Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM

ANALISA DAN PERANCANGAN KERJA


MODUL 4 BEBAN KERJA

DISUSUN OLEH: KELOMPOK V

Rudini Mulya Zamaludin Stefany Soegianto Novian Azis Muksin Ardiansyah Ihsan Maulana

(41610010035) (41610010014) (41610010042) (41610010034) (41610010015) (41610010010)

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MERCUBUANA JAKARTA 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kelompok kami bisa menyusun dan menyajikan laporan praktikum Analisis dan Perancangan Kerja (APK) ini dengan baik hingga akhir penyusunanya. Praktikum ini merupakan suatu lagka awal bagi mahasiswa untuk semaking mengenal bagaimana proses dalam analisis dan perancangan kerja yang baik dalam suatu pekerjaan yang dihadapi. Dengan penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini sudalah merupakan suatu optimalisasi dengan pertimbangan akan singkatnya waktu dan kemauan keras. Namun, masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan Kritik serta Saran yang membangun guna menjadikan bahan acuan dalam penulisan tugas-tugas yang selanjutnya. Akhir kata semoga penyusunan laporan praktikum Analisis dan Perancangan Kerja ini bisa berguna bagi semua pembaca, yang dengan senang meluangkan waktunya untuk membaca laporan praktikum ini.

Jakarta, 10 Juni,2013

Kelompok V

DAFTAR ISI

Kata Pengantar............................................................................................................................. Daftar Isi...................................................................................................................................... Bab 1. Pendahuluan..................................................................................................................... 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 Latar Belakang Perencanaan Pratikum.............................................................. Batasan Masalah................................................................................................ Tujuan Pratikum................................................................................................ Alat dan Bahan yang digunakan........................................................................ Pelaksanaan Pratikum........................................................................................

I II III 4 4 4 5 5

Bab II. Landasan Teori................................................................................................................ 2.1 2.1 2.1 Beban Kerja................................................................................................... Penilaian Beban Kerja................................................................................... Kelelahan......................................................................................................

6 6 7 7 14

Bab III. Metode Penelitian......................................................................................................

Bab IV. Analisis Data............................................................................................................. 4.1 4.2 4.3 4.4 Beban Kerja Fisik.......................................................................................... Perhitungan................................................................................................... Beban Kerja Mental....................................................................... ............ Perhitungan.................................................................................................

15 15 16 19 20

Bab V. Kesimpulan Dan Saran.............................................................................................. 5.1 5.2 Kesimpulan................................................................................................... Saran.............................................................................................................

23 23 23

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pelaksanaan Praktikum Tubuh manusia dirancang untuk dapat melakukan aktivitas kerja sehari-hari. Adanya massa otot yang bobotnya hampir lebih dari separuh barat tubuh, memungkinkan kita untuk dapat menggerakkan tubuh dan melakukan pekerjaan. Pekerjaan disatu pihak mempunyai arti penting bagi kemajuan dan peningkatan prestasi. Di pihak lain , dengan pekerjaan berarti tubuh akan menerima beban dari luar tubuhnya. Dengan kata lain bahwa setiap pekerjaan merupakan beban bagi yang bersangkutan. Beban tersebut dapat berupa beban fisik maupun beban mental. Dari sudut pandang ergonomi, setiap beban kerja diterima oleh seseorang harus sesuai atau seimbang baik terhadap kemampuan fisik, kemampuan kognitif maupun keterbatasan manusia yang menerima beban tersebut. Menurut Sumamur (1984) bahwa kemampuan kerja seorang tenaga kerja berbeda dari satu kepada yang lainnya dan sangat tergantung dari tingkatan keterampilan, kesegaran jasmani, keadaan gizi, jenis kelamin, usia dan ukuran tubuh dari pekerjaan yang bersangkutan. Berdasarkan alasan diatas maka untuk melangkapi teori yang sudah didapat dan lebih memahami mengenai konsep-konsep, prinsip- prinsip dan teknik dalam Analisa dan Perancangan Kerja khususnya Beban Kerja maka kami melaksanakan praktikum ini. Diharapkan dengan praktimum ini kami dapat meningkatkan pemahaman dan pengembangan ilmu Analisa dan Perancangan Kerja dan kelak dapat dipraktikan dilingkungan kerja perusahaan. 1.2 Batasan Masalah Untuk membatasi praktikum ini agar lebih terfokus maka kami hanya melakukan praktikum terbatas pada pengukuran beban kerja melalui kelelahan fisik maupun mental 1.3 Tujuan Praktikum Adapun tujuan praktikum ini adalah sebagai berikut : 1. Mampu menggunakan dan mengetahui alat pengukur kelelahan 2. Mampu menghitung konsumsi energi, heart rate saat sebelum bekerja dan sesudah bekerja 3. Mampu merancang simulasi kelelahan dengan menggunakan treadmill 4. Mampu mengukur kelelahan menggunakan reaction time 5. Mampu mengolah dan menganalisis hubungan antara kelelahan dan dampaknya

1.4 Alat dan Bahan yang Digunakan Untuk menunjang pelaksanaan praktikum, maka digunakan beberapa alat dan bahan, adapun alat dan bahan nya adalah sebagai berikut : 1. Tread mill automatic speed 2. 1 set reaction time 3. Stopwatch 4. Lembar pengambilan data 5. Alat tulis 1.5 Pelaksanaan Praktikum Praktikum Analisa dan Perancangan Kerja yang mempelajari tentang Beban Kerja dilaksakan pada : Hari Jam Tempat : Rabu, 15 Mei 2013 : 14.00 s/d 16.00 WIB : Ruang D-207

BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Beban Kerja Tubuh manusia dirancang untuk dapat melakukan aktivitas kerja sehari-hari. Adanya massa otot yang bobotnya hampir lebih dari separuh barat tubuh, memungkinkan kita untuk dapat menggerakkan tubuh dan melakukan pekerjaan. Pekerjaan disatu pihak mempunyai arti penting bagi kemajuan dan peningkatan prestasi. Di pihak lain , dengan pekerjaan berarti tubuh akan menerima beban dari luar tubuhnya. Dengan kata lain bahwa setiap pekerjaan merupakan beban bagi yang bersangkutan. Beban tersebut dapat berupa beban fisik maupun beban mental. Dari sudut pandang ergonomi, setiap beban kerja diterima oleh seseorang harus sesuai atau seimbang baik terhadap kemampuan fisik, kemampuan kognitif maupun keterbatasan manusia yang menerima beban tersebut. Menurut Sumamur (1984) bahwa kemampuan kerja seorang tenaga kerja berbeda dari satu kepada yang lainnya dan sangat tergantung dari tingkatan keterampilan, kesegaran jasmani, keadaan gizi, jenis kelamin, usia dan ukuran tubuh dari pekerjaan yang bersangkutan. Beban kerja oleh karena faktor eksternal Faktor eksternal beban kerja adalah beban kerja yang berasal dari luar tubuh pekerja. Yang termasuk beban kerja eksternal adalah tugas (task) itu sendiri, organisasi dan lingkungan kerja, ketiga aspek ini sering disebut sebagai stressor. Tugas-tugas yang dilakukan baik yang bersifat fisik, seperti stasiun kerja, sikap kerja, beban yang diangkat-angkut, peralatan , sarana informasi dll. Sedangkan tugastugas yang bersifat mental , seperti tingkat kesulitan pekerjaan, tanggung jawab terhadap pekerjaan , dll. Organisasi kerja yang dapat mempengaruhi beban kerja, seperti lamanya waktu kerja, waktu istirahat, kerja bergilir, kerja malam, model struktur organisasi, sistem pelimpahan tugas dan wewenang , dll. Lingkungan kerja yang dapat memberikan beban tambahan kepada pekerja adalah ; * lingkungan kerja fisik, seperti intensitas penerangan, kebisingan, temperatur ruangan, getaran , dll. * lingkungan kerja kimiawi, seperti debu, gas-gas pencemar udara, uap logam, dll. * lingkungan kerja biologis, seperti bakteri, virus, jamur, parasit dll. * lingkungan kerja psikologis, seperti pemilihan dan penempatan tenaga kerja, hubungan antara pekerja dengan pekerja, atasan dan bawahan, dll.

Beban kerja oleh karena faktor internal Faktor internal beban kerja adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh itu sendiri sebagai akibat adanya reaksi dari beban kerja eksternal. Reaksi tubuh tersebut dikenal sebagai strain . Berat ringannya strain dapat dinilai baik secara objektif maupun subjektif. Penilaian secara objektif , yaitu melalui perubahan reaksi fisiologis. Sedangkan penilaian subjektif dapat dilakukan secara subjektif berkaitan erat dengan harapan, keinginan, kepuasan dll. Secara lebih ringkas faktor internal meliputi ; faktor somatis ( jenis kelamin, umur, ukuran tubuh, kondisi kesehatan, status gizi ) , faktor psikis ( motivasi, persepsi, kepercayaan, keinginan, kepuasan dll. ). 2.2. Penilaian Beban Kerja Fisik dan Beban Kerja Mental A. Beban Kerja Fisik Menurut Astrand & Rodahl (1977) bahwa penilaian beban kerja fisik dapat dilakukan dengan dua metode secara objektif, yaitu metode penilaian langsung dan metode tidak langsung. Metode pengukuran langsung yaitu dengan mengukur energi yang dikeluarkan melalui asupan oksigen selama bekerja. Meskipun metode dengan menggunakan asupan oksigen lebih akurat, namun hanya dapat mengukur untuk waktu kerja yang singkat dan diperlukan peralatan yang cukup mahal. Sedangkan metode pengukuran tidak langsung adalah dengan menghitung denyut nadi selama kerja. Kemudian Konz (1996)

mengemukakan bahwa denyut jantung adalah suatu alat estimasi laju metabolisme yang baik, kecuali dalam keadaan emosi. Katagori berat, ringan nya beban kerja didasarkan pada metabolisme, respirasi, suhu tubuh dan denyut jantung. Tabel 1. Katagori Beban Kerja Katagori beban kerja Konsumsi oksigen (l/min) 0,5 1,0 1,0 1,5 1,5 2,0 2,0 2,5 berat 2,5 4,0 Vestilasi paru (l/min) 11 20 20 31 31 43 43 56 60 100 Suhu rektal (C) Denyut jantung (denyut/min) 75 100 100 125 125 150 150 175 > 175

Ringan Sedang Berat Sangat berat Sangat sekali

37,5 37,5 38,0 38,0 38,5 38,5 39,0 > 39

Sumber : Chris tensen (1996 ) Berat ringannya beban kerja yang diterima oleh seorang tenaga kerja dapat digunakan untuk penentuan berapa lama seorang tenaga kerja dapat melakukan aktivitas pekerjaannya sesuai dengan kemampuan atau kapasitas kerja yang bersangkutan. Semakin berat beban kerja maka semakin pendek waktu kerja seseorang untuk bekerja tampa kelelahan dan gangguan fisiologis yang berarti atau sebaliknya. Salah satu kebutuhan utama dalam pergerakan otot adalah kebutuhan akan oksigen yang dibawa oleh darah ke otot untuk pembekaran zat dalam menghasilkan energi. Sehingga jumlah oksigen yang dipergunakan oleh tubuh untuk bekerja merupakan salah satu indikator pembebanan selama bekerja. Dengan demikian setiap aktivitas pekerjaan memerlukan energi yang dihasilkan dari proses pembakaran. Semakin berat pekerjaan yang dilakukan maka akan semakin besar pula energi yang dikeluarkan. Berdasarkan hal tersebut maka besarnya jumlah kebutuhan kalori dapat digunakan sebagai petunjuk untuk menentukan berat ringannya beban kerja. Berkaitan hal tersebut , menurut Kepmennaker (1999), menetapkan kategori beban kerja menurut kebutuhan kalori sebagai berikut : Beban kerja ringan Beban kerja sedang Beban kerja berat : 100 200 kilo kalori / jam : > 200 350 kilo kalori / jam : > 350 500 kilo kalori / jam

Kebutuhan kalori dapat dinyatakan dalam kalori yang dapat diukur secara tidak langsung dengan menentukan kebutuhan oksigen. . Komsumsi energi diukur dalam satuan Watt, 1 Watt = 1 Joule/detik, untuk konversi satuan energi setiap kebutuhan 1 liter oksigen akan memberikan 4,8 kilo kalori energi yang setara dengan 20 KJ. Dalam satuan SI didapat 1 kilo kalori = 4,2 kilojoule (KJ). Konsumsi energi merupakan faktor utama dan tolak ukur yang dipakai sebagai penentu besar/ringannya kerja fisik dilaksanakan. Proses Metabolisme merupakan fasa yang penting sebagai penghasil energi yang diperlukan untuk kerja fisik. Besarnya energi yang dihasilkan / dikonsumsi dinyatakan dalam satuan kilo kalori(Kcal). Untuk kegiatan dengan klasifikasi ringan (berjalan, berdiri/duduk, berpakaian) memerlukkan 700Kcal/24 jam . Standar untuk energi Kerja tambahan kalori kerja 600-

5.2 Kcal/menit adalah energi maksimum

yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan fisik sedang secara terus-menerus

usia (tahun) 20 - 30 40 50 60 65

Persentase Kemampuan (%) 100% 96% 96% 90% 75%

Tabel 2. Kebutuhan kalori perjam menurut janis aktivitas Kilo Kalori/jam/kg No. Jenis Aktivitas Berat Badan

1. 2. 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

Tidur Duduk dalam keadaan istirahat Membaca dengan intonasi keras Berdiri dalam keadaan tenang Menjahit dengan tangan Berdiri dengan konsentrasi terhadap suatu objek Berpakaian Menyanyi Menjahit dengan mesin Mengetik Menyetrika (berat setrika +- 2,5 kg) Mencuci peralatan dapur Menyapu lantai dengan kecepatan +- 38 kali permenit. Menjilid buku Pelatihan ringan Jalan ringan dengan kecepatan +-3,9 km/jam Pekerjaan kayu, logam dan pengecetan dalam industri Pelatihan sedang Jalan agak cepat dengan kecepatan +-5,6 km/jam Jalan turun tangga Pekerjaan tukang batu

0,98 1,43 1,50 1,50 1,59 1,63 1,69 1,74 1,93 2,00 2,06 2,06 2,41 2,43 2,43 2,86 3,43 4,14 4,28 5,20 5,71

22 23 24 25 26 27 28

Pelatihan berat Pekerjaan kayu secara manual Berenang Lari dengan kecepatan +-8 km/jam Pelatihan sangat berat Jalan sangat cepat dengan kecepatan +-8 km/jam Jalan naik tangga

6,43 6,86 7,14 8,14 8,57 9,28 15,80

Kebutuhan kalori perjam tersebut merupakan pemenuhan kebutuhan kalori terhadap energi yang dikeluarkan akibat beban kerja utama. Sehingga masih diperlukan tambahan kalori apabila terdapat beban kerja tambahan seperti , suhu lingkungan yang panas dan lain-lain. Menurut Grandjean (1993) bahwa kebutuhan kalori seorang pekerja selama 24 jam sehari ditentukan oleh tiga hal : 1. Kebutuhan kalori untuk metabolisme basal . Metabolisme basal adalah konsumsi energi secara konstan pada saat istirahat dengan perut dalam keadaan kosong, yang mana tergantung pada ukuran berat badan dan jenis kelamin Dimana seorang laki-laki dewasa memerlukan kalori untuk metabolisme basal +- 100 kilo Joule(23,87 kilo kalori) per 24 jam kg-BB. Sedangkan seorang wanita dewasa memerlukan kalori untuk metabolisme basal +- 98 kilo Joule(23,39 kilo kalori) per 24 jam kg-BB. Contoh seorang laki-laki dewasa dengan berat badan 60 kg akan memerlukan kalori untuk metabolisme basal sebesar +- 6000 kilo Joule(1432 kilo kalori) per 24 jam. 2. Kebutuhan kalori untuk kerja. Kebutuhan kalori untuk kerja sangat ditentukan dengan jenis aktivitas kerja yang dilakukan atau berat ringannya pekerjaan. 3. Kebutuhan kalori untuk aktivitas lain diluar jam kerja. Rerata-rata kebutuhan kalori untuk aktivitas lain diluar jam kerja adalah +- 2400 kilo Joule(573 kilo kalori) untuk seorang laki-laki dewasa dan sebesar +- 2000 - 2400 kilo Joule(477- 425 kilo kalori) per hari untuk wanita dewasa.

Beban kerja fisik tidak hanya ditentukan oleh jumlah kilo kalori yang dikonsumsi, tetapi juga ditentukan oleh jumlah otot yang terlibat dan beban statis yang diterima serta tekanan panas dari lingkungan kerjanya yang dapat meningkatkan denyut nadi. Berdasarkan hal tersebut maka denyut nadi lebih mudah dan dapat digunakan untuk

menghitung indeks beban kerja. Dan salah satu cara yang sederhana untuk menghitung denyut nadi adalah dengan merasakan denyutan pada arteri radialis dipergelangan tangan. Denyut nadi untuk mengistimasi indeks beban kerja fisik terdiri dari beberapa jenis yang didefinisikan oleh Grandjean (1993) : 1. Denyut nadi istirahat : adalah rerata denyut nadi sebelum pekerjaan dimulai 2. Denyut nadi kerja : adalah rerata denyut nadi selama bekerja 3. Nadi kerja : adalah selisih antara Denyut nadi istirahat dan Denyut nadi kerja B. Beban Kerja Mental Selain beban kerja fisik , beban kerja yang bersifat mental harus pula dinilai. Namun demikian penilaian beban kerja mental tidaklah semudah menilai beban kerja fisik.

Pekerjaan yang bersifat mental sulit diukur melalui perubahan fungsi faal tubuh. Secara fisiologis, aktivitas mental terlihat sebagai suatu jenis pekerjaan yang ringan sehingga juga lebih rendah. Pada hal secara moral dan

kebutuhan kalori untuk aktivitas mental tanggung jawab, aktivitas mental

jelas lebih berat dibandingkan dengan aktivitas fisik,

karena lebih melibatkan kerja otak ( white-collar) dari pada kerja otot( Blue-collar). Dewasa ini aktivitas mental lebih banyak didominasi oleh pekerja-pekerja kantor, supervisor dan

pimpinan sebagai pengambil keputusan dengan tanggung jawab yang lebih besar. Menurut Grandjean (1993) setiap aktivitas mental akan selalu melibatkan unsur persepsi, interpretasi dan proses mental dari suatu informasi yang diterima oleh organ sensor untuk diambil suatu keputusan atau proses mengingat informasi yang lampau. Yang menjadi masalah pada manusia adalah kemampuan untuk memanggil kembali atau mengingat informasi yang disimpan. Proses mengingat kembali ini sebagian besar menjadi masalah bagi orang tua. Seperti kita tahu bahwa orang tua kebanyakan mengalami penurunan daya ingat. Dengan demikian penilaian beban kerja mental lebih tepat menggunakan penilaian terhadap tingkat ketelitian, kecepatan maupun konstansi kerja . Sedangkan jenis pekerjaan yang lebih memerlukan kesiapsiagaan tinggi seperti petugas air traffic controllers di Bandara udara adalah sangat berhubungan dengan pekerjaan mental yang memerlukan konsentrasi tinggi. Semakin lama orang berkonsentrasi maka akan semakin berkurang tingkat kesiapsiagaannya. Maka uji yang lebih tepat untuk menilai kesiapsiagaan tinggi adalah tes waktu reaksi . Dimana waktu reaksi sering dapat digunakan sebagai cara untuk menilai kemampuan melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan mental.

2.3. Pengetian Kelelahan Kelelahan bagi setiap orang lebih bersifat subjektif karena terkait dengan perasaan. Kelelahan adalah aneka keadaan yang disertai dengan penurunan efisiensi dan ketahanan dalam bekerja. Istilah kelelahan biasanya menunjukan kondisi yang berbeda-beda dari setiap individu, tetapi semuanya bermuara kepada penurunan efisiensi dan terjadinya penurunan vitalitas dan produktivitas kerja akibat faktor pekerjaan. Kelelahan merupakan suatu pola yang timbul pada suatu keadaan yang secara umum terjadi pada setiap individu . Gejala kelelahan kerja adalah adanya perasaan lelah, penurunan kesiagaan, persepsi yang lambat dan lemah disamping penurunan kerja fisik dan mental. Kelelahan diklasifikasikan dalam dua jenis, yaitu kelelahan otot dan kelelahan umum. Kelelahan otot adalah merupakan tremor pada otot (perasaan nyeri pada otot). Sedangkan kelelahan umum biasanya ditandai dengan berkurangnya kemauan untuk bekerjayang disebabkan karena monotoni, intensitas, lamanya kerja fisik, keadaan lingkungan, sebabsebab mental, status kesehatan dan keadaan gizi ( Grandjean, 1993). Byrd dan Moore (1986) menyatakan bahwa penurunan produktivitas kerja pada pekerja terutama oleh adanya kelelahan kerja . ILO (1983) mengutarakan bahwa faktor yang mempengaruhi terjadinya kelelahan kerja adalah adanya monotoni pekerjaan ; adanya intensitas dan durasi kerja mental dan fisik yang tidak proporsional; faktor lingkungan kerja, cuaca dan

kebisingan; faktor mental seperti tanggung jawab, ketegangan dan adanya konflik-konflik; serta adanya penyakit-penyakit, kesakitan dan nutrisi yang tidak memadai. Faktor penyebab terjadinya kelelahan akibat kerja Grandjean (1991 ) menjelaskan bahwa faktor penyebab terjadinya kelelahan di industri sangat bervariasi, dan untuk memelihara/ mempertahankan kesehatan dan efisiensi, proses penyegaran harus dilakukan di luar tekanan (cancel out the stress). Penyegaran terjadi terutama selama waktu tidur malam, tetapi periode istirahat dan waktu-waktu berhenti kerja juga dapat memberikan penyegaran. Kelelahan yang disebabkan oleh karena kerja statis berbeda dengan kerja dinamis. Pada kerja otot statis, dengan pengerahan tenaga 50% dari kekuatan maksimum otot hanya dapat bekerja selama 1 menit, sedangkan pada pengerahan tenaga < 20% kerja fisik dapat berlangsung cukup lama. Tetapi pengerahan tenaga otot statis sebesar 15-20% akan menyebabkan kelelahan dan nyeri jika pembebanan berlangsung sepanjang hari. Astrand & Rodahl (1977) berpendapat bahwa kerja dapat dipertahankan beberapa jam per hari tanpa

gejala kelelahan jika tenaga yang dikerahkan tidak melebihi 8% dari maksimum tenaga otot. Lebih lanjut Suma'mur (1982); Grandjean (1993), juga menyatakan bahwa kerja otot statis merupakan kerja berat (Strenous), kemudian mereka membandingkan antara kerja otot statis dan dinamis. Pada kondisi yang hampir sama, kerja otot statis mempunyai konsumsi energi lebih tinggi, denyut nadi meningkat dan diperlukan waktu istirahat yang lebih lama. Waters & Bhattacharya (1996), berpendapat agak lain, bahwa kontraksi otot baik statis maupun dinamis dapat menyebabkan kelelahan otot setempat. Kelelahan tersebut terjadi pada waktu ketahanan (Endurance time) otot terlampaui. Waktu ketahanan otot tergantung pada jumlah tenaga yang dikembangkan oleh otot sebagai suatu prosentase tenaga maksimum yang dapat dicapai oleh otot. Kemudian pada saat kebutuhan metabolisme dinamis dan aktivitas melampaui kapasitas energi yang dihasilkan oleh tenaga kerja, maka kontraksi otot akan terpengaruh sehingga kelelahan seluruh badan terjadi. Sedangkan Annis & McConville (1996) berpendapat bahwa saat kebutuhan metabolisme dinamis dan aktivitas melampaui kapasitas energi yang dihasilkan oleh tenaga kerja, maka kontraksi otot akan terpengaruh sehingga kelelahan seluruh badan terjadi. Kemudian mereka merekomendasikan bahwa, penggunaan energi tidak melebihi 50% dari tenaga aerobik maksimum untuk kerja 1 jam; 40% untuk kerja 2 jam dan 33% untuk kerja 8 jam terus menerus. Nilai tersebut didesain untuk mencegah kelelahan yang dipercaya dapat meningkatkan resiko cedera otot pada tenaga kerja. Untuk mengurangi tingkat kelelahan maka harus dihindarkan sikap kerja yang bersifat statis dan diupayakan sikap kerja yang lebih dinamis. Hal ini dapat dilakukan dengan merubah sikap kerja yang statis menjadi sikap kerja yang lebih bervariasi atau dinamis, sehingga sirkulasi darah dan oksigen dapat berjalan normal ke seluruh anggota tubuh. Sedangkan untuk menilai tingkat kelelahan seseorang dapat dilakukan pengukuran kelelahan secara tidak langsung baik secara objektif maupun subjektif.

BAB III METODE PENELITIAN

Dalam praktikum Beban Kerja, kami mengukur beban kerja baik fisik maupun mental. Berikut langkah-langkah/prosedur praktikum yang kami lakukan : 1. Untuk mengukur beban kerja fisik, kami mengatur kecepatan treadmill dengan speed 2 2. Kemudian operator mulai berjalan diatas treadmill dengan waktu yang telah ditentukan 3. Pengukur mencatat HR, konsumsi energi, dan distance lalu mengukur reaction time nya 4. Kami mengulang langkah-langkah diatas dengan kecepatan yang berbeda yaitu dengan speed 3 dan 5 5. Untuk beban kerja mental kami menggunakan alat reaction time. Dengan cara kerja sebagai berikut : Operator : menekan tombol secara acak selama 5 menit Responden : menekan tombol sesuai dengan task Pencatat : mencatat wakt respon di layar display RT

BAB IV ANALISIS DATA BEBAN KERJA FISIK Nama / NIM Jenis Kelamin Usia Berat Badan : Rafli / 41610010018 : Laki-laki : 20 tahun : 76 kg Speed Time (sec) 10 30 60 120 180 360 60 120 180 360 420 480 20 40 60 120 180 360 Distance 0,01 0,03 0,06 0,09 0,19 0,04 0,09 0,14 0,29 0,34 0,39 0,01 0,04 0,06 0,15 0,23 0,48 Energy 0,1 0,5 1 2 3 5,9 1,5 2,9 4,4 8,9 10,4 11,9 0,7 1,6 2,4 4,8 7,3 14,8 Pulse 131 136 126 132 127 110 112 114 108 115 109 112 93 111 127 130 133 121 Rest (min)

9,47

7,23

Nama / NIM Jenis Kelamin Usia Berat Badan

: Paulus F. Pake / 41610010004 : Laki-laki : 25 tahun : 64 kg Speed Time (sec) 10 30 60 120 180 360 60 120 180 360 420 480 20 40 60 120 180 360 Distance 0,01 0,03 0,06 0,09 0,19 0,05 0,09 0,14 0,29 0,34 0,39 0,02 0,05 0,08 0,16 0,24 0,49 Energy 0,1 0,5 1 2 2,9 5,9 1,3 3 4,4 8,9 10,4 11,9 0,8 1,6 2,5 5 7,4 14,9 Pulse 89 109 103 101 117 122 103 118 103 103 108 107 93 105 100 110 102 102 Rest (min)

9,1

7,23

PERHITUNGAN

Orang Pertama (Rafli) 1. Denyut nadi Max HR = 220 age = 220 20 = 200 bpm HR = 206 (0,62 x age) = 206 (0,62 x 20) = 206 12,4 = 193,6 Heart Rate (bpm) -90 90 - 100 110 - 130 130 - 150 150 - 170

Workload Light Moderate Heavy Very Heavy Extremely Heavy

2. Konsumsi Energi SPEED 2 E-cost = -1967 + 8,58HR + 25,1HT + 4,5A 7,47RHR + 67,8G =-1967 + 8,58 . 127 + 25,1 . 69,7 + 4,5 . 20 -7,47 . 64 + 67,8 . 0 = -1967 + 1089,66 + 1749,47 + 90 478,08 = 484,05 watt = 6,92 kkal/min SPEED 3 E-cost = -1967 + 8,58HR + 25,1HT + 4,5A 7,47RHR + 67,8G =-1967 + 8,58 . 112 + 25,1 . 69,7 + 4,5 . 20 -7,47 . 64 + 67,8 . 0

= -1967 + 960,96 + 1749,47 + 90 478,08 = 355,35 watt = 5,08 kkal/min SPEED 5 E-cost = -1967 + 8,58HR + 25,1HT + 4,5A 7,47RHR + 67,8G =-1967 + 8,58 . 119 + 25,1 . 69,7 + 4,5 . 20 -7,47 . 64 + 67,8 . 0 = -1967 + 1021,02 + 1749,47 + 90 478,08 = 415,41 watt = 5,94 kkal/min Kategori Pekerjaan Light Moderate Heavy Very Heavy Extremely Heavy

Pengeluaran Energi (kkal/menit) < 2,5 2,5 - 5 5 - 7,5 7,5 - 10 > 10

3. Physical Activity Rasio (PAR) Light Less than 3x resting energy Orang Kedua (Paulus) 1. Denyut nadi Max HR = 220 age = 220 22 = 198 bpm HR = 206 (0,62 x age) = 206 (0,62 x 22) = 206 13,64 = 192,36

Workload Light Moderate Heavy Very Heavy Extremely Heavy

Heart Rate (bpm) -90 90 - 100 110 - 130 130 - 150 150 - 170

2. Konsumsi Energi SPEED 2 E-cost = -1967 + 8,58HR + 25,1HT + 4,5A 7,47RHR + 67,8G =-1967 + 8,58 . 107 + 25,1 . 66,92 + 4,5 . 22 -7,47 . 68 + 67,8 . 0 = -1967 + 918,06 + 1679,69 + 99 507,96 = 221,79 watt = 3,17 kkal/min SPEED 3 E-cost = -1967 + 8,58HR + 25,1HT + 4,5A 7,47RHR + 67,8G =-1967 + 8,58 . 107 + 25,1 . 66,92 + 4,5 . 22 -7,47 . 68 + 67,8 . 0 = -1967 + 918,06 + 1679,69 + 99 507,96 = 221,79 watt = 3,17 kkal/min SPEED 5 E-cost = -1967 + 8,58HR + 25,1HT + 4,5A 7,47RHR + 67,8G =-1967 + 8,58 . 102 + 25,1 . 66,92 + 4,5 . 22 -7,47 . 68 + 67,8 . 0 = -1967 + 875,16 + 1679,69 + 99 507,96 = 178,89 watt = 2,55 kkal/min

Kategori Pekerjaan Light Moderate Heavy Very Heavy Extremely Heavy

Pengeluaran Energi (kkal/menit) < 2,5 2,5 - 5 5 - 7,5 7,5 - 10 > 10

3. Physical Activity Rasio (PAR) Light Less than 3x resting energy

BEBAN KERJA MENTAL SEBELUM MELAKUKAN PEKERJAAN Tombol B 73 57 63 44 104 52 35 32 33 29 33 50 36 39 C 57 78 49 41 35 37 D 74 77 65 46 44 63 57 53 32 35 32 40 55 E 66 38 82 67 71 66 84 41 72 49 55 54 56 F 8 74 11 161 141 11 52 41 11 49 11 48 43 48 53 80 8 850 50

Waktu (detik x100)

TOTAL RATARATA

680 48,57

297 49,5

673 51,77

801 61,62

= = ,

( ) = ,

SESUDAH MELAKUKAN PEKERJAAN TOMBOL B 33 52 25 34 23 32 31 17 61 22 44 25 30 35 30 26 C 26 38 37 30 49 33 38 31 23 46 26 28 D 40 36 83 82 39 24 41 36 36 39 36 71 42 45 59 41 42 28 35 E 53 57 46 109 43 38 43 45 59 97 100 52 60 45 38 45 54 52 32 F 45 28 11 48 37 41 49 38 31 34 110 7 7 40 10 5 59 4 59 42 44 30 33 11 28 851 65,46

Waktu (detik x100)

TOTAL RATARATA

520 32,5

405 33,75

855 45

1068 56,21

= = ,

( ) = ,

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Berdasarkan praktikum yang telah kami lakukan, kami dapat menyimpulkan bahwa : 1. Kelelahan Fisik dapat menghambat terselesaikan nya suatu pekerjaan 2. Beban kerja yang berlebihan dapat mempercepat terjadinya kelelahan fisik 3. Berdasarkan percobaan sensor cahaya mendapatkan respon lebih cepat dibanding sensor suara 4. Kecepatan respon setelah melakukan pekerjaan lebih cepat dibanding sebelum melakukan pekerjaan, hal ini berbanding terbalik dengan teori yang ada. Hal tersebut dapat disebabkan diantaranya karena pada awal melakukan percobaan, operator belum terbiasa dengan alat yang ada

5.2 Saran Berdasarkan praktikum yang telah kami lakukan, kami ingin memberikan saran kepada pihak yang terkait dengan praktikum Analisa dan Perancangan Kerja, yaitu: 1. Penjelasan mengenai modul agar lebih mendalam 2. Penggunaan waktu praktikum agar dapat lebih efisien