Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM III PRAKTIKUM TEKNOLOGI DISPLAY & TELEVISI BAGIAN TUNER

OLEH : ERINAULI TURNIP 65505/05 PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRONIKA

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2008

FT UNP PADANG Jurusan : PT. Elektronika Waktu : 4 x 50 Kode : 01/PTE-ELA166/2008 1. 1. 2. 3. 4. 5. 2. 1. 2. 3. 4. 5. 3. Tujuan

Lembaran Job Sheet Mata Kuliah : Teknology display & TV Topik : Bagian Blok TV Judul : Blok Tuner

Setelah mengikuti praktikum ini diharapkan mahasiswa mampu : Mengetahui pembagian kanal pada sistem pemancaran TV Mengetahui blok rangkaian tuner pada TV Memahami dan mengetahui fungsi dari tuner dan prinsip kerjanya dapat mengukur tegangan tala untuk tuner pada setiap perubahan talaan siaran dari masing-masing stasiun pemancar TV Dapat mengukur sinyal untuk rangkaian IF dari keluaran rangkaian tuner Alat dan Bahan Antena TV Trainer televisi berwarna Samsung CS21K30ML6XXSE Toolset Multimeter dan osciloskop Kabel penghubung serta alat tulis untuk pengambilan data Teori Singkat Sinyal yang diterima oleh antena televisi adalah semua frekuensi termasuk dalam range kerja frekuensi dari atena yang digunakan pada sebuah TV, tetapi pada sistem PAL dan NTSC telah ditetapkan frekuensi kerja dari masing-masing kenal frekuensi VHF dan UHF. Untuk VHF bekerja pada range kanal 2 hingga kanal 12 dengan frekuensi kerja 47-230 MHz, sedangkan untuk UHF bekerja pada range kanal 14-83 dengan frekuensi kerja 470-890 MHz. semua frekuensi yang diterima oelh antena dan diteruskan oleh saluran transmisi diolah pada bagian tuner dari sebuah televisi. Bagian tuner atau bahagian penala merupakan bagian yang berfungsi untuk memilih salah satu frekuensi dari pemancar (repeater) televisi yang ditangkap oleh antena. Bagian-Bagian Tuner 1. Pemilih Kanal Tuner blok memilih gelombang pemancar yang akan diterima, mencakup kanal 2 hingga kanal 12 (47-230 MHz) pada VHF dan tiap kanal memiliki lebar frekuensi 7 MHz. rangkaian penala dapat dipilih sehingga beresonansi dengan frekunsi kanal yang dikehendaki. Didalam tuner blok terdapat penguat RF, Mixer dan osilator. Penguat RF memilih pemancar yang akan diterima, kemudian diberikan ke mixer, osilator membangkitkan frekuensi yang besarnya tertentu untuk pembanding frekuensi

yang diterima penguat RF kemudian diberikan ke mixer kemudian di filter, akhirnya menghasilkan frekuensi bari yang keluar yaitu 38, 9 MHz merupakan frekuensi pembawa gambar yang didalamnya terdapat sinyal singkronisasi dan 33,4 MHz merupakan frekuensi pembawa suara dan kedua frekuensi tersebut diteruskan ke penguat vidio IF. 2. Penguat Frekuensi Tinggi (HF Amplifier) Sebelum sampai pada rangkaian pencampur (mixing) gelombang TV diperkuat oleh penguat HF. Karena rasio S/N (perbandingan sinyal/nois) pada penerima TV berwarna ditentukan oleh penguatan HF ini, maka penguatan HF harus dapat menghasilkan penguatan (gain) yang besar. Juga memerlukan distorsi yang kecil walaupun bila gelombang TV input besar. Maka dibutuhkan tengangan AGC (Automatic gain control/pengatur penguatan otomatis) Pada penguat HF itu dipasang rangkaian netralisasi, pada penguat HF untuk mencegah osilasi parasitis yang timbul. Karakteristik resfon frekuensi penguat HF pada bidang frekuensi kanal penerimaan, harus serata mungkin dan perbedaan penguatan antra kanalkanal yang diterima harus sekecil mungkin. 3. Pencampur (Mixer) Gelombang TV yang diterima TV dicampur dengan output osilator lokal dengan menggunakan pencampur (mixer) dan dirubah menjadi sinyal IF (intermediate) gambar yang mempunyai frekuensi sama dengan selisih dengan kedua frekuensi tadi. Frekuensi pembawa sinyal IF gambar adalah 38,9 MHz dan frekuensi pembawa suara adalah 33,4 MHz.

4.

Osilator Lokal Frekuensi pencampur (frekuensi lokal) dibangkitkan oleh osilator lokal, dan diberikan ke pencampur (mixer). Frekuensi dapat dirubah tergantung pada kanal penerimaan yang dipilih. Sebagai osilator lokal biasanya digunakan osilator Colpitts karena sifat kestabilannya dan juga sederhana struktur rangkaiannya. Ada dua cara memilih frekuensi osilator lokal, pertama dengan merubah kumparan resonansi dan yang kedua dengan mengontrol tegangan bias dioda kapasitansi variabel.

Gambar Tuner televisi 4. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Langkah Kerja Praktek Membentuk kelompok, mengambil TV trainer dengan tidak menghubungkannya ke jala-jala PLN. Ambil multimeter dan osiloskop, dan kemudian dikalibrasi. membuka TV trainer dan kemudian melakukan pengosongan tegangan simpan pada kapasitor tegangan tinggi dengan kabel penghubung. cari dan amati bagian tuner. sambungkan TV dengan antena penerima. hubungkan jala-jala listrik dan hidupkan TV. mengukur tegangan B+ tuner (untuk tuner manual) dan/atau tegangan BP dan BT/BLOCK adjust (untuk tuner digital) 5. Hasil Praktikum Samsung CS21K30ML6XXSE

STASIUN TELEVISI NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 TRANS 7 ANTV TPI TRANS TV RCTI INDOSIAR SCTV TVRI SUMBAR PADANG TV FAVORIT TV

FREKUENSI SIARAN 487 663 631 535 467 695 679 189 157 587 MHz MHz MHz MHz MHz MHz MHz MHz MHz MHz

TEGANGAN YANG DIUKUR SDA 2,85 2,95 2,85 2,95 2,9 2,95 2,85 2,8 2,9 2,8 SLC 2,99 3 3 3.05 3 3 3 3.05 3.1 3 CHANEL C23 C45 C41 C29 C43 C49 C47 C6 C33 C35

BENTUK SINYAL IF YANG TERBACA DI OSILOSKOP Kalibrasi osiloskop : 2 Vp-p 0,1 V/div

20 s time/div 1) Bentuk Gelombang pada stasiun TV RCTI :

2 Vpp

60 s
2) Setelah dilakukan pengukuran terhadap stasiun TV lain, didapat bahwa bentuk gelombang pada stasiun TV lainnya itu (ANTV, TRANS 7, TRANS TV, GLOBAL TV, TPI, INDOSIAR, METRO TV DAN SCTV) adalah sama dengan bentuk gelombang pada stasiun TV RCTI. 6. a. b. c. Kesimpulan Tuner merupakan rangkaian yang berfungsi menerima sinyal masuk (gelombangTV) dari antena dan merubahnya menjadi sinyal frekuensi IF. Tuner terdiri atas penguat fekuensi tinggi (penguat HF), pencampur (mixer) dan osilator lokal. Untuk siaran-siaran TV yang bekerja pada range frekuensi UHF, nilai tegangan hasil pengukuran pada B+ dan BT adalah sama (dapat dilihat pada data hasil praktikum di atas). d. Bentuk gelombang dari stasiun TV dalam range frekuensi UHF adalah juga sama antara stasiun satu dengan lainnya. Dengan demikian, yang berbeda dari masing-masing stasiun TV adalah frekuensi kerjanya.

7. 1.

Evaluasi Pembagian frekuensi pada masing-masing kanal VHf dan UHF untu sistem PAL dan FCC adalah :

VHF bidang frekuensi rendah saluran 2 sampai 6 dari 54 MHZ sampai 88 MHZ. VHF bidang frekuensi tinggi saluran 7 sampai 13 dari 174 MHZ sampai 216 MHZ. UHF saluran 14 sampai 83 dari 470 MHZ sampai 890 MHZ.

Sistem pemancar televisi yang kita kenal di antaranya: 1. NTSC (National Television System Committee) 2. PAL (Phases Alternating Line) 3. SECAM (Sequential Couleur a Memorie) 4. PALB NTSC (National Television System Committee) digunakan di Amerika Serikat, sistem PAL (Phases Alternating Line) di gunakan di Inggris, sistem SECAM (Sequential Couleur a Memorie) digunakan di Perancis. Sementara itu, Indonesia sendiri menggunakan sistem PALB. Hal yang membedakan sistem tersebut adalah format gambar, jarak frekuensi pembawa dan pembawa suara. Sistem Televisi Dasar di Dunia

2. 3.

Komponen utama yang terdapat pada bagian tuner : Pemilih kanal HF Amplifier Mixer (pencampur) Osilator lokal Besar tegangan B+ dan BP untuk setipa talaan siaran dari setiap stasiun pemancar TV nasional, yaitu 5 Volt untuk B+ dan 33 Volt untuk BP.

4.

Sinyal-sinyal yang terdapat pada sinyal IF yang diukur dengan osiloskop yaitu sinyal UHF (ultra hight frekuensi). Fungsi dari sinyal tersebut yaitu : mentransmisikan gelombang-gelombang dengan frekuensi yang lebih tinggi, agar bisa dipancarkan lebih jauh. Dapat kita lihat, stasiun TV swasta dengan frekuensi UHF ini, dapat diterima di seluruh Indoensia, antena di kota Bukittinggi dan sekitarnya. misalnya Metro TV, Trans TV, dll. oleh antenaSementara, stasiun TV lokal, misalnya BiTV, hanya bisa diterima

5.

Televisi multisistem, yaitu televisi yang memiliki banyak sistem, artinya dalam satu televisi terdapat berbagai sistem. Sebagai mana yang disebutkan di atas, bahwa sistem televisi itu ada beberapa, diantaranya yaitu NTSC (National Television System Committee) digunakan di Amerika Serikat, sistem PAL (Phases Alternating Line) di gunakan di Inggris, sistem SECAM (Sequential Couleur a Memorie) digunakan di Perancis. Sementara itu, Indonesia sendiri menggunakan sistem PALB. Televisi multi sistem, bisa menangkap semua sistem ini. Meskipun berada di Indonesia, namun tetap bisa menangkap siaran-siaran Amerika, Inggris, Prancis, dll. Untuk ini, dibutuhkan perangkat tambahan, misalnya yang disuguhkan oleh Indovision.

8.

Tambahan Teori PEMASANGAN TUNER UHF (Untuk TV Hitam-putih yang tidak Dilengkapi Tuner UHF)

Di

antara

beberapa

jenis

blok

tuner

UHF,

ada

satu

jenis

yang

pemasangannya paling mudah, bahkan pemasangannya tanpa tambahan komponen lain. Jenis tersebut adalah model HU-563A, dan pemasangannya adalah sebagai berikut :

Blok Tuner UHF 1. Titik BU 2. Soket output U-IF dihubungkan ke dihubungkan ke

Tuner VHF Titik B+ Input V-IF

Kemudian, terminal input antena pada blok tuner UHF dihubungkan ke antena 300 ohm, dengan pita kabel 300 atau 75 ohm, tetapi harus memasang trafo Baluns pada terminal input antena blok tuner UHF. Cara memakainya dengan menempatkan selektor channel tuner VHF (ada di bagian depan pesawat TV) pada huruf U, putarlah tombol blok tuner UHF sampai kena siaran salah satu TV swasta. Apabila tidak terdapat huruf U,

berarti tuner VHF-nya tidak dilengkapi terminal input U-IF, sehingga blok tuner HU-563A tidak bisa dihubungkan langsung begitu saja. Untuk ini, diperlukan push switch 4PDT guna memindahkan titik-titik input IF, AGC, dan B+ dari PCB TV ke tuner VHF atau blok tuner UHF. Cara memakainya dengan menekan tombol push switch ke posisi UHF, lalu putar tombol blok tuner UHF. Jika gambar kurang jelas/tajam, putar trimer potensio/trimpot 10K blok tuner UHF sampai gambarnya bagus. Untuk menerima siaran VHF, tombol push switch ditekan ke posisi VHF. Selain model HU-563A, masih ada lagi blok tuner UHF, yaitu VHF-UHF E60 buatan ALPS dan VHF-UHF VTS-ICZ3 buatan Sharp. 9. Referensi

Sofyan. 2005. Mencari dan Memperbaiki Kerusakan pada TV Berwarna. Tanggerang : Media Pustaka. http://www.e-dukasi.net/pengpop/pp_full.php?ppid=264&fname=index.html http://dirgantara.idxc.org/dirga8/0803.shtml