Anda di halaman 1dari 21

BAB II TINJAUAN UMUM

2.1 Keadaan Umum Pulau Gebe merupakan sebuah pulau yang terletak di bagian paling timur Kepulauan Halmahera yang merupakan perbatasan antara Propinsi Maluku Utara dengan Propinsi Papua. Pulau Gebe termasuk dalam wilayah Kabupaten Halmahera Tengah Propinsi Maluku Utara. Dan baru terbentuk secara difinitif bulan Juni 2001 sebagai Ibu kota Kecamatan. Secara Administratif Panjang pulau Gebe 45 km dan lebarnya bervariasi antara 1 km sampai 7 km atau di ambil rata-rata lebih kurang 4 km, sedangkan luasnya 150 km. Penduduknya berjumlah sekitar 5.580 orang yang mendiami 4 desa, yaitu desa Kapaleo sebagai ibu kota kecamatan, desa Kacepi, desa Sanafi (Mamin), dan desa Umera serta satu desa lagi yang masih dalam wilayah Kecamatan Pulau Gebe tapi tidak berada di daratan pulau Gebe, tapi berada di pulau Yoi yaitu desa Umiyal. Mata pencaharian Penduduk umumnya adalah sebagai Nelayan, Petani/bercocok tanam (meskipun lahan pertanian disini dapat dikatakan kurang subur). Sedangkan sebagian lainya bekerja sebagai pedagang, pegawai negeri sipil atau Karyawan pada PT. Aneka Tambang Unit Bisnis Pertambangan Nikel Gebe. Sebagian besar penduduk didaerah penelitian

2-1

baik penduduk asli maupun pendatang beragama Islam sedangkan sebagian kecil lainya adalah pendatang yang beragama Hindu dan Kristen. Sebagian besar wilayah pulau Gebe terdapat hutan yang agak lebat, sedangkan di daerah cadangan bijih nikel hanya ditumbuhi semak-semak yang tidak rapat. 2.1.1 Kesampaian Daerah Lokasi penelitian ini terletak di daerah Smingit. Untuk mencapai wilayah penelitian ini, dapat ditempuh dari Makassar menuju Ternate dengan pesawat terbang selama 2 jam dengan rute perjalanan Makassar - Ternate - Gebe. Disamping itu dapat pulah ditempuh dengan kapal laut selama 4 hari perjalanan dengan rute perjalanan Makassr - Baubau - Ambon - Bitung Ternate - Gebe. Sedangkan ke daerah Smingit dapat dilanjutkan dengan speed boat selama kurang lebih 30 menit dari Desa Kapaleo. 2.1.2. Iklim Dan Curah Hujan Seperti umumnya daerah di Indonesia, beriklim tropis yang setiap tahunnya dipengaruhi oleh dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim kemarau terjadi pada bulan Juli sampai dengan bulan Desember. Musim hujan terjadi pada bulan Januari sampai dengan bulan juni. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Juli sebesar 338 mm selama 12 hari untuk daerah tambang. Sedangkan curah hujan terendah terjadi pada

2-2

bulan januari sebesar 10 mm selama dua hari. Curah hujan tahunan adalah sebesar 1.930 mm selama 113 hari (lihat lampiran 1).

P. HALMAHERA
P. TERNATE P. TIDORE

PULAU GEBE
TE L U K W E D A

P.BACAN

KEP. BACAN

P. TALIABU

PAPUA
P. MANGOLE

LAUT P. BURU

SERAM P. SERAM

LAUT BURU

P. PENYU

P. LUSIPARA

LAUT

BANDA
D A Y A

K
P. WETAR P. ROMANG

P. DAMAR

P. MOAPORA

P. ALOR

Gambar 2.1 Peta Pulau Gebe Dan Sekitarnya

2-3

2.2 Geologi 2.2.1 Geologi Regional a. Morfologi Secara geomorfologi Pulau Gebe dapat dibagi atas El Fanoen Massive, cekungan tengah (central basin) dan perbukitan sebelah tenggara. Cekungan tengah ini merupakan dataran rendah dengan ketinggian sampai 50 m. Perbukitan disebelah tenggara pulau dapat dibagi menjadi tiga punggungan yaitu : punggungan utama dan dua cabangnya yang sejajar. Karakter lainnya adalah adanya dua plato dengan ketingian 50-100 m pada bagian timur laut pulau, membentang dari perbukitan sebelah tenggara melalui El Faoen Massive diluar cekungan tengah sampai dibatas pulau Tj.Sofa. Plato ini merupakan undak pantai ( Coastal Teracce) yang disebabkan oleh pelengkungan pada bagian timur laut Pulau Gebe Setelah pembentukan undak pantai, pros pelengkungan dipercepat hingga terbentuk kemiringankemiringan yang curam seperti yang terlihat pada perbukitan disebelah selatan Sanafi. Pergerakan pelengkungan ini sangat berbeda antara kedua sisi pulau, seperti terlihat pada adanya undak pantai yang terlihat disepanjang sebelah barat daya pulau.

2-4

b.Tektonik dan Struktur Geologi Pulau almahera dan pulau-pulau sekitarnya yang ada di indonesia di bagian timur merupakan suatu komfigurasi busur kepulauan sebagai hasil tabrakan lempen di bagian barat fasifik. pulau ini di cirihkan oleh double arc system di buktikan oleh terdapatnya endapan vulkanik di lengan barat dan non vulkanik di lengan timur. Mandala tektonik halmahera timur (Gag, gebe, Kawe dan Waigeo) dicirikan dengan batuan ultra basa, sedangkan Halmahera barat

(Morotai,Bacan dan Obi) oleh batuan Gunung api. Zona perbatasan antara kedua mandala tersebut terisi oleh Batuan Formasi weda yang sangat terlipat dan tersesarkan, disebut garis Meridian. Sruktur Lipatan berupa sinklin dan antiklin terlihat jelas pada formasi Weda berumur Miosen TengahPliosen Awal. Sumbu lipatan berarah utara-selatan, Timurlaut barat daya dan barat laut tenggara. Struktur sesar terdiri dari Sesar

Normal dan Sesar Naik, umumnya berarah utara- selatan dan barat laut sampai tenggara. Kegiatan Tektonik kemungkinan dimulai pada Akhir dan Awal Tersier, dicirikan oleh adanya komponen batu lempung berumur kapur dan batuan ultrabasa didalam konglomerat yang membentuk Formasi Dorosagu. Karakteristik dari P roses Geotektonik di P.Gebe yang ditemukan dengan adanya Patahan dan Lipatan searah P.Gebe yakni dari BaratlautTenggara. Patahan terbesar ditemukan sepanjang daerah batas yang memisahkan Ridge dan Plateau disebebelah selatan P. Gebe 2-5

berarah N 48 W. Patahan tersebut memiliki zona patahan sepanjang 100 m berlokasi di S.Toan.
004'02" N

TG. S A F A

. 71.50

. 36.50

. 75.80

SKALA

. 100.50 000'00"

5 KM

Lokasi penelitian

LEGENDA
TG. LAGIAU COSTAL TERRACE . 100.30 . 100.80 . 50.70

GARIS KETIGGIAN @ 50 M GARIS BATAS PANTAI KARANG KOMPLEK/PERKAMPUNGAN


. 103.90

ENDAPAN BIJIH NIKEL


OD I

KP.DU.286/MALUKU
OR T

AREAL KP.DU.286 hb
V V V

KOLAM RENANG
V

BATU KAPUR
v v

004'02" S
DE RM AG A

OD III

V V

KOMPLEK PANTAI UTARA KOMPLEK MESS BIRO hb KOMPLEK KAPALEO CENTRAL BASIN KOMPLEK PASAR . 57.10 KANTOR YAM
V

BATUAN BASIC DAN ULTRA BASIC HARZBURGITE SERPENTIN GABRO

EX P

. 61.50 OD II
V

TG. ILAIKAILO

hb sp gb

EL IE

DERMAGA TANAH MERAH DERMAGA TUG BOAT


V

OE BO

TG .

DERMAGA PERAHU

BANDAR UDARA . 54.20

P. F A U

MAMIN
V

PETA INDEKS
V V

SANAFI KACEPI . 154.40 sp 007'22" S NIWISIA


V V

NIWISIA CAMR

V V

gb
V

TERNATE P. HALMAHERA COSTAL TERRACE TG. OMPAINKAILO P. GEBE P. GAG IRIAN JAYA . 332.30 SOUTH MOUNTAIN LAND
V

TG. TULIKALIO

. 69.10
V

NO. 7 DAM hb
V

KAF OD

. 337.40 LOWALO OD
V

. 104.50
V V

TG. ARIU

SIMINGIT OD . 56.50

. 263.21

V V V

SIMINGIT
011'24" S
V V V V V

. 357.00

UMERA TG. MAGNONAPO BAKI NANASI . 192.10 IN GA LA N TG. NGETANGELJO OLEH

PT ANEKA TAMBANG (PERSERO) Tbk. UNIT PERTAMBANGAN NIKEL GEBE PETA GEOLOGI PULAU GEBE

TG. ILINGELJO

DI REPRODUKSI/DIGITASI DARI PETA GEOLOGI PULAU GEBE SKALA 1 : 100.000

DIPERIKSA 12918'39" E 12923'52" E 12929'05" E 12934'18" E DISETUJUI

Gambar 2.2 2-6

Peta Geologi Regional Pulau Gebe Patahan terbesar disebut (Gebe Central Fault), sejajar dengan patahan tersebut terdapat patahan yang lebih kecil disebut Gausero Fault. terletak disekitar Niwisia Safi dan mempunyai zona patahan 1,5 m.Struktur sesar yang berhubungan dengan Gebe Central Fault dinamakan Gebe Trust. 2.2.2 Geologi Daerah Smingit dan Sekitarnya a. Stratigrafi Daerah Smingit Daerah Smingit, disusun oleh sedimen kapur. 1. Satuan Ultrabasa; Dunit : Berwarna hijau tuakehitaman, fanerik, granular euhedral dalam keadaan segar, mengandung olivin >90% dan piroksin. Harzburgit : Berwarna hijau tua, fanerik sedang, granular subhedral, mengandung piroksen dan olivin. 2. Satuan Batugamping; Batugamping : Berwarna putih kelabu danmerah, berbutir halus sampai sedang, mengandung banyak fosil satuan ultrabasa dan satuan

2-7

foraminifera bentos dan plakton, menunjukan umur kapur akhir dan pengendapan laut dalam. b. Batuan Induk dan Laterisasai Endapan nikel di daerah ini hampir seluruhnya berasal dari pelapukan batuan Ultra basa yang lebih dikenal dengan sebutan endapan bijih Nikel Laterit. Harzburgit merupakan batuan asal penghasil nikel

tersebut, secara umum disusun oleh mineral mineral Olivin dan Ortopiroksen.Olivine itu sendiri mengandung nikel dalam jumlah kecil 0,25 %, kemudian mengalami pengayaan hingga mencapai kadar bijih tertentu. Proses pelapukan pada batuan ultra mafik tersebut antara lain oleh pensesaran, perlipatan dan pengkekaran yang terjadi dalam waktu yang cukup lama dan berulang ulang hingga mineral penyusunnya mengalami disintegrasi dan dekomposisi. Proses Disintegrasi atau pelapukan bersifat Fisis dan Proses Pelapukan Dekomposisi bersifat kimia, keduanya dapat terjadi pada lingkungan air dan udara serta pergantian musim panas dan dingin yang berlangsung secara terus menerus. 2.3 Genesa Endapan Bijih Nikel Sekunder (Laterit ) Proses terbentuknya endapan bijih nikel sekunder ( laterit) dimulai dengan proses pelapukan pada batuan peridotit, dimana batuan ini banyak mengandung olivin, magnesium silika, dan besi silikat yang pada umumnya 2-8

mengandung 0,3 % nikel. Batuan peridotit sangat mudah terpengaruh oleh proses pelapukan dimana air tanah yang kaya akan CO 2 yang berasal dari udara luar dan tumbu-tumbuhan yang menghancurkan olivin. Penguraian 0livin, magnesium, besi, nikel dan silika kedalam larutan cenderung untuk membentuk suspensi koloid dari partikel-partikel silika yang submikroskopik. Didalam larutan, besi akan bersenyawa dengan oksida dan

mengendap sebagai ferri hidroksida. Dimana air ini akan menghilagkan air dengan membentuk mineral-mineral seperti karat yaitu goethit (Fe0(0H)), hematit(Fe2 03) dan kobalt dalam jumlah kecil. Jadi besi Oksida mengendap dekat dengan permukaan air tanah. Sedangkan magnesium, nikel silika tertinggal didalam larutan selama air tanah asam.Tetapi jika dinetralisasi karena reaksi dengan batuan dan tanah maka zat-zat tersebut cenderung mangendap sebagai hidrosilikat. Nikel mempunyai sifat kurang kelarutannya dibandingkan magnesium didalam endapan lebih besar dari pada larutan, karena adanya silikat

magnesium yang terbawah oleh air tanah. Kadangkadang olivin didalam batuan diubah kedalam serpentin sebelum tersingkap kepermuaan dimana serpentin terurai kedalam komponen-komponennya bersama-sama dengan terurainya olivine. Adanya erosi air tanah asam dan erosi dipermukaan bumi akan menyerang mineral-mineral yang telah diendapkan. Zat-zat tersebut

tertransport ketempat yang lebih dalam, selanjutnya diendapkan sehingga 2-9

terjadi pengayaan pada bijih nikel. Kandungan nikel pada saat terendapkan akan semakin bertambah banyak, dan selama itu magnesium tersebar pada aliran air tanah, dalam hal ini proses pengayaan bersifat komulatif, dimana proses dimulai dari suatu batuan yang mengandung 0,25% nikel sehingga akan dihasilkan 1,5% bijih nikel. Keadaan ini merupakan suatu kadar nikel sudah ditambang, dimana waktu yang diperlukan untuk proses pengayaan tersebut mungkin dalam beberapa ribu tahun atau bahkan berjuta-juta tahun. Sedangkan bijih nikel pada endapan laterit yang mempunyai kadar tinggi terdapat pada dasar zone pelapukan dan diendapkan pada retakan retakan dibagian atas dari lapisan dasar batuan (Bedrock). Endapan nikel laterit terdapat pada lapisan bumi yang kaya akan besi, dimana pembagian yang sempurna dari besi dan nikel kedalam zone-zone yang berbeda dan tidak pernah ada. Pengayaan besi dan nikel terjadi melalui pemindahan magnesium dan silikat. Dimana besi dan material ini paling banyak berbentuk mineral ferri oksida yang pada umumnya berbentuk gumpalan yang disebut Limonit.endapan nikel dapat ditunjukkan dengan adanya jenis limonit tersebut atau sebagai nickel Ferrous iron ore. Hal ini berlawanan dengan nikel bertipe silika ( yang kadang-kadang disebut sebagi bijih serpentin). Jenis pelapukan yang melarutkan silika dan unsur-unsur logam dari batuan induk akan menghasilkan bijih nikel limonit. Bijih nikel Silikat 2 - 10

kebanyakan terjadi pada daerah yang beriklim tropis seperti Indonesia dan Kaledonia Baru. Dimana pada daerah tersebut banyak turun hujan dan banyak tumbuh-tumbuhan yang teruraikan sehingga menimbulkan asam organic dan C02 pada air tanah. 2.3.1 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Nikel 2.3.1.1 Batuan Asal. Dalam hal ini yang mendominasi batuan asal pembentukan Nikel adalah batuan ultra basa karena : a. Mempunyai elemen Ni yang paling banyak di antarabatuan-batuan lain. b. c. Mineral-mineral mudah lapuk. Komponen-komponennya muda larut dan memberikan lingkungan pengendapan yang baik untuk endapan nikel. Batuan asal yang merupakan syarat utama terbentuknya endapan bijih nikel adalah periodit yaitu yang termasuk jenis batuan ultrabasa dengan kadar ( Ni ) Kecil dari 0,2 %. Batuan asal ini mengandung unsur-unsur Ca, Mg, Fe, Si, Al, Cr, Mo, Ni dan Co yang kemudian mengalami perubahan bentuk dan struktur kimia sebagai akibat dari pelapukan mekanis dan kimiawi, yang mana kandungan nikelnya akan terkosentrasi pada tempattempat tertentu dan membentuk endapan nikel.

2 - 11

Tabel 1.2 Komposisi Endapan Bijih Nikel Batuan Periodit Gabro Diorit Granit Nikel ( % ) 0, 2000 0, 0160 0, 0040 0, 0002 Besi Oksida +Magnesium 43, 3 16, 6 11, 7 4,4 Silika + Almunium (%) 49, 9 66, 1 73, 4 78, 7

2.3.1.2 Iklim Adanya pergantian musim kemarau dan musim hujan dimana terjadinya kenaikan dan penurunan muka air tanah menyebabkan proses pemisahan dan akumulasi unsur-unsur. Perbedaan temperatur yang cukup besar akan membantu tejadinya pelapukan mekanik, dimana akan timbul rekahan-rekahan dalam batuan yang akan mempermudah proses atau reaksi kimia terutama dekomposisi batuan. 2.3.1.3 Reagen-Reagen Kimia dan Vegetasi Yang dimaksud dengan reagen-reagen kimia adalah unsur-unsur dan senyawa kimia yang membantu percepatan proses pelapukan. CO2 yang larut bersama air memegang peranan penting dalam proses pelapukan kimia. Asam asam Humus dapat merubah dekomposisi batuan dan dapat merubah

2 - 12

pH larutan. Asam-asam humus ini erat hubungannya dengan Vegetasi daerah. Dalam hal ini dapat mengakibatkankan penetrasi air lebih banyak dan lebih mudah dengan mengikuti jalur-jalur akar-akar pohon, akumulasi hujan lebih banyak dan humus akan lebih tebal. Keadan ini akan menjadi petunjuk dimana hutan lebat pada lingkungan yang baik akan terdapat endapan bijih nikel yang lebih tebal dan kadar yang lebih tinggi. Selain itu vegetasi dapat berfungsi untuk menjaga hasil pelapukan terhadap terjadinya erosi. 2.3.1.4 Struktur Struktur Geologi dapat menyebabkan deformasi dari batuan yang sangat dominan dalam pembentukan endapan bijih nikel di daerah ini adalah struktur rekahan-rekahan (joints) dibandingkan dengan struktur patahan. Seperti diketahui bahwa batuan beku mempunyai porositas dan permeabilitas yang sangat kecil sekali, sehingga penetrasi air menjadi sulit, maka dengan adanya rekahan-rekahan akan lebih memudahkan masuknya air, sehingga proses pelapukan akan lebih intensif. 2.3.1.5 Topografi Keadaan topografi setempat sangat dipengaruhi oleh Iklim serta sifat Fisik batuan. untuk daerah landai air permukaan akan bergerak perlahanlahan sehingga mempunyai kesempatan untuk mengadakan penetrasi lebih dalam melalui rekahan-rekan atau pori-pori batuan. 2 - 13

Akumulasi pada umumnya terjadi pada daerah-daerah yang landai sampai kemiringan tertentu, sehingga hal ini menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikutui bentuk topografi. Pada daerah curam, secara teoritis jumlah air yang muncul Run Off lebih banyak dari pada air yang meresap. Hal ini menyebabkan pelapukan kurang intensif. Pada tempat-tempat dimana terdapat keseimbangan, maka nikel akan mengendap melalui proses pelapukan secara kimia. 2.3.1.6 Biologi Faktor biologi yang mempengaruhi dalam pembentukan bijih nikel ini adalah sisa tumbuh-tumbuhan, dimana sisa-sisa tersebut akan mengalami pembusukan yang memungkin terbentuknya asam humus (asam organis ). Asam ini akan bereaksi dengan permukaan batuan asal yang bersifat basa, sehingga ada bagian batuan asal yang terurai dan terjadi proses dekomposisi pada batuan tersebut yang akhirnya menjadi lapuk. Sedangkan batuan yang berada dibawah permukaan bumi, asam organis dan karbon dioksida yang diperolehnya dari udara meresap kedalam tanah bersama-sama dengan air tanah dan bereaksi dengan permukaan batuan tersebut menjadi porous, yang lama kelamaan menjadi lapuk. Dengan demikian maka asam-asam ini membantu mempercepat pelapukan batuan induk.

2 - 14

2.3.1.7 Waktu Dalam proses pelapukan faktor ini pun sangat penting, guna

mempercepat berlangsunnya proses-proses

pelapukan, transportasi dan

konsentrsi endapan dari suatu tempat. Untuk itu dalam pembentukan endapan bijih nikel silikat ini membutuhkan jangka waktu yang relatif panjang. apabila waktu dari proses pelapukan terlalu mudah, transportasai dan konsentrasi berlangsung cepat maka endapan yang terbentuk cenderung tipis. 2.3.2 Penyebaran Endapan Bijih Nikel Sebagai gambaran umum penampang bijih nikel didaerah simingit adalah sebagai berikut : Lapisan paling atas, terdiri dari tanah laterit yang berwarna coklat kemerahan. Biasanya terdapat sisa tumbuhan dan konkresi oksida besi, dan kandungan nikelnya relatif rendah. lapisan ini biasanya disebut juga lapisan tanah penutup (Over burden). Tebal lapisan ini bervariasi umumnya berkisar antara 0 2 m. Lapisan berwarna coklat mudah dengan kandungan nikelnya relatif tinggi dari lapisan pertama yaitu 1-2%. Lapisan ini kadang-kadang dapat dianggap sebagai lapisan bijih yang ekonomis, dikategorikan dalam Low Grade Ore atau Limonit yang ketebalanya diatas 2 meter.

2 - 15

Lapisan yang sama sekali merupakan batuan yang telah lapuk, berwarna coklat kekuningan sampai kehijauan. Kadar nikel lapisan ini relatif paling tinggi dari keseluruhan lapisan (2 sampai 4 % Ni ) yang merupakan lapisan bijih yang mengandung urat-urat Garnierit dan Krisopras lapisan bijih ini sangat ekonomis, dikategorikan dalam High grade atau Saprolit yang ketebalanya diatas 2 meter. Lapisan yang terdiri dari batuan yang kurang lapuk, berwarna hijau terang sampai tua. Pada lapisan ini kadar nikelnya sudah mulai menurun. Sering didapat sebagai bongkahan yang dilapisi urat Garnierit. Lapisan ini dikategorikan sebagai Low Grade Ore bawah yang kadang-kadang cukup ekonomis untuk ditambang. Lapisan ini merupakan batuan yang cukup lapuk dan berwarna hitam kehijauan. 2.3.3 Pembentukan Zona Limonilt Dan Saprolit Prosese pelapukan laterit pada batuan ultrabasa dari suatu profil laterit fosil, mempunyai arti sebagai suatu proses pelapukan laterit yang akan berlangsug tidak mulai dari batuan segar yang kemudian menghasilkan suatu profil laterit baru, tetapi bertolak dari suatu profil laterit yang sudah terbentuk, dimana zona saprolit silikatit yang selalu berada di bawah permukaan air tanah sudah ada dan terletak di bawah zona limonit.

2 - 16

2.3.4 Penurunan Muka Air Tanah sebagai Indikator Terhadap Laju Pelapukan Fluktuasi muka air tanah yang berlangsung secara kontinyu akan melarutkan unsur unsur magnesium dan silisium yang terdapat pada bongkah-bongkah batuan asal dizona saprolit, sehingga memungkinkan penetrasi air tanah yang lebih dalam.Demikian ikatanikatan yang

mengandung unsur-unsur MgO sekitar 30 50 % berat dan SiO2 antara 30 40 % berat yang masih terkandung pada bongkah-bongkah dizona saprolit akan terlindih dan ikut bersama - sama dengan aliran air tanah,sehinggs perlahan lahan Zona Saprolit atas akan berubah porositasnya dan akhirnya akan menjadi zona limonit ( Friedrich et.al.,1984 dalam Totok D.1999 ). Akibat penambahan porositas,maka air tanah akan lebih leluasa bergerak dan permukaan akan turun.Disamping itu jika permukaan air tanah turun meninggalkan permukaannya semula,maka ppermukaan laterit akan turun akibat proses kompaksi dan erosi pada permukaan.penurunan muka air tanah ini akan berbeda beda dan sangat tergantung dari struktur batuan asal,morfologi yang mempengaruhi intensitas pelindian akibat perbedaan kecepatan aliran air tanah,intensitas curah hujan,iklim dan waktu. Pembentukan zonazona laterit akibat berlanjutnya proses laterisasi ini akan berlainan dengan berbedanya penurunan permukaan air

tanah,walaupun sifat batuan asalnya serupa.Pada penurunan muka air tanah

2 - 17

yang dalam,zona limonit akan terbentuk lebih tebal sementara ketebalan zona saprolit tidak berubah. Demikian pula pada penurunan permukaan air tanah yang sama akan memberikan profil laterit yang berbeda jika struktur batuan asalnya berbeda.Dalam hal ini struktur batuan asal (masif atau bercela) sangat berperan dalam pembentukan zona saprolit.(Totok Darijanto,1999).

2 - 18

2 - 19

Gambar 2.3 Profil Endapan Bijih Nikel Pulau Gebe Berdasarkan dari hasil interpretasi data-data lubang bor yang

dikerjakan oleh PT. ANTAM.Tbk diderah Smingit Pulau Gebe yang melintasi punggungan cabang dan lembah aktif (air tanah tidak tergenang) dapat memberikan suatu zona-zona ketebalan laterit yang berbeda-beda. Didaerah cekungan aktif ini intensitas air tanah membesar akibat arah aliran air tanah yang konvergen dan akan memberikan proses pelindian yang intensif dari proses pengendapan kembali sehingga memungkinkan

pembentukan zonz limonit yang tebal.dalam hal ini penurunan muka air tanah yang divergen dan kecepatan aliran yang lambat. (Totok D,1999).

2 - 20

2 - 21

Beri Nilai