Anda di halaman 1dari 5

MALAM PERTAMA Cerpen Ridwan Pinat Hari itu hari Jumat tanggal 17 Maret tahun 1977.

Kreta akhirnya bergerak meningg alkan stasiun Victoria, London sementara cuaca mendung yang sudah berlangsung le bih dari dua minggu belakangan ini masih tetap mencekam. Setiba di Folkstone, ko ta pelabuhan di pantai timur Inggris, seperti para penumpang lain, Bastian harus meneruskan perjalanan dengan ferry. Sebelum menaiki kapal, ia sempat menengadah ke langit kelabu, merindukan matahari yang masih enggan menampakkan diri sejak pekan lalu. Untung udara di penghujung musim semi itu cukup nyaman. Dan begitu b erada di dalam kapal, Bastian memutuskan langsung ke geladak. Di sana ia melihat banyak remaja berambut pirang duduk memenuhi semua bangku dan kursi yang tersed ia. Mereka rata-rata mengenakan jeans, sepatu olahraga dan berjaket. Ada ranselransel besar dan kecil bergeletakan di sekitar mereka. Semuanya tampak gembira. Bernyanyi-nyanyi dengan ribut diiringi gitar dan harmonika. Bastian melangkah m enghampiri pagar geladak. Ia berdiri di sana sambil memperhatikan keadaan di sek itar pelabuhan. Tidak lama kapal menyingkir dari dermaga, dan dermaga itupun kia n lama kian memburam dari pandangan. Kemudian sirna ditelan kabut. Sekawanan cam ar terbang mengikuti kapal. Beberapa menukik ke laut berebut ikan. Air laut terb urai dilindas kapal, meninggalkan buih yang memanjang ke belakang. Dan sementara berdiri mengamati semua itu, tanpa disadarinya ingatannyapun terulur ke masa la mpau, ke tanah air, ke Indonesia yang kini baginya tidak lebih dari sebuah babak yang sudah lama berakhir, namun belum jua terlupakan. Narti lagi-lagi menyingga hi ingatannya. Ia memejamkan mata. Mencoba mencari jawab dari pertanyaan: kenapa belakangan ini ia sering teringat pada perempuan itu. Kenapa kini di hatinya se buah kerinduan justru bertambah marak, padahal ia tahu bahwa Narti yang sekarang bukanlah Narti yang dulu. Dengan sesak ia menarik nafas panjang. Sebuah kenyeri an dari perasaan bersalah yang justru tidak bisa dibenarkannya terasa begitu men yayat-nyayat. Sejak semula ia tahu bahwa ia sudah kehilangan Narty, tak mungkin lagi mewujudkan mimpinya dengan Narty. Tetapi kenapa justru baru sekarang ia bet ul-betul merasa kehilangan? Sebuah kehilangan yang tidak semestinya terjadi. Seb uah kegagalan yang sebetulnya bisa saja dihindarkannya kalau ia mau. Sehabis men yelesaikan studynya dalam sastra Inggris sembilan tahun silam, ia ingin memuaska n

keinginannya berkelana keluar negeri. Dan satu-satunya jalan yang terbuka waktu itu hanya menjadi kelasi kapal minyak asing. Iapun menyatakan hasratnya untuk se gera memfaatkan kesempatan baik itu kepada Narty dengan harapan Narty akan meres tui serta mendukung. Tetapi Bastian salah perhitungan. Narty ternyata tidaklah s eperti dikenalnya selama ini. Ia benar- benar tak mengira bahwa Narty tidak akan setuju. Dan ketidak setujuan Narty itu didasari alasan yang tidak dapat diterim anya sama sekali. Ia masih ingat pertengkaran sengit yang kemudian terjadi. Nart y waktu itu belum bisa berpikir dewasa. Narty masih begitu kekanak-kanakan. Kekh awatirannya kalau-kalau perpisahan serta berbagai pengalaman baru yang akan dite mpuh Bastian di perantauan kelak akan membuat Bastian justru lupa dan berubah ha luan, ketika itu hanya dapat ditafsirkan oleh Bastian sebagai bukti dari kedangk alan pengertian Narty akan dirinya serta ketidak percayaan gadis itu kepadanya. Padahal ia merasa sudah berbuat banyak untuk meyakinkan Narty agar jangan sekali -kali meragukan cintanya. Melalui ucapan dan tindakan ia telah berulang kali men unjukkan kesungguhannya untuk secara resmi melembagakan hubungan mereka. Namun N arty mau agar dilakukan secepatnya. "Secepatnya?" "Apa lagi yang harus kita tung gu?. Orang tuaku sudah seratus persen setuju." kata Narty seperti mendakwa. "Ban yak yang harus kita matangkan dulu, Ty. Kau tahu aku belum kerja. Aku tidak bera ni kawin sebelum punya pekerjaan." "Itu tidak perlu kau pikirkan." "Maksudmu?" " Aku sudah bicara sama Papa. Papa bilang kebetulan di kantornya ada sebuah jabata n yang sedang kosong dan bisa kau isi. Kau tentu tidak berkeberatan?" kata Narty dengan sebuah senyuman merajuk. "Maksudmu aku bekerja satu kantor dengan papamu ?" "Apa salahnya?" "Satu kantor dengan abang-abangmu, pamanmu. kemenakanmu dan s audara-saudaramu yang lain itu?" "Ya. Apa salahnya?. Dan kalau kau mau menerima jabatan itu, papa bilang kita akan mendapat rumah dan kendaraan gratis. Pokoknya semua beres." kata Narty bangga. Bastian menarik nafas panjang, kemudian mengge lengkan kepala. "Kenapa kau menggeleng?. Tak ada salahnya 'kan?" "Salah sih tida k. Tapi sulit!" jawab Bastian. "Sulit? "Sulit!" "Ah, aku tahu apa kesulitannya, Bas. Kau tentu merasa kikuk bicara langsung sama Papa untuk menyatakan persetuju anmu. Iya 'kan?" Narti terseyum, karena ia yakin sekali dugaanyang itu benar. "B ukan itu soalnya." "Ah, jangan khawatir. Nanti aku sendiri yang akan bilang. Kau tenang-tenang saja." "Narti!" "Ya?" "Sudah kubilang. Bukan itu soalnya!" "Lalu, soalnya apa?" Bastian tidak langsung menjawab. Mimiknya menunjukkan usaha menca ri kata-kata yang tepat. "Apa soalnya?" desak Narty tidak sabar. "Aku ingin menc ari pengalaman." kata Bastian seperti terlepas dari sebuah beban berat. "Mencari pengalaman?" ulang Narty meyakinkan. "Mencari pengalaman....mencari....." "Apa kau pikir dengan menerima jabatan yang ditawarkan Papa kau tidak akan mendapat

pengalaman?" "Dari kecil aku sering bermimpi bisa ke luar negeri. Ingin mencari pengalaman di negeri orang." katanya tanpa memandang Narty. "Ya, mencari pengala man di negeri orang." ulangnya seperti ditujukan kepada dirinya sendiri. Karuan saja Narty tertawa. Ia memang tidak dapat menyembunyikan kegeliannya mendengar p engakuan Bastian yang seingatnya tidak pernah terlontar sebelumnya. "Apa itu kau anggap lucu?" tanya Bastian serius. "Kenapa mesti jauh-jauh mencari pengalaman ke luar negeri, padahal pengalaman kerja di dalam negeri belum kau dapat?" Narti mellihat wajah Bastian tiba-tiba berubah. "Maaf," katanya, "Maksudku......orang yang harus pergi bekerja di luar negeri itu 'kan kebanyakan karena tidak dapat pekerjaan di negeri sendiri..." "Dan itu kau anggap lucu, eh?" potong Bastian de ngan nada meninggi. "Bas, aku tidak mengira kau bisa jadi begitu naif!" "Naif?" "Ternyata kau tidak bisa membayangkan sendiri. Jabatan itu justru akan membuka p eluang besar bagimu untuk bepergian ke luar negeri. Ke banyak negara, Bas!. Ke b anyak negara!" "Dari mana kau tahu?" "Ah, dari mana aku tahu! Dari Papa dong! Pa pa bilang begitu, koq! Ya, seperti Papa. Sering pergi keluar negeri karena tugas ." "Apa tawaran itu sudah kau pikirkan dalam-dalam?" Bastian bertanya. Kebingung an terlihat di wajah Narty ketika ia balik bertanya: "Untuk apa lagi dipikirkan? " "Sudah kau pikirkan apa nanti kata orang?" "Maksudmu?" "Papamu menempatkan ora ng-orangnya, keluarga dan saudara-saudaranya sendiri. Apalagi itu dilakukannya d i sebuah departemen pemerintah. Apa kau tidak memikirkan reputasi Papamu? Apa ka u tidak malu kalau Papamu dicap memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi d an keluarga? Memilih orang berdasarkan favoritisme dan nepotisme?" "Ah, itu urus an Papa!" "Urusan Papa?" "Lagi pula yang begitu itu sudah umum. Di departemen-de partmen lain juga begitu! Malah lebih jelek! Ya, siapa sih yang tidak memanfaatk an jabatan untuk kepentingan pribadi? Apa kau bisa kasih contoh?" Bastian terdia m. Ia mencoba menarik nafas panjang tanpa memandang Narti. "Itu urusan Papa, Bas . Tidak perlu kau pusingkan. Yang penting buat kita berdua kau bisa duduk di san a dan memegang jabatan yang memungkinkanmu mewujudkan cita-citamu untuk bepergia n ke luar negeri." "Okelah. Itu urusan papamu. Urusan dia memang kalau dia memfa atkan kedudukan dan kewenanganya untuk kepentingan keluarganya sendiri. Dan...ya , bukan dia sendiri yang berbuat begitu. Baiklah, aku tidak akan berpanjang leba r lagi tentang itu. Nanti aku dicap sok idealis!" Narty kelihatan tersinggung. A da gurat-gurat kecemberutan yang sebetulnya tak ingin ia tunjukkan, tetapi justr u terlihat jelas. "Dari dulu kau memang sok idealis!" sentaknya penuh emosi, "Pa dahal kalau mau berhasil di jaman gila seperti sekarang, orang jangan jadi pelam un-pelamun idealis yang sok puritan, sok merisaukan reputasi dan kepentingan umu m, tapi realis-realis yang jeli memanfaatkan situasi dan kondisi dengan sikap pr agmatis!" Bastian kembali

terbungkam. Ia terheran-heran melihat Narti yang biasanya bicara selalu lembut b isa bersuara begitu tajam. "Lihat saja," lanjut gadis itu makin bersemangat, "it u tokoh-tokoh muda angkatan......ya, sebelumnya mereka begitu ribut berdemonstra si mengecam segala kebobrokan, semua bentuk korupsi, ketidak- adilan dan penyala hkan-gunaan......tapi begitu dikasi jabatan empuk... eh, suara mereka nggak pern ah kedengaran lagi. Mereka justru ikut melakukan apa yang dulu menjadi sasaran k eceman mereka!" "Kau benar, Ty. Kau benar." jawab Bastian seperti menyerah untuk menenangkan gadis itu. "Orang-orang idealis sebenarnya orang-orang yang gagal m emahami dan mengambil keuntungan dari tuntutan realita, lalu mencari kekuatan ke dalam dunia ide-ide, mengumpulkan teori dari sana-sini untuk mengecam realis-re alis yang berhasil!" Bastian terperangah. Ia tidak menyangka Narty mampu menguca pkan kata-kata seperti itu. "Ah, Ty, maksudku sebetulnya jauh lebih sederhana." katanya setelah lama diam, dan ia sengaja berhenti untuk menunggu reaksi Narty. Namun Narty hanya memandangnya sebentar lantas mengalihkan muka. "Boleh kuterusk an?" tanya Bastian hati-hati. Narty diam saja. "Maksudku begini. Nanti pasti aka n ada saja orang-orang tertentu yang berpenilaian bahwa tanpa Papamu tak mungkin aku akan bisa mendapatkan jabatan yang kau tawarkan itu. Bagiku itu sangat perl u dipikirkan. Dan lebih perlu lagi karena penilaian mereka memang tidak salah!" "Bas, kenapa kita harus memikirkan apa kata orang lain sementara yang akan kita lakukan bukan urusan mereka?" ujar Narty dengan nada yang kembali tinggi, "kalau kita memberi hak kepada orang lain untuk mencampuri urusan kita, untuk mempenga ruhi kita, itu bukan salah mereka. Salah kita sendiri! Kita sendiri yang salah!" Bastian terperangah lagi. "Papaku selalu bilang," lanjut Narty pula. "Orang lai n itu, kalau kita gagal, mereka tertawa. Kalau kita berhasil, mereka ngiri. Serb a salah. Makanya tidak perlu diperdulikan!" "Tapi Ty, kau harus mengerti. Penila ian orang lain itu sesuai dengan kata hatiku sendiri." "Maksudmu?" "Penilaian or ang lain memang bisa saja tidak kuperdulikan. Tapi apa yang dibisikkan oleh suar a batinku tidak dapat aku ingkari." Sekarang Narty ganti terdiam. Sebuah kekecew aan membayang jelas di wajahnya. "Ty, kuharap kau tidak salah tafsir. Untuk tawa ran Papamu yang tidak gampang didapat itu aku sangat berterima kasih...." "Tetap i dengan sangat menyesal terpaksa kutolak....itu 'kan yang ingin kau katakan?" p otong Narty ketus. "Terpaksa kutolak demi keutuhan harga diriku!" Bastian kembal i terdiam. "Kalau memang itu soalnya, kau telah meletakkan harga dirimu pada tem pat yang salah, Bastian. Aku kira tidak ada orang yang bisa berhasil tanpa bantu an dan dukungan orang lain. Ada saatnya kita harus dengan rendah hati membiarkan diri kita dibantu karena nanti akan datang pula waktunya kita yang mesti memban tu. Kayaknya hidup memang sudah harus begitu adanya. Iya 'kan, Bas?" "Narty!" me ndadak Bastian berteriak. Dan itu pertama kalinya ia berteriak kepada gadis itu,

Anda mungkin juga menyukai