Anda di halaman 1dari 70

dapatkan ebook menarik lainnya di http://salga.heck.

in jika sahabat ingin membantu untuk memperbanyak koleksi ebook hp kami silahkan donasikan pulsa ke nomor 085255251680 Akal dan Konsep Ketuhanan Meskipun meyakini adanya Tuhan adalah masalah Fithri yang tertanam dalam diri se tiap manusia, namun karena kecintaan mereka kepada dunia yang berlebihan sehingg a mereka disibukkan dengannya, mengakibatkan mereka lupa kepada Sang Pencipta da n kepada jati diri mereka sendiri. Yang pada gilirannya, cahaya Fitrah mereka re dup atau bahkan padam. Walaupun demikian, jalan menuju Allah itu banyak. Para Ahli ma'rifat berkata,"Ja lan-jalan menuju ma'rifatullah sebanyak nafas makhluk." Salah satu jalan ma'rifa tullah adalah akal. Terdapat sekelompok kaum muslim, golongan ahli hadis (Salafi ) atau Wahabi, yang menolak peran aktif akal sehubungan dengan ketuhanan. Mereka berpendapat, bahwa satu-satunya jalan untuk mengetahui Allah adalah nash (Al- Q ur'an dan hadis). Merka beralasan dengan adanya sejumlah ayat atau riwayat yang secara lahiriah melarang menggunakan akal (ra'yu). Padahal kalau kita perhatikan , ternyata Al-Qur'an dan hadis sendiri mengajak kita untuk menggunakan akal, bah kan menggunakan keduanya ketika menjelaskan keberadaan Allah lewat argumentasi ( burhan) Aqli. Pada edisi berikutnya, Insya Allah akan kita bicarakan tentang AlQur'an, hadis dan konsep ketuhanan. Dalam persepsi mereka, membicarakan agama adalah suatu hal yang sangat sensitif dan akan merenggangkan hubungan antara manusia. Agama merupakan sesuatu yang san gat personal dan tidak perlu diungkap dalam forum-forum umum dan terbuka. Jika h arus berbicara agama pun, maka ruang lingkupnya harus dibatasi pada sisi peribad atan saja. Bisakah Tuhan dibuktikan dengan akal ? Sebenarnya pertanyaan ini tidaklah tepat, karena bukan saja Allah bisa dibuktika n dengan akal. Bahkan, pada beberapa kondisi dan situasi hal itu harus dibuktika n dengan akal, dan tidak mungkin melakukan pembuktian tanpa akal. Anggapan yang mengatakan, bahwa pembuktian wujud Allah hanya dengan nash saja ad alah anggapan yang sangat naif. Karena bagaimana mungkin seseorang menerima kete rangan Al-Qur'an, sementara dia belum mempercayai wujud (keberadaan) sumber Al-Q ur'an itu sendiri, yaitu Allah Ta'ala. Lebih naif lagi, mereka menerima keterangan Al-Qur'an lantaran ia adalah kalamul lah atau sesuatu yang datang dari Allah. Hal itu berarti, mereka telah meyakini wujud Allah sebelum menerima keterangan Al-Qur'an. Lalu mengapa mereka meyakini wujud Allah. Mereka menjawab,"Karena Al-Qur'an mengatakan demikian." Maka terjadilah daur (Li ngkaran Setan?, lihat istilah daur pada pembahasan selanjutnya). Dalam hal ini, Al-Qur'an dijadikan sebagai pendukung dan penguat dalil aqli. Para ulama, ketika membuktikan wujud Allah dengan menggunakan burhan aqli, terka dang melalui pendekatan kalami (teologis) atau pendekatan filosofis. Pada kesempatan ini Insya Allah kami mencoba menjelaskan keduanya secara sederha na dan ringkas. Burhan-burhan Aqli-kalami tentang keniscayaan wujud Allah Ta'ala 1. Burhan Nidham (Keteraturan) Burhan ini dibangun atas beberapa muqaddimah (premis). Pertama, bahwa alam raya ini penuh dengan berbagai jenis benda, baik yang hidup maupun yang mati. Kedua, bahwa alam bendawi (tabi'at) tunduk kepada satu peraturan. Artinya, setia p benda yang ada di alam ini tidak terlepas dari pengaruh undang-undang dan huku m alam. Ketiga, hukum yang menguasai alam ini adalah hukum kausalitas ('ilaliyyah), arti nya setiap fenomena yang terjadi di alam ini pasti dikarenakan sebuah sebab ('il lat), dan tidak mungkin satu fenomena terjadi tanpa sebab. Dengan demikian, selu

ruh alam raya ini dan segala yang ada di dalamnya, termasuk hukum alam dan sebab -akibat, adalah sebuah fenomena dari sebuah puncak sebab (prima kausa, atau 'ill atul 'ilal). Keempat, "sebab" atau 'illat yang mengadakan seluruh alam raya ini tidak keluar dari dua kemungkinan, yaitu "sebab" yang berupa benda mati atau sesuatu yang hid up. Kemungkinan pertama tidak mungkin, karena beberapa alasan berikut : Pertama, ala m raya ini sangat besar, indah dan penuh keunikan. Hal ini menunjukkan bahwa "se bab" yang mengadakannya adalah sesuatu yang hebat, pandai dan mampu. Kehebatan, kepandaian dan kemampuan, merupakan ciri dan sifat dari sesuatu yang hidup. Bend a mati tidak mungkin disifati hebat, pandai dan mampu. Kedua, benda-benda yang ada di alam ini beragam dan bermacam-macam, di antaranya adalah manusia. Manusia merupakan salah satu bagian dari alam yang palin menonj ol. Dia pandai, mampu dan hidup. Mungkinkah manusia yang pandai, mampu dan hidup terwujud dari sesuatu yang mati ? Kesimpulannya, bahwa alam raya ini mempunyai "sebab" atau 'illat, dan "sebab" te rsebut adalah sesuatu yang hidup. Kaum muslimin menamai "sebab" segala sesuatu i tu dengan sebutan Allah Ta'ala. 2. Burhan al-Huduts (Kebaruan) Al-Huduts atau al-Hadits berarti baru, atau sesuatu yang pernah tidak ada. Burha n ini terdri atas beberapa hal : Pertama, bahwa alam raya ini hadits, artinya mengalami perubahan dari tidak ada menjadi ada dan akhirnya tidak ada lagi. Kedua, segala sesuatu yang asalnya tidak ada kemudian ada, tidak mungkin ada den gan sendirinya. Pasti dia menjadi ada karena "sebab" sesuatu. Ketiga, yang menjadikan alam raya ini ada haruslah sesuatu yang qadim, yakni keb eradaannya tidak pernah mengalami ketiadaan. Keberadaannya kekal dan abadi. Kare na, jika sesuatu yang mengadakan alam raya ini hadits juga, maka Dia-pun ada kar ena ada yang mengadakannya, demikian seterusnya (tasalsul). Tasalsul yang tidak berujung seperti ini mustahil. Dengan demikian, pasti ada 'sesuatu' yang keberad aannya tidak pernah mengalami ketiadaan. Kaum muslimin menamakan 'sesuatu' itu d engan sebutan Allah Ta'ala

Burhan-burhan Aqli-Filosofi tentang kenicayaan wujud Allah Ta'ala A. Burhan Imkan Sebelum menguraikan burhan ini, ada beberapa istilah yang perlu diperjelas terlebih dahulu : Wajib, yaitu sesuatu yang wujudnya pasti, dengan sendirinya dan tidak membutuhka n kepada yang lain. Imkan atau mumkin, sesuatu yang wujud (ada) dan 'adam (tiada) baginya sama saja (tasawiy an-nisbah ila al-wujud wa al-'adam). Artinya sesutu yang ketika 'ada' d isebabkan faktor eksternal, atau keberadaannya tidak dengan sendirinya. Demikian pula, ketika 'tidak ada' disebabkan faktor eksternal pula, atau ketiadaannya ju ga tidak dengan sendirinya. Dia tidak membias kepada wujud dan kepada ketiadaan. Menurut para filosuf, hal ini merupakan ciri khas dari mahiyah (esensi). Mumtani' atau mustahil, yaitu sesuatu yang tidak mungkin ada dan tidak mungkin t erjadi, seperti sesuatu itu ada dan tiada pada saat dan tempat yang bersamaan (i jtima'un naqidhain). Daur (siklus atau lingkaran setan). Misal, A keberadaannya tergantung/membutuhka n B, sedangkan B keberadaannya tergantung/membutuhkan A. Jadi A tidak mungkin ad a tanpa keberadaan B terlebih dahulu, demikian pula B tidak mungkin ad tanpa keb eradaan A terlebih dahulu. Dengan demikian, A tidak akan ada tanpa B dan pada sa at yang sama A harus ada karena dibutuhkan B. Ini berarti ijtima'un naqidhain (l ihat Mumtani'). Contoh lainnya, A keberadaannya tergantung/membutuhkan B, dan B kebradaannya ter gantung membutuhkan C, sedangkan C keberadaannya tergantung/membutuhkan A. Jadi, A tidak mungkin ada tanpa keberadaan B terlebih dahulu, demikian juga B tidak m ungkin ada tanpa keberadaan C terlebih dahulu, demikin pula C tidak mungkin ada

tanpa keberadaan A terlebih dahulu. Daur adalah suatu yang mustahil adanya. Tasalsul, yaitu susunan sejumlah 'illat dan ma'lul, dengan pengertian bahwa yang terdahulu menjadi 'illat bagi yang kemudian, dan seterusnya tanpa berujung. Tas alsul sama dengan daur, mustahil adanya. Burhan Imkan dapat dijelaskan dengan beberapa point berikut ini : Pertama, bahwa seluruh yang ada tidak lepas dari dua posisi wujud, yaitu wajib a tau mumkin. Kedua, wujud yang wajib ada dengan sendirinya dan wujud yang mumkin pasti membut uhkan atau berakhir kepada wujud yang wajib, maka akan terjadi daur (siklus) ata u tasalsul (rentetan mata rantai yang tidak berujung) dan keduanya mustahil. Ketiga, bahwa yang mumkin berakhir kepada yang wajib. Dengan demikian, yang waji b adalah 'sebab' dari segala wujud yang mumkin (prima kausa atau 'illatul 'ilal) . Kaum muslimin menamakan wujud yang wajib dengan sebutan Allah Ta'ala. B. Burhan ash-Shiddiqin Burhan ini menurut para filosuf muslim, merupakan terjemahan dari ungkapan Ahlib ait as. yang berbunyi,"Wahai Dzat yang menunjukkan diri-Nya dengan diri-Nya." (D oa Shabah Amir al-Mukminin Ali bin Abi Thalib as.) Artinya, burhan ini ingin men jelaskan pembuktian wujud Allah melalui wujud diri-Nya sendiri. Para ahli mantiq (logika) menyebutnya dengan burhan Limmi. Penjelasan burhan ini, hampir sama de ngan penjelasan burhan Imkan. Ada beberapa penafsiran tentang burhan shiddiqin ini. Di antaranya penafsiran Mu lla Shadra. Beliau mengatakan, "Dengan demikian, yang wujud terkadang tidak memb utuhkan kepada yang lain (mustaghni) dan terkadang pula, secara substansial, ia membutuhkan kepada yang lain (muftaqir). Yang pertama adalah wujud yang wajib, y aitu wujud murni. Tiada yang lebih sempurna dari-Nya dan Dia tidak diliputi keti adaan dan Dia tidak diliputi ketiadaan dan kekurangan. Sedangkan yang kedua , ad alah selain wujud yang wajib, yaitu perbuatan-perbuatan-Nya yang tidak bisa tega k kecuali dengan -Nya. (Nihayah al-Hikmah, hal. 269). Allamah al-Hilli , dalam kitab Tajrid al-'I'tiqad karya Syekh Thusi, menjelaskan , "Diluar kita secara pasti ada yang wujud. Jika yang wujud itu wajib, maka itul ah yang dimaksud (Allah Ta'ala) , dan jika yang wujud itu mumkin, maka dia pasti membutuhkan faktor yang wujud (ntuk keberadaannya). Jika faktor itu wajib , mak a itulah yang dimaksud (Allah Ta'ala). Tetapi jika faktor itu mumkin juga, maka dia membutuhkan faktor lain dan seterusnya (tasalsul) atau daur. Dan keduanya mu stahil adanya. Kitab Rujukan : 1. Nihayah al Hikmah, karya Allamah Thabathabai. 2. Kasyf al-Murad fi Syarh at-tajrid, karya Allamah al-Hilli. 3. Bab al-Hadi 'Asyr, karya Allamah al-Hilli 4. Al-Ilahiyyat, karya Syekh Ja'far Subhani. 5. Muhadharah fi Ilmi al-Kalam (kaset), ceramah Sayyid Kamal Haydari. Sumber: Buletin Dwi Mingguan RISALATUNA diterbitkan oleh Yayasan Al-Jawad, Edisi 03-Tahun 1997 Al-Qur'an dan Konsep Ketuhanan (1) Sebelum menyebutkan ayat-ayat yang berkenaan dengan ketuhanan, kami terlebih dah ulu ingin menjelaskan bahwa Al-Qur,an tidak pernah melarang umat manusia menggun akan akalnya. Bahkan, menganjurkan mereka menggunakan akalnya. Allah Ta'ala berfirman, "Sungguh, Kami turunkan al-Qur,an dengan (berbahasa) Ara b, agar kalian berpikir."(QS.Yusuf.2). Banyak ayat-ayat senada lainnya yang diak hiri dengan kalimat afala ta'qilun, afala tatafakkarun, afala ta'lamun, atau Iaf ala yafqahun." Selain itu, al-Qur,an menganggap orang yang tidak menggunakan akalnya sebagai bi natang, dengan ungkapan, "Mereka memiliki akal, tetapi mereka tidak memahami (be rpikir). Mereka mempunyai mata, tapi mereka tidak melihat, mereka mempunyai teli nga, tetapi mereka tidak mendengar. Mereka bagaikan binatang. Mereka adalah oran g-orang yang lengah." (QS.al A,raf: 179). Al-Qur an sendiri menguji kebenaran dirinya kepada akal, "Tidakkah mereka merenung

kan al-Qur an. Sekiranya ia bukan dari Allah, pasti mereka mendapatkan perselisiha n yang banyak didalamnya."(QS.an-Nisa: 82) Ayat di atas ditujukan kepada orang-orang yang meyakini wujud Allah, namun merek a masih ragu apakah al-Qur an itu kalamullah atau bukan. Karena itulah Allah berfi rman, "Sekiranya al-Qur an itu bukan dari Allah, maka pasti mereka menemukan perse lisihan yang banyak di dalamnya." Akan tetapi, karena tidak ditemukan perselisihan di dalamnya, berarti al-Qur,an itu benar-benar dari Allah. Argumentasi yang dipakai al-Qur an semacam ini, dalam istilah para ahli mantiq (logika), dinamakan Qiyas Istitsna i. Jadi, akal dijadikan sebagai alat yang digunakan untuk mengetahui kebenaran dan kesalahan sebatas ruang lingkup diri sendirinya. Dengan demikian, benarkah al-Qur,an melarang penggunaan akal? Bagaimana pulakah al-Qur an berbicara tentang ketuhanan? Perlu diketahui, bahwa al-Qur an dijadikan sebagai dalil atas wujud Allah setelah terbuktikan keberadaan-Nya melalui akal. Oleh karena itu, kalangan Syi ah Imamiah menjadikan al-Qur an sebagai penguat dan pendukung dalil-dalil aqli (lihat Buletin RISALATUNA, edisi nomor 3). Terdapat beberapa metode pendekatan yang dipakai al-Qur'an dalam membahas tentan g wujud Allah Ta ala, antara lain, sebagai berikut : Fitrah Pada beberapa ayat al-Qur an, masalah tauhid atau ketuhanan dianggap sebagai masal ah fitrah, sehingga tidak perlu lagi dicari dalilnya, karena ia merupakan bagian dari fitrah (ciptaan) manusia. Betapa seringnya al-Qur an berusaha membangkitkan fitrah ketuhanan ini dari kedalaman hati orang-orang yang mengingkari wujud Alla h Ta ala. Simaklah ayat-ayat berikut, yang berbicara mengenai ketuhanan : 1. Surat Rum ayat 30: "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama sebagi fitrah Allah, yang te lah menciptakan manusia atasnya. Tidak ada perubahan pada ciptaan (fitrah) Allah ." Pada ayat ini jelas sekali, bahwa Din merupakan fitrah manusia dan bagian dari f itrah manusia yang tidak akan pernah berubah. Syekh Muhammad Taqi Mishbah, seorang mujtahid dan filosuf kontemporer, ketika me ngomentari ayat di atas menyatakan, bahwa ada duia penafsiran yang dapat diambil dari ayat ini, (1) Pertama, maksud ayat ini ialah, bahwa prinsip-prinsip agama, seperti tauhid dan hari akhir, dan hukum-hukum agama secara global, seperti mem bantu orang-orang miskin, menegakkan keadilan dan lainnya, sejalan sengan kecend erungan manusia. (2)Kedua, tunduk kepada Allah Ta ala mempunyai akar dalam diri ma nusia. Lantaran manusia secara fitrah, cenderung untuk bergantung dan mencintai Kesempurnaan yang mutlak Kedua penafsiran di atas bisa diselaraskan. Penafsiran pertama mengatakan, bahwa mengenal agama adalah fitrah, sedangkan penafsiran kedua menyatakan bahwa yang fitri adalah ketergantungan, cinta dan menyembah kepada Yang Sempurna. Namun men yembah kepada Yang Sempurna tidak mungkin dilakukan tanpa mengenal-Nya terlebih dahulu. Dengan demikian, penafsiran kedua kembali kepada yang pertama. (Ma arif al -Qur an, juz 1 halaman 31-32). Allamah Thaba thabai memberikan penjelasan mengapa Din itu merupakan fitrah. Dalam kitab Tafsir al-Mizan, beliau berkata,"(Lantaran) Din tidak lain kecuali tradis i kehidupan dan jalan yang harus dilalui manusia, sehingga dia bahagia dalam hid upnya. Tidak ada tujuan yang ingin dicapai manusia, melainkan kebahagiaaan." Selanjutnya, beliau menjelaskan bahwa setiap fitrah mendapat bimbingan untuk sam pai kepada tujuannya masing-masing. Sebagaimana terungkap dalam firman Allah ber ikut, "Tuhan kami yang menciptakan segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk. "(QS. Thaha: 50). Manusia, seperti juga makhluk lainnya, mempunyai tujuan dan mendapat bimbingan a gar sampai kepada tujuannya. Bimbingan tersebut berupa fitrah yang akan menganta rkan dirinya kepada tujuan hidupnya." (Tafsir al-Mizan, juz 21 halaman 178-179). 2. Surat al-A raf ayat 172: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi

anak-anak Adam keturunan mereka dan mengambil kesaksian dari mereka atas diri m ereka sendiri, Bukankah Aku ini Tuhan kalian? Seraya mereka menjawab, Benar (Engka u Tuhan kami), Kami menjadi saksi. (Hal ini Kami lakukan), agar dihari kiamat kal ian tidak mengatakan, Sesungguhnya kami lengah atas ini (wujud Allah). Dalam ayat tersebut dikatakan, bahwa setiap manusia sebelum lahir ke muka bumi i ni pernah dimintai kesaksiannya atas wujud Allah Ta ala dan mereka menyaksikan ata u mengenal-Nya dengan baik. Kemudian, hal itu mereka bawa terus hingga lahir ke dunia. Oleh karena itu, manusia betapapun besarnya dia, kuat dan kaya, namun dia tetap tidak dapat mengingkari bahwa dirinya tidak memiliki wujud dirinya sendiri dan t idak dapat berdiri sendiri dalam mengurus segala urusannya. Sekiranya dia memili ki dirinya sendiri, niscaya dia dapat mengatasi berbagai kesulitan dan kematian. Dan sekiranya dia pun berdiri sendiri dalam mengurus segala urusannya, maka dia tidak akan membutuhkan fasilitas-fasilitas alam. Ketidakberdayaan manusia dan ketergantungannya kepada yang lain, merupakan bagia n dari fitrah (ciptaan) manusia. Jadi, selamanya manusia membutuhkan dan bergant ung kepada yang lain. Dan dia tidak akan mendapatkan tempat bergantung yang semp urna, kecuali Allah Ta ala semata. Itulah yang dinamakan fitrah bertuhan (fitrah I lahiyah). (Lihat kitab Tafisr al-Mizan, juz 9 halaman 306-323). Selanjutnya ayat tersebut menyatakan, bahwa dengan dibekalinya manusia (dengan) fitrah, maka ia tidak mempunyai alasan untuk mengingkari dan lengah atas wujud A llah Ta ala. Syekh Taqi Misbah berpendapat, bahwa pengetahuan dan pengakuan manusia akan Alla h, dalam ayat tersebut, adalah pengetahuan yang sifatnya huduri-syuhudi (ilmu hu duri) dan bukan hushuli (Lihat kitab Ma arif al-Qur an, juz 1 halaman 33). 3. Surat Yasin, ayat 60-61: "Bukankah Aku telah memerintahkan kepada kalian, wahai anak-anak Adam, agar kali an tidak menyembah setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh kalian yang nyata. Dan sembahlah Aku. Itulah jalan yang lurus." Sebagian ulama, seperti Ayatullah Syahid Muthahhari berpendapat, bahwa perintah ini terjadi di alam sebelum alam dunia, dan dijadikan sebagai bukti, bahwa menge nal Allah adalah sebuah fitrah (Kitab Fitrat, halaman 245). 4. Surat al-Ankabut ayat 65: "Dikala mereka menaiki kapal, mereka berdoa (memanggil) Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Namun, ketika Allah menyelamatkan mereka ke daratan, mereka kembali berbuat syirik." Ayat ini menjelaskan, bagaimana fitrah itu mengalami pasang surut dalam diri man usia. Biasanya, fitrah itu muncul saat manusia merasa dirinya tidak berdaya dala m menghadapi kesulitan. Dalam kitab tafsir Namuneh disebutkan, bahwa kesulitan dan bencana dapat menjadi kan fitrah manusia tumbuh, karena cahaya tauhid tersimpan dalam jiwa setiap manu sia. Namun, fitrah itu sendiri bisa tertutup, disebabkan oleh tradisi dan tingka h laku yang menyimpang, atau pendidikan yang keliru. Lalu ketika bencana dan kes ulitan dari berbagai arah menimpanya, sementara dia tidak berdaya menghadapinya, maka pada saat seperti itu dia berpaling kepada Sang Pencipta. (Tafsir Namuneh, juz 16 halaman 340-341) Oleh karena itu, para ahli ma rifat dan ahli hikmah meyakini, bahwa dalam suatu mu sibah besar, yaitu kesadaran manusia terhadap (keberadaan) Allah muncul kembali. Ayat-ayat Afaqi Selain menegaskan bahwa masalah tauhid adalah fitrah, al-Qur an juga berusaha meng ajak manusia berpikir dengan akalnya bahwa di balik terciptanya alam raya dan pe rubahan-perubahan yang terjadi di dalamnya (membuktikan) adanya Sang Pencipta. Allamah al-Hilly dalam kitab Bab Hadi al-Asyr halaman 7 menjelaskan, bahwa para ulama dalam upaya membuktikan wujud Sang Pencipta mempunyai dua jalan. Salah sat unya, adalah dengan jalan membuktikan wujud Allah melalui fenomena-fenomena alam yang membutuhkan sebab , seperti diisyaratkan dalam ayat al-Qur an berikut ini: "Akan Kami perlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di alam raya ini (afaq) da

n di dalam diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa sesungguhnya Di a itu benar (haq)."(QS. Fush-shilat: 53). Inilah jalan yang ditempuh Nabi Ibrahim as. Pengembaraan rasional Nabi Ibrahim a s. seperti ini dalam mencari Tuhan, yang sebenarnya beliau tujukan untuk mengaja k kaumnya berpikir, merupakan metode Afaqi yang efektif sekali. Untuk lebih jelasnya, kita dapat melihat langsung ayat-ayat yang menjelaskan pen gembaraan rasional Nabi Ibrahim as. tersebut dalam al-Qur an, surat al-An am ayat 75 sampai 79. Ayat-ayat al-Qur an yang mengajak kita untuk merenungkan fenomena alam dan keunika n-keunikan makhluk yang ada di dalamnya, sangatlah banyak. Tentang hal ini, kami mencoba mengklasifikasikan kepada dua kelompok: Pertama, ayat-ayat tentang benda-benda mati di langit dan di bumi. Misalnya, aya t yang berbunyi, "Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi serta pergant ian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang memiliki akal." (QS. Ali Imran:190). Atau ayat l Bagaimana Menjadi Khalifatullah ? Ust. Husein Al-Kaff Ingatlah, ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Sesungguhnya Aku akan m enciptakan di muka bumi seorang khalifah. Para malaikat serentak berkata, Apakah Engkau hendak menciptakan di muka bumi (makhluk) yang akan melakukan kerusakan dan akan menumpahkan darah di dalamnya, padahal kami senantiasa bertasbih dengan menyanjung-Mu dan mensucikan-Mu? Seraya Allah menjawab, Sungguh Aku lebih menge tahui apa-apa yang tidak kalian ketahui. (QS. Al-Baqarah ayat 30). Ayat di atas termasuk dari sekian firman Allah Ta ala yang senantiasa segar dibaha s dan dikaji. Hingga saat ini para ulama, khususnya Mufassirin (ahli tafsir Al-Q ur an), belum puas-puas dan tidak henti-hentinya mengungkap dan mengeksplorasi sed alam-dalamnya maksud dari ayat tersebut, untuk mendapat kebenaran darinya. Alasa n mereka jelas dan sederhana. Karena ayat ini menyangkut eksistensi manusia yang sebenarnya. Dengan memahami ayat tersebut secara baik dan benar, maka akan terpecahkan sebua h problema yang maha besar, yaitu hakikat manusia. Memahami hakikat manusia sang at menentukan pandangan dunia, ideologi, sikap, perjalanan dan nasib manusia set elah mati. Hakikat manusia bagi sebagian pemikir dan filosof, masih merupakan teka-teki yan g membingungkan. Umat Islam dengan pancaran cahaya Al-Qur an, sedikit banyaknya te rbantu dalam mengetahui hakikat manusia dan itu pun tergantung sejauh mana merek a memahami ayat tersebut. Apa Arti Khalifah? Islam memandang manusia sebagai khalifatullah, yakni khalifah Allah. Itulah haki kat manusia. Namun apakah dalam kenyataannya setiap manusia itu khalifatullah ? Bukankah di antara mereka ada yang kafir ? Lalu apa yang dimaksud dengan manusia sebagai khalifatullah ? Atau bagaimana man usia menjadi khalifatullah ?Sebelum pertanyaan-pertanyaan di atas dapat dijawab, maka terlebih dahulu harus dipahami arti khalifah itu sendiri. Khalifah atau khilafah, berasal dari akar kata khalaf yang berarti di belakang p unggung, meninggalkan sesuatu di belakang atau sesuatu yang menempati tempat ses uatu yang lain. Al-Qur an menyebut kata khalifah atau khilafah dengan berbagai tur unannya. Selain itu, Al-Qur an menggunakan kata khalifah untuk manusia dan untuk s elain manusia. Misalnya, ayat yang berbunyi, Dialah yang menciptakan malam dan siang silih berga nti (malam menempati siang dan siang menempati malam), bagi mereka yang mau berp ikir atau bersyukur. (QS. Al-Furqan : 62) Ketika kata khalifah digunakan untuk manusia, kata ini mempunyai arti yang netra l. Maksudnya bisa untuk kebaikan dan bisa pula untuk keburukan. Lalu datanglah setelah mereka generasi (pengganti), yang melalaikan shalat dan m engikuti hawa napsu. Mereka kelak niscaya akan mendapatkan kesesatan."(QS. Marya m : 59).

Atau firman-Nya yang berbunyi, "Maka datanglah setelah mereka generasi (penggant i), yang mewarisi kitab." (QS. Al-Araf : 169). Tetapi ketika kata khalifah disandarkan (di-idhafah-kan) kepada Allah atau Rasul ullah, maka kata itu mengandung arti yang positif. Maksudnya jika yang diganti ( al-mustakhlif) baik, maka yang menggantikannya (khalifah, mustakhlaf) harus baik juga. Andaikata tidak, maka akan merusak reputasi mustakhlif. Manusia adalah khalifah dari Allah dan Allah adalah puncak segala kebaikan dan k esempurnaan. Dengan demikian manusia adalah titisan dari kebaikan dan kesempurna an-Nya. Jadi manusia berkedudukan sebagai wakil atau pengganti Allah di muka bumi. Yaitu manusia yang mempunyai kemampuan untuk mengatur dan mengubah alam. Manusia yang sedikit banyak mengetahui rahasia alam. Semua itu tidak berlaku bagi makhluk-ma khluk lainnya. Akan tetapi bagaimana dengan kenyataan umat manusia zaman kini ? Sungguh ironis sekali bukan. Syekh Taqi Mishbah berpendapat, bahwa kedudukan khalifah tidak terbatas pada Ada m saja, melainkan manusia lain pun dapat menduduki jabatan khilafah dengan satu syarat, yaitu mengetahui asma. (lihat kitab Ma arif Al-Qur an, juz 3 hal 73). Allamah Thabathaba i dalam kitab Tafsir al-Mizan, jilid I halaman 116 berkata, Khil afah tidak terbatas pada diri Adam as. saja, tetapi para keturunannya pun sama m enduduki khilafah tanpa kecuali. Selanjutnya beliau menjelaskan, Maksud mengajarkan asma, adalah menyimpan ilmu pa da manusia yang senantiasa akan tampak secara bertahap. Jika manusia mendapatkan petunjuk, maka dia akan membuktikannya secara faktual (bil-fi li) setelah sebelum nya berupa potensial (bil-quwwah). Maksud dari penjelasan Allamah Thabathaba i di atas, bahwa manusia secara potensia l adalah khalifah Allah. Namun yang mampu memfaktualkannya tidak semua manusia. Hanya sebagian kecil saja di antara mereka yang mampu. Hal itu kembali kepada ik htiar dan pilihan manusia itu sendiri. Kriteria-Kriteria Khalifatullah Pada dasarnya manusia diciptakan Allah sebagai khalifah-Nya. Namun hal itu masih berupa potensi, seperti yang telah dijelaskan terdahulu. Nah, agar potensi itu berkembang dan mewujud secara nyata, maka terdapat seperangkat kriteria yang har us dipenuhi sehingga manusia benar-benar menjadi khalifah Allah Ta ala. Kriteria-kriteria khalifah Allah itu ialah : 1. Ilmu Kriteria pertama adalah ilmu. Pada ayat yang telah disebutkan terdahulu, selanju tnya disambung dengan ayat yang berbunyi : Dia mengajarkan kepada Adam asma (nama benda-benda) semuanya, kemudian dia mempe rtunjukkannya kepada para malaikat. Lalu Allah berfirman (kepada para malaikat), Sebutkanlah kepada-Ku asma-asma itu, jika kalian memang benar ?"(QS. Al-Baqarah : 31). Para mufasir berbeda pendapat tentang pengertian asma yang tercantum pada ayat d i atas. Walaupun mereka berbeda pendapat tentang makna asma, tetapi yang pasti ( al-qadru al-mutayaqqan) dan yang tidak diperselisihkan lagi adalah, bahwa Adam a s. dibekali pengetahuan dan ilmu yang tidak dimiliki oleh para malaikat. Sebagaimana telah kami kutipkan komentar Allamah Thabathaba i tentang pengertian a sma pada surat Al-Baqarah ayat 31 tersebut, beliau menjelaskan bahwa Allah telah menyimpan dalam diri manusia sebuah potensi ilmu, yang akan nyata dengan mengik uti petunjuk-Nya. Jadi untuk menjadi khalifatullah, hendaknya manusia berilmu. Manusia yang tidak berilmu, tidak bisa dikatakan sebagai khalifah Allah Ta ala. 2. Iman dan Amal Pada ayat yang lain, Allah Ta ala berfirman tentang kriteria khalifah-Nya. "Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan beram al shaleh (kebaikan), bahwa Dia akan menjadikan mereka sebagai khalifah di bumi, Sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka sebagai khalifah. S

esungguhnya Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka, yang telah diridhai-Ny a untuk mereka, serta Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka menjadi ama n setelah mereka ketakutan. Mereka akan menyembah-Ku dan tidak menyekutukan apap un dengan-Ku. Dan barang siapa kafir setelah itu, maka mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS. An-Nur : 55). Pada ayat tersebut, jelas sekali Allah berjanji akan menjadikan hamba-hamba-Nya sebagai khalifah yang akan menguasai dan memimpin dunia. Tetapi janji itu akan d itepati-Nya bagi manusia yang beriman dan beramal kebaikan. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa kriteria lain dari seorang khalifatulla h adalah iman dan amal shaleh. 3. Memberi keputusan dengan benar (haqq) dan tidak mengikuti hawa nafsu Allah Ta ala berfirman, "Wahai Dawud, Kami jadikan engkau sebagai khalifah di bumi, maka berilah keputus an dengan benar dan janganlah mengikuti hawa nafsu, karena hawa nafsu akan menye satkanmu dari jalan Allah." (QS. Shad : 26). Allamah Thabathaba i berkata, Maksud khalifah di sini secara lahiriah adalah khalif atullah, sama dengan maksud dari firman Allah (pada surat Al-Baqarah ayat 30). D an seorang khalifah seharusnya menyerupai Yang mengangkat dirinya sebagai khalif ah dalam sifat-sifat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya. Oleh karena itu khalifatul lah di bumi hendaknya berakhlak dengan akhlak-akhlak Allah, berkehendak, bertind ak sebagaimana yang Allah kehendaki dan memberi keputusan dengan keputusan Allah serta berjalan di jalan Allah. Selanjutnya ketika menafsirkan ayat : "Dan janganlah mengikuti hawa nafsu, karena hawa nafsu akan menyesatkanmu dari j alan Allah." Beliau berkata, Makna ayat tersebut adalah, bahwa engkau dalam memutuskan (sesuat u) janganlah mengikuti hawa nafsu, maka engkau akan disesatkan olehnya dari kebe naran, yaitu jalan Allah. (Tafsir al-Mizan, jilid 17 halaman 194-195). 4. Amar Ma ruf dan Nahi Munkar Rasulullah saww bersabda, Barang siapa ber-amar ma ruf dan nahi munkar, maka dia ad alah khalifatullah di bumi dan khalifah kitab-Nya serta khalifah rasul-Nya. (Kitab Mizan al-Hikmah, jilid 3 hal 80). Kesimpulan Semua manusia secara potensial (bil-quwwah), diciptakan untuk menjadi khalifatul lah. Namun agar potensi tersebut menjadi nyata (bil-fi li), terdapat sejumlah krit eria yang harus dimilikinya, yaitu ilmu, iman, amal shaleh, memberi keputusan de ngan benar, tidak mengikuti hawa nafsu dan ber-amar ma ruf dan nahi munkar. [] Filsafat Ilmu Teori Pengetahuan Pengetahuan (knowledge atau ilmu )adalah bagian yang esensial- aksiden manusia, karena pengetahuan adalah buah dari "berpikir ". Berpikir ( atau natiqiyyah) ada lah sebagai differentia ( atau fashl) yang memisahkan manusia dari sesama genusnya,yaitu hewan. Dan sebenarnya kehebatan manusia dan " barangkali " keunggulann ya dari spesies-spesies lainnya karena pengetahuannya. Kemajuan manusia dewasa i ni tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya. Lalu apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia ? Bagaimana manusia berpengetahuan ? Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan ? Kemudian apakah yang ia ketahui itu benar ? Dan apa yang mejadi tolak ukur kebenaran ? Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya sederhana sekali karena pertanyaan-pert anyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam r ealita. Namun ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka tidak menjadi sederhana lagi. Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit, dari sesuatu yang sederhana menjadi sesu

atu yang rumit (complicated). Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pe mbedahan ilmu, maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. P erselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (world v iew), sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi. Dan itulah realita dar i kehidupan manusia yang memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideologi. Atas dasar itu, manusia -paling tidak yang menganggap penting masalah-masalah di atas- perlu membahas ilmu dan pengetahuan itu sendiri. Dalam hal ini, ilmu tidak lagi menjadi satu aktivitas otak, yaitu menerima, merekam, dan mengolah apa yan g ada dalam benak, tetapi ia menjadi objek. Para pemikir menyebut ilmu tentang ilmu ini dengan epistemologi (teori pengetahu an atau nadzariyyah al ma'rifah). Epistemologi menjadi sebuah kajian, sebenarnya, belum terlalu lama, yaitu sejak tiga abad yang lalu dan berkembang di dunia barat. Sementara di dunia Islam kaji an tentang ini sebagai sebuah ilmu tersendiri belum populer. Belakangan beberapa pemikir dan filusuf Islam menuliskan buku tentang epistemologi secara khusus se perti, Mutahhari dengan bukunya "Syinakht", Muhammad Baqir Shadr dengan "Falsafa tuna"-nya, Jawad Amuli dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya dan Ja'far Subhani d engan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya. Sebelumnya, pembahasan tentang epistemologi di bahas di sela-sela buku-buku filsafat klasik dan mantiq. Mereka -barat- sang at menaruh perhatian yang besar terhadap kajian ini, karena situasi dan kondisi yang mereka hadapi. Dunia barat (baca: Eropa) mengalami ledakan kebebasan bereks presi dalam segala hal yang sangat besar dan hebat yang merubah cara berpikir me reka. Mereka telah bebas dari trauma intelektual. Adalah Renaissance yang paling berjasa bagi mereka dalam menutup abad kegelapan Eropa yang panjang dan membuka lembaran sejarah mereka yang baru. Supremasi dan dominasi gereja atas ilmu peng etahuan telah hancur. Sebagai akibat dari runtuhnya gereja yang memandang dunia dangan pandangan yang apriori atas nama Tuhan dan agama, mereka mencoba mencari alternatif lain dalam memandang dunia (baca: realita). Maka dari itu, bemunculan berbagai aliran pemikiran yang bergantian dan tidak sedikit yang kontradiktif. Namun secara garis besar aliran-aliran yang sempat muncul adalah ada dua, yakni aliran rasionalis dan empiris. Dan sebagian darinya telah lenyap. Dari kaum rasi onalis muncul Descartes, Imanuel Kant, Hegel dan lain-lain. Dan dari kaum empiri s adalah Auguste Comte dengan Positivismenya, Wiliam James dengan Pragmatismenya , Francis Bacon dengan Sensualismenya. Berbeda dengan barat, di dunia Islam tidak terjadi ledakan seperti itu, karena d alam Islam agama dan ilmu pengetahuan berjalan seiring dan berdampingan, meskipu n terdapat beberapa friksi antara agama dan ilmu, tetapi itu sangat sedikit dan terjadi karena interpretasi dari teks agama yang terlalu dini. Namun secara kese luruhan agama dan ilmu saling mendukung. Malah tidak sedikit dari ulama Islam, j uga sebagai ilmuwan seperti : Ibnu Sina, al Farabi, Jabir bin al Hayyan, al Khaw arizmi, Syekh al Thusi dan yang lainnya. Oleh karena itu, ledakan intelektual da lam Islam tidak terjadi. Perkembangan ilmu di dunia Islam relatif stabil dan ten ang. Filsafat Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang telah di-Arabkan. Kata ini barasal dari dua kata "philos" dan "shopia" yang berarti pecinta pengetahuan. Konon yang per tama kali menggunakan kata "philoshop" adalah Socrates. (dan masih konon juga) D ia menggunakan kata ini karena dua alasan, Pertama, kerendah-hatian dia. Meskipu n ia seorang yang pandai dan luas pengetahuannya, dia tidak mau menyebut dirinya sebagai orang yang pandai. Tetapi dia memilih untuk disebut pecinta pengetahuan . Kedua, pada waktu itu, di Yunani terdapat beberapa orang yang menganggap diri me reka orang yang pandai (shopis). Mereka pandai bersilat lidah, sehingga apa yang mereka anggap benar adalah benar. Jadi kebenaran tergantung apa yang mereka kat akan. Kebenaran yang riil tidak ada. Akhirnya manusia waktu itu terjangkit skept is, artinya mereka ragu-ragu terhadap segala sesuatu, karena apa yang mereka ang gap benar belum tentu benar dan kebenaran tergantung orang-orang shopis. Dalam k eadaan seperti ini, Socrates merasa perlu membangun kepercayaan kepada manusia b ahwa kebenaran itu ada dan tidak harus tergantung kepada kaum shopis. Dia berhas il dalam upayanya itu dan mengalahkan kaum shopis. Meski dia berhasil, ia tidak

ingin dikatakan pandai, tetapi ia memilih kata philoshop sebagai sindiran kepada mereka yang sok pandai. Kemudian perjuangannya dilanjutkan oleh Plato, yang dikembangkan lebih jauh oleh Aristoteles. Aristoteles menyusun kaidah-kaidah berpikir dan berdalil yang kemu dian dikenal dengan logika (mantiq) Aristotelian. Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia . Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni, filsafat teoritis dan filsafa t praktis. Filsafat teoritis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam, seperti: fisik a, biologi, ilmu pertambangan dan astronomi; (2) ilmu eksakta dan matematika; (3 ) ilmu tentang ketuhanan dan methafisika. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-n orma (akhlak); (2) urusa rumah tangga; (3) sosial dan politik. Filusuf adalah or ang yang mengetahui semua cabang-cabang ilmu pengetahuan tadi. Mungkinkah Manusia itu Mempunyai Pengetahuan ? Masalah epistemologis yang sejak dahulu dan juga sekarang menjadi bahan kajian a dalah, apakah berpengetahuan itu mungkin ? Apakah dunia (baca: realita) bisa dik etahui ? Sekilas masalah ini konyol dan menggelikan. Tetapi terdapat beberapa or ang yang mengingkari pengetahuan atau meragukan pengetahuan. Misalnya, bapak kau m sophis, Georgias, pernah dikutip darinya sebuah ungkapan berikut, "Segala sesu atu tidak ada. Jika adapun, maka tidak dapat diketahui, atau jika dapat diketahu i, maka tidak bisa diinformasikan." Mereka mempunyai beberapa alasan yang cukup kuat ketika berpendapat bahwa penget ahuan sesuatu yang tidak ada atau tidak dapat dipercaya. Pyrrho salah seorang da ri mereka menyebutkan bahwa manusia ketika ingin mengetahui sesuatu menggunakan dua alat yakni, indra dan akal. Indra yang merupakan alat pengetahuan yang palin g dasar mempunyai banyak kesalahan, baik indra penglihat, pendengar, peraba, pen cium dan perasa. Mereka mengatakan satu indra saja mempunyai kesalahan ratusan. Jika demikian adanya, maka bagaimana pengetahuan lewat indra dapat dipercaya ? D emikian pula halnya dengan akal. Manusia seringkali salah dalam berpikir. Bukti yang paling jelas bahwa di antara para filusuf sendiri terdapat perbedaan yang j elas tidak mungkin semua benar pasti ada yang salah. Maka akalpun tidak dapat di percaya. Oleh karena alat pengetahuan hanya dua saja dan keduanya mungkin bersal ah, maka pengetahuan tidak dapat dipercaya. Pyrrho ketika berdalil bahwa pengetahuan tidak mungkin karena kasalahan-kesalaha n yang indra dan akal, sebenarnya, ia telah mengetahui (baca: meyakini) bahwa pe ngetahuan tidak mungkin. Dan itu merupakan pengetahuan. Itu pertama. Kedua, keti ka ia mengatakan bahwa indra dan akal seringkali bersalah, atau katakan, selalu bersalah, berarti ia mengetahui bahwa indra dan akal itu salah. Dan itu adalah p engetahuan juga. Alasan yang dikemukakan oleh Pyrrho tidak sampai pada kesimpulan bahwa pengetahu an sesuatu yang tidak mungkin. Alasan itu hanya dapat membuktikan bahwa ada kesa lahan dalam akal dan indra tetapi tidak semua pengetahuan lewat keduanya salah. Oleh karen itu mesti ada cara agar akal dan indra tidak bersalah. Menurut Ibnu Sina, ada cara lain yang lebih efektif untuk menghadapi mereka, yai tu pukullah mereka. Kalau dia merasakan kesakitan berarti mereka mengetahui adan ya sakit (akhir dawa' kay). " Cogito, ergosum "-nya Descartes. Rene Descartes termasuk pemikir yang beraliran rasionalis. Ia cukup berjasa dala m membangkitkan kembali rasionalisme di barat. Muhammad Baqir Shadr memasukkanny a ke dalam kaum rasionalis. Ia termasuk pemikir yang pernah mengalami skeptisme akan pengetahuan dan realita, namun ia selamat dan bangkit menjadi seorang yang meyakini realita. Bangunan rasionalnya beranjak dari keraguan atas realita dan p engetahuan. Ia mencari dasar keyakinannya terhadap Tuhan, alam, jiwa dan kota Pa ris. Dia mendapatkan bahwa yang menjadi dasar atau alat keyakinan dan pengetahua nnya adalah indra dan akal. Ternyata keduanya masih perlu didiskusikan, artinya keduanya tidak memberika hal yang pasti dan meyakinkan. Lantas dia berpikir bahw a segala sesuatu bisa diragukan, tetapi ia tidak bisa meragukan akan pikirannya. Dengan kata lain ia meyakini dan mengetahui bahwa dirinya ragu-ragu dan berpiki r. Ungkapannya yang populer dan sekaligus fondasi keyakinan dan pengetahuannya a dalah " Saya berpikir (baca : ragu-ragu), maka saya ada ". Argumentasinya akan realita menggunakan silogisme kategoris bentuk pertama, namu

n tanpa menyebutkan premis mayor. Saya berpikir, setiap yang berpikir ada, maka saya ada. Keraguan al Ghazzali. Dari dunia Islam adalah Imam al Ghazzali yang pernah skeptis terhadap realita, n amun iapun selamat dan menjadi pemikir besar dalam filsafat dan tashawwuf. Perka taannya yang populer adalah " Keraguan adalah kendaraan yang mengantarkan seseor ang ke keyakinan ". Sumber Dana Alat Pengetahuan. Setelah pengetahuan itu sesuatu yang mungkin dan realistis, masalah yang dibahas dalam lliteratur-literatur epistimologi Islam adalah masalah yang berkaitan den gan sumber dan alat pengetahuan. Sesuai dengan hukum kausaliltas bahwa setiap ak ibat pasti ada sebabnya, maka pengetahuan adalah sesuatu yang sifatnya aksidenta l -baik menurut teori recolection-nya Plato, teori Aristoteles yang rasionalis-p aripatetik, teori iluminasi-nya Suhrawardi, dan filsafat-materialisnya kaum empi ris- dan pasti mempunyai sebab atau sumber. Tentu yang dianggap sebagai sumber p engetahuan itu beragam dan berbeda sebagaimana beragam dan berbedanya aliran pem ikiran manusia. Selain pengetahuan itu mempunyai sumber, juga seseorang ketika h endak mengadakan kontak dengan sumber-sumber itu, maka dia menggunakan alat. Para filusuf Islam menyebutkan beberapa sumber dan sekaligus alat pengetahuan, y aitu : Alam tabi'at atau alam fisik Alam Akal Analogi ( Tamtsil) Hati dan Ilham 1. Alam tabi'at atau alam fisik Manusia sebagai wujud yang materi, maka selama di alam materi ini ia tidak akan lepas dari hubungannya dengan materi secara interaktif, dan hubungannya dengan m ateri menuntutnya untuk menggunakan alat yang sifatnya materi pula, yakni indra (al hiss), karena sesuatu yang materi tidak bisa dirubah menjadi yang tidak mate ri (inmateri). Contoh yang paling konkrit dari hubungan dengan materi dengan car a yang sifatnya materi pula adalah aktivitas keseharian manusia di dunia ini, se pert makan, minum, hubungan suami istri dan lain sebagianya. Dengan demikian, al am tabi'at yang materi merupakan sumber pengetahuan yang "barangkali" paling awa l dan indra merupakan alat untuk berpengetahuan yang sumbernya tabi'at. Tanpa indra manusia tidak dapat mengetahui alam tabi'at. Disebutkan bahwa, baran g siapa tidak mempunyai satu indra maka ia tidak akan mengetahui sejumlah penget ahuan. Dalam filsafat Aristoteles klasik pengetahuan lewat indra termasuk dari e nam pengetahuan yang aksioamatis (badihiyyat). Meski indra berperan sangat signi fikan dalam berpengetahuan, namun indra hanya sebagai syarat yang lazim bukan sy arat yang cukup. Peranan indra hanya memotret realita materi yang sifatnya parsi al saja, dan untuk meng-generalisasi-kannya dibutuhkan akal. Malah dalam kajian filsafat Islam yang paling akhir, pengetahuan yang diperoleh melalui indra seben arnya bukanlah lewat indra. Mereka mengatakan bahwa obyek pengetahuan (al ma'lum ) ada dua macam, yaitu, (1) obyek pengetahuan yang substansial dan (2) obyek pen getahuan yang aksidental. Yang diketahui secara substansial oleh manusia adalah obyek yang ada dalam benak, sedang realita di luar diketahui olehnya hanya bersifat aksidental. Menurut pand angan ini, indra hanya merespon saja dari realita luar ke relita dalam. Pandangan Sensualisme (al-hissiyyin). Kaum sensualisme, khususnya John Locke, menganggap bahwa pengetahuan yang sah da n benar hanya lewat indra saja. Mereka mengatakan bahwa otak manusia ketika lahi r dalam keadaan kosong dari segala bentuk pengetahuan, kemudian melalui indra re alita-realita di luar tertanam dalam benak. Peranan akal hanya dua saja yaitu, m enyusun dan memilah, dan meng-generalisasi. Jadi yang paling berperan adalah ind ra. Pengetahuan yang murni lewat akal tanpa indra tidak ada. Konskuensi dari pan dangan ini adalah bahwa realita yang bukan materi atau yang tidak dapat bersentu han dengan indra, maka tidak dapat diketahui, sehingga pada gilirannya mereka me ngingkari hal-hal yang metafisik seperti Tuhan. 2. Alam Akal

Kaum Rasionalis, selain alam tabi'at atau alam fisika, meyakini bahwa akal merup akan sumber pengetahuan yang kedua dan sekaligus juga sebagai alat pengetahuan. Mereka menganggap akal-lah yang sebenarnya menjadi alat pengetahuan sedangkan in dra hanya pembantu saja. Indra hanya merekam atau memotret realita yanng berkait an dengannya, namun yang menyimpan dan mengolah adalah akal. Karena kata mereka, indra saja tanpa akal tidak ada artinya. Tetapi tanpa indra pangetahuan akal ha nya tidak sempurna, bukan tidak ada. Aktivitas-aktiviras Akal Menarik kesimpulan. Yang dimaksud dengan menarik kesimpulan adalah mengambil seb uah hukum atas sebuah kasus tertentu dari hukum yang general. Aktivitas ini dala m istilah logika disebut silogisme kategoris demonstratif. Mengetahui konsep-konsep yang general. Ada dua teori yang menjelaskan aktivitas akal ini, pertama, teori yang mengatakan bahwa akal terlebih dahulu menghilangka n ciri-ciri yang khas dari beberapa person dan membiarkan titik-titik kesamaan m ereka. Teori ini disebut dengan teori tajrid dan intiza'. Kedua, teori yang mang atakan bahwa pengetahuan akal tentang konsep yang general melalui tiga tahapan, yaitu persentuhan indra dengan materi, perekaman benak, dan generalisasi. Pengelompokan Wujud. Akal mempunyai kemampuan mengelompokkan segala yang ada di alam realita ke beberapa kelompok, misalnya realita-realita yang dikelompokkan k e dalam substansi, dan ke dalam aksdensi (yang sembilan macam). Pemilahan dan Penguraian. Penggabungan dan Penyusunan. Kreativitas. 3. Analogi (Tamtsil) Termasuk alat pengetahuan manusia adalah analogi yang dalam terminologi fiqih di sebut qiyas. Analogi ialah menetapkan hukum (baca; predikat) atas sesuatu dengan hukum yang telah ada pada sesuatu yang lain karena adanya kesamaan antara dua s esuatu itu. Analogi tersusun dari beberapa unsur; (1) asal, yaitu kasus parsial yang telah d iketahui hukumnya. (2) cabang, yaitu kasus parsial yang hendak diketahui hukumny a, (3) titik kesamaan antara asal dan cabang dan (4) hukum yang sudah ditetapkan atas asal. Analogi dibagi dua; Analogi interpretatif : Ketika sebuah kasus yang sudah jelas hukumnya, namun tid ak diketahui illatnya atau sebab penetapannya. Analogi Yang Dijelaskan illatnya : Kasus yang sudah jelas hukum dan illatnya. 4. Hati dan Ilham Kaum empiris yang memandang bahwa ada sama dengan materi sehingga sesuatu yang i nmateri adalah tidak ada, maka pengetahuan tentang in materi tidak mungkin ada. Sebaliknya kaum Ilahi ( theosopi) yang meyakini bahwa ada lebih luas dari sekeda r materi, mereka mayakini keberadaan hal-hal yang inmateri. Pengetahuan tentangn ya tidak mungkin lewat indra tetapi lewat akal atau hati. Tentu yang dimaksud dengan pengetahuan lewat hati disini adalah penngetahuan ten tang realita inmateri eksternal, kalau yang internal seperti rasa sakit, sedih, senang, lapar, haus dan hal-hal yang iintuitif lainnya diyakini keberadaannya ol eh semua orang tanpa kecuali. Bagaimana mengetahui lewat hati ? Filusuf Ilahi Mulla Shadra ra. berkata, "Sesungguhnya ruh manusia jika lepas dar i badan dan berhijrah menuju Tuhannya untuk menyaksikan tanda-tanda-Nya yang san gat besar, dan juga ruh itu bersih dari kamaksiatan-kemaksiatan, syahwat dan ket arkaitan, maka akan tampak padanya cahaya makrifat dan keimanan kepada Allah dan malakut-Nya yang sangat tinggi. Cahaya itu jika menguat dan mensubstansi, maka ia menjadi substansi yang qudsi, yang dalam istilah hikmah teoritis oleh para ah li hikmat disebut dengan akal efektif dan dalam istilah syariat kenabian disebut ruh yang suci. Dengan cahaya akal yang kuat, maka terpancar di dalamnya -yakni ruh manusia yang suci- rahasia-rahasia yang ada di bumi dan di langit dan akan t ampak darinya hakikat-hakikat segala sesuatu sebagimana tampak dengan cahaya sen sual mata (alhissi) gambaran-gambaran konsepsi dalam kekuatan mata jika tidak te rhalang tabir. Tabir di sini -dalam pembahasan ini- adalah pengaruh-pengaruh ala m tabiat dan kesibukan-kesibukan dunia, karena hati dan ruh -sesuai dengan bentu

k ciptaannya- mempunyai kelayakan untuk menerima cahaya hikmah dan iman jika tid ak dihinggapi kegelapan yang merusaknya seperti kekufuran, atau tabir yang mengh alanginya seperti kemaksiatan dan yang berkaitan dengannya " Kemudian beliau melanjutkan, "Jika jiwa berpaling dari ajakan-ajakan tabiat dan kegelapan-kegelapan hawa nafsu, dan menghadapkan dirinya kepada Alhaq dan alam m alakut, maka jiwa itu akan berhubungan dengan kebahagiaan yang sangat tinggi dan akan tampak padanya rahasia alam malakut dan terpantul padanya kesucian (qudsi) Lahut ." (al-Asfar al-Arba'ah jilid 7 halaman 24-25). Tentang kebenaran realita alam ruh dan hati ini, Ibnu Sina berkata, "Sesungguhny a para 'arifin mempunyai makam-makam dan derajat-derajat yang khusus untuk merek a. Mereka dalam kehidupan dunia di bawah yang lain. Seakan-akan mereka itu, pada hal mereka berada dengan badan mereka, telah melepaskan dan meninggalkannya untu k alam qudsi. Mereka dapat menyaksikan hal-hal yang halus yang tidak dapat dibay angkan dan diterangkan dengan lisan. Kesenangan mereka dengan sesuatu yang tidak dapat dilihat mata dan didengar telinga. Orang yang tidak menyukainya akan meng ingkarinya dan orang yang memahaminya akan membesarkannya." (al-Isyarat jilid 3 bagian kesembilan tentang makam-makam para 'arif halaman 363-364) Kemudia beliau melanjutkan, "Jika sampai kepadamu berita bahwa seorang 'arif ber bicara -lebih dulu- tentang hal yang gaib (atau yang akan terjadi), dengan berit a yang menyenangkan atau peringatan, maka percayailah. Dan sekali-sekali anda ke beratan untuk mempercayainya, karena apa yang dia beritakan mempunyai sebab-seba b yang jelas dalam pandangan-pandangan (aliran-aliran) tabi'at." Pengetahuan tentang alam gaib yang dicapai manusia lewat hati jika berkenaan den gan pribadi seseorang saja disebut ilham atau isyraq, dan jika berkaitan dengan bimbingan umat manusia dan penyempurnaan jiwa mereka dengan syariat disebut wahy u. Islam dan Sumber-sumber Pengetahuan Dalam teks-teks Islam -Qur'an dan Sunnah- dijelaskan tentang sumber dan alat pen getahuan: Indra dan akal Allah swt. berfirman, "Dan Allah yang telah mengeluarkan kalian dari perut ibu k alian, sementara kalian tidak mengetahui sesuatu pun, dan (lalu) Ia meciptakan u ntuk kalian pendengaran, penglihatan dan hati ( atau akal) agar kalian bersyukur ". (QS. al-Nahl: 78). Islam tidak hanya menyebutkan pemberian Allah kepada manusia berupa indra, tetap i juga menganjurkan kita agar menggunakannya, misalnya dalam al-Qur'an Allah swt . berfirman, "Katakanlah, lihatlah segala yang ada di langit-langit dan di bumi. " (QS. Yunus: 101 ). Dan ayat-ayat yang lainnya yang banyak sekali tentang anjur an untuk bertafakkur. Qur'an juga dalam membuktikan keberadaan Allah dengan pend ekatan alam materi dan pendakatan akal yang murni seperti, "Seandainya di langit dan di bumi ada banyak tuhan selain Allah, niscaya keduanya akan hancur." (QS. al-Anbiya': 22). Ayat ini menggunakan pendekatan rasional yang biasa disebut dal am logika Aristotelian dengan silogisme hipotesis. Atau ayat lain yang berbunyi, "Allah memberi perumpamaan, seorang yang yang dipe rebutkan oleh banyak tuan dengan seorang yang menyerahkan dirinya kepada seorang saja, apakah keduanya sama ?" (QS. al-Zumar: 29) Hati Allah swt berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, n iscaya Ia akan memberikan kepada kalian furqon." (QS. al-Anfal: 29) Maksud ayat ini adalah bahwa Allah swt. akan memberikan cahaya yang dengannya mereka dapat m embedakan antara yang haq dengan yang batil. Atau ayat yang berbunyi, "Dan bertakwalah kepada Allah maka Ia akan mengajari ka lian. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. al-Baqarah: 282). Dan ayat -ayat yang lainnya. Syarat dan Penghalang Pengetahuan. Meskipun berpengetahuan tidak bisa dipisahkan dari manusia, namun seringkali ada hal-hal yang mestinya diketahui oleh manusia, ternyata tidak diketahui olehnya. Oleh karena itu ada beberapa pra-syarat untuk memiliki pengetahuan, yaitu : Konsentrasi

Orang yang tidak mengkonsentasikan (memfokuskan) indra dan akal pikirannya pada benda-benda di luar, maka dia tidak akan mengetahui apa yang ada di sekitarnya. Akal yang sehat Orang yang akalnya tidak sehat tidak dapat berpikir dengan baik. Akal yang tidak sehat ini mungkin karena penyakit, cacat bawaan atau pendidikan yang tidak bena r. Indra yang sehat Orang yang salah satu atau semua indranya cacat maka tidak mengetahui alam mater i yang ada di sekitarnya. Jika syarat-syarat ini terpenuhi maka seseorang akan mendapatkan pengetahuan lew at indra dan akal. Kemudian pengetahuan daat dimiliki lewat hati. Pengetahuan in i akan diraih dengan syarat-syarat seperti, membersihkan hati dari kemaksiatan, memfokuskan hati kepada alam yang lebih tinggi, mengosongkan hati dari fanatisme dan mengikuti aturan-aturan. Ijtihad dan Taqlid Ust. Husein Al-Kaff Dalam terminologi yurisprudensi (hukum) Islam, kata Ijtihad dan Taqlid adalah du a kata yang tidak asing dan telah menjadi bahan pembahasan para fuqaha dan ushul iyyun sejak generasi terdahulu sampai sekarang. Akhir-akhir ini bahasan tentang keduanya mulai marak kembali, khususnya ketika m uncul sebuah gerakan yang menamakan dirinya sebagai pengikut Al-Qur an dan Sunnah Nabi saaw. Mereka acapkali disebut dengan mujaddidin (kaum pembaharu). Gerakan mujaddidin menolak segala bentuk taqlid, khususnya kepada para mujtahid yang telah wafat seperti Imam Abu Hanifah (80-150H), Imam Malik Bin Anas (93-179 H), Imam Syafi i (150-198 H) dan Imam Ahmad Bin Hambal (164-241 H). Kehadiran mer eka tidak dapat dipungkiri lagi, bahkan mengundang reaksi yang cukup keras dari kaum taqlidiyyin (para pengikut empat imam mujtahid tersebut). Letak perbedaan kedua golongan ini, mujaddidin dan taqlidiyyin, sehubungan denga n masalah hukum Islam, adalah kaum mujaddidin berpendapat bahwa umat Islam hanya harus mengikuti Al-Qur an dan Sunnah, dan tidak boleh mengikuti selain keduanya. Dengan demikian setiap muslim harus merujuk kepada Al-Qur an dan Hadis secara lang sung, tidak diperbolehkan mengikuti (taqlid) kepada pendapat ulama. Sementara kaum taqlidiyyin berpendapat, bahwa sah-sah saja seorang muslim mengik uti pendapat seorang ulama, khususnya para imam mazhab yang empat, karena pendap at mereka tidak lepas dari empat dasar hukum, Al-Qur an, Sunnah, Ijma dan Qiyas. A palagi mereka lebih dekat ke zaman kenabian dari pada umat Islam sekarang ini. Lebih dari itu kaum taqlidiyyin membatasi ijtihad hanya kepada empat imam mazhab tersebut. Dengan pengertian, setelah keempat mujtahid tersebut tidak ada lagi m ujtahid yang lain. Walaupun ada, maka itu hanya sebagai mujtahid fatwa bukan muj tahid mutlak, seperti Imam Nawawi di Mesir dan Imam Rafi i di Suria. Jadi satu pihak mewajibkan setiap muslim merujuk langsung kepada Al-Qur an dan Sun nah, walaupun dengan seperangkat ilmu alat seadanya serta dengan latar belakang pendidikan yang berbeda. Dengan kata lain, menurut pihak ini setiap muslim harus berijtihad (definisi ijt ihad pada keterangan berikut) dan diharamkan taqlid. Sementara di pihak lain men utup pintu ijtihad rapat-rapat, sehingga tidak diperkenankan seseorang setelah e mpat imam mujtahid untuk berijtihad. Mereka harus mengikuti salah satu dari empa t imam mujtahid tersebut. Definisi Ijtihad Sebelum mendiskusikan masalah ijtihad dan taqlid, terlebih dahu lu perlu dijelaskan definisi ijtihad. Para ushuliyyun (pakar ushul fiqh) dan fuq aha dalam mendefinisikan ijtihad berkata, Ijtihad adalah mencurahkan segenap upay a untuk mendapatkan hukum syari at dari sumber aslinya. Ulama Ahlu Sunnah dan Syi ah berpendapat, bahwa sumber hukum Islam yang utama adal ah Al-Qur an dan Sunnah. Dan mereka beranggapan bahwa segala kasus yang dihadapi u mat manusia pasti ada penyelesaiannya dalam Islam (Al-Qur an dan Sunnah) baik seca ra langsung atau tidak dan kaum muslimin wajib merujuk dan mengikuti keduanya. Yang menjadi masalah, apakah setiap orang muslim dapat memahami maksud Al-Qur an d an Sunnah, atau lebih dari itu apakah setiap muslim mampu bahkan harus mengambil

hukum langsung dari keduanya ? Oleh karena masalah ijtihad adalah masalah bakat (malakah) yang ada pada seseora ng, yang dengannya dia mampu menarik hukum (istinbath) dari sumber-sumbernya (Ki tab Rasail, karya Imam Khumainy), maka tidak realistis kalau setiap muslim harus berijtihad. Karena setiap orang mempunyai bakat dan kecenderungan yang berbedabeda. Sangat tidak realistis seseorang yang sibuk dengan keahliannya dalam bidangnya s eperti dokter, insinyur dan lainnya dituntut untuk berijtihad. Demikian pula seo rang buruh yang bersusah payah membanting tulang untuk mencari nafkah seharian p enuh, dituntut berijtihad. Oleh karena itu, ijtihad tidak diharuskan atas setiap muslim. Akan tetapi, seseo rang yang mempunyai bakat dan kemampuan karena penguasaannya terhadap beberapa d isiplin ilmu, wajib berijtihad dan tidak boleh taqlid. Jadi, ijtihad tidak harus dilaksanakan oleh setiap muslim dan juga tidak terbata s pada beberapa orang saja. Ijtihad dapat dilakukan oleh setiap orang yang berba kat dan mempunyai kemampuan. Persepsi ini, barangkali bisa menjadi jembatan dan penengah antara kaum mujaddidin dan kaum taqlidiyyin. Memang, untuk menjadi mujtahid tidaklah mudah. Ayatullah Muthahhari, seorang muj tahid juga filosof menyebutkan beberapa disiplin ilmu yang harus dikuasai oleh s eorang mujtahid, antara lain : 1. Bahasa Arab Mencakup nahwu, sharaf, ma ani, bayan dan badi. Karena sumber rujukan hukum Islam adalah Al-Qur an dan Sunnah yang berbahasa Arab. Tanpa menguasai bahasa Arab denga n baik, seseorang sulit untuk memahami keduanya dengan baik. 2. Tafsir Al-Qur an 3. Ilmu Manthiq atau logika Ilmu ini membahas tentang bagaimana cara berpikir logis dan berargumentasi yang tepat. Oleh karenanya, seorang mujtahid harus menguasainya agar dia dalam mengin terpretasikan hukum dari Al-Qur an dan Sunnah berdasarkan argumentasi yang tepat d an logis. 4. Ilmu Hadist Seorang mujtahid harus menguasai benar hadis, asbabul wurud (konteksnya), pembag ian-pembagiannya dan macam-macamnya. 5. Ilmu Rijal Yaitu ilmu tentang perawi hadis. Seorang mujtahid harus mengetahui tentang biogr afi setiap perawi hadis sebelum mengkaji tentang matan hadis. Karena pengetahuan tentang ilmu ini akan menentukan kedudukan hadis dan akan mempengaruhi validita s hukum yang dikeluarkan oleh seorang mujtahid dari suatu hadis. 6. Ilmu Ushul Fiqih Ilmu yang membahas tentang cara mengintrepretasikan hukum (dustur istinbath). Il mu ini menggunakan peranan dari setiap disiplin ilmu yang dibutuhkan dalam istin bath (kitab al-Halaqat, karya Ayatullah Muhammad Baqir Shadr). Banyak bahasan yang tercakup dalam ilmu ini, misalnya apakah setiap kata kerja p erintah (fi il amr) mengandung arti wajib (al-wujub) atau tidak ? kalau tidak meng apa dan kapan ? atau misalnya bahasan tentang hujiyyah dhawahir yang ringkasnya apakah pemahaman secara lahiriah seorang mujtahid tentang sebuah ayat atau hadis itu (berstatus) hujjah atau tidak dan bahasan lainnya. Enam disiplin ilmu tersebut dapat dikuasai oleh siapa saja, sehingga tidak ada p embatasan jumlah mujtahid, tapi pada waktu yang sama keharusan menguasai enam di siplin ilmu tersebut membatasi orang-orang agar tidak menganggap enteng berijtih ad (merujuk langsung kepada Al-Qur an dan Sunnah) hanya dengan bermodalkan bahasa Arab yang ala kadarnya atau tanggung, apalagi hanya mengandalkan terjemahan bela ka.

Bolehkah bertaqlid ? Taqlid adalah beramal atas dasar fatwa seorang faqih / mujtahid (Lihat kitab Tah rir al-Wasilah, karya Imam Khumainy). Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa setiap muslim harus merujuk kepad a Al-Qur an dan Sunnah, meskipun tidak semua orang muslim mampu merujuk kepada ked uanya secara langsung (berijtihad) karena enam persyaratan tersebut, maka bagi y ang tidak mampu diperkenankan bertaqlid. Kata-kata taqlid bagi sementara kaum muslimin adalah kata yang berkonotasi negat if. Bahkan sebagian ada yang mengharamkannya. Padahal masalah taqlid adalah sesu atu yang lumrah, wajar dan logis terjadi di tengah-tengah masyarakat. Kehidupan sosial umat manusia tegak atas dasar taqlid, karena taqlid tidak lain dari perbuatan seseorang yang tidak tahu merujuk kepada yang tahu dalam segala u rusan. Misalnya seorang yang sakit merujuk kepada Dokter sebagai ahli kesehatan, seorang ulama meminta bantuan seorang insinyur ketika hendak membangun masjid d an pesantren dan sebagainya. Setiap orang yang tidak tahu dalam satu masalah atau urusan pasti merujuk kepada yang ahli dalam masalah dan urusan tersebut. Itulah yang dinamakan taqlid. Dala m hal ini tidak ada yang menganggap taqlid itu tidak baik. Demikian halnya dalam masalah syariat atau hukum (baca, fiqih), tidak semua oran g mampu mengambilnya langsung dari Al-Qur an dan Sunnah, karena pengambilan langsu ng dari keduanya bukan sesuatu yang mudah, akan tetapi perlu ada spesialisasi. N ah, orang yang awam tentang syariat, baik itu pedagang, petani, kaum intelek dan lainnya yang tidak membidangi syariat secara khusus, mau tidak mau mereka harus merujuk kepada orang yang ahli dalam masalah syariat. Alasan ini dalam istilah para ushuliyyun dan fuqaha disebut al-uruf al-uqala i. Disamping itu ada beberapa ayat yang oleh sebagian ulama dijadikan dalil tentang diperbolehkannya taqlid dalam urusan syari at, antara lain : 1. Surat At-Taubah ayat 122 "Tidak sepatutnya bagi semua orang mukmin pergi (berjihad). Mengapa tidak pergi dari setiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk tafaqquh (belajar sec ara mendalam) dalam urusan agama. Dan (setelah itu) mereka hendaknya memberi per ingatan kepada kaumnya kalau kembali kepada mereka, agar mereka dapat menjaga di ri mereka."" Ayat ini secara implisit menyatakan, bahwa kewajiban orang yang tidak bertafaqqu h untuk mengikuti dan menerima keterangan orang-orang yang bertafaqquh. 2.Surat Al-Anbiya ayat 70 "Maka bertanyalah kepada ahli dzikir, jika kalian tidak mengetahui." Ayat ini mengandung arti yang umum, karena ahli dzikir dapat diartikan sebagai a hli kitab, jika yang menjadi mukhatab (obyek) adalah kaum musyrikin dan juga dap at diartikan sebagai para imam atau ulama (ketika tidak ada imam) kalau yang men jadi mukhatab adalah umat Islam. Berdasarkan pengertian kedua, ketika Allah meny uruh umat Islam bertanya kepada para imam dan ulama, berarti mereka harus meneri ma jawaban yang diberikan oleh mereka. Kesimpulan Dalam mengikuti Al-Qur an dan Sunnah, secara garis besar terdapat dua cara, pertam a ijtihad dan kedua taqlid. Keduanya dibenarkan dan berlaku untuk seluruh kaum m uslimin. Kenabian (1) Ust. Husein Al-Kaff Apa Tujuan Hidup Manusia ? Dalam Pandangan Dunia Tauhid (Jahan Bini-e Tauhid), alam raya ini ada tidak deng an sendirinya, tetapi diciptakan oleh Sang Maha Pencipta dengan tujuan-tujuan te rtentu. Tidak mungkin alam diciptakan tanpa tujuan, karena penciptaan alam terma suk dari perbuatan-Nya yang tidak mungkin sia-sia.

Lantas apa tujuan penciptaan alam raya ini ? Para filosof Ilahiyyin dan mutakallimin mengatakan, bahwa segala yang ada di ala m raya tabiat ini bergerak sesuai dengan status dan posisi tabi i-nya (alaminya) m enuju kesempurnaannya masing-masing. Tumbuh-tumbuhan, binatang, bahkan benda-ben da yang secara lahiriah tampak mati, bergerak secara alami dan sesuai dengan kap asitas wujudnya menuju kesempurnaan wujudnya masing-masing, tidak kurang dan tid ak lebih. (QS. Al-Qamar ayat 49). Pergerakan mereka menuju kesempurnaan merupaka n bukti ketaatan mereka kepada Sang Pencipta. Sebagian mufasir menafsirkan tasbih dan sujudnya segala yang ada di alam raya in i dengan pergerakan mereka menuju kesempurnaan. Dalam hal ini manusia tidak berb eda dengan makhluk lainnya, artinya sama-sama bergerak. Akan tetapi karena manus ia adalah makhluk yang berikhtiar, maka titik gerakan yang ditujunya tergantung pada pilihan mereka. Terkadang mereka menuju kesempurnaan dan terkadang menuju kehancuran. Akhir dari kesempurnaan adalah Allah Ta ala sebagai Kesempurnaan yang mutlak. Untu k itulah manusia diciptakan. Sedangkan kehancuran, adalah segala tujuan selain K esempurnaan yang mutlak. Ketika seseorang bergerak menuju kesempurnaan, manfaat pergerakannya itu dirasak an oleh dirinya dan alam sekitarnya. Bagaikan minyak kesturi yang wangi semerbak , selain dirinya wangi juga menebarkan wewangiannya kepada sekitarnya. Tentang hal di atas, Allah Ta ala berfirman, Katakanlah, Sungguh shalatku, ibadahku , hidupku dan matiku semata untuk Allah, Tuhan semesta alam. (Surat Al-An am ayat 1 62). Demikian pula Allah berfirman, Dan sekiranya penghuni kampung beriman dan bertaqw a, niscaya Kami bukakan untuk mereka barakah-barakah dari langit dan bumi. (QS. A l-A raf 96) Demikian halnya, orang yang bergerak menuju kehancuran, disamping dirinya hancur dia juga menghancurkan sekitarnya. Allah berfirman, Dan jika dia berpaling, maka dia berusaha untuk membuat kehancuran di dalamnya dan membinasakan tanaman dan keturunan. (QS. Al-Baqarah ayat 205). Bahkan mereka juga berusaha membendung dan menghalangi golongan pertama, seperti Allah lukiskan dalam Al-Qur an, Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, namun Allah tidak menghendakinya melainkan menyempurnakan cahaya-Nya, w alaupun orang-orang kafir membencinya. (QS. Al-Anfal ayat 32). Selama perjalanan sejarah umat manusia, sejak dari Habil dan Kabil hingga hari a khir dunia, senantiasa terdapat orang-orang yang bergerak menuju kesempurnaan da n yang bergerak menuju kehancuran. Kedua kelompok ini saling berseberangan dan t arik menarik. Pada gilirannya kedua kelompok ini memiliki pengikut dan musuh. Syahid Muthahhari dalam buku Jadzibeh wa Dafieh-e Ali menyebutkan, bahwa Ali bin Abi Thalib as. adalah orang yang mempunyai kawan dan lawan, dan ini adalah ciri seorang mukmin. Dia dicintai para kekasih Allah dan dibenci musuh-musuh-Nya. Jadi tujuan penciptaan manusia adalah kesempurnaan (Allah), sebagaimana ucapan s ang kekasih Allah, Ibrahim as. yang direkam Al-Qur an, Berkata (Ibrahim as) : Sesun gguhnya aku pergi menuju Tuhanku yang akan membimbingku. (Surat As-shafat ayat 99 ). Bagaimana manusia sampai kepada Kesempurnaan Ilahi? Untuk sampai kepada tujuan y ang Allah inginkan dari seluruh makhluk-Nya, maka dengan luthf-Nya (karunia dari Allah yang dengannya manusia dekat dengan-Nya) Allah memberikan bimbingan kepad a segala ciptaan-Nya. Sebagaimana Allah firmankan, Tuhan Kami yang telah mencipta

kan segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk.

(QS. Thaha ayat 50).

Memberi bimbingan kepada semua makhluk-Nya disamping luthf, itu merupakan bagian dari konsekuensi logis (lazim aqli) wujud-Nya yang Sempurna dan Mutlak. Dia sen diri telah menetapkan atas diri-Nya untuk melakukan hal itu (QS. Al-An am ayat 12 dan ayat 54). Demikian pula manusia yang tujuan (penciptaannya) amat agung telah diberi bimbin gan oleh Allah, karena tanpa bimbingan-Nya tidak mungkin ia sampai kepada tujuan yang Allah inginkan darinya. Lebih dari itu manusia berbeda dengan makhluk lainnya dalam pergerakan dirinya m enuju kesempurnaan, ia dihadapkan kepada musuh hebat yang senantiasa akan merint angi dan menghalangi manusia untuk sampai kepada kesempurnaan. Musuh tersebut be rupa hawa nafsu, setan dan manusia-manusia yang telah menjadi budak keduanya. Ol eh karena itu manusia dibimbing dengan dua macam bimbingan, yaitu bimbingan bati niah dan bimbingan lahiriah. Hal itu merupakan kelebihan manusia dari makhluk lainnya, sehingga seorang manus ia yang dengan konsisten mengikuti kedua macam bimbingan tersebut benar-benar me njadi khalifah Allah di muka bumi ini, serta disediakan untuknya sorga di akhira t kelak. Bimbingan batiniah berupa akal, sedangkan bimbingan lahiriah berupa para Nabi da n Washi (penerus) mereka. Imam Musa al-Kadzim as. berkata, Sesungguhnya Allah mem punyai dua hujjah atas manusia, hujjah lahiriah dan hujjah batiniah. Hujjah lahi riah adalah para Rasul dan Imam, sedangkan hujjah batiniah adalah akal. Keduanya sama penting sehingga tidak mungkin seseorang sampai kepada kesempurnaa n hanya dengan salah satunya. Bimbingan para Nabi laksana jalan yang mengantarkan seseorang kepada kesempurnaa n, sedangkan akal laksana lampu yang menerangi jalannya. Berjalan tanpa ada jala n yang akan dilalui, tidak mungkin sampai ke tujuan. Demikian pula, berjalan tan pa cahaya akan menabrak ke sana ke mari. Keduanya selalu berjalan seiring dan tidak akan pernah bertolak belakang. Banyak keterangan dari agama tentang akal dan peranannya (hal ini perlu kajian tersend iri). Akal senantiasa menunjukkan dan mengajak kepada kebenaran serta cenderung mendor ong (manusia) untuk melakukan kebaikan. Meskipun demikian tidak cukup seseorang mengandalkan akalnya saja. Dia membutuhk an bimbingan para Nabi agar tidak keliru dalam menjalankan praktek-praktek pende katan diri kepada kesempurnaan Ilahi. Para Nabi dan Rasul adalah Para Pembimbing Ilahi Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bahwa manusia walaupun dibekali akal, dia tet ap membutuhkan (bimbingan) para Nabi. Mereka memang diutus oleh Allah untuk meng antarkan manusia kepada-Nya, Katakanlah, Inilah jalanku. Aku mengajak kepada Alla h atas dasar bashirah (matahari atau akal). Aku dan orang yang mengikutiku. (QS. Yusuf 108). Kehadiran Nabi dan Rasul sangatlah dibutuhkan oleh umat manusia, karena banyak d i antara mereka yang tidak dapat menghidupkan dan mengaktifkan akalnya disebabka n tertutup oleh hawa nafsu dan bujukan setan. Para Nabi diutus untuk menggali ke mbali khazanah-khazanah akal yang terpendam di kedalaman jiwa manusia. Imam Ali bin Abi Thalib as. dengan sangat indah menjelaskan filsafat pengutusan para Nabi, Allah mengutus di tengah-tengah mereka rasul-rasul-Nya dan mengirim ke

pada mereka nabi-nabi-Nya, untuk meminta pertanggung jawaban perjanjian fitrah-N ya, mengingatkan mereka atas nikmat-Nya yang terlupakan, menuntut mereka dengan tabligh, menggali untuk mereka khazanah-khazanah akal dan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan-Nya. (Nahjul Balaghah, khutbah nomor 1). Selain itu para Nabi dibutuhkan pula oleh mereka yang telah mengaktifkan akal se hingga mengenal Sang Pencipta tanpa bimbingan para Nabi, karena para Nabi selain mengajarkan Tauhid, juga mengajarkan ubudiyyah yang benar. Jadi kehadiran para Nabi sangat dibutuhkan oleh seluruh umat manusia. Karena itulah Allah tidak mempunyai alasan untuk membinasakan suatu kaum, kecual i setelah diutus kepada mereka seorang Nabi, Dan tidaklah pantas bagi Kami membin asakan (suatu kaum) kecuali (setelah) Kami utus seorang Rasul. (QS. Al-Isra ayat 15). Perjalanan menuju Allah tidak akan pernah berakhir, karena Dia adalah Dzat yang Tidak Terbatas, selain banyak pula duri-duri yang harus dihindari. Maka satu-sat unya cara yang paling dijamin untuk sampai dengan selamat, adalah bergabung deng an kafilah orang-orang yang suci dan terjamin. Mereka adalah pilihan-pilihan Allah, yang sebelum mengajak umat manusia untuk me reguk air cinta yang suci, menyaksikan kebesaran-Nya serta merasakan lezat dan n ikmatnya munajat dan liqa (perjumpaan) dengan-Nya, mereka telah menggapai semua itu. Tidak perlu heran jika ajakan dan ajaran para Nabi atau orang-orang yang mengiku ti mereka dengan konsisten, lebih menyentuh dan merasuk ke dalam kalbu dari pada ajakan dan ajaran orang-orang yang belum sampai kepada kesempurnaan (Allah). Para Nabi menyerukan kepada sesuatu yang sudah mereka rasakan, sementara kebanya kan orang mengajak kepada sesuatu yang belum mereka rasakan (wa syattana maa bai nahuma). Para Nabi siap mengorbankan segalanya demi menyampaikan kebenaran dan menegakkan keadilan, lantaran mereka cinta kepada kebenaran dan keadilan, serta sangat pen yayang kepada umat manusia. Hal itu Allah lukiskan dalam ayat berikut, Sungguh, telah datang kepada kalian se orang Rasul dari kalangan kalian, yang sangat berat (terasa) baginya penderitaan kalian, yang sangat berharap dari kalian (untuk beriman) dan sangat sayang sert a belas kasih terhadap orang-orang yang beriman. (QS. Al-Anfal : 128). Para Nabi adalah khalifah-khalifah (wakil-wakil) Allah dan penghubung antara All ah dengan umat manusia. Karena itu barang siapa mencintai mereka berarti mencint ai Allah dan barang siapa menaati mereka berarti menaati Allah. Sangat tidak logis jika seseorang mengaku mencintai Allah tetapi tidak mencintai para Nabi. Karena jika dia benar-benar mencintai Allah, maka konsekuensinya dia akan mencintai para kekasih-Nya. Adakah di antara umat manusia yang lebih dicintai oleh Allah dari pada para Nabi ? [] Kenabian (2) Ust. Husein Al-Kaff Siapakah Muhammad Saaw ? Untuk menjawab pertanyaan ini perlu diperjelas sudut pandang kita dalam melihat pribadi Nabi Muhammad saaw. Dari sisi mana kita memandang beliau. Karena tanpa i tu kita akan terjebak pada pandangan yang dingin terhadap beliau. Pandangan yang tanpa muatan pensucian (taqdis) dan penghormatan (tasyrif). Bahkan terkadang me mandangnya hanya sebagai satu sosok manusia yang bernyawa, makan, minum, nikah d an akhirnya mati, titik.

Lalu bagaimana seharusnya kita memandang pribadi Rasulullah saaw ? Memang Rasulu llah saaw adalah seorang manusia sebagaimana saudara-saudaranya dari keturunan A dam. Akan tetapi bukankah justru kemanusiaan seorang manusia tidak dilihat dari unsur jasmaninya (fisik) ? Karena melihat manusia dari sisi jasmaninya, tidak le bih dari binatang yang juga bernyawa, makan, minum, nikah dan mati. Dengan demikian kita harus melihat manusia dari sisi ruhani atau spiritualnya. K arena dari sisi inilah, manusia lebih mulia dari binatang. Dalam hal ini derajat manusia berbeda-beda. Jika manusia dipandang dari sisi jasmaninya saja, kita tidak boleh membedakan se orang manusia dari manusia lain atau satu golongan manusia dari golongan lainnya , sebab manusia secara substansial adalah sama. Perbedaan fisik yang ada, sifatn ya hanya eksidental, seperti warna kulit, ras, etnis dan lain-lain. Terkadang mereka menuju kesempurnaan dan terkadang menuju kehancuran. Tidak demikian halnya bila dipandang dari sisi ruhani, manusia mempunyai perbeda an dan tingkatan-tingkatan kemuliaan. Allah Ta ala berfirman, Wahai manusia, Kami ciptakan kalian dari laki-laki dan pere mpuan, dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kalian sa ling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian, adalah yang pali ng taqwa. (QS. Al-Hujurat : 13). Allah mengangkat orang-orang beriman dan berilmu pengetahuan di antara kalian beb erapa derajat. (QS. Al-Mujadalah : 11). Ayat pertama ingin menekankan, bahwa perbedaan jenis kelamin, warna kulit dan ba ngsa merupakan pertanda kebesaran Allah Ta ala dan jangan dijadikan sebagai penyeb ab yang satu lebih mulia dari yang lain. Karena kemuliaan hanya dilihat dari ket aqwaan yang merupakan ciri spiritualitas seseorang dan bukan dilihat dari ciri-c iri fisikal. Demikian pula ayat kedua menjelaskan, bahwa ketinggian derajat manusia diukur da ri iman dan ilmu. Keduanya merupakan bagian dari unsur ruhani. Jadi andaikan saja kita tidak boleh melihat dan membedakan manusia dari unsur ja smani, maka alangkah naifnya jika kita melihat Rasulullah saaw dari sisi jasmani . Kita harus melihat Nabi dari sisi ruhani, sehingga akan jelas siapa sebenarnya b eliau. Apakah beliau seperti manusia lainnya ? Kemudian apakah pantas kita mengatakan, bahwa Muhammad saaw sama dengan kita, ha nya karena beliau adalah manusia ? Apabila kita bermaksud membicarakan pribadi Rasulullah saaw, maka harus kita jau hkan unsur jasmaninya. Sebab jika tidak, berarti kita membicarakan maaf-maaf uns ur kebinatangannya. Sehingga dengan menjauhkan unsur jasmaninya, kita dapat mend udukkan beliau pada proporsi yang sesuai dengan ketinggian ruhaninya. Memang kita yakini, bahwa dari sisi jasmaninya pun beliau mempunyai banyak keleb ihan dan itu merupakan percikan sekian persennya saja dari kemuliaan ruhaninya y ang sangat agung. Nabi Muhammad saaw dalam pandangan Allah Ta ala Lantaran keterbatasan dan kerendahan spiritual kita (manusia selain Rasulullah), maka sulit bagi kita untuk mengetahui siapakah sebenarnya Nabi Muhammad saaw it u ?

Benar adanya apa yang dikatakan Imam al-Bushiri dalam salah satu bait syair puji an beliau terhadap Rasulullah, yang termuat dalam kitab al-Burdah. Beliau beruja r : Sungguh, keutamaan Rasulullah tiada dibatasi dengan batas yang dapat diungkap mulut manusia. Yang paling layak dan benar melihat dan menilai Rasulullah saaw, adalah yang men ciptakan beliau sendiri, yaitu Allah Ta ala. Marilah kita lihat bagaimana Allah Subhanahu wa Ta ala memandang Rasulullah saaw. 1. Dalam banyak ayat Al-Qur an diterangkan, bahwa Muhammad adalah seorang Nabi dan utusan Allah. Ini merupakan suatu kemuliaan yang tidak sembarangan orang dapat menggapainya. Kenabian adalah kedudukan spiritual yang sangat tinggi. Hanya manusia-manusia te rtentu yang meraihnya. Dengan kedudukan ini, beliau dapat berkomunikasi langsung dengan Allah. Bahkan lebih dari itu, beliau telah mengalami perjalanan spiritua l dan fisik yang tidak pernah dialami seorang pun manusia sebelum dan sesudahnya , yaitu Isra dan Mi raj. Saya kira dengan pengangkatan Muhammad saaw sebagai Nabi dan Rasul, cukup menjad i bukti bahwa beliau benar-benar mulia dan patut dimuliakan dan diagungkan, sert a tidak bisa disetarakan dengan manusia lainnya. Begitu tingginya kedudukan beliau, sampai-sampai Allah menyertakan ketaatan kepa da Nabi dengan ketaatan kepadaNya dan mengikuti Nabi adalah syarat kecintaan kep ada-Nya (Lihat Al-Qur an surat Ali-Imran ayat 31). Setelah itu apakah kita pantas mengatakan bahwa Nabi sama dengan kita, hanya kar ena beliau seorang manusia ? 2. Dalam Al-Qur an surat Al-Ahzab ayat 21, Allah Ta ala berfirman : Sungguh bagi kali an pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik, bagi orang yang mengha rapkan (ridha) Allah dan hari akhirat, serta banyak berzikir. 3. Dalam Al-Qur an surat Al-Qalam ayat 4, Allah Ta ala berfirman : u berada pada akhlak yang agung. Sesungguhnya engka

4. Dalam surat At-Taubah ayat 128, Allah berfirman : Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari (jenis) kalian. Berat terasa olehnya penderitaan kalia n, yang sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian. Amat belas k asihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. 5. Dalam surat Al-Insyirah ayat 4, Allah berfirman : (Muhammad saaw). Dan Kami tinggikan sebutanmu

Demikian pula masih banyak ayat-ayat lainnya yang mengungkapkan keagungan Rasulu llah saaw, yang tidak mungkin dicantumkan semua dalam lembaran yang sangat terba tas ini. Ungkapan-ungkapan di atas dan yang sejenisnya dalam Al-Qur an keluar dari perkataa n Sang Pencipta seluruh alam semesta. Sudah jelas semua itu bukan sekedar basa-b asi yang acapkali dilakukan oleh manusia ketika memuji yang lain. Karena Allah s ama sekali tidak berkepentingan untuk menyanjung, dengan sanjungan yang sifatnya basa-basi atau mencari muka. Seluruh ungkapan di atas benar-benar menjelaskan fakta yang sesungguhnya, bahwa Nabi Muhammad saaw sebagai suri tauladan untuk umat manusia. Beliau adalah seora ng yang berakhlak agung dan luhur, dan beliau adalah seorang yang sangat penyaya ng dan pengasih (terhadap umatnya). Adakah pujian dan sanjungan yang lebih tulus

dan lebih benar, dari pujian dan sanjungan-Nya ? Kalau saja Allah sedemikian tinggi memuji Rasulullah saaw, lantas apakah kita di am tidak mengikuti sunnatullah, karena alasan khawatir terjerembab ke dalam peng kultusan individu ? Nabi Muhammad saaw menurut Hadis Ketinggian dan kebesaran Nabi Muhammad saaw banyak dikutip dalam berbagai kitab Hadis. Kajian tentangnya, membutuhkan tulisan yang khusus dan luas. Mengenai keagungan dan kebesaran -kitab Hadis dan sejarah beliau. akan dikutip sebagian kecil saja an kebesaran beliau, antara lain Nabi Muhammad saaw dapat kita lihat dalam kitab Dalam lembaran yang sangat terbatas ini, hanya dari Hadis-Hadis yang menceritakan ketinggian d :

1. Abu Abdillah Ja far as Shadiq as. berkata, Suatu malam Rasulullah saaw berada di rumah Ummu Salamah ra., salah seorang isteri beliau. Beliau mendatangi isteriny a tersebut di tempat tidurnya. Kemudian beliau melakukan hubungan dengannya seba gaimana layaknya beliau lakukan pada isteri-isteri lainnya. Setelah itu, Ummu Salamah mencari-cari beliau di sekitar rumahnya, sampai ia men jumpai beliau di sudut kamarnya dalam keadaan berdiri dan mengangkat kedua tanga nnya sambil menangis dan berucap, Ya Allah, janganlah Engkau renggut kebaikan yang telah Engkau anugerahkan kepada ku selama-lamanya. Ya Allah, janganlah Engkau hibur daku dengan seorang musuh dan janganlah pula de ngan seorang yang dengki selamanya. Janganlah Engkau kembalikan daku kepada kejelekan, yang telah Engkau selamatkan daku darinya selama-lamanya. Ya Allah, janganlah Engkau jadikan daku berserah diri kepada diriku sendiri, wal au sekejap pun untuk selama-lamanya. Kemudian Ummu Salamah berpaling sambil menangis, hingga Rasulullah pun berpaling , lantaran mendengar tangisan isterinya tersebut. Lalu beliau bertanya kepadanya , Gerangan apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai Ummu Salamah ? Seraya ia menjawab, Demi ayah dan ibuku, bagaimana aku tidak menangis, sementara Tuan dengan kedudukan yang telah Allah berikan kepada tuan sekarang, yang mana A llah telah menjamin Tuan dengan ampunan atas dosa-dosa Tuan yang telah lalu dan yang akan datang masih memohon kepada-Nya, agar Dia tidak mengembalikan Tuan ke dalam kejelekan yang Tuan telah diselamatkan-Nya darinya untuk selama-lamanya, a gar Dia tidak mengambil kembali kebaikan yang telah dianugerahkan kepada Tuan se lama-lamanya, dan agar tidak menjadikan Tuan berpasrah diri kepada diri Tuan sen diri walau sekejap pun, untuk selama-lamanya ? Rasulullah saaw balik bertanya, Wahai Ummu Salamah, apa yang dapat menjadikan aku aman (dari azab Tuhan) ? Sungguh, Yunus bin Mata telah berserah diri kepada dir inya sendiri untuk sekejap mata, maka terjadilah apa yang pantas terjadi pada di rinya ? 2. Al-Husein bin Ali, ketika menjelaskan tentang kekhusyuan Rasulullah saaw dala m shalatnya, beliau berkata, Rasulullah saaw menangis hingga air matanya membasah i tempat shalatnya. Tidak syak lagi hal itu disebabkan rasa takut beliau kepada Allah swt. Nabi Muhammad Saaw menurut pandangan Imam Ali bin Abi Thalib as. Sengaja kami kutip komentar Imam Ali as. mengenai Rasulullah saaw, karena Ali ad alah seorang sahabat yang paling dekat dengan beliau dan paling kenal kepada bel iau. Imam Ali bin Abi Thalib as. ketika menerangkan pribadi Rasulullah saaw berkata :

Ikutilah Nabimu yang paling baik dan paling suci, karena pada dirinya terdapat s uri tauladan bagi yang meneladaninya dan tempat berduka yang paling duka. Hamba yang paling Allah cintai adalah orang yang meneladani Nabi-Nya dan mengikuti jej aknya. Dia telah melepaskan dunia dan tidak memperdulikannya. Dia adalah penghuni dunia yang paling kurus dan paling sering lapar. Telah ditawarkan padanya dunia, namu n dia enggan menerimanya. Dia mengetahui bahwa Allah tidak menyukai sesuatu, mak a diapun tidak menyukainya. Allah meremehkan sesuatu, maka diapun meremehkannya dan jika Allah menganggap kecil sesuatu, maka diapun menganggapnya kecil. Sekiranya yang kita cintai adalah sesuatu yang Allah dan Rasul-Nya murkai, dan y ang kita besarkan adalah sesuatu yang oleh Allah dan Rasul-Nya kecilkan, maka it u cukup menjadi bukti penolakan dan penentangan kita terhadap perintah Allah. Rasulullah saaw adalah orang yang makan di atas tanah, yang duduk laksana dudukn ya seorang budak, yang menambal sandalnya dengan tangannya sendiri, yang menjahi t bajunya dengan tangannya sendiri, yang mengendarai keledai yang tak berpelana dan yang membawa tumpangan di belakangnya. Pernah suatu hari di atas pintu rumahnya dipasang tabir yang bergambar. Lalu bel iau berkata kepada salah seorang isterinya, Wahai Fulanah, hilangkan tabir itu da riku, karena aku jika melihatnya, maka aku akan ingat dunia dan segala keindahan nya. Dia berpaling dari dunia dengan hatinya, mematikan ingatan kepada dunia dari dal am jiwanya dan menyukai hilangnya hiasan dunia dari pandangannya, agar dia tidak menjadikan perhiasan darinya, menganggapnya kekal dan mengharapkan kesempatan d arinya. Maka dia keluarkan (cinta) akan dunia dari jiwanya, dia enyahkan hal itu dari hatinya, serta dia hilangkan semua itu dari perhatiannya. Kesimpulan Setelah kita melihat bagaimana tinggi dan agungnya pribadi Rasulullah saaw dari sisi ruhaninya, lantas apakah hati kita tidak tergerak untuk menyatakan kekaguma n dan keterpesonaan terhadap beliau, dengan memuji dan menyanjungnya ? Sungguh telah banyak orang yang terpesona dengan keindahan akhlak beliau dan ber decak kagum dengan kepribadian beliau sepanjang sejarah umat manusia. Kekaguman itu mereka ungkapkan dalam puisi-puisi, pembacaan-pembacaan maulud dan manaqib R asulullah saaw. Merekalah yang benar-benar memahami arti sebuah kebesaran dan keindahan. Entahla h kita, apakah termasuk dari mereka atau termasuk dari orang yang enggan karena malu, atau karena hati yang keras, sehingga tidak mengenal arti keindahan dan ke besaran pribadi beliau, serta menganggap bahwa memuji dan menyanjung beliau seba gai pengkultusan individu ? [] Mantiq (Logika) Definisi dan Urgensi Mantiq Mantiq adalah alat atau dasar yang penggunaannya akan menjaga kesalahan dalam be rpikir. Lebih jelasnya, Mantiq adalah sebuah ilmu yang membahas tentang alat dan formula berpikir, sehingga seseorang yang menggunakannya akan selamat dari cara berpiki r salah. Manusia sebagai makhluk yang berpikir tidak akan lepas dari berpikir. N amun, saat berpikir, manusia seringkali dipengaruhi oleh berbagai tendensi, emos i, subyektifitas dan lainnya sehingga ia tidak dapat berpikir jernih, logis dan obyektif. Mantiq merupakan upaya agar seseorang dapat berpikir dengan cara yang benar, tidak keliru. Sebelum kita pelajari masalah-masalah mantiq, ada baiknya kita mengetahui apa ya ng dimaksud dengan "berpikir".

Berpikir adalah proses pengungkapan sesuatu yang misteri (majhul atau belum dike tahui) dengan mengolah pengetahuan-pengetahuan yang telah ada dalam benak kita ( dzihn) sehingga yang majhul itu menjadi ma'lm (diketahui). Faktor-Faktor Kesalahan Berpikir Hal-hal yang dijadikan dasar (premis) tidak benar. Susunan atau form yang menyusun premis tidak sesuai dengan kaidah mantiq yang be nar. Argumentasi (proses berpikir) dalam alam pikiran manusia bagaikan sebuah banguna n. Suatu bangunan akan terbentuk sempurna jika tersusun dari bahan-bahan dan kon struksi bangunan yang sesuai dengan teori-teori yang benar. Apabila salah satu d ari dua unsur itu tidak terpenuhi, maka bangunan tersebut tidak akan terbentuk d engan baik dan sempurna. Sebagai misal, "[1] Socrates adalah manusia; dan [2] setiap manusia bertindak za lim; maka [3] Socrates bertindak zalim". Argumentasi semacam ini benar dari segi susunan dan formnya. Tetapi, salah satu premisnya salah yaitu premis yang berbu nyi "Setiap manusia bertindak zalim", maka konklusinya tidak tepat. Atau misal, "[1] Socrates adalah manusia; dan [2] Socrates adalah seorang ilmuwan", maka "[3 ] manusia adalah ilmuwan". Dua premis ini benar tetapi susunan atau formnya tida k benar, maka konklusinya tidak benar. (Dalam pembahasan qiyas nanti akan dijela skan susunan argumentasi yang benar, pen). Ilmu dan Idrak Dua kata di atas, Ilmu dan Idrak, mempunyai makna yang sama (sinonim). Dalam ilm u mantiq, kedua kata ini menjadi bahasan yang paling penting karena membahas asp ek terpenting dalam pikiran manusia, yakni ilmu. Oleh karena itu, makna ilmu sen diri perlu diperjelas. Para ahli mantiq (mantiqiyyin) mendefinisikan ilmu sebaga i berikut: Ilmu adalah gambaran tentang sesuatu yang ada dalam benak (akal). Benak atau pikiran kita tidak lepas dari dua kondisi yang kontradiktif, yaitu il mu dan jahil (ketidak tahuan). Pada saat keluar rumah, kita menyaksikan sebuah b angunan yang megah dan indah, dan pada saat yang sama pula tertanam dalam benak gambaran bangunan itu. Kondisi ini disebut "ilmu". Sebaliknya, sebelum menyaksik an bangunan tersebut, dalam benak kita tidak ada gambaran itu. Kondisi ini diseb ut "jahil". Pada kondisi ilmu, benak atau akal kita terkadang hanya [1] menghimpun gambaran dari sesuatu saja (bangunan, dalam misal). Terkadang kita tidak hanya menghimpun tetapi juga [2] memberikan penilaian atau hukum (judgement). (Misalnya, banguna n itu indah dan megah). Kondisi ilmu yang pertama disebut tashawwur dan yang ked ua disebut tashdiq. Jadi tashawwur hanya gambaran akan sesuatu dalam benak. Sedangkan tashdiq adalah penilaian atau penetapan dengan dua ketetapan: "ya" atau "tidak/bukan". Misalny a, "air itu dingin", atau "air itu tidak dingin"; "manusia itu berakal", atau "m anusia itu bukan binatang" dan lain sebagainya. Kesimpulan, ilmu dibagi menjadi dua; tashawwuri dan tashdiqi. Dharuri dan Nadzari Ilmu tashawwuri dan ilmu tashdiqi mempunyai dua macam: dharuri dan nadzari. Dhar uri adalah ilmu yang tidak membutuhkan pemikiran lagi (aksiomatis). Nadzari adal ah ilmu yang membutuhkan pemikiran. Lebih jelasnya, dharuri (sering juga disebut badihi) adalah ilmu dan pengetahuan yang dengan sendirinya bisa diketahui tanpa membutuhkan pengetahuan dan peranta raan ilmu yang lain. Jadi Ilmu tashawwuri dharuri adalah gambaran dalam benak ya ng dipahami tanpa sebuah proses pemikiran. Contoh: 2 x 2 = 4; 15 x 15 = 225 atau berkumpulnya dua hal yang kontradiktif adalah mustahil (tidak mungkin terjadi) adalah hal yang dharuri. Sedangkan nadzari dapat diketahui melalui sebuah proses pemikiran atau melalui pengetahuan yang sudah diketahui sebelumnya. (Lihat kemb ali definisi berpikir). Jadi ilmu tashawwuri nadzari adalah gambaran yang ada da lam benak yang dipahami melalui proses pemikiran. Contoh: bumi itu bulat adalah hal yang nadzari.

Kulli dan Juz'i Pembahasan tentang kulli (general) dan juz'i (parsial) secara esensial sangat er at kaitannya dengan tashawwur dan juga secara aksidental berkaitan dengan tashdi q. Kulli adalah tashawwur (gambaran benak) yang dapat diterapkan (berlaku) pada beb erapa benda di luar. Misalnya: gambaran tentang manusia dapat diterapkan (berlaku) pada banyak orang; Budi, Novel, Yani dan lainnya. Juz'i adalah tashawwur yang dapat diterapkan (berlaku) hanya pada satu benda saj a. Misalnya: gambaran tentang Budi hanya untuk seorang yang bernama Budi saja. Manusia dalam berkomunikasi tentang kehidupan sehari-hari menggunakan tashawwurthasawwur yang juz'i. Misalnya: Saya kemarin ke Jakarta; Adik saya sudah mulai m asuk sekolah; Bapak saya sudah pensiun dan sebagainya. Namun, yang dipakai oleh manusia dalam kajian-kajian keilmuan adalah tashawwur-thasawwur kulli, yang sifa tnya universal. Seperti: 2 x 2 = 4; Orang yang beriman adalah orang bertanggung jawab atas segala perbuatannya; Setiap akibat pasti mempunyai sebab dan lain seb againya. Dalam ilmu mantiq kita akan sering menggunakan kulli (gambaran-gambaran yang uni versal), dan jarang bersangkutan dengan juz'i. Nisab Arba'ah Dalam benak kita terdapat banyak tashawwur yang bersifat kulli dan setiap yang k ulli mempunyai realita (afrad) lebih dari satu. (Lihat definisi kulli ). Kemudia n antara tashawwur kulli yang satu dengan yang lain mempunyai hubungan (relasi). Ahli mantiq menyebut bentuk hubungan itu sebagai "Nisab Arba'ah". Mereka menyeb utkan bahwa ada empat kategori relasi: [1] Tabyun (diferensi), [2] Taswi (ekuivale nsi), [3] Umum wa khusus Mutlaq (implikasi) dan [4] Umum wa Khusus Minwajhin (as osiasi). Tabyunadalah dua tashawwur kulli yang masing-masing dari keduanya tidak bisa dite rapkan pada seluruh afrad tashawwur kulli yang lain. Dengan kata lain, afrad kul li yang satu tidak mungkin sama dan bersatu dengan afrad kulli yang lain. Misal: tashawwur manusia dan tashawwur batu. Kedua tashawwur ini sangatlah berbeda dan afradnya tidak mungkin sama. Setiap manusia pasti bukan batu dan setiap batu pa sti bukan manusia. Taswi adalah dua tashawwur kulli yang keduanya bisa diterapkan pada seluruh afrad kulli yang lain. Misal: tashawwur manusia dan tashawwurt berpikir. Artinya seti ap manusia dapat berpikir dan setiap yang berpikir adalah manusia. Umum wa khusus mutlak adalah dua tashawwur kulli yang satu dapat diterapkan pada seluruh afrad kulli yang lain dan tidak sebaliknya. Misal: tashawwur hewan dan tashawwur manusia. Setiap manusia adalah hewan dan tidak setiap hewan adalah man usia. Afrad tashawwur hewan lebih umum dan lebih luas sehingga mencakup semua af rad tashawwur manusia. Umum wa khusus min wajhin adalah dua tashawwur kulli yang masing-masing dari ked uanya dapat diterapkan pada sebagian afrad kulli yang lain dan sebagian lagi tid ak bisa diterapkan. Misal: tashawwur manusia dan tashawwur putih. Kedua tashawwu r kulli ini bersatu pada seorang manusia yang putih, tetapi terkadang keduanya b erpisah seperti pada orang yang hitam dan pada kapur tulis yang putih. Hudud dan Ta'rifat Kita sepakat bahwa masih banyak hal yang belum kita ketahui (majhul). Dan sesuai dengan fitrah, kita selalu ingin dan mencari tahu tentang hal-hal yang masih ma jhul. Pertemuan lalu telah dibahas bahwa manusia memiliki ilmu dan pengetahuan (ma'lm), baik tashawwuri ataupun tashdiqi. Majhul (jahil) sebagai anonim dari ma'lm (ilmu ), juga terbagi menjadi dua majhul tashawwuri dan majhul tashdiqi. Untuk mengeta hui hal-hal majhul tashawwuri, kita membutuhkan ma'lm tashaswwuri. (Lihat definis i berpikir. Pencarian majhul tashawwur dinamakan "had" atau "ta'rif".

Had/ta'rif adalah sebuah jawaban dan keterangan yang didahului pertanyaan "Apa?" . Saat menghadapi sesuatu yang belum kita ketahui (majhul), kita akan segara berta nya "apa itu?". Artinya, kita bertanya tentang esensi dan hakikat sesuatu itu. J awaban dan keterangan yang diberikan adalah had (definisi) dari sesuatu itu. Oleh karena itu, dalam disiplin ilmu, mendefinisikan suatu materi yang akan diba has penting sekali sebelum membahas lebih lanjut masalah-masalah yang berkaitan dengannya. Perdebatan tentang sesuatu materi akan menjadi sia-sia kalau definisi nya belum jelas dan disepakati. Ilmu mantiq bertugas menunjukkan cara membuat ha d atau definisi yang benar. Macam-Macam Definisi (Ta'rif) Setiap definisi bergantung pada kulli yang digunakan. Ada lima kulli yang diguna kan untuk mendefinisikan majhul tashawwuri (biasa disebut "kulliyat khamsah"). L ima kulli itu adalah: [1] Nau' (spesies), [2] jins (genius), [3] fashl (diferent ia), [4] 'aradh 'aam (common accidens) dan [5] 'aradh khas (proper accidens). Pe mbahasan tentang kulliyat khamsah ini secara detail termasuk pembahasan filsafat , bukan pembahasan mantiq. Had Tm, adalah definisi yang menggunakan jins dan fashl untuk menjelaskan bagianbagian dari esensi yang majhul. Misal: Apakah manusia itu? Jawabannya adalah "He wan yang berpikir (natiq)". "Hewan" adalah jins manusia, dan "berpikir" adalah f ashl manusia. Keduanya merupakan bagian dari esensi manusia. Had Nqish, adalah definisi yang menggunakan jins saja. Misal: "Manusia adalah hew an". Hewan adalah salah satu dari esensi manusia. Rasam Tm, adalah definisi yang mengunakan 'ardh khas. Misal: "Manusia adalah wuju d yang berjalan, tegak lurus dan dapat tertawa". "Maujud yang berjalan", "tegak lurus" dan "tertawa" bukan bagian dari esensi manusia, tetapi hanya bagian yang eksiden. Rasam Nqish, adalah definisi yang menggunakan 'ardh 'm, misalnya, "Manusia adalah wujud yang berjalan". Qadhiyyah (Proposisi) Sebagaimana yang telah kita ketahui, tashdiqi adalah penilaian dan penghukuman a tas sesuatu dengan sesuatu yang lain (seperti: gunung itu indah; manusia itu buk an kera dan lain sebagainya). Atas dasar itu, tashdiq berkaitan dengan dua hal: maudhu' dan mahmul ("gunung" sebagai maudhu' dan "indah" sebagai mahmul). Gabung an dari dua sesuatu itu disebut qadhiyyah (proposisi). Macam-macam Qadhiyyah. Setiap qadhiyyah terdiri dari tiga unsur: 1) mawdhu', 2) mahmul dan 3) rabithah (hubungan antara mawdhu' dan mahmul). Berdasarkan masing-masing unsur itu, qadhi yyah dibagi menjadi beberapa bagian. Berdasarkan rabithah-nya, qadhiyyah dibagi menjadi dua: hamliyyah (proposisi kat egoris) dan syarthiyyah (proposisi hipotesis). Qadhiyyah hamliyyah adalah qadhiyyah yang terdiri dari mawdhu', mahmul dan rabit hah. Lebih jelasnya, ketika kita membayangkan sesuatu, lalu kita menilai atau menetap kan atasnya sesuatu yang lain, maka sesuatu yang pertama disebut mawdhu' dan ses uatu yang kedua dinamakan mahmul dan yang menyatukan antara keduanya adalah rabi thah. Misalnya: "gunung itu indah". "Gunung" adalah mawdhu', "indah" adalah mahm ul dan "itu" adalah rabithah (Qadhiyyah hamliyyah, proposisi kategorik) Terkadang kita menafikan mahmul dari mawdhu'. Misalnya, "gunung itu tidak indah" . Yang pertama disebut qadhiyyah hamliyyah mujabah (afirmatif) dan yang kedua di sebut qadhiyyah hamliyyah salibah (negatif). Qadhiyyah syarthiyyah terbentuk dari dua qadhiyyah hamliyah yang dihubungkan den gan huruf syarat seperti, "jika" dan "setiap kali". Contoh: jika Tuhan itu banyak, maka bumi akan hancur. "Tuhan itu banyak" adalah qadhiyyah hamliyah; demikian pula "bumi akan hancur" sebuah qadhiyyah hamliyah. Kemudian keduanya dihubungkan dengan kata "jika". Qadhiyyah yang pertama (dalam contoh, Tuhan itu banyak) disebut muqaddam dan qadhiyyah yang kedua (dalam conto h, bumi akan hancur) disebut tali.

Qadhiyyah syarthiyyah dibagi menjadi dua: muttasilah dan munfasilah. Qadhiyyah s yarthiyyah yang menggabungkan antara dua qadhiyyah seperti contoh di atas disebu t muttasilah, yang maksudnya bahwa adanya "keseiringan" dan "kebersamaan" antara dua qadhiyyah. Tetapi qadhiyyah syarthiyyah yang menunjukkan adanya perbedaan d an keterpisahan antara dua qadhiyyah disebut munfasilah, seperti, Bila angka itu genap, maka ia bukan ganjil. Antara angka genap dan angka ganjil tidak mungkin kumpul. Qadhiyyah Mahshurah dan Muhmalah Pembagian qadhiyyah berdasarkan mawdhu'-nya dibagi menjadi dua: mahshurah dan mu hmalah. Mahshurah adalah qadhiyyah yang afrad (realita) mawdhu'-nya ditentukan j umlahnya (kuantitasnya) dengan menggunakan kata "semua" dan "setiap" atau "sebag ian" dan "tidak semua". Contohnya, semua manusia akan mati atau sebagian manusia pintar. Sedangkan dalam muhmalah jumlah afrad mawdhu'-nya tidak ditentukan. Con tohnya, manusia akan mati, atau manusia itu pintar. Dalam ilmu mantiq, filsafat, eksakta dan ilmu pengetahuan lainnya, qadhiyyah yan g dipakai adalah qadhiyyah mahshurah. Qadhiyyah mahshurah terkadang kulliyah (proposisi determinatif general) dan terk adang juz'iyyah (proposisi determinatif partikular) dan qadhiyyah sendiri ada ya ng mujabah (afirmatif) dan ada yang salibah (negatif) . Maka qadhiyyah mahshurah mempunyai empat macam: Mujabah kulliyyah: Setiap manusia adalah hewan Salibah kulliyyah: Tidak satupun manusia yang berupa batu. Mujabah juz'iyyah: Sebagian manusia pintar Salibah juz'iyyah: Sebagian manusia bukan laki-laki. Sebenarnya masih banyak lagi pembagian qadhiyyah baik berdasarkan mahmul-nya (qa dhiyyah muhassalah dan mu'addlah), atau jihat qadhiyyah (dharuriyyah, daimah dan mumkinah) dan qadhiyyah syarthiyyah muttasilah (haqiqiyyah, maani'atul jama' da n maani'atul khulw). Namun qadhiyyah yang paling banyak dibahas dalam ilmu filsa fat, mantiq dan lainnya adalah qadhiyyah mahshurah. Hukum-Hukum Qadhiyyah Setelah kita ketahui definisi dan pembagian qadhiyyah, maka pembahasan berikutny a adalah hubungan antara masing-masing dari empat qadhiyyah mahshurah. Pada pemb ahasan terdahulu telah kita ketahui bahwa terdapat empat macam hubungan antara e mpat tashawwuri kulli: [1] tabyun, [2] taswi, [3] umum wa khusus mutlak dan [4] um um wa khusus min wajhin. Demikian pula terdapat empat macam hubungan antara masi ng-masing empat qadhiyyah mahshurah: [1] tanaqudh, [2] tadhadd, [3] dukhul tahta tadhadd dan [4] tadakhul. Tanaqudh (mutanaqidhain [kontradiktif]) adalah dua qadhiyyah yang mawdhu' dan ma hmul-nya sama, tetapi kuantitas (kam) dan kualitasnya (kaif) berbeda, yakni yang satu kulliyah mujabah dan yang lainnya juz'iyyah salibah. Misalnya, "Semua manu sia hewan" (kulliyyah mujabah) dengan "Sebagian manusia bukan hewan" (juz'iyyah salibah). Tadhad (kontrariatif) adalah dua qadhiyah yang sama kuantitasnya (keduanya kulli yyah), tetapi yang satu mujabah dan yang lain salibah. Misalnya, "Semua manusia dapat berpikir" (kulliyyah mujabah) dengan "Tidak satupun dari manusia dapat ber pikir" (kulliyyah salibah). Dukhul tahta tadhad (dakhilatain tahta tadhad [interferensif sub-kontrariatif]) adalah dua qadhiyyah yang sama kuantitasnya (keduanya juz'iyyah), tetapi yang sa tu mujabah dan lain salibah. Misalnya: "Sebagian manusia pintar" (juz'iyyah muja bah) dengan "Sebagian manusia tidak pintar" (juz'iyyah salibah). Tadakhul (mutadakhilatain [interferensif]) adalah dua qadhiyyah yang sama kualit asnya tetapi kuantitasnya berbeda. Misalnya: "Semua manusia akan mati" (kulliyya h mujabah) dengan "Sebagian manusia akan mati" (juz'iyyah mujabah) atau "Tidak s atupun dari manusia akan kekal" (kulliyyah salibah) dengan "Sebagian manusia tid ak kekal" (juz'iyyah salibah). Dua qadhiyyah ini disebut pula Hukum dua qadhiyyah mutanaqidhain (kontradiktif) jika salah satu dari dua qadhiy yah itu benar, maka yang lainnya pasti salah. Demikian pula jika yang satu salah , maka yang lainnya benar. Artinya tidak mungkin (mustahil) keduanya benar atau keduanya salah. Dua qadhiyyah biasa dikenal dengan ijtima' al naqidhain mustahil (kombinasi kontradiktif).

Hukum dua qadhiyyah mutadhaddain (kontrariatif), jika salah satu dari dua qadhiy yah itu benar, maka yang lain pasti salah. Tetapi, jika salah satu salah, maka y ang lain belum tentu benar. Artinya keduanya tidak mungkin benar, tetapi keduany a mungkin salah. Hukum dua qadhiyyah dakhlatain tahta tadhad (interferensif sub-kontrariatif), ji ka salah satu dari dua qadhiyyah itu salah, maka yang lain pasti benar. Tetapi, jika yang satu benar, maka yang lain belum tentu salah. Dengan kata lain, kedua qadhiyyah itu tidak mungkin salah, tetapi mungkin saja keduanya benar. Hukum dua qadhiyyah mutadakhilatain (interferentif), berbeda dengan masalah tash awwuri. (Lihat pembahasan tentang nisab arba'ah, pen); bahwa tashawwur kulli (mi salnya, manusia) lebih umum dari tashawwur juz'i (misalnya, Ali). Di sini, qadhiyyah kulliyyah lebih khusus dari qadhiyyah juz'iyyah. Artinya, jik a qadhiyyah kulliyyah benar, maka qadhiyyah juz'iyyah pasti benar. Tetapi, jika qadhiyyah juz'iyyah benar, maka qadhiyyah kulliyyah belum tentu benar. Misalnya, jika "setiap A adalah B" (qadhiyyah kulliyyah), maka pasti "sebagian A pasti B" . Tetapi jika "sebagian A adalah B", maka belum pasti "setiap A adalah B". Tanaqudh Salah satu hukum qadhiyyah yang menjadi dasar semua pembahasan mantiq dan filsaf at adalah hukum tanaqudh (hukum kontradiksi). Para ahli mantiq dan filsafat meny ebutkan bahwa selain mawdhu' dan mahmul dua qadhiyyah mutanaqidhain itu harus sa ma, juga ada beberapa kesamaan dalam kedua qadhiyyah tersebut. Kesamaan itu terl etak pada: Kesamaan tempat (makan) Kesamaan waktu (zaman) Kesamaan kondisi (syart) Kesamaan korelasi (idhafah) Kesamaan pada sebagian atau keseluruhan (juz dan kull ) Kesamaan dalam potensi dan aktual (bil quwwah dan bil fi'li). Qiyas (silogisme) Pembahasan tentang qadhiyyah sebenarnya pendahuluan dari masalah qiyas, sebagaim ana pembahasan tentang tashawwur sebagai pendahuluan dari hudud atau ta'rifat. D an sebenarnya inti pembahasan mantiq adalah hudud dan qiyas. Qiyas adalah kumpulan dari beberapa qadhiyyah yang berkaitan yang jika benar, ma ka dengan sendirinya (li dzatihi) akan menghasilkan qadhiyyah yang lain (baru). Sebelum kita lebih lnjut membahas tentang qiyas, ada baiknya kita secara sekilas beberapa macam hujjah (argumentasi ). Manusia disaat ingin mengetahui hal-hal y ang majhul, maka terdapat tiga cara untuk mengetahuinya: Pengetahuan dari juz'i ke juz'i yang lain. Argumenatsi ini sifatnya horisontal, dari sebuah titik yang parsial ke titik parsial lainnya. Argumentasi ini disebut tamtsil (analogi). Pengetahuan dari juz'i ke kulli. Atau dengan kata lain, dari khusus ke umum (men ggeneralisasi yang parsial) Argumentasi ini bersifat vertikal, dan disebut istiq ra' (induksi). Pengetahuan dari kulli ke juz'i. Atau dengan kata lain, dari umum ke khusus. Arg umentasi ini disebut qiyas (silogisme). Macam-macam Qiyas Qiyas dibagi menjadi dua; iqtirani (silogisme kategoris) dan istitsna'i (silogis me hipotesis). Sesuai dengan definisi qiyas di atas, satu qadhiyyah atau beberap a qadhiyyah yang tidak dikaitkan antara satu dengan yang lain tidak akan menghas ilkan qadhiyyah baru. Jadi untuk memberikan hasil (konklusi) diperlukan beberapa qadhiyyah yang saling berkaitan. Dan itulah yang namanya qiyas. 1. Qiyas Iqtirani Qiyas iqtirani adalah qiyas yang mawdhu' dan mahmul natijahnya berada secara ter pisah pada dua muqaddimah. Contoh: "Kunci itu besi" dan "setiap besi akan memuai jika dipanaskan", maka "kunci itu akan memuai jika dipanaskan". Qiyas ini terdi ri dari tiga qadhiyyah; [1] Kunci itu besi, [2] setiap besi akan memuai jika dip anaskan dan [3] kunci itu akan memuai jika dipanaskan. Qadhiyyah pertama disebut muqaddimah shugra (premis minor), qadhiyyah kedua dise but muqaddimah kubra (premis mayor) dan yang ketiga adalah natijah (konklusi).

Natijah merupakan gabungan dari mawdhu' dan mahmul yang sudah tercantum pada dua muqaddimah, yakni, "kunci" (mawdhu') dan "akan memuai jika dipanaskan" (mahmul) . Sedangkan "besi" sebagai had awshat. Yang paling berperan dalam qiyas adalah penghubung antara mawdhu' muqadimah shug ra dengan mahmul muqaddimah kubra. Penghubung itu disebut had awsath. Had awsath harus berada pada kedua muqaddimah (shugra dan kubra) tetapi tidak tecantum dal am natijah. (Lihat contoh, pen). Empat Bentuk Qiyas Iqtirani Qiyas iqtirani kalau dilihat dari letak kedudukan had awsath-nya pada muqaddimah shugra dan kubra mempunyai empat bentuk : 1. Syakl Awwal adalah Qiyas yang had awsth-nya menjadi mahmul pada muqaddimah sh ugra dan menjadi mawdhu' pada muqaddimah kubra. Misalnya, "Setiap Nabi itu maksh um", dan "setiap orang makshum adalah teladan yang baik", maka "setiap nabi adal ah teladan yang baik". "Makshum" adalah had awsath, yang menjadi mahmul pada muq addimah shugra dan menjadi mawdhu' pada muqaddimah kubra. Syarat-syarat syakl awwal. Syakl awwal akan menghasilkan natijah yang badihi (jelas dan pasti) jika memenuh i dua syarat berikut ini: Muqaddimah shugra harus mujabah. Muqaddimah kubra harus kulliyah. 2. Syakl Kedua adalah Qiyas yang had awshat-nya menjadi mahmul pada kedua muqadd imah-nya. Misalnya, "Setiap nabi makshum", dan "tidak satupun pendosa itu makshu m", maka "tidak satupun dari nabi itu pendosa". Syarat-syarat syakl kedua. Kedua muqaddimah harus berbeda dalam kualitasnya (kaif, yakni mujabah dan saliba h). Muqaddimah kubra harus kulliyyah. 3. Syakl Ketiga adalah Qiyas yang had awshat-nya menjadi mawdhu' pada kedua muqa ddimahnya. Misalnya, "Setiap nabi makshum", dan "sebagian nabi adalah imam", mak a "sebagian orang makshum adalah imam". Syarat-syarat Syakl ketiga. Muqaddimah sughra harus mujabah. Salah satu dari kedua muqaddimah harus kulliyyah. 4. Syakal Keempat adalah Qiyas yang had awsath-nya menjadi mawdhu' pada muqaddim ah shugra dan menjadi mahmul pada muqaddimah kubra (kebalikan dari syakl awwal.) Syarat-syarat Syakl keempat. Kedua muqaddimahnya harus mujabah. Muqaddimah shugra harus kulliyyah. Atau Kedua muqaddimahnya harus berbeda kualitasnya (kaif) Salah satu dari keduanya harus kulliyyah. Catatan: Menurut para mantiqiyyin, bentuk qiyas iqtirani yang badihi (jelas seka li) adalah yang pertama sedangkan yang kedua dan ketiga membutuhkan pemikiran. A dapun yang keempat sangat sulit diterima oleh pikiran. Oleh karena itu Aristotel es sebagai penyusun mantiq yang pertama tidak mencantumkan bentuk yang keempat. 2. Qiyas Istitsna'i Berbeda dengan qiyas iqtirani, qiyas ini terbentuk dari qadhiyyah syarthiyyah da n qadhiyyah hamliyyah. Misalnya, "Jika Muhammad itu utusan Allah, maka dia mempu nyai mukjizat. Oleh karena dia mempunyai mukjizat, berarti dia utusan Allah". Pe njelasannya: "Jika Muhammad itu utusan Allah, maka dia mempunyai mukjizat" adala h qadhiyyah syarthiyyah yang terdiri dari muqaddam dan tali (lihat definisi qadh iyyah syarthiyyah), dan "Dia mempunyai mukjizat" adalah qadhiyyah hamliyyah. Sed angkan "maka dia mempunyai mukjizat" adalah natijah. Dinamakan istitsna'i karena terdapat kata " tetapi", atau "oleh karena". Macam-Macam Qiyas istitsna'i (silo gisme) Ada empat macam qiyas istitsna'i: Muqaddam positif dan tali positif. Misa lnya, "Jika Muhammad utusan Allah, maka dia mempunyai mukjizat. Tetapi Muhammad mempunyai mukjizat berarti Dia utusan Allah". Muqaddam negatif dan tali positif. Misalnya, "Jika Tuhan itu tidak satu, maka bumi ini akan hancur. Tetapi bumi ti dak hancur, berarti Tuhan satu (tidak tidak satu)". Tali negatif dan muqaddam ne

gatif. Misalnya, "Jika Muhammad bukan nabi, maka dia tidak mempunyai mukjizat. T etapi dia mempunyai mukjizat, berarti dia Nabi (bukan bukan nabi)". Tali negatif dan muqaddam positif. Misalnya, "Jika Fir'aun itu Tuhan, maka dia tidak akan bi nasa. Tetapi dia binasa, berarti dia bukan Tuhan". (Makalah Ust. Husein Al-Kaff dalam Kuliah Logika "Pengantar Menuju Filsafat Is lam" di Yayasan Pendidikan Islam Al-Jawad pada tanggal 25 Oktober - 1 November 1 999 M) Pemimpin Yang Dijanjikan Ust. Husein Al-Kaff Pak Sukiman yang telah bertahun-tahun tinggal bersama istri dan anaknya pada seb uah rumah yang sempit dan berhimpitan dengan rumah para tetangganya. Kini ia ter diam menatap masa depannya yang belum pasti. Seonggok perabotan rumah dan barang-barang milik pribadinya bertumpuk di luar, d iterpa sinar matahari dan ditimpa curahan air hujan. Apa yang terjadi pada kelua rga pak Sukiman ? Dia baru saja dipaksa keluar oleh oknum petugas yang tidak bertanggung jawab, de ngan alasan rumahnya harus dijual dan kena gusuran pembangunan sebuah gedung yan g kekar dan mencakar langit, yang akan dibangun di atas tanahnya tersebut. Sebelumnya terjadi perang mulut antara dia dengan para petugas tersebut. Pak Suk irman pada dasarnya menerima keharusan rumahnya digusur demi kepentingan umum. A kan tetapi, ia meminta ganti rugi yang layak. Namun ternyata rumahnya dihancurka n dengan tanpa mendapatkan ganti rugi seperti yang ia inginkan. Malang benar nasibmu wahai pak Sukiman ! Meski pak Sukiman menelan rasa pahit ke hidupan sebagai orang kecil yang tidak berdaya, namun dia sedikit merasa terhibu r. Lantaran dia tidak sendirian. Masih ratusan orang di negeri ini yang mengalam i hal serupa. Sepahit-pahitnya kehidupan, akan menjadi ringan jika dipikul bersa ma. Begitulah pikir pak Sukirman. Setefanus, Uray dan kawan-kawannya mungkin hangus terpanggang oleh si jago merah yang melahap hutan luas di Irian Jaya dan Kalimantan. Mata pencaharian orang-or ang yang tinggal di sekitar hutan, habis dan hangus. Entah bagaimana mereka akan menyambung kehidupan selanjutnya ? Para penjual jasa dengan tenaganya harus rela meninggalkan keluarga dan kampung halamannya menuju tempat yang nun jauh di sana, demi mewujudkan impian mereka. Mereka berusaha dengan meminjam ke sana ke mari, untuk menyediakan biaya dan seg ala keperluan pemberangkatannya ke daerah baru tersebut. Mereka lugu dan sederhana. "Saya ingin bekerja sekarang ini," sahut Sumirah bint i Samadikun. "Saya ingin kerja di Arab Saudi, biar sekalian dapat naik haji," ti mpal Muthiah berharap. Lain dalam alam khayal, lain pula dalam alam nyata. Tidak sedikit dari mereka ya ng diperlakukan seperti budak dan pemuas hasrat nafsu birahi. Bahkan sebagian da ri mereka ada yang diperas dan dinodai kehormatannya sebelum berangkat ke luar n egeri. Misalnya Mat Syafei, karena satu dan lain hal dia menjual tanah yang ia warisi d ari ayahnya, dengan segepok uang bernilai 700 juta rupiah. Sebagian kecil darinya, dia pakai untuk naik haji bersama istrinya. Sementara si sanya dia simpan di sebuah Bank yang akhir-akhir ini terkena likuidasi. Habislah uangnya begitu saja, tanpa arti. Semua peristiwa di atas, adalah kasus-kasus sosial yang menyesakkan dada. Jerita n hati wong cilik akibat penindasan, merebak di seantero dunia. Orang-orang bija k atau orang yang menaruh rasa peduli pada kemanusiaan, hanya bisa mengelus dada dan bersuara. Namun, suara mereka tidak sampai ke telinga para jagoan dan gladi ator yang bercokol di balik benteng-benteng kekuasaan. Suara mereka tidak tembus ke dalam hati sanubari kaum kapitalis, yang rakus dan tidak mengindahkan normanorma kemanusiaan. Mereka orang-orang yang tak berdaya. Hari-hari mereka terus terancam. Mereka res ah dan gelisah. Mereka bingung, hendak ke mana gerangan dan kepada siapa akan be rlindung serta minta pertolongan ? Wakil-wakil mereka di Parlemen sudah berubah dari fungsinya sebagai wakil rakyat , menjadi sekelompok manusia yang datang ke Parlemen hanya sekedar untuk mendeng

arkan program-program pemerintah yang telah ditunggangi segelintir konglomerat, seraya mereka mengaminkannya Penggusuran, perampasan, perkosaan, pembunuhan dan perbuatan-perbuatan kriminal lainnya, selalu menghantui setiap rumah, setiap ora ng dan setiap keluarga. Dunia tidak lagi aman. Dunia makin sadis dan kejam. Si k uat makin sulit mengalah, sementara yang miskin terus dipaksa harus mengalah kep ada si kuat. Kasus-kasus seperti ini tidak hanya terjadi di negeri persada yang kita cintai i ni. Akan tetapi di negeri-negeri lain pun hal itu terjadi. Mungkin dengan bentuk yang sama, atau berbeda sama sekali. Selagi obsesi dan ambisi manusia berupa kepuasan materi dan kebutuhan-kebutuhan fisik, maka nilai-nilai kemanusiaan dengan sendirinya tergilas. Janji Allah Kita selaku umat yang beriman kepada Allah Swt. dan berkeyakinan, bahwa Dialah D zat yang Maha Adil, Maha Pengasih lagi Penyayang, merasa terhibur dengan janji-j anji Allah yang tidak mungkin diingkari-Nya. Dalam sejumlah ayat Al-Qur'an, Allah menjanjikan bahwasanya pada akhirnya kelak bumi ini akan diwariskan dan dikuasai oleh orang-orang baik, adil dan bertaqwa. Allah Swt. berfirman, "Dan kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang t ertindas di bumi, dan Kami hendak menjadikan mereka sebagai pemimpin dan akan me warisi bumi ini." (QS. Al-Qashash ayat 5). Ayat di atas secara kontekstual menceritakan tentang orang-orang Yahudi yang dit indas Fir'aun, dan Allah menjanjikan kepada mereka nanti untuk menjadi pemimpin dan pewaris bumi. Meskipun demikian, maksud ayat tersebut tidak dibatasi dengan peristiwa yang dia lami bangsa Yahudi waktu itu saja, karena ayat ini ingin menjelaskan bahwa orang -orang yang tertindas dan diperlakukan zalim, suatu saat nanti akan menjadi peng uasa dan pemimpin di atas bumi ini. Jadi ayat tersebut menyatakan, bahwa yang ak an menjadi pemimpin dan pewaris bumi adalah orang-orang yang tertindas. Pada ayat lainnya Allah berfirman, "Sesungguhnya, bumi ini akan diwarisi hamba-h amba-Ku yang shaleh." (QS. Al-Anbiya, 105). Ayat tersebut dengan jelas menyatakan, bahwa bumi ini akan diwariskan kepada ora ng-orang yang baik dan shaleh. Jadi yang akan mewarisi dan menguasai bumi, pada akhirnya adalah orang-orang yang shaleh. Dalam Al-Qur'an surat An-Nur ayat 55, Allah berfirman, "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman dan beramal kebaikan di ant ara kalian, bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sesungguhnya Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya u ntuk mereka, dan Dia benar-benar akan menggantikan keadaan mereka aman setelah m ereka ketakutan." Ayat di atas menjelaskan, bahwasanya Allah berjanji akan menyerahkan kekuasaan a tas bumi ini kepada orang-orang yang beriman dan beramal kebaikan. Beranjak dari tiga ayat di atas dan keimanan, tampak bahwa Allah tidak akan melanggar janji-N ya. Kita selaku kaum muslim yakin, bahwa penderitaan, penindasan dan kezaliman akan berakhir, dan dunia ini akan berada di bawah kepemimpinan orang-orang yang bijak dan shaleh, sehingga pemerataan keadilan dan kedamaian akan tegak. Andaikata kita amati dengan baik, bahwa kekuasaan dan kepemimpinan akan diserahk an kepada orang-orang tertindas, orang-orang shaleh, orang-orang beriman dan ber amal kebaikan. Tiga kriteria tersebut harus ada pada diri seorang pemimpin yang akan mewarisi bumi dan memimpin dunia sesuai dengan janji Allah. Kriteria-kriteria pemimpin yang Allah Janjikan Ada tiga kriteria yang harus ada pada seorang calon pemimpin yang Allah janjikan , yaitu tertindas, beramal baik dan beriman. Maksud tertindas pada pemimpin yang Allah janjikan, adalah seorang yang selama h idupnya selalu mengalami penindasan, tekanan, dan penderitaan. Sedangkan yang di maksud beramal baik, adalah pemimpin tersebut akan menebarkan persaudaraan, keda maian dan keadilan kepada seluruh umat manusia.

Adapun maksud dari beriman, adalah dia bukan seorang yang materialis dan kapital is, yang hanya berusaha memuaskan kebutuhan fisik saja. Bahkan sebaliknya, ia me ngajak manusia agar menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan menyadarkan manusia b ahwa kehidupan tidak hanya di dunia ini saja, tetapi di hari kemudian juga. Oleh karenanya pemimpin yang dijanjikan, adalah pemimpin yang beriman kepada Allah d an hari akhir. Siapakah pemimpin yang dijanjikan itu ? Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita tidak perlu mereka-mereka, karena jawaba nnya dapat kita peroleh dengan mudah dari keterangan hadis-hadis Nabi Muhammad S aaw. Hadis Nabi, sebagaimana fungsinya sebagai penjelas Al-Qur'an, menjelaskan t entang siapa pemimpin yang Allah janjikan itu. Dalam banyak kitab Hadis dari kalangan Ahlu Sunnah dan Syi'ah disebutkan, bahwa pemimpin yang dijanjikan itu adalah Imam al-Mahdi al-Muntadzar. Di sini akan kam i sebutkan sebagian kecil dari Hadis-Hadis tentang al-Mahdi al-Muntadzar. Ahmad, Turmudzi, Abu Daud dan Ibnu Majah meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah Saa w bersabda, "Sekiranya dunia ini hanya tinggal sehari saja, niscaya Allah mengut us seorang manusia dari keluargaku (keturunanku) yang akan memenuhi dunia dengan keadilan, setelah dunia dipenuhi kezaliman." (Kitab Is'af ar-Raghibin). Rasulullah Saaw bersabda, "Di akhir zaman kelak, akan keluar seorang dari keturu nanku, namanya seperti namaku dan julukannya seperti julukanku. Dia akan memenuh i bumi dengan keadilan, sebagaimana sebelumnya bumi dipenuhi kezaliman. Itulah a l-Mahdi." (Kitab Tadzkirah al-Khawwas, 204). Rasulullah Saaw bersabda, "Barangsiapa mengingkari keluarnya al-Mahdi, maka dia telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad, dan barang siapa mengingkari tentang kemunculan Dajjal, maka dia telah kufur." (Kitab Farai d as-Simthain). Menurut Abu Said al-Khudri, Rasulullah Saaw bersabda, "Sampaikanlah kabar gembir a tentang al-Mahdi. Sesungguhnya dia akan datang di akhir zaman ketika terjadi k esulitan dan gempa. Allah akan menebarkan keadilan dan kedamaian melalui al-Mahd i di muka bumi ini." (Kitab Dalail al-Imamah, 171).[] Bagaimana seharusnya kita beragama? Pertanyaan di atas layak diketengahkan dalam rangka introspeksi diri atas keagam aan kita, sehingga kita benar-benar beragama sebagaimana mestinya. Karena betapa banyak orang beragama, namun keberagaman mereka sekedar warisan dari orang tua atau ingkungan sekitar mereka. Bahkan ada sebagian orang beranggapan, bahwa agam a hanya sebagai pelengkap kehidupan yang sifatnya eksidental. Mereka tidak ambil peduli yang lazim terhadap agama. Karenanya mereka beragama a sal-asalan, sekedar tidak dikatakan 'Tidak Beragama'. Gejala perpindahan dari sa tu agama kepada agama yang lain bukanlah semata karena faktor ekonomi. Bahkan, a nggapan bahwa semua agama itu sama merupakan akibat dari ketidakpedulian yang la zim terhadap agama. Gejala Pluralisme semacam ini menjadi trend abad kedua puluh . Dalam persepsi mereka, membicarakan agama adalah suatu hal yang sangat sensitif dan akan merenggangkan hubungan antara manusia. Agama merupakan sesuatu yang san gat personal dan tidak perlu diuungkap dalam forum-forum umum dan terbuka. Jika harus berbicara agamapun, maka ruang lingkupnya harus dibatasi pada sisi peribad atan saja. Agama telah dirampingkan, sedemikian rupa sehingga, hanya mengurus masalah-masal ah ritual belaka. Agama jangan dibawa-bawa ke dalam kancah politik, sosial, dan ekonomi. Karena jika agama dibawa ke dalam arena politik dan sosial, maka kanter jadi perang antar agama dan penindasan atas agama tertentu oleh agama yang berku asa. Demikian pula, jika agama diperanaktifkan dalam urusan ekonomi, maka akan m embatasi kebebasan perilaku menimbun kekayaan, karena banyak lampu-lampu merah d an peringatan-perigatan yang sudah tentu akan menghambat kelancaran bisnis. Apakah benar demikian ? Tentu, bagi mereka yang masih memiliki keterikatan dengan agama akan mengatakan,

bahwa pernyataan di atas relatif kebenarannya. Sebab, boleh jadi pernyataan di atas adalah suatu kesimpulan dari beberapa kasus sejarah yang parsial dan situas ional, bahkan tidak bisa digeneralisasikan. Namun bagi kau muslimin, pernyataan di atas sama sekali tidak benar, karena seca ra teoritis agama Islam adalah pegangan hidup (way of life) yang lengkap dan tid ak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, baik secara individu maupun kemasyar akatan. Islam agama yang sangat luas dan fleksibel. Secara praktek hal ini telha dibuktikan, bahwa dalam sebuah pemerintahan yang menjlankan syariat Islam denga n baik, kehidupan masyarakatnya --baik muslim maupun non-muslim-- aman, damai da n sejahtera, pengetahuan di dalamnya maju pesat. Yang menjadi acauan kita adalah bagaimana seharusnya kita beragama, agar ajarann ya benar-benar terasa dan mewarnai seluruh aspek kehidupan kita. Sebagaimana telah kita bahas pada edisi sebelumnya, bahwa ajaran-ajaran Din terd iri atas tiga macam , yaitu aqidah (keyakinan), syariah (hukum atau fiqih) dan a khlaq. Semuanya harus kita perhatikan secara proporsional. Di sini kami akan men jelaskan, walaupun ringkas, ketiga jenis ajaran tersebut. 1. Aqidah Aqidah adalah perkara-perkara yang mengikat akal, pikiran dan jiwa seseorang (ma bani-e Syenakht, Syeikh Muhammad Raysyahri). Misalnya, ketika seseorang meyakini adanya satu Dzat yang senantiasa mengawasi gerak-gerik kita, maka keyakinan ter sebut mengikat kita sehingga tidak leluasa berbuat sesuatu yang akan menyebabkan -Nya murka. Pada dasarnya, inti dari Aqidah semua agama, adalah keyakinan akan eksistensi Dz at pencipta alam raya ini, dan ini merupakan fitrah manusia. Dengan demikian, da ri sisi ini semua agama sama, khususnya agama samawi. Allah Ta'ala berfirman, "K atakanlah, Wahai Ahli Kitab, marilah kita menuju (membicarakan) kalimat (keyakin an) yang sama antara kami dan kalian." (QS. Ali Imran:64). Namun perbedaan muncul ketika berbicara tentang siapa Pencipta alam raya ini, ba gaimana wujud-Nya, apakh tunggal atau berbilang, atau pertanyaan-pertanyaan lain yang berkaitan dengan ketuhanan. Tentu, tidak mungkin semua agama itu benar dalam memahami sang pencipta. Oleh ka renanya , hanya ada satu agama yang benar dalam memahami Siapa dan bagaimana Dza t Pencipta itu. Lalu bagaimana cara menetukan mana agama yang benar? Dalam hal ini, masing-masing agama tidak bisa membicarakan hal itu menurut kacam atanya sendiri, baik melalui kitab sucinya atau pendapat para pakarnya. Ummat Is lam tidak bisa membuktikan bahwa Tuhan itu Allah dengan Al-Qur'an' maupun hadits , atau Ummat Kristiani dengan kitab Injilnya. Demikian pula ummat lainnya. Berbicara mengenai tentang Siapa dan bagaimana Tuhan Pencipta, harus dengan sesu atu yang disepakati dan dimiliki oleh setiap agama, yaitu akal. Keunggulan dan k eberhasilan suatu agama atau aliran, tergantung sejauh mana dapat dipertahankan kebnarannya oleh akal. Maka di sinilah pelunya kita mempelajari aqidah melalui p endekatan akal, atau yang sering disebut dengan ushuluddin, ilmu Tawhid dan ilmu Kalam (theologi). Bagaimana kita beraqidah atau bagaiman kita mempelajari aqidah ? Ayatullah Muhammad Raysyahri dalam Kitab Mabani-e Syenakht membafi manusia beraq idah keapda dua kelompok , yaitu sebagian orang beraqidah atas dasar Taqlid dan lainnya beraqidah atas dasar Tahqiq. Taqlid ialah menerima pendapat orang tanpa dalil dan argumentasi (burhan) aqli, sebaliknya Tahqiq adalah menerima pendapat berdasarkan dalil dan argumentasi (burhan) Aqli. Beraqidah atas dasar taqlid, menurut akal tidak dapat dibenarkan.Karena masalah Aqidah adalah masalah keyakinan dan kemantapan. Sementara taqlid tidak memberika n keyakinan dan kemantapan.Oleh karenanya, alangkah banyak kalangan awam, dalam masalah keagamaan, karena satu dan lain hal, pindah agama atau keluar dari agama nya. Al-Qur'an sendiri, dalam beberapa ayatnya, mengkritik cara berpikir seprti ini, yang merupakan cara berpikir yang biasa dijadikan alasan oleh orang-orang m usyrik untuk tidak mengikuti ajakan para nabi. Misalnya, Al-Qur'an mengatakan,"J ika dikatakann kepada mereka ,'ikutilah apa yang Allah turunkan.' Mereka menjawa b,'Tidak.' Akan tetapi kami mengikuti (melakukan) apa yang kami dapati dari pend

ahulu kami." (QS. Luqman :21). Selain itu, Al-Qur'an juga melarang mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan,"Dan jan ganlah kalian mengikuti apa yang tidak kalian ketahui." (QS. al-Isra :36). Bahka n Al-Qur'an menyebut orang yang tidak menggunakan akalnya sebagai binatang yang paling buruk,"Sesungguhnya binatang yang paling buruk di sisi Allah adalah orang yang bisu dan tuli, yaitu orang-orang yang tidak berpikir." (QS. al-Anfal:22) d an ayat-ayat lainnya. Disamping itu, terdapat hadits Rasulullah saww. yang menganjurkan ummatnya agar beragama atas dasar pengetahuan. Atara lain hadits yang berbunyi,"Jadilah kalian orang yang berilmu atau yang sedang menuntut ilmu, dan jangan menjadi orang yan g ikut-ikutan." (Kitab an-Nihayah Ibnu Atsir, jilid I hal. 67) Ala Kulli Hal, akal diciptakan sebagai sumber kekuatan manusia untuk mengetahui kebenaran dan kesalahan. Salah seorang Ma'shumin berkata, "Allah mempunyai dua h ujjah (bukti kebenaran), hujjah lahiriah dan hujjah batiniah. Hujjah lahiriah ad alah para Rasul dan Hujjah batiniah adalah akal." Sementara itu, para mutakallim in dan filosof muslim telah bersusah payah membangun argumentasi-argumentasi yan g kuat dan kokoh tentang pembuktian keberadaan Allah Ta'ala. Dengan demikian, kesimpulan yang dapat kita tarik dari keterangan di atas, adala h bahwa dalam masalah aqidah seseorang mesti ber-tahqiq dengan dalil-dalil akal dan tidak boleh ber-taqlid. 2. Syariat Syariat menurut arti bahasa adalah tempat menagalirnya air. Lalu syariat diartik an lebih luas, yaitu untuk segala jalan yang mengantarkan manusia kepada maksudn ya (Lihat tafsir Namuneh dan tafsir Mizan dalam menafsirkan surat al-Jatsiyah ay at 18). Dengan demikian, Syariat Islamiyah berarti jalan yang mengantarkan umat manusia kepada tujuan Islami. Setelah seseorang meyakini keberadaan Allah sebagai pencipta dan pemberi Kehidup an sesuai dengan dalil-dalil akal, maka konsekuensi logisnya (bil mulazamah aqli yah) dia akan merasa berkewajiban untik menaati dan menyembah-Nya. Namun sebelum nya, tentu dia harus mengetahui cara bertaat dan menyembah kepada-Nya, agar tida k seperti orang-orang arab jahiliyah yang menyembah Allah, namun melalui patungpatung (QS.az-Zumar: 3). Mereka, sesuai dengan fitrah-ilahiah, meyakini keberadan Tuhan Sang Pencipta ala m raya. Berkenaan dengan itu, Allah Ta'ala berfirman, "Jika kamu bertanya kepada mereka,'Siapakah yang menciptakan bumi dan langit ? Niscaya mereka menjawab 'Al lah.' (QS. Luqman : 25). Kemudian , mereka ingin mengadakan hubungan dan berkomu nikasi dengan-Nya (menyembah-Nya), sebagaiman Allah lukiskan dalam firman-Nya,"S ebenarnya kami menyembah patung-patung sebagai upaya mendekatkan diri kami kepad a Allah semata." (QS. az-Zumar, 3). Meskipun mereka meyakini keberadaan Allah Ta 'ala, namun mereka salah dalam cara mengadakan komumikasi dengan-Nya. Nah, agar tidak terjadi kesalahan dalam kontak dan komunikasi dengan Allah, maka kita mesti melakukannya menurut cara yang dikehendaki-Nya dan tidak mengikuti c ara yang kita inginkan. Allah dengan luthuf-Nya (upaya mendekatkan hamba pada ke taatan dan menjauhkannya dari kemaksiatan) mengutus para nabi dan mengajarkan ta ta cara menyembah (beribadah). Oleh karena itu, kita mesti mengikuti bagaimana R asulullah saww. beribadah,"Shalatlah kalian, sebagaimana kalian melihat aku shal at." Kaum muslimin yang menyaksikan Rasulullah beribadah secara langsung, tidak menga lami kesulitan untuk mengikuti beliau. Namun, bagi kita yang telah dipisahkan da ri beliau dengan renatang waktu yang cukup panjang (lima belas abad),untuk menge tahui cara beliau beribadah hanyalah dapat dilakukan melalui perantaraan Al-Qur' an dan hadits. Dan untuk memahami maksud Al-Qur'an dan Hadits tidakklah mudah. Menyangkut Al-Qur'an, Imam Ali bin Abi Thalib as. berkata,"Kitab Tuhan kalian (b erada) ditengah-tengah kalian. Ia menjelaskan tentang halal dan haram, kewajiban dan keutamaan, nasikh (ayat yang menghapus) dan mansukh (ayat yang dihapus), ru khshah dan Azimah, khusus dan umum,'ibrah dan perumpamaan, mursal (mutlaq) dan m ahdud (muqayyad), muhkam (ayat yang jelas maksudnya) dan mutasyabih (ayat yang b elum jelas maksudnya).." (Tashnif Nahjul Balaghah: 207). Sedangkan mengenai hadi

ts yang sampai kepada kita, ribuan jumlahnya dari berbagai kitab hadits, dan tid ak sedikit darinya pertentangan satu dengan lainnya. Dengan demikian, untuk dapat memahami malsud Al-Qur'an dan hadits, harus terlebi h dahulu menguasai sejumlah disiplin ilmu dengan baik, antara lain Bahasa Arab, Tafsir, Ulumul Quran, Ushul iqh, Mantiq, Ilmu Rijal, Ulumul Hadits dan sebagainy a. Orang yang telah menguasai semua disiplin ilmu tersebut dengan baik, dia dapat b er-istinbath (menginterpretasikan hukum) secara langsung dari Al-Qur'an dan hadi ts (pelakunya disebut Mujtahid). Tetapi orang yang tidak menguasai semua ilmu di atas dengan baik, maka cukup baginya mengikuti (bertaqlid) kepada hasil istinba th seorang Mujtahid. Dalam masalah aqidah taqlid tidak diperkenankan, sementara dalam masalah syariat taqlid diperbolehkan. 3. Akhlak Para ulama dalam mengartikan akhlaq umumnya mengatakan,"Akhlaq adalah ilmu yang menjelaskan tentang mana yang baik dan mana yang buruk, serta apa yang harus di amalkan." Mereka membagi ilmu akhlaq kepada dua bagian, yaitu akhlaq teoritis da n akhlaq praktis. Mempelajari dan mengamalkan akhlaq sangat diperlukan sebagai p roses mencapai tujuan hidup yaitu kesempuranaan. Kalimat penutup, sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimana seharusnya kita berag ama, adalah beraqidah atas dasar tahqiq dan menjalankan syariat dengan baik atas dasar ijtihad atau taqlid dan berakhlaq. Kitab Rujukan : 1. Tafsir al-Mizan, karya Allamah Thabathabai 2. Tafsir Namuneh, karya Ayatullah Makarim Sirazi. 3. Asyna'i ba Ului-e Islami, karya Ayatullah Syahid Muthahhari. 4. Tashnif Nahjul Balaghah, karya Labib Baidhun 5. Mabani-e Syenakht, karya Muhammad Raysyahri Sumber: Buletin Dwi Mingguan RISALATUNA diterbitkan oleh Yayasan Al-Jawad, Edisi 02-Tahun 1997 Rahbar: Amerika Serikat berambisi Jadikan Iran Seperti Uni Soviet Menjelang keberangkatan Presiden Iran Mohammad Khatami ke Jerman, Rahbar atau Pe mimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei ditemui oleh para pejabat senior dari berbagai instansi pemerintahan Republik Islam Iran (RII ), mulai dari Lembaga Pengadilan (yudikatif), pemerintah (ekskutif), parlemen, h ingga Dewan Kebijaksaan, Dewan Pengawas UUD, Dewan Ahli, angkatan bersenjata, da n Lembaga Penyiaran RII (IRIB). Dalam pertemuan Ahad 19 Juli 2000 ini, mula-mula Presiden Iran Sayid Muhammad Khatami menyampaikan kata sambutan yang mengupas k eagungan pribadi Imam Ali dan membahas berbagai persoalan dalam negeri RII. Sete lah itu, Rahbar menyampaikan pidato panjang lebar tentang reformasi di Iran sert a obsesi AS dan konco-konconya untuk menggulingkan Iran melalui strategi yang pe rnah digunakan untuk memporak-porandakan adi daya Uni Soviet. Berikut ini adalah petikan pidato beliau. "Saudara dan saudari sekalian, para pejabat dan para pimpinan pemerintahan Repub lik Islam, saya ucapkan selamat datang. Ini merupakan pertemuan yang sangat baik dan insyallah bermanfaat. Pernyataan Presiden Khatami sangatlah baik, bermanfaa t, dan menandakan adanya berbagai motivasi yang sangat besar. Kita berharap, ins yallah tema-tema yang beliau utarakan, khususnya bagian pertama yang terfokus ke pada sirah Amirulmukminin Ali as, selalu menjadi renungan untuk kita semua. Tujuan pertemuan ini pertama-tama ialah membangun keharmonisan dan solidaritas. Betapa baiknya jika dalam berbagai persoalan terdapat keselarasan dan kesepahama n, dan kalau toh terdapat perbedaan cara dalam sejumlah persoalan, maka kesamaan hati akan menutupi celah-celah yang ada. "Kesamaan hati akan mudah dicapai dengan mengingat Allah SWT. Mengingat Allah ak an menjadi pelita hati manusia, menerangi hati manusia, dan menghilangkan debu-d ebu permusuhan dan semangat egoisme dari hati manusia, serta menjadi tambatan ya ng akan menentramkan hati yang guncang. Mengingat Allah akan selalu bisa digapai oleh hati yang bersih, dan bukan hati yang ternoda dengan kotoran. Mengingat Al

lah sukar sekali dilakukan oleh orang yang menodai hatinya sendiri. Dia tidak ak an sukses dan tidak akan menemukan jalan untuk memasuki wilayah suci Ilahi. Hati yang sudah tercemari dengan hawa nafsu, gila kekuasaan, dan semangat permusuhan kepada hamba-hamba Allah, kedengkian, egoisme, dan gila kepada harta benda tida k mungkin akan menemukan jalan untuk memasuki wilayah suci Ilahi, kecuali jika d ia menyucikan hatinya terlebih dahulu. "Jika hati seseorang sanggup menghiasi dan mengharumkan dirinya dengan zikrullah , maka Allah tentu akan mengabulkan keinginannya. Allah berfirman, Berdoalah kepa da-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya. Tidak ada doa yang tidak mustajab atau di kabulkan Allah. Mustajab di sini bukan berarti kehendak manusia pasti terpenuhi. Mustajab bisa jadi keinginan manusia terpenuhi dan bisa jadi tidak terpenuhi ka rena faktor-faktor dan demi maslahat-maslahat tertentu. Istijabah Ilahi ialah re spon, perhatian, dan inayah Allah. Istijabah Ilahi bisa berupa tidak terwujudnya keinginan yang kita anggap akan menguntungkan kita, tapi pada hakikatnya justru merugikan kita. "Kita berusaha untuk mengharumkan hati kita. Dewasa ini kita sangat memerlukan p enyucian hati. Saya pun lebih memerlukan pengobatan Ilahi ini, dan kita semua ya ng mengemban tanggungjawab berat lebih memerlukannya ketimbang orang lain yang t idak mengemban tanggungjawab ini. Pekerjaan kita sangatlah berat. Allah SWT send iri memandang Nabi Besar SAWW perlu beribadah dengan penuh jerih payah, menunaik an solat malam, menangis dan merintih. Allah menghendaki demikian karena tugas N abi sangatlah berat. Semakin berat tugas seseorang, semakin perlu pula orang itu untuk memperkuat hubungannya dengan Allah. Kalau kita bisa memperkuat hubungan ini, maka pekerjaan-pekerjaan kita terbenahi, jalan akan terbuka untuk kita, pik iran kita akan terang, dan cakrawala akan cerah di depan kita. Namun jika, kesul itan ini tidak kita pecahkan, maka pekerjaan-pekerjaan kita tidak akan membuahka n hasil yang semestinya. Boleh jadi orang terlihat sukses dalam hal-hal terte! n tu, namun tujuan kita tidak cukup hanya kesuksesan-kesuksesan duniawi. Tujuan ma nusia yang bertauhid jauh lebih agung dari hanya sekedar tujuan dalam konteks al am materi. Dan kalau kita punya tujuan dalam konteks alam materi, maka itu kita pandang sebagai pendahuluan, jalan, dan jembatan untuk tujuan-tujuan yang lebih tinggi. Mau tidak mau Anda harus melintasi jembatan dunia ini, namun Anda jangan berhenti di jembatan ini.Tujuan harus lebih tinggi daripada keinginan-keinginan dalam bi ngkai alam materi. Kita berharap semoga Allah memberi kita taufik untuk melakuka n pekerjaan-pekerjaan ini. Saudara dan saudari yang mulia, sebagaimana yang dinyatakan oleh Presiden Khatami , di negara kita terdapat berbagai potensi yang besar dan cakrawala yang cerah.N amun, berbagai problema tentunya juga ada. Potensi-potensi ini harus dimanfaatka n dan problematika harus diatasi. Dalam kondisi sekarang ini, masalah yang menur ut saya paling penting dalam dunia komunikasi kita ialah persatuan dan kesamaan hati.Iklim jangan sampai keruh. Jika Allah memberikan taufik-Nya kepada para pej abat pemerintahan ini untuk berjalan dengan kesamaan hati, maka sebagian besar p ersoalan akan teratasi. Kesamaan hati di sini bukan harus berarti kesamaan pikir an. Metode dan cara boleh berbeda, tetapi jangan sampai perbedaan ini dilandasi dengan jiwa permusuhan. Revolusi dan pemerintahan Islam adalah peluang emas bagi upaya melakukan penyaringan mental dan kondisi pekerjaan negara, dan peluang in i harus digunakan secara maksimal. "Ada upaya-upaya tertentu untuk mempersepsikan masalah-masalah sekunder sebagai masalah primer, atau mempersepsikan keinginan-keinginan yang bukan hakiki, atau yang hakiki namun tergolong sekunder, sebagai masalah nasional yang prinsipal. N amun masalah kita yang prinsipal bukanlah demikian. Masalah kita yang prinsipal ialah bahwa semuanya harus menemukan jalan untuk mengokohkan pemerintahan, mempe rbaiki kinerja, menuntaskan kesulitan, menjelaskan berbagai aspirasi dan tujuan yang ada kepada segenap lapisan masyarakat, memanfaatkan besarnya daya kreativit as, dinamika, kehendak, motivasi, dan keimanan rakyat, serta menempuh jalan ke a rah cita-cita agung pemerintahan Islam yang semuanya akan membawa kita kepada ke bahagian. Inilah yang harus menjadi fokus perhatian dan bahan renungan. Banyak t entunya pekerjaan yang harus kita lakukan. Kita memikul beban tugas dan tanggung jaab yang besar. Masing-masing kita harus menunaikan tugas ini semaksimal mungki

n ! sesuai dengan kemampuannya. "Dalam kesempatan ini saya akan utarakan apa yang terlintas dalam benak saya. Da n itu ialah tentang bagaimana caranya kita untuk mengatasi berbagai kekurangan y ang ada, memerangi kebobrokan, dan menciptakan reformasi dalam arti yang sebenar nya. Hal ini sangat penting, dan karena itu tepat kiranya jika semua orang yang memiliki kepedulian kepada nasib negeri dan bangsa ini memfokuskan perhatian kep ada masalah ini. Banyak orang yang membicarakan soal reformasi, dan berusaha ker as untuk reformasi. Apakah reformasi itu? Manakah jalan untuk menggapai reformas i? Apa yang harus diprioritaskan dalam reformasi? Ini semua adalah pertanyaan ya ng sangat penting. "Pertanyaan penting lainnya sehubungan dengan ini ialah apa sebenarnya yang diin car oleh musuh dalam propaganda-propagandanya menyangkut reformasi? Bukankah ref ormasi ini milik kita?! Anda tahu bahwa propaganda dunia banyak terfokus kepada reformasi di Iran. Apa sebabnya? Propaganda ini jelas berasal dari pusat-pusat t ertentu yang tidak bisa dianggap mengharapkan kebaikan untuk bangsa Iran. Bukank ah adanya fasad, belenggu dan kerusakan kondisi di negara ini tak lain adalah di sebabkan oleh dominasi dan pengaruh kekuasaan negara arogan Inggris yang kemudia n disusul oleh AS?! Kekuatan manakah yang telah menciptakan belenggu di negara i ni? Kekuatan manakah yang telah membangun instansi-instansi nasional dan pemerin tahan yang berasaskan kefasadan di negara ini? Tangan siapakah yang telah menaik kan Reza Khan ke puncak kekuasaan? Selama 50-an tahun, siapakah yang telah melak ukan propaganda yang paling tercela untuk menyeret bangsa ini ke arah kebejatan, ! kebebasan tanpa batas, ketidak percayaan kepada prinsip-prinsip moral dan agam a? Para pemuda kita sekarang ttahu menahu tentang pers pada masa Rezim Pahlevi. Namun, Anda tentu mengingatnya. Pers yang fasad itu dipromosikan oleh siapa? Dar i manakah pers itu mendapatkan dana dan sorakan? Kepada siapa pers itu mencontoh kalau bukan kepada kekuatan-kekuatan yang telah menciptakan dan memperkuat peme rintahan saat itu? "Sekarang ini, kita memerlukan alasan mengapa kita melawan dominasi dan arogansi pemerintah AS? Dan alasannya apalagi kalau bukan karena Rezim yang pernah berku asa 50 tahun di Iran itu telah menghancurkan sumber daya manusia, keuangan, mora litas, dan berbagai potensi yang kita miliki? Apa yang dihasilkan oleh Rezim Pah levi untuk negara ini selama 50 tahun? Bagaimanakah caranya dan sampai kapan ker usakan yang mereka ciptakan itu bisa dibenahi? Siapakah yang membuat peluang unt uk kerusakan ini? Siapakah yang membantu dan mengarahkannya? Siapakah yang mempe rkuat badan inteljen saat itu? Siapakah yang menentukan garis mereka? Anehnya, p emerintah AS dan Inggris, yang notabene pemimpin mereka, politisi mereka, dan pu sat media massa mereka, sekarang malah tampil membela apa yang disebut reformasi dan kebebasan di Iran. Gelagat ini tentu akan membuat orang yang berakal sehat akan berpikir dan bahkan akan menyadarkan orang yang tidak waspada. Bagaiman! ak ah duduk persoalannya? Ini adalah satu persoalan yang amat vital dan fundamental . Sebagai orang yang sejak awal revolusi dampai sekarang telah mengalami berbagai p ersoalan yang menyangkut pemerintahan ini beserta segala sisi dan berbagai kecen derungan yang ada, saya mengenal banyak orang, mengenal retorikanya, dan tahu pe rsis propaganda media massa dunia. Dalam hal ini saya memperoleh kesimpulan yang ringkasnya ialah bahwa AS membuat rancangan multidimensional untuk meruntuhkan pemerintahan republik Islam. Rancangan ini merupakan rekonstruksi dari apa yang terjadi dalam kasus tumbangnya Uni Soviet. AS berpikir untuk menerapkan rancanga n ini di Iran. Inilah yang dikehendaki musuh. Berbagai tanda dan buktinya sekara ng ada dalam benak saya. Bukan hanya tanda, tetapi bahkan terdapat bukti yang me ncolok dalam pernyataan pemerintah AS. Dalam beberapa tahun terakhir, kita bisa membuktikannya dari pernyataan-pernyataan mereka yang terkesan angkuh, arogan, d an adakalanya tidak dipertimbanganya sebelumnya sebagaimana yang pernah m! ereka katakan sendiri dalam suatu wawancara tertentu diamana mereka mengaku telah mem berikan pernyataan yang terburu-buru. Pernyataan-pernyataan mereka itu secara te gas membuktikan bahwa mereka berimajinasi untuk merekonstruksi rancangan dalam p eristiwa tumbangnya Uni Soviet untuk disesuaikan dengan situasi di Iran. Rancang an ini ingin mereka terapkan di Iran. "Dalam beberapa kasus, AS telah tergelincir kepada kesalahan, dan ini tentu berk

at pertolongan Ilahi kepada kita. Dalam situasi genting, musuh-musuh kita terper angkap pada pertimbangan-pertimbangan yang salah. Tetapi, ini bukan berarti mere ka lantas bisa meralatnya ketika saya sebutkan kesalahan-kesalahan itu, sebab ke salahannya terletak pada pemahaman mereka di depan fakta-fakta yang ada. Berdasa rkan kesalahan inilah program yang mereka rangkai, karena itu mereka tidak akan berhasil. Mereka membuat program untuk membela Rezim Pahlevi dengan mengerahkan segenap kekuatanya. Hanya saja, mereka salah dalam memahami berbagai persoalan d i Iran, dalam memahami rakyat, spritualitas, dan agama di Iran. Karena itu merek a selalu kandas dan tetap akan kandas. "Mereka salah dalam beberapa kasus. Pertama, Presiden Khatami tidaklah seperti G orbacev. Kedua, Islam tidaklah seperti komunisme. Kedua, pemerintahan Islam berb asiskan kerakyatan dan bukanlah pemerintahan diktator dan proletariat. Keempat, Iran adalah negara yang utuh sedangkan Uni Soviet terdiri dari wilayah-wilayah y ang berbeda satu dengan lain. Kelima, peranan pemimpin agama dan spiritual di Ir an bukanlah main-main. Kesalahan-kesalahan ini akan saya jelaskan nanti. Saya akan singgung rancangan AS dalam kasus tumbangnya Uni Soviet. Gambaran yang sekarang ada dalam pikiran saya sebagian besar berasal dari catatan yang saya tu lis sejak tahun 1991 tentang berita-berita mengenai kasus Uni Soviet. Dan tentu saja kemudian catatan itu dilengkapi dengan berbagai informasi yang diperoleh pa ra sahabat kami dari berbagai sumber penting, baik orang-orang Rusia maupun oran g-orang non-Rusia. Informasi-informasi itu masuk kepada saya dan melengkapai cat atan saya, tetapi tentu saja sekarang saya tidak bisa menjelaskannya panjang leb ar. Yang jelas ini merupakan peristiwa besar. Ketika kita mengatakan rancangan o rang-orang AS untuk meruntuhkan Uni Soviet, ada tiga poin yang perlu kita utarak an di sisi kalimat orang-orang AS ini. "Poin pertama ialah ketika kita mengatakan rancangan orang-orang AS, ini bukan b erarti negara-negara blok Barat tidak bekerjasama dengan AS dalam masalah ini. B arat dan Eropa gigih bekerjasama dengan AS dalam proyek ini. Sebagai contoh, per anan Jerman, Inggris dan sebagian negara lainnya terlihat sangat mencolok dan se rius dalam kerjasama ini. Poin kedua, tatkala kita menyebut rancangan AS bukan b erarti kita akan mengabaikan faktor-faktor internal yang meruntuhkan Uni Soviet. Sama sekali tidak demikian. Faktor-faktor yang menyebabkan tumbangnya Uni Sovie t juga ada pemerintahan Uni Soviet, dan faktor-faktor inilah yang paling dimanfa atkan oleh musuh-musuh Uni Soviet. Apakah faktor-faktor itu? Faktor-faktor itu i alah kemiskinan yang ekonomi parah, tekanan terhadap rakyat, belenggu yang kuat, buruknya administrasi dan birokrasi. Di samping itu, di sana sini juga terlihat faktor-faktor rasial dan kebangsaan. Poin ketiga, rancangan AS dan Barat in! i bukanlah rancangan militer, melainkan rancangan yang pada tahap awal digarap mel alui publikasi yang sebagian besar berbentuk tabloid, spanduk, koran, film dsb. Dengan memperhitungkan hal ini orang akan melihat bahwa sekitar 50 atau 60 perse n pengaruhnya berasal dari media massa dan sarana-sarana kebudayaan. Saudara-sau dari yang mulia, pertimbangkanlah dengan serius masalah serangan kebudayaan yang pernah saya kemukakan 7 atau 8 tahun silam. Serangan kebudayaan tidaklah main-m ain. Setelah faktor media komunikasi dan propaganda, faktor kedua ialah faktor p olitik dan ekonomi, sedangkan faktor militer sama sekali tidak berperan. "Pada tahun 1995, ketika Gorbacev berada di puncak kekuasaan, dia menampilkan sl ogan Perestroika yang ditempatkan dalam peringkat pertama, dan slogan Glasnost y ang diletakkan dalam peringkat kedua. Perestroika ialah rekonstruksi dan reforma si ekonomi, sedangkan Glasnost ialah reformasi di bidang-bidang sosial seperti k ebebasan berekspresi dsb. Dalam satu dua tahun pertama, Gorbacev diserbu oleh be rbagai pernyataan, analisis, applaus, pengarahan, dan usulan, dan sedemikian ber artinya Gorbacev sehingga lembaga-lembaga pusat di AS menampilkan Gorbacev sebag ai man af the year. Ini terjadi justru di saat Perang Dingin. Sebelum Gorbacev, kalau di Uni Soviet terdapat fakta-fakta yang bagus, niscaya AS akan segera meng ingkarinya, dan bahkan menggempurnya dengan propaganda. Namun kepada Gorbacev ti ba-tiba AS mengambil sikap sedemikian rupa. Rangkulan dan sorakan Barat inilah y ang membuat Gorbacev terkecoh. Saya tidak bisa mengklaim bahwa ! Gorbacev adalah orang yang sudah dibentuk oleh Barat atau instansi-instansi CIA, sebagaimana ya ng diklaim sebagian orang di dunia. Saya sama tidak menemukan adanya tanda-tanda sedemikian rupa, dan saya juga tidak memiliki suatu berita dari balik layar ten

tang ini. Yang jelas, Gorbacev telah tertipu oleh pelukan, pencitraan, penghorma tan, apresiasi, dan applaus Barat kepadanya. Dia terlalu percaya kepada Barat da n AS, tetapi dia tertipu. Dari karya tulisan Gorbacev yang berjudul Perestroika: Revolusi Kedua , orang akan melihat tanda-tanda bahwa dia telah tertipu. "Dalam keadaan sulit yang mencekik Uni Soviet saat itu, slogan-slogan ini membah ana. Sekitar tahun 1980 atau 1981, seperti yang saya tulis dalam catatan-catatan saya, Gorbacev menghapus surat izin perjalanan dari kota ke kota lain di Uni So viet. 73 tahun setelah terbentuknya Uni Soviet, yaitu setelah berakhirnya 30 tah un kStalin, 19 tahun masa kekuasaan Brezhnev dan seterusnya, diantara hal yang d ilakukan Gorbacev dalam kebijakan Glasnost-nya ialah penghapusan kewajiban memba wa surat izin perjalanan tersebut. Dalam kondisi seperti ini bisa Anda lihat bag aimana pengertian pikiran dan rancangan masalah kebebasan berekspresi. Untuk rak yat, betapa mempesonanya ketika Gorbacev bicara soal kebebasan berekspresi. Sepa njang masa Uni Soviet tersebut, koran yang paling penting di seluruh Uni Soviet ialah koran Pravda yang merupakan harian umum, dan sebuah koran lain yang berkai tan dengan kaum remaja. Beberapa koran spesial lain juga ada. Namun, sama ! seka li tidak terlihatnya adanya perkembangan jumlah surat kabar dan buku-buku yang m embahas macam-macam. Seorang penulis yang mengkritik sebagian saja dari dasar-da sar komunisme akan kena cekal dan tidak bisa keluar dari Uni Soviet selama berta hun-tahun. Orang-orang AS tentunya juga sering mempromosikan Gorbachev. Banyak h al yang mereka katakan dan itu saya ingat sejak masa sebelum revolusi Islam Iran . Dalam keadaan sedemikian ini, slogan tersebut dikumandangkan oleh Gorbachev. W alau demikian, mereka juga telah melakukan kesalahan yang tidak ingin saya utara kan sekarang, karena sebagian kesalahan itu akan terlihat dengan sendirinya di s ela-sela pembicaraan ini. "Setelah sekian lama, gelombang propaganda, kebudayaan, dan simbol-simbol Barat seperti model pakaian, restoran Mc Donald dsb yang merupakan simbol-simbol AS, a khirnya menemukan jalan di Uni Soviet. Apa yang saya katakan ini bukanlah pikira n seorang santri yang berada di dalam posisi marginal. Saya sendiri membaca di m ajalah Time dan News Week laporan-laporan tentang maraknya restoran-restoran Mc Donald di Moskow. Ini adalah berita menarik dan merupakan irama pendahuluan untu k masukannya kebudayaan Barat dan AS di Uni Soviet. "Slogan yang dikampanyekan Gorbachev mencapai klimaknya selama dua tahun, tetapi kemudian tiba-tiba seorang tokoh baru bernama Yeltsin muncul di samping Gorbach ev. Peranan Yeltsin sangat determinan dan kuat. Dia mengatakan slogan-slogan ini tidak ada gunanya karena gerakannya lamban sehingga reformasi pun berjalan lamb an. Kalau seandainya ada orang pandai yang menggantikan Gorbachev, mungkin dalam 20 tahun reformasi itu bisa dilaksanakan tanpa ada rasa cemas, sebagaimana yang terjadi di China. Tetapi kesabaran inipun akhirnya hilang dari diri Gorbachev s ehingga dia memecat wakilnya, Yeltsin. Namun, media AS dan Barat tidak mendiskre ditkan Yeltsin tetapi malah mengukuhkannya. Sekitar satu tahun atau lebih, Yalts in dipromosikan Barat dan AS sebagai tokoh reformis terkemuka yang berpikiran ce merlang namun teraniaya. "Salah satu hal yang dilakukan Gorbacev ialah mengatakan bahwa pemilu harus dise lenggarakan. Di negara ini, sejak masa pasca dinasti Tsar, pemilu sama sekali be lum pernah terjadi. Di zaman dinasti Tsar pun, pemilu diselenggarakan persis sep erti pemilu di Iran pada zaman Syah, dan kebetulan sejarah revolusi konstitusi m ereka sama persis dengan sejarah revolusi konstitusi Iran dengan selisih waktu h anya satu tahun. Pada masa dinasti Tsar, majlis permusyawaratan nasional Duma ha nya satu bentuk, persis seperti majlis permusyawaratan nasional Iran pada masa k ekuasaan Rezim Pahlevi. Setelah kaum komunis muncul ke permukaan, majlis permusy awaratan tidak ada lagi, begitu pula halnya dengan pemilu. Kemudian, setelah 73 tahun berlalu, untuk pertama kalinya pemilu diselenggarakan di Republik Rusia, d an bukan di seluruh Uni Soviet. Kandidatnya adalah Yeltsin.Tokoh radikal ini men dapatkan suara terbanyak sehingga sukses menjadi presiden. Dari sini ceri! tanya mulai menarik. Dari tanggal 14 Juni 1991, yaitu saat Yeltsin menjadi presiden h ingga sekitar tanggal 22 hingga 23 Desember 1999, yaitu tanggal dimana Uni Sovie t resmi dinyatakan runtuh, waktu hanya berjalan sekitar 7 bulan. Jadi, beberapa tahun sebelumnya hanya merupakan pendahuluan. Sebagian dari pendahuluan ini dipe gang oleh Gorbachev, dan ketika periode sejarah Gorbachev selesai, segalanya dil

akukan Yeltsin. Pada masa kekuasaan Yeltsin-lah program yang dicanangkan AS dan Barat berjalan cepat. "Begitu Yeltsin menggapai kekuasaan, menjadi presiden Rusia, dan ketika dia menj adi orang nomor dua di Uni Soviet, inovasi ada di tangannya. Pada tanggal 14 Jun i 1991, Yeltsin remi menjadi presiden dan dua hari kemudian yaitu 26 Juni 1991, Presiden AS menyatakan bahwa tiga negara republik di kawasan Baltik yaitu Latvia , Estonia, dan Lithuania bukan lagi milik Uni Soviet, karena itu Uni Soviet haru s membebaskan tiga negara republik ini kemudian mengakui kemerdekaannya. Kalau t idak mengakui kemerdekaan ini, maka AS akan membatalkan bantuan-bantuan yang per nah dijanjikannya. Beberapa lama kemudian, Yeltsin menyatakan pengakuannya atas kemerdekaan tiga negara republik tersebut. Dua bulan kemudian, untuk meningkatka n prestisnya, terjadilan kudeta yang menghebohkan di Uni Soviet, sebuah kudeta y ang sepenuhnya mencurigakan. Lensa televisi AS CNN dan lain sebagainya aktif di Moskow dan terus meneropong Yeltsin. Televisi kita juga menayangkan gambar ! yan g diambil CNN. Kita melihat Yeltsin ada di atas tank dan meneriakkan yel-yel dit engah masyarakat. Dia mengatakan tidak akan menyerah kepada para pelaku kudeta. Yeltsin kemudian mendatangi parlemen, tetapi para pelaku yang bergabung di parle men Duma sama sekali tidak berbuat apa-apa terhadap Yeltsin. Mereka tidak beruru san dengannya, tetapi malah mendatangi dan menangkap Gorbachev yang sedang mengh abiskan hari-hari liburnya di semenanjung Krimea. Yeltsin sendiri tetap meneriak kan slogan-slogannya serta menciptakan berita-berita heboh di dunia. Tetapi bany ak tentunya berita-berita yang tidak merefleksikan fakta yang terjadi. Sejumlah tank muncul di jalan-jalan Moskow, tetapi tiga hari kemudian menghilang. Dikatak an bahwa para pelaku kudeta sudah ditangkap. Hasil peristiwa kudeta ini ialah ba hwa Yeltsin yang tadinya adalah orang kedua akhirnya menjadi orang nomor satu. Negara-negara republik kemudian satu persatu menginginkan kemerdekaan. Ukrania, m isalnya, menyatakan ingin merdeka. Gorbachev menentangnya, tetapi Yeltsin meneri manya sehingga setelah dua atau tiga hari kemudian Gorbachev pun ikut menerimany a. Dengan demikian, benar anggapan bahwa kalau tidak ingin mundur, Gorbachev har us menampilkan dirinya ke depan sambil mempertahankan slogan-slogannya. Atau kal au tidak demikian, maka dia terpaksa harus mengikuti langkah Yeltsin karena prop aganda dunia tidak memberikannya kesempatan untuk mengatakan sesuatu kecuali sep erti yang dikatakan Yeltsin. Peristiwa ini disusul dengan mencuatnya masalah pen yingkiran Gorbacev dari jabatan Sekjen Partai, kemudian usulan pembubaran Partai Komunis, lalu diumumkannya kekandasan komunisme, sebuah peristiwa yang membuat AS sangat terpesona, dan terakhir tersiarnya berita mengenai isu pengunduran dir i Gorbachev. Ketika itu, dalam sebuah wawancara, saat ditanya apakah dia akan ! mengundurkan diri, dia mengatakan: Saya menantikan kedatangan Menlu AS ke Moskow untuk saya lihat apa yang bakal terjadi nanti. Menlu AS kemudian mendatangi Mosko w. Namun, sebelum menghubungi Gorbachev, Menlu AS mengubungi Yeltsin, itupun dil akukan di tempat pertemuan utama Istana Kremlin. Ini menandakan tamatnya riwayat Gorbachev. Tiga hari kemudian Gorbachev mengundurkan dan keluarlah pengumuman b ubarnya Uni Soviet. Inilah rancangan AS yang penuh sukses di Uni Soviet. Sebuah adi daya, dengan sebuah rancangan yang sangat cerdas, dengan mengeluarkan sediki t dana, dengan membeli sebagian orang, dan dengan mengerahkan media propaganda, berhasil menyukseskan sebuah rancangan 3 atau 4 tahun yang hasilnya dituai 6 ata u 7 bulan dan telah menghancurkan segalanya. "AS tentunya masih ingin menjadikan Rusia sebagai Brazil kedua, tetapi itu tidak kesampaian. Mengapa? Sebab Rusia memiliki bangsa yang tangguh dan kuat. Dari se gi etnis, rakyat Rusia adalah rakyat yang tangguh. Kemudian, kemajuan industriny a, senjata nuklirnya, para ilmuannya, penelitian-penelitian, dan semua fasilitas nya layak dipertimbangkan. "Para perancang peristiwa-peristiwa tersebut sebermimpi untuk berbuat sedemikian rupa di Iran. Mereka memang tidak berpikir bahwa kalau RII mengalami nasib sepe rti Uni Soviet, maka Iran akan menjadi negara seperti Rusia. Yang mereka pikirka n ialah menjadikan negara ini seperti pada masa kekuasaan dinasti Pahlevi, yaitu negara yang berada di urutan ke-10 setelah Turki. Sebab mereka tahu bahwa di Ir an tidak ada nuklir dan tidak ada kemajuan ilmu pengetahuan sedemikian rupa. Ira n tidak memiliki penduduk 300 juta. Iran tidak sebesar Rusia yang sampai sekaran g masih terhitung negara terbesar di dunia.

"Namun sekarang, apakah realitas tersebut? Perbedaan antara realitas dan hal-hal yang mereka rencanakan seperti perbedaan antara bumi dan langit. Mereka telah b erbuat kesalahan besar. Saya benar-benar tidak rela dan tak akan pernah bersedia memaparkan nama Khatami kita tercinta-seorang sayyid keturunan Rasul yang mulia dan mukmin, mencintai ajaran-ajaran agama, mencintai Imam, dan pelajaran agama seperti kita semua - sebagaimana yang dilakukan oleh Barat dalam membandingkan b eliau dengan Gorbachev. Akan tetapi mereka membandingkannya dan dengan tegas ber kata bahwa di Iran pun telah muncul seorang Gorbachev. Tentu saja tak boleh kita lupakan bahwa sayangnya sejumlah orang di dalam negeri merasa senang dengan per bandingan tersebut. Mereka tidak menyadari bahwa itu adalah penghinaan. Dan lebi h lagi, mereka tidak menyadari konspirasi yang tersembunyi di balik penghinaan t ersebut. Saat ini saya tidak berurusan dengan para penyimpan niat jahat dan mere ka! yang memahami apa yang tengah berlangsung dan apa yang mereka inginkan agar terjadi. Namun ada sejumlah orang yang sebetulnya bukan penyimpan niat jahat, te tapi mereka tidak menyadari apa yang terjadi dan apa yang akan dilakukan oleh mu suh. "Perbedaan pertama ialah perbedaan antara presiden kita dengan Gorbachev. Gorbac hev adalah seorang cendikiawan yang kemungkinan besar bahkan tidak begitu meyaki ni dasar-dasar Marksisme. Seorang yang sama sekali tidak menerima struktur Uni S oviet. Dia sendiri mengatakan hal itu dengan berbagai bahasa. Tentu saja pada sa at masih berkuasa, ia tidak dapat menyatakan hal tersebut dengan tegas. Namun pa da akhirnya ia mengetahuinya juga setelah itu. Ia amat cenderung ke Barat. Katakata yang ia ucapkan adalah kata-kata orang Barat. Hanya saja ia mengucapkannya dengan bahasa Rusia. Sedangkan presiden kita, menganggap Republik Islam adalah a gama dan keyakinan hatinya. Imam adalah kecintaan dan teladannya. Ia adalah seor ang ruhaniawan. Pada mulanya mereka (para musuh) di dalam mimpi-mimpi indah mere ka, mengucapkan banyak hal. Sampai sekarang pun, pejabat politik tertinggi denga n dan yang paling mengganggu di antara mereka, masih saja mengatakan hal-! hal t ersebut. Namun sebagian mereka, sejak dua tahun terakhir, merasa ketakutan dan b erkali-kali di dalam propaganda mereka berkata: Tidak, yang ini pun (Khatami) sa ma saja dengan mereka. Ia pun bagian dari para fundamentalis. Kebetulan mereka be nar dalam hal ini. "Perbedaan kedua ialah bahwa Islam bukan Marsisme. Marksisme tidak diterima oleh rakyat Uni Soviet. Memang komunisme adalah agama partai komu nis Uni Soviet. Partai Komunis Uni Soviet terdiri dari beberapa juta anggota, ya ng berhadapan dengan hampir 300 juta penduduk Uni Soviet. Mungkin sekitar 10 jut a atau 12 juta orang anggota partai Komunis Uni Soviet. Anggota partai Komunis s elalu menikmati berbagai fasilitas istimewa. Oleh sebab itu bisa diperkirakan ba hwa diantara sejumlah orang ini, hal yang pada tingkat pertama, penting bagi mer eka ialah fasilitas-fasilitas tersebut. Jadi, Marksisme bukan penentu yang berpe ran sebagai agama bagi mereka. Islam adalah agama rakyat, cinta rakya dan dan Im an rakyat. Islam ialah seruan dimana bangsa Iran yang besar ini mengirimkan oran g-orang yang mereka cintai, bagian tubuh dan belahan hati mereka ke medan perang demi membelanya. Dan ketika jasad mereka yang berlumuran darah kembali, mereka bersyukur kepada Allah. Apakah beliau tidak pernah melihat ayah dan ibu yang sep erti ini? Setiap kita mungkin pernah melihat ratusan kasus semacam ini. Hari ini pun ketika ayah dan ibu empat syahid datang ke tempat kami, kalaupun mereka men geluhkan beberapa hal yang mereka hadapi, namun mereka merasa gembira bahwa putr a-putra mereka syahid di atas jalan Islam. Bangsa ini dengan segala wujudnya, se tia terhadap Islam. Setelah 50 tahun usaha penghapusan agama, sebuah bangsa mela kukan suatu gerakan besar (revolusi Islam) di belakang Imam yang mulia, alim aga ma dan panutan mereka, menegakkan pemerintahan Islam ini. Islam ialah suatu agam a dimana ketika nama dan benderanya telah berkibar di Iran, maka dimanapun seora ng Muslim yang tahu dan sadar akan merasakan memiliki identitas dan keperibadian serta kemuliaan. Mereka menyamakan ini dengan Marksisime?!?! .................. ..... artinya: Syukur dan segala puji bagi Allah yang telah menjadikan musuh-mus uh kita orang-orang yang bodoh. "Yang ketiga ialah pemerintahan Islam bukan pemerintahan komunis. Pemerintahan I slam, pemerintahan yang masih segar, fleksibel, aktif dan merakyat. Suatu ketika saya pernah katakan kepada Khatami bahwa tak ada satu pun pemerintahan di dunia , bahkan negara-negara demokrasi Barat, di AS, di Perancis dsb - yang dapat meng

aku sebagai pemerintahan rakyat seperti pemerintahan kita. Karena di negara-nega ra demokrasi Barat sejumlah orang pergi ke kotak-kotak suara dan memberikan suar a mereka. Umpamanya, sebuah partai berkata kepada Zaid bin Amr, berilah suara. I apun, begitu kertas suaranya sudah ia masukkan ke kotak suara, habislah perkara. Para pemilihpun, kadang kala mencapai 37 persen dari para pemilik syarat pilih. Umpamanya di dalam pemilihan terakhir di AS, sekitar 37 persen para pemilih, da n tidak pernah lebih daripada itu. Tidak pernah mencapai 67 persen dan 70 persen sebagaimana kalian lihat di dalam pemilihan presiden dan parlemen. Baik parl! e men ke 5 maupun ke 6. Akan tetapi di Iran tidak seperti itu. Disini rakyat menci ntai para pejabat. Hubungan diantara mereka adalah hubungan cinta kasih. Bukan s ekedar hubungan pemberian suara. "Di sepanjang 70 dan beberapa tahun pemerintahan Uni Soviet, sampai sebelum pemi lihan Rusia akhir-akhir ini, satu pun pemilihan umum tak terjadi. Tetapi kita se lama 21 tahun, telah melaksanakan 21 kali pemilihan. Apakah keduanya dapat diban dingkan? Di sana, kehidupan para anggota tingkat proletariat adalah kehidupan Is tana Kremlin. Akan tetapi di sini, kita duduk di atas karpet. Dan kita berbangga dengan itu. Di sini, para pejabat negara - mereka yang mampu - tekad dan kebang gaan mereka ialah bahwa mereka selalu mendekatkan diri kepada kehidupan rakyat. Di dalam pemerintahan Uni Soviet, ketika Stalin berkuasa, selama dia belum mati, tak ada satupun jalan lain untuk mengabadi kediktatorannya. 30 tahun ia berkuas a, sampai pada akhirnya, oleh karena suatu peristiwa atau tanpa peristiwa, atau karena meminum minuman keras Rusia, ia meninggal. Kemudian taruhlah, Khruschev d atang. Setelah itu Breznev pun berkuasa. Setelah 18 atau 19 tahun memerint! ah, Breznev pun meninggal, dan orang lain datang berkuasa. Pemerintahan ini, dengan pemerintahan RII yang berdiri di atas pemilihan-pemilihan dan pendapat rakyat, d an setiap 4 tahun mengadakan pemilihan sekali untuk parlemen dan untuk presiden, sangat berbeda. "Di tingkat kepemimpinan tertinggi (rahbari)-nya pun lebih tinggi daripada merek a, karena kepemimpinan tertinggi di Iran adalah kepemimpinan maknawi yang memili ki komitmen maknawi. Para ahli yang duduk di Dewan Kepemimpinan serta rakyat ber harap darinya agar tidak melakukan satu pun perbuatan dosa. Jika dia berbuat dos a, maka tanpa perlu dijatuhkan dia sudah terjatuh dengan sendirinya. Kata-katany a tidak lagi bersifat hujjah baik berkenaan dengan dirinya maupun rakyat. Pemeri ntahan yang sedemikian fleksibel, hidup, aktif, dan berkembang, dapatkan diperba ndingkan dengan pemerintahan yang tertutup, kaku, diktator, dan proletariat? "Kekeliruan mereka berikutnya berkenaan dengan negara kita, Iran adalah negara y ang satu. Bahkan bagian-bagian tertentu yang pada beberapa abad silam telah terp isah dIran, jika ditanya lubuk hati mereka, mereka ingin bergabung dengan kita. Hati mereka ingin bersatu dengan induk mereka. Ini dimana dan Uni Soviet dimana? Sepuluh atau sebelas negara disatukan dengan peniti atau dengan cambuk. Lalu dika takan semua itu sebagai satu negara. Maka jelas sekali, setelah cambuk tak lagi berperan, pecahlah mereka...." "Tentu terdapat sejumlah orang berusaha memperkecil peranan penting faktor persa tuan bangsa Iran yang kokoh, yaitu iman Islami. Akan tetapi mereka tidak akan ma mpu, karena negara dan bangsa Iran adalah satu padu. Memang, keterpaduan ini ada lah karena sejarah, geografi, adat istiadat, dan kebudayaan. Namun yang terpokok ialah karena agama dan masalah kepemimpinan yang telah menyatukan bagian-bagian bangsa ini, dan semuanya merasakan keterpaduan ini. "Pemimpin tertinggi memilik i tanggungjawab. Tanggungjawab pemimpin ialah menjaga pemerintahan dan revolusi. Pengelolaan negara berada di atas pundak kalian, saudara-saudara para pejabat. Setiap kali mengelola negara ini di tempatnya masing-masing. Sedangkan tugas uta ma pemimpin ialah mengawasi agar jangan sampai terjadi ketidak harmonisan di dal am bagian-bagian yang ada sehingga tidak akan muncul ancaman bagi pemerintahan, Islam, dan revolusi. Dimana pun ketidak harmonisan ini muncul, disitulah kehadir an pemimpin. Kepemimpinan ini bukan pribadi tertentu, bukan seorang manusia, seo rang santri, seorang Ali Khamenei, ribuan Ali Khamenei lain. Bukan demikian. Kep emimpinan ini adalah sebuah topik, kepribadian, sebuah hakikat yang bersumber ke pada iman, cinta, dan semangat rakyat. Ia adalah sebuah kehormatan. Ratusan oran g seperti Ali Khamenei telah mengorbankan jiwa dan kehormatannya di atas jalan h akikat ini. Saya ini tidak berarti apa-apa. Imam kita yang mulia pun (Imam Khoma

ini) yang merupakan pemimpin setiap hati bagi bangsa ini dalam arti yang sebenarn ya- juga demikian. Beliau pun bersedia mengerahkan kemuliaannya demi mempertahan kan pemerintahan dan kepemimpinan pemerintahan ini. "Saya meyakini bahwa reformasi adalah sebuah realitas yang urgen dan mesti dilak sanakan di negara kita. Reformasi di negara kita dilakukan bukanlah karena fakto r keharusan untuk membebani seorang pejabat tertentu dengan tuntutan-tuntutan ya ng keras supaya melakukan reformasi dalam segala bidang.Bukan demikian. Reformas i adalah bagian dari esensi revolusi dan keagamaan sistem pemerintahan kita. Kal au reformasi tidak dilakukan untuk melakukan pembaharuan demi pembaharuan, pemer intahan kita akan rusak dan berjalan tanpa arah. Reformasi adalah sebuah kewajib an. Adapun dimanakah sasaran-sasaran reformasi, ini adalah pembahasan lain. Refo rmasi pada prinsipnya adalah sebuah pekerjaan yang wajib dilaksanakan. Kalau ref ormasi tidak dilakukan, niscaya kita terbentur pada hasil-hasil yang sebagian sa ngat menyulitkan kita seperti yang ada sekarang. Harta negara akan terbagi secar a tidak adil, orang-orang yang baru menjamah harta kekayaan di sana sini akan me ndominasi sistem ekonomi masyarakat tanpa belas kasih, kemiskinan akan merajalel a, kehidupan akan sulit, sumber-sumber kekayaan negara akan digunakan secara tid ak benar, akal budi akan kabur, dan pikiran yang masih tersisa tidak bisa diguna kan secara maksimal. Namun, jika reformasi dilaksanakan, maka puluhan malapetaka seperti ini tidak akan muncul. Dengan demikian, masalah pertama ialah bawa refo rmasi adalah suatu keharusan. Masalah kedua ialah keharusan untuk menentukan def inisi reformasi yang jelas untuk kita dan masyarakat agar kita bisa dengan mudah memberikan gambaran tentang tujuan akhir reformasi yang hendak kita capai dan a gar semua orang tahu manakah tujuan yang akan mereka gapai." "Gorbachev mengetahui adanya berbagai kecacatan dan problematika, tetapi masalah nya dia tidak memiliki konsep yang jelas tentang apa apa yang harus dia lakukan, dan kalau toh dia memilikinya masyarakat tidak mengetahui konsep itu. Atas dasa r ini, kalau reformasi tidak diberi definisi yang jelas, niscaya model-model lai n yang dipaksakan kepada kita akan dominan, persis seperti yang terjadi di Uni S oviet karena mereka (masyarakat Uni Soviet) tidak tahu apa yang harus mereka ker jakan sehingga mereka mencontoh model-model di Barat secara membuta. Pemimpin ag ung kita (Imam Khomaini), dengan kepiawaiannya telah menemukan titik-titik kelem ahan ini pada mereka. Karena itu dalam suratnya kepada Gorbachev, Imam Khomaini telah mengingatkan masalah ini. Beliau menuliskan, Jika Anda ingin menyelesaikan kesulitan ekonomi sosialisme dan komunisme dengan cara berlindung kepada pedoman kapitalisme Barat, maka penderitaan masyarakat Anda bukan hanya tidak akan ter! obati, tetapi bahkan akan datang orang-orang lain untuk menebus kesalahan Anda. Sebab sekarang ini, kendati marxisme memang membentur kebuntuan dalam sistem-si stem ekonomi dan sosialnya, namun dunia Barat juga membentur keadaan yang sama t etapi dalam bentuk yang lain. Karena inilah saya berkali-kali mengatakan bahwa Im am Khomaini adalah seorang filsuf yang hakiki. Di saat hiruk pikuk media massa d unia sedang berlangsung, Imam Khomaini telah memperlihatkan titik prinsipal ters ebut. Sekarang ini, sebagian pejabat, terutama Presiden kita yang terhormat, sud ah berkali-kali menegaskan bahwa reformasi kita adalah reformasi yang Islami dan sesuai dengan nilai-nilai revolusi, dan tujuan kita ialah mencapai madinatunnab i." "Masalah ketiga ialah reformasi harus dikemudikan oleh satu pusat yang kokoh dan sabar agar keadaan bisa dikontrol. Betapa banyak pekerjaan yang sebenarnya bisa dilakukan dengan baik dan aman dalam kurun waktu 10 tahun, tetapi jika dilakuka n dalam masa 2 tahun malah akan menghasilkan berbagai kerusakan yang tidak bisa diperbaiki. Ibarat kendaraan yang dikebut di jalanan yang sulit dan berbahaya, a neh jika kendaraan ini tidak menabrak atau mengalami kecelakaan. Jadi harus ada sentral yang brialian, kuat, dan sabar agar gerakan yang hendak dilakukan tidak sampai melebihi batas kecepatan, dan agar semua pekerjaan bisa dilaksanakan deng an pertimbangan yang benar. Di Uni Soviet, ketika pekerjaan ini mulai dilakukan, terbukalah pintu-pintu perfilman, buku-buku, surat-surat kabar, mode-mode pakai an, dan model-model Barat lainya. Keadaan sedemikian ini sangat membahayakan." "Kemudian Anda perlu memperhatikan peranan media massa. Media massa memiliki tan ggungjawab. Media massa memiliki peranan vital. Pembahasan tentang surat kabar d an pers bukanlah pembahasan tentang kebebasan. Sebagian orang tidak menghendaki

adanya makna kebebasan untuk kita. Namun kita tahu arti kebebasan. Jantung kita sendiri juga berdetak untuk kebebasan. Yang dimaksud dengan kebebasan tentunya i alah kebebasan berekspresi dan berpikir. Toh demikian, jika Anda, sesuai dengan tugas Anda, menutup sebuah toko yang memperdagangkan barang-barang selundupan, maka si pemilik toko tidak berhak mengatakan bahwa Anda menentang kebebasan untu k bekerja dan mencari penghasilan. Duduk persoalannya bukanlah kebebasan bekerja dan mencari penghasilan. Bekerja dan mencari penghasilan memang bebas, tetapi y ang dilarang ialah penjualan barang selundupan. Jadi duduk persoalan bukanlah ke bebasan berpendapat dan berpikir. Berpendapat dan berpikir memang bebas! , tetap i yang dilarang ialah tindakan meracuni dan menyesatkan pikiran orang lain, apal agi di saat situasi negara sedang sensitif seperti sekarang ini. Saya sudah berk ali-kali mengatakan kepada para pejabat urusan propaganda negara, di saat Anda m emiliki kemampuan dan kekuatan untuk melawan serangan propaganda musuh, maka ora ng yang paling banyak terjun di bidang pengembangan pers, surat kabar, buku, fil m, dan lain sebagainya adalah saya sendiri. Tapi coba Anda katakan, sudah berapa filmkah yang Anda produksi untuk mengimbangi film-film yang menggoyang dasar-da sar kebudayaan, keyakinan, agama, spirit revolusi, dan semangat pengorbanan dan syahadah masyarakat. Inilah yang membuat saya merasakan adanya bahaya. Kita tent unya harus berpikir mengenai pekerjaaan prinsipal dan jangka panjang kita untuk memproduksi apa yang membawa kebaikan. Tetapi, hingga kebaikan itu datang, saya tidak bismenerima datangnya banjir lumpur kotor yang akan menenggelamkan para pe muda, kaum rema! ja, dan berbagai lapisan masyarakat. Orang-orang yang mendapat sorakan dan dididik oleh musuh menggunakan segala cara untuk menghadapi ideologi revolusi Islam, dan kalau seseorang yang menentang mereka, maka orang itu akan segera dituding dan difitnah. Mereka katakan bahwa di sini tidak ada kebebasan, tidak ada logika, dan tidak ada birokrasi negara. Anda harus memperhatikan peran an media massa. Ini sangat penting. "Masalah keempat ialah tentang pemeliharaan struktur UUD di bidang reformasi. Da lam UUD, yang paling ditekankan ialah peranan Islam dan keharusan Islam untuk di jadikan sumber dan pedoman bagi UU, pembentukan struktur, dan penentuan pilihan. Struktur UUD harus dipelihara secara cermat.Coba Anda perhatikan bagaimana musuh memperlakukan UUD kita. Mereka menolak bagian dari konstitusi kita dan menerima bagian lainnya. Di satu waktu mereka berpegangan kepada konstitusi kita, tetapi di lain saat mereka mengutuk konstitusi kita. UUD adalah sumpah agung nasional, keagamaan, dan revolusi kita. Islam yang merupakan segalanya bagi kita mengkris tal dalam UUD dasar kita. Pasal keempat UUD kita telah menentukan segala sesuatu . Kalau dalam UU biasa dan bahkan dalam bagian lain dalam UUD sendiri terdapat. Tradisi Tasyayyu Betapa banyak kenikmatan yang telah Allah limpahkan kepada kita sehingga kita ti dak akan mampu menghitungnya. Dan setiap kenikmatan harus disyukuri sesuai denga n bentuk dan kadar kenikmatan itu. Semakin besar dan berarti sebuah kenikmatan, maka semakin besar tanggung jawab kita untuk mensyukurinya. Dari sekian banyakny a kenikmatan Allah, kenikmatan yang paling besar adalah kita diperkenalkan olehN ya pribadi Nabi saww dan Ahlul baitnya, sehingga kita, karena karunia Allah, men genal mereka dan berusaha untuk mengikuti mereka. Pada akhir surat al Takaatsur, disebutkan bahwa manusia kelak akan dimintai pertanggung jawabannya atas kenikm atan-kenikamatan yang telah Allah berikan kepadanya, Kemudian kalian benar-benar akan dimintai pertanggungan jawaban pada hari itu ten tang kenikmatan (naii m) . Salah satu bentuk kenikmatan dari Allah yang besar dan sekaligus akan dipertanya kan oleh-Nya kepada kita adalah kecintaan kepada Rasulullah Saww. dan Ahlul bait nya. Dalam tafsir al Mizan dikutip sebuah riwayat dari Abu Abdillah as. Beliau b erkata, Umat ini akan dipertanyakan tentang apa yang telah Allah berikan kepada mereka berupa kehadiran Rasul-Nya dan Ahlil baitnya . Kehadiran Nabi dan keluarganya yang suci merupakan karunia Allah yang paling bes ar. Untuk itu, tugas umat manusia adalah memelihara dan menjaga karunia ini deng

an sebaik mungkin. Memelihara dan menjaga karunia ini dengan mengikuti ajaran-aj aran mereka, mengikatkan diri dan meleburkan segenap wujud kita ke dalam wujud m ereka. Tanpa itu, kita belum menjaga dan memelihara kenikmatan yang besar itu. S alah satu bentuk pengikatan dan peleburan diri dengan Nabi dan Ahlul baitnya ial ah memahami dan melibatkan diri dalam tradisi para pecinta dan pengikut Ahlul ba it yang sudah berjalan puluhan atau ratusan tahun. Sebelum kami jelaskan beberapa bentuk tradisi para pengikut Ahlul bait as., ada sebuah pengantar yang perlu diketahui, yaitu bahwa ketika seseorang secara konsi sten mengikuti sebuah agama atau sebuah aliran, maka semua ajaran agama yang ia lakukan menjadi sebuah tradisi dan kebiasaan baginya. Demikian pula sebuah komun itas dari sebuah agama akan mempunyai tradisi keagamaan yang sama. Kita sebagai pencinta Ahlul Bait berusaha untuk terus mengikuti mereka. Kita tidak ingin kelu ar dari pesan-pesan Ahlul Bait a.s. Ajaran-ajaran Ahlul bait ini jika kita jalan kan terus menerus maka dengan sendirinya akan mengkristal dan menjadi sebuah tra disi. Setiap agama, aliran dan mazhab mempunyai tradisi tersendiri. Kita juga mempunya i tradisi Ahlul Bait, tradisi tasyayyu . Kita tidak bicara apa dasar dari tradisi ini. Bisa saja dasarnya adalah ayat Qur an atau hadis Nabi dan para Imam ma shum ata u, boleh jadi, keterangan para ulama. Yang penting segala perbuatan yang kita ke rjakan apapun dasarnya, selagi tidak melanggar dan menyimpang dari prinsip-prins ip agama, maka menjadi sebuah tradisi. Kita sebagai komunitas tasyayyu , pecinta Ahlul Bait as.yang baru dan masih muda, harus berjalan menuju sebuah tradisi tasyayyu , agar kita tidak terpisah dari komu nitas Syi ah lainnya yang ada di pelbagai belahan dunia. Banyak tradisi tasyayyu ya ng harus kita kembangkan dan kita pertahankan. Memang usia tasyayyu kita belum tu a. Kita dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan tradisi yang non tasyayyu , kem udian kita pindah ke tasyayyu , sehingga banyak dari tradisi ke-syi ah-an yang belum kita jalankan, bahkan belum kita ketahui. Kita belum akrab dengan tradisi tasya yyu . Kita semua ini mempunyai latar belakang tradisi keagamaan yang berbeda-beda. Di antara kita ada yang mempunyai latar belakang dari golongan yang begitu konsern dengan Qur an dan Sunnah. Mereka mempunyai tradisi, setiap kali menerima informasi tentang ajaran agama maka mereka mempertanyakan apa dalilnya dari Qur an atau had is. Golongan ini biasanya diwakili oleh Persis. Mereka mempunyai tradisi ketika mendapatkan sebuah informasi keagamaan, maka akan bertanya apa dalilnya, apa Had isnya. Apapun informasi keagamaan yang mereka terima maka dia secara spontanitas menanyakan apa dasarnya, apa dalilnya. Ini tradisi kaum Persis. Dari kita juga ada yang berasal dari kelompok haroqiyyin. Mereka mempunyai tradi si misalnya bai at. Ketika dia bergabung dengan sebuah kelompok tertentu, maka dia akan bertanya, Siapa imam kita ?, Bagaimana berbai at dengannya ? Berapa infaq ya ng harus diberikan ?. Ini adalah tradisi sejumlah golongan dari kaum muslimin, y ang sebagian dari mereka masuk ke tasyayyu . Ada juga dari kita yang sebelum ke tasyayyu termasuk ke dalam kaum tradisionalis , seperti NU atau Habaib yang mempunyai tradisi tersendiri. Jadi kita ini adalah komunitas yang heterogen dan berasal dari berbagai latar belakang yang berbedabeda., Kita sekarang kumpul dalam sebuah komunitas yang baru, wadah yang baru ya itu Syi ah. Kita sebagai pengikut Ahlul bait mempunyai tradisi tersendiri yang tidak sama de ngan tradisi-tradisi di luar tasyayyu . Seringkali dari kita membawa tradisi lama ke dalam tradisi tasyayyu , sehingga terjadi benturan-benturan dan ketidak sesuaia n - ketidak sesuaian antara perbuatan kita dengan tradisi tasyayyu yang benar. Se mua ini harus dihilangkan. Kita harus berjalan dengan bahtera Nuh dan meninggalk an tradisi-tradisi di luar tasyayyu dan masuk ke dalam tradisi yang baru. Tradisi

tasyayyu sudah bertahan puluhan tahun, malah ratusan tahun yang diwariskan oleh para ulama Ahlul Bait a.s. Tradisi tasyayyu terkadang berdasarkan pada al Qur an da n sunnah nabi dan ahlul bait, dan terkadang berdasarkan pada sirah uqalaiyyah dan sirah mutasyarri ah. Salah satu contoh dari tradisi yang bertahan di kalangan tasyayyu adalah masalah marjai yah dan taqlid. Dalam tradisi tasyayyu , seseorang ketika ingin mengikuti aja ran Ahlul Bait, maka terbentang baginya dua pilihan- sebenarnya tiga pilihan, ta pi di sini dijelaskan dua saja-, ijtihad atau taqlid, dan tidak ada pilihan lain . Tradisi ini tentu bertentangan dengan tradisi sejumlah kaum muslimin yang meng haruskan setiap individu untuk berijtihad, atau minimal ber-ittiba . Tradisi ini b ertentangan seratus delapan puluh derajat dengan tradisi tasyayyu yang mengharusk an taqlid bagi sejumlah orang. Taqlid artinya menerima fatwa dari seorang ulama tanpa harus bertanya, Apa dasar fatwanya ?. Bertaqlid termasuk tradisi tasyayyu . Dalam hal ini, tidak akan dijelaskan apa dasar taqlid itu. Dasar taqlid bisa dia mbil ayat Qur an atau hadis atau sirah uqalaiyyah. Contoh lain dari tradisi tasyayyu adalah dalam hal memilih marja ,atau mengetahui seseorang itu mujtahid atau bukan mujtahid. Imam Mahdi a.s. mengatakan, Adapun d alam menghadapi masalah-masalah kontemporer yang bermunculan setelah kegahibanku , maka kembalikanlah kepada para perawi hadis kami. Maksud dari para perawi di sini adalah para ulama faqih. Namun, seseorang itu di katakan faqih bagaimana ? atau kapan seorang itu dianggap telah manjadi faqih ?. Dalam tradisi tasyayyu sekarang ini, seseorang ketika ingin menjadi mujtahid me sti belajar beberapa tahun. Dalam tempo itu, dia harus menyelesaikan sejumlah ki tab fiqih dan ushul fiqih tertentu, dari kitab yang paling rendah, menengah samp ai yang paling pelik sekali. Apa dasar dari ketentuan ini ? Apakah ada hadis dar i Imam ma shum yang menentukan kitab yang harus diselesaikan ?. Tentu tidak ada da sar tektual dari hadis, apalagi ayat Qur an. Yang penting kata Imam Mahdi a.s., ba hwa ketika aku gaib tanyalah segala permasalahan keagamaan kepada para ulama faq ih yang menguasai hadis-hadis kami. Para ulama faqih ini disebut pula mujtahid. Tetapi itu menjadi bagian dari tradisi tasyayyu yang sudah berjalan puluhan tahun . Juga misalnya, dalam memilih marja , ada kode etiknya yang sudah menjadi tradisi. Yaitu dengan tiga cara, seperti yang disebutkan oleh Imam Khomeini dalam Tahrir al wasilah. Pertama, kita menguji seorang mujtahid itu ,apakah dia itu a lam atau tidak a lam. Kedua, dengan kesaksian dua orang mujtahid yang adil. Ketiga, dengan berita yang terseber. Ini adalah tradisi dalam memilih mujtahid untuk dijadikan marja . Tradisi ini berlaku sudah sejak puluhan tahun. Orang Syi ah mesti paham masa lah ini, masalah Taqlid dan marja iyyah. Tidak sembarangan dia mengikuti sebuah ha dis secara langsung dari kitabnya. Misalnya , ada sebuah buku yang berjudul Fiqi h Lima Mazhab karangan Allamah Jawad Mugniyah. Ada seorang dari kita setelah tas yayyu, mengikuti fiqih yang tercantum dalam kitab Fiqih Lima Mazhab itu. Jelas h al demikian menyalahi tradisi tasyayyu , dan ibadahnya tidak sah. Atau mengikuti f atwa yang tercantum dalam kitab Fiqih Jafari. Cara ini juga menyalahi tradisi ta syayu. Jadi ada kode etik untuk bertasyayu, tidak sembarangan. Tasyayyu mempunyai tradis i yang baku, dan tidak bisa dilanggar begitu saja. Ini yang harus kita pahami de ngan baik. Banyak dari kita yang tidak memahami hal demikian. Itu wajar, karena latar belakang kita yang berbeda. Tapi insya Allah, dengan perjalanan waktu trad isi tasyayyu akan makin kita pahami dengan baik dan akan kita jalankan seperti p endahulu kita dari para pencinta Ahlul Bait a.s. Jadi tradisi taqlid dan marjai yy ah adalah tradisi yang bertahan sudah lama puluhan tahun. Untuk merobah tradisi ini, itu tidak mudah dan jangan sembarangan. Tidak dengan mudah, seseorang merobah tradisi tasyayyu , kecuali orang itu mempunyai kapasitas ilmu yang cukup dan diakui. Saya contohkan, dalam tradisi tasyayyu proses untuk

menjadi mujtahid mengalami perobahan-perobahan. Misalnya beberapa tahun yang lal ui, seseorang ketika hendak menjadi mujtahid, maka disamping menguasai bahasa Ar ab dan logika dengan baik, dia harus belajar kitab Ushul fiqih yang paling seder hana, yaitu kitab Maa limuddin, kemudian Al Rosaail. Setelah itu, masuk bahtsul kh orij (belajar tentang tata cara, sekaligus praktek, mengambil hukum dari sumbersumbernya bersama seorang mujtahid atau marja ). Kemudian proses ini, mangalami pe rubahan. Yaitu, setelah mempelajari kitab Maalimuddin tidak bisa langsung ke al Rosail, dia harus membaca kitab al Kifayah dulu. Kemudian pada masa Syech Al Mudofar ada tambahan, yaitu membaca kitab Ushul fiqi h al Mudhoffar setelah kitab Maalimuddin dan sebelum kitab al Kifayah. Yang mero bah ini adalah para ulama yang diakui keilmuannya oleh ulama lainnya. Yang terkini, adalah Ayatullah Muhammad Baqir Shadr yang merombak kitab-kitab Us hul fiqih tersebut dan menggantikannya dengan kitab yang beliau tulis, yaitu kit ab al Halaqoot al Tsalaats. Menurutnya, untuk menjadi mujtahid tidak usah membac a kitab Maalimuddin yang merupakan kitab kuning yang lama, yang tidak relevan de ngan kondisi sekarangi, juga kitab-kitab Ushul fiqih lainnya. Tetapi cukup denga n kitab tulisannya tersebut lalu baranjak ke Bahtsul khorij. Ini adalah terobosa n dari Baqir Sadr yang merombak tradisi tasyayyu untuk mewujudkan mujtahid. Orang semacam beliau, memang, mempunyai kelayakan dan kompetensi untuk melakukan hal itu. Meskipun juga ada yang kontra terhadap terobosan Baqir Sadr itu,. Namun, ya ng kontra pun mengakui kehebatan beliau. Jadi untuk merobah tradisi ketasyayuan tidak sembarangan. Tidak bisa seseorang b ertaqlid kepada seorang marja Fulan, misalnya, dengan alasan fatwa-fatwa marja itu kontroversial dan berani. Atau mengatakan, saya berpindah kepada mujtahid fulan karena ada kesamaan selera. Berpindah kepada seorang marja hanya karena alasan s eperti itu menyalahi tradisi tasyayyu , dan juga tidak dibanarkan. Atau malah menentukan seorang mujtahid karena dia orang alim dan banyak karya-ka ryanya. Menentukan Fulan itu mujtahid atau bukan mujtahid bukan karena banyak ka rya-karyanya. Sebenarnya, untuk menentukan seseorang itu mujtahid atau bukan muj tahid bukan tugas kita. Kita tidak mempunyai kapasitas atau kompetensi untuk men ilai seorang itu mujtahid atau bukan mujtahid. Itu tugas para mujtahid yang lain . Dalam tradisi tasyayyu ada caranya. Tidak hanya karena dia pakai sorban atau ba nyak karyanya, maka dia mujtahid, atau karena fatwa seorang mujtahid itu beran d an sesuai dengan selera saya, maka saya bertaqlid kepadanya. Itu jelas menyalahi tradisi tasyayyu . Ayatullah Baqir Shadr yang demikian jeniusnyapun ditentang oleh banyak orang. Pa dahal dia mujtahid pada usia 21 tahun. Untuk merobah tradisi yang sudah baku, te lah berjalan bertahun-tahun, tidak bisa dirobah begitu saja. Ini yang perlu dipa hami oleh kita, bahwa kita dalam bertasyayu mempunyai tradisi ketasyayuan yang h arus dijaga dengan baik. Semua manusia, khususnya kaum muslimin meyakini wujudnya Allah swt., tetapi peng etahuan atau ma rifah mereka tentang-Nya benar atau tidak, wallahu alam. Pengetahu an tentang Tuhan yang belum benar bukan fondasi pertama dari agama. Fondasi pert ama agama adalah ma rifatullah yang benar. Itulah yang dimaksud oleh Allah SWT, ba hwa seseorang yang berma rifah dengan benar sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ali as adalah caraya untuk mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT. Jadi dengan tiga perkara manusia akan mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT. Yang mulia di sisi Allah adalah orang yang bertakwa, berjihad dan berma rifah kepada A llah SWT. Tanpa tiga ini maka seseorang tidak mungkin mendapatkan kemuliaan dan kehormatan dari Allah SWT. Kemudian sepanjang sejarah manusia dari Nabi Adam as sampai hari ini dan hari-ha ri yang akan datang terus sampai hari kiamat, pasti ada setiap zaman manusia-man

usia yang mulia di sisi Allah SWT. Dalam sebuah ungkapannya yang indah sekali Im am Ali as mengatakan, Senantiasa Allah SWT mempunyai manusia-manusia yang mana Al lah membisikkan kepada mereka dengan bisikan-bisikanNya. . Allah Maha Bijaksana da n Maha Adil memberikan kesempatan kepada seluruh manusia untuk meraih kemuliaan Illahi. Tidak hanya untuk satu generasi manusia saja. Tidak hanya untuk orang-or ang yang hidup pada zaman Nabi saja. Selain para Nabi as. dan Imam Ahlulbait a.s. yang telah memperoleh kemuliaan dan kehormatan di sisi Allah SWT, juga sejumlah wanita, dan kita sekarang mempering ati hari kelahiran dan wafatnya Sayyidah Fathimah Az-Zahra as, yang telah mendapa tkan hal yang sama atau hampir sama dengan mereka. Dalam Qur an, Allah menjelaskan kepada kita dua sosok wanita yang tinggi kedudukannya di sisi Allah SWT.; Sayyi dah Asiyah, istri Fira un dan Sayyidah Maryam binti Imran. Kedua wanita ini, sebaga imana yang Allah sebutkan nanti, merupakan teladan dan model yang baik tidak han ya untuk wanita mukminah saja, tetapi untuk seluruh kaum mukminin, laki-laki mau pun perempuan. Allah swt. berfirman, Allah memberikan contoh untuk orang-orang y ang beriman, istri Fir aun ketika ia berkata, Ya Tuhan, bangunkan untukku di sisiMu rumah di surga, dan selamatkan aku dari Fir aun dan kelakuannya dan selamatkan aku dari orang-orang yang dhalim. Dan Maryam putri Imron yang telah menjaga kehor matannya, lalu Kami tiupkan padanya dari Ruh-Ku. Dan Dia telah membenarkan kalim at-kalimat Tuhan-Nya dan kitab-kitab-Nya, dan Dia termasuk orang-orang yang tund uk .( QS : al Tahrim 11-12 ) . Setelah keterangan di atas tadi, mari kita lihat sosok pribadi Sayyidah Fathimah Zahra as. Beliau adalah wanita teladan, bukan teladan wanita. Dua kata yang berb eda. Beliau adalah wanita teladan untuk semuanya, baik laki-laki maupun perempua n, bukan teladan wanita, yang hanya untuk wanita saja. Lantas mengapa Sayyidah F athimah Az Zahra as sedemikian rupa dipuji oleh Allah SWT dan Rasulullah saww.? Mengapa beliau mendapatkan kemuliaan yang sedemikian tinggi sehingga dia menjadi wanita teladan untuk kaum mukmin dan mukminah ?. Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa untuk mendapatkan kemuliaan dari Allah Ta ala ada tiga cara; takwa, jihad dan ma rifah. Sekarang mari kita lihat dari keterangan -keterangan hadis dan kehidupan Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s. Pada kesempatan ini akan dijelaskan beberapa riwayat tentang ketakwaan Sayyidah Fathimah Az-Zahr a a.s. sehingga beliau menjadi wanita penghulu alam semesta (sayyidatu nisaa i al a alaminn). Sebelum menjelaskan tentang tiga hal itu, kami ingin menjelaskan beber apa sifat atau julukan yang disandang oleh Sayyidah Fathimah Az Zahra as. Yang pertama adalah al-Batul. Beliau digelari dengan sebutan al-Batul. Apa arti al-batul ?, Ibnu al Mandzur meriwayatkan bahwa Nabi saww. ditanya tentang sebab dinamainya al batul?, beliau menjawab, Karena dia tidak sama dengan perempuan zam annya dan perempuan umat manusia dari segi kesuciannya, kemuliaannya, agamanya d an kedudukannya . Dikatakan juga, karena dia telah melepaskan diri dari dunia meng gantungkannya hanya untuk Allah SWT. Itulah salah satu sebab dinamakan atau dige larinya Fathimah dengan Al-Batul. Juga beliau digelari dengan al-Muhaddatsah, orang yang dapat bisikan dari malaik at. Memang setelah Rasulullah Saww meninggal dunia, tidak ada lagi wahyu turun. Namun ilham atau bimbingan dari Allah Ta ala terus berlaku sampai akhir zaman, tet api tidak berbentuk wahyu. Kita mengenal istilah ilham atau tahdits atau muhadda tsah. Tiga kata ini punya arti yang sama yaitu mendapatkan bimbingan berupa bisi kan dari Allah SWT. Perbedaannya dengan wahyu adalah kalau wahyu bimbingan dari Allah Ta ala yang diberikan kepada para Nabi untuk disampaikan kepada manusia dan berbentuk ajaran atau syariat. Sementara ilham atau tahdits adalah bimbingan dar i Allah SWT. tidak untuk disampaikan kepada manusia dan tidak berbentuk ajaran. Wahyu berhenti dengan wafatnya Rasulullah Saww. Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s. adalah figur wanita yang mendapatkan bisikan atau bimbingan langsung dari Allah SWT.

Ada sebuah Hadis Al Ishak bin Ja far bin Muhammad bin Isa bin Zaid bin Ali, dia be rkata, Aku mendengar Abu Abdillah Ja far ash-Shadiq a.s. berkata, Fathimah dipanggi l dengan sebutan muhaddatsah karena para malaikat turun kepada Fathimah Az-Zahra a.s. dari langit. Para malaikat itu membisiki Fathimah Az Zahra as sebagaimana mereka membisiki Maryam putri Imran. Malaikat berkata kepada Fathimah, Wahai Fathi mah sesungguhnya Allah telah memilih anda, telah mensucikan anda dan mengangkat anda di atas wanita-wanita alam semesta ini. Wahai Fathimah, taatlah kepada Alla h SWT, bersujudlah, ruku lah bersama orang-orang yang ruku. Para malaikat disamping berbisik dengan Fathimah, juga Fathimah berbincang-binca ng dengan para malaikat. Pada suatu malam Fathimah Az Zahra as berkata kepada pa ra malaikat, Bukankah wahai para malaikat, wanita yang diutamakan atas seluruh wa nita alam semesta adalah Maryam binti Imran? . Wahai Fathimah kata para malaikat, S esungguhnya Maryam adalah pemimpin wanita zamannya. Tetapi Allah SWT menjadikan anda penghulu wanita zamanmu dan zaman Maryam serta seluruh wanita awal dan akhi r. Jadi ada dialog antara Sayyidah Fathimah Az Zahra as dengan para malaikat. Oleh karena itu Sayyidah Fathimah digelari Al-Muhadasah. Demikian pula Sayyidah Zaina b as putri dari Sayyidah Fathimah, seorang perempuan yang muhaddatsah, yang mend apatkan bisikan dari para malaikat. Inilah beberapa gelar dari Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s. Tentu kemuliaan yang beliau raih dikarenakan tiga hal tadi; takwa , jihad dan pengetahuan tentang Allah SWT. Ada beberapa hadis tentang ibadahnya Sayyidah Fathimah Az Zahra a.s. Disebutkan dari Imam Hasan bin Ali a.s. Beliau berkata, Aku lihat ibuku Fathimah a.s. bangun di tengah malam di mihrabnya pada malam Jum at. Beliau senantiasa ruku, sujud sam pai cahaya subuh muncul. Aku mendengarkan ibuku Fathimah mendoakan kaum mukmin d an mukminat dan menyebutkan nama-nama mereka. Beliau banyak mendoakan mereka kau m mukmin dan mukminat, tetapi beliau tidak mendoakan untuk dirinya sendiri. Aku berkata kepada ibuku, Wahai ibuku mengapa anda tidak mendoakan dirimu sendiri, se bagaimana mendoakan orang lain? . Wahai putraku, kata Fathimah, tetangga dulu baru penghuni rumah (al jaaru tsumma al daaru) . Juga ada Hadis yang lain dari Muhammad al Baqir bin Ali al Sajjad bin Husein bin Ali a.s. Pernah Rasulullah saww mengutus Salman al Farisi untuk menjumpai Sayyi dah Fathimah Az Zahra. Salman menjelaskan, ketika aku sampai di rumah Fathimah, aku berdiri di depan pintu Fathimah lalu aku mengucapkan salam kepada Fathimah. Aku mendengarkan suara Fathimah membaca Al-Qur an di depan, sementara suara batu u ntuk penggiling gandum di belakang rumahnya. Salman menyampaikan ini kepada Rasu lullah saww tentang kejadian yang menarik itui. Rasulullah mendengarkan dari Sal man tentang Fathimah, lalub beliau berkata, Wahai Salman, putriku Fathimah Az-Za hra a.s. Allah telah memenuhi hatinya dan raganya dengan iman sampai ubun-ubunny a. Dia khusyu atau menyibukkan dirinya untuk taat kepada Allah SWT, sehingga All ah mengirim untuknya malaikat yang namanya Jukoil, atau Jibril namanya. Allah me ngutus malaikat Jibril kepada Fathimah untuk memutarkan gilingan untuk menggilin g gandum tersebut. Allah telah memberikan kepadanya bantuan dari malaikat. Itulah Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s. yang telah mendapatkan kehormatan dari Al lah SWT karena ketakwaannya. Tentu banyak lagi Hadis-Hadis tentang Sayyidah Fath imah Az Zahra as, sebagai akhir tentang ibadah Sayyidah Fathimah atau ketakwaann ya. Pernah Rasulullah saww bertanya kepada Ali bin Abi Thalib a.s. Wahai Ali, bag aimana engkau mendapatkan istrimu Fathimah? Imam Ali menjawab, Ya Rasulullah istri ku Fathimah sebaik-baiknya orang yang membantuku menyembah Allah SWT Itulah kome ntar Imam Ali tentang Sayyidah Fathimah a.s., istri yang membantu suaminya untuk taat, tidak untuk bermaksiat. Juga Rasulullah bertanya kepada Fathimah, Wahai Fathimah apa yang engkau dapatkan dari suamimu Ali ? Jawabannya, Ia sebaik-baiknya suami yang bertanggung jawab. In ilah contoh suami istri yang ideal. Istri yang membantu suaminya untuk taat kepa

da Allah Ta ala dan suami yang paling baik dalam bertanggung jawab pada keluargany a. Hasan Basri menjelaskan tentang Sayyidah Fathimah Az Zahra as, tidak ada di umat ini seorang perempuan yang lebih abid (ahli ibadah) dari Fathimah. Dia berdiri d i tengah malam sampai kedua kakinya bengkak. Kemudian disamping ketakwaannya, Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s. juga seorang mu jahidah dan pembela ayahandanya, Rasulullah saww. Diriwayatkan dalam sebuah Hadi s, pernah suatu hari Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s. keluar ikut perang bersama ayahnya dan suaminya dalam fathu Makkah. Sayyidah Fathimah berangkat dari Madina h bersama Rasulullah dan suaminya Ali bin Abi Thalib as. Beliau membuat kubah ( kemah ) di sebuah pegunungan sebelum masuk Mekah. Rasulullah mandi di atas terse but dan Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s. menutupinya dari pandangan manusia. Arti nya dalam banyak kesempatan Sayyidah Fathimah as ikut mendampingi Rasulullah dan suaminya dalam peperangan. Juga riwayat ketika sejumlah sahabat Nabi berbai at kepada khalifah pertama, semen tara Ahlulbait sedang mengurusi jenazah Rasulullah Saww. Setelah selesai proses pembai atan, Imam Ali a.s. bersama Sayyidah Fathimah keliling ke semua sahabat Ans or dan Muhajirin, tentang mengapa kalian telah berbai at kepada kepada khalifah pe rtama. Yang pergi menjumpai para sahabat tidak hanya Imam Ali a.s., tetapi belia u bersama istrinya Sayyidah Fathimah Az Zahra as. sebagai bukti kesetiaan dan lo yalitas Sayyidah Fathimah kepada Imam Ali as sebagai imam zamannya. Juga Sayyid FATHIMAH YANG BERDUKA Ust. Husein Al-Kaff SUNGGUH, Allah Ta ala dengan iradah azaliyah-Nya telah menghadirkan seorang wanita , yang langit dan bumi belum pernah dan tidak akan pernah menyaksikan, sebelum d an sesudahnya, wanita seperti dia. Ia dilahirkan dari dua manusia suci. Yang sat u Muhammad bin Abdullah, ayahandanya yang sangat menyayanginya, yang sekaligus m erupakan seorang nabi yang paling mulia di antara nabi yang diutus, dan makhluk Tuhan yang paling dicintai-Nya. Yang satunya lagi adalah ibunda tercintanya, Kha dijah binti Khuwailid, seorang wanita yang mengorbankan segala yang dimilikinya demi kebenaran. Tidak heran kalau sang bayi mungil, yang terlahir dari dua orang suci tersebut, mewarisi segala kemuliaan dan kebesaran kedua orang tuanya, dan kelak bumi dan l angit serta segala isinya akan menjadi saksi tentang ketegaran dan keagungan bay i tersebut. Kehadirannya di tengah-tengah bangsa yang biadab, keras kepala, dan yang mengubu r wanita hidup-hidup, menjadikannya lebih cemerlang dan bersinar. Semua itu terj adi bukan secara kebetulan dan tanpa perhitungan, akan tetapi akibat dari sebuah rekayasa Tuhan yang amat cermat dan tepat. Dia lahir lima tahun setelah ayahanda tercintanya diberi tugas yang amat berat d an sangat suci, yaitu untuk menyelamatkan seluruh umat manusia dari kehancuran m enuju kedamaian. Sang bayi mungil, sebagaimana bayi-bayi lainnya, mendapatkan be laian kasih sayang dari kedua tangan ibundanya dan curahan kecintaan dari kedua mata ayahandanya. Dia mulai menyadari bahwa kehadirannya benar-benar merupakan anugrah Tuhan untuk kedua orang tuanya. Hari demi hari silih berganti, dilewatkannya dengan penuh k eindahan dan kesenangan. Namun, kesenangan dan keceriaan si kecil tadi hanyalah merupakan satu episode khusus dari serangkaian episode skenario Tuhan yang penuh keharuan, kesedihan, deraian air mata, dan tekanan batin. Seakan-akan Sang Sutr adara Agung Yang Mahabijak hendak menampilkannya sebagai sosok yang menjadi tumb al keserakahan umat manusia. Di saat Fathimah kecil beranjak usia lima tahun, ibunda tercintanya pergi untuk selamanya. Dan segera setelahnya, paman ayahanda beliau yang kharismatik, Abu Th alib, juga menyusul ke alam baka. Belaian kasih sayang kedua tangan ibundanya ti

dak akan pernah dialaminya lagi. Sejak kepergian Abu Thalib dan Khadijah, Fathimah kecil harus bersiap-siap mengh adapi kegetiran dan kepahitan hidup. Serigala-serigala padang pasir yang lapar d an sadis, sudah mulai meneteskan air liurnya dan meraung-raung, yang menandakan pesta jahiliah segera dimulai. Mereka tidak sabar lagi untuk merobek-robek relung hati si kecil yang suci, Fath imah, yang baru saja kehilangan ibundanya. Maka babak baru kehidupan Fathimah ke cil yang sangat berbeda dengan sebelumnya, segera dimulai. Ketegaran yang diwarisi Fathimah kecil dari ibunda dan ayahandanya, tidak menjad ikannya sebagai seorang anak kecil yang mudah merengek. Dia tampil seakan-akan s eorang wanita dewasa yang matang dan penuh pengertian. Jika dia menangis, hal itu bukan karena dan untuk dirinya sendiri, tetapi diseba bkan dan untuk ayahandanya dan para sahabatnya yang senantiasa diganggu dan disi ksa kaum musyrikin. Para ahli sejarah menceritakan, pernah sutu waktu ketika Rasulullah Saww sedang menunaikan shalat di Masjid Al-Haram, beliau tunduk bersujud di hadapan Sang Pen cipta. Tiba-tiba datanglah sejumlah pembesar Quraisy menghampirinya dan melempar i kepala dan punggung beliau dengan kotoran binatang. Beliau diam dan tetap mene ruskan sujudnya. Fathimah kecil menyaksikan sendiri perbuatan amoral yang menimpa ayahandanya itu di hadapan kedua matanya yang bening. Lalu, dia segera mendekatinya dan members ihkan kotoran binatang tersebut dari kepala dan punggung ayahandanya dengan kedu a tangannya yang lembut. Kedua matanya berderai air mata. Sekali-kali terdengar isak tangis dari rongga dadanya yang dalam, keluar tidak t ertahan lagi. Rasulullah Saww segera menatap muka Fathimah yang sedih, kemudian memeluknya sambil bersabda, "Putriku, janganlah engkau bersedih. Hal ini tidak a kan berlangsung lama," sambil menghiburnya. Betapa besar perjuangan dan pembelaan Fathimah terhadap ayahandanya, sehingga po sisi Fathimah seakan-akan tidak lagi sebagai putri Rasulullah. Tetapi sebaliknya , Fathimah yang begitu dewasa dan matang pribadinya dan selalu berada di samping ayahandanya, seakan-akan menjadi ibu bagi ayahandanya sendiri. "Fathimah Ummu A bihaa," demikianlah Rasulullah Saww menggelarinya. Sebagai seorang putri Rasulullah Saww, Fathimah hidup dengan penuh kesederhanaan . Dalam kitab-kitab hadis diriwayatkan, Salman Al-Farisi kelaparan, lalu dia ber keliling ke rumah istri-istri Nabi yang sembilan, tetapi dia tidak mendapatkan a pa-apa. Ketika hendak kembali, dia melihat rumah Fathimah. Kepada dirinya, dia b ergumam, "Mudah-mudahan ada rezeki di rumah Fathimah putri Nabi Muhammad Saww." Kemudian dia mengetuk pintu rumah Fathimah. Dari balik pintu terdengar suara, "S iapa di balik pintu ?" "Aku, Salman Al-Farisi," sahut Salman. "Wahai Salman, apa yang Anda inginkan ?" tanya Fathimah. Lalu Salman menceritakan maksudnya. Setelah itu, Fathimah berkata, "Wahai Salman, Demi Yang mengutus Muhammad Saww d engan kebenaran sebagai nabi. Sungguh, aku sudah tidak makan selama tiga hari. D emikian pula, Al-Hasan dan Al-Husain, gemetar sekujur tubuhnya karena lapar yang sangat. Lalu keduanya tertidur bagaikan dua ekor anak burung yang tidak berbulu . Tapi aku tidak menolak kebaikan, jika datang di pintuku," jelas Fathimah. Kemudian Fathimah melanjutkan perkataannya, "Wahai Salman. Ambillah baju perang ini, lalu pergilah kepada Syam un Yahudi dan katakan kepadanya bahwa Fathimah putr i Muhammad berkata kepadamu, "Berilah aku seikat kurma dan gandum, dengan jamina n baju besi ini. Nanti Insya Allah aku akan membayarnya kepadamu." Lalu Salman mengambil baju besi itu danmembawanya kepada Syam un Yahudi. "Wahai Sy am un, ini adalah baju besi Fathimah putri Muhammad Saww., dia berkata kepadamu, Be rilah aku utang seikat kurma dan gandum, nanti Insya Allah aku akan membayarnya kepadamu." Kemudian Syam un mengambil baju besi tersebut, dan membolak-balikannya dengan tela pak tangannya, sementara kedua matanya berderai air mata sambil berkata, "Wahai Salman, inilah kezuhudan dalam dunia. Inilah yang diberitakan oleh Musa bin Imra n kepada kami di dalam Taurat. Kini aku bersaksi, tiada Tuhan selain Allah dan a ku bersaksi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya." Si Yahudi tersebut akhirnya m asuk Islam. Selain hidupnya yang amat sederhana dan kepedulian sosialnya yang sangat tinggi,

Siti Fathimah - alaiha salam juga dikenal sebagai seorang abidah (ahli ibadah). Al -Hasan bin Ali salam atas mereka berdua berkata, "Aku melihat ibuku, Fathimah, be rdiri di mihrab-nya pada malam Jum at. Beliau senantiasa ruku dan sujud hingga caha ya fajar menyingsing. Aku mendengar dia mendoakan orang-orang Mukmin dan Mukmina t, bahkan menyebutkan nama-nama mereka satu demi satu. Dia banyak mendoakan mere ka, tetapi tidak mendoakan dirinya. "Lalu aku bertanya kepadanya, Wahai Ibu, mengapa engkau tidak mendoakan dirimu se ndiri, sebagaimana Ibu mendoakan yang lainnya ? Beliau menjawab, Wahai anakku. Tet angga lebih dahulukan, baru rumah sendiri. " Fathimah juga adalah seorang Muslimah yang sangat afifah. Pernah suatu waktu Nab i bertanya kepadanya, "Apa yang terbaik bagi wanita ?" "Yaitu wanita yang tidak melihat laki-laki dan tidak dilihat laki-laki," jawabnya dengan yakin. Lalu Nabi memeluknya sambil membacakan ayat berikut, "Satu keturunan yang sebagiannya dar i yang lain." (QS Ali Imran, 3 : 34). Fathimah as yang sejak usia dini sudah menderita, maka penderitaan baginya menja di suatu yang biasa. Penderitaan, tekanan, dan kehidupan yang demikian pas-pasan telah menghiasi kehidupan Fathimah. Ironisnya, penderitaan dan kepedihan terseb ut makin menguat sepeninggal ayahandanya tercinta. Jika Fathimah ketika kecil dan dewasa menyaksikan dengan sedih gangguan dan rong rongan kaum Musyrikin terhadap ayahandanya hingga akhir hayatnya, Fathimah menya ksikan pengkhianatan dan eksploitasi umat ayahandanya terhadap suaminya, Ali, dan dirinya sendiri. Sudah tentu, yang terakhir lebih melukai dan menyakitkan hatinya. Simaklah kisah berikut, ketika Fathimah as bersimpuh di pusara ayahandanya, untuk melaporkan p adanya tentang keadaan yang telah berubah secara drastis sepeninggal ayahnya. De ngan suara parau dan mengharukan, dia berkata, "Wahai ayahku, sepeninggalmu sung guh betapa banyak berita duka dan tekanan terhadapku. Sekiranya engkau masih ber ada di tengah-tengah kami, maka keserakahan-keserakahan itu tidak akan banyak." Walaupun Fathimah masih berduka dengan kematian ayahandanya tercinta, dia tetap tampil tegar ketika melihat adanya penyimpangan-penyimpangan di tengah masyaraka t Islam. Sejarah telah merekamkan untuk kita, setelah sepeninggal ayahandanya, lalu kaum Muslimin mengangkat Abubakar sebagai khalifah, maka Siti Fathimah menjelaskan te ntang tauhid, kenabian, dan kepemimpinan serta memperingatkan penyimpangan-penyi mpangan yang dilakukan sejumlah kaum Muslimin. Banyak dari kalangan sahabat Nabi yang menangis tatkala mendengarkan khutbah dan peringatan Fathimah tersebut. Akhirnya, Fathimah berpulang ke haribaan Tuhan, enam bulan setelah kepergian aya handanya. Fathimah pergi dengan hati yang duka dan terluka. Fathimah diciptakan seakan-akan hanya untuk mendampingi ayahandanya. Sejak dia berusia lima tahun, d ia sudah menjadi seorang ibu bagi ayahandanya. Kemudian setelah sang ayah pergi, diapun segera pergi menyusulnya. [] Besar nian jasamu, wahai Fathimah, dalam membela ayahmu. Sungguh panjang dan dalam deritamu, sejak ayahmu menjadi bulan-bulanan kaum Musy rikin. Betapa sakit hati dan pedih hatimu di kala engkau menyaksikan pengkhianatan dan penyimpangan sebagian umat ayahmu. Salam sejahtera atasmu, wahai Fathimah, di hari lahirmu, di hari penderitaanmu d an di hari wafatmu.

Taqlid dan Ijtihad (1) Secara global, menjalankan praktik-praktik ubudiyah, fiqih dan hukum Islam, sese orang bisa memilih taqlid atau ijtihad. Taqlid adalah menjalankan hal-hal terseb ut dengan berdasarkan pada fatwa marja . Ijtihad adalah menjalankan hal-hal terseb ut berdasarkan perolehannya dari sumber-sumber syari at/hukum.

Soal: Apakah muqolid itu? Jawab: Muqolib adalah orang yang bertaqlid. Soal: Apakah mujtahid itu? Jawab: Mujtahid adalah orang yang berijtihad. Soal: Apakah marja itu? Jawab: Marja adalah seorang mujtahid yang telah memenuhi syarat-syarat marja iyyah. Soal: Apakah syarat-syarat marja iyyah? Jawab: Syarat-syarat marja iyyah adalah mujtahid, adil, wara dalam agama Allah, tidak raku s dengan dunia kedudukan dan harta. Dalam hadis disebutkan, "Barangsiapa di anta ra para fuqaha (mujtahid) terdapat seorang faqih yang mengawasi dirinya, menjaga agamanya, tidak mengikuti hawa nafsunya dan menaati perintah Allah, maka orangorang awam wajib mentaqlidinya." (Tahrir al-Washilah hal.3 jil.I). Soal: Wajibkah orang awam bertaqlid dalam masalah-masalah ubudiyah (fiqih)? Jawab: Wajib menurut akal-urfi dan teks syari at Soal: Apakah boleh bertaqlid kepada mujtahid yang berada di luar negeri? Jawab: Bertaqlid dalam masalah syari at (fiqih) kepada mujtahid yang telah memenuhi syara t-syarat marja iyyah tidak disyaratkan berada pada suatu negeri dengan muqolidnya. Soal: Apakah diperbolehkan ber-taqlid kepada seorang yang bukan marja dan tidak mempuny ai Risalah Amaliah (buku kumpulan fatwa seorang Mujtahid)? Jawab: Jika menurut orang yang ber-taqlid terbukti bahwa dia mujtahid yang telah memenu hi syarat, maka tidak ada masalah (ber-taqlid kepadanya). Soal: Sebagian orang yang tidak memiliki informasi yang memadai ketika ditanya tentang siapakah marja -nya? Mereka menjawab, "Kami tidak tahu." Atau mereka mengatakan, "Marja kami adalah fulan." Namun mereka tidak merasa perlu untuk merujuk dan meng amalkan risalah amaliah-nya, bagaimana hukum perbuatan mereka ? Jawab: Jika perbuatan-perbuatan mereka sesuai dengan ikhtiat atau hukum yang seb enarnya (waqi ) atau fatwa Mujtahid yang harus diikuti, maka perbuatan-perbuatan m ereka itu sah. Soal: Apakah boleh ber-taqlid kepada (Mujtahid) yang telah wafat secara langsung? Jawab: Untuk ber-taqlid kepada Mujtahid yang sudah wafat secara langsung hendaknya meng ikuti (ketentuan) Mujtahid a lam yang masih hidup. Soal: Bagaimana caranya memilih marja dan memperoleh fatwanya ? Jawab: Memperoleh (bukti) ke-mujtahid-an atau ke-a lam-an marja adalah dengan mengujinya a tau dengan memperoleh informasi yang pasti walaupun dengan berita yang menyebar atau dengan kemantapan jiwa atau dengan kesaksian dua orang adil dari para ahli

(fiqih). Dan untuk mendapatkan fatwa marja dengan mendengar (secara langsung) dar inya, atau dengan kutipan dari orang yang adil atau dengan kutipan orang yang pe rkataannya dapat dipercaya atau merujuk ke risalah amaliah-nya yang terjamin dar i kesalahan. Soal: Apakah boleh berpindah dari Mujtahid A lam (lebih alim) dalam masalah-masalah kont emporer karena dia tidak dapat (mempunyai) fatwa tentangnya dari dalil-dalil yan g terperinci ? Jawab: Jika mukallaf hendak berhati-hati dalam masalah itu atau tidak dapat (berhati-ha ti) dan dia mendapatkan seorang mujtahid lain yang a lam dalam masalah itu, maka d ia wajib berpindah dan ber-taqlid kepadanya. Soal: Apakah untuk berpindah dari fatwa-fatwa Imam Khomeini r.a. harus merujuk k epada fatwa mujtahid yang diminta darinya izin untuk tetap ber-taqlid kepada muj tahid yang telah wafat ? Ataukah boleh merujuk kepada mujtahid yang lain ? Jawab: Berpindah taqlid tidak membutuhkan (meminta) izin, tetapi boleh pindah kepada mu jtahid yang memenuhi syarat-syarat sahnya taqlid. Soal: Orang yang ber-taqlid kepada Imam Khomeini r.a. dan (sampai sekarang) tetap bertaqlid kepadanya, apakah diperbolehkan merujuk kepada selainnya dalam suatu masa lah tertentu, seperti tidak menganggap kota Teheran termasuk kota besar ?*) Jawab: Boleh. Akan tetapi, sebaiknya tidak meninggalkan kehati-hatian untuk tetap ber-t aqlid kepada Imam Khomeini, kalau dia melihatnya lebih a lam dari mujtahid-mujtahi d yang hidup. *) Imam Khomeini r.a. membagi kota pada dua kategori : besar dan tidak besar. Ko ta besar seperti Teheran, Jakarta, dan lain-lain mempunyai ketentuan-ketentuan f atwa tersendiri sehubungan dengan safar. Soal: Saya sampai pada usia akil baligh pada saat Imam Khomeini masih hidup dan saya b er-taqlid kepadanya dalam beberapa masalah. Namun masalah taqlid bagi saya (wakt u itu) belum jelas, maka apakah kewajiban saya sekarang ? Jawab: Jika Anda melakukan perbuatan-perbuatan ritual dan lainnya pada saat Imam Khomei ni hidup itu sesuai dengan fatwa-fatwanya dan ber-taqlid kepadanya, meskipun pad a beberapa masalah saja, maka Anda boleh tetap bertaqlid kepadanya dalam semua m asalah. Wilayat Al-Faqih Soal: Apakah keyakinan terhadap prinsip wilayat al-faqih, baik dari sisi konsept ual maupun aktual, merupakan masalah rasional (aqli) ataukah masalah tekstual (s yar i)? Jawab: Sesungguhnya wilayat al-faqih yang berarti kekuasaan seorang faqih yang a dil dan mumpuni (handal) dalam masalah agama adalah masalah syar i ta abudi yang did ukung oleh akal. Soal: Apakah hukum syariat itu bisa berubah dan invalid (tidak berlaku) jika wal i al-faqih memberikan keputusan yang bertentangan dengan (hukum syariat) karena tuntutan kemaslahatan umum Islam dan kaum Muslimin ? Jawab: Tergantung situasi yang beragam. Soal: Apakah orang yang tidak meyakini wilayat al-faqih yang mutlak dianggap Mus lim ?

Jawab: Tidak meyakini wilayat al-faqih yang mutlak karena hasil ijtihad ataupun karena taqlid, pada masa ghaibnya Imam Al-Mahdi (nyawa kami adalah tebusannya), tidak menyebabkan murtad dan keluar dari Islam. Soal: Apakah wali al-faqih memiliki wilayah takwiniyyah yang dengannya dia dapat menghapus hukum-hukum agama karena adanya maslahat umum ? Jawab: Sepeninggal Rasulullah Saww tidak boleh menghapus hukum-hukum syariat Isl am. Adapun perubahan obyek hukum atau adanya darurat ataupun adanya kendala yang temporer untuk melaksanakan hukum, maka itu bukan penghapusan hukum. Wilayah ta kwiniyyah, menurut pendapat yang meyakininya, khusus untuk Para Ma shumin as. Soal: Apa sikap kita terhadap orang-orang yang tidak meyakini otoritas seorang f aqih yang adil kecuali dalam urusan-urusan yang hasbiyah * saja ? Perlu diketahu i bahwa wakil-wakil mereka menyebarkan hal itu. Jawab: Otoritas (Wilayah) faqih dalam memimpin masyarakat dan mengatur urusan-ur usan sosial di setiap zaman merupakan rukun mazhab Syi ah Itsna Asyariyyah. Masalah ini mempunyai akar dalam prinsip Imamah. Jika seseorang mempunyai dalil untuk t idak meyakininya, maka dia ma dzur (beralasan), tetapi dia tidak boleh menyebarkan perpecahan dan perselisihan. *) Urusan-urusan Hasbiyah adalah urusan-urusan kifayah yang harus dijalankan dan memerlukan izin hakim (penguasa) syar i selain amar makruf nahi munkar (Al-Ishtil ahat fi Rasail Amaliyyah, hal.42). MENGAPA KITA BERAGAMA ? Ust. Husein Al-Kaff "Dasar pertama agama (din) adalah mengenal-Nya." Perkataan di atas sangat tepat dan pada tempatnya, mengingat banyak orang ya ng beragama, tetapi tidak mengenal agamanya dengan baik. Padahal, mengenai agama seharusnya berada pada tahapan awal sebelum mengamalkan ajarannya. Tetapi secar a realita, keberagamaan sebagian besar dari mereka tidak sebagaimana mestinya. N ah, dalam kesempatan ini kami akan memberikan penjelasan tentang mengapa kita be ragama dan bagaimana seharusnya kita beragama. Sehingga kita beragama atas dasar bashirah (pengetahuan, pengertian, dan bukti). Allah Ta ala berfirman : "Katakanlah (wahai Muhammad). Inilah jalan-Ku. Aku me ngajak kepada Allah dengan bashirah (hujjah yang nyata)" (QS Yusuf, 12 : 108). Namun sebelum menjawab dua pertanyaan di atas, ada baiknya kami terlebih dul u membicarakan tentang din itu sendiri. Apa itu Din ? Din berasal dari bahasa Arab dan dalam Alquran disebutkan sebanyak 92 kali. Menurut arti bahasa (etimologi), din diartikan sebagai balasan dan ketaatan. Dal am arti balasan, Alquran menyebutkan kata din dalam surat Al-Fatihah ayat 4, Mal iki Yaumiddin (Dialah Pemilik (Raja) Hari Pembalasan)." Demikian pula dalam sebu ah hadis, din diartikan sebagai ketaatan. Rasulullah Saww bersabda : "Ad-diinu n ashiihah (agama adalah ketaatan)." Sedangkan menurut terminologi teologi, din di artikan sebagai : "sekumpulan keyakinan, hukum, norma yang akan mengantarkan ses eorang kepada kebahagiaan manusia, baik di dunia maupun akhirat." Berdasarkan hal di atas, din mencakup tiga dimensi : (1) keyakinan (akidah); (2) hukum (syariat); dan (3) norma (akhlak). Ketiga dimensi tersebut dikemas se demikian rupa sehingga satu sama lain lain saling berkaitan, dan tidak bisa dipi sahkan antara satu dengan yang lainnya. Dengan menjalankan din, kebahagiaan, ked amaian, dan ketenangan akan teraih di dunia dan di akhirat. Seseorang di katakan mutadayyin (ber-din dengan baik), jika dia dapat melengkapi dirinya deng an tiga dimensi agama tersebut secara proporsional, maka dia pasti berbahagia. Dalam dimensi keyakinan atau akidah, seseorang harus meyakini dan mengimani beberapa perkara dengan kokoh dan kuat, sehingga keyakinannya tersebut tidak dap at digoyahkan lagi. Keyakinan seperti itu akan diperoleh seseorang dengan argume ntasi (dalil aqli) yang dapat dipertahankan. Keyakinan ini pada intinya berkisar kepada Allah dan Hari Akhirat.

Adapun syariat adalah konsekuensi logis dan praktis dari keyakinan. Mengamal kan syariat merupakan representasi dari keyakinan. Sehingga sulit dipercaya jika seseorang mengaku beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, tetapi tidak mengindah kan syariat-Nya. Karena syariat merupakan kewajiban dan larangan yang datang dari-Nya. Sedangkan akhlak adalah tuntunan akal budi (aqal amali) yang mendorong seseo rang untuk mengindahkan norma-norma dan meninggalkan keburukan-keburukan. Seseor ang belum bisa dikatakan mutadayyin selagi tidak berakhlak, la diina liman la ak hlaqa lahu. Demikian pula, keliru sekali jika seseorang terlalu mementingkan akh lak daripada syariat. Dari ketiga dimensi din tersebut, akidah menduduki posisi yang paling prinsi p dan menentukan. Dalam pengertian bahwa yang menentukan seseorang itu mutadayyi n atau tidak adalah akidahnya. Dengan kata lain, yang memisahkan seseorang yang beragama dari yang tidak beragama (ateis) adalah akidahnya. Lebih khusus lagi, b ahwa akidahlah yang menjadikan orang itu disebut Muslim, Kristiani, Yahudi atau yang lainnya. Mengapa Kita Beragama ? Marilah kita kembali pada pertanyaan semula : "mengapa kita beragama ?" Manusia adalah satu spesies makhluk yang unik dan istimewa dibanding makhluk -makhluk lainnya, termasuk malaikat. Karena, manusia dicipta dari unsur yang ber beda, yaitu unsur hewani/materi dan unsur ruhani/immateri. Memang dari unsur hew ani manusia tidak lebih dari binatang, bahkan lebih lemah darinya. Bukankah bany ak di antara binatang yang lebih kuat secara fisik dari manusia ? Bukankah ada b inatang yang memiliki ketajaman mata yang melebihi mata manusia ? Bukankah ada p ula binatang yang penciumannya lebih peka dan lebih tajam dari penciuman manusia ? Dan sejumlah kelebihan-kelebihan lainnya yang dimiliki selain manusia. Sehubungan ini Allah Swt berfirman : "Dan manusia diciptakan dalam keadaan l emah" (QS An-Nisa, 4 : 28); "Allah telah menciptakan kalian lemah, kemudian menj adi kuat, lalu setelah kuat kalian menjadi lemah dan tua." (QS Rum : 54). Masih banyak ayat lainnya yang menjelaskan hal serupa. Karena itu, sangatlah tidak pantas bagi manusia berbangga dengan penampilan fisiknya, di samping itu penampilan fisik adalah wahbi sifatnya (semata-mata pen berian dari Allah, bukan hasil usahanya). Kelebihan manusia terletak pada unsur ruhani (mencakup hati dan akal, keduan ya bukan materi). Dengan akalnya, manusia yang lemah secara fisik dapat menguasa i dunia dan mengatur segala yang ada di atasnya. Karena unsur inilah Allah menci ptakan segala yang ada di langit dan di bumi untuk manusia (lihat surat Luqman a yat 20). Dalam salah satu ayat Alquran ditegaskan : "Sungguh telah Kami muliakan anak-anak, Kami berikan kekuasaan kepada mereka di darat dan di laut, serta Kam i anugerahi mereka rezeki. Dan sungguh Kami utamakan mereka di atas kebanyak an makhluk Kami lainnya." (QS Al-Isra, 17 : 70). Unsur akal pada manusia, awalnya masih berupa potensi (bilquwwah) yang perlu dif aktualkan (bilfi li) dan ditampakkan. Oleh karena itu, jika sebagian manusia lebih utama dari sebagian lainnya, maka hal itu semata-mata karena hasil usahanya sen dirinya. Karenanya, dia berhak bangga atas yang lainnya. Sebagian mereka ada pula yang tidak berusaha memfaktualkan dan menampakkan potensinya itu, atau mem faktualkannya hanya untuk memuaskan tuntutan hewaninya, maka orang itu sama deng an binatang, bahkan lebih hina dari binatang (QS Al-A raf, 7 : 170; Al-Furqan : 42 ). Termasuk ke dalam unsur ruhan adalah fitrah. Manusia memiliki fitrah yang me rupakan modal terbesar manusia untuk maju dan sempurna. Din adalah bagian dari f itrah manusia. Dalam kitab Fitrat (edisi bahasa Parsi), Syahid Muthahhari menyebutkan adan ya lima macam fitrah (kecenderungan) dalam diri manusia yaitu mencari kebenaran (hakikat), condong kepada kebaikan, condong kepada keindahan, berkarya (berkreas i), dan cinta (isyq) atau menyembah (beragama). Sedangkan menurut Syeikh Ja far Su bhani, terdapat empat macam kecenderungan pada manusia, dengan tanpa memasukkan kecenderungan berkarya seperti pendapat Syahid Muthahhari (kitab Al-Ilahiyyat, j uz 1).

Kecenderungan beragama merupakan bagian dari fitrah manusia. Manusia dicipta kan oleh Allah dalam bentuk cenderung beragama , dalam arti manusia mencintai ke sempurnaan yang mutlak dan hakiki serta ingin menyembah Pemilik kesempurnaan ter sebut. Syeik Taqi Mishbah Yazdi, dalam kitab Ma arif al-Qur an juz 1 hal. 37, menyeb utkan adanya dua ciri fitrah, bik fitrah beragama maupun lainnya, yang terdapat pada manusia, yaitu pertama kecenderungan-kecenderungan (fitrah) tersebut dipero leh tanpa usaha atau ada dengan sendirinya, dan kedua fitrah tersebut ada pada s emua manusia walaupun keberadaannya pada setiap orang berbeda, ada yang kuat dan ada pula yang lemah. Dengan demikian, manusia tidak harus dipaksa beragama, nam un cukup kembali pada dirinya untuk menyebut suara dan panggilan hatinya, bahwa ada Sesuatu yang menciptakan dirinya dan alam sekitarnya. Meskipun kecenderungan beragama adalah suatu yang fitri, namun untuk menentu kan siapa atua apa yang pantas dicintai dan disembah bukan merupakan bagian dari fitrah, melainkan tugas akal yang dapat menentukannya. Jadi jawaban dari pertan yaan mengapa manusia harus beragama, adalah bahwa beragama merupakan fitrah manu sia. Allah Ta ala berfirman, "Maka hadapkanlah wajahmu kepada din dengan lurus, se bagai fitrah Allah yang atasnya manusia diciptakan." (QS. Rum: 30). Sekilas Teori-teori Kemunculan Agama Kaum materialis memiliki sejumlah teori tentang kemunculan agama, antara lain: 1. Agama muncul karena kebodohan manusia Sebagian mereka berpendapat, bahwa agama muncul karena kebodohan manusia. Au gust Comte peletak dasar aliran positivisme menyebutkan, bahwa perkembangan pemi kiran manusia dimulai dari kebodohan manusia tentang rahasia alam atau ekosistem jagat raya. Pada mulanya periode primitif karena manusia tidak mengetahui rahasia a lam, maka mereka menyandarkan segala fenomena alam kepada Dzat yang ghaib. Namun, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan (sains) sampai pada batas segal a sesuatu terkuat dengan ilmu yang empiris, maka keyakinan terhadap yang ghaib t idak lagi mempunyai tempat di tengah-tengah mereka. Konsekuensi logis teori di atas, adalah makin pandai seseorang akan makin jauh i a dari agama bahkan akhirnya tidak beragama, dan makin bodoh seseorang maka maki n kuat agamanya. Padahal, betapa banyak orang pandai yang beragama, seperti Albe rt Einstein, Charles Darwin, Hegel dan lainnya. Demikian sebaliknya, alangkah ba nyak orang bodoh yang tidak beragama. 2. Agama muncul karena kelemahan jiwa (takut) Teori ini mengatakan, bahwa munculnya agama karena perasaan takut terhadap T uhan dan akhir kehidupan. Namun, bagi orang-orang yang berani keyakinan seperti itu tidak akan muncul. Teori ini dipelopori oleh Bertnart Russel. Jadi, menurut teori ini agama adalah indikasi dari rasa takut. Memang takut kepada Tuhan dan h ari akhirat, merupakan ciri orang yang beragama. Tetapi agama muncul bukan karen a faktor ini, sebab seseorang merasa takut kepada Tuhan setelah ia meyakini adan ya Tuhan. Jadi,takut merupakan akibat dari meyakini adanya Tuhan (baca: beragama ). 3. Agama adalah produk penguasa Karl Marx bapak aliran komunis-sosialis mengatakan, bahwa agama merupakan produk para penguasa yang diberlakukan atas rakyat yang tertindas, sebagai upaya agar mereka tidak berontak dan menerima keberadaan sosial-ekonomi. Mereka (rakyat ter tindas) diharapkan terhibur dengan doktrin-doktrin agama, seperti harus sabar, m enerima takdir, jangan marah dan lainnya. Namun, ketika tatanan masyarakat berubah menjadi masyarakat sosial yang tida k mengenal perbedaan kelas sosial dan ekonomi, sehingga tidak ada lagi (perbedaa n antara) penguasa dan rakyat yang tertindas dan tidak ada lagi (perbedaan antar a) si kaya dan si miskin, maka agama dengan sendirinya akan hilang. Kenyataannya , teori di atas gagal. Terbukti bahwa negara komunis-sosialis sebesar Uni Soviet pun tidak berhasil menghapus agama dari para pemeluknya, sekalipun dengan cara kekerasan. 4. Agama adalah produk orang-orang lemah

Teori ini berseberangan dengan teori-teori sebelumnya. Teori ini mengatakan, bahwa agama hanyalah suatu perisai yang diciptakan oleh orang-orang lemah untuk membatasi kekuasaan orang-orang kuat. Norma-norma kemanusiaan seperti kedermawa nan, belas kasih, kesatriaan, keadilan dan lainnya sengaja disebarkan oleh orang -orang lemah untuk menipu orang-orang kuat, sehingga mereka terpaksa mengurangi pengaruh kekuatan dan kekuasaannya. Teori ini diperoleh Nietzche, seorang filsuf Jerman. Teori di atas terbantahkan jika kita lihat kenyataan sejarah, bahwa tidak se dikit dari pembawa agama adalah para penguasa dan orang kuat misalnya Nabi Daud da n Nabi Sulaiman keduanya adalah raja yang kuat. Sebenarnya, mereka ingin menghapus agama dan menggantikannya dengan sesuatu yang mereka anggap lebih sempurna (seperti, ilmu pengetahuan menurut August Comt e, kekuasaan dan kekuatan menurut Nietszche, komunis-sosialisme menurut Karl Marx dan lainnya). Padahal mencintai dan menyembah kesempurnaan adalah fitrah. Perbedaan kaum agamawan dengan mereka, adalah bahwa kaum agamawan mendapatka n kesempurnaan yang mutlak hanya pada Tuhan. Jadi, sebenarnya mereka (kaum Athei s) beragama dengan pikiran mereka sendiri. Atau dengan kata lain, mereka mempert uhankan diri mereka sendiri. Daftar Rujukan: 1. Al-Qur an al-Karim 2. Nahj al-Balaghah, karya Ibn Abil Hadid 3. Tafsir Namuneh (bhs. Parsi), karya Ayatullah Makarim Syirazi. 4. Al-Ilahiyyat, Ayatullah Ja far Subhani. 5. Ma arif al-Qur an, Ayatullah Muhammad Taqi Misbah. 6. Al-Manhaj al-Jadid fi Ta limi al-Falsafah, karya Muhammad Taqi Misbah 7. Fitrah (bahasa Parsi), karya Ayatullah Syahid Murthahhari. 8. Manusia Seutuhnya, Studi Kritis Berbagai Pandangan Filosofis, diterjemahkan o leh Abdillah Hamid Ba abud dari kitab aslinya Insone Komil, karya Syahid Murthahha ri. Pesan Haji Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei Dzulhijjah 1420 H/Maret 2000 M "Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersa ma Ismail (seraya berdoa): Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), s esungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. 2:127) Saudara dan saudari umat Islam sekalian, para jemaah haji umat Islam, assalamual aikum wr.wb. Suatu hari dimana Sang Penyeru Besar Tauhid (Ibrahim AS) bersama puteranya, Isma il AS mendirikan fondasi-fondasi Kaabah di tengah-tengah lembah dan gunung-gunun g terpencil dan gersang, sejauh apapun kecerdasan akal manusia tidak akan pernah menduga bahwa kelak Kaabah akan menjadi sentral kehangatan iman dan harapan ser ta kiblat untuk jiwa dan raga. Kaabah sekarang adalah pusat spiritual Dunia Isla m dan merupakan arena pertemuan terbesar umat Islam setiap tahun. Ia merupakan s umber yang memancarkan kecintaan dan harapan, ia merupakan samudera pekikan keag ungan dan kepercayaan serta merupakan tempat bertemunya aliran-aliran besar suku dan bangsa. Ketulusan para pendirinya serta keridhaan Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui telah menjadikan benih ini sebagai pohon yang sedemikian ri mbun dan penuh ranting. Apakah umat Islam memanfaatkan sumber ini dengan sepatutnya? Jawaban untuk perta nyaan ini menyakitkan dan mengerikan. Dewasa ini Dunia Islam mengalami berbagai penderitaan yang kronis. Penderitaan-penderitaan ini yang paling krusial boleh j adi ada sepuluh jenis: Pertikaian politik dan mazhab, dekadensi akar-akar moral dan iman, keterbelakangan ilmu pengetahuan dan industri, ketergantungan politik dan ekonomi, royal dan keglamoran serta kesombongan di depan kemiskinan, kelapar an dan kepapaan, lemahnya rasa percaya diri dan rendahnya optimisme terhadap mas a depan, pengesampingan dan penceraian agama dari politik dan kehidupan, hilangn ya kreativitas untuk menciptakan konsep-konsep baru dimana AlQuran merupakan sum bernya yang abadi, kepasrahan di depan serangan kebudayaan yang dipaksakan oleh

Barat, dan terakhir diterinjaknya kehormatan bangsa-bangsa muslim lantaran sebag ian pemimpin politik mudah terserang kehinaan dan perbuatan rakus. Semua penyakit yang sebagian ditimbulkan oleh sebagian yang lain ini sepanjang z aman terwujud dalam pengkhianatan, tidak adanya kemauan, kebodohan dan penindasa n oleh unsur-unsur internal atau yang tercipta karena aksi permusuhan, kebiadaba n dan kezaliman para musuh. Ini semua merupakan pukulan terbesar yang menimpa um at Islam. Ketidakberdayaan umat Islam adalah akibat dari penyakit-penyakit ini. Satu-satunya jalan keberuntungan dan kesuksesan ialah pembebasan dari penyakit-p enyakit ini. Dewasa ini, kekayaan alam Dunia Islam dirampas, warisan budaya dan pemikirannya yang bernilai sebagian besar tersembunyi dibalik hijab yang terbuat dari kemasan propaganda para pelaku serangan kebudayaan, potensi dan akal para pemudanya dis andera, kekuatan mereka dalam konfrontasi militer dan politik musnah, ketidakped ulian moral dan akidah ibarat air kubangan yang menyusup ke dalam lingkungan hid up, pendidikan dan olah raga para pemuda Dunia Islam, kekayaan minyaknya hari de mi hari semakin menambah kekayaan perusahaan-perusahaan asing dan para pemungut pajak asing, kekayaan ini bukannya kembali kepada para pemiliknya tetapi malah s emakin mengenyangkan musuh-musuh mereka. Di jantung Dunia Islam dan di seluruh p elosoknya di Asia, Afrika dan Eropa- cambuk kezaliman dan amarah kaum kafir mend era umat Islam. Palestina dan Lebanon dibakar oleh api kekejaman kaum Zionis, . Se mua penderitaan ini tidak membangkitkan para politisi, pemuka agama dan intelekt ual umat Islam untuk mencarikan solusinya. Padahal, di semua tempat terdapat berbagai modal yang berharga untuk menegakkan sebuah kondisi baru yang membawa keselamatan, serta terlihat jelas instrumen dan sebuah motivasi yang memadai untuk terciptanya perubahan segenap negara-negara Islam. Sekarang ini, sedikit sekali negara Islam yang terlihat jelas kaum mudany a memiliki sensibilitas dan motivasi Islami, mayoritas penduduknya memiliki komi tmen iman yang mendalam, merasa prihatin atas situasi yang ada dan optimis kepa da masa depan Islam. Masalah yang mencegah aktifnya potensi-potensi ini pertama-tama ialah bahwa keku atan politik di dalam negara-negara itu tidak mengarah kepada aspirasi dan tuntu tan-tuntutan tersebut. Dan dalam banyak kasus, berbagai pemerintahan memang tida k bisa sinkrun dan bekerjasama dengan aspirasi-aspirasi besar dan Islami rakyat tersebut karena mengalami kelemahan, atau ketergantungan, atau penindasan terhad ap rakyat. Dari sisi lain kebesaran Dunia Islam serta kekuatan pengaruhnya atas peristiwa-peristiwa dunia tidaklah tampak di mata mereka. Akibatnya, setiap bang sa (muslim) merasa sendirian di depan tekanan kekuatan-kekuatan anti Islam dan a rogan sehingga tidak mungkin mereka bisa menghadapi serangan politik, propaganda dan terkadang serangan militer. Dari satu sisi lagi, pengalaman operasional dan nyata pemerintahan Islam pada za man sekarang ini, yaitu Republik Islam Iran tertutup oleh debu tebal propaganda yang diwarnai sikap permusuhan. Ratusan media audio, visual dan penulisan serta ribuan otak dan pena-pena bayaran setiap hari sibuk bekerja untuk menjatuhkan fa kta-fakta Republik Islam Iran, membesar-besarkan kelemahan dan kegagalannya sert a mengingkari berbagai kesuksesan dan kemajuannya. Jika umat Islam memahami nilai ibadah haji dan memanfaatkan titik dan pusat pert emuan setiap tahun ini dengan benar maka bagian penting dari blokade rasa frusta si dan doktrinasi kelemahan yang membelenggu berbagai bangsa ini akan hancur. Musim haji bisa memperlihatkan keagungan, keaneka ragaman, serta kekuatan spirit ual dan insaniah Dunia Islam secara spektakuler setiap tahun di depan mata masya rakat dari segenap negara-negara muslim sekaligus menjalin komunikasi, perkenala n dan pertukaran pendapat antar tokoh pilihan setiap bangsa. Dalam haji, setiap bangsa bisa memperoleh berita-berita faktual mengenai kondisi saudara-saudara me reka dan menyingkap tirai propaganda musuh-musuh Islam. Dengan memanfaatkan spir itualitas Baitullah Al-Haram, mereka bisa mempersiapkan sebuah gerakan yang terk oordinir dan tulus di atas jalan pengembalian kekuasaan Islam, pencapaian kehorm atan dan kemerdekaan serta usaha menciptakan perubahan mendasar di negara-negara mereka. Terciptanya kekuasaan Islam di negara-negara Islam ibarat kelahiran seorang bayi yang penuh berkah, namun banyak diselimuti dengan penderitaan. Tahap berikutnya

yang merupakan tahap pemeliharaan dan usaha memenuhi kebutuhan materi dan spiri tual serta menjaga pertumbuhannya adalah jauh lebih berat dimana masa perjuangan untuk itu akan jauh lebih panjang. Di Iran yang Islami, bayi yang terlahir ini banyak mengalami aksi-aksi permusuha n baik secara terbuka maupun terselubung. Tetapi, alhamdulillah, sekarang ia ber ada di era kemerdekaan, stabilitas dan kejayaan. Walau demikian, badai-badai per musuhan yang datang dari sentra-sentra kaum arogan dan anti Islam masih tetap me nerjangnya dari pelbagai penjuru. Institusi ini merupakan model pertama kalinya dalam dunia modern dan bisa menjadi contoh bagi negara-negara lain serta menganc am sepenuhnya interes AS, Israel dan kepentingan negara-negara rakus lainnya di Dunia Islam. Karena itu, ia menjadi sasaran amuk permusuhan dan ketidaksabaran s egenap pusat kekuatan yang haus dominasi di dunia. Aksi membangkitkan gerakan ke sukuan di dalam negeri adalah gerakan musuh yang pertama kalinya. Langkah-langka h berikutnya ialah mengaktifkan benih-benih yang terdiri dari orang-orang bayara n rezim lama, mempersiapkan kudeta militer, kemudian memotivasi sebuah negara te tangga supaya melancarkan serangan ke perbatasan sepanjang 1.300 kilometer. Satu saja dari masing-masing langkah ini sudah cukup untuk mencabut dan menghancurka n sebuah pemerintahan nasionalistis. Tetapi Republik Islam Iran bukan sekedar pe merintahan nasionalistis, melainkan juga merupakan bangunan yang terdiri dari se luruh komponen bangsa yang beriman dan memiliki motivasi-motivasi keimanan yang mendalam. Perang yang dilancarkan tetangga pengkhianat itu berlangsung delapan t ahun, dan kendati upaya ambisius AS sudah membuat kami menjadi sasaran prasangka buruk sebagian lain negara tetangga kami dan mereka gencar membantu agresor, to h pada akhirnya pihak yang menyulut perang itu loyo, tak berdaya, kalah dan mund ur dari wilayah-wilayah perbatasan kami. Selama 21 tahun usia Republik Islam, imperialisme pemberitaan kaum arogan gencar menyebarkan provokasi anti kami. Mereka menaruh modal dalam berbagai bentuk unt uk memobilisasi opini publik dunia terhadap pemerintahan Islam. Politik luar neg eri dan instansi keamanan AS dengan bantuan besar para kapitalis Zionis berusaha sebisa mungkin untuk menciptakan blokade ekonomi dan menghadang politik luar ne geri Republik Islam Iran. Di pelbagai penjuru dunia, puluhan kelompok teroris at au himpunan para politisi bayaran yang menjual bangsa dan berkhianat, dengan uan g, janji, dan dukungan musuh, masih sedang melancarkan operasi-operasi makar. Ra tusan syuhada yang namanya harum dan abadi korban kejahatan-kejahatan hina orang -orang bayaran tersebut telah mewarnai sejarah revolusi kami dengan keadaan yang senantiasa teraniaya. Singkatnya, lebih dari 20 tahun front musuh kami, khususnya AS dan Zionisme, den gan segala kekuatan, manejemen dan sepak terjangnya telah memerangi apa yang dil ahirkan oleh revolusi, yaitu pemerintahan Republik Islam. Walau demikian, selama lebih dari 20 tahun, pemerintahan Republik Islam sedikitpun tidak pernah kehila ngan detik pertumbuhan, kejayaan dan kestabilannya, dan sekarang ia justru menja di lebih kuat. Dengan kekuatan dan motivasi itu, ia memulai seruan Islam, persat uan Islam, dan kehormatan Islam yang merupakan biang kecemasan dan khawatiran mu suh. Sebelas tahun setelah wafatnya arsitek dan pendiri bangunan tersebut, Imam Khoma ini yang agung, Republik Islam tetap bergerak maju ke arah tujuan yang beliau ga riskan dan berjalan melalui jalur yang beliau perlihatkan. Stablitas dan kekuata n ini adalah kebanggaan pertama-tama bagi esensi Islam serta ajaran-ajarannya ya ng membuka jalan kelapangan dan kehormatan, dan yang kedua adalah bagi rakyat Ir an yang telah menempuh jalan Islam dengan penuh keimanan, berkorban dengan penuh keikhlasan serta menjaga hasil-hasilnya dengan penuh kesabaran. Seandainya tidak ada kelemahan dari diri kami para pejabat pemerintahan Republik Islam serta tidak ada kekurangan dan kealpaan baik yang beralasan maupun tidak, tak syak lagi dewasa ini berkat hukum-hukum dan ajaran Islam yang cemerlang Rep ublik Islam sudah berhasil melewati era problematika yang lebih besar serta lebi h mendekati tujuan-tujuannya. Seperti biasa, tipuan utama propaganda kaum arogan ialah menciptakan persepsi ba hwa rakyat Iran dan pemerintah Islamnya sudah berpaling dari tujuan-tujuan yang sudah digariskan. Kebohongan yang murahan ini bertujuan menciptakan rasa frustas i para pengagum kedaulatan Islam di pelbagai penjuru dunia serta melumpuhkan spi

rit para pemuda di dalam negeri kami. Setelah pemilu ke 21 kami berlangsung dan menentukan para wakil dalam Majlis Syu ra Islam, para pemuka kaum mustakbir itu menyatakan gembira atas adanya apa yang mereka sebut dengan demokrasi. Sulit bagi mereka untuk mengakui adanya partisip asi rakyat sepanjang tahun-tahun pasca revolusi sampai sekarang. Berat bagi mere ka untuk menerima bahwa pemilu dengan antusias dan sambutan luas seperti ini jug a terjadi empat tahun silam guna membentuk majlis parlemen periode sebelumnya se rta pemilu tiga tahun silam untuk memilih presiden. Mereka ingin menghibur kesia -siaannya dengan asumsi bahwa para pembangkang kedaulatan Islam dan mereka yang berambisi memperbaharui dominasi kaum arogan terhadap Iran bisa menemukan jalan masuk ke pusat-pusat kekuasaan. Dengan bertawakkal dan percaya penuh kepada Allah Yang Maha Agung lagi Maha Bija ksana, dengan keimanan yang mendalam dan tak kenal goyah kepada hukum Islam yang cemerlang dan sumber kebagiaan, dengan kesadaran penuh kepada bangsa (Iran) yan g besar dimana saya berasal dari tengah-tengah mereka dan telah menghabiskan seg enap usia di tengah-tengah mereka, dan dengan kecintaan penuh kepada mereka hing ga akhir hayat, saya tegaskan kepada kawan dan lawan bahwa bangsa ini tetap akan menempuh jalan Islam sampai tujuan-tujuan besar mereka tercapai. Bangsa ini aka n memperlihatkan kepada semua orang bahwa kehormatan, pertumbuhan, dan kemajuan materi dan ruhani serta penggapaian kemuliaan insani hanya bisa dilakukan dengan mempraktikkan Islam dan AlQuran secara menyeluruh. AS tidak bisa berharap mampu memasukkan kembali Iran ke dalam dominasinya, mered akan gelora aspirasi dan tuntutan kedaulatan Islam di negara-negara Islam, menja tuhkan Palestina ke dalam cengkaraman kaum Zionis yang rasis dan fasis tanpa ada gejolak, dan membius gelombang kebencian yang kian hari semakin merebak kepadan ya. Jika perspektif ini umum di tengah pemerintah-pemerintah muslim, niscaya bendera keagungan Islam akan berkibar di dunia sebagaimana mestinya, haji akan menjadi sentral solidaritas yang hakiki dan sumber kekuatan Islam yang abadi, kekayaan m ineral Dunia Islam akan menguntungkan bangsa-bangsa muslim, dan kebudayaan Islam yang kaya dan pemberi kalapangan hidup akan menjadi sarana yang melayani umat m anusia. Saya berdoa kepada Allah SWT agar hari itu sudah dekat. Saya memohon kepada para jemaah haji yang mulia supaya berdoa demi kelapangan umat Islam dunia dan agar bangsa Iran yang pejuang mendapat pertolongan Ilahi, dan saya menyerukan para je maah haji Iran yang mulia supaya berusaha dengan segenap upaya agar bisa mempero leh limpahan maknawiah, menjaga keteguhan dan persatuan, berpartisipasi dalam je maah-jemaah serta menimba perolehan spiritual dan moral. Wassalam Sayid Ali Khamenei * Diterjemahkan oleh Moh.Moesa (salah satu penyiar di IRIB [islamic republic of iran broadcasting] Teheran.

Pidato Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei pada Hari Ghadir Khoum di Masyhad 18 Dzulhijjah 1420 H/25 Maret 2000 M Berkenaan dengan hari raya Ghadir Khum yang didalam riwayat-riwayat kita disebut dengan ied akbar, saya ucapkan selamat kepada segenap umat Syiah dunia, kepada bangsa Iran yang mulia, kepada hadirin sekalian yang terhormat, dan kepada segen ap orang mengakui tingginya kedudukan makrifat-makrifat Ilahi yang murni. Pada hari-hari pertama tahun ini, terdapat beberapa hari bahagia untuk masyaraka t secara umum yaitu hari raya Norouz yang sebelumnya adalah Idul Adha, dan sekar ang ialah hari raya Ghadir Khoum. Dalam suasana penuh vitalitas, suka cita dan d i sisi makam suci Hazrat Abul Hasan Imam Ali bin Musa Arridha A.S ini masalah pe rtama yang ingin saya kemukakan di depan para hadirin saudara dan saudari sekali an ialah menyangkut masalah AlGhadir sendiri. Al-Ghadir adalah masalah keislaman dan bukan masalah kesyiahan saja. Dalam sejar ah Islam disebutkan bahwa suatu hari Rasulullah mengutarakan suatu pernyataan da

n beliau aktualisasikan. Pernyataan dan aktualisasi ini memiliki pelajaran dan m akna dari berbagai aspeknya. Kita tidak bisa mengatakan bahwa AlGhadir dan hadit s AlGhadir hanya digunakan oleh kaum Syiah sedangkan umat Islam lainnya tidak me manfaatkan kandungan ucapan mulia Rasul yang kaya muatan dan tidak dikhususkan u ntuk masa tertentu ini. Hanya saja, karena dalam kasus Ghadir Khoum ini terdapat pengangkatan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib A.S, maka umat Syiah lebih mena ruh perhatian kepada hari dan hadits ini. Tetapi, kandungan hadits AlGhadir tida k hanya menyangkut masalah pengangkatan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib sebag ai khalifah, melainkan juga mengandung muatan-muatan lain yang bisa digunakan ol eh umat Islam lainnya. Mengenai prinsip terjadinya peristiwa AlGhadir, sudah sepatutnya semua orang yan g berminat kepada masalah-masalah sejarah Islam mengetahui bahwa masalah Ghadir Khoum adalah satu masalah yang diakui dan tidak diragukan kebenarannya. Bukan ha nya orang Syiah yang meriwayatkannya. Para ahli hadits Sunni maupun Syiah, baik pada periode terdahulu maupun periode pertengahan dan setelahnya, telah meriwaya tkan peristiwa yang terjadi dalam perjalanan Haji Wada Rasul di Ghadir Khoum. Rom bongan besar umat Islam yang turut menunaikan haji bersama Rasul dalam perjalana n ini sebagian ada yang di depan. Rasul mengirim para kurir kepada mereka yang a da di depan supaya kembali ke belakang dan berhenti agar mereka yang berada di b arisan belakang tiba di tempat. Rapat akbar pun terjadi. Sebagian orang mengatakan jumlahnya 90 ribu, sebagian l agi mengatakan 100 ribu, ada pula yang mengatakan 120 ribu. Di saat cuaca panas, masyarakat Jazirah Arab yang sebagian besar adalah penghuni gurun sahara dan de sa-desa yang terbiasa dengan cuaca panas bahkan ada yang tidak tahan dengan pana s cuaca saat itu. Mereka berdiri di atas tanah yang panas menyala. Mereka meleta kkan pakaian aba ah di bawah kaki supaya tahan panas. Hal ini juga disebutkan dala m riwayat-riwayat Ahlussunah. Dalam situasi seperti ini, Rasululllah SAWW menampilkan Amirul Mukminin di depan mata orang-orang kemudian berkata: "Barang siapa menjadikan aku sebagai pemimpinya, maka Ali-lah pemimpinnya. Ya Al lah tolonglah orang yang menolongnya, dan musuhilah orang yang memusuhinya." Kata-kata ini tentunya juga beliau utarakan sebelum dan sesudahnya. Tetapi masal ahnya yang terpenting ialah bahwa di sini beliau mengutarakan secara resmi dan t egas masalah wilayat (kepemimpinan), yakni masalah pemerintahan Islam serta menu njuk Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib sebagai figur pilihan. Seperti yang tent u pernah Anda dengar dan pernah pula saya utarakan, saudara-saudara kita dari ka langan Ahlussunah juga meriwayatkannya dalam puluhan kitab-kitab muktabar mereka , dan bukan dalam satu atau dua kitab saja. Riwayat-riwayat ini sudah dihimpun o leh Almarhum AlAllamah AlAmini. Selain beliau, juga banyak para penulis yang men catatnya dalam jumlah kitab yang besar. Atas dasar ini, pertama-tama hari ini ad alah hari wilayat (kepemimpin), dan kedua adalah hari kepemimpinan Ali bin Abi T halib. Dalam kalimat yang diucapkan Rasul ini, apakah makna wilayat? Secara ringkas, ma knanya ialah bahwa Islam tidak terbatas hanya pada solat, puasa, zakat, dan amal -amal ibadah individual. Islam juga memiliki sistem politik dan pemerintahan yan g berlandaskan ketentuan-ketentuan yang sudah dipertimbangkan. Dalam terminologi Islam, pemerintahan Islam ialah wilayat. Dalam bentuk bagaimanakah wilayat itu? Wilayat ialah suatu pemerintahan di mana sosok yang berkuasa memiliki ikatan-ik atan cinta, batin, pemikiran dan akidah dengan segenap lapisan masyarakat. Makna wilayat bukanlah pemerintahan yang dipaksakan, pemerintahan yang disertai kudet a, pemerintahan yang penguasanya tidak menerima akidah rakyatnya, tidak mementin gkan pikiran-pikiran dan sensibilitas rakyatnya, dan bahkan pemerintahan yang su dah umum ditengah masyarakat sebagaimana pemerintahan-pemerintahan yang ada di du nia sekarang ini- dimana penguasanya menikmati berbagai fasilitas khusus dan per l! akuan istimewa serta terdapat zona khusus untuknya guna mendapatkan kenikmata n-kenikmatan duniawi. Wilayat adalah pemerintahan yang didalamnya terdapat ikatan-ikatan pemikiran, ak idah, kasih sayang, kemanusiaan, dan cinta antara penguasa dan rakyat. Pemerinta han dimana rakyat bersambung dan bergabung dengan penguasa, menaruh simpati kepa danya, dan penguasanya pun menganggap sumber seluruh sistem politik beserta tuga

s-tugasnya ini adalah dari Allah, serta memandang dirinya sebagai hamba dan abdi Allah. Dalam wilayat tidak ada aroganisme. Pemerintahan yang diperkenalkan oleh Islam lebih merakyat daripada demokrasi-demokrasi yang popular di dunia. Pemeri ntahan ini memiliki ikatan dengan pikiran, perasaan, akidah dan berbagai kebutuh an pemikiran rakyat. Pemerintahan adalah untuk melayani masyarakat. Secara materi, pemerintahan tidak boleh dipandang sebagai santapan untuk diri pe nguasa dan komponen pemerintahan. Bermegah-megahan bukanlah wilayat. Bukanlah so sok pemimpin orang yang berada di pucuk pemerintahan Islam kemudian mengincar ma teri demi kekuasaan, demi dirinya, demi kedudukan yang sudah dan akan dicapainya . Dalam pemerintahan Islam sosok wali amr yaitu orang yang diserahi urusan menge lola sistem politik secara hukum sederajat dengan orang lain. Dia memang berhak untuk melaksanakan berbagai pekerjaan besar untuk rakyat, negara, Islam dan umat Islam, namun dia sendiri juga berada di bawah hukum. Sejak hari pertama hingga sekarang, khususnya setelah berdirinya pemerintahan Re publik Islam, terdapat orang-orang yang menyelewengkan makna wilayat. Wilayat di perkenalkan sebagai sesuatu yang bukan apa adanya. Mereka katakan makna wilayat ialah bahwa rakyat itu terlarang dan memerlukan ketua dan pemimpin. Orang-orang yang punya nama secara tegas menulis sedemikian ini di dalam buku-buku dan artik el-artikel mereka. Ini adalah dusta belaka dan merupakan fitnah kepada Islam dan wilayat. Dalam AlGhadir, masalah wilayat diutarakan Rasul sebagai satu masalah resmi, dan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ditunjuk sebagai substansinya. Tentu saja te rdapat banyak rincian dalam masalah ini, dan Andapun mengetahuinya. Dan kalau ma sih ada orang yang tidak mengetahui rincian itu, khususnya para pemuda, maka hen daknya merujuk kepada berbagai tulisan dan kitab argumentatif dan ilmiah. Dalam hal ini berbagai kitab sudah ditulis dan bermanfaat. Dalam permulaan tahun ini saya sudah mengemukakan seruan persatuan nasional dan keamanan nasional. Mengenai dua seruan ini, saya berminat untuk menjelaskan dua materi ringkas kepada hadirin yang mulia serta kepada segenap masyarakat Iran. M asalah Ghadir Khoum bisa dijadikan sebagai sumber persatuan, sebagaimana yang di ungkapkan oleh Almarhum Ayatullah Syahid Mutahari dalam artikelnya yang berjudul Ghadir Khoum dan Persatuan Islam . Beliau menyebut kitab AlGhadir yang membicaraka n berbagai persoalan menyangkut peristiwa Ghadir Khoum sebagai salah satu poros persatuan Islam. Dan ini memang benar. Kelihatannya mungkin aneh, tetapi inimerupakan kenyataan. Masalah AlGhadir, sela in aspek dimana Syiah menerimanya sebagai keyakinam, yaitu penobatan Amirul Mukm inin oleh Rasul sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits AlGhadir, juga mengemuk akan masalah wilayat yang merupakan masalah lintas Sunnah dan Syiah. Jika sekara ng ini umat Islam dunia dan bangsa-bangsa di negara-negara Islam meneriakkan ser uan wilayat Islami, niscaya sebagian besar jalan keluar tidak akan hilang, berba gai kebuntuan umat Islam akan terbuka dan berbagai dilematika dunia Islam akan s egera teratasi. Masalah pemerintahan, sistem, dam otoritas politik adalah salah satu masalah yan g tersulit untuk berbagai negara. Sebagian negara terbentur kepada despotisme da n diktatorial, kepada pemerintahan yang korup, kepada pemerintahan yang rentan, dan kepada pemerintahan boneka. Jika pemerintahan Islam sesuai maknanya yang hak iki, yakni wilayat, ditampilkan sebagai satu syiar untuk umat Islam, maka kelema han akan terobati, begitu pula masalah ekonomi, masalah status sebagai negara bo neka, dan masalah diktatorial. Atas dasar ini, bendera wilayat adalah satu bende ra Islami. Kepada segenap saudara-saudara dari kalangan Syiah dan Sunni di negara kita ini u ntuk sementara ini sengaja saya kemukakan batasan geografis-, saya menghimbau su paya masalah AlGhadir ditinjau dengan kacamata ini, serta menaruh perhatian kepa da bagian dari hadits dan masalah AlGhadir ini. Saudara-saudara kita dari kalang an Ahlussunah hendaknya juga merayakan hari raya AlGhadir, hari raya wilayat, se bagaimana kami. Hari ini adalah merupakan asal kelahiran masalah wilayat, karena itu hari ini sangatlah penting, sebagaimana pentingnya wilayat Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib yang disepakati bersama oleh kita dan saudara-saudara kita da ri kalangan Sunni. Baik pada masa pasca kemenangan revolusi maupun pada masa pra revolusi, saya sel

alu meyakini bahwa Syiah dan Sunnah sudah seharusnya menyingkirkan pertikaian la manya dalam pergaulan mereka sehari-hari. Konfrontasi dan perdebatan harus disin gkirkan lalu merekatkan berbagai persamaan mereka. Ini sendiri juga merupakan sa lah satu dari berbagai kesamaan itu. Sampai sekarang saya masih meyakini hal ini . Dewasa ini, banyak sekali upaya untuk menciptakan ikhtilaf antara Syiah dan Sunn ah. Namun orang-orang yang berpikir dan pandai menganalisis tentunya mengetahui keuntungan dan manfaat yang bisa diperoleh kaum mustakbirin dari upaya ini. Tuju an mereka ialah menceraikan Iran dari himpunan negara-negara Islam. Revolusi Isl am hanya terbatas pada teritorial Iran. Mereka menciptakan kondisi supaya Iran m endapat tekanan dari negara-negara Islam lainnya, serta mencegah bangsa-bangsa l ain mengambil pelajaran dari bangsa Iran. Kita harus benar-benar melawannya. Sia papun, baik dari lingkungan Sunnah maupun Syiah, yang membantu terjalinnya solid aritas dan komunikasi yang baik dan bersahabat antara Syiah dan Sunnah, maka ia telah melakukan pekerjaan yang menguntungkan revolusi, Islam dan cita-cita umat Islam. Dan siapapun yang berusaha menciptakan perpecahan, maka ia telah bergerak kepada arah yang berlawanan. Saya mendapat informasi jelas bahwa sekarang sebagian negara Islam yang tidak in gin saya sebutkan namanya menaruh dan menggunakan uang dari kotak-kotak dana yan g berkaitan dengan tujuan dan kehendak pihak-pihak asing, khususnya untuk menuli s buku-buku yang mendiskreditkan Syiah, akidah Syiah, dan sejarah Syiah yang kem udian dipublikasikan ke Dunia Islam. Apakah mereka itu memang bersimpati kepada Ahlussunnah? Tidak. Mereka tidak menghendaki Syiah, tidak pula Sunnah. Mereka ti dak bersahabat dengan Syiah maupun Sunnah. Namun, karena di Iran sekarang ini pe merintahan dan bendera Islam ada di tangan kelompok Syiah dan karena mereka mema ndang segenap komitmen rakyat Iran tertumpu pada Syiah, maka segala bentuk permu suhan mereka kepada revolusi tertumpu kepada revolusi Islam. Mereka berusaha mem berantas Syiah agar pemerintahan politik Islam dan bendera kehormatan ini tidak menjalar ke tempat-tempat lain dan menarik simpati kaum muda di negara-negara l ain.! Jangan sampai ada orang yang membantu pengkhianatan para musuh ini. Siapap un, baik di negara kita, di lembaga-lembaga Islam, di kalangan Syiah maupun dian tara saudara-saudara kita dari kalangan Ahlussunah di negara kita, jangan sampai ada yang melakukan tindakan yang membantu ambisi kaum mustakbirin untuk mencipt akan kebencian dan permusuhan. Dengan pernyataan ini, tentu saja kami tidak bermaksud mengatakan supaya orang S yiah menjadi Sunni, atau orang Sunni menjadi Syiah, juga bukan supaya orang Syia h dan Sunni tidak lagi melakukan kegiatan ilmiah sesuai dengan kemampuannya untu k memperkuat akidah mereka. Kegiatan ilmiah kebetulan baik sekali. Sama sekali t idak ada masalah. Silahkan mereka menulis buku-buku ilmiah dan dalam lingkungan ilmiah, bukan dalam lingkungan non-ilmiah, apalagi dengan nada yang tercela dan keras. Dengan demikian, jika seseorang bisa membuktikan logikanya, maka kita tid ak boleh mencegah kegiatannya. Namun, jika seseorang menghendaki perpecahan deng an kata-kata, tindakan dan berbagai macam cara, maka kita menganggapnya sebagai melayani musuh. Orang-orang Sunni harus waspada, begitu pula orang-orang Syiah. Persatuan nasional yang kami katakan tadi juga meliputi masalah ini. Perlu juga saya ungkapkan di sini bahwa dewasa ini terdapat orang-orang yang mem perlakukan persatuan nasional bukan sebagai semboyan-semboyan agamis, melainkan mencemarinya dengan slogan-slogan politik belaka. Kami sudah menasehati mereka d an sekarang pun kami juga menghimbau supaya persatuan bangsa yang besar dan bers atu ini jangan sampai goyah. Memisahkan bangsa yang besar ini satu dengan yang l ain adalah tindakan melayani musuh bangsa ini. Jika bangsa yang besar dan matang ini memelihara persatuan nasional di negeri ini, niscaya akan tercipta peluang untuk persatuan bangsa-bangsa lain. Jika umat Islam yang berjumlah sekitar satu setengah milyar ini bersatu dalam berbagai persoalan prinsipal mereka, maka bisa Anda lihat betapa besarnya kekuatan yang akan tercipta di dunia ini. Namun, jik a persatuan nasional ternyata retak, maka bicara soal persatuan Dunia Islam adal ah omongan yang fiktif dan mengundang tawa semua orang. Sebagian orang mengingin kan! supaya ini terjadi. Bagaimanakah persatuan nasional bisa dipenuhi? Salah satu hal yang bisa menjamin persatuan nasional ialah bahwa orang-orang yang kata-katanya punya pengaruh di

tengah masyarakat, atau para pejabat dan figur-figur agamawan dan rohaniwan hend aknya tidak memberikan pernyataan yang mengotori perasaan sekelompok masyarakat kepada kelompok-kelompok lain. Mereka jangan sampai membangkitkan fitnah. Memban gkitkan fitnah dan membuat masyarakat saling curiga adalah salah satu bahan prog ram para musuh terhadap bangsa ini. Radio-radio asing dan pusat-pusat pemberitaa n ini mungkin bisa dikatakan bahwa separoh dari pernyataan-pernyataan mereka sud ah direkayasa supaya satu kelompok masyarakat tertentu berburuk sangka kepada ke lompok yang lain. Mereka duduk dan merancang pernyataan sedemikian rupa agar pun ya pengaruh. Orang-orang yang bekerja dengan lisan dan pena pertama-tama harus waspada agar a pa yang mereka nyatakan jangan sampai menciptakan prasangka buruk, jangan sampai menjadikan masyarakat saling berburuk sangka dan pessimis kepada pemerintah, ka rena hal ini juga merupakan satu bentuk tindakan membangkitkan fitnah dan perbua tan dosa lain. Sebagian orang sangat berkepentingan dengan pembuatan isu, membik in-bikin berita, mendistorsi berita, dan boleh jadi asal usul beritanya benar, n amun berita ini dikemukakan sedemikian rupa agar materinya yang tidak sesuai den gan kenyataan bisa ditanamkan pada persepsi lawan bicaranya, agar hati rakyat, p ara pemuda, para pembaca dan pendengarnya berburuk sangka kepada para pejabat pe merintah, dan supaya orang-orang mengalami keragu-raguan. Apa untungnya perbuatan ini? Perbuatan ini tidak mendatangkan hasil apapun kecua li menghambat laju perkembangan bangsa dan negara, membuat pemerintah ragu-ragu dalam bekerja, membuat rakyat frustasi kepada masa depan, dan merampas kekuatan optimisme yang besar dari tangan rakyat. orang berusaha menciptakan prasangka bu ruk orang-orang lain kepada pemerintahan secara keseluruhan atau kepada sebagian pejabat pemerintah. Padahal, kalau memang ada pernyataan yang benar, maka perny ataan ini bisa menghasilkan pengaruh yang jauh lebih baik jika disalurkan melalu i jalur tertentu kepada pejabat atau kepada pejabat yang ada di atasnya. Ketika suatu peristiwa terjadi, kasus teror terjadi, kejahatan terjadi di suatu tempat, terdengarlah pernyataan yang sedemikian menyimpang, menimbulkan kecurigaan, dan membangkitkan keheranan para pembaca pernyataan orang-orang yang sama sekali ti dak memiliki tanggungjawab. Coba lihat, betapa mereka yang memberitakan tentang fakt! a-fakta yang ada itu ternyata sangat jauh atau memang sengaja menjauhi fak ta. Ini semua adalah masalah-masalah yang merusak persatuan nasional. Atas dasar ini, persatuan nasional adalah salah satu aspirasi yang paling mendasar dari se buah bangsa. Sebuah bangsa akan maju jika bersatu dalam memasuki gelanggang ekonomi dan terja di peperangan. Dengan persatuan nasional wibawa bangsa akan lebih terpelihara. D i bawah naungan persatuan suatu bangsa akan berhasil meraih segala cita-cita bes arnya. Perselisihan, perpecahan, hati yang saling tercerai, membenturkan berbaga i kelompok dan tokoh tidak akan bisa memberikan pengabdian. Dengan demikian, ini merupakan satu prinsip yang mudah-mudahan bisa dijaga oleh kita semua. Ini adal ah harapan kami kepada para pejabat yang berurusan dengan opini khalayak umum. Materi kedua ialah materi keamanan nasional. Keamanan nasional sangatlah penting . Keamanan nasional tentunya mencakup keamanan dalam dan luar negeri. Keamanan l uar negeri ialah menyangkut keamanan negara yang terancam dari arah kekuatan-kek uataan di luar perbatasan, atau tentara militer yang menyerang perbatasan suatu negara seperti beberapa perang yang pernah terjadi, atau berupa serangan politik dan propaganda terhadap sebuah negara yang adakalanya menimbulkan kekacauan dan kerusuhan. Hal ini berulang kali terjadi di pelbagai negara sehingga menimbulka n berbagai kesulitan. Keamanan dalam negeri merupakan upaya dalam skala besar ya ngmana jika segenap pejabat terkait bekerja dengan mengerahkan segenap kemampuan nya akan sanggup menjamin aspirasi besar ini. Maka dari itu, keamanan bukanlah m asalah kecil. Seperti yang pernah saya katakan pada awal tahun, jika keamanan tidak ada, maka aktivitas ekonomi juga tidak akan ada, keadilan sosial tidak akan ada, pengetahu an dan kemajuan ilmu pengetahuan tidak akan terjadi, semua sektor sebuah negara secara bertahap akan porak poranda. Dengan demikian, keamanan merupakan tonggak dan fondasi. Dalam masalah keamanan tentu ada contoh-contoh yang tidak begitu krusial, sepert i ketidak amanan yang dialami oleh segenap masyarakat dalam kehidupan sehari-har

inya, atau pernah didengarnya dari orang-orang lain. Ini adalah sesuatu yang kal au toh penting, namun tidak terlalu mengancam. Contohnya ialah pencurian, walaup un aparat keamanan tetap harus mencegahnya. Pencurian adalah masalah yang tentu harus dicegah dengan serius oleh aparat kepolisian. Sejumlah orang mengacaukan k eamanan rumah tangga orang lain demi tujuannya yang terselubung dan hina. Ini me rupakan satu contoh untuk ketidak amanan, namun ini bukanlah contoh utama. Ini m erupakan ketidak amanan dari orang-orang yang cuek, jahat dan hina yang tentunya menimbulkan dampak buruk dan mengganggu keamanan lingkungan. Ini juga merupakan ketidak amanan. Di kanan kiri kita terdapat laporan-laporan yang tentunya sebagian dari Anda sud ah pernah melihat atau mendengarnya. Orang-orang yang tidak komitmen kepada UU d an ketentuan adalah orang-orang jahat yang menciptakan ketidak amanan di berbaga i tempat dan di majalah-majalah terhadap bangsa serta kehormatan dan wibawa masy arakat. Aparat kepolisian dan badan legislatif bertanggujawab menindaklanjuti ke kejian dan kebrutalan para pengacau keamanan lingkungan dan urusan masyarakat, s upaya mereka yang menjadikan titik kelemahan yang ada sebagai batu loncatan itu jangan sampai berpikir bahwa mereka berhak melakukan segala kesalahan dan perbua tan-perbuatan menyimpang. Mereka harus tahu bahwa mengacaukan kemanan lingkungan hidup masyarakat hukumannya bukan hanya meringkuk di dalam tahanan dalam waktu singkat. Islam memberikan hukuman yang lebih berat untuk para pengacau keamanan dan mereka yang menakut-nakuti masyarakat. Jika hukum Ilahi diterapkan kepada mereka dan para pencuri, khususnya mereka yan g menjadikan pekerjaan ini sebagai profesi, tentu hukum ini akan punya pengaruh besar. Tak usah mereka memperhatikan sebagian apa yang dianggap tabu di dunia se rta berbagai gelombang propaganda, tetapi coba lihat apa itu hukum Allah? Hukum Allah menentukan segala sesuatu pada tempatnya dan sesuai dengan kadarnya. Kekac auan di bidang ekonomi juga merupakan bagian dari ketidak amanan. Mereka mengaca ukan lingkungan ekonomi. Jika ada orang yang memiliki modal kecil, maka mereka m enghancurkan modal-modal kecil dan fasilitas rakyat dengan tindakan-tindakan ile gal dan kelicikan. Mereka merampasnya demi keuntungan mereka sendiri. Selagi ada kesempatan, mereka tidak bosan melakukan penyalahgunaan-penyalahgunaan pribadi. Mereka mengacaukan lingkungan ekonomi. Coba Anda perhatikan, jika kondisi ekonomi dalam sebuah negara sakit, maka salah satu penyakitnya ialah adanya celah-celah pelarian dari hukum yang bisa dimanfa atkan oleh orang-orang tertentu untuk memenuhi kantong-kantong mereka. Mereka me rebut fasilitas masyarakat dan pemerintah demi interes dan kedudukan mereka. Masalah yang lebih krusial ialah ketidak amanan sosial yang pada hakikatnya keti dak amanan nasional banyak berkaitan dengan masalah ini. Mereka mengacaukan keam anan lingkungan kerja, lingkungan ilmu, lingkungan mahasiswa. Sebelumnya pernah saya singgung bahwa seorang pejabat AS sebulan lalu menyatakan di Iran bakal ter jadi kekacauan. Ini juga merupakan ketidak amanan. Mereka mempunyai berbagai pro gram. Karena itu, segenap komponen masyarakat harus waspada. Orang-orang yang ba nyak mendapat gelombang konspirasi mereka juga harus waspada. Sejak awal revolusi hingga sekarang, musuh sudah berkali-kali berusaha mengacauk an lingkungan kerja. Mereka berusaha menciptakan aksi mogok agar tenaga kerja be rhenti melakukan kegiatan konstruktif di dalam negeri. Kendati sampai sekarang t idak pernah bisa, mereka tetap merancangnya. Mereka juga mengacaukan keamanan di dalam berbagai universitas. Mereka sudah mencobanya dalam satu dua kasus, tetap i mahasiswa sendiri telah menampar mulut musuh. Namun, boleh jadi musuh pernah b erhasil di tempat-tempat tertentu. Upaya mereka ialah menghentikan aktivitas, ke giatan dan usaha di dalam kelas dan membuat para dosen dan mahasiswa menganggur, dengan cara menyulut ketegangan dan kerusuhan atas nama semboyan, unjuk rasa ds b. Semua orang mengetahui bahwa para mahasiswa kita memiliki potensi yang cemerlang . Di tengah kegiatan para mahasiswa, kita melihat hal-hal yang memang benar-bena r membangkitkan harapan dan sinyalemen cerahnya masa depan. Salah satu pekerjaan musuh ialah menciptakan ketidak amanan di lingkungan universitas. Yakni mereka melakukan tindakan untuk mempersulit dan memustahilkan kegiatan belajar, sekolah , mengajar dan kegiatan di laboratorium, atau mereka berusaha merusak keamanan k ota sebagaimana yang pernah terjadi di Teheran pada tanggal 12 dan 13 Juli 1999,

dimana jiwa para pemuda, anak kecil, para wanita, para pejalan kaki dan orangorang yang berada di balik jendela rumahnya terancam bahaya. Mengapa? Karena seb agian orang lebih mementingkan aksi turun ke jalan-jalan dan menciptakan kerusuh an dengan melancarkan gerakan kekerasan dan pembangkangan. Mereka membakari kend araan bermotor atau memecahkan kaca-kaca. Kemudian mereka membuat-buat alasan. Tetapi alasan manakah yang membolehkan seke lompok orang menciptakan kerusuhan di sebuah negara yang merupakan rumah mereka sendiri -ini bukan rumah orang asing-? Di saat peristiwa seperti ini terjadi, pe tugas keamanan, pasukan militer, dan pasukan sukarelawan tentu tidak akan diam b erpangku tangan. Siapakah yang harus waspada di depan kseperti ini? Jawabannya t ak lain ialah masyarakat sendiri, para pemuda sendiri, para aparat sendiri, para mahasiswa sendiri dan lingkungan-lingkungan yang menjadi sasaran aksi makar ini sendiri. Haruslah diperhatikan, kalau mereka melihat seseorang tampil ke depan untuk mengompori situasi, maka orang itu harus ditangkap. Ketahuilah, mulut musu hlah yang sedang berkoar, suara musuhlah yang keluar dari kerongkongan orang ini . Sebagaimana di Rahbar: Sebagai Biang Krisis Timteng, Rezim Zionis Harus Dienyahkan Masa depan Palestina harus diperjuangkan sendiri oleh rakyat sipil Palestina mel alui gerakan intifadah, karena para elit politik formal Palestina terbukti sanga t permisif, enggan menjadikan semangat Islam sebagai basis dan bahkan berkolusi dengan Israel. Rezim Zionis ini tidak layak dijadikan lawan dalam dialog dan per undingan karena bermaksud menghapus bangsa Palestina dari lembaran sejarah. Seba gai biang krisis, rezim ini harus dimusnahkan untuk kemudian ditampilkan pemerin tahan yang dikehendaki rakyat Palestina sendiri. Demikian ditegaskan Rahbar dala m upacara pasukan sukarelawan Iran (Basij) Jumat 20 Oktober 2000 di sebuah tanah lapang di sekitar kota suci Qum. Berikut ini adalah bagian akhir pidato beliau upacara tersebut: Hadirin yang mulia, di Palestina pun juga terdapat pasukan rakyat (basij). Basij di Palestina yang sekarang menyedot perhatian dunia terjadi tatkala nasib persoa lan Palestina berada di tangan sejumlah elit politik tertentu sedangkan rakyat t idak terlibat di dalamnya dan suara para pemuda tidak digubris. Nasib Palestina itu tak lain ialah kehinaan yang datang susul menyusul, mengalah dan mengalah, m emberikan kesempatan kepada musuh, meninggalkan kubu-kubu pertahanan satu persat u untuk kepentingan musuh yang otoriter, agresor, arogan, dan bobrok. Basij terj adi manakala rakyat dikesampingkan. Para elit politik itu mengabaikan motivasi-motivasi hakiki yaitu motivasi keimana n yang telah mengeruk kepedulian rakyat. Sudah puluhan tahun mereka mengulur mas alah Palestina. Pada awal-awal revolusi, sudah saya pertanyakan kepada salah seo rang pemimpin Palestina yang datang ke Iran; Mengapa Anda tidak menyuarakan sloga n keislaman? Dia malah meminta uzur yang tak ada maknanya. Mereka memang tidak me nghendakinya. Hati mereka memang tidak menaruh keyakinan kepada Islam. Namun, su dah 12 atau 13 tahun lebih rakyat Palestina terjun sendiri ke lapangan dengan se mboyan-semboyan Islam sehingga musuh segera menyadari persoalan yang terjadi. Ketika intifadah di Palestina bermula pada dekade lalu, para musuh yaitu kaum Zio nis dan rekan-rekan mereka dari AS segera merasakan bahaya yang mengancam mereka . Mereka memastikan bahwa gerakan ini harus dilenyapkan karena mengatasnamakan I slam. Mereka bermaksud menanganinya namun mereka tidak sanggup. Rezim Zionis di tanah pendudukan Palestina adalah rezim yang rasialis. Ini adalah rezim yang diciptakan oleh kekuatan-kekuatan politik dan ekonomi dunia. Pada pr insipnya, rezim ini diciptakan untuk membendung persatuan dan kejayaan Dunia Isl am. Mereka tidak menghendaki umat Islam membentuk kesatuan besar yang bakal memb ahayakan mereka. Untuk inilah rezim Zionis diciptakan. Karena itu, mana mungkin rezim ini bisa diharapkan berlaku adil. Polos sekali orang-orang yang beranggapa n bisa berunding dengan rezim Zionis karena bagi Israel setiap perundingan tak u

bahnya dengan terbukanya satu kesempatan untuk melangkah maju. Orang-orang ini d ulu membantu terjadinya perundingan-perundingan dengan Israel, tetapi sekarang m engaku membela Masjidil Aqsha. Inilah jadinya ketika seseorang tidak tahu apa ya ng harus diperbuat di depan sosok kekuatan yang represif kemudian rela ditekan A S dan kaum Zionis. Akhirnya, rakyat sendirilah yang tampil ke lapangan. Tiga pekan lalu, kedatangan seorang Zionis yang najis dan terkutuk ke Masjidil Aq sha telah menghilangkan kesabaran rakyat Palestina. Andaikata saat itu para pemi mpin yang mengaku peduli terhadap masalah Palestina atau para pemimpin negara-ne gara Arab melakukan protes, rakyat Palestina pasti akan merasakan adanya orang y ang meneriakkan suara mereka. Namun, masyarakat melihat bahwa mereka sendirilah yang harus terjun ke lapangan. Sekarang ini sudah tiga pekan berkobar api perlaw anan di tanah-tanah Palestina. Saya katakan kepada para pemuda Palestina; Ketahui lah bahwa kalian adalah adalah generasi yang sadar, generasi yang tampil di lapa ngan (Gerakan) mereka tidak mungkin bisa dipadamkan dengan bualan. Sekelompok ora ng telah melakukan kejahatan dan pembunuhan yang menggugurkan sejumlah para pemu da yang teraniaya. Namun, tumpahnya darah mereka adalah air yang menyuburkan keb angkitan dan revolusi Palestina. Ini bukanlah satu masalah yang bisa ditangani k ekuatan arogan AS atau negara bonekanya, Rezim Zionis. Sebuah bangsa telah diusir dari rumah, tanah air, dan negeri mereka, sedangkan me reka yang tersisa di negeri ini dianggap asing. Bangsa yang seperti ini mana mun gkin akan diam. Kekuatan-kekuatan arogan mencap Iran Islami sebagai penentang pr oses perdamaian. Kami memang menentangnya. Tapi perlu kalian (AS dan Zionis) ket ahui bahwa seandainya Iran Islami pun tidak menentangnya dan seandainya tidak ad a satupun bangsa dan negara dunia yang membantu bangsa Palestina, tetap merupaka n ilusi kosong jika kalian berangan-angan bahwa ada satu bangsa yang bisa dihapu s dari lembaran sejarah kemudian digantikan dengan satu bangsa buatan. Bangsa Pa lestina adalah bangsa yang berbudaya, bersejarah, memiliki latar belakang, dan b erperadaban. Sudah ribuan tahun mereka tinggal di Palestina. Kemudian kalian dat ang mengusir mereka dari rumah, kampung halaman, dan lembaran sejarah mereka, la lu kalian mendatangkan kaum imigran, orang-orang galandangan dengan aneka ragam bangsa, dan orang-orang yang cuman mencari keuntungan untuk kalian jadikan sebua h bangsa. Ini tidak mungkin bisa berlanjut, dan sekarangpun sudah terlihat tanda -tandanya. Kata-kata awal saya mengenai Palestina ialah bahwa tidak ada satupun kekuatan di dunia ini yang sanggup memadamkan cita-cita kebebasan dan kembalinya Palestina k epada para pemiliknya di hati umat bangsa-bangsa muslim, khususnya bangsa Palest ina. Hanya ada satu jalan untuk menanganinya. Sebagian orang melihat masalah Tim teng sebagai krisis dunia dan mengatakan bahwa kita harus berusaha mengendalikan krisis Timteng. Kita tanyakan, cara apakah yang dapat memadamkan krisis Timteng ? Hanya ada satu cara, dan itu ialah mematikan akar krisis. Apakah itu akarnya? Akarnya ialah rezim Zionis yang keberadaannya dipaksakan di Timteng. Krisis teta p akan menyala selagi akarnya masih berwujud. Jalan penyelesaiannya ialah pemula ngan para pengungsi Palestina dari Lebanon dan dari berbagai wilayah lain yang m ereka tinggali. Jutaan warga Palestina yang hidup di luar bumi Palestina harus k embali ke Palestina. Penduduk asli Palestina, baik muslim, Kristen maupun Yahudi harus menyelenggarakan referendum untuk memutuskan rezim manakah yang harus ber daulat di negara mereka. Penduduk asli Palestina adalah mayoritas mutlak warga muslim beserta sejumlah min oritas warga Yahudi dan Kristen. Orang-orang tua mereka hidup di Palestina. Yang perlu diterapkan adalah pemerintahan yang dikehendaki warga Palestina. Setelah itu, pemerintahan inilah yang akan mengambil keputusan untuk menyikapi orang-ora ng yang mendatangi Palestina dalam kurun waktu 40, 45, atau 50 tahun. Kalau mere ka mau dibiarkan atau dipulangkan atau ditempatkan di lokasi tertentu, itu semua adalah hak pemerintah yang berdaulat di Palestina tersebut. Inilah jalan penyel esaian krisis, dan tidak ada jalan lain. AS pun, dengan segala kemampuannya, jug a tidak akan sanggup berbuat suatu apapun. Apa yang bisa ia lakukan sudah ia lak ukan, tetapi hasilnya ialah seperti yang dapat kalian saksikan sekarang. Kalian

(AS dan Israel) tentu berang menyaksikan kebangkitan para pemuda, kegagah berani an kaum lelaki dan wanita (Palestina) serta semangat dan tekad rakyat yang teran iaya dan marah tersebut. Mereka (AS dan Israel) selalu ingin cuci tangan dari dosa-dosa mereka. Tetapi, Re publik Islam Iran bukanlah pihak yang membangkitkan Palestina dan rakyat Lebanon . Yang menyebabkan kebangkitan dan intifadah adalah bangsa Palestina sendiri bes erta penderitaan dan kegundahan yang sudah terakumulasi dalam diri generasi muda Palestina yang kini terjun ke lapangan dengan penuh harapan dan semangat. Kami memang menyanjung mereka dan menganggap mereka sebagai bagian dari diri kami. Ka mi memandang Palestina sebagai bagian dari tubuh Islam. Kami merasakan para pemu da Palessebagai saudara sedarah kami. Namun demikian, mereka sendirilah yang ten gah melakukan intifadah. Perjanjian-perjanjian yang dijalin di Syarmussyaikh dan lain sebagainya antar pih ak-pihak yang tak bertanggungjawab juga tidak memberikan efek apapun. Ini semua justru akan menjadi bahan yang memalukan para penjalin perjanjian-perjanjian ter sebut. Dalam waktu dekat ini KTT Arab akan digelar. Saya merasa perlu memberikan himbaua n kepada para pemimpin negara-negara Arab mengenai tanggungjawab besar yang mere ka hadapi sekarang. Harapan umat Islam sekarang ini terarah kepada para pemimpin Arab. Dalam KTT Syerm El-Syaikh, AS berusaha berbuat sesuatu yang kiranya dapat mempengaruhi KTT Arab. Keputusan apapun yang bakal diambil dalam KTT Arab akan menjadi vonis yang kekal dalam sejarah. Para pemimpin Arab bisa meraih kebanggaa n abadi untuk mereka sendiri dalam KTT ini dengan mengambil keputusan yang benar . Sungguhpun demikian, masalah Palestina tetap tak akan teratasi dengan konferen si-konferensi seperti ini. Hanya saja, konferensi-konferensi ini dapat menyodork an kepada dunia apa yang dituntut oleh bangsa Palestina. Tuntutan bangsa Palesti na yang paling kritis dan mendesak ialah diadilinya para pelaku pembunuhan bangs a Palestina dalam tiga pekan ini di mahkamah Islam atau Arab. Sosok najis yang t elah melukai perasaan umat Islam dengan mendatangi Masjidil Aqsha harus diadili. Kota Baitul Maqdis harus dibersihkan secara total dari kaum Zionis, bangsa Pale stina harus dibiarkan menentukan sendiri nasib dan masa depan mereka sendiri den gan penuh kebebasan. Ini semua adalah tuntutan-tuntutan kritis yang bisa dikemuk akan oleh para pemimpin negara-negara Arab. Kepada saudara dan saudariku bangsa Palestina saya serukan, teruskanlah jihad kal ian, lanjutkanlah keteguhan kalian! Ketahuilah bahwa tidak ada satupun bangsa ya ng dapat menggapai kehormatan, idenditas, dan kemerdekaannya kecuali dengan kete guhan dan perjuangan. Tidak akan ada musuh yang akan memberikan sesuatu kepada b angsa yang mengemis. Tidak ada bangsa yang dapat meraih sesuatu karena kelemahan dan tindakannya merunduk-runduk di depan musuh. Semua bangsa yang berhasil di d unia ini adalah bangsa yang memiliki kehendak, tekad serta keteguhan dan pantang merundukkan kepala. Sebagian bangsa tidak memiliki kemampuan seperti ini. Namun , bangsa yang menaruh keyakinan kepada Islam, kepada AlQuran, dan kepada janji A llah yang berbunyi: wal yansurunnallahu man yansuruhu (Dan Allah sungguh-sungguh akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya), pasti memiliki kemampuan ini. Himbauan lain dari saya ialah jangan sampai takluk kepada konspirasi musuh, karen a yang ditargetkan musuh sekarang ini ialah perselisihan di tengah barisan bangs a Palestina, dan ini bahkan juga ditargetkan oleh unsur-unsur pengkhianat Palest ina yang berkolusi dengan musuh. Elemen-eleman Hamas, Jihad Islam, dan Gerakan F ath yang diisi oleh kaum muda yang baru terjun ke lapangan, jangan sampai mening galkan gelanggang. Semuanya harus bahu membahu. Para pimpinan (Palestina) yang m embual untuk kepentingan musuh dan mengeluarkan instruksi, instruksinya sama sek ali tidak layak didengar. Segenap elemen bangsa Palestina harus berpadu dalam or ientasi semua kalangan yang ikhlas, mukmin, dan siap berkorban. Ketahuilah bahwa hati umat Islam menyanjung Bangsa Palestina yang kini menjadi pu

sat perhatian Dunia Islam. Umat Islam berdoa untuk mereka, dan jika pintu bantua n sudah terbuka, maka sekarang juga bantuan itu akan mengalir, baik di saat peme rintahnya menghendaki bantuan itu atau tidak. Umat Islam tidak akan membiarkan P alestina dan bangsa Palestina begitu saja. Umat Islam tidak akan memandang para pemuda Palestina dengan sebelah mata. Saya katakan pula kepada bangsa kami sendiri (Iran) bahwa berbanggalah dengan sem angat dukungan dan pengorbanan untuk saudara-saudara kalian bangsa Palestina. Al hamdulillah, di tengah Dunia Islam kalian unggul dalam memberikan dukungan secar a terbuka dan penuh kepada saudara-saudara kalian bangsa Palestina. Seluruh duni a mengetahui bahwa negara Iran yang Islami beserta segenap rakyat, pemerintah, k aum wanita dan lelaki di Iran sangat peduli dan peka terhadap masalah Palestina, dan kalau bisa mereka akan membantu. Betapa baiknya jika bantuan-bantuan keuang an dari masyarakat yang mampu dikumpulkan. Jika memang kita tidak bisa memberikan bantuan dari segi persenjataan dan tidak a da kemungkinan untuk mengirim tenaga manusia agar rakyat dan para pemuda bangsa ini dapat pergi ke sana, maka secara keuangan kita dapat mengirim bantuan kepada mereka demi mengobati sebagian penderitaan dan luka-luka yang mereka alami dan agar hati ibu-ibu mereka serta tekad ayah-ayah mereka terhibur oleh belas kasih ini. Kalian sudah menyaksikan sendiri bagaimana seorang bocah terbunuh dalam pel ukan ayahnya. Ini bukanlah satu-satunya kasus, melainkan bagian dari banyak kasu s-kasus lain. Sedemikian agungnya gerakan ini sehingga pengorbanan-pengorbanan ini tidak terlih at begitu besar di mata mereka sendiri, persis seperti pada masa perang yang dip aksakan (Irak terhadap Iran) dimana pengorbanan yang kalian berikan tidaklah tam pak dimata kalian sendiri. Namun, pengorbanan kalian telah mengundang decak kagu m dunia. Sekarang bangsa Palestina pun juga demikian. Pengorbanan tidaklah tampa k di mata mereka sendiri, namun dunia takjum menyaksikannya. Satu syahadah, sepe rti syahidnya seorang bocah dalam pelukan ayahnya, adalah badai yang menerjang h ati bangsa-bangsa dunia. Ini semua sangat bernilai. Ilahi, dalam kesempatan sebelum tengah hari Jumat ini, hari Wali dan Hamba SalihMu, Hazrat Hujjah Ibn AlHasan yang jiwa kami adalah tebusannya, kami bersumpah k epadanya, kepada keluarga Rasul, kepada wujud suci Rasul, dan kepada para auliya . Ilahi, berikan pertolongan-Mu kepada rakyat Palestina dan segenap pejuang umat Islam di seluruh pelosok dunia. Ilahi, jayakanlah, tolonglah, dan sukseskanlah bangsa Iran. Demi Muhammad dan kel uarganya, sukseskanlah dan teguhkanlah para pemuda sekarelawan (basij) kami dala m semua gelanggang. Musnahkanlah musuh-musuh Islam dan umat Islam. Teguhkanlah p ersatuan umat Islam dari hari ke hari. Ceriakanlah hati suci Waliyul Asr yang jiw a kami adalah tebusannya saat menyaksikan kami, menyaksikan pertemuan ini, dan m enyaksikan segenap bangsa Iran, khususnya kaum relawan basij. Relakan dan gembir akanlah jiwa suci Imam atas apa yang dilakukan oleh para pemuda mukmin ini. Lipu tkan doanya atas keadaan kami semua. Wassalamualaikum.Wr.Wb. Penterjemah: Moh. Mo esa [Penyiar IRIB - Teheran