Anda di halaman 1dari 4

Masalah makan anak dapat berakibat buruk bagi tumbuh kembang anak.

Sedikitnya makanan yang masuk ke dalam perut anak dapat menjadi indikasi bahwa anak itu mempunyai peluang besar untuk menderita kurang gizi. Indikator status gizi kurang dicerminkan oleh berat badan atau tinggi badan anak di bawah standar. (Joen, 2008).

2.3.1 Faktor-Faktor Yang Dapat Mempengaruhi Gizi Kurang Menurut segitiga epidemiologi, ada hubungan antara penyebab penyakit, host dan lingkungan(Notoatmodjo, 2003) Induk semang (Host)

Penyebab Penyakit (Agent) Gambar 2. Segitiga Epidemiologi

Lingkungan (Environment)

Sumber: Soekidjo Notoatmodjo. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta. Berbeda dengan segitiga epidemiologi, konsep roda tidak begitu menekankan pada agen tapi lebih kepada hubungan manusia dengan lingkungan hidupnya. Lingkungan sosial lebih besar pengaruhnya dibanding manusia itu sendiri, sedangkan faktor manusia lebih besar pengaruhnya dibanding inti genetik. (Notoatmodjo, 2003)

Gambar: Konsep roda Sumber: Soekidio Notoatmodjo, 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta. Rineka Cipta

2.3.2 Penanggulangan Masalah Gizi Kurang Keadaan gizi masyarakat tergantung pada tingkat konsumsi. Tingkat konsumsi ditentukan oleh kualitas serta kuantitas hidangan, Kualitas hidangan menunjukkan adanya semua zat gizi yang diperlukan tubuh di dalam susunan hidangan dan perbandingan yang satu terhadap yang lain. Kuantitas menunjukkan kuantum masing-masing zat gizi terhadap kebutuhan tubuh. Kalau susunan hidangan memenuhi kebutuhan tubuh akan mendapat kondisi kesehatan gizi yang sebaik-baiknya disebut konsumsi adekurat. Menggalakkan komunikasi informasi dan edukasi suatu cara pemberian informasi atau pesan yang berkaitan dengan gizi seseorang atau institusi terhadap masyarakat. Sebagai penerima pesan dari media tertentu. Pesan dasar gizi seimbang yang di tunjukkan kepeda masyarakat sebagai pedoman umum Penyuluhan Gizi Masyarakat ada 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang yang di terbitkan oleh Dirjen Binkesmas Depkes RI, yaitu : 1). Makanlah makanan yang beraneka ragam, 2). Makanlah makanan untuk memenuhi kebutuhan energi, 3). Makanlah makanan sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan energi, 4). Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat data kecukupan energi, 5). Gunakanlah garam yang beryodium, 6). Makanlah makanan sumber zat besi, 7). Berikan ASI saja kepada bayi sampai berumur 4 bulan, 8). Biasakan makan pagi, 9). Minumlah air bersih, aman dan cukup jumlahnya, 10). Lakukanlah kegiatan fisik dan olagraga yang teratur, 11). Hindari minuman beralkohol, 12). Makanlah makanan yang yang aman bagi kesehatan, 13). Bacalah tabel pada makanan yang dikemas (Ranti, 1999).
Pemberian nutrisi yang baik dan benar pada anak, perlu diperhatikan beberapa hal lain yang akan menunjang seluruh proses konsumsi seseorang yaitu : kebersihan, pengolahan yang tepat sehingga enak dimakan serta suasana menyenagkan ketika makan dalam menyusun menu hendaknya diperhatikan hal-hal sebagai berikut : a). Kombinasi rasa yaitu asin, manis, asam, pahit, pedas, jika disukai, b). kombinasi warna hidangan yaitu warna merah, hijau, coklat, kuning, dsb, c). variasi kering atau berkuah banyak, seperti sup, sayur asam maupun sedikit kuah seperti tumis, sayur, sambal goreng serta yang kering seperti ikan goreng kering, tempe, d). variasi bentuk potongan, yaitu persegi panjang, tipis, bulat, dan sebagainya, e). variasi teknik pengolahan yaitu ada hidangan yang diolah dengan teknik pengolahan yang digoreng, dan direbus dan lain sebagainya, sehingga memberikan penampilan, tekstur, dan rasa berbeda pada hidangan tersebut. Sebaiknya dihindari adanya penaggulangan warna, rasa, bentuk, teknik pengolahan dalam satu menu (Ranti, 1999).

Memelihara dan menjaga kesehatan dan status gizi anak balita agar cerdas dan tumbuh kembang yang baik. Mencerdaskan kesadaran masyarakat untuk menerapkan kaidah kesehatan dan gizi dalam memenuhi kebutuhan pangan anggota keluarganya dengan meningkatkan pengetahuan kesehatan gizi pada kader dan anggota Pondok Gizi Budarzi. Meningkatkan pengetahuan teknik pengolahan makanan lokal sehat yang higienis, bergizi dan bervariasi sehingga tercipta ketahanan pangan. Meningkarkan keterampilan kader dalam menangani masalah gizi buruk atau kurang. Membudayakan kebersamaan dalam mengatasi masalah gizi dan kesehatan anak balita (Ranti, 1999). 2.3.3 Alur Pemeriksaan

Gambar: Alur Pemeriksaan Sumber: Pedoman Pelayanan anak gizi buruk Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 2011

Anda mungkin juga menyukai