Anda di halaman 1dari 14

Efek Obat Pada Sistem Kardiovaskular

( Simulasi Komputer) I. Judul: Pengujian Efek Obat Pada Sistem Kardiovaskular

II. -

Tujuan: Memahami efek berbagai obat pada tekanan darah arterial Memahami efek berbagai obat pada kecepatan denyut jantung Memahami efek berbagai obat pada kekuatan kontraksi otot jantung

III.

Dasar Teori: Adrenoseptor dibagi menjadi dua tipe utama, yaitu reseptor dan reseptor .

Reseptor memperantarai efek eksitasi dari amina simpatomimetik, sementaraefek inhibisinya secara umum diperantarai oleh reseptor (kecuali pada otot polos usus, dimana stimulasi merupakan inhibisi dan pada jantung, dimana stimulasi merupakan eksitasi). Adrenoseptor tidak bersifat homogen, sebagai contoh norepinefrin merupakan stimulan yang efektif untuk reseptor pada jantung, tetapi hanya sedikit berpengaruh atau tidak berpengaruh sama sekali pada resptor yang memperantarai vasodilatasi. Obat-obat yang menghalangi pengikatan norepinefrin dan epinefrin (adrenalin) pada reseptornya di syaraf simpatis, khususnya reseptor disebut juga dengan blocker. Hal ini menghambat efek simpatik normal yang bertindak melalui reseptor tersebut. blocker bersifat mengurangi atau menghilangkan efek stimulasi pada reseptor beta oleh katekolamin (noradrenalin dan adrenalin) yang dihasilkan pada ujung postganglion saraf simpatik dan pada medula suprarenalis. Oleh karena itu blocker termasuk obat simpatolitik. blocker disebut juga dengan -adrenergic blocking agents. Pemakaian blocker dapat memperlambat atau menurunkan frekuensi denyut jantung, mengurangi kontraksi otot jantung, menurunkan kontraksi pembuluh darah di jantung, otak, serta dapat mengurangi produksi zat berbahaya yang dihasilkan oleh tubuh sebagai respon terhadap gagal jantung. blocker mengurangi produksi dari aqueous humor dalam mata dan oleh karenanya digunakan untuk mengurangi tekanan dalam mata yang disebabkan oleh glukoma. blocker dapat diberikan pada pasien dengan aritmia jantung, takikardia dan irama jantung yang tidak teratur, seperti denyut prematur ventrikel. Juga dapat digunakan untuk
1

mengobati angina karena dapat menurunkan kebutuhan oksigen otot jantung. Angina pectoris terjadi ketika kebutuhan jantung akan oksigen lebih besar dari pasokan yang tersedia. Betablocker juga digunakan untuk mencegah sakit kepala migrain dan beberapa golongan penyakit tremor. Berdasarkan dari jenis reseptor beta yang dihalangi dan efek yang ditimbulkan, betabloker dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu : 1. Non-selektif beta bloker cotohnya propanolol (Inderal), yang fungsinya menghalangi beta-1 dan beta-2 reseptor. Efek yang ditimbulkan akan mempengaruhi pernafasan. Diciptakan oleh Sir James W. Black pada akhir 1950-an, Propranolol merupakan beta bloker penggunaan klinis pertama, itu merevolusi pengelolaan medis angina pektoris dan dianggap sebagai salah satu kontribusi paling penting klinis Kedokteran dan farmakologi abad ke-20. 2. Selektif beta bloker contohnya metoprolol (Lopressor, Toprol XL) yang memiliki fungsi menghalangi beta-1 reseptor dan oleh karenanya kebanyakan mempengaruhi jantung dan tidak mempengaruhi saluran-saluran pernafasan. 3. Dan beberapa beta bloker contohnya pindolo (Visken) mempunyai Intrinsic Sympahtomimetic Activity (ISA), yang berarti meniru efek-efek dari epinefrin dan norepinefrin serta dapat menyebabkan peningkatan dalam tekanan darah dan denyut jantung. Beta-bloker dengan ISA mempunyai efek-efek yang lebih kecil pada denyut jantung daripada agen-agen yang tidak mempunyai ISA. 4. Labetalol dan carvedilol menghalangi beta dan alfa-1 reseptor. Menghalangi alfa reseptor menambah pada pembuluh darah efek yang melebarkan. jantung, pembuluh-pembuluh darah, dan saluran-saluran

Macam-macam beta-blocker Kardioselektif dengan sifat ISA : Practolol Tanpa sifat ISA : Metoprolol Atenolol Bevantolol Non-kardioselektif dengan sifat ISA : Oxprenolol Alprenolol
2

Pindolol Tanpa sifat ISA : Propanolol Timolol

Beta blocker bervariasi dalam hal kelarutan dalam lemak dan kardioselektifitasnya. Akan tetapi, kesemuanya memblok reseptor beta-1 dan sama efektifnya dalam menurunkan tekanan darah dan mencegah angina. Obat yang lebih larut lemak akan lebih cepat diabsorbsi dalam usus, lebih banyak mengalami metabolisme lintas pertama dalam hati, dan lebih cepat dieliminasi. Obat tersebut juga lebih mungkin menembus otak dan menyebabkan efek sentral (misalnya mimpi-mimpi buruk). Kardioselektifitasnya relatif dan berkurang dengan peningkatan dosis. Akan tetapi, blokade beta-1 selektif sendenrung menyebabkan vasokonstriksi perifer yang lebih ringan dan tidak mengurangi respons hipoglikemia yang diinduksi oleh olahraga. Obat kardioselektif bisa mempunyai aktifitas beta-2 yang cukup untuk mempresipitasi bronkospasme berat pada pasien asma dan mereka harus menghindari penggunaan beta bloker. Generasi pertama dari beta-blocker merupakan non-selektif beta-blocker, yang berarti bahwa mereka diblokir baik oleh 1 dan 2 adrenoseptor. Generasi kedua beta-blocker lebih cardioselective yang artinya relatif selektif untuk 1 adrenoseptor. Dengan catatan bahwa selektivitas relatif ini dapat hilang pada dosis obat yang lebih tinggi. Akhirnya, generasi ketiga beta-blocker adalah obat yang juga memiliki tindakan vasodilator melalui blokade pembuluh darah alpha-adrenoseptor. Mekanisme kerja blocker tidak dimengerti dengan jelas. Yang sekarang diketahui adalah obat ini menyebabkan penurunan curah jantung, dengan refleks baroreseptor tidak mengompensasi secara penuh, dan kemudian reseptor barorefleks ini diatur kembali, dan dengan demikian resistensi perifer turun. Hipotesis lainnya adalah obat blocker memiliki efek sentral, yang mengubah tonus simpatis atau dengan menghambat pelepasan renin dari ginjal. Efek samping dari beta-bloker dapat mencakup, antara lain: 1. Bronko spasme, beta-bloker non-kardioselektif dan tanpa mengandung sifat AIS sering menyebabkan spasme bronkhus pasa pasien dengan riwayat asma bronkial atau penyakit paru-paru kronik.
3

2. Bradikardi, semua beta-bloker terutama yang tidak mengandung sifat AIS menyebabkan penurunan denyut jantung kira-kira 10-15%. 3. Payah jantung, beta-bloker non-kardioselektif dan tanpa mengandung AIS dapat menyebabkan payah jantung pada pasien yang sudah menderita gangguan faal jantung. 4. Gangguan susunan saraf pusat, beta-bloker yang larut lemak seperti propanolol dapat menyebabkan gangguan susunan saraf pusat seperti agitasi, insomnia, dan depresi 5. Gangguan saluran pencernaan, semua beta-bloker menyebabkan iritasi lambung, diare atau konstipasi pada pasien tertentu, indvidual.

Peranan Ang II dimediasi terutama pada area reseptor transmembran dua tujuh yang dikenal dengan AT1 dan AT2, dengan pola pengaturan dan fungsi yang komplek. Subtipe AT1 dan AT2 menunjukkan ciri yang sama tetapi struktur genomic dan lokasinya berbeda dalam regulasi dan ekspresi jaringan spesifik. 19 Reseptor AT1 memediasi peran Ang II sebagai vasokonstriktor dan pelepasan aldosteron, sedangkan peran reseptor AT2 masih menjadi pertanyaan. AT2 diperkirakan memiliki fungsi pada perkembangan prenatal, sedangkan pada orang dewasa AT2 berperan dalam menyeimbangkan efek AT1 seperti proliferasi sel, peran lain AT2 terutama dalam pengaturan pertumbuhan, diferensiasi, dan regresi jaringan syaraf. 20 Reseptor AT4 merupakan pengikat dengan spesifisitas tinggi dari heksapeptida Ang IV. Reseptor AT4 ini terdapat pada jantung, otot polos pembuluh darah, ginjal, kolon, kelenjar adrenal, prostat.

IV.

Bahan dan Alat Hewan: Tikus Alat: Ventilator, kanula, transducer, recorder.

V.

Cara penggunaan Simulasi 1. Klik Options kemudian pilih Display Channels. Pilih Arterial Blood Pressure (ARP) Heart Contractile Force (HCF) Heart Rate (HR) 2. Mulailah dengan tombol Start untuk menggambar grafik sebelum perlakuan obat. Hentikan grafik setelah tergambar sepanjang 1 kotak dengan klik Stop.

3. Pilihlah obat pada Standard Drugs sesuai yang ditentukan oleh asisten beserta dosisnya. Buatlah grafik sepanjang 1 kotak untuk setiap perlakuan dosis obat dengan klik Start dan Stop. 4. Setelah mendapatkan grafik dari berbagai dosis obat, mulailah mencatat hasilnya ke dalam tabel. Ambillah puncat grafik sebagai data.

VI.

HASIL PENGAMATAN EFEK OBAT KARDIOVASKULAR

Obat Adrenaline

dosis Normal 10 20 50 100 Noradrenaline Normal 10 50 100 500 isoprenaline Normal 10 20 50 100 Phenyleprine Normal 10 50 100 500

ABP 122,4 128,4 134,3 128,4 113,4 122,4 146,4 173,1 176,1 149,3 122,4 113,4 104,5 104,5 104,5 122,4 122,4 194,0 200 >200

LVP 119.4 128,4 137,3 122,4 110,4 119.4 149,3 170,1 173,1 161,2 119.4 101,5 107,5 107,5 101,5 119.4 134,3 194,0 194,0 >200

VBP 10,4 13,1 14,9 15,8 16,4 10,4 10,7 11,3 12,2 14,3 10,4 12,5 13,1 13,1 13,7 10,4 10,7 10,4 10,4 11,3

HF 10,4 13,1 15,2 17,9 17,3 10,4 10,7 12,2 13,7 18,8 10,4 16,7 17,0 19,1 18,2 10,4 9,9 8,7 8,7 8,7

HR 425,2 558,2 606,8 679,1 679,1 425,2 425,2 437,3 425,2 703,3 425,2 654,9 703,3 739,6 739,6 425,2 425,2 364,8 195,5 195,5

Milrinone No 1. 2. 3. 4. Dosis (mg/ kg BB) 1 10 100 1000 ABP 110,4 116,4 95,5 86,6 HCF 9 11 15,5 17 HR 389 413,1 425,2 449,4

500 400 Respon 300 ABP 200 100 0 1 mg/ kg 10 mg/kg Dosis 100 mg/kg 1000 mg/kg HCF HR

NO 1.

Nama Obat Adenosin

2.

Propanolol

3.

Atenolol

Dosis (mg/kg) 0,1 0,2 0,5 1 2 5 10 20 50 100 Kontrol 0,1 0,2 0,5 1 2 5 10 20 50 100 Kontrol 1 2 5 10 20 50 100 200 500 1000

ABP (mg/kg) 110,4 116,4 107,5 95,5 83,7 67,3 59,2 59,2 55,1 53,1 134,3 146,9 120,4 118,4 118,4 118,4 116,3 114,3 116,3 112,2 114,3 134,3 136,7 122,4 124,5 116,3 118,4 116,3 116,3 114,3 112,2 114,3

hCf hf 9 9 9,3 8,7 7,6 5,3 4,3 3,9 3,7 2,9 9 9,6 8,8 8,6 8,4 7,8 7,1 7,6 7,3 7,3 7,3 9 9,2 9 8,6 8,6 8,4 7,8 7,6 7,3 7,3 7,6

HR (bpm) 413,1 401,0 437,3 38,9 370,2 287,6 196,6 130,5 97,4 89,2 413,1 436,3 396,7 386,6 374,3 370,2 361,9 353,3 361,9 361,9 361,9 413,1 428,1 403,3 395,0 378,5 378,5 370,2 370,2 370,2 361,9 361,9 6

4.

Atropin

Kontrol 0,1 0,2 0,5 1 2 5 10 Kontrol

134,3 136,7 128,6 144,9 153,1 153,1 151,0 157,1 134,3

9 9,4 9,2 9,4 9,6 9,4 9,0 9,2 9

413,1 419,8 419,8 428,1 428,1 428,1 428,1 428,1 413,1

15. Phentanolamine Dosis(mg/KgBB) 0,01 0,10 1,00 10,00


600 500 400 300 200 100 0 1 10 100 1000 Dosis Phentanolamine HR (BPM) HCF ABP (mmHg)

ABP (mmHg) 119,4 134,3 137,3 128,4

HCF 9,3 9,6 9,6 9,9

HR (BPM) 413,1 425,2 437,3 437,3

16. Prazosin Dosis ABP (mg/KgBB) (mmHg) 0,01 119,4 0,10 131,3 1,00 131,3 10,00 129,0 HCF 9,3 9,2 9,5 9,5 HR (BPM) 406,4 429,1 436,6 436,6

600 500 400 300 200 100 0 1 10 100 1000 Dosis Prazozsn HR (BPM) HCF ABP (mmHg)

17. L-ANORG Dosis (mg/KgBB) 1,00 10,00 100 1000 ABP (mmHg) 127,1 158,9 177,6 177,6 HCF 9,2 9,2 9,0 9,0 HR (BPM) 398,8 398,8 224,7 217,1

1800 1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 1 10 100 1000 Dosis L-ANORG

Series4 HR (BPM) HCF ABP(mmHg)

18. 8-s-p-theophylline Dosis (mg/KgBB) 0,10 1,00 10,00 100 ABP (mmHg) 119,6 119,6 123,4 123,4 HCF 9,2 9,2 9,2 9,2 HR (BPM) 406,4 406,4 406,4 406,4

600 500 400 300 200 100 0 0.1 1 10 100 Dosis 8-s-p-theophylline HR(BPM) HCF ABP (mmHg)

Captopril No 1. 2. 3. 4. Dosis (mg/ kg BB) 1 10 100 1000 ABP 110,4 119,4 116,4 107,5 HCF 8,7 8,4 8,4 8,4 HR 389 401 401 413,1

450 400 350 300 250 200 150 100 50 0 1 mg/ kg 10 mg/kg Dosis 100 mg/kg 1000 mg/kg

Respon

ABP HCF HR

Losartan

No 1. 2. 3. 4.

Dosis (mg/ kg BB) 1 10 100 1000

ABP 134,3 113,4 101,5 101,5

HCF 8,7 9 9 9

HR 389 413,1 413,1 413,1

450 400 350 300 250 200 150 100 50 0 1 mg/ kg 10 mg/kg Dosis 100 mg/kg 1000 mg/kg

Respon

ABP HCF HR

Glibenklamid

No 1. 2. 3. 4.

Dosis (mg/ kg BB) 0,1 1 10 100

ABP 113,4 113,4 113,4 113,4

HCF 8,4 8,4 8,4 8,7

HR 376,9 376,9 376,9 376,9

400 350 300 Respon 250 200 150 100 50 0 1 mg/ kg 10 mg/kg Dosis 100 mg/kg 1000 mg/kg ABP HCF HR

Verapamil

No 1. 2. 3. 4.

Dosis (mg/ kg BB) 0,1 1 10 100

ABP 116,4 101,5 56,7 20,9

HCF 8,1 6,6 2,7 0,6

HR 364,8 316,4 243,9 86,7

10

400 350 300 Respon 250 200 150 100 50 0 1 mg/ kg 10 mg/kg Dosis 100 mg/kg 1000 mg/kg ABP HCF HR

VII.

Pembahasan

Pada percobaan kardiovaskular menggunakan hewan coba tikus (simulasi komputer). pada grafik kontrol yaitu tikus belum diberi perlakuan (obat) terlihat harga ABP (arterial blood pressure) sebesar 132,7 mmHg, HCF ( heart contractile force) sebesar 9,0 dan HR (heart rate) sebesar 419,8 kemudian tikus diberi perlakuan yaitu dengan diberikan obat prazosin dosis 0,01 ; 0,0 ; 0,1 ; 0,2 ; 0,5 ; 1,0 ; 2,0 ;5,0 dan 10,0 mg/kgBB. dari grafik dapat terlihat bahwa semakin tinggi dosis obat yang diberikan maka ABP dan HR semakin kecil, sedangkan HCF semakin besar. semakin tinggi HCF maka semakin tinggi tekanan darahitu dikarenakan prazosin dapat menghambat ABP dan HR. Pada saat pemberian obat L-NOARG dengan dosis 1,00 ; 2,00 ; 5,00 ;10,0 ; 20,0 ; 50,0 ; 100,0 ; 200,0 ; 500,0 ;dan 1000,0 mg/kgBB. Dari grafik dapat terlihat semakin tinggi dosis yang diberikan maka ABP semakin meningkat HCF dan HR semaking menurun. hal itu disebabkan karena L-NOARG bekerja menghambat No sintase yang langsung memblokir kerja cGMP sehingga tidak terjadi peningkatan tekanan darah. Pada pemberian obat 8-5-p-theophyllin dengan dosis 1,1 ; 0,2 ; 0,5 ; 1,00 ; 2,0 ; 5,0 ; 10,0 ; 20,0 ;50,0 dan 100,0 mg/kgBB dari grafik dapat terlihat bahwa semakin besar dosis yang diberikan besarnya ABP tetap besarnya HCF meningkat dan besarnya HF menurun hal itu mungkin disebabkan karena theofillin mempunyai efek samping yaitu dapat meningkatkan heart rate hal tersebut dapat meningkatkan tekanan darah.pada pemberian obat verapamil dengan dosis 1,1 ; 1,2 ; 1,5 ; 1,00 ; 2,0 ; 5,0 ;10,0 ; 20,0 mg/kgBB dari grafik dapat terlihat bahwa semakin tinggi dosis yang diberikan maka harga ABP, HCF dan HR semakin menurun hal itu mungkin disebabkan karena verapamil bekerja dengan menekan potensial aksi Ca++ dependent dan perlambatan konduksi di nodus AV.verapamil juga menyekat kanal Ca++ di membran otot polos dan otot jantung sehinggga menurunkan tekanan darah. Isoproterenol, melalui aktivasi reseptor 2 menimbulkan relaksasi hampir semua jenis otot polos. Efek ini jelas terlihat bila tonus otot tinggi dan paling jelas pada otot polos bronkus dan saluran cerna. Isoprenaline bekerja sebagai antagonis fisiologik dalam mencegah atau mengurangi bronkokonstriksi yang disebabkan oleh obat atau pada asma bronchial,
11

tetapi toleransi terhadap efek ini timbul bila obat digunakan secara berlebihan. Pada asma, selain menimbulkan bronkodilatasi, isoprenaline juga menghambat penglepasan histamine dan mediator-mediator inflamasi lainnya akibat reaksi antigen-antibodi, efek ini juga dimiliki oleh 2-agonis yang selektif. Isoprenaline mengurangi tonus dan motilitas otot polos usus., dan menghambat motilitas uterus. Efek hiperglikemik isoprenaline lebih lemah dibandingkan dengan epinefrin, antara lain karena obat ini menyebabkan sekresi insulin melalui aktivasi reseptor 2 pada sel-sel beta pancreas. Isoprenaline lebih kuat dari epinefrin dalam menimbulkan efek penglepasan asam lemak bebas dan efek kalorigenik. Fenilferin adalah agonis adrenergic kebanyakan digunakan sebagai dekongestan, sebagai agen untuk melebarkan pupil dan meningkatkan tekanan darah. Fenilefrin (amina) terjadi sebagai pahit, tidak berbau, Kristal putih dengan titik leleh 145-146oC. Hal ini mudah larut dalam air dan alcohol. Pada pemberian oral, fenilefrin dengan cepat dimetabolisme oleh hati, dan efek dari obat juga diakhiri oleh penyerapan ke dalam jaringan. Fenilefrin didominasi pasca-sinaptik alfa-adrenergik pada dosis terapeutik. Pada dosis tinggi, efek beta juga dapat terjadi. Fenilefrin pada rute intravena penyebab vasokonstriksi perifer mengakibatkan peningkatan sistolik diastolic dan tekanan darah, sedikit penurunan curah jantung dan peningkatan waktu sirkulasi. Efek alpha yang dapat menyebabkan kontraksi rahim dan penyempitan pembuluh darah uterus. Susunan saraf parasimpatis disebut sebagai syaraf kolinergik karena bila dirangsang ujung sarafnya akan melepaskan asetilkolin (Ach). Dan Efek asetilkolin ini adalah: Jantung: Denyut diperlambat, Arteri koronari: Kontriksi, Tekanan darah: Turun, Pupil mata: Kontriksi, S.P.M: Peristaltik bertambah. Tekanan darah arteri setalah injeksi asetilkolin mengalami penurunan yang signifikan, teteapi pada dosis 500g/kg. Sedangkan pada HCF mengalami penurunan. Selain itu, ritme jantung mengalami penurunan. Gliserin trinitrat hanya mendilatasi vena dan dengan demikian hanya menurunkan preload jantung. Pada pasien gagal jantung, obat ini digunakan untuk pengobatan gagal jantung kiri akibat iskemia miokard akut, gagal jantung kiri noniskemik yang memerlukan penurunan preload dengan cepat, dan pada pasien dengan overload cairan yang simtomatik dan belum mencapai diuresis yang cukup. Pada kecepatan infus yang lebih tinggi, obat ini juga mendilatasi arteri sehingga menurunkan afterload jantung. Tekanan darah arteri setalah injeksi gliseril trinitrat mengalami tetap stabil. Sedangkan pada HCF mengalami penurunan. Selain itu, ritme jantung juga tetap stabil. Pada Milrinone dengan berbagai dosis terlihat harga ABP (arterial blood pressure) terus menurun dika diberi dosis yang lebih besar namun pada dosis 1000mg/KgBB harga ABP meningkat, kemudian diketahui bahwa harga HF ( heart contractile force) dan harga HR (heart rate) terus meningkat. Hal ini disebabkan karena Milrinone bekerja dengan cara mengendurkan otot dalam pembuluh darah untuk membantunya melebar,sehingga tekanan darah berkurang dan membiarkan darah mengalir dengan lebih mudah melalui pembuluh vena dan arteri,dan Milrinon juga menghambat degradasi cAMP.
12

Pada Adenosin dengan berbagai dosis terlihat harga ABP (arterial blood pressure) ,harga HF ( heart contractile force) dan harga HR (heart rate) semuanya menurun saat diberi dosis yang lebih besar. Penurunan ini diakibatkan karena obat ini merupakan neurotransmitter yang efeknya mengurangkan aktivitas sel terutama sel saraf dan adenosine ini juga berfungsi untuk mengurangkan kadar ledakan neuron selain menghambat transmisi simpatik dan pelepasan neurotransmitter. Obat propanolol, pada grafik yang tercantum menunjukkan, bahwa semakin meningkatnya dosis propanolol maka ABP atau Arterial Blood Pressure (mmHg) juga semakin menurun, HCF (Heart Contractile Force) juga mengalami penurunan ketika dosis semakin meningkat dan pada dosis tinggi frekuensi detak jantung juga semakin menurun, hal ini mungkin disebabkan karena fungsi dari propanolol sendiri sebagai obat antihipertensi yang dapat menurunkan tekanan darah dan juga mekanisme kerjanya sebagai antagonis-adrenergik atau Blocker yang dapat menurunkan adrenoreseptor pada jantung yang menyebabkan penurunan curah jantung dan curah perifer sehingga dapat menurunkan renin dan tekanan darah. Pada grafik obat atenolol menunjukkan penurunan grafik yang sama seperti propanolol, hal ini disebabkan karena mekanisme kerja dan golongan obat atenolol sama dengan propanolol, sehingga penyebab penurunan ABP, HCF , dan HR juga disebabkan karena atenolol merupakan antihipertensi golongan blocker. Pada grafik obat atropin semakin meningkat dosis yang diberikan, maka semakin tinggi juga HR atau heart rate hal ini disebabkan karena atropi merupakan golongan obat antikolinergik, dimana antikolinergik juga dapat meningkatkan frekuensi denyut jantung tetapi pada dosis yang semakin meningkat akan menurunkan detak jantung, hal tersebut mungkin disebabkan karena terjadinya over dosis atropin yang diberikan ke tikus. Dari grafik phentolamine adanya kurva yang naik turun pada ABP, dan mennujukkan titik maksimal pada dosis 5 mg, hal ini berarti jika dosis < 5 mg dapat meningkatkan tekanan darah arteri sedangkan yang dapat menurunkan tekanan darah arteri yang paling signifikan adalah pada dosis 5-10 mg. Pada grafik HR terjadinya penurunan detak jantung dengan adanya peningkatan dosis, jadi semakin meningkkat dosisnya maka semakin rendah detak jantungnya, dan detak jantung relatif normal pada pemberian dosis 0,5-2 mg phentolamine. Phentolamine merupakan antihipertensi golongan blocker tetapi dari grafik diatas dapat disimpulkan bahwa phentolamine dapat berfungsi sebagai antihipertensi yang efektif pada dosis 5 dan 10 mg. Pengaruh peningkatan dosis captopril terhadap ABR menunjukan bahwa semakin meningkatnya dosis obat captopril menyebabkan meningkatnya angka ABP tetapi pada kenaikan dosis yang signifikan pada dosis 100mg dan 200mg angka ABP mengalami penurunan. Hal ini mungkin dikarenakan karena pada dosis rendah hipertensi tidak turun sehingga ABP juga meningkat tetapi dengan bertambahnya dosis dan menurunnya tekanan darah, ABP juga menurun. Pada kurva dosis vs CHF menunjukan bahwa meningkatnya dosis juga berpengaruh pada penurunan CHF hal ini mungkin disebabkan karena obat golongan ACE inhibitor membanti meningkatkan COP dan menurunkan kerja jantung. Pada kurva
13

dosis vs HR menunjukan bahwa peningkatan dosis juga mempengaruhi peningkatan harga HR, tetapi pada dosis 100mg dan 200mg menurunkan harga HR. Pada pemberian losartan uji yang kita lakukan dapat kita lihat hubungan kenaikan dosis dengan ABP, HCF , dan HR. pada saat terjadi kenaikan dimana terdapat penurunan angka ABP hal ini disebabkan karena dengan pemberian obat hipertensi tertentu yang dapat menurunkan tekanan darah seperti yang dijelaskan pada dasar teori dimana losartan selektif dan kompetitif bekerja terhadap subtipe reseptor AT1, sehingga efek Angiotensin II terhambat, dengan demikian akan menyebabkan terjadiya penurunan tekanan darah. Maka juga berpengaruh dengan penurunan angka ABP. Pada uji antar kenaikan dosis dengan HCF ini dapat dilihat bahwa semakin tinggi dosis semakin rendah angka HCF hal ini mungkin dikarenakan bahwa semakin tingi dosis obat hipertensi yang digunakan untuk menurunkan darah maka angka HCF akan semakin rendah. Pemberian dosis obat glibenclamid 0.1,0.2,0.3 akan menyebabkan penurunan pada ABP, tetapi terjadi kenaikan pada dosis 0.5mg dan pada dosis 1mg dan 2mg terjadi penurunan kembali nilai ABP hal ini mungkin dapat disebabkan karena glibenclamid yang dapat menurunkan kadar gula darah, dan penurunan gula darah ini berpengaruh terhadap penurunan angka ABP. Selain pada ABP kenaikan dosis juga berpengaruh pada nilai HF dan HR dimana semakin tinggi dosis obat glibenclamid yang diberikan semakin rendah nilai HF dan nilai HR dari obat glibenclamid.

VIII. Daftar Pustaka

Neal, Michael J, 2006, Medical Pharmacology at a Glance Edisi V, Erlangga, Jakarta Prawirakusumah, Abidin A. dr., 1980, Penggunaan Beta-Bloker Pada Pasien Kardiovaskuler, Cermin Dunia Kedokteran, Pusat Penelitian dan Pengembangan PT. Kalbe Farma, Jakarta. Sukandar, Enday. dr., 1980, Hipertensi Esensial: Petogenesa, Patofisiologi & Peranan BetaBlocker, Cermin Dunia Kedokteran, Pusat Penelitian dan Pengembangan PT. Kalbe Farma, Jakarta

14

Anda mungkin juga menyukai