Anda di halaman 1dari 5

MUKOLITIK DAN EKSPEKTORAN A. MUKOLITIK Obat ini memecah rantai molekul mukoprotein sehingga menurunkan viskositas mukus.

Mukolitik ialah obat yang dapat mengencerkan sekret saluran nafas dengan jalan memecah benang-benang mukoprotein dan mukopolisakarida dari sputum (FKUI). Kegunaanya terbatas pada beberapa kasus khusus seperti sekresi yang kental, lengket, mukopurulen (misalnya pada bronkitis kronis dan fibrosis kistik) (http://medic-ugm05.com/news/penyakit/terapi-batuk-2.html). Termasuk dalam golongan ini antara lain ialah golongan thiol dan enzim proteolitik. Golongan Thiol memecah rantai disulfida mukoprotein, dengan akibat lisisnya mukus. Salah satu obat yang termasuk golongan ini adalah asetilsistein. Enzim proteolitik seperti tripsin, kimotripsin, streptokinase, deoksiribonuklease dan streptodornase dapat menurunkan viskositas mukus. Enzim ini lebih efektif diberikan pada penderita dengan sputum yang purulen. Diberikan sebagai terapi inhalasi. Tripsin dan kimotripsin mempunyai efek samping iritasi tenggorok dan mata, batuk, suara serak, batuk darah, bronkospasme, reaksi alergi umum dan metaplasi bronkus. Deoksisibonuklease efek sampingnya lebih kecil, tetapi efektivitasnya tidak melebihi asetilsistein. Contoh mukolitik adalah Asetilsistein, bromheksin, ambroksol ( Sjamsudin,Udin dan Arif, Azalia:1995 ) Asetilsistein Derivat dari asam amino alamiah sistein ini berkhasiat mencairkan dahak yang liat dengan jalan memutuskan ikatan disulfida, sehingga menurunkan viskositas sputum. Sebagai prekursor dari glutation, zat ini juga berdaya melindungi sel terhadap oksidasi dan perusakan oleh radikal bebas.( Sjamsudin,Udin dan Arif, Azalia:1995 ) Asetilsistein juga mampu memperbaiki gerakan cilia dan membantu efek antibiotik (doksisiklin, amoksisilin, dan tiamfenikol). Zat ini terutama efektif terhadap dahak yang kental sekali dan sangat bermanfaat bagi pasien PPOK dan mukoviskidosis. Asetilsistein juga merupakan antidotum terhadap kercunan parasetamol dengan jalan meningkatkan persediaan glutation. Zat ini berdaya

mengikat metabolit toksik dari parasetamol dan dengan demikian dapat menghindarkan nekrosis hati bila diberikan dalam waktu 10 jam (peroral atau IV) setelah intoksikasi. Disamping bekerja mukolitik, asetilsistein juga mampu melindungi jaringan paru terhadap kerusakan pada PPOK. Seperti semua asam amino, distribusinya dalam tubuh baik dengan mencapai kadar tinggi, antara lain di saluran pernafasan dan secret bronchi. Dalam hati, zat ini diubah menjadi sistein, sistin, dan taurin. Sedangkan eksresinya berlangsung melaui kemih. Asetilsistein diberikan secara semprotan (nebulization) atau obat tetes hidung. Aktivitas mukolitik terbesar pada pH 7-9. Setelah inhalasi, sputum menjadi encer dalam waktu satu menit, dan efek maksimal dicapai dalam waktu 5-10 menit . Efek samping yang paling sering terjadi adalah mual dan muntah, maka penderita tukak lambung perlu waspada. Sebagai obat inhalasi, zat ini dapat menimbulkan spasme bronchi pada penderita asma. Pada dosis tinggi dapat terjadi reaksi anafilaktis dengan rash, gatal, udem, hipotensi dan bronchospasme. Dosis yang diberikan oral 200 mg selama 3-6 hari atau 600 mg granulat selama 1-2 hari, anak-anak 2-7 tahun 200 mg selama 2 hari, dibawah 2 tahun 100 mg selama 2 hari. Sebagai antidotum keracunan parasetamol diberikan oral dengan dosis 140 mg/kgBB dari larutan 5%, disusul dengan 70 mg/kgBB setiap 4 jam selama 17 dosis. (Sjamsudin,Udin dan Arif, Azalia:1995 ) Bromheksin Bromheksin ialah derivate sintetik dari vasicine, suatu zat aktif dari Adhatoda vasica. Obat ini digunakan sebagai mukolitik pada bronkhitis atau kelainan saluran nafas yang lain. Selain itu obat ini digunakan secara lokal di bronkus untuk memudahkan pengeluaran dahak pasien yang dirawat di UGD. Viskositas dahak dikurangi dengan jalan depolimerisasi serat mukopolisakarida nya. Bila digunakan perinhalasi, efeknya sudah tampak setelah 20 menit, sedangkan bila peroral baru tampak setelah beberapa hari dengan berkurangnya rangsangan batuk.

Efek sampingnya berupa gangguan saluran cerna, pusing dan berkeringat, tetapi jarang terjadi. Pada inhalasi dapat terjadi bronkokonstroksi ringan. Efek samping pada pemberian oral berupa mual dan peninggian transaminase serum. Bromheksin harus hati-hati digunakan pada pasien tukak lambung. Dosis oral untuk dewasa yang dianjurkan 3 kali 4-8 mg sehari. (Sjamsudin,Udin dan Arif, Azalia:1995 ) Ambroksol Ambroksol, suatu metabolit bromheksin diduga sama cara kerja dan penggunaannya. Ambroksol sedang diteliti tentang kemungkinan manfaatnya pada keratokonjungtivitis sika dan sebagai perangsang produksi surfaktan pada anak lahir prematur dengan sindrom pernapasan (Sjamsudin,Udin dan Arif, Azalia:1995 ) B. EKSPEKTORAN Ekspektoran ialah obat yang dapat merangsang pengeluaran dahak dari saluran nafas (ekspektorasi). Mekanisme kerjanya diduga berdasarkan stimulasi mukosa lambung dan selanjutnya secara refleks merangsang sekresi kelenjar saluran nafas lewat nervus vagus, sehingga menurunkan viskositas dan mempermudah pengeluaran dahak. Memperbanyak produksi dahak dan dengan demikian mengurangi kekentalannya, sehingga mempermudah pengeluarannya dengan batuk. Termasuk ke dalam ekspektorans dengan mekanisme ini adalah : ammonium khlorida kalium yodida guaifenesin (gliseril guaiakolat) ipecac

Ammonium klorida Ammonium klorida jarang digunakan sendiri sebagai ekspektoran, tetapi biasanya dalam bentuk campuran dengan ekspektoran lain atau antitusif. Ammonium klorida dosis besar dapat menimbulkan asidosis metabolic, dan harus digunakan hati-hati

pada pasien insufisiensi hati, ginjal dan paru-paru.( Sjamsudin,Udin dan Arif, Azalia:1995 )

Efek sampingnya hanya terjadi pada dosis tinggi dan berupa asidosis (khusus pada anak-anak dan pasien ginjal) dan gangguan lambung (mual, muntah). Obat ini hampir tidak lagi digunakan untuk pengasaman urin pada keracunan sebab berpotensi membebani fungsi ginjal dan menyebabkan gangguan imbang elektrolit. Dosis ammonium koridasebagai ekspektoran untuk orang dewasa ialah 300 mg (5mL) tiap 2-4 jam. Kalium Yodida
Obat ini adalah ekspektorans yang sangat tua dan telah digunakan pada asma dan bronkitis kronik. Selain sebagai ekspektorans obat ini mempunyai efek menurunkan elastisitas mukus dan secara tidak langsung menurunkan viskositas mukus. (http www.:// kalbe.co.id)

Efek samping angiodema, serum sickness, urtikaria, purpura trombotik trombositopenik dan periarteritis yang fatal. Merupakan kontra indikasi pada wanita hamil, masa laktasi dan pubertas. Dosis yang dianjurkan pada orang dewasa 300 650 mg, 3 4 kali sehari dan 60 250 mg, 4 kali sehari untuk anak-anak Guaifenesin (Gliseril Guaiakolat) Penggunaan obat ini hanya didasarkan tradisi dan kesan subyektif pasien dan dokter. Selain berfungsi sebagai ekspektorans, obat ini juga memperbaiki pembersihan mukosilier. Obat ini jarang menunjukkan efek samping. Efek samping yang mungkin timbul dengan dosis besar, berupa kantuk, mual dan muntah. Gliseril guaiakolat tersedia dalam bentuk sirup 100 mg/5 mL. Dosis dewasa yang dianjurkan 2-4 kali 200-400 mg sehari dan tidak melebihi 24 g/hari. Anak-anak 6-11 tahun, 100-200 mg setiap 4 jam dan tidak melebihi 1-2 g/hari, sedangkan untuk

anak 2 -5 tahun, 50-100 mg setiap 4 jam dan tidak melebihi 600 mg sehari.(http www.:// kalbe.co.id) Ipecac Obat ini berguna untuk menghilangkan spasme laring pada anak-anak dengan croup dan sering kali membersihkan mukus kental dan lengket dari bronkus.tersedia dalam bentuk Sirup ipecac 0,5 mL per oral qid.(http://www.kalbe.co.id)