Anda di halaman 1dari 9

TUGAS INDIVIDU BLOK 18 UNIT PEMBELAJARAN 1

BENJOLAN DI INGUINAL

ANABELLA PURNAMA FIRDAUSYIA 10/296818/KH/6476 KELOMPOK 15

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2013

BENJOLAN DI INGUINAL
I. LEARNING OBJECTIVE 1) Jelaskan tentang hernia meliputi a. Etiologi b. Penyebab c. Macam hernia dan gambar d. Penanganan 2) Baggaimana pencegahan hernia?

II.

PEMBAHASAN 1) HERNIA a. PENGERTIAN

Hernia merupakan protusio sebagian/seluruh organ melalui lubang alami/perolehan pada lokasi jaringan yang sama atau jaringan lain dan masih tertutup oleh kulit. Dalam hernia, hal yang harus diperhatikan adalah kantung hernia, isi hernia dan cincin hernia.
b. SEBAB

Hernia kongenital, yaitu hernia yang terjadi akibat keturunan Hernia dapatan, yaitu hernia yang terjadi akibat trauma (terbentur, tertabrak, post operasi yang tidak benar). Patogenesis hernia Isi hernia mengalami strangulasi -> jaringan nekrosis -> radang -> toksemia Hernia diaphragmatica organ digesti masuk ke area rongga dada mendesak paru-paru dypsnoe. Hernia inguinalis perinealis femoralis dapat berisi uterus gravit atau pyometra ruptur uterus. Hernia perinealis berisi vesica urinaria urin retensi uremia/ruptur. Hernia nucleus pulposus paralisa regional.

Isi hernia uterus bunting, pyometra ruptur uterus.


c. MACAM

A. Hernia Inguinalis penutupan peritoneum daerah

inguinalis yang terlambat sehingga menimbulkan diantara musculus ekternus saluran/lorong abdominalis

internus, obliquus abdominis dan abdominis uterus, intestinal, dapat

vesica

urinaria

melewati/ masuk melalui lorong tersebut. Terjadi karena keluar dari rongga peritoneum melalui annulus inguinalis internus yang terletak sebelah lateral dari pembuluh darah epigastrika inferior, kemudian hernia masuk ke dalam kanalis inguinalis dan jika cukup panjang, menonjol keluar dari annulus inguinalis eksternus. Apabila hernia ini berlanjut, tonjolan akan sampai ke skrotum hingga disebut hernia skrotum.Hernia yang terdapat di selangkangan ini sering terjadi pada hewan betina yang sedang bunting dan mengalami konstipasi. Pada kasus hernia inguinalis, jaringan yang berada di belakang cavum abdominal menekan melalui daerah lemah yang dikelilingi arteri femoralis dan nervus. Sebagian besar hernia inguinal pada anak anjing akan menyusut dan menghilang seiring dengan pertumbuhan anak anjing. Tanpa pengobatan, hewan biasanya akan mati dalam waktu 24 jam sampai 48 jam Gejala Klinis: Mundul benjolan kulit di daerah pangkal paha Mungkin tidak ada gejala, terutama bila hernia dapat direduksi, yaitu dapat didorong kembali ke dalam perut

Tanpa perawatan, jaringan mengalami nekrosis, daerah yang terkena berubah menjadi abses dan ada rasa sakit parah, demam, lesu dan hewan menolak untuk makan atau minum. Diagnosa: Dapat dipalpasi dan dapat menggunakan Xrays di bagian perut Prognosis: Sebagian besar hernia inguinal pada anak anjing akan menyusut dan menghilang seiring dengan pertumbuhan anak anjing Tanpa pengobatan, hewan biasanya akan mati dalam waktu 24 jam sampai 48 jam. (Slatter, 2003) B. Hernia Umbilikus Hernia umbilikalis dapat terjadi pada hewan jantan maupun betina. Dapat disebabkan karena kongenital dan perolehan. Hernia ini merupakan hernia yang terjadi pada daerah pusar hewan. Hewan yang menderita hernia ini memiliki benjolan di daerah perut yang lembut, tidak terasa sakit, dan ketika ditekan dapat masuk ke dalam rongga perut. Isi dari hernia ini biasanya hanya berupa lemak yang biasa pula disebut omentum yang biasanya letaknya menyeliputi usus. Kondisi hernia yang parah adalah kondisi di mana hernia dapat menstrangulasi usus atau organ tubuh lainnya dan tersangkut. Hal ini akan menyebabkan cincin hernia menghambat suplai darah pada organ tersebut dan kemudian dapat menyebabkan cincin hernia menghambat suplai darah pada organ tersebut dan kemudian dapat menyebabkan kematian sel dan nekrosis. Gejala Klinis:

Penonjolan di bagian ventrak dinding abdomen (daerah umbilikalis) Di palpasi terasa lunak, ada fluktuasi, dan tidak ada rasa sakit. Hernia yang padat biasanya organ dalam sudah mengalami adhesi dengan kulit Bila isi hernia abses, maka akan tampak gejala seperti demam, leukositosis, rasa sakit, dan terdapat akumulasi pus. Diagnosa: Gejala klinis berupa penonjolan di daerah umbilikus Bila direbahkan dorsal, kemudian daerah hernia ditekan (Farrow, 2003) C. Hernia Diafragmatika Hernia diafragmatika adalah hernia yang disbabkan karena sobeknya diafragma, yaitu dinding otot yang rongga

memisahkan

antara

perut dan rongga abdomen. Hal ini dapat memungkinkan usus, hati atau ginjal dan organ di rongga perut lainnya menekan dan masuk ke rongga dada, sehingga dapat terdapat dipsnoe. Cedera diafragmatika merupakan hal yang umum dalam hewan kecil dan dapat terjadi akibat dari trauma langsung maupun tidak langsung. Cedera tidak langsung dari diafragma merupakan penyebab yang paling sering dan menyebabkan hernia diafragmatika. Trauma akan berakibat ada peningkatan tekanan pada daerah perut. Jika hal ini terus terjadi bersama dengan terbukanya glottis sebagai hasil dari peningkatan tekanan gradient tekanan pleuroperitoneal secara drastic dapat merusak diafragma. Ketika kerusakan diafragma ini terjadi dalam bentuk robekan, maka organ vicera dapat mengalami abnormalitas posisi. Cedera

langsung pada diafragma sangat jarang namun dapat diakibatkan oleh luka tembak, gigitan, tusukan, dan kesalahan operasi. Gejala Klinis: Berbeda-beda, mulali dari tidak tampak gejala hingga shock dan gangguan respirasi yang amat parah akibat terdesaknya paru-paru oleh usus Dipsnoe atau susah bernafas merupakan gejala yang paling umum, dan berhubungan denga berbagai macam faktor dari shock, disfungsi rongga dada, keberadaan cairan udara, ataupun organ lainnya di dalam pleura Aritmia dari jantung terlihat pada 12% dari hewan yang mengalami hernia diafragmatika. Diagnosa: Hal pertama yang harus diketahui dalam mendiagnosa hernia diafragmatika adalah dengan mengetahui cedera yang dialami. Kejadian cedera pada daerah thorax terjado 39% pada hewan kecil dengan trauma pada muskuloskeletal Untuk itu perlu radiografi pada daerah dada amat penting untuk mengetahui apakah hewan mengalami cedera pada daerah dada. Lama rentang waktu antara trauma dan kejadian hernia amat bervariasi, mulai dari jam hingga 6 tahun. Anjing jantan muda memiliki tingkat resiko yang lebih besar. (Slatter, 2003) D. Hernia Perineal Hernia perineal ini terjadi akibat kegagalan/ lemahnya dari muskulus pada pelvis diafragma yang menyokong dinding rectum, yang kemudian menyebabkan

dinding ini melebar dan berpindah posisi. Pelvis dan kadang-kadang isi

dari rongga abdomen masuk ke dalam lubang antara rectum dan pelvic diafragma. Beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya hernia ini adalah spesies, umur, dan jenis kelamin. Berdasarkan spesies, anjing amat jarang terkena hernia perinealis ini. Sedangkan umur yang rentan terhadap penyakit ini antara umur 5-7 tahun, dan bahkan sampai umur 9 tahun. Hernia ini sering terjadi pada jantan dan amat jarang terjadi pada hewan betina. Hal ini dipengaruhi oleh kekuatan dari penempelan rectum dari otot levator ani pada betina. Hernia ini terjadi karena melebahnya otot-otot terletak di bawah ekor di kedua sisi anus. Dalam anjing, terstosteron menyebabkan pembesaran kronis (hipertrofi) kelenjar prostat. Saat urinasi dan defekasi akan terlihat di sekitar prostat membesar, jaringan yang berdekatan dengan rektum akan melemah, sehingga organ atau lemak yang ada di perut mendorong keluar hingga sekitar dubur dan membentuk kantong di bawah kulit. Kantong ini mungkin memperbesar jaringan ketika berusaha mendorong keluar dan saat kembali lagi hanya sebagai jaringan bergerak kembali ke perut. Gejala Klinis: Umumnya sebagaian besar gejala hernia perineal disebabkan oleh sembelit kronis, anjing terlihat berusaha untuk defekasi, dan terlihat bengkak di kedua sisi rektum Tanda-tanda lainnya mungkin termasuk berusaha untuk buang air kecil, rasa sakit pada buang air besar inkontensia fekal. Diagnosa : Cacat pada otot-otot diafragma pelvis atau sacculation (outpouching) dari dubur biasanya terdeteksi pada palpasi rektal. Jaringan lemak biasanya terlihat jika mengalami hernia Terkadang ditemukan satu bagian yang mengalami hernia, namun jika kedua bagian mengalami hernia akan menyebabkan rasa kesakitan.

(Farrow, 2003)

d. PENANGANAN

Teknik operasi Lakukan anestesi umum Dicukur,didesinfektir daerah yang akan dioperasi. Buat sayatan vertikal ditengah dari fossa paralumbal dan dibagian ventral processus transversus vertebrae lumbalis. Sayatan kulit ditekan secara halus,kemudian pisahkan kulit dengan subkutan dari m.obliq abdominis eksternus vertikal sampai m obliq abd internus. Sayatan dilanjutkan sampai m .abd.transversus dan akan terlihat peritoneum. Bagian cincin hernia dipotong dahulu untuk membuat jaringan terpotong, agar pada saat setelah dijahit jaringan akan menutup. Penutupan dilakukan lapis demi lapis dengan urutan pertama yaitu peritoneum dengan pola jahitan menerus atau kombinasi menerus dengan jahitan matras atau kombinasi dengan sederhana tunggal dengan catgut chromic ataupun benang katun. Pemberian analgesia dan obat penahan sakit (pain killer) dari NSAID seperti Rimadyl, Phenylbutazone, Pemberian antibiotika (Amoxicillin 25 mg/kg BB, Cefadroxil HCl 22 mg/kg BB, Clavamox, Cephalosporin) Pemberian diet rendah protein dan lemak agar kotoran lembek dan juga untuk mengurangi kondisi stress pada lapisan perineum yang diperbaiki. Pengurangan aktifitas pelatihan (lari dan latihan fisik/beban) Untuk menghindari anjing menjilat daerah operasi, sebaiknya diberi Collar. Istirahat kandang selama 7 10 hari. ,lapisan ini juga disayat

(Hosgood and Hoskins, 1998)

Non operasi Tindakan ini dapat dilakukan jika hernia bersifat reducible dan cincin hernia berdiameter kecil. Misal pada hernia umbilikalis, hewan dapat diletakkan rebah dorsal, hernia akan kempes dengan sendirinya, atau sambil ditekan perlahan, hernia akan kembali ke posisi semula. Dan lubang yang keicl (<0,5 cm) dapat menutup sendiri karena perkembangan jaringan kolagen.

2) PENCEGAHAN HERNIA Hewan dijaga agar tidak terlalu melakukan gerakan yang ekstrim seperti melompat dari tempat yang tinggi terlalu sering, tidak terlalu banyak melakukan pergerakan setelah makan. Bila menemukan benjolan sekecil apapun di tubuh hewan, segera bawa ke dokter.

III.

DAFTAR PUSTAKA

Farrow, Charles. 2003. Veterinary Diagnostic Imaging: The Dog and Cat. Mosby: St.Louis, Missiouri. Hosgood, Giselle and Hoskins Johnny D. 1998. Small Animal Paediatric medicine and Surgery. Butterworth-Heinermann: Oxford. Kee, Joyce L dan Hayes Evelyn R. 1996. Farmakologi. EGC: Jakarta. Slatter, Douglas H. 2003. Textbook of Small Animal Suergery. Saunders: Philadelphia. Stringer, Janet L. 2008. Konsep Dasar Farmakologi Panduan untuk Mahasiswa. EGC: Jakarta.