slang untuk fungsi optimal, yakinkan slang tidak terlipat, atau menggantung di bawah saluran masuknya ke tempat drainage. Alirkan akumulasi dranase bela perlu. R/ Posisi tak tepat, terlipat atau pengumpulan bekuan/cairan pada selang mengubah tekanan negative yang diinginkan. 5) Catat karakter/jumlah drainage selang dada. R/ Berguna untuk mengevaluasi perbaikan kondisi/terjasinya perdarahan yang memerlukan upaya intervensi. g. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain : 1) Dengan dokter, radiologi dan fisioterapi.

Berikan oksigen tambahan melalui kanul/masker sesuai indikasi Awasi /gambarkan seri GDA dan nadi oksimetri. Kaji kapasitas vital/pengukuran volume tidal. Konsul photo toraks. R/Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.

2. Inefektif bersihan jalan napas b/d sekresi banyak dan kental. (Doenges Moorhouse Geissler, edisi 3, hal.205) Tujuan : Dalam waktu 1x24 jam jalan napas lancar/normal

19

Kriteria hasil : Mempertahankan kepatenan jalan nafas dengan bunyi napas bersih/jelas Tidak ada lagi penumpukan sekret di sal. pernapasan. Klien nyaman. Intervensi : a. Jelaskan klien tentang mengapa terdapat penumpukan sekret di sal. pernapasan. R/ Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. b. Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk. R/ Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan tidak efektif, menyebabkan frustasi. 1) Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin. R/ Memungkinkan ekspansi paru lebih luas. 2) Lakukan pernapasan diafragma. R/ Pernapasan diafragma menurunkan frek. napas dan meningkatkan ventilasi alveolar. 3) Tahan napas selama 3 - 5 detik kemudian secara perlahan-lahan,

keluarkan sebanyak mungkin melalui mulut. 4) Lakukan napas ke dua , tahan dan batukkan dari dada dengan melakukan 2 batuk pendek dan kuat. R/ Meningkatkan volume udara dalam paru mempermudah pengeluaran sekresi sekret. c. Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk.

20

R/

Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk klien. klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi :

d. Ajarkan

mempertahankan hidrasi yang adekuat; meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi. R/ Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus, yang mengarah pada atelektasis. e. Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk. R/ Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau mulut. f. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain : Dengan dokter, radiologi Pemberian expectoran. Pemberian antibiotika. Fisioterapi dada. Konsul photo toraks. R/ Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan menevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya. 3. Nyeri akut b/d pembengkakan jaringan. (Doenges Moorhouse Geissler, edisi 3, hal.210) Tujuan : Dalam waktu 1x24 jam nyeri berkurang/hilang. Kriteria hasil : Nyeri berkurang/ dapat diadaptasi. Dapat mengindentifikasi aktivitas yang meningkatkan/menurunkan nyeri. Pasien dapat rileks dan fisioterapi.

21

Intervensi : a. Jelaskan dan bantu klien dnegan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan non invasif. R/ Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri. 1) Ajarkan Relaksasi : Tehnik-tehnik untuk menurunkan ketegangan otot rangka, yang dapat menurunkan intensitas nyeri dan juga tingkatkan relaksasi masase. R/ Akan melancarkan peredaran darah, sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan akan terpenuhi, sehingga akan mengurangi nyerinya. 2) Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut. R/ Mengalihkan perhatian nyerinya ke hal-hal yang menyenangkan. b. Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan berikan posisi yang nyaman ; misal waktu tidur, belakangnya dipasang bantal kecil. R/ Istirahat akan merelaksasi semua jaringan sehingga akan meningkatkan kenyamanan. c. Tingkatkan pengetahuan tentang : sebab-sebab nyeri, dan menghubungkan

berapa lama nyeri akan berlangsung. R/ Pengetahuan yang akan dirasakan membantu mengurangi nyerinya. Dan dapat membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. d. Kolaborasi dengan dokter, pemberian analgetik. R/ Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga nyeri akan berkurang.

22

e. Observasi tingkat nyeri, dan respon motorik klien,

30 menit setelah

pemberian obat analgetik untuk mengkaji efektivitasnya. Serta setiap 1 - 2 jam setelah tindakan perawatan selama 1 - 2 hari. R/ Pengkajian yang optimal akan memberikan perawat data yang obyektif untuk mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan intervensi yang tepat.

23

BAB 3 PENUTUP

A. Kesimpulan Trauma dada dapat merupakan trauma tajam atau tembus thoraks yang dapat menyebabkan temponade jantung, perdarahan, hematoraks, pneumotoraks. Trauma dada ada dua yaitu trauma tembus dan tumpul. Trauma dada bisa menyebabkan salah satunya Hemathorax. Hemothorak adalah adanya darah yang masuk kearea pleural (antara pleura viseralis dan pleura parietalis). Penatalaksanaan keperawatan dengan asuhan keperawatan. Pengkajian dengan data fokus pada sistem pernapasan. Dengan diagnosa keperawatan : 1. Ketidakefektifan pola pernapasan b/d penurunan ekpansi paru karena gangguan muskuloskeletal (Doenges Moorhouse Geissler, edisi 3, hal.197) ; 2. Inefektif bersihan jalan napas b/d sekresi banyak dan kental. (Doenges Moorhouse Geissler, edisi 3, hal.205) ; 3. Nyeri akut b/d pembengkakan jaringan. (Doenges Moorhouse Geissler, edisi 3, hal.210)

24

DAFTAR PUSTAKA 1. Bedah Torak Kardiovaskular Indonesia: Website Bedah Torak Kardiovaskular Indonesia: Anatomi Toraks: Surface Anatomy-Dinding Toraks [online] [cited on 2010] available at: http://www.bedahtvk.com/index.php?/e-Education/FisiologiAnatomi/ Anatomi-Toraks-Surface-Anatomy-Dinding-Toraks.html 2. Bedah Torak Kardiovaskular Indonesia, Website Bedah Torak Kardiovaskular Indonesia:Trauma Toraks I: Umum [online] [cited on 2010] available at : http://www.bedahtvk.com/index.php?/e-Education/Toraks/Trauma-Toraks-I-Umum. html 3. Soedjatmiko H., Trauma Toraks [oline] [cited on 10 April 2010] available at http://www.portalkalbe/files/cdk/13-trauma toraks pdf.html 4. Khan A.N, Trauma Thorax [online] [cited on 9 April 2010]available at: http://www.emedicine.com/radio/byname/Thorax-Trauma.htm 5. Sandra Wanek. MD, John C. Mayberry. MD, FACS Division of General Surgery, 6. Engram (1999), Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta. 7. Hudak & Gallo (1997), Keperawatan Kritis, Pendekatan Holistik, Edisi VI Vol.1,EGC, Jakarta 8. Jonh. A Boswick (1997), Perawatan Gawat Darurat, EGC, Jakarta. 9. LAB/UPF ILMU BEDAH (1988), Pedoman Diagnosis Dan Terapi, RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. 10. Sjasuhidajat. R (1997), Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC, Jakarta.

25