Anda di halaman 1dari 45

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN


KOMODITAS MENTIMUN
(ASPEK BUDIDAYA)

Kelompok K1: Wahyu Dwi P Diki Yuse P Beti Purnama Yudhistira Wharta Rieke Yulian Sari 105040204111010 105040204111011 105040204111012 105040204111013 105040204111014

Putri Setya Rahmita 105040204111016

UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS PERTANIAN PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI MALANG 2011

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki kekayaan alam yang cukup melimpah. Teknologi Produksi Tanaman (TPT) adalah mata kuliah yang wajib diambil oleh mahasiswa Agroekoteknologi dan Agribisnis Fakultas Pertanian semester 3 angkatan 2010. Dalam mata kuliah ini mencakup 3 aspek, yaitu aspek budidaya, aspek hama dan penyakit tanaman, dan aspek tanah. Mata kuliah ini memiliki beban sebesar 6 sks. Di mana terdapat 2 sks untuk kuliah, 2 sks untuk tutorial dan 2 sks untuk praktikum. Praktikum dibagi menjadi dua yaitu praktikum dalam ruang, yang berisi tentang pembekalan untuk praktikum lapang dan dilaksanakan di dalam kelas, serta praktikum lapang yang yang dilaksanakan di kebun praktikum Ngijo. Praktikum lapang bertijuan untuk membentuk kemampuan dasar mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang didapat di dalam kelas. Dalam praktikum lapang, kelompok K1 mendapatkan komoditas mentimun. Dalam budidaya mentimun banyak factor penghambatnya,jadi sangat diperlukan pengetahuan dan pengalaman dalam budidaya mentimun agar dapat berhasil serta maksimal pertumbuhan mentimun kita.

1.2 Tujuan 1. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan hasil produksi dengan melakukan perlakuan budidaya tanaman mentimun. 2. Untuk mengetahui bagaimana hasil produksi tanaman mentimun dengan menggunakan teknologi tertentu. 1.3 Manfaat 1. Diharapkan dengan adanya praktikum ini mahasiswa dapat mengetahui bagaimana cara teknis budidaya tanaman secara langsung khususnya buah mentimun. 2. Diharapkan mahasiswa mampu memberikan perlakuan yang baik pada tanaman yang dibudidaya dengan pengalaman di lapang yang diperoleh.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Komoditas Mentimun merupakan salah satu jenis sayuran dari keluarga labu-labuan yang sudah populer di seluruh dunia. Menurut sejarahnya, tanaman mentimun berasal dari benua Asia. Beberapa sumber literatu rmenyebutkan daerah asal tanaman mentimun adalah Asia Utara, tetapi sebagian lagi menduga berasal dari Asia Selatan. Para ahli tanaman memastikan daerah asa ltanaman mentimun adalah India, tepatnya di lereng gunung Himalaya. Di kawasan ini diketemukan jenis mentimun liar yaitu Cucumis hardwichii Royle yang jumlah kromosomnya tujuh pasang (n = 14). Padahal jumlah kromosom mentimun pada umumnya adalah 2n = 2x = 24. Sumber genetik (plasma nuftah) mentimun yang lain diketemukan para ahli tanaman terdapat di Afrika Selatan. Dari kawasan India dan Afrika Selatan, pembudidayaan mentimun kemudian meluas kewilayah Mediteran. Mentimun merupakan tanaman herba setahun yang batangnya tumbuh menjala ratau merambat, berbulu halus dan berwarna hijau. Daunnya berwarna hijau, kasar, berjari tiga hingga tujuh. Bunganya merupakan bunga tunggal berbentuk lonceng dengan warna kuning. Buahnya secara umum bulat memanjang. Untuk mentimun local buahnya agak bulat dan berwarna hijau pucat dan kuning setelah tua. (Annonymous. 2011) 2.2 Karakteristik Komoditas Timun memiliki klasifikasi: Kingdom Divisio : Plantae : Spermatophyta

Sub division : Angiospermae Class Ordo Family Genus Species : Dicotyledonae : Cucurbitales : Cucurbitaceae : Cucumis : Cucumis sativus L

Mentimun (Cucumissativus L.; suku labu-labuanatau Cucurbitaceae) merupakan tumbuhan yang menghasilkan buah yang dapat dimakan. Buahnya biasanya dipanen ketika belum masak benar untuk dijadikan sayuran atau penyegar, tergantung jenisnya. Mentimun dapat ditemukan di berbagai hidangan dari seluruh dunia dan memiliki kandungan air yang cukup banyak di dalamnya sehingga berfungsi menyejukkan. Potongan buah mentimun juga digunakan untuk membantu melembabkan wajah serta banyak dipercaya dapat menurunkan tekanan darah tinggi. Habitus mentimun berupa herba lemah melata atau setengah merambat dan merupakan tanaman semusim: setelah berbunga dan berbuah tanaman mati. Perbungaannya berumah satu (monoecious) dengan tipe bunga jantan dan bunga hermafrodit (banci). Bunga pertama yang dihasilkan, biasanya padausia 4-5 minggu, adalah bunga jantan. Bunga-bunga selanjutnya adalah bunga banci apabila pertumbuhannya baik. Satu tumbuhan dapat

menghasilkan 20 buah, namun dalam budidaya biasanya jumlah buah dibatasi untuk menghasilkan ukuran buah yang baik. Buah berwarna hijau ketika muda dengan larik-larik putih kekuningan. Semakin buah masak warna luar buah berubah menjadi hijau pucat sampai putih. Bentuk buah memanjang seperti torpedo. Daging buahnya perkembangan dari bagian mesokarp,

berwarna kuning pucat sampai jingga terang. Buah dipanen ketika masih setengah masakdan biji belum masak fisiologi. Buah yang masak biasanya mengering dan biji dipanen, warnanya hitam. (Annonymous. 2011) 2.3 Syarat Tumbuh Ketimun dibudidayakan dimana-mana, baik di ladang, halaman rumah atau di rumah kaca. Tanaman ini tidak tahan terhadap hujan yang terus menerus. Pertumbuhan nyamemerlukan kelembaban udara yang tinggi, tanah subur yang gembur dan mendapat sinar matahari penuh dengan drainage yang baik. Ketimun sebaiknya dirambatkan kepara-para dan tumbuh baik dari dataran rendah sampai 1.300 m dpl. Tanaman ini diduga berasal dari daerah pegunungan Himalaya di India Utara a. Iklim

b.

Ketinggian tempat : 1 m - 1.000 m di atas permukaan laut Curah hujan tahunan : 800 mm - 1.000 mm/tahun Bulan basah (di atas 100 mm/bulan) : 5 bulan - 7 bulan Bulan kering (di bawah 60 mm/bulan) : 4 bulan - 6 bulan Suhu udara : 170 C - 230 C Kelembapan : sedang Penyinaran : sedang - tinggi Tanah Tekstur : lempung Drainase : baik Kedalaman air tanah : 50 cm - 200 cm dari permukaan tanah Kedalaman perakaran : di atas 15 cm dari permukaan tanah Kemasaman (pH) : 5,5 - 6,8 Kesuburan : tinggi (Rukmana. 1995)

2.4 Teknologi Produksi Komoditas Perlakuan yang Diterapkan Komoditas Menurut ashari, 1995 teknologi produksi mentimun yang diterapkan meliputi : a. Persiapan Lahan Tanah diolah dengan dibajak atau dicangkul untuk membuat guludan dengan tinggi antara 40-50 cm, lebar 60 cm, jarak antar guludan 40 cm. Biarkan tanah kering selama minimal 1 minggu. Rapikan guludan sambil memperbaiki saluran air diantara guludan. Pemakaian mulsa plastik disarankan untuk mendapat hasil yang lebih baik. Pupuk dasar diberikan pada saat penanaman biji mentimun, yaitu SP-36, NPK dan ZA. Dengan membuat lubang memakai tugal, lubangnya di dekat biji mentimun yang ditanam. b. Penanaman 1. Pembuatan lubang tanam dua baris atau double rows 60 x 30 cm, masukkan biji mentimun dalam lubang dengan jumlah biji 3 biji

perlubang sedangkan lubang pupuk dapat ditugal 5 cm disamping lubang tanam. 2. Benih ditanam sedalam 1 cm, 3 benih perlubang tanam. 3. Benih ditutup dengan abu jerami pada musim kemarau dan pada musim hujan dengan abu ditambah pupuk kandang.

4. Penyulaman dilakukan secepatnya agar pertumbuhan tanaman seragam. c. Pemeliharaan tanaman 1. Penjarangan dan Penyulaman Selama 2 (dua) minggu setelah ditanam, mentimun harus harus diamati kontinu, terutama bibit yang mati atau tumbuh secara abnormal.Bibit yang mati harus segera disulam.Cara menyulam adalah dengan mencabut bibit yang mati, kemudian diganti dengan bibit yang baru.Penyulaman sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari, pada saat sinar matahari tidak terlalu terik dan suhu udara tidak terlalu panas.Biji mentimun untuk penyulaman sebelumnya dipersiapkan atau ditanam ditempat yang teduh. 2. Pemupukan Pemupukan dilakukan 3 kali dengan dosis 10 gr per tanaman atau 1 sendok teh untuk aplikasi pertama pada umur 12 hst. Sedangkan aplikasi kedua dan ketiga dengan dosis 20 gr pertanaman atau 1 sendok makan pada umur 25 dan 45 hst. Pupuk diletakkan pada jarak 10 20 cm dari tanaman. 3. Pengairan Pengairan diberikan setiap selesai pemupukan. Sedangkan pengairan rutin diberikan dengan melihat kondisi tanah di bawah mulsa.Pada musim hujan, yang harus diperhatikan adalah drainase yang harus terbuka untuk membuang air dari dalam areal tanaman. 4. Pemasangan lanjaran atau pengajiran Pemasangan lanjaran bisa dilakukan atau dipasang tanaman belum transplanting atau dipasang setelah 2 minggu tanam. Pengajiran bertujuan untuk tanaman agar tumbuh tegak ke atas dan memperoleh sinar matahari secara optimal.Selain itu ajir juga berfungsi untuk merambatkan tanaman, memudahkan pemeliharaan dan tempat menopang buah.Pengajiran

dilakukan seawal mungkin ( 5 hari setelah tanam) agar tidak mengganggu dan merusak perakaran tanama.Tinggi ajir 2 meter.cara pengajiran yaitu: mengikat batang tanaman (di bawah daun pertama), melilitkan tali kasur pada batang tanaman. 5. Pembumbunan Pembumbunan adalah penimbunan tanah dipangkal rumpun tanaman sehingga menutup rimpang yang mungkin muncul dipermukaan

tanah.Dengan demikain, pembumbunan juag berarti memperluas wilayah tumbuh akar dan rimpang, sehingga daya tembus akar dan pembesaran rimpang menjadi makin leluasa.Dengan pembumbunan, partikel tanah yang besar dihancurkan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.Kegiatan pembumbunan dalam budi daya tanaman bisa dilakukan bersama-sama dengan penyiangan.Saat dilakukan penyiangan, tanah-tanah disepanjang barisan tanaman ditimbunkan dipangkal rumpun tanaman. Cara ini sekaligus juga menciptakan parit-parit di atas bedengan yang akan semakin melancarkan drainase. Tanah yang tergenangi air dan terlalu lembab bisa memicu serangan penyakit sehingga tanaman mudah membusuk.Umunya kegiatan pembumbunan sampai panen tiba dilakukan sebanyak tiga kali. Namun, ditanah yang ringan kegiatan ini harus dilakukan agak sering, terutama setelah turun hujan yang bisa mengikis tanah dipangkal tanaman 6. Pewiwilan dan Pengikatan Wiwil adalah pekerjaan membuang tunas-tunas yang tumbuh di ruas ke 3 atau 4. Dampak positif dari wiwil ini adalah mempercepat pertumbuahan tanaman ke atas disamping untuk merangsang pertumbuhan tunas-tunas baru, Sedangkan fungsi ikat adalah agar tanaman dapat menjalar ke atas, sehingga tanaman dapat tumbuh tegak. Dengan ikat akan mempermudah pelaksanaan pemeliharaan dan panen. 7. Penyiangan. Penyiangan dilakukan untuk menghilangkan gulma.

d. Panen dan Pasca Panen Timun mercedes dapat dipanen setelah tanaman berumur 38 40 hari sejak tanam. Buah yang dipanen berukuran panjang sekitar 18 20 cm dengan berat antara 80- 120 g. Buah yang berbentuk lurus berdiameter 1,5 2,5 cm dengan berat 20 g adalah buah kualitas super. Saat panen yang baik adalah pagi hari antara pukul 06.00-10.00 dan sore hari antara pukul 15.00-17.00. (Rukmana. 1995)

BAB III METODOLOGI

3.1 Alat, Bahan dan Fungsi a. Alat : 1. Cangkul 2. Tugal 3. Gembor 4. Ajir :Untuk menggemburkan tanah :Untuk membuat lubang :Untuk menyiram :Untuk menegakkan tanaman (timun)

5. Cetok kecil :Untuk alat bantu penyulaman 6. Gawar b. Bahan : 1. Benih Mentimun (Mercy) : Bahan tanam 2. Pupuk Urea 3. Pupuk Sp36 4. Pupuk KCl 5. Sekam Bakar 6. Air : Untuk menambah Unsur N pada tanah : Untuk menambah Unsur P pada tanah : Untuk menambah Unsur K pada tanah : Untuk mempercepat perkecambahan : Untuk menyiram tanaman :Tali untuk membuat rambatan antar ajir

3.2 Perlakuan K1: a) Jarak tanam b) Jumlah benih tiap lubang c) Varietas K2: a) Jarak tanam b) Jumlah benih tiap lubang c) Varietas J1: a) Jarak tanam b) Jumlah benih tiap lubang c) Varietas : 60x30cm : 2 biji : Mercy : 60 x 50 cm : 2 biji per lubang : Mercy : 50 x 50 cm : 3 biji per lubang : Mercy

J2: a) Jarak tanam b) Jumlah benih tiap lubang c) Varietas J3: a) Jarak tanam b) Jumlah benih tiap lubang c) Varietas J4: a) Jarak tanam b) Jumlah benih tiap lubang c) Varietas J5: a) Jarak tanam b) Jumlah benih tiap lubang c) Varietas : 60x50cm : 3 biji : Mercy : 60x40cm : 3 biji : Mercy : 60x40cm : 2 biji per lubang : Mercy : 60x30cm : 3 biji : Mercy

3.3 Perbandingan Metode Praktikum dengan Universal Secara keseluruhan, metode praktikum penanaman timun oleh kelompok K1 tidak jauh berbeda dengan metode penanaman timun pada umumnya. Pada pelaksanaan praktikum oleh kelompok K1, lahan untuk penanaman dicangkul terlebih dahulu agar menjadi gembur dan mudah ditanami. Kemudian dibuat lubang tanam dengan jarak tanam 50 cm antar baris dan 50 cm dalam baris. Kemudian buat juga 2 lubang di kanan-kiri lubang utama untuk pemberian pupuk. Setelah itu tanam 3 benih timun dalam satu lubang. Sedangkan Rukmana menyatakan dalam Budidaya Mentimun, bahwa sebelum penanaman dilakukan pengolahan lahan. Dan dinyatakan pula lahan yang baik untuk budidaya timun adalah lahan yang bukan bekas tanaman yang sefamili. Penyiapan lahan ini meliputi sanitasi, pembajakan, pemberian pupuk dan pembuatan bedengan. Kemudian dibuat lubang dengan jarak 100

cm antar baris dan 50 cm dalam baris. Jumlah benih yang ditanam adalah 2-3 biji tiap lubang. Perbedaan yang lainnya adalah pada saat pemasangan ajir. Rukmana menyatakan bahwa sebaiknya ajir dipasang seawall mungkin, yaitu sekitar 5 hari setelah tanam. Namun pada kelompok K1 pemasangan ajir dilakukan pada saat minggu ke 2. Pada teknik pemupukan, Rukmana menyatakan bahwa pupuk diberikan sesudak tanaman berumur 1 bulan. Pupuk diberikan di sekeliling tanaman sejauh sekitar 15 cm dari batang, dengan cara ditugal maupun dibuat larikan. Waktu pemupukan susulan I pada umur 3-5 hari setelah tanam. Pupuk susulan II diberikan pada umur 10 hari setelah tanam dan pupuk susulan III pada saat tanaman mulai berbunga. Namun pada kelompok K1 pemupukan hanya dilakukan pada saat penanaman saja.

3.4 Penjelasan Perlakuan Kelompok Perlakuan pada kelompok K1 adalah dengan jarak tanam50 x 50cm. Setiap lubang diisi dengan 3 benih timun varietas mercy. Komoditas timun kami ditanaman pada 8 bedengan di lahan Ngijo. Pada awalnya dilakukan pengolahan tanah dengan cara pembalikan tanah,lalu di buat 8 bedeng untuk ditanaman timun mercy ini. Lalu diberi lubang dengan tugal dengan jarak 50 x 50 cm. Setiap lubang berisi 3 biji timun, diatas lubang timun diberi abu untuk memacu pertumbuhan biji timun. Setelah 2 minggu bedengan diberi ajir di kedua sisinya, peletakan ajir sesuai dengan lubang penanaman timun. Pemberian pupuk dilakukan pada saat awal penanaman timun ini, yaitu mengunakan pupuk urea, SP36 dan KCL. Pupuk ditanam pada lubang yang di dekat lubang di mana benih ditanam. Pengamatan dilakukan seminggu sekali dan melakukan perawatan yang meliputi penyiraman, pembersihan gulma dan penggemburan tanah. Pada minggu minggu awal bila ada tanaman yang tidak tumbuh maka dilakukan penyulaman. Penyulaman ini dilakukan sampai minggu ketiga saja.Setelah timun tumbuh dipilih 2 tanaman contoh setiap bedengnya sebagai sampel dari populasi. Lalu setiap minggunya dilakukan pengukuran dan pengmatan keberhasilan timun untuk tumbuh

dengan beberapa parameter. Paramenter yang diukur pada lahan timun antara lain jumlah daun dan panjang tanaman. Setelah tanaman tumbuh besar, dan telah menjalar pada ajir ajir, dipasanglah gawar untuk tempat merambatnya timun.Setelah timun menghasilkan buah yang besar dan berwarna hijau maka timun siap di panen. Pemanenan timun ini berlangsung hingga waktu 3 minggu.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil 4.1.1 Hasil Pengamatan


bedeng 1 Bedeng 3 Bedeng 5 Bedeng 7 * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * bedeng 2 * * * * * * * * * bedeng 4 * * * * * * * * * bedeng 6 bedeng 8 * * * * * * * * * * * *

Keterangan: * Tanaman sebelah kanan Tanaman sebelah kiri * Tanaman sebelah kanan yang diamati Tanaman sebelah kiri yang diamati

J1: 2 MST Tanamanke 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Data Vegetatif Jumlah Daun (helai) TinggiTanaman (cm) 4 3 3 3 5 4 4 6 4 4 5 6 3 3 5 4 4 4 6 6 6 5 5 4 4 4 4 3 6 5 5 6 3 4 4 3 6 5 5 6 5 6 6 5 4 5 6 6 5 4 6 6 6 5 4 4 4 5 6 5 5 6 5 4 5 5 6 6 6 5 7 6

37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 Jumlah Rata-rata 3 MST Tanamanke 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

4 6 8 6 4 5 6 6 4 4 5 7 6 5 4 8 6 6 4 5 286 5,107143

5 6 7 6 5 5 5 6 5 5 4 6 5 6 5 6 5 6 5 5

Data Vegetatif JumlahDaun (helai) TinggiTanaman (cm) 8 70 7 68 6 65 7 63 9 71 6 65 7 67 7 64 8 67 7 64 9 72 7 65 8 70 9 70 6 60

16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56

8 7 7 9 7 8 8 6 6 9 7 7 6 8 8 9 8 8 6 9 8 8 6 8 9 7 9 8 8 7 7 9 8 7 7 9 7 7 8 8 9

65 60 63 70 64 65 60 56 58 60 62 57 60 65 57 70 64 70 64 72 67 58 55 63 66 55 63 55 65 56 57 70 57 63 65 70 57 65 63 65 67

Jumlah Rata-rata 4 MST Tanamanke 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35

426 7,607143

Data Vegetatif JumlahDaun (helai) TinggiTanaman (cm) 10 115 12 125 14 133 11 125 12 130 12 120 12 122 13 127 13 132 15 110 17 123 14 115 13 125 15 130 17 133 14 134 11 120 15 132 17 135 13 130 12 122 11 128 14 127 15 125 12 128 17 130 12 115 15 135 11 120 13 125 11 120 14 128 12 131 17 127 12 132

36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 Jumlah Rata-rata J2: 2 MST Tanaman ke 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

13 13 15 11 14 12 12 18 14 17 20 15 17 13 11 16 15 17 19 24 20 794 14,17857

135 131 125 122 130 127 132 137 130 127 138 125 135 130 133 120 143 115 125 143 140

Data Vegetatif Jumlah Daun (helai) Tinggi Tanaman (cm) 3 4 4 6 3 5 3 5 4 6 4 6 4 6 4 6 3 6 2 4 4 6 4 5 3 5

14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54

4 4 4 4 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 4 4 3 4 4 3 4 4 4

6 6 6 5 6 6 6 6 6 5 6 5 5 5 6 6 5 6 6 5 5 6 5 6 4 5 6 5 6 4 6 4 5 6 5 6 6 5 6 6 6

55 56 Jumlah Rata-rata 3 MST Tanaman ke 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33

4 4 209 3,73

6 6 308 5,5

Data Vegetatif Jumlah Daun (helai) Tinggi Tanaman (cm) 7 60 8 70 6 60 6 62 8 60 8 65 8 60 7 61 7 62 6 55 8 60 8 55 7 57 8 60 8 63 7 65 8 60 6 65 7 67 6 63 7 64 8 60 8 57 8 59 8 60 8 58 8 55 8 65 7 62 8 55 7 59 8 62 8 55

34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 Jumlah Rata-rata 4 MST Tanaman ke 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

7 7 8 8 8 8 8 8 8 7 8 7 8 8 8 9 8 8 8 8 9 8 9 428 7,64

58 60 54 62 50 56 60 57 60 50 63 57 55 60 55 60 60 55 65 65 60 66 68 3357 59,95

Data Vegetatif Jumlah Daun (helai) Tinggi Tanaman (cm) 13 120 14 135 12 130 11 128 13 125 12 125 13 122 12 120 13 130 11 120 13 120 14 115

13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53

12 13 13 12 13 12 12 12 12 13 13 12 13 13 14 14 13 14 11 13 12 11 11 12 13 12 13 14 13 12 11 12 11 12 12 12 14 13 12 13 12

120 130 135 135 130 135 125 130 130 128 120 115 120 118 115 135 130 120 120 128 120 125 135 128 135 120 125 130 125 130 125 135 120 115 120 115 130 130 120 140 145

54 55 56 Jumlah Rata-rata Data Generatif: Umur tanaman 5 MST 6 MST 7 MST 8 MST J3: Ulangan Ulangan 1 Ulangan 2 Ulangan 3 Hasil panen: Ulangan Ulangan 1 Ulangan 2 Ulangan 3 J4: 2 MST Tanaman ke 1 2 3 4 5 6 7 Pertama 8 3.1 1.44 7 HST 4 2 7 4

14 12 13 701 12,51

130 141 146 7094 126,68

Berat buah (kg) 2,7 9,3 4 1,75

14 HST 7 7 18 11

21 HST 15 22 28 21

28 HST 25 45 41 37

35 HST 33 45 51 43

42 HST 30 74 47 50

Kedua 14 10.9 2.94

ketiga 0,45 3.5 0

Data Vegetatif Jumlah Daun (helai) 4 4 5 6 5 5 6

Tinggi tanaman (cm) 4 4 4 5 4 4 4

8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah Rata-rata 3 MST Tanaman ke 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah Rata-rata 4 MST Tanaman ke 1 2 3

4 5 5 6 6 5 7 7 80 5.333333

5 4 4 4 4 5 5 5 65 4.33

Data Vegetatif Jumlah Daun (helai) 8 9 8 7 9 9 10 11 12 11 13 14 10 15 14 160 10.66667

Tinggi tanaman (cm) 6 6 6 5 7 8 9 8 7 8 6 7 6 7 8 104 6.93

Data Vegetatif Jumlah Daun (helai) 20 21 30

Tinggi tanaman (cm) 60 55 54

4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah Rata-rata 5 MST Tanaman ke 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah Rata-rata

27 29 20 21 24 23 20 30 31 30 35 29 390 26

60 70 60 62 60 65 60 61 62 55 60 55 899 59.93

Data Vegetatif Jumlah Daun (helai) 26 25 35 29 31 26 29 27 28 26 34 34 36 38 33 457 30.46667

Tinggi tanaman (cm) 120 135 130 128 125 125 122 120 130 120 120 115 120 130 135 1875 125

Umur tanaman

Berat buah (kg)

6 MST 7 MST 8 MST Jumlah J5: 2 MST Tanaman ke A B C D E F G H I J K L Jumlah Rata rata 3 MST Tanaman ke A B C D E F G H I J K L Jumlah Rata rata Data Vegetatif Jumlah Daun (helai) 4 3 3 4 4 3 4 5 4 6 4 5 49 4,083 Data Vegetatif Jumlah Daun (helai) 3 2 4 4 2 2 2 3 3 3 2 2 32 2,667

8,5 28 10,5 47 kg

Tinggi tanaman(cm) 4 3 4 3 4 4 4 4 4 3 3 4 44 3.67

Tinggi tanaman (cm) 6 6 6 6 6 7 5 6 5 6 7 6 72 6

4 MST Tanaman ke A B C D E F G H I J K L Jumlah Rata rata 5 MST Tanaman ke A B C D E F G H I J K L Jumlah Rata rata Data Vegetatif Jumlah Daun (helai) 15 24 27 26 18 10 35 30 60 58 40 43 386 32,167 Tinggi tanaman(cm) 80 120 125 110 118 125 135 122 121 123 119 120 1418 118.17 Data Vegetatif Jumlah Daun (helai) 8 7 7 7 7 6 6 9 10 13 11 12 103 8,583 Tinggi tanaman (cm) 30 35 34 32 45 34 35 30 34 40 43 45 467 38.92

Hasil panen: Umur tanaman 4 MST 5 MST

Berat buah (kg) 4,1 16

6 MST Jumlah Rata rata

5 25,1 8,3667

K1
Bedeng 1 1 Ka Tinggi Jml daun Bunga jantan Bunga btina Bedeng 2 1 Ka Tinggi Jml daun Bunga jantan Bunga btina Bedeng 3 1 Ka Tinggi Jml daun Bunga jantan Bunga btina Ki Ka 12 11 2 Ki 7.5 9 Ka 13 11 3 Ki 33 12 Ki Ka 9 9 2 Ki 8 10 Ka 29 11 3 Ki 30 11 Ki Ka 12 9 2 Ki 10 10 Ka 34 9 3 Ki 37 16 Minggu ke4 Ka Ki 56 70 11 17 5 Ka 98 16 7 4 Ki 102 18 6 7 Ka 113 18 6 4 6 Ki 122 21 5 4 Ka 118 18 3 4 7 Ki 130 20 5 2

Minggu ke4 Ka Ki 40 48 13 11

5 Ka 78 13 7 6 Ki 96 14 8 6 Ka 115 15 4 3

6 Ki 129 16 4 4 Ka 119 15 4 2

7 Ki 134 17 3 4

Mati

Minggu ke4 Ka Ki 46 15

5 Ka Ki 78 18 6 5 Ka

6 Ki 89 18 5 4 Ka

7 Ki 94 18 3 1

Bedeng 4 1 Ka Tinggi Jml daun Bunga jantan Bunga btina Bedeng 5 1 Ka Tinggi Jml daun Bunga jantan Bunga btina Bedeng 6 1 Ka Tinggi Jml daun Bunga jantan Bunga btina Ki Ka 12 11 2 Ki 10 9 Ka 13 10 3 Ki 14 9 Ki Ka 9 4 2 Ki 8 3 Ka 36 8 3 Ki 29 10 Ki Ka 7 9 2 Ki 6.5 9 Ka 17 11 3 Ki 19 12

Minggu ke4 Ka Ki 40 23 16 15

5 Ka 71 16 6 5 Ki 69 12 3 5 Ka 88 18 7 3

6 Ki 76 13 6 3 Ka 91 16 2 2

7 Ki 79 13 3 1

Minggu ke4 Ka Ki 57 69 10 15

5 Ka 86 12 4 4 Ki 97 18 3 5 Ka 88 16 6 2

6 Ki 97 20 4 6 Ka 89 16 2 1

7 Ki 99 21 3 1

Minggu ke4 Ka Ki

5 Ka Ki Ka

6 Ki Ka

7 Ki

Mati

Bedeng 7 1 Ka Tinggi Jml daun Bunga jantan Bunga btina Bedeng 8 1 Ka Tinggi Jml daun Bunga jantan Bunga btina Ki Ka 4 4 2 Ki Ka 10 4 3 Ki Ki Ka 8 3 2 Ki Ka 19 5 3 Ki

Minggu ke4 Ka Ki 30 6

5 Ka 65 8 4 3 Ki Ka 71 10 4 2

6 Ki Ka 78 11 2 3

7 Ki

Minggu ke4 Ka Ki

5 Ka Ki Ka

6 Ki Ka

7 Ki

Bobot buah hasil panen: Panen ke I Bobot buah 15

II 8

III 2,5

Mati

K2: 1 MST Bedeng 1 2 3 4 5 6 7 8 Tanaman Jumlah Daun 3 4 6 5 5 4 2 6 7 8 7 5 2 5 Tinggi Tanaman 9 15 21 17 22 19 14 10 18 25 20 15 11 16,6 Bobot buah (kg) -

A B A B A B A B A B A B A B A B Rata-rata

2 MST Bedeng 1 2 3 4 5 6 7 8 Tanaman A B A B A B A B A B A B A B A Jumlah Daun 9 10 13 10 15 11 6 11 13 18 12 11 5 4 4 Tinggi Tanaman 40 50 61 36 60 58 38 45 55 103 43 46 26 24 21 Bobot buah (kg) -

B Rata-rata 3 MST Bedeng 1 2 3 4 5 6 7 8

5 10

22 45

Tanaman

Jumlah Daun 18 19 21 23 24 15 10 15 21 27 18 18 9 14 13 21 18

Tinggi Tanaman 85 83 72 70 81 62 39 51 96 146 65 68 44 63 60 87 73,25

A B A B A B A B A B A B A B A B Rata-rata

Bobot buah (kg) 0

4 MST Bedeng 1 2 3 4 5 6 7

Tanaman A B A B A B A B A B A B A B

Jumlah Daun 28 25 32 38 31 18 13 19 24 30 23 25 14 28

Tinggi Tanaman 102 120 89 98 96 74 40,5 58 128 171 86 88 65 102

Bobot buah (kg) -

A B Rata-rata

20 36 26

93,5 114 95,30

5 MST Bedeng 1 2 3 4 5 6 7 8

Tanaman

Jumlah Daun 34 32 46 50 40 22 15 24 28 38 30 30 18 37 26 44 33

Tinggi Tanaman 143 142 101 111 112 83 41 86 153 189 112 114 82 117 106 132 114

A B A B A B A B A B A B A B A B Rata-rata

Bobot buah (kg) 0

6 MST Bedeng 1 2 3 4 5 6 Tanaman A B A B A B A B A B A B Jumlah Daun 38 31 50 53 44 31 15 26 34 45 33 31 Tinggi Tanaman 150 148 134 122 138 96 43 103 164 198 118 117 Bobot buah (kg) 1,20 1,40 1,20 1,60 1 1,25 0,40 0,70 2 1 2,10

A B 8 A B Rata-rata

27 44 31 52 36

105 126 119 141 126

0,3 0,8 1,20 1,20 1,16

7 MST Bedeng 1 2 3 4 5 6 7 8 Tanaman Jumlah Daun 38 29 50 55 47 29 14 28 36 49 37 34 34 51 38 57


39

Tinggi Tanaman 155 162 158 146 160 107 43,5 131 179 210 112 125,5 123 138 120 148
138,625

A B A B A B A B A B A B A B A B Rata-rata

Bobot buah (kg) 0,90 0,60 0,20 1 0,4 0,20 0,50 0,25 0,55 0.80 0.2 0.6 0,5
0,51

4.1.2 Grafik a. Grafik panjang tanaman K1

bedeng 1
150 100 kanan 50 0 0 5 10 kiri 50 0 0 150 100

bedeng 2

kanan kiri

10

bedeng 3
100 80 60 40 20 0 0 5 10 kanan kiri 100 80 60 40 20 0 0

bedeng 4

kanan kiri

10

bedeng 5
150 100 kiri 50 0 0 5 10 Expon. (kanan) 5 0 0 15 kanan 10

bedeng 6

kanan kiri

10

bedeng 7
100 15 10 50 kanan 5 0 0 5 10 0

bedeng 8

kanan

10

Grafik rata-rata panjang tanaman kelompok J1, J2, J3, J4, J5, K1 dan K2

Rata-rata panjang tanaman


160 140 120 100 80 60 40 20 0 1 mst 2 mst 3 mst 4 mst 5 mst 6 mst 7 mst j1 j2 j4 j5 k1 k2

b. Grafik jumlah daun tanaman K1

Bedeng 1
25 20 15 10 5 0 0 5 10 kanan kiri 20 15 10 5 0 0

Bedeng 2

kanan kiri

10

Bedeng 3
20 15 10 5 0 0 5 10 kanan kiri 20 15 10 5 0 0

Bedeng 4

kanan kiri

10

Bedeng 5
25 20 15 10 5 0 0 5 10 kanan kiri 12 10 8 6 4 2 0 0

Bedeng 6

kanan kiri

10

Bedeng 7
12 10 8 6 4 2 0 0 5 10 kanan kiri 5 4 3 2 1 0 0

Bedeng 8

kanan kiri

10

Grafik rata-rata jumlah daun

rata-rata jumlah daun


45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 1 mst 2 mst 3 mst 4 mst 5 mst 6 mst 7 mst J1 J2 J3 J4 J5 K1 K2

c. Grafik jumlah bunga jantan dan bunga betina tanaman timun K1

bedeng 1
8 6 4 2 0 0 5 10 kanan jantan kiri jantan kanan betina kiri betina 10 8 6 4 2 0 0

bedeng 2
kanan jantan kiri jantan kanan betina kiri betina

10

bedeng 3
7 6 5 4 3 2 1 0 0 5 10 6 kiri jantan kiri betina 4 2 0 0 8

bedeng 4
kanan jantan kiri jantan kanan betina kiri betina

10

bedeng 5
7 6 5 4 3 2 1 0 0 5 10 kanan jantan kiri jantan kanan jantan kiri betina 5 4 3 2 1 0 0

bedeng 7

jantan kanan kanan betina

10

Grafik rata-rata jumlah bunga K1:

rata-rata jumlah bunga jantan


6 5 4 3 2 1 0 1 mst 2 mst 3 mst 4 mst 5 mst 6 mst 7 mst

rata-rata jumlah bunga jantan

rata-rata jumlah bunga betina


6 5 4 3 2 1 0 1 mst 2 mst 3 mst 4 mst 5 mst 6 mst 7 mst rata-rata jumlah bunga betina

d. Grafik bobot buah K1

hasil panen K1
20 15 10 5 0 panen 1 panen 2 panen 3 Series1

Grafik bobot buah hasil panen:

hasil panen
30 25 K1 20 15 10 5 0 panen 1 panen 2 panen 3 K2 J2 J3 J4 J5

4.2 Pembahasan Dari data yang telah dicantumkan di atas dapat diketahui bahwa rata-rata panjang tanaman timun memiliki pola pertumbuhan yang mengikuti persamaan logarithmic. Di mana pada minggu 1 sampai minggu 5, tanaman mengalami penambahan panjang yang cukup cepat. Namun pada minggu berikutnya pertambahan panjang tanaman tidak secepat pada minggu 1 sampai minggu 5. Hal ini disebabkan pada saat tanaman timun memasuki fase generative, yaitu pada saat berbunga, pertumbuhan tanaman mulai melambat. Hal ini bertujuan untuk memfokuskan hasil fotosintat pada fase generative. Sama halnya dengan pertambahan panjang tanaman. Pertambahan jumlah daun juga mengikuti persamaan logaritma. Di mana pada fase vegetative

tanaman timun memproduksi banyak daun, sedangkan ketika memasuki fase generative produksi daun semakin sedikit. Hal ini juga kemungkinan bertujuan untuk memfokuskan fotosintat untuk memasuki fase generative. Untuk hasil panen, tidak seperti pada jumlah daun dan panjang tanaman. Grafik hasil panen cenderung menurun. Rata-rata hasil panen tiap kelompok mengalami kenaikan pada panen ke 2. Namun tidak sama halnya dengan hasil panen kelompok K1 yang cenderung terus menurun dari hasil panen ke 1 sampai hasil panen ke 3. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa factor. Di antaranya adalah waktu pemanenan dan cuaca yang menyebabkan banyak buah yang membusuk sehingga tidak dapat dipanen pada panen ke 2 dan banyaknya penyakit yang menyerang pada panen ke 3. Sedangkan hasil panen terbanyak adalah kelompok J4, dengan rata-rata 15,5 kg tiap panen. Hal ini kemungkinan juga dipengaruhi oleh perlakuan jarak tanam, yaitu 60 x 40, dengan 3 benih tiap lubang. Sehingga buah yang dihasilkan lebih banyak. Hubungan perlakuan dengan pertumbuhan timun, semakin jauh jarak timun semakin cepat pertumbuhan tanaman tersebut,karena kompetisi akan unsur hara dapat dikurangi. namun bila pada lahan di beri perlakuan yang seperti hal ini maka tidak efektif dalam produksi tanaman timun. Hasil produksi akan lebih rendah karena jumlah tanaman dilahan lebih sedikit jadi hasilnya juga rendah walaupun semua tanaman tumbuh dengan baik menurut Rukmana. Hasil dari beberapa kelompok pada komoditas timun kelompok J4, dengan rata-rata 15,5 kg tiap panen. Hal ini kemungkinan juga dipengaruhi oleh perlakuan jarak tanam, yaitu 60 x 40, dengan 3 benih tiap lubang. Dengan jarak tanam yang cukup untuk mengurangi kompetisi namun populasi timun pada lahan tetap tinggi. Sehingga buah yang dihasilkan lebih banyak.

4.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kelompok a. Faktor abiotik Kondisi abiotik tempat tumbuh mentimun harus sesuai agar mampu tumbuh dan berproduksi secara optimal.Factor abiotik ini mencakup kondisi tanah, iklim, air, suhu dan kelembaban udara lingkungan tumbuh tanaman.dengan mengetahui syarat tumbuh mentimun, pada umumnya

kondisi lingkungan yang yang digunakan untuk praktikum sudah cukup sesuai untuk budidaya mentimun. Kondisi tanah untuk budidaya termasuk dalam tanah sawah yang cukup baik untuk pertumbuhan

mentimun.Kondisi iklim di lahan juga cukup baik dan sesuai untuk budidaya mentimun yang memerlukan daerah bersuhu 170 C - 230 C dan mendapat sinar matahari 11-12 jam/hari.Mentimun merupakan tanaman yang bisa ditanam didataran rendah maupun di dataran tinggi karena ketinggian tempat untuk tanaman mentimun yaitu 1- 1300 m di atas permukaan laut. b. Faktor biotik Factor biotik yang dapat mempengaruhi produktifitas mentimun meliputi populasi organism hidup yang ada disekitar lokasi budidaya.Dari mulai pemilihan benih, harus memenuhi criteria yang unggul agar mampu menghasilkan produksi yang optimal, selain itu benih yang kita pilih harus sudah ada tanda yang sudah diresmikan dan diakui jaminan kualitas produknya. Populasi hama dan penyakit juga harus dikendalikan agar tidak menimbulkan kerusakan. Penyakit biasanya akan cepat menyebar apabila kondisi lingkungan terlalu lembab terutama penyakit yang ditimbulkan oleh jamur. Selain itu gulma (tumbuhan penggangu) juga harus dikendalikan agar tanaman dapat tumbuh dengan optimal. Apabila populasi gulma terlampau banyak maka akan menjadi kompetitor tanaman budidaya. Kompetisi ini dapat berupa persaingan dalam memperoleh sinar matahari, unsure hara dalam tanah dan ruang tumbuh tanaman budidaya menjadi semakin sempit yang tentunya akan mengurangi fotosintat yang dihasilkan selama proses fotosintesis dan pada akhirnya produksi juga akan menurun.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Dari laporan yang telah disusun, maka dapatdisimpulkan bahwa: a. Terdapat perbedaan hasil panen timun dengan perlakuan yang berbeda. b. Setelah dilakukan perlakuan budidaya mentimun, teknologi yang tepat dapat memberikan hasil yang optimal.

5.2 Saran agar untuk ke depannya praktikum Teknologi Produksi Tanaman dapat berjalan lebih lancer dan lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Annonymous. 2011. http://rierevolution.wordpress.com/2010/07/26/mentimunpeluang-budidaya-dan-manfaat/. Diakses tanggal 11 Desember 2011. Anonymous. 2011. http://hulurawa.webs.com/mentimun.htm. diakses tanggal 11 Desember 2011 Rukmana, Rahmat. 1995. Budidaya Mentimun. Yogyakarta. Kanisius