Anda di halaman 1dari 12

TUGAS HUKUM PERDATA INTERNASIONAL

Status Kepemilikan Tanah di Timor-Leste oleh Warga Negara Indonesia dalam Ranah Hukum Perdata Internasional

Kelompok 7 Anggota Kelompok: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Cahaya Putra Wardana Nengah Antara Putra Airlangga Wisnu DP Putu Anom Jaya Kusuma I Gede Widnyana Angga Arya Saputra IB Santa Gautama Eka Prasetya Purnomo (1103005059) (1103005063) (1103005065) (1103005077) (1103005100) (1103005105) (1103005112) (1103005113)

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2012

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan Kehadapan Ida Sang Hyang widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) atas segala berkat Rahmat dan Berkahnya sehingga kami dapat menyelesaikan Tugas Kelompok Hukum Perdata Internasional dengan judul Status kepemilikan tanah di Timor Leste oleh Warga Negara Indonesia dalam Ranah Hukum Perdata Internasional Kami menyadari bahwa dalam tulisan ini masih banyak kekurangannya, oleh karena itu kami mohon saran dan kritik yang membangun dari para pembaca tulisan kami. Akhir kata semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan bagi perkembangan Hukum Perdata Internasional khususnya.

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................ DAFTAR ISI....................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Pelakang 1.2 Rumusan Masalah.. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengadilan(lex fori) yang berwenang memeriksa dan memutus gugatan 2.2 Teori kualifikasi yang digunakan dalam menyelesaikan kasus tersebut dan kaedah hukum dalam menyelesaikan kasusnya 2.3 Status kepemilikan tanah milik penggugat setelah Timor-Timur resmi menjadi sebuah negara BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan. 3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

Bab I Pendahuluan
1.1 Latarbelakang Timor leste merupakan suatu negara yang baru merdeka, negara ini merupakan

negara yang masih berusia sangat muda. Sebelum tahun 1999 TimorLeste sebagai bagian dari provinsi NKRI. Namun karena pergerakan oleh beberapa kelompok, sejak tahun 1999 TimorLeste resmi menjadi negara merdeka dan melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena Timor Leste pernah menjadi bagian dari provinsi NKRI, maka banyak warga negara Indonesia yang memiliki harta kekayaan baik benda bergerak maupun tidak bergerak yang berada didaerah tersebut yang merupakan hasil dari matapencaharian selama melangsungkan hidup didaerah tersebut. Dahulu ketika jaman Soeharto, pemerintah membuat suatu program transmigrasi ke daerah Timor Timur, sehingga banyak warga negara Indonesia yang tinggal dan bekerja disana. Sebelum tahun 1999 daerah TimorTimur(sebelum negara TimorLeste merdeka) terjadi konflik antara kelompok yang memberontak untuk melepaskan diri dengan Negara Kesatuan republic Indonesia. Warga negara Indonesia yang masih cinta dan ingin tinggal di daerah NKRI, pergi meninggalkan daerah tersebut ketika terjadi konflik demi kepentingan keamanan jiwa dan keluarga. Mereka pergi meninggalkan daerah tersebut tanpa membawa harta kekayaan baik bergerak maupun tidak bergerak. Mereka kembali kedaerah asalnya masing-masing. Ketika mereka kembali kedaerah asalnya masing-masing, ternyata konflik tersebut berakhir dengan berdirinya atau merdekanya provinsi Timor Timur itu menjadi Negara Timor Leste. Hal ini menyebabkan warga negara Indonesia yang sebelumnya memiliki harta kekayaan di daerah tersebut ingin menuntut hak atas kekayaan mereka yang masih berada di sana.

Kasus: Sebelum Timor-Timur resmi menjadi sebuah negara, Yuda (WNI) adalah seorang anak dari Made Pastika yang memiliki sebidang tanah dengan bukti kepemilikan SHM yang dikeluarkan oleh BPN Kota Dili pada waktu itu , Andi dan orang tuanya meninggalkan Kota Dili pada tahun 1998. Mereka kembali ke daerah asalnya yaitu Bali. Mereka melanjutkan kehidupan di tanah kelahirannya. Pada tahun 2007 Made Pastika meninggal dunia meninggalkan anak dan istrinya. Seperti kita ketahui biaya kematian di Bali sangat besar untuk melakukan upacara pengabenan. Karena kekurangan biaya Yuda sebagai anak

menunda upacara ngaben untuk almarhum ayahnya.

Sebelum meninggal dunia, Made

Pastika membuat surat wasiat di Bali(Indonesia) yang menunjuk Yuda sebagai ahli waris tunggal dari segala harta kekayaan yang dimiliki oleh Made pastika semasa hidupnya termasuk harta kekayaan yang berada di Negara TimorLeste berupa sebidang tanah dengan bukti kepemilikan SHM yang dikeluarkan oleh BPN Kota Dili pada waktu itu. Pada tahun 2008 Yuda menuntut hak atas harta kekayaan berupa tanah yang berada di negara TimorLeste. Yuda mengajukan gugatan tersebut ke Pengadilan di Denpasar, Bali-Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah 1. Tentukan pengadilan(lex fori) yang berwenang memeriksa dan memutus gugatan tersebut? 2. Bagaimana Teori kualifikasi yang digunakan dalam menyelesaikan kasus tersebut dan kaedah hukum dalam menyelesaikan kasus tersebut? 3. Bagaimana terhadap status kepemilikan tanah milik orang tua Yuda tersebut setelah Timor-Timur resmi menjadi sebuah negara?

Bab II Pembahasan
Sebelum membahas rumusan-rumusan masalah tersebut, terlebih dahulu kita harus mengetahui Titik Taut Primer dan Titik Taut Sekunder untuk mempermudah dalam membahas rumusan-rumusan masalah yang sudah ditentukan.

1. Titik Taut Primer: Titik taut primer adalah fakta-fakta didalam sebuah perkara atau peristiwa hukum, yang menunjukan bahwa peristiwa hukum ini mengandung unsur-unsur asing (foregn elements) dan peristiwa hukum yang dihadapi adalah peristiwa HPI, bukan peristiwa hukum intern/domestic semata1. Dan untuk melihat apakah hal ini termaksud kedalam HPI atau bukan maka dapat dilihat dari 4 unsur yakni: Adanya Sengketa : dalam kasus ini terdapat sengeketa yakni sengketa tentang kepemilikan tanah oleh Warga Negara Indonesia yang berada di negara TimorLeste. Hal ini menimbulkan gugatan yang diajukan oleh Yuda sebagai ahli waris tunggal dari sebidang tanah dengan bukti kepemilikan SHM yang dikeluarkan oleh BPN Kota Dili pada waktu itu. Aspek Perdata : dalam hal ini Yuda(WNI) mengajukan gugatan atas sebidang tanah tersebut. Sistem Hukum berbeda yang berlaku : dalam hal ini ada 2 kemungkinan sistem hukum yang berlaku yakni sistem hukum yang berlaku di Indonesia dan Sistem Hukum di TimorLeste. Sistem Hukum yang berlaku di Indonesia karena sebidang tanah tersebut dengan bukti kepemilikan yang dikeluarkan oleh BPN Kota Dili pada waktu itu(Sertifikat yang dikeluarkan oleh Pemerintah NKRI) dan Sistem Hukum di TimorLeste, karena sebidang tanah tersebut merupakan benda tetap/tidak bergerak dan terletak di negara TimorLeste(sekarang). Salah satunya unsur asing : dalam hal ini unsur asingnya adalah adanya 2 kenegaraaan yang bersengketa yakni Yuda( Warga Negara Indonesia) dan Negara TimorLeste yang merupakan negara yang baru resmi.
1

Bayu Seto Hardjowahono, 2006, Dasar-Dasar Hukum Perdata Internasional, Edisi keempat, PT Citra Aditya Bakti Bandung, h.61

Sehingga dari pemaparan keempat unsur diatas maka kasus diatas merupakan kasus Hukum Pedata Internasional, dimana dalam hal ini sistem hukum daripada kedua negara berpeluang untuk digunakan.

2. Titik Taut Sekunder Titik taut sekunder adalah fakta-fakta dalam perkara HPI yang akan membantu penentuan hukum manakah yang harus diberlakukan dalam menyelesaikan persoalan HPI yang sedang dihadapi. Titik taut sekunder sering kali disebut titik taut penentu karena fungsinya akan menentukan hukum dari tempat manakah yang akan digunakan sebagai the applicable law dalam penyelesaian suatu perkara2. Factor-faktor yang menentukan berlakunya sistem hukum tertentu yang meliputi ; Pilihan hukum (choice of law), merupakan pilihan hukum mana yang akan digunakan oleh kedua belah pihak, dimana dalam hal ini biasanya hal ini ditetapkan didalam kontrak atau perjanjian antara kedua belah pihak. Tempat letaknya benda (lex sitae), merupakan faktor yang menyatakan bahwa hukum yang berlaku atau yang digunakan adalah hukum dimana benda tersebut berada. Tempat dilaksanakannya perjanjian (lex loci solutionis), merupakan faktor yang menyatakan bahwa hukum yang berlaku atau yang digunakan adalah hukum tempat perjanjian tersebut dilaksanakan. Tempat dilangsungkannya perkawinan (lex celebration), merupakan faktor yang menyatakan bahwa hukum yang berlaku atau yang harus digunakan adalah tempat dimana perjanjian tersebut/ yang berperkara dilangsungkan sebelumnya. Tempat ditanda-tanganinya kontrak (lex contractus), merupakan faktor yang menyatakan bahwa hukum yang digunakan atau diberlakukan adalah hukum dimana tempat ditanda tanganinnya kontrak tersebut. Tempat terjadinya perbuatan melawan hukum (lex loci delicti commisi), merupakan faktor yang menyatakan bahwa hukum yang berlaku dan diterapkan merupakan hukum dimana perbuatan melawan hukum tersebut dilakukan.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut apabila dikaitkan dengan kasus, maka yang paling cocok adalah faktor benda. Sebidang Tanah tersebut termasuk kedalam benda yang tidak bergerak/benda tetap. Benda Tetap mengikuti tempat dari benda tetap tersbut berada.
2

Ibid

Berdasarkan asas hukum Lex Rei Sitae. Sesuai dengan pasal 17 AB,Mengenai benda-benda yang tidak bergerak berlaku hukum dari tempat dimana benda-benda itu terletak.

2.1 Pengadilan(lexfori) yang berwenang memeriksa dan memutus gugatan Berdasarkan kasus diatas terlihat bahwa Yuda(WNI) mengajukan gugatan atas tuntutan sebidang tanah dengan bukti kepemilikan SHM yang dikeluarkan oleh BPN Kota Dili saat itu(Sebelum Negara TimorLeste resmi) ke Pengadilan Denpasar. Dilihat dari

BadanHukum(bukti kepemilikan SHM yang dikeluarkan oleh BPN Kota Dili) bahwa sertifikat atas sebidang tanah tersebut didaftarkan di Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI). Berarti forum pengadilan(lex fori) yang berwenang untuk memeriksa adalah Pengadilan Denpasar-Indonesia.

2.2 Teori kualifikasi yang digunakan dalam menyelesaikan kasus tersebut dan Kaidah Hukum dalam penyelesaian perkara dalam kasus tersebut Teori kualifikasi yang digunakan dalam menyelesaikan kasus tersebut adalah Teori Kualifikasi Lex Causae(Lex Fori yang diperluas). Menurut Martin Wolf, teori ini beranggapan bahwa proses kualifikasi dalam perkara HPI dijalankan sesuai dengan sistem serta ukuran-ukuran dari keseluruhan sistem hukum yang berkaitan dengan perkara3. Tindakan kualifikasi dimaksudkan untuk menentukan kaidah HPI mana dari lex fori yang paling erat kaitannya dengan kaidah hukum asing yang mungkin diberlakukan. Penentuan ini harus dilakukan dengan mendasarkan diri pada hasil kualifikasi yang dilakukan dengan memerhatikan sistem hukum asing yang bersangkutan. Setelah kategori yuridik dari suatu peristiwa hukum ditetapkan dengan cara itu, barulah dapat ditetapkan kaidah HPI mana dari lex fori yang akan digunakan untuk menunjuk kea rah lex causae. Langkah Teori Kualifikasi Lex Causae: 1. Kualifikasikan peristiwa x dengan kaidah intern hukum asing 2. Tentukan titik taut sekunder dengan melihat pada kaidah HPI Lex Fori 3. Tentukan Lex Causae 4. Putusan dengan kaidah intern Lex Causae

Ibid.hal.80

Untuk menentukan kaidah hukum(lex causae) dalam menyelesaikan kasus tersebut digunakan langkah kualifikasi lex cauesae diatas: Hakim menentukan sebidang tanah tersebut terletak di Kota Dili(dahulu), sekarang terletak di Negara TimorLeste. Sebidang tanah tersebut dapat dikualifikasikan kedalam peristiwa hukum, bahwa sebidang tanah tersebut termasuk ke dalam benda tidak bergerak(tetap). Titik taut sekunder dengan melihat pada kaidah HPI Lex Fori, berdasarkan kasus yang digunakan adalah asas hukum lex rei sitae mengikuti tempat dari benda tersebut berada. Melihat pasal 17 AB, Mengenai benda-benda yang tidak bergerak berlaku hukum dari tempat dimana benda-benda itu terletak. Karena sebidang tanah tersebut sekarang terletak di daerah Negara TimorLeste, berarti kaidah hukum(lex causae) yang berwenang dalam penyelesaian perkara tersebut adalah kaidah hukum Republik Demokratik TimorLeste(RDTL).

2.3 Status kepemilikan tanah milik orang tua Yuda tersebut setelah Timor-Timur resmi menjadi sebuah negara Untuk mengetahui status kepemilikan tanah milik orang tua Yuda tersebut setelah Timor-Timur resmi menjadi sebuah negara(Republik Demokratik TimorLeste-RDTL), diketahui bahwa kaidah hukum yang berlaku dalam penyelesaian peristiwa Hukum Perdata Internasional tentang kepemilikan tanah tersebut adalah kaidah hukum Republik Demokratik Timor-Leste(RDTL). Merujuk kepada hukum Republik Demokratik Timor-Leste (RDTL) yang mengatur mengenai pertanahan. Berdasarkan penelusuran kami dalam halaman unmit.org, hukum yang dimaksud adalah Law No. 1/2003 on Juridical Regime of Real Estate (Part 1 - Ownership over real estate). Dokumen terjemahan dalam Bahasa Indonesia atas Undang-Undang tersebut kami dapatkan dari laman pu.go.id yaitu UU RDTL Parlemen Nasional No. 1/2003 tentang Status Hukum Benda-Benda Tidak Bergerak (UU RDTL 1/2003). Berdasarkan UU RDTL 1/2003, Yuda adalah seorang Warga Negara Indonesia (WNI), dan dipandang sebagai Warga Negara Asing (WNA) Terhadapnya berlaku Pasal 13 UU RDTL 1/2003 yang menyatakan: 1. Warga negara asing dalam waktu satu tahun terhitung mulai tanggal berlakunya Undang-Undang ini harus menyampaikan kepada Direktorat Pertanahan dan Harta Benda, semua data-data yang menyangkut kepemilikan benda-benda tidak bergerak yang dimilikinya sampai dengan tanggal 19 Mei 2002, untuk selanjutnya diatur dalam Undang-Undang.

2.

Sesuai ketentuan ayat di atas, dalam data-data tersebut supaya dilampirkan dengan semua dokumen kepemilikan dengan catatan apabila tidak dilaksanakan maka bendabenda tersebut dianggap sebagai benda-benda tidak bertuan, dan oleh karenanya dapat diambil alih oleh negara.

3.

Tidak diakui semua akte kepemilikan benda-benda tidak bergerak yang dibuat oleh warga negara asing sejak tanggal 20 Mei 2002. Berdasarkan pengaturan di atas, Orang Tua Yuda belum pernah menyampaikan data

tentang kepemilikan tanah dan rumah tersebut kepada pemerintahan Timor-Leste (Direktorat Pertanahan dan Harta Benda), maka saat ini status tanah tersebut sudah diambil alih oleh pemerintah Timor Leste. Ini sesuai ketentuan Pasal 15 ayat (1) RDTL 1/2003 yang menyatakan: Semua harta benda tak bergerak yang ditinggalkan baik milik warga negara Timor Leste maupun milik warga asing, untuk sementara ditempatkan di bawah pengawasan Pemerintah. Dari pengaturan-pengaturan di atas dapat disimpulkan bahwa hanya warga negara Timor-Leste yang menetap di Timor-Leste yang dapat memiliki tanah dan bangunan. Sedangkan, terhadap semua harta benda (termasuk tanah dan bangunan) yang dimiliki seorang WNA akan ditempatkan di bawah pengawasan Pemerintah Timor Leste. Kemudian, mengenai sertifikat hak milik yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Nasional Kota Dili, hal ini diatur dalam Pasal 16 ayat (1) UU RDTL 1/2003 sebagai berikut: Dianggap tidak berlaku semua pembuatan akte atau keputusan yang dibuat yang bertalian dengan harta benda tidak bergerak peninggalan Pemerintah Portugis yang dianggap sebagai pemilik yang sah sampai dengan tanggal 7 Desember 1975. Akte atau keputusan yang dimaksud adalah yang dibuat antara tanggal 7 Desember 1975 dan 19 Mei 2002, terutama yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Artinya, pemerintahan Timor-Leste secara resmi tidak mengakui sertifikat hak milik yang diterbitkan oleh Badan Pertanahan Nasional Indonesia yang dimiliki orang tua Yuda sebagai bukti kepemilikan atas tanah.

Bab III Penutup


3.1 Simpulan Pengadilan yang berwenang untuk memeriksa dan memutus gugatan adalah pengadilan Denpasar-Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI) karena sertifikat sebidang tanah dengan bukti SHM didaftarkan pada BPN Kota Dili-Pemerintahan NKRI. Teori Kualifikasi yang digunakan dalam menyelesaikan kasus tersebut adalah teori kualifikasi lex causae(Lex Fori yang diperluas) dan Kaedah hukum yang berlaku dalam menyelesaikan perkara tersebut adalah Kaedah Hukum Republik Demokratik Timor-Leste(RDTL) karena sebidang tanah tersebut sebagai benda tetap(tidak bergerak) terletak di daerah Negara Timor-Leste. Asas hukum yang digunakan adalah Lex Rei Sitae. Pasal 17 AB, Mengenai benda-benda yang tidak bergerak berlaku hukum dari tempat dimana benda-benda itu terletak. Mengenai status kepemilikan tanah yang dimiliki oleh orang tua Yuda adalah maka saat ini status tanah tersebut sudah diambil alih oleh pemerintah Timor Leste karena Orang Tua Yuda belum pernah menyampaikan data tentang kepemilikan tanah tersebut kepada pemerintahan Timor-Leste (Direktorat Pertanahan dan Harta Benda). Dasar hukumnya adalah Pasal 13 UU RDTL 1/2003 ayat (1),(2), dan (3) 3.2 Saran Seharusnya pemerintah NKRI membantu dalam hal penyelesaian kepemilikan tanah yang dimiliki oleh orang tua Yuda sebagai Warga Negara Indonesia(WNI), ia mengalami kerugian karena sebidang tanah yang dimilikinya diambil begitu saja oleh Pemerintah TimorLeste berdasarkan Pasal 13 UU RDTL 1/2003. Sebidang tanah tersebut diambil hanya karena orang tua Yuda belum pernah menyampaikan data tentang kepemillikan tanah tersebut kepada pemerintahan Timor Leste(Direktorat dan Harta Benda). Dibutuhkannya penyelesaian diluar pengadilan dalam menyelesaikan kasus ini.

Daftar Pustaka
Sudargo Gautama, 1979, Hukum Perdata Internasional, PT Alumni Bandung Bayu Seto Hardjowahono, 2006, Dasar-Dasar Hukum Perdata Internasional, Edisi keempat, PT Citra Aditya Bakti Bandung http://www.pu.go.id/Publik/IND/Produk/Kebijakan/Pemerintah/UU/uu_2003_001.pdf http://www.unmit.org