Anda di halaman 1dari 3

Banjir-banjiran bersama Nida Pada saat aku bersekolah di SMPN 43 Jakarta, Aku mempunyai banyak sahabat, salah satunya

yaitu Anida Sasha Soraya, dia biasa dipanggil Nida. Nida itu orangnya lucu, aneh, suka mengalah, lumayan pintar, baik, dan kadang ngeselin. Nida adalah salah satu sahabat terbaikku. Hampir setiap hari Aku dan Nida pulang sekolah bersama. Suatu hari pada saat Aku kelas VII, Aku dan Nida pulang sekolah bersama. Kami pulang sekolah sekitar pukul 13.00 WIB. Yah Nida, udah waktunya pulang sekolah. Bosen nih di rumah, kataku. Iya nih, jalan-jalan yuk Han, ajak Nida. Jalan-jalan kemana?, tanyaku. Hmm, kemana ya? Iseng-iseng nyari BS (bus sekolah) yuk, mau gak?, kata nida. Huh, kurang kerjaan. Tapi gak papa deh, daripada bosen di rumah, jawabku. Oke, kata Nida. Di sepanjang perjalanan dalam mencari Bus Sekolah, Aku dan Nida saling bercerita. Kami pun sudah berjalan lumayan jauh dari sekolah. Tetapi, tiba-tiba cuaca berubah menjadi mendung dan turun hujan yang sangat deras. Aku dan Nida memutuskan untuk berteduh di depan sebuah toko. Tetapi karena hujannya tidak kunjung reda, akhirnya Aku dan Nida memutuskan untuk pulang dengan naik bus 75. Setelah naik bus 75, kami pun turun dari bus dan segera berteduh di depan sebuah rumah karena hujannya masih sangat deras. Di samping rumah tersebut terdapat beberapa got. Karena hujannya sangat deras, lama-kelamaan air yang berada di dalam gotgot pun semakin naik, dan dari got-got tersebut keluar beberapa kecoa dan tikustikus. Ahh, Nida! Ada tikus!!, seruku. Dimana? Iiih menjijikan,kata Nida. Iih ada kecoa juga! Tikus dan kecoa-kecoa keluar dari got, gimana dong? tanyaku. Aah, gak tau. Gimana nih? kata Nida. Ayo deh jalan pulang ujan-ujanan aja, sebelum air banjirnya semakin tinggi, ajakku. Tapi hujannya tuh deres banget, kata Nida.

Udah gak papa. Liat tuh air banjirnya udah semakin tinggi, kataku. Oke yaudah deh, jawab Nida. Akhirnya Aku dan Nida memutuskan untuk pulang dengan melewati banjir yang airnya cukup deras dan setinggi pinggangku. Karena air banjir yang cukup deras dan tinggi, Aku dan Nida pun kelelahan. Tiba-tiba wajah Nida menjadi sangat pucat karena kelelahan. Aduh Hana, Aku udah gak kuat lagi, banjirnya deres banget, kata Nida. Ayo semangat, sedikit lagi udah mau nyampe di rumah kamu, kataku. Ketika Aku dan Nida sedang berjalan melewati banjir yang cukup deras, tibatiba ada seorang tukang bangunan yang berbicara kepada kami dari atap sebuah rumah. Dek, kasian tuh temen kamu, dia terlihat sudah sangat kelelahan, kata tukang bangunan. Iya, tolongin dia dong bang, kasian tuh, pintaku. Tukang bangunan itu pun tidak tega melihat Nida yang terlihat sangat pucat dan kelelahan, dia pun segera turun dari atap sebuah rumah dan menolong Nida dengan cara menggendong Nida. Nida digendong oleh tukang bangunan itu sampai ke tempat yang dangkal banjirnya. Aku pun sangat berterima kasih kepada tukang bangunan itu karena dia telah menolong sahabatku. Makasih ya pak, kataku. Iya sama-sama dek, hati-hati ya, kasian tuh temennya, kata tukang bangunan. Iya pak, kataku. Setelah itu, Aku dan Nida melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Nida. Baju sekolah dan tas kami basah semua. Di sepanjang perjalanan, Aku mengejek Nida sampai ia menjadi kesal. Ciie Nida digendong sama tukang bangunan, hahaha peace, ledekku. Iih Hana, orang lagi sengsara gini malah dikatain, tega banget dah, kata Nida. Haha, iya deh maaf-maaf, aku kan cuma bercanda, kataku. Gak lucu tau, kata Nida. Hahaha, iya maaf ya, kataku.

Setelah berjalan cukup lama, akhirnya kami pun sampai di rumah Nida. Setelah sampai, kami segera mandi dan mengganti pakaian, Aku meminjam pakaian milik Nida. Setelah itu, Aku pun pulang ke rumah dengan berjalan kaki dan diantar oleh Nida.