Anda di halaman 1dari 7

Rencana Eksplorsi Emas Primer Luas IUP 500 Ha

I. Ganesa emas primer. Emas terbentuk dari proses magmatisme atau pengkonsentrasian di permukaan. Beberapa endapan terbentuk karena proses metasomatisme kontak dan larutan hidrotermal, sedangkan pengkonsentrasian secara mekanis menghasilkan endapan letakan (placer). Genesa emas dikatagorikan menjadi dua yaitu endapan primer dan endapan plaser. Emas terdapat di alam dalam dua tipe deposit, pertama sebagai urat (vein) dalam batuan beku, kaya besi dan berasosiasi dengan urat kuarsa. Lainnya yaitu endapan atau placer deposit, dimana emas dari batuan asal yang tererosi terangkut oleh aliran sungai dan terendapkan karena berat jenis yang tinggi. Emas native terbentuk karena adanya kegiatan vulkanisma, bergerak berdasarkan adanya thermal atau adanya panas di dalam bumi, tempat tembentukan emas primer, sedangkan sekudernya merupakan hasil transportasi dari endapan primer umum disebut dengan emas endapan flaser, sedangkan asosiasi emas atau emas bersamaan hadir dengan mineral silikat, perak, platina, pirit dan lainnya. Kenampakan fisik bijih emas hampir mirip dengan pirit, markasit, dan kalkopirit dilihat dari warnanya, namun dapat dibedakan dari sifatnya yang lunak, berat jenis tinggi, dan ceratnya yang keemasan. Emas berasosiasi dengan kuarsa, pirit, arsenopirit, dan perak. Sifat fisik unsur ini sangat stabil, tidak korosif ataupun lapuk dan jarang bersenyawa dengan unsur kimia lain. Konduktivitas elektrik dan termalnya sangat baik, malleable sehingga dapat dibentuk dan juga bersifat ductile. Emas adalah logam yang paling tinggi densitasnya.

II.

Tahapan dan kegiatan eksplorasi. 1. Studi Pustaka Mengumpulkan data data peta dan referensi penyelidikan terdahulu , antara lain : a. Peta Dasar Daerah. b. Peta Geologi Regional. c. Peta Topografi Regional.

d. Data-data penyelidikan sebelumnya dan data penunjang lainnya. 2. Penyelidikan Lanjutan Sasaran utama dari peninjauan ini adalah mengedintifikasi derah-daerah mineralisasi/ cebakan skala lokal terutama hasil studi geologi regional dan analisis pengindraan jarak jauh (remote sensing) untuk dilakukannya pekerjaan pemboran. Pekerjaan yang dilakukan pada tahap kegiatan ini adalah pemetaan geologi dengan skala 1 : 25.000 sampai skala 1 : 10.000. Penyelidikan geologi yang berkaitan dengan aspek-aspek geologi diantaranya: pemetaan geologi, parit uji, sumur uji. Pada penyelidikan geologi dilakukan pemetaan geologi yaitu dengan melakukan pengamatan dan pengambilan conto yang berkaitan dengan aspek geologi di lapangan. Adapun pengamatan yang dilakukan meliputi: Jenis litologi, mineralisasi, ubahan dan struktur pada singkapan, sedangkan pengambilan conto berupa batuan terpilih. Disamping itu juga dilakukan pembuatan Sumur Uji, Survei Geofisika dengan Induced Polarization (IP) yang lebih dikenal dengan survey geolistrik atau aeromagnetic survey, yaitu survei dari udara menggunakan pesawat terbang (helicopter atau fixed wing) yang dilengkapi dengan perekam magnetic. Hasil dari Survei Tinjau ini berupa sumber daya emas hipotetik sampai tereka. Dalam Studi kasus ini maka metoda yang akan digunakan adalah : a. Metoda Geolistrik Respon emas terhadap IP dan resistivity sangat beragam dan cukup sulit diidentifikasi dimana tidak setiap vein atau retakan bekas hidrotermal mengandung emas. Berdasarkan hasil IP dan resistivity atau magnetotelurik suatu vein dapat diidentifikasi mengandung emas dengan melihat pada nilai true_R atau tahanan sebenarnya yang sangat kecil, namun perlu diperhatikan bahwa tidak setiap nilai resistivity yang rendah dari suatu vein dipengaruhi oleh emas karena selain emas juga ikut terendapkan mineral pirit dan tembaga yang juga memiliki nilai tahanan jenis yang rendah. Korelasi data IP dan resistivity dengan data geokimia suatu zona alterasi sangat penting dimana melalui data geokimia kita dapat menentukan mineral apakah yang dominan mengontrol rendahnya nilai resistivitas apakah emas, tembaga, atau pirit. Sehingga kita dapat mengetahui mineral apa yang dominan terendapkan pada suatu vein.

Berdasarkan hasil dari IP dan resistivity sebaiknya dikorelasikan lagi dengan data bor lokasi penelitian. Korelasi ini sangat penting karena metode geolistrik (IP dan resistivity) adalah proses awal atau suatu proses perabaan yang merupakan dugaan sementara. Korelasi dari data bor tadi akan meminimalkan error yang ada. b. Metoda Gravity Dilakukan untuk menyelidiki keadaan bawah permukaan berdasarkan perbedaan rapat masa cebakan mineral dari daerah sekeliling (r=gram/cm3). Metode ini adalah metode geofisika yang sensitive terhadap perubahan vertikal, oleh karena itu metode ini disukai untuk mempelajari kontak intrusi, batuan dasar, struktur geologi, endapan sungai purba, lubang di dalam masa batuan, shaff terpendam dan lain-lain. Eksplorasi biasanya dilakukan dalam bentuk kisi atau lintasan penampang. Perpisahan anomali akibat rapat masa dari kedalaman berbeda dilakukan dengan menggunakan filter matematis atau filter geofisika. Di pasaran sekarang didapat alat gravimeter dengan ketelitian sangat tinggi (mgal), dengan demikian anomali kecil dapat dianalisa. Hanya saja metode penguluran data, harus dilakukan dengan sangat teliti untuk mendapatkan hasil yang akurat.

3. Penyelidikan Detail

a. Metoda Pemboran Metoda pemboran yang dilakukan pada setiap lubang bor, adalah metoda coring, fungsi nya untuk pengambilan contoh sample batuan Saprolite (core-sampling). Posisi pemboran dilakukan dalam arah vertikal ke dalam lapisan batuan induk. Deskripsi Pemboran Inti bor yang diperoleh, dideskripsi dengan menggunakan aturan yang baku. Hasil deskripsi pemboran disajikan dalam bentuk "summary bore hole". Inti bor yang telah dideskripsi di "sampling" dengan membagi dua inti bor (spliting) dalam arah memanjang dari atas ke bawah, separuh disimpan (duplikat), separuh yang lain dikirim ke laboratorium diuji kualitasnya.

b. Pengambilan contoh Pengambilan contoh dilakukan pada singkapan batuan dan dari hasil pemboran inti. Pengambilan contoh pada saat pemboran adalah dari inti bor pada setiap 1 meter inti yang diperoleh. Selanjutnya contoh yang diambil dibungkus dengan aluminium foil atau plastik contoh yang baik dan tebal serta disimpan dalam core box, separuh dari padanya (hasil spliting) segera di kirim ke laboratorium, dan separuh yang lain disimpan sebagai duplikat. c. Penyelidikan Laboratorium Analisa kualitas bijih emas dan mineral lainya, dilakukan di Laboratorium Mcphar Geoservices Inc. Fhilipina dan PPTM Bandung. Parameter kualitas bijih emas dan mineral lainya yang dianalisa meliputi : Kadar : Au dan mineral pengikut nya. III. Contoh data Eksplorasi 1. Peta Geologi

2. Data topografi

3. Gambar sebaran titik pemboran

4. Data pemboran a. Koordinat titik pemboran

b. Data litologi

c. Data kadar Au

5. Gambar singkapan urat kuarsa