Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang

Seiring dengan perkembangan zaman, program pembangunan kesehatan terus diupayakan peningkatannya menuju Indonesia Sehat 2010. Dalam hal ini, bukan hanya kesehatan umum saja tetapi kesehatan gigi juga merupakan bagian integral dari pembangunan kesehatan yang tidak dapat diabaikan. Masalah di bidang kesehatan gigi yang paling umum selain karies gigi adalah penyakit periodontal yang merupakan penyakit gigi dan mulut kedua terbanyak diderita masyarakat Indonesia yaitu sekitar 70% dan sebesar 4 5% menderita penyakit periodontal lanjut (Destri, 2006). Pada setiap penyakit periodontal yang ada, senantiasa ditemukan adanya poket periodontal yaitu sulkus gingiva yang bertambah dalam secara patologis. Pada perawatan penyakit periodontal, poket ini harus diirigasi untuk meminimalisasi mikroorganisme patogen yang terdapat di dalamnya. Bahan irigasi yang umum digunakan adalah hidrogen peroksida. Walaupun hidrogen peroksida telah umum digunakan untuk menghambat mikroorganisme patogen pada poket periodontal, namun kecenderungan masyarakat menggunakan bahan-bahan alami telah mencetuskan ide untuk mengangkat bahan tradisional di Indonesia menjadi alternatif pengganti hidrogen peroksida sebagai bahan irigasi poket periodontal. Bahan tradisional yang dimaksud adalah akar rumput belulang (Eleusine indica L. Gaertn). Rumput ini tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, namun masih terbatas pemanfaatannya, Setelah diteliti, akar rumput belulang ternyata mengandung bahan penghambat mikroorganisme patogen. Jika

dikaitkan dengan keberadaan bakteri patogen dalam poket periodontal, tentu dapat ditarik benang merah. Akar rumput belulang berpotensi untuk diolah menjadi ekstrak yang kandungannya dapat menghambat pertumbuhan bakteri poket periodontal. Berdasarkan hal ini, maka patutlah pemanfaatan rumput belulang mendapat perhatian dalam bidang kesehatan, khususnya dalam bidang kesehatan gigi dan mulut. I.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimanakah pemanfaatan larutan ekstrak akar rumput belulang (Eleusine indica L. Gaertn) sebagai bahan irigasi poket pada penyakit periodontal? I.3 Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, penulisan karya ilmiah ini bertujuan sebagai berikut: 1. Menjelaskan pemanfaatan larutan ekstrak akar rumput belulang (Eleusine indica L. Gaertn) sebagai bahan irigasi poket pada penyakit periodontal. I.4 Manfaat Penulisan Karya tulis yang berjudul Larutan Ekstrak Akar Rumput Belulang sebagai Bahan Irigasi Poket pada Penyakit Periodontal diharapkan: 1. Manfaat praktis, sebagai salah satu sumber informasi bagi masyarakat luas mengenai pemanfaatan ekstrak akar rumput belulang sehingga menjadi inspirasi untuk memanfaatkan sumber daya local yang memiliki daya saing tinggi.

2.

Manfaat ilmiah, diharapkan karya tulis ini dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dan merupakan bahan bacaan bagi mahasiswa kedokteran, mahasiswa farmasi, apoteker, dan dokter bahwa ekstrak akar rumput belulang dapat dimanfaatkan sebagai bahan irigasi pengobatan penyakit periodontal.

3.

Manfaat bagi penulis, sebagai media dalam menambah wawasan dan pengetahuan tentang irigasi penyakit periodontal.

4.

Manfaat klinis, larutan ekstrak akar eumput belulang dapat menjadi alternatif bahan irigasi poket periodontal yang murah dan efisien dalam penggunaanya di klinik dokter gigi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Tinjauan Umum mengenai Rumput Belulang (Eleusine indica L. Gaertn) Rumput belulang (Eleusine indica L. Gaertn) suku Graminae, tumbuh liar sebagai gulma. Bulirnya mengandung protein, lemak dan mineral yang lebih tinggi dibanding nasi atau jagung. Tepung biji dibuat semacam roti atau kue. (Arief, 2008). II.1.1 Taksonomi Rumput Belulang Taksonomi rumput belulang adalah sebagai berikut: Tabel 1. Taksonomi Eleusine indica L. Gaertn
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Taksonomi Kingdom Subkingdom Superdivisio Divisio Kelas Sub-kelas Ordo Familia Genus Spesies Nama Plantae (tumbuhan) Tracheobionta (berpembuluh) Spermatophyta (menghasilkan biji) Magnoliophyta (berbunga) Liliopsida (berkeping satu / monokotil) Commelinidae Poales Poaceae (suku rumput-rumputan) Eleusine Eleusine indica L. Gaertn

Sumber: http://www.plantamor.com/spcdetail.php/

II.1.2 Anatomi Rumput Belulang Rumput belulang memiliki bagian-bagian fungsional yang saling mendukung satu sama lain. Bagian-bagian tersebut antara lain akar, batang, daun, dan bunga (Kangwoko, 2008)

Gambar 1 : Anatomi Umum Rumput Belulang Sumber : http://www.aluka.org/action/showCompilationPage

Batang berbentuk cekungan yang terbentang, menempel pipih, bergaris, dan umumnya bercabang. Tinggi batang 0,1 0,9 m (Van Steenis, 2008). Daun Eleusine indica berwarna hijau tua dan sempit. Ukuran daunnya sampai inci. Pelepahnya berwarna hijau terang

dan menempel kuat berlunas (The Pennsylvania State University, 2006). Bunga majemuk, tersusun dari 5 12 bulir, terletak di ujung batang, merekat kuat dalam satuan bulir, berwarna hijau (Smecda, 2007). Rumput belulang berakar serabut dan berwarna coklat muda. Akar rumput belulang ini juga mengandung saponin, tanin, alkaloid, dan sterol atau terpen (Smecda, 2007).

Gambar 2 : Akar Rumput Belulang Sumber : www.turfgrassmanagement.psu.edu/weedmgmt.cfm

II.1.3 Kandungan Akar Rumput Belulang (Eleusine indica L. Gaertn) sebagai Antimikroba Akar rumput belulang mengandung senyawa golongan saponin, tanin, alkaloida, polifenol, dan sterol atau terpen. Saponin dilaporkan dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab penyakit. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa zat kandungan dominan yang diduga memiliki sifat antibakteri adalah indolalkaloid dan saponin (Pusat Penelitian Obat Tradisional, 2008). Tanin adalah salah satu zat aktif dari tanaman yang sudah diisolasi adalah tanin atau asam tanat. Tanin biasanya mengandung H2O 10%. Efek fisiologis dan efek farmakologis tanin disebabkan oleh kemampuannya untuk membentuk kompleks, baik dengan protein maupun polisakarida (Mahtuti, 2007). Alkaloid adalah bahan organik yang mengandung nitrogen sebagai bagian dari sistem heterosiklik. Beberapa penelitian telah menelaah korelasi kandungan alkaloid pada tanaman terhadap pertumbuhan bakteri patogen penyakit periodontal di dalam mulut. Contoh kedua tanaman itu adalah daun sirih merah dan kayu siwak. Perlakuan eksperimental membuktikan ekstrak daun sirih merah dapat digunakan sebagai antimikroba (Pkesinteraktif, 2008). Polifenol adalah asam fenolik. Polifenol banyak ditemukan dalam buah-buahan, sayuran serta biji-bijian. Khasiat dari polifenol adalah antimikroba dan menurunkan kadar gula darah (Arnelia, 2008). Polifenol memiliki sifat antioksidan lebih baik dibandingkan vitaminvitamin dan menjadi obyek yang menarik perhatian para ahli nutrisi, epidemiologi, perusahaan agraria dan konsumen pada dekade terakhir ini (NFA, 2007).

Sterol atau terpen aktif terhadap bakteri, fungi, virus, dan protozoa (Arnelia, 2008). Fito-sterol berperan menghambat penyerapan kolesterol sehingga dapat menurunkan penyerapan kolesterol total. Sumber utama fito-sterol adalah biji-bijian dan minyak nabati (Arnelia, 2008).

II.2

Tinjauan Umum mengenai Jaringan Periodontal Penyakit periodontal erupakan penyebab utama tanggalnya gigi pada orang dewasa yang disebabkan infeksi bakteri dan menimbulkan kerusakan gusi, serat perekat dan tulang di sekitar gigi. Penyebab utamanya adalah plak. Umumnya tidak menimbulkan rasa sakit. Kunjungan berkala ke dokter gigi sangat berarti untuk mendapatkan diagnosa dini dan perawatan penyakit periodontal. Kira-kira 15% orang dewasa usia 21 50 tahun dan 30% usia di atas 50 tahun mengalami penyakit ini (Melinda, 2009). II.2.1 Bagian-Bagian Jaringan Periodontal Jaringan periodontal terdiri dari ginggiva, ligament periodontal, tulang alveolar dan sementum, merupakan suatu kesatuan yang secara bersama-sama dengan komponen-komponennya berfungsi menjadi tempat tertanamnya gigi dan mendukung gigi itu sendiri. Setiap bagian jaringan periodontal tersebut, memiliki fungsi yang berbeda (Barus, 2007).

Gambar 3 : Jaringan Periodontal Sumber : http://www.studiodentaire.com/images/en/periodontal

II.2.2 Penyakit Periodontal Penyakit periodontal merupakan sekumpulan kondisi

peradanganatau inflamasi jaringan periodontal (periodonsium) yang disebabkan oleh bakteri (Jeni, 2009) Proses terjadinya penyakit periodontal adalah sebagai berikut : 1. Pada jaringan mulut yang sehat, terdapat suatu celah normal di sekitar gigi yang dikenal dengan nama sulkus. Kedalamannya antara 1 3 mm (Khoslas Dental Centre, 2008). 2. Gingiva mulai bengkak diakibatkan akumulasi plak. Belum ada tulang yang rusak, namun kedalaman sulkus telah bertambah menjadi 3 5 mm. Keadaan ini dapat disembuhkan dengan perawatan rutin (Khoslas Dental Centre, 2008). 3. Kalkulus menyebar sampai ke akar gigi dan menginfeksi tulang alveolar. Sulkus telah berubah menjadi poket dengan kedalaman 5 mm. Perawatan sesuai dapat mencegah kerusakan lebih lanjut (Khoslas Dental Centre, 2008). 4. Kalkulus mengakibatkan kerusakan dan inflamasi yang dapat menghancurkan struktur-struktur pendukung gigi. Kedalaman poket telah mencapai 8 mm dan dapat mengarah pada kehilangan gigi (Khoslas Dental Centre, 2008).

Gambar 4 : Proses Terjadinya Penyakit Periodontal Sumber : http://www.geocities.com/drkhosla1/Images/advperio.jpg

II.2.3 Poket Periodontal Poket periodontal adalah adalah sulcus gingiva yang mengalami pendalaman secara patologis. Sehingga merupakan gambaran klinis yang khas dari penyakit periodontal. Pembentukan poket yang progressif yang menyebabkan destruksi jaringan periodontal pendukung dan kehilangan serta ekspoliasi gigi (Sandira, 2009). Klasifikasi berdasarkan morfologi dan hubungan dengan struktur terdekatdibagi atas 2, yaitu (Sandira, 2009): 1. Ginggival poket / relative poket / false poket / pseudo poket, dimana poket dibentuk oleh pembesaran ginggiva dan tidak terjadi kerusakan jaringan di bawahnya. Sulcus ginggiva menjadi dalam karena bertambanhnya ukuran ginggiva. 2. Absolute poket / true poket adalah poket yang terjadi karena kerusakan jaringan periodontal pendukung. Klasifikasi berdasarkan jumlahh permukaan yang terkena, dibagi atas (Sandira, 2009): 1. Simple poket, dimana hanya mengenai permukaan gigi 2. Compound poket, yaitu poket yang hanya mengenai 1 atau lebih permukaan gigi, dimana besar poket berhubungan langsung dengan marginal ginggiva masing-masing permukaan yang terkena poket : bukal, dista, mesial, lingual pada satu gigi. 3. Complex poket / spiral poket / multiple poket, spiral yang berasal dari satu permukaan gigi dan sekeliling gigi meliputi satu atau lebih permukaan tambahan. Hubungannya dengan permukaan ginggiva adalah pada permukaan ginggiva dimana dasar poket tersebut berada Poket periodontal mengandung debris yang pada dasarnya terdiri dari mikroorganisme dan produk-produknya (enzim, endotoksin dan

produk metabolisme yang lainnya), plak gigi, cairan gingiva, sisa makanan, saliva dan epitel berdesquamasi serta leukosit . Plak yang ditutupi kalkulus biasanya merupakan proyeksi dari permukaan gigi . jika exudat purulen muncul maka dia mengandung lekosit yang hidup yang mengalami degenerasi dan nekrotik (dominan PMN); bakteri yang hidup dan mati, serum dan sejumlah kecil fibrin.

Kandungan poket periodontal yang di filtrasi bebas dari mikroorganisme dan debris yang telah terbukti toksik jika diinfeksi secara sub kutan kedalam binatang percobaan (Sandira, 2009). II.2.4 Irigasi Periodontal Penyakit periodontal merupakan penyakit infeksi dengan etiologi utama mikroorganisme patogen. Pada saku yang dalam (5 mm) tindakan skeling dan penyerutan akar saja gagal untuk menyingkirkan plak dan kalkulus, oleh karena itu bahan antimikroba dapat digunakan sebagai penunjang perawatan periodontal untuk mengeliminasi bakteri patogen yang tidak dapat disingkirkan oleh tindakan skeling dan penyerutan akar saja. Agar antimikroba dapat efektif dan bermanfaat secara klinis, antimikroba harus dapat mencapai dasar saku (Novrina, 2009). Sistem pemberian obatlantibiotika secara lokal di bidang

periodontik dapat dengan cara irigasi poket dengan larutan kimiawi atau menempatkan obat-obat tertentu dalam bentuk padat atau semi padat. Syarat pokok untuk efektifitas cara pengobatan ini adalah obat dapat mencapai dasar poket, dan dapat bertahan beberapa waktu di tempat sampai efek anti- mikrobialnya terjadi (Prayitno, 2007).

10

BAB III METODOLOGI PENULISAN

III.1 Metode Pengumpulan Data Metode yang digunakan dalam penulisan karya tulis ini adalah studi pustaka murni (library research) dengan mengumpulkan, membaca, dan menelaah berbagai literatur. Informasi diperoleh dari buku, kamus, laporan penelitian, dan penelusuran melalui situs-situs internet. III.2 Metode Pengolahan Data Pengolahan data pada karya ilmiah ini mengunakan metode nonstatistik, yakni pengolahan data yang tidak menggunakan analisis statistik, melainkan dengan analisis kualitatif. Hal ini dilakukan dengan mengambil intisarinya saja atau dengan cara mengutip bagian tertentu untuk mempertegas dan memperkuat pendapat atau pandangan yang relevan dengan judul penulisan. III.3 Analisis dan Sintesis Informasi yang dikumpulkan dianalisis secara analog dan teoritis. Permasalahan yang dikaji dikaitkan dengan hasil telaah pustaka dari berbagai sumber. Hal ini erat kaitannya dengan tinjauan pustaka sebagai dasar dalam membuat pembahasan. Interpretasi data dibahas secara kritis dengan mengkaji korelasi positif kandungan kimia pada akar rumput belulang (Eleusine indica L. Gaertn) sehingga dapat digunakan sebagai bahan irigasi poket pada pengobatan penyakit periodontal. Oleh karena itu, bentuk sintesis dari karya ilmiah ini merupakan alternatif untuk menghasilkan larutan ekstrak akar rumput belulang (Eleusine indica L. Gaertn).

11

BAB IV PEMBAHASAN

IV.1

Peranan Larutan Ekstrak Akar Rumput Belulang (Eleusine indica L. Gaertn) sebagai Bahan Irigasi Poket pada Pengobatan Penyakit Periodontal Berdasarkan uraian sebelumnya, kandungan kimia pada akar rumput belulang telah dibuktikan secara teoritis dan laboratoris sebagai antimikroba. Oleh karena itu, makin jelas korelasi antara kandungan kimia akar rumput belulang sebagai antimikroba dan pemanfaatannya di rongga mulut terutama pada pengobatan penyakit periodontal. IV.2.1 Proses Pembuatan Larutan Ekstrak Akar Rumput Belulang (Eleusine indica L. Gaertn) Pembuatan larutan ekstrak akar rumput belulang, diambil dari dari cara pembuatan ekstrak akar pada umumnya. IV.2.2 Pemanfaatan Larutan Ekstrak Akar Rumput Belulang (Eleusine indica L. Gaertn) sebagai Bahan Irigasi Poket Periodontal Selama ini, penggunaan bahan irigasi yang umum digunakan dalam perawatan penyakit periodontal adalah hidrogen peroksida (aquades steril). Jenis bahan irigasi ini disemprotkan pada poket periodontal untuk memudahkan dalam pembersihan plak gigi. Namun setelah diteliti, ternyata aquades steril tidak memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan bakteri plak gigi. Artinya, aquades steril tidak menghambat pertumbuhan bakteri ataupun meningkatkan pertumbuhan bakteri pada plak gigi. Walaupun demikian, aquades

12

steril bersifat biokompatibilitas (dapat diterima oleh jaringan tubuh), tidak toksis, dan mudah didapatkan sehingga masih tergolong potensial untuk dijadikan bahan irigasi. Pemanfaatan larutan ekstrak akar rumput belulang diharapkan dapat mempunyai nilai lebih bila dibandingkan dengan bahan irigasi poket lainnya yang digunakan dalam bidang kedoktera. Dengan melihat kandungan kimia yang menakjubkan dari akar rumput belulang, secara teoritis bahan irigasi ini mampu menghambat pertumbuhan bakteri pada poket periodontal. Hal yang menguatkan persepsi ini adalah kandungan senyawa alkaloid yang terbukti secara eksperimental dapat menghambat bakteri patogen jenis

Porphyromonas gingivalis dan Bacteroides melaninogenicus yang merupakan faktor penyebab penyakit periodontal. Bila dianalisis, ternyata akar rumput belulang juga memiliki kandungan alkaloid ini. Ekstrak kasar dari salah satu kayu siwak telah menghambat pertumbuhan patogen periodontal Porphyromonas gingivalis dan Bacteroides melaninogenicus secara in vitro. Komponen aktif yang ditemukan dari kayu siwak itu adalah berbagai macam alkaloid. Oleh karena itu, beberapa tanaman yang mengandung alkaloid dapat dijadikan sebagai bahan antimikroba, tak terkecuali akar rumput belulang. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa asam tanin dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans dalam yang merupakan bakteri utama dalam pembentukan plak gigi. Kandungan kimia yang lainnya pada ekstrak akar rumput belulang juga terbukti bermanfaat untuk kesehatan gigi. Suatu penelitian klinis melaporkan bahwa polifenol dapat menurunkan kadar enzim yang bertanggung jawab mengubah glukosa menjadi

13

polisukrosa dalam mulut. Polisukrosa adalah agen pengikat yang menyebabkan plak menempel pada gigi dan jaringan periodontal.

14

BAB IV PENUTUP

V.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Antimikroba memiliki peranan penting dalam menghambat pertumbuhan bakteri patogen penyebab penyakit periodontal. 2. Secara teoritis, larutan ekstrak akar rumput belulang dapat dimanfaatkan sebagai bahan irigasi poket pada pengobatan penyakit periodontal karena kandungan kimianya dapat menghambat/membunuh bakteri patogen. V.2 Saran

Berdasarkan karya tulis ini, maka penulis mengajukan saran agar diadakannya penelitian eksperimental lebih lanjut mengenai pemanfaatan larutan ekstrak akar rumput belulang sebagai bahan irigasi pada pengobatan penyakit periodontal. Selain itu, kandungan kimia pada akar rumput belulang dapat membuat peneliti-peneliti lainnya tertarik untuk menghasilkan sebuah terobosan baru di bidang kesehatan dalam pengembangan bahan alami tradisional sehingga dapat memberi manfaat klinik secara optimal bagi masyarakat.

15

DAFTAR PUSTAKA

Aluka. 2005. Eleusine indica (L.) Gaertn. subsp. indica (L.) Gaertn. [family POACEAE]. Available from: <http://www.aluka.org/action/showCompilation Page1>. Accessed April 28th, 2010. Arief. 2008. Eleusine coracana (L.) Gaertn. Finger millet, ragi, jampang carulang (sunda). [internet] Available from: <http://sayarief.wordpress.com/ 200805/08/eleusine-coracana-l-gaertn-jampang-carulang-sunda/>. Accessed April 28th, 2010. Arnelia. 2008. Fito-kimia Komponen Ajaib Cegah PJK, DM dan Kanker. [internet] Available from: <http://209.85.175.104/search?q=cache:6v3ixCgGPAJ:www. kimianet.lipi.go.id/utama. > Accessed April 28th, 2010. Arnelia. 2008. Saponin, Fitokimia Ajaib. [internet] Available from: <http://209.85.175.104/search?q=cache:XqOe419Ap-sJ: sehatcantiq. blogspot. com> Accessed April 30th, 2010. Barus, Yenni Yosefa. 2007. Pengaruh Perawatan Ortodonti Cekat Terhadap Aspek Biologis Jaringan Periodontal. [internet]. Available from: <http:// repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/8358/1/970600092.pdf> Accessed Mei 2nd, 2010 Destri A. M. 2006. Epidemiologi dan Etiologi Penyakit Periodontal. [internet] Available from: <http://209.85.175.104/search?q=cache:tVu0BHd9ZMJ:www.kalbe.co.id/files/cdk/files/13_EpidemiologidanEtiologiPenyakit.pdf/ 13_EpidemiologidanEtiologiPenyakit.html+urutan+penyakit+periodontal> Accessed April 28th, 2010. Dorland, WA Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. Ed.29. Huriawati Hartanto, Penerjemah. Jakarta; EGC-W. B. Saunders Company. Jeni, Amilia. 2009. Penyakit Periodontal (Periodontal Disease). [internet]. Available from:

16

http://repository.ui.ac.id/.../ae42e86e5d487ac19eb4c258acfc6ef7f0e6f9ca.pdf. Accessed Mei 2nd, 2010. J. Beam. 2008. What Is Periodontal Disease. [internet] Available from: <http//www.wisegeek.com/what-is-periodontal-disease.htm.>. Accessed 28th, 2010. Kangwoko. 2008. Penggolongan Makhluk Hidup. [internet] Available from: < http//kangwoko.files.wordpress.com/2008/09/denah-sabtu.doc.>. Accessed April 30th, 2010. Khoslas Dental Centre. 2008. Gum (Gingival) Disease. [internet] Available from: http://www.geocities.com/drkhosla1/Images/advperio.jpg.>. Accessed April 28th, 2010. L. John. An . 2008. Introduction to Bacterial Identification. [internet] Available from: <http://www.Jlindquist.net/generalmicro/102 bactid.html>. Accessed April 28th, 2010. Mahtuti, Erni Yohani. 2007. Pengaruh Daya Antimikroba Asam Tanat terhadap Pertumbuhan Bakteri Salmonella Typhis secara In Vitro: Penelitian Eksperimental Laboratoris. [internet] Available from: <Php%3fid%3djiptunairGdl-S2-2004-Mahtutiern-1152%26phpsessid%3dbccdd1697194693047e012 3d 794d2529+Tanin%2bantimikroba&Hl=Id&Ct=Clnk&Cd=3&Gl=Id> Accessed Mei 1st, 2010. Melinda. 2009. Penyakit Periodontal Dalam Rongga Mulut. [internet] Available from: <http://www.gkisuryautama.org/artikel.php?id=66&kategori=kesehatan&halama n=3&title=Penyakit%20Periodontal%20dalam%20Rongga%20Mulut> Accessed Mei 2nd, 2010. NFA. 2007. Polifenol dalam Produk Konsumsi. [internet] Available from: <www.kal be.co.id/?mn=news&tipe=detail&detail=18925> Accessed Mei 1st, 2010. Novrina, Desy. 2009. Aplikasi Subginggival Bahan-bahhan Antimikroba Sebagai Penunjang Perawatan Periodontal. [internet] Available from: <http://fkg.usu.ac.id/files/abstrak%20skripsi%20mhs/Desy%20Novrina%20(0458).doc> Accessed April 30th, 2010.

17

Pkesinteraktif. 2008. Sirih Merah Sebagai Tanaman Obat Multi Fungsi. [internet] Available from: <http://www.pkesinteraktif.com/index2> Accessed April 29th, 2010. Plantamor. Rumput Belulang, Eleusine indica (L.) Gaertn. [internet] Available from: <http://www.plantamor.com/spcdetail.php/>. Accessed April 28th, 2010. Prayitno. 2007. Penatalaksanaan Gigi Goyang Akibat Kelainan Jaringan Periodontium. [internet] Available from: <http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/16PenatalaksanaanGigiGoyangAkibatKel ainanJaringan115.pdf/16PenatalaksanaanGigiGoyangAkibatKelainanJaringan11 5.html> Accessed Mei 1st, 2010. Pusat Penelitian Obat Tradisional. 2008. Abstrak Penelitian. [internet] Available from: <http://209.85.175.104/search?q=cache:HIXa6qfHu4kj:lppm.wima.ac.id>. Accessed April 28th, 2010. Sandira, Iqbal. 2009. Poket Periodontal. [internet] Available from: <http://iqbalsandira.blogspot.com/2009/05/poket-periodontal.html> Accessed Mei 2nd, 2010. Smecda. 2007. Eleusine Indica (L.) Gaertn. [internet] Available from: <http://www.smecda.com/TTG_PANGAN_KESEHATAN2/artikel/ttg_tanaman _obat/depkes/buku4/4-034.pdf>. Accessed April 28th, 2010. Studio Dentaire. 2007. Periodontal Ligament. [internet] Available from: <http//www.studiodentaire.com/images/en/periodontal>. Accessed April 28tth, 2010. The Pennsylvania State University. 2006. Weed Management in Turf. [internet] Available from: < http//www.turfgrassmanagement.psu.edu/weedmgmt.cfm>. Accessed Mei 1st, 2010. Van Steenis, CGGJ. 2008. Flora untuk Sekolah di Indonesia. Jakarta; PT Pradnya Paramitha: 110.

18