Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN HASIL PRAKTEK PEMERIKSAAN TELUR CACING PADA TANAH

Disusun oleh: Yusprit Paraso

POLINTEKNIK KESEHATAN KEMENKES MANADO


JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
MANADO 2013

LEMBAR PERSETUJUAN

LAPORAN PRAKTEK INI SUDAH DI SETUJUI OLEH DOSEN PEMBIMBING

PEMBIMBING I

PEMBIMBING II

SUWARJA SPd. M. Kes NIP :196304191988031001

J. A. SJARKAWI Spd. M. kes NIP : 194911111972061001

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada tuhan yang maha esa karena atas kasih dan penyertaanya kami dapat menyelesaikan penyusunan hasil laporan praktek yang berjudul pemeriksaan telur cacing pada tanah. Laporan ini di susun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah parasitologi ,juga bertujuan untuk menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca. Pembuatan laporan ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak terutama tim pengajar mata kuliah parasitologi. Akhirnya kami menyadari bahwa hasil laporan ini masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak untuk menyempurnakan laporan ini.semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Hormat kami Penyusun

Yusprit Paraso

ii

DAFTAR ISI

Lembar Persetujuan............I Kata Pengantar..............ii Daftar Isi...........iii Bab I Pendahuluan...........1 1.1 1.2 1.3 Latar Belakang.........1 Tujuan....................2 Waktu Pelaksanaan............2

Bab II Dasar Teori..............................3 Bab III Pembahasan...................................4 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 Alat Dan Bahan Yang Digunakan.......................6 Penentuan Lokasi Pengambilan Sampel Tanah............................................7 Prosedur Pemeriksaan Sampel Tanah..............................................7 Prosedur Pemeriksaan Sampel Tanah ............................................................8 Hasil Kegiatan Praktek............................................................................................9

Bab IV Penutup...................................10 4.1 4.2 4.3 Kesimpulan..............................10 Saran...................................10 Daftar Hadir..................................................................................................................11

iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Manusia merupakan hospes beberapa nematoda usus, yang sebagian besar menyebabkan masalah kesehatan. Diantara nematoda usus terdapat sejumlah spesies yang ditularkan melalui tanah yang terpenting bagi manusia adalah Ascaris lumbricoides, Necator americanus, Ancylostoma duodenale, Trichuris trichiura dan Strongyloides stercoralis. World Health Organization memperkirakan ada sekitar 350 sampai 500 juta orang yang terinfeksi nematoda usus yang dikarenakan tanah yang telah tercemar dengan tinja penderita merupakan faktor utama yang menyebabkann tingginya prevalensi kecacingan terutama penderita yang berusia 5 sampai 15 tahun . Dengan ditemukannya telur nematoda usus pada tanah permukaan dapat memberikan indikasi bahwa tanah tersebut telah tercemar oleh tinja manusia, ini berarti pula bahwa penggunaan jamban tidak dilakukan. Dengan demikian perlu adanya pemeriksaan tanah untuk menegakkan diagnose terjadinya pencemaran tanah oleh nematoda usus.

1.2

TUJUAN

Adapun tujuan pembuatan laporan ini adalah sebagai berikut : a. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Parasitologi. b. Untuk mendiagnosis penyakit kecacingan (Ascariasis, Ancylostomiasis) c. Untuk mengetahui cara pemeriksaan telur cacing pada tanah. d. Untuk mengetahui pencemaran tanah oleh parasit Trichuriasis, dan

1.3

WAKTU PELAKSANAAN

Hari/Tgl : Kamis,2 MEI 2013 Waktu :14.30-16.00

Tempat : Laboratorium Parasitologi Kesehatan Linkungan. Lokasi pengambilan sampel : samping bangunan analis kesehatan

BAB II DASAR TEORI


A. Tanah 1. Pengertian Tanah Tanah adalah bahan mineral yang tidak padat (unconsolidated) terletak dipermukaan bumi, yang telah dan tetap akan mengalami perlakuan dan dipengaruhi oleh factor-faktor genetic dan lingkungan yang meliputi bahan induk, iklim (termasuk kelembaban dan suhu), organisme (makro dan mikro) dan topografi pada suatu periode waktu tertentu. 2. Sifat Fisik Tanah Secara keseluruhan sifat fisik tanah ditentukan oleh : a. Ukuran dan komposisi partikel-partikel hasil pelapukan bahan penyusun tanah b. Jenis dan proporsi komponen-komponen penyusun partikel-partikel c. Keseimbangan antara suplai air, energi dan bahan dengan kehilangannya d. Intensitas reaksi kimiawi dan biologis yang telah atau sedang berlangsung 3. Tekstur Tanah Tekstur tanah menunjukan komposisi partikel penyusun tanah (separat), yaitu : a. Pasir (sand) berdiameter 2,00 sampai 0,20 mm atau 2000-200 m b. Debu (silt) berdiameter 0,20-0,002 mm atau 200-2 m c. Liat (clay) berdiameter < 2 m

Berdasarkan kelas teksturnya maka tanah digolongkan menjadi : a. Tanah bertekstur kasar atau tanah berpasir berarti tanah yang mengandung minimal 70% pasir atau bertekstur pasir atau pasir berlempung b. Tanah bertekstur halus atau tanah berliat berarti tanah yang mengandung minimal 37,5% liat atau bertekstur liat, liat berdebu atau liat berpasir c. Tanah bertekstur sedang atau tanah berlempung, terdiri dari : 1) tanah bertekstur sedang tetapi agak kasar meliputi tanah yang bertekstur lempung berpasir atau lempung berpasir halus 2) tanah bertekstur sedang meliputi yang bertekstur lempung berpasir halus, lempung ,lempung berdebu atau debu 3) tanah bertekstur sedang tetapi agak halus mencakup lempung liat lempung liat berpasir atau lempung liat berdebu. B.pencemaran tanah oleh nematoda usus.

Jenis tanah merupakan faktor yang mempengaruhi epidemiologi soil transmitted helminth, yang terdiri dari pasir (berdiameter 0,05 sampai 2 mm), lumpur (berdiameter0,05 samapi 0,02 mm), dan tanah liat (berdiameter 0,02 mm sampai 2). Ketiga jenis tanah ini dibedakan berdasarkan diameter partikelnya dan kelembaban yang ditimbulkan atau jumlah air yang diperlukan untuk membuatnya lembab Soil transmitted helminth Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura juga memanfaatkan karakteristik ketiga jenis tanah diatas, misalnya telur Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura tumbuh lebih baik di tanah liat karena kelembaban jenis tanah ini sangat cocok. Karakteristik dari ketiga jenis tanah lainnya juga menguntungkan pertumbuhan dan perkembangan telur cacing adalah berat jenis masing-masing jenis tanah, pasir memiliki berat jenis paling besar dibandingkan dengan lumpur dan tanah liat dan pasir akan tenggelam di air, oleh karena itu pasir di temukan di dasar sungai. 4 Pencemaran tanah oleh nematoda usus ditandai dengan adanya telur nematoda usus

pada tanah permukaan. Dengan indikasi tanah tersebut telah tercemar oleh kotoran manusia yang terinfeksi nematoda usus. Hal ini erat kaitannya dengan ketersediaan jamban keluarga dan pembuangan sampah. Untuk mencegah atau sekurangkurangnya mengurangi kontaminasi tinja terhadap tanah, maka pembuangan tinja harus dikelola dengan baik, maksudnya harus di suatu tempat tertentu atau jamban yang sehat. Dimana jamban yang digunakan harus memenuhi syarat yaitu : 1. tidak mencemari sumber air (sumur pompa tangan, sumur gali, perpipaan), untuk itu lubang kotoran paling sedikit berjarak 10 meter. 2. tidak berbau dan tinja tidak dapat dijamah oleh serangga ataupun tikus, untuk itu jamban harus tertutuprapat 3. air seni, air pembersih, air pengelontor tidak mencemari tanah sekitar, lantai harus dibuat kedap air, dan harus cukup luas paling sedikit berukuran 1x1 meter Jamban yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan mempengaruhi timbulnya berbagi macam penyakit yang salah satunya adalah penyakit kecacingan. Penyebaran penyakit kecacingan dari tinja manusia dapat melalui salah satunya adalah tanah. Berbagai akibat kurangnya dalam pengelolaan sampah sejak sampah dihasilkan sampai pembuangan akhir sangat merugikan kesehatan masyarakat secara langsung salah satunya adalah terjadinya pencemaran tanah oleh nematoda usus. Nematoda sangat menyukai dan bertahan hidup dengan kondisi tanah yang mempunyai kelembaban yang tinggi. Tanah yang telah termar oleh nematoda akan mengakibatkan masalah kesehatan khususnya penyakit kecacingan. Upaya kebersihan yang harus dilakukan untuk mewujudkan kondisi halaman rumah yang bersih melalui pengelolaan sampah. Pengendalian dampak pembuangan sampah untuk mengurangi resiko bagi kesehatan masarakat terutama untuk mengurangi terjadinya infeksi kecacingan Syarat yang harus terpenuhi dalam pengelolaan sampah adalah tidak mencemari udara, air dan tanah 5 kesehatan,

BAB III PEMBAHASAN

3.1. alat dan Bahan yang di gunakan. Larutan hypoklorit 30% Larutan magnesium sulfat (mgso4 = 282 gram/liter Larutan eosin Aquades sendok sentrifugator Mikroskop Objeck glass Tabung sentrifuse Cover glass (kaca tutup) Gelas ukur 1000 ml spatula Pipet isap kecil Timbangan analitik Tanah Corong saringan kawat kasa Rak tabung Pinset/penjepit Garpu tanah Sendok semen/tropol Kantong plastik Spidol permanent

3.3. Penentuan lokasi pengambilan sampel tanah Di dalam rumah yang berlantai tanah, seperti tempat-tempat yang sering di pakai (ruang keluarga, sekitar dapur, dan sekitar kamar mandi) Di halaman rumah, seperti sekitar tempat bermain anak-anak, sekitar pembuangan kotoran manusia (jamban), halaman yang lembab dan halaman yang di perkirakan tercemar tinja. Tiap lokasi di halaman rumah maupun didalam rumah di ambil 4 sampel Ke 4 titik sampel tersebut di sebut 1 sampel.

3.4. Prosedur pemeriksaan sampel tanah Saring 100 gram sampel tanah dengan saringan kawat kasa. Timbang sampel tanah yang telah di saring dengan kawat kasa, sebanyak lebih kurang 5 gram Masukan tanah yang beratnya 5 gram tersebut kedalam tabung sentrifuse. Tambahkan larutan hypoklorit 30% kedalam tabung yang berisi tanah, sebanyak kurang lebih volume tabung (20 ml) Aduk dengan pengaduk atau spatula hingga merata dan diamkan selama 1jam Masukan tabung sentrifuse tersebut kedalam sentrifugator Setelah semua tabung sentrifuse terisi, hidupkan sentrifugator dengan kecepatan 2000 rpm selama kurang lebih 2 menit Ambil tabung tersebut, kemudian buang cairan supernatanya secara hati-hati Tambahkan larutan aquades kedalam tabung sentrifuse sebanyak kurang lebih dari volume (20 ml) Masukan kembali tabung tersebut kedalam sentrifugator kemudian putar dengan kecepatan 2000 rpm selama 2 menit sampai benar-benar berhenti, kemudian hidupkan kembali sentrifuse tersebut selama 2 menit. Ambil tabung tersebut dan buang cairan supernatanya secara hati-hati. Ambil larutan magnesium sulfat (mgso4) konsentrasi 282 gram perliter sebanyak kurang lebih dari volume (20 ml)

Aduk dengan pengaduk (spatula) hingga homogen. P utar tabung tersebut dengan kecepatan 2500 rpm selama 5 menit. Setelah sentrifugator berhenti, ambil tabung tersebut dan diletakan pada rak tabung. Tambahkan larutan mgso4 kedalam tabung sentrifuse, hingga mencapai permukaan tabung secara hati-hati. Letakan dek glass di atas mulut tabung sentrifuse sehingga larutan menyentuh dek glas dan biarkan selama 30 menit Ambil dek glas tersebut, kemudian di letakan pada kaca objek yang telah di beri larutan eosin secara hati-hati Periksa sediaan tersebut di atas mikroskop dan indentifikasi telur cacing yang ada Lakukan pencacatan hasil pemeriksaan.

3.5 HASIL KEGIATAN PRAKTEK Dari hasil praktikum pemeriksaan parasit pada tanah, kelompok A melakukan pemeriksan , dan hasil yang diperoleh yaitu tidak adanya telur parasit (negatif)

BAB IV

PENUTUP

4.1

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pemeriksaan telur cacing/parasit pada tanah dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Parasitologi adalah ilmu yang mempelajari tentang mahluk hidup yang tinggal, atau makan atau hidup menumpang, baik untuk sementara waktu atau selamanya, dimahluk hidup lainnya.
2.

Hasil yang didapat dari pemeriksaan adalah negatif yang artinya bahwa tidak ditemukkan telur cacing pada sampel tanah yang di ambil.

4.2

SARAN

1. Meningkatkan pengetahuan tentang penyakit parasit agar masyarakat dapat terhindar dari penyakit kecacingan 2. Membuang faeces pada tempatnya, untuk mencegah terjadinya infeksi cacing parasit usus. 3. Menghindari makanan, air, tanah yang terkontaminasi oleh tinja yang mengandung telur atau larva parasit 4. Menjaga kebersihan diri dan tempat tinggal agat terhindar dari infeksi parasit. 5. Memakai alas kaki/sendal. Selain itu dalam melaksanakan suatu praktek sebaiknya kita harus mendengarkan arahan yang di sampaikan oleh dosen pembimbing praktek, memakai perlengapan laboratorium seperti baju lab, hanskun, masker, dll. Merawat alat-alat praktek, menjaga kebersihan laboratorium Serta didukung oleh fasilitas-fasilitas yang ada.

10