Anda di halaman 1dari 18

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kusta 2.1.1. Definisi Istilah kusta berasal dari bahasa India, yakni kushtha berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit kusta disebut juga Morbus Hansen, sesuai dengan nama yang menemukan kuman yaitu Dr. Gerhard Armauwer Hansen pada tahun 1874 sehingga penyakit ini disebut Morbus Hansen (Kosasih, 2003). Kusta adalah penyakit infeksi yang kronik dan menular, penyebabnya ialah Mycobacterium Leprae yang pertama-tama menyerang kulit, mukosa mulut, saluran nafas bagian atas, sistem retikulo endotelial, mata, otot, tulang dan testis. Tidak ada penyakit infeksi lain selain penyakit kusta yang dapat menandingi keanekaragaman gambaran klinik baik dari lesi kulit maupun lesi saraf sehingga penyakit kusta disebut The Greatest Imitator (Halim, 2000).

2.1.2. Epidemiologi Penyebaran penyakit kusta dari suatu benua, negeri dan tempat lain sampai tersebar ke seluruh dunia tampaknya disebabkan oleh perpindahan orang yang telah terkena penyakit tersebut. Masuknya kusta ke pulau-pulau Melanesia termasuk Indonesia diperkirakan terbawa oleh orang-orang Cina (Kosasih ,2003). Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan adalah patogenitas kuman penyebab, cara penularan, keadaan sosial ekonomi dan lingkungan, varian genetik yang berhubungan dengan kerentanan, perubahan-perubahan imunitas, dan kemungkinan-kemungkinan adanya Reservoir diluar manusia (Linuwih, 2003). Menurut WHO Weekly Epidemiological Report mengenai kusta tahun 2010, prevalensi tertinggi penyakit kusta terdapat di India, dengan jumlah penderita sebanyak 87.190 jiwa pada tahun 2009. Perngkat kedua terdapat di Brazil, dengan jumlah penderita 38.179 jiwa pada tahun 2009. Indonesia sendiri

Universitas Sumatera Utara

berada di peringkat ketiga, dengan jumlah penderita sebanyak 21.026 jiwa pada tahun 2009 (WHO, 2010). Menurut laporan WHO tersebut, selama tahun 2009 terdapat 17.260 kasus baru di Indonesia, dengan 14.227 kasus teridentifikasi sebagai kasus kusta tipe Multi Basiler (MB) yang merupakan tipe yang menular. Dari data kasus kusta baru tahun 2009 tersebut, 6.887 kasus diantaranya oleh diderita oleh kaum perempuan, sedangkan 2.076 kasus diderita oleh anak-anak (WHO, 2010). Peenderita kusta pada tahun 2009 di Rumah Sakit Kusta Sicanang, yang merupkan unit pelayanan terpadu untuk penyakit kusta di Sumatera Utara terdapat sebesar 63 orang (Manurung, 2009). Menurut Ress (1975) dalam Zulkifli (2002), dapat ditarik kesimpulan bahwa penularan dan perkembangan penyakit kusta hanya tergantung dari dua hal yakni jumlah atau keganasan Mycobacterium Leprae dan daya tahan tubuh penderita. Disamping itu faktor-faktor yang berperan dalam penularan ini adalah : 1. Usia, anak-anak lebih peka dari pada orang dewasa. 2. Jenis kelamin, laki-laki lebih banyak dijangkiti. 3. Ras, bangsa Asia dan Afrika lebih banyak dijangkiti. 4. Kesadaran sosial, umumnya negara-negara endemis kusta adalah negara dengan tingkat sosial ekonomi rendah. 5. Lingkungan, fisik, biologi, sosial, yang kurang sehat.

2.1.3 Gejala Klinis Tanda-tanda penyakit kusta bermacam-macam, tergantung dari tingkat atau tipe dari penyakit tersebut. Di dalam tulisan ini hanya akan disajikan tandatanda secara umum tidak terlampau mendetail, agar dikenal oleh masyarakat awam, yaitu: 1. Adanya bercak tipis seperti panu pada badan/tubuh manusia. 2. Pada bercak putih ini pertamanya hanya sedikit, tetapi lama-lama semakin melebar dan banyak.

Universitas Sumatera Utara

3. Adanya pelebaran saraf terutama pada saraf ulnaris, medianus, aulicularis magnus serta peroneus. Kelenjar keringat kurang kerja sehingga kulit menjadi tipis dan mengkilat. 4. Adanya bintil-bintil kemerahan (leproma, nodul) yarig tersebar pada kulit 5. Alis rambut rontok 6. Muka berbenjol-benjol dan tegang yang disebut facies leomina (muka singa) Gejala-gejala umum pada kusta, reaksi : 1. Panas dari derajat yang rendah sampai dengan menggigil. 2. Anoreksia. 3. Nausea, kadang-kadang disertai vomitus. 4. Cephalgia. 5. Kadang-kadang disertai iritasi, Orchitis dan Pleuritis. 6. Kadang-kadang disertai dengan Nephrosia, Nepritis dan

hepatospleenomegali. 7. Neuritis

2.1.4 Klasifikasi Ridley dan Jopling (1962) memperkenalkan istilah spektrum Determinate pada penyakit kusta yang terdiri atas berbagai tipe atau bentuk, yaitu: 1. TT (Tuberkuloid Type) Lesi ini mengenai kulit maupun saraf perifer. Lesi kulit bisa satu atau bberapa, dapat berupa makula maupun plakat, batas jelas dan pada bagian tengah dapat ditemukan lesi yang regresi atau Central Healing. Permukaan lesi dapat bersisik dengan tepi yang meninggi bahka dapat menyeruai gambaran psoriasis. Dapat disertai penebalan saraf perifer yang biasanya teraba dan kelemahan otot (Halim et al, 2000). 2. BT (Borderlines Tuberculoid) Mirip gambaran pada tipe TT, tetapi terdapat gambaran hipopigmentasi, kekeringan kulit atau skuama yang tidak jelas seperti pada tipe tuberkuloid. Adanya gangguan saraf yang tidak sebrat tipe tuberkuloid,

Universitas Sumatera Utara

biasanya asimetris. Lesi satelit biasanya ada dan terletak dekat saraf perifer yang menebal (Halim et al, 2000). 3. BB (Mid Borderline) Merupakan tipe yang paling tidak stabil diantara semua spektrum penyakit kusta, disebut juga bentuk dimorfik. Lesi berbentuk plak, permukaannya dapat berkilat, batas lesi kurang jelas dan cenderung simetris. Lesi sangat bervariasi baik ukuran, bentuk maupun distribusinya. Bisa ditemukan lesi Punched Out, yaitu hipopigmentasi berbentuk bulat pada bagian tengah dengan batas jelas (Halim et al, 2000). 4. BL (Borderline Lepramatous) Lesi dmulai dengan infiltrat yang dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh. Makula lebih kecil dan bervariasi bentuknya. Papul dan nodus lebih tegas walaupun lebih kecil dan distribusinya hampir simetris. Tanpa kerusakan saraf berupa hilangnya sensasi, hipopigmentasi, berkurangnya keringat dan gugurnya rambut lebih cepat muncul dibandingkan tipe LL dengan penebalan saraf yang dapat teraba di tempat predileksi (Halim et al, 2000). 5. LL (Lepramatosa type) Jumlah lesi infiltrat sangat banyak, simetris, permukaan halus, lebih eritematosa, berkilat, berbatas tidak tegas. Distribusi lesi khas yaitu di wajah, dahi, pelipis, dagu, cuping telinga, sedangkan pada bagian badan pada bagian belakang, lengan, punggung tangan dan permukaan ekstensor tungkai bawah. Kerusakan saraf yang luas menyebabkan anestesi yang disebut Glove and Socking Anesthesi. Bila penyakit ini berlanjut, maka makula dan papul baru muncul, sedangkan lesi yang lama menjadi plakat dan nodus. Pada stadium lanjut serabut-serabut saraf perifer mengalami degenerasi hialin atau fibrosis yang menyebabkan anestesi dan atrofi otot tangan dan kaki (Halim et al, 2000). 6. LI (Lepromatosa Indefinite)

Universitas Sumatera Utara

Tipe ini tidak termasuk dalam kriteria Ridley-Jopling, namun diterima secara luas oleh para ahli kusta. Lesi kulit biasanya berupa makula hipopigmentasi dengan sedikit sisik dan kulit di sekitarnya normal. Lokasi berada di bagian ekstensor ekstremitas, bokong, atau muka. Kadang dapat ditemukan makula hipoestesi atau sedikit penebalan saraf. Tipe ini merupakan tanda pertama pada 20-80% kasus penderita kusta. Pada sebagian besar, tipe ini akan sembuh spontan (Halim et al, 2000). Klasifikasi Internasional (Madrid, 1953) a. Indeterminate (I) b. Tuberkuload (T) c. Borderline (B) d. Lepromatosa (S) Menurut WHO, klasifikasi kusta dibagi menjadi 1. Pausibasilar (PB) Termasuk kusta tipe TT dan BT menurut kriteria Ridley dan Jopling atau tipe I dan T menurut klasifikasi Madrid dengan BTA negatif (Amirudin et al, 1997). 2. Multibasilar (MB) Termasuk kusta tipe BB, BL, dan LL menurut kriteria Ridley dan Jopling atau B dan L menurut Madrid dan semua tipe kusta dengan BTA positif (Amirudin et al, 1997).

2.1.5 Patogenesis M. leprae sebagai mikroorganisme penyebab lepra masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang lecet pada bagian tubuh yang bersuhu dingin dan mukosa hidung. Pengaruh dari infeksi M. Leprae bergantung pada imunitas seseorang, pengaruh kemampuan hidup M. Leprae pada suhu tubuh yang rendah. Mikroorganisme ini bersifat obligat intraselular yang terutama pada sel makrofag di seluruh pembuluh darah pada dermis dan sel schwann di jaringan saraf. Bila M. Leprae masuk ke tubuh maka tubuh akan mengeluarkan makrofag untuk melakukan fagositosis.

Universitas Sumatera Utara

Pada tipe LL yang mengakibatkan kelumpuhan sistem imunitas selular, makrofag tidak mampu menghancurkan basil sehingga basil dapat bermultiplikasi dengan bebas sehingga dapat merusak jaringan. Pada kusta tipe TT kemampuan fungsi sistem imunitas selular tinggi, makrofag dapat menghancurkan basil, sayangnya setelah semua basil

difagositosis, makrofag akan berubah menjadi sel epiteloid yang tidak bergerak aktif dan kadang-kadang bersatu membentuk sel Datia Langhans. Bila infeksi ini tidak segera diatasi akan terjadi reaksi berlebihan dan massa epiteloid akan menimbulkan kerusakan saraf dan jaringan di sekitarnya. Sel schwann merupakan sel target untuk pertumbuhan M. Leprae, disamping itu sel schwann berfungsi sebagai demielinisasi dan hanya sedikit fungsinya sebagai fagositosis. Jadi, bila terjadi gangguan imunitas tubuh dalam sel schwann, basil dapat bermigrasi dan beraktifasi. Akibatnya aktifasi regenerasi saraf berkurang dan terjadi kerusakan saraf yang progresif (Amirudin et al, 1997).

2.1.6 Pemeriksaan 1. Anamnesis Anamnase pada pasien kusta sering menjadi tidak informatif, namun hal ini tetap kita lakukan. Tanyakan pada pasien mengenai adanya kebas, rasa seperti tersayat atau terbakar, perubahan lesi pada kulit, kesulitan untuk menggenggam atau berjalan, masalah pada mata, kontak keluarga dengan kusta, riwayat pengobatan dengan dapson (Bryceson et al, 1990). 2. Inspeksi Jika diperlukan, minta pasien untuk berdiri dan membuka pakaiannya. Perhatikan lesi kulit yang ada pada tubuh pasien di bawah cahaya yang cukup (Bryceson et al, 1990). 3. Tes fungsi saraf a. Rasa raba Dengan kapas atau sepotong kapas yang dilancipkan dipakai untuk memeriksa perasaan dengan menynggung kulit.

Universitas Sumatera Utara

b. Rasa nyeri Diperiksa dengan memakai jarum. Petugas menusuk kulit dengan ujung jarum yang tajam dan dengan pangkal tangkainya yang tumpul dan penderita harus mengakatan tusukan mana yang tajam dan mana yang tumpul. c. Rasa suhu Dilakukan dengan mempergunakan 2 tabung reaksi, yang satu berisi airpanas (40 C) yang lainnya air dingin (20 C) ditempelkan pada daerah kulit yang dicurigai dengan sebelumnya melakukan kontrol pada kulit yang sehat. Jika pada daerah kulit yang dicurigai penderita salah menyebutkan suhu pada tabung yang ditempelkan, maka dapat disimpulkan bahwa sensasi suhu di daerah tersebut terganggu. d. Tes motoris: Voluntary Muscle Test (Amirudin et al, 1997). 4. Pemeriksaan Bakteriologis Skin smear atau kerokan kulit adalah pemeriksaan sediaan yang diperoleh lewat irisan dan kerokan kecil pada kulit yang kemudiaan diberi pewarnaan Ziehl Nielsen untuk melihat M. Leprae. Pemeriksaan ini beberapa tahun terakhir ini tidak diwajibkan dalam program Nasional. Namun demikian menurut penelitian, pemeriksaan skin smear banyak berguna untuk mempercepat penegakan diagnosis, karena sekitar &-10% penderita yang datang dengan lesi Pba, merupakan kasus MB yang dini. Pada kasus yang meragukan harus dilakukan pemeriksaan apusan kulit (skin smear). Pemeriksaan ini dilakukan oleh petugas terlatih. Karena cara pewarnaan yang sama dengan pemeriksaan TBC maka pemeriksaan dapat dilakukan di puskesmas (PRM) yang memiliki tenaga serta fasilitas untuk pemeriksaan BTA (Amirudin et al, 1997). 5. Pemeriksaan Histopatologik Diagnosis penyakit kusta biasanya dapat dibuat berdasarkan pemeriksaan klinik, secara teliti dan pemeriksaan bakterioskopik. Pada sebagian kecil kasus, bilamana diagnosis masih meragukan, pemeriksaan histopatologik dapat dilakukan. Pemeriksaan ini digunakan untuk menegakkan diagnosa penyakit

Universitas Sumatera Utara

kusta, Khisusnya pada anak-anak, bilaman pemeriksaan saraf sensoris tidak mudah dilakukan pada lesi dini, contohnya pada tipe indeterminate, juga untuk menentukan klasifikasi yang tepat (Amirudin et al, 1997).

2.1.7 Pengobatan Obat anti kusta yang paling banyak dipakai saat ini adalah DDS (Diaminodifenil Sulfon) lalu Klofazimin, dan Rifampisin. DDS mulai dipakai sejak 1948 dan pada tahun 1952 di Indonesia. Kolfazimin dipakai sejak 1962 oleh Brown dan Hoogerzeil dan rifampisin sejak tahun 1970. pada tahun 1998 WHO menambahkan 3 obat antibiotika lain untuk pengobatan alternatif, yaitu Ofkloksasin, Minisiklin dan Klartromisin (Kosasih, 2008). 1. DDS (Diamino-difenil-sulfon) Obat ini bersifat bakteriostatik dengan menghambat enzim dihidrofolat sintase. Resistensi terhadap dapson timbul akibat kandungan enzim sintetase yang terlalu tinggi pada kuman kusta. Dapson biasanya diberikan sebagai dosis tunggal, yaitu 50-100 mg/hari untuk dewasa, atau 2 mg/kg BB untuk anak-anak. Efek samping yang mungkin timbul anatara lain: erupsi obat, anemia hemofilik, leukopenia, insomnia, neuropati. Namun efek samping tersebut jarang terjadi pada pemberian dosis lazim (Soebono, 1997). 2. Rifampisin Rifampisin bersifat bakterisidal kuat pada dosis lazim. Rifampisin bekerja dengan menghambat enzim polimerase RNA yang berikatan secara ireversibel. Dosis tunggal 600 mg/hari (atau 5-15 mg/kg BB. Pemberian seminngu sekali dengan jumlah besar dapat menyebabkan flu like syndrome. Efek samping yang harus diperhatikan adalah hepatotoksik, nefrotoksik, gejala gastrointestinal, dan erupsi kulit (Soebono, 1997). Obat ini adalah obat yang menjadi salah satu komponen kombinasi dengan Rifampisin tidak boleh diberikan sebagai monoterapi, oleh karena memperbesar kemungkinan terjadinya resistensi, tetapi pada pengobatan kombinasi selalu ditakutkan, tidak boleh diberikan setiap minggu atau setiap 2 minggu mengingat efek sampingnya (Kosasih, 2003).

Universitas Sumatera Utara

3. Klofazimin (lamprene) Obat ini merupakan turunan iminofenazin dan mempunyai efek bakteriosidal yang setara dengan dapson. Kemungkinan obat ini bekerja melalui gangguan metabolisme oksigen radikal. Obat ini juga bersifat anti-inflamasi

sehingga dapat dipakai pada penanggulangan reaksi kusta. Dosis untuk kusta adalah 50 mg/hari atau 100 mg tiga kali seminggu dan untuk anak-anak 1 mg/kg BB/ hari. Efek sampingnya hanya terjadi dalam dosis tinggi, berupa gangguan gastrointestinal (Nyeri Abdomen, Nausea, Diare, Anoreksi, dan Vomitus). Selain itu dapat terjadi penurunan berat badan. Dapat juga tertimbun di hati. Dapat juga terjadi hiperpigmentasi pada kulit, dan perubahan warna kulit tersebut akan menghilang setelah obat dihentikan (Soebono, 1997). 4. Protionamid dan etionamid Kedua obat ini merupakan obat anti tuberkuloasis dan hanya sedikit diakai untuk pengobatan kusta. Dulu kedua obat ini merupakan pengganti klofazimin terutama pada pasien yang merasa keberatan dengan efek hiperpigmentasinya. Obat ini bersifat bakteriostatik, tetapi karena cepat timbul resistensi, lebih toksik, harganya mahal serta efek hepatotoksiknya, maka sekarang tidak dianjurkan lagi pada pengobatan kusta. Skema rejimen Multi Drug Therapy (MDT) WHO terdiri atas kombinasi obat-obatan dapson, rifampsin, dan klofasimin, dengan skema menurut WHOsebagai berikut: 1.Rejimen PB : terdiri atas rifampisin 600 mg sebulan sekali, dibawah pengawasan ditambah dapson 100 mg/hari (1-2 mg/kg BB) selama 6 bulan. 2. Rejimen MB : terdiri atas kombinasi rifampisin 600 mg sebulan sekali dibawah pengawasan,dapson 100 mg. Hari, ditambah klofazimin 300 mg sebulan sekali diawasi dan 50 mg/hari swakelola. Lama pengobatan 2 tahun. Setelah penderita menyelesaikan pengobatan MDT sesuai dengan peraturan maka ia akan menyatakan RFT (Relasif From Treatment), yang berarti

Universitas Sumatera Utara

tidak perlu lagi makan obat MDT dan dianggap sudah sembuh. Sebelum penderita dinyatakan RFT, petugas kesehatan harus : 1. Mengisi dan menggambarkan dengan jelas pada lembaran tambahan RFT secara teliti. a. Semua bercak masih nampak. b. Kulit yang hilang atau kurang rasa terutama ditelapak kaki dan tangan. c. Semua saraf yang masih tebal. d. Semua cacat yang masih ada. 2. Mengambil skin semar (sesudah skin semarnya diambil maka penderita langsung dinyatakan RFT tidak perlu menunggu hasil skin smear). 3. Mencatat data tingkat cacat dan hasil pemeriksaan skin semar dibuku register. Pada waktu menyatakan RFT kepada penderita, petugas harus memberi penjelasan tentang arti dan maksud RFT, yaitu : 1. Pengobatan telah selesai. 2. Penderita harus memelihara tangan dan kaki dengan baik agar janga sampai luka. 3. Bila ada tanda-tanda baru, penderita harus segera datang untuk periksaan ulang.

2.1.8. Prognosis Prognosis penyakit kusta bergantung pada tipe kusta apa yang diderita oleh pasien, akses ke pelayanan kesehatan, dan penanganan awal yang diterima oleh pasien. Relaps pada penderita kusta terjadi sebesar 0,01 0,14 % per tahun dalam 10 tahun. Perlu diperhatikan terjadinya resistensi terhadap dapson atau rifampisin. Karena berkurangnya kemampuan imunitas tubuh, kehamilan pada pasien kusta wanita yang berusia dibawah 40 tahun dapat mempercepat timbulnya relaps atau reaksi, terutama reaksi tipe 2.

Universitas Sumatera Utara

Secara keseluruhan, prognosis kusta pada anak lebih baik karena pada anak jarang terjadi reaksi kusta (Lewis, 2010).

2.1.9 Reaksi Kusta Reaksi kusta atau reaksi lepra adalah suatu episode dalam perjalanan kronis penyakit kusta yang merupakan suatu reaksi kekebalan atau reaksi antigenantibodi dengan akibat merugikan penderita, terutama jika mengenai saraf tepi karena menyebabkan gangguan fungsi (cacat). Reaksi kusta dapat terjadi sebelum pengobatan tetapi terutama terjadi selama atau sesudah pengobatan. Gambaran klinisnya sangat khas berupa panas, merah, bengkak dan dapat disertai gangguan fungsi saraf. Namun tidak semua gejala reaksi serupa. 1. Reaksi Tipe 1 Reaksi ini banyak terjadi pada penderita yang berada pada spektrum borderline. Reaksi ini terjadi selama pengobatan dan terjadi karena peningkatan hebat respon imun seluler secara tiba-tiba, sehingga terjadi peradangan hebat pada kulit dan saraf. Inflamasi pada saraf dapat mengakibatkna kerusakan dan kecacatan yang timbulnya dalam hitungan hari, jika tidak ditangani secara adekuat. Gejala pada reaksi tipe 1 dapat dilihat berupa perubahan pada kulit, maupun saraf dalam bentuk peradangan. Kulit bengkak, nyeri, dan panas . Pada saraf, manifestasi berupa nyeri dan gangguan fungsi saraf, kdang juga dapat terjadi demam (Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta, 2006). 2. Reaksi Tipe 2 Terjadi pada penderita MB dan merupakan reaksi humoral karena tingginya respon imun humoral pada penderita borderline dan

lepromatous, dimana tubuh membentuk antibodi karena salah satu protein M. Leprae bersifat antigenik. Jika terjadi reaksi dengan antibodi sehingga membentuk kompleks imun dan menyebabkan nodul merah yang disebut ENL (Erytema Nodosum Leprosum). Kompleks imun juga biasanya terjadi ekstravaskuler dan dalam sirkulasi darah, sehingga dapat mengendap ke berbagai organ terutama pada kulit, saraf, limfonodus, dan

Universitas Sumatera Utara

testis. Umumnya menghilang dalam 10 hari dan bekasnya daat menimbulkan hiperpigmentasi (Pedoman Nasional Pemberantasan

Penyakit Kusta, 2006). 3. Lucio Phenomenon Reaksi yang terjadi pada tipe LL yang menyerang pasien kusta di negara Meksiko yang tidak mendapatkan pengobatan. Gejalanya berupa bintik merah yang lunak dan nyeri di kulit, biasanya pada ekstremitas, kemudian bintik tersebut menjadi seperti purpura dan bagian tengahnya menjadi ulkus dan akhirnya menjadi seperti krusta yang berwarna coklat atau hitam (Jopling, 1995).

2.1.10. Cacat Kusta WHO (1980) membatasi istilah dalam cacat kusta sebagai berikut: 1. Impairment: segala kehilangan atau abnormalitas struktur atau fungsi yang bersifat patologik, fisiologik, atau anatomik, misalnya leproma,

ginekomastia, madarosis, claw hand, ulkus, dan absorbsi jari. 2. Disability: segala keterbatasan atau kekurangmampuan (akibat impairment) untuk melakukan kegiatan dalam batas kehidupan yang normal bagi manusia. 3. Handicap: kemunduran pada seorang individu (akibat impairment atau disability) yang membatasi atau menghalangi penyelesaian tugas normal yang bergantung pada umur, jenis kelamin, dan faktor soial budaya.

Handicap ini merupakan efek penyakit kusta yang berdampak sosial, ekonomi, dan budaya. WHO Expert Comittee on Leprosy dalam laporan yang dimuat dalam WHO Technical Report Series No. 607 telah membuat klasifikasi cacat bagi

penderita kusta. Klasifikasi tersebut antara lain: 1. Tingkat 0 (tidak terdapat gangguan sensibilitas atau deformitas yang terlihat pada kaki, tangan dan mata),

Universitas Sumatera Utara

2. Tingkat 1 (ada gangguan sensibilitas, tanpa ada kerusakan yang terlihat pada tangan dan kaki. Ada gangguan pada mata, tidak terdapat gangguan penglihatan yang berat. Visus 6/60 atau lebih baik). 3. Tingkat 2 (ada deformitas pada tangan dan kaki, visus kurang dari 6/60, terdapat gangguan penglihatan berat) (Kosasih, 2003). Jenis cacat yang timbul pada penderita kusta dapat dibagi: 1. Kelompok cacat primer Kelompok kecacatan yang disebabkan langsung oleh aktivitas penyakit, terutama kecacatan sebagai respon kerusakan jaringan terhadap infeksi. Yang termasuk cacat ini: a. Cacat pada fungsi sensorik, mislanya anestesia, fungsi saraf motorik. Misalnya: claw hand, wrist drop, foot drop, lagoftalmos dan cacat pada fungsi otonom yang dapat menyebabkan kulit kering dan elastisitas kulit berkurang. b. Infiltrasi kuman pada kulit dan jaringan subkutan menyebabkan kulit berkerut dan berlipat-lipat. Kerusakan folikel rambut menyebabkan alopesia dan madarosis. c. Cacat pada jaringan lain akibat infiltrasi kuman dapat terjadi tendon, ligamen, sendi, tulang rawan, tulang, testis, dan bola mata (Harijanto, 2000).

2. Kelompok cacat sekunder Cacat yang terjadi akibat cacat primer, terutama akibat adanya kerusakan saraf. Anestesi memudahkan luka akibat trauma mekanis maupun termis. Kelumpuhan motorik dapat menyebabkan kontraktur sehingga dapat

menimbulkan gangguan mengenggam dan berjalan. Lagoftalmos dapat menyebabkan kornea kering dan terjadinya keratitis (Harijanto, 2000). Menurut Kuniarto (2006), terdapat beberapa faktor risiko mempengaruhi terjadinya kecacatan pada penderita kusta, yaitu: a. Pekerjaan b. Status ekonomi yang

Universitas Sumatera Utara

c. Lama sakit d. Tidak teratur minum obat e. Riwayat reaksi f. Lokasi lesi g. Perawatan diri

2.1.11. Rehabilitasi Cacat Kusta Rehabilitasi merupakan proses pemulihan untuk memperoleh fungsi penyesuaian diri secara maksimal atas suatu usaha untuk mempersiapkan penderita cacat secara fisik, mental, sosial dan kekaryaan untuk suatu kehidupan yang penuh, sesuai dengan kemampuan yang ada padanya (Depkes, 1977). Maxwell Jones, Leonardi Mayo, dan Hinsi dan Campbell memberi pengertian rehabilitasi sebagai berikut: 1. Rehabilitasi ditujukan bagi orang cacat dan yang mempunyai keterbatasan atau handicap. 2. Rehabilitasi adalah pertolongan yang berdasarkan pada pemberian hak azasi, bukan pada filanterofi. 3. Rehabilitasi bertujuan untuk mengembalikan individu menjadi manusia normal, mandiri dan berguna. 4. Rehabilitasi merupakan upaya yang terpadu dan terkordinasi meliputi berbagai aspek yang dijalankan menurut sistem dan metode tertentu secara bertahap (Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta). Maka dari itu, Penderita Cacat Kusta (PCK) perlu mendapat berbagai macam rehabilitasi melalui pendekatan paripurna mencakup: 1. Rehabilitasi bidang medis: a. Perawatan yang dikerjakan bersamaan dengan program

Pencegahan Cacat (POD), Kelompok Perawatan Diri (KPD) atau Self Care Group. b. Rehabilitasi fisik dan mental yang dikerjakan melalui berbagai tindakan pelayanan medis dan konseling medik (Soewono, 1997). 2. Rehabilitasi bidang sosial-ekonomi

Universitas Sumatera Utara

Rehabilitasi sosial ditujukan untuk mengurangi masalah psikologis dan stigma sosial agar PCK dapat berintegrasi sosial meliputi: konseling, advokasi, penyuluhan dan pendidikan. Sedangkan rehabilitasi ekonomi ditujukan untuk perbaikan ekonomi dan kualitas hidup meliputi: meliputi keterampilan kerja (vocational training), fasilitas kredit kecil untuk usaha sendiri, modal bergulir, modal usaha, dll (Soewono, 1997). Menurut Soewono (1997), pada rehabilitasi PCK, peranan fisioterapi sangatlah penting, beberapa peranan fisioterapi bagi PCK adalah: 1. Mengembalikan tonus otot yang mengalami kelumpuhan 2. Mencegah atrofi atau kontraktur otot yang mengalami kelumpuhan 3. Mencegah timbulnya kontraktur dan mempertahankan range sendi normal 4. Membuat kulit tetap lembut dan lunak. Sebagai kesatuan dari rehabilitasi kusta, maka perlu dilakukan tindakan bedah pada penderita kusta yang cacat, khususnya bedah rekonstruksi, dengan tujuan: 1. Memperbaiki fungsi anggota badan seoptimal mungkin. 2. Mencegah cacat berlanjut menjadi berat 3. memperbaiki penampilan (kosmetik) Agar pembedahan dapat berhasil dengan baik, maka harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1. Basil tahan asam (M. Leprae) negatif atau penderita sudah bebas terapi (CTC = Completetion to treatment cure) 2. Bebas reaksi lebih dari 6 bulan 3. Tidak pernah mendapat pengobatan steroid dalam 6 bulan terakhir 4. Kelumpuhan otot sudah menetap 5. Tidak ada kontra indikasi pada operasi umum 6. Penderita kooperatif dan ada motivasi untuk dioperasi

2.2.12 Pencegahan Cacat Kusta 1. Upaya Pencegahan Cacat Primer, yang meliputi:

Universitas Sumatera Utara

a. Diagnosis dini b. Pengbaan secara teratur dan adekuat c. Diagnosis dini dan penatalaksanaan neuritis d. Diagnosis dini dan penatalaksanaan reaksi 2. Upaya Pencegahan cacat sekunder, meliputi: Perawatan diri sendiri untuk mencegah luka a. Latihan fisioterapi pada otot yang mengalami kelumpuhan untuk mencegah terjadinya kontraktur b. Bedah rekonstruksi untuk otot yang mengalami kelumpuhan c. Bedah septik untuk mengurangi perluasan infeksi sehingga pada proses penyembuhan tidak terlalu banyak jaringan yang hilang Perawatan mata, tangan dan atau kaki yang anestesi dan mengalami kelumpuhan otot. (Wisnu, 1997)

2.1.13 Relaps Kusta Menurut Amirudin (1997), relaps adalah kembalinya penyakit secara aktif kepada penderita yang sesungguhnya telah menyelesaikan pengobatan yang telah ditentukan dan karena itu pengobatannya telah dihentikan oleh petugas yang berwenang 1. Relaps pada pasien kusta PB dapat bermanifestasi: a. Terjadi pada kulit dan saraf yang klasifikasi tipe kusta asalnya sama b. Manifestasi relaps mungkin lebih jelek dari klasifikasi asalnya, contoh: penderita dengan klasifikasi asal BT dengan relaps dengan ciri-ciri BT atau BL c. Dapat bermanifestasi relaps dalam bentuk yang lebih baik, contoh: penderita yang asalnya BT dapat relaps dalam bentuk TT Relaps pada pasien kusta MB dapat bermanifestasi: a. b. Terjadi pada kulit dan saraf yang klasifikasi tipe kusta asalnya sama Manifestasi relaps mungkin lebih jelek dari klasifikasi asalnya, contoh: penderita dengan klasifikasi asal BB atau BT dengan relaps dengan ciri-ciri LL

Universitas Sumatera Utara

c.

Dapat bermanifestasi relaps dalam bentuk yang lebih baik, contoh: penderita yang asalnya LL dapat relaps dalam bentuk borderline, misalnya BL, BB atau BT

d.

Tipe lesi aneh yang disebut histoid dapat terjadi pada beberapa kasus. Relaps yang khas ini disebabkan oleh resistensi obat (terutama terhadap dapson) (Amirudin et al, 1997).

Gambaran klinis relaps: 1. Meluasnya lesi yang telah ada, menebal, eritematosa atau terjadinya infiltrat pada lesi yang sebelumnya telah menghilang atau terbentuknya lesi baru. 2. Penebalan atau kerusakan saraf, atau adanya saraf baru yang terkena 3. Ditemukan bakteri pada tempat yang sebelumnya negatif dan atau positif pada lesi yang baru (Amirudin et al, 1997).

2.2.1. Kualitas Hidup Kualitas hidup adalah persepsi individual terhadap posisinya dalam kehidupan, dalam konteks budaya, sistem nilai dimana mereka berada dan hubungannya terhadap tujuan hidup, harapan, standar, dan lainnya yang terkait. Masalah yang mencakup kualitas hidup sangat luas dan kompleks termasuk masalah kesehatan fisik, status psikologik, tingkat kebebasan,

hubungan sosial, dan hubungan lingkunan dimana mereka berada. Menurut Testa dan Simonson (1998) dalam Peterman, Rothrock, dan Cella (2008), kualitas hidup merepresentasikan apresiasi subjektif pasien terhadap pengaruh penyakit pengobatan penyakitnya terhadap

yang dideritanya ataupun pengaruh dari

dirinya yang penilaiannya dilakukan secara multidimensional. Kelompok pasien yang memiliki penyakit yang sama dan tujuan terapi yang sama dapat memiliki laporan kualitas hidup yang berbeda dikarenakan oleh perbedaan harapan dan penyakit yang

kemampuan beradaptasi dari masing-masing pasien terhadap dideritanya.

Dikutip dari kualitas hidup menurut Jennifer J. Clinch, Deborah Dudgeeon dan Harvey Schipper (1999), Kualitas hidup mencakup :

Universitas Sumatera Utara

a. Gejala fisik b. Kemampuan fungsional (aktivitas) c. Kesejahteraan keluarga d. Spiritual e. Fungsi sosial f. Kepuasan terhadap pengobatan (termasuk masalah keuangan) g. Orientasi masa depan h. Kehidupan seksual, termasuk gambaran terhadap diri sendiri i. Fungsi dalam bekerja Penelitian Joseph dan Rao (1999) yang meneliti mengenai kualitas hidup pada penderita kusta, menilai hal-hal dibawah ini sebagai parameter kualitas hidup pada penderita kusta: a. Kesehatan dan Aktivitas fisik b. Psikologis c. Tingkat kebergantungan terhadap orang lain d. Hubungan sosial e. Lingkungan f. Spiritual

Universitas Sumatera Utara