Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN DENGUE HAEMORAGIC FEVER (DHF)

OLEH : I Nyoman Widiantara NIM. 1102115022

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS UDAYANA 2013 LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN DENGUE HAEMORAGIC FEVER (DHF) A. KONSEP DASAR PENYAKIT I. Definisi Dengue haemoragic fever (DHF) adalah penyakit demam akut yang disertai dengan adanya manifestasi perdarahan, yang bertendensi mengakibatkan renjatan yang dapat mengakibatkan kematian (Arief Mansjoer & Suprohaita; 2000;419). Dengue haemoragic fever adalah infeksi akut yang disebakan oleh arbovirus (arthropodhorn virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes (Ngastiyah; 2005;368). Dengue haemoragic Fever adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue (Arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes aegypty (Suriadi & Rita, 2006; 57). II. Epidemiologi Di sebuah rumah sakit insiden jasus DHF diperkirakan 150-200 dalam kasus silent dengue infektion. Kasus DHF biasanya meningkat di musim hujan dan DHF biasanya dapat menyerang siapa saja tanpa mengenal usia, status sosial, dan lain-lain. Namun DHF biasanya lebih banyak mengakibatkan kematian pada penderita permpuan daripada laki-laki. III. Penyebab/ faktor predisposisi Dengue haemoragic fever (DHF) dapat disebabkan oleh: 1. Virus dengue Virus dengue yang menjadi penyebab penyakit ini termasuk ke dalam Arbovirus (Arthrodhorn virus) group B, tetapi dari 4 tipe yaitu virus dengue tipe 1,2,3 dan 4, keempat tipe virus dengue tersebut terdapat di Indonesia dan dapat dibedakan satu dari yang lainnya secara serologis virus dengue yang termasuk dalam genus flavivirus ini berdiameter 40 nanometer dapat berkembangbiak dengan baik pada berbagai macam
Widiantara//Keperawatan _Anak//PSIK-B 2011/2013 Page

kultur jaringan baik yang berasal dari sel-sel mamalia misalnya sel BHK (Babby Homster Kidney) maupun sel-sel Arthropoda misalnya sel Aedes albopictus (Suedarto;1990;36) 2. Vektor Virus dengan serotipe 1,2,3 dan 4 yang ditularkan melalui vektor yaitu nyamuk Aedes aegypti, nyamuk Aedes albopictus, Aedes polinesiensis dan beberapa spesies lain berupa vektor yang kurang berperan. Infeksi dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe jenis yang lainnya. Nyamuk Aedes aegypti maupun Aedes albopictus merupakan vektor penularan virus dengue dari penderita kepada orang lain melalui gigitannya. Nyamuk Aedes aegypti merupakan vektor penting di daerah perkotaan sedangkan di daerah pedesaan kedua nyamuk tersebut berperan dalam penularan. 3. Host Jika seseorang mendapat infeksi dangue untuk pertama kalinya maka ia akan mendapatkan imunisasi yang spesifik tetapi tidak sempurna, sehingga ia masih mungkin untuk terinfeksi virus dengue yang sama tipenya maupun virus dengue tipe lainnya. DHF akan terjadi jika seseorang yang pernah mendapatkan infeksi virus dengue tipe tertentu dan mendapatkan infeksi ulangan untuk kedua kalinya atau lebih. IV. Patofisiologi Virus dengue akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes aegypty dan kemudian akan bereaksi dengan antibodi dan terbentuklah kompleks virus antibody, dalam sirkulasi yang mengaktifkan sistem komplemen. Akibat aktivasi, dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamin dan merupakan mediator kuat sebagai faktor meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah serta hilangnya plasma melalui endotel dinding itu. Sebagai akibatnya terjadinya trombositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protrombin, fibrinogen) merupakan faktor penyebab terjadinya perdarahan hebat. Nilai hematokrit meninggi bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel dinding pembuluh darah dapat menyebabkan shock hivopolemi. Reaksi inflamasi virus
Widiantara//Keperawatan _Anak//PSIK-B 2011/2013 Page

dengue juga akan menyebabkan peningkatan suhu tubuh dan hilangnya nafsu makan, mual serta muntah yang nantinya akan menimbulkan perubahan nutrisi pada penderita. Selain bereaksi dengan antibodi, vurus degue akan mendepresi sumsum tulang yang nantinya akan menimbulkan trobositopeni. V. Klasifikasi Klasifikasi DHF berdasarkan derajat ringannya penyakit, dapat dibagi menjadi 4 tingkat (berdasarkan patokan WHO;1975) yaitu : 1) Derajat I Panas 2-7 hari, gejala umum tidak khas, uji taniquet hasilnya positif, hanya terdapat manifestasi perdarahan 2) Derajat II Sama dengan derajat I ditambah dengan gejala-gejala perdarahan spontan seperti petekia, ekimosa, epimosa, epistaksis, haematemesis melena, perdarahan guzi, telinga dan lain-lain. 3) Derajat III Ditemukan kegagalan sirkulasi darah dengan adanya nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun (<20 mmHg) atau hipotensi dan disertai kulit yang dingin dan lembab, gelisah. 4) Derajat IV Renjatan berat dengan nadi tidak teraba dan tekanan darah yang tidak teratur. VI. a. Demam Demam terjadi secara mendadak berlangsung selama 2-7 hari hari kemudian turun menuju suhu normal atau lebih rendah. Bersamaan dengan berlangsung demam, gejala-gejala klinik seperti anoreksia. Biasanya nyeri punggung, nyeri tulang dan persendian, nyeri kepala dan rasa lemah juga dapat menyertai (Soedarto;1990;39) b. Perdarahan Perdarahan biasanya terjadi pada hari kedua dan ketiga dari demam dan umumnya terjadi pada kulit dan dapat berupa uji tocniquet yang positif, mudah terjadi perdarahan pada tempat fungsi vena, petekia dan
Widiantara//Keperawatan _Anak//PSIK-B 2011/2013 Page

Gejala Klinis

purpura (Soedarto;1990;39). Perdarahan ringan hingga sedang dapat terlihat pada saluran cerna bagian atas hingga menyebabkan (Nelson;1993;296). Perdarahan gastrointestinal biasanya didahului dengan nyeri perut yang hebat. c. Hepatomegali Pada permulaan dari demam biasanya hati sudah teraba. Bila terjadi peningkatan dari hepatomegali dan hati terasa kenyal, harus ditentukan kemungkinan akan terjadi renjatan pada penderita d. Renjatan (syok) Permulaan syok biasanya terjadi pada hari ketiga sejak sakitnya penderita, dimulai dari tanda-tanda kegagalan sirkulasi yaitu kulit lembab, dingin pada ujung hidung, jari tangan, jari kaki serta sianosis disekitar mulut. Bila syok terjadi pada masa demam maka biasanya menunjukkan prognosis yang buruk. VII. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik meliputi inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi secara head to toe. Berdasarkan tingkatan (grade) DHF, keadaan fisik anak adalah: a. tidak teratur b. Kepala dan leher Kepala terasa nyeri, muka tampak kemerahan karena demam, mata anemis, hidung kadang mengalami perdarahan (epistaksis) pada grade II, III, IV. Pada mulut didapatkan mukosa kering, terjadi perdarahan guzi, dan nyeri saat menelan grade I, II, III, IV.
Widiantara//Keperawatan _Anak//PSIK-B 2011/2013 Page

Keadaan umum Grade I : kesadaran komposmentis, keadaan umum lemah, tanda-tanda vital lemah Grade II : kesadaran komposmentis, keadaan umum lemah, nadi lemah dan kecil serta tidak teratur Grade III : kesadaran apatis, keadaan umum lemah, nadi lemah dan kecil serta tidak teratur, tensi menurun Grade IV : kesadaran koma, nadi tidak teraba, tensi

Sementara tenggorokan mengalami hiperemia pharing dan terjadi perdarahan telinga pada grade II, III, IV. c. d. Kuku : adanya sianosis/ tidak Dada Bentuk dada (simetris/tidak), pada fotothorax terdapat cairan yang tertimbun pada paru (efusi pleura), Rales +, Ronchi + pada grade III, IV. e. f. tulang. VIII. Pemeriksaan diagnostik/ penunjang a. Pemeriksaan laboratorium Darah Lengkap Terjadi trombositopenia (100.000/ml atau kurang) dan hemokonsentrasi yang dapat dilihat dari meningginya nilai hematokrit sebanyak 20% atau lebih dibandingkan dengan nilai hematokrit pada masa konvalesen. b. Serologi Uji HI (Hemoaglutination inhibition test) c. Radiologi Rontgen thoraks (adanya efusi pleura) IX. Theraphy/ tindakan penanganan Penatalaksanaan untuk penderita DHF dapat dilakukan dengan terapi cairan dimana terapi tersebut berbeda antara pasien yang tidak mengalami renjatan dengan yang mengalami renjatan. 1. Belum atau tanpa renjatan Untuk kasus yang menunjukkan gejala dehidrasi disarankan minum banyak yaitu 1,5-2 liter/ 24 jam. Dapat juga diberikan teh manis, sirup, susu dan bila ingin lebih baik diberika oralit. Apabila anak tidak suka minum sama sekali sebaiknya jumlah cairan infus yang harus diberikan
Widiantara//Keperawatan _Anak//PSIK-B 2011/2013 Page

Abdomen

Adanya

nyeri

tekan,

pembesaran

hati

(hepatomegali) dan asites Ekstremitas : akral dingin, serta terjadinya nyeri sendi, otot,

sesuai dengan kebutuhan cairan penderita dalam kurun waktu 24 jam yang diestimasikan sebagai berikut : 100ml/ kgBB/ 24jam, untuk anak dengan BB < 25 kg 75ml/ kgBB/ 24jam, untuk anak dengan BB 26-30 kg 60ml/ kaBB/ 24 jam, untuk anak dengan BB 31-40 kg 50ml/ kgBB/ 24 jam, untuk anak dengan BB 41-50 kg

2. Dengan renjatan Diberikan infus RL, dan jika dalam 1 jam pemberian keadaan tensi masih terukur rendah (<80mmHg) dan nadi cepat-lemah, akral dingin maka penderida biasanya diberikan plasma atau plasma ekspander.

Widiantara//Keperawatan _Anak//PSIK-B 2011/2013 Page

Pohon Masalah

Widiantara//Keperawatan _Anak//PSIK-B 2011/2013 Page

Infeksi virus dengue

Simtomatik

Asimtomatik

Reaksi antigen-antibodi

Depresi sumsum tulang

Reaksi inflamasi virus dengue

Pengaktifan sistem komplemen

Demam

Histamin dilepaskan Anoreksia, mual, muntah

Hipertermi a

Permeabilitas membran

Perub. Nutrisi kurang dr kebutuhan

Trombositopenia Kurang vol.cairan

Perdarahan

Tdk langsung (bwh kulit)

Langsung melalui hidung, telinga, mulut

Risiko shock hipovolemia

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


Widiantara//Keperawatan _Anak//PSIK-B 2011/2013 Page

1. Pengkajian a. Identitas Pasien : nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, status perkawinan, alamat, dll. Penanggung : nama, umur, alamat, jenis kelamin, agama, pendidikan, status perkawinan, dll. b. Keluhan Utama Pasien mengeluh panas, sakit kepala, lemah, nyeri hulu hati, mual dan nafsu makan menurun. c. Riwayat penyakit sekarang Riwayat kesehatan menunjukkan adanya sakit kepala, nyeri otot, pegal seluruh tubuh, sakit pada waktu menelan, lemah, panas, mual, dan nafsu makan menurun d. Riwayat penyakit terdahulu e. Riwayat penyakit keluarga Riwayat adanya penyakit DHF pada keluarga yang lain sangat menentukan karena DHF adalah penyakit yang bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegepty. f. Riwayat kesehatan lingkungan Biasanya lingkungan yang kurang bersih, banyak genangan air bersih seperti kaleng bekas, ban bekas, tempat air minum burung, dll. g. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik meliputi inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi secara head to toe. h. Pemeriksaan yang lain (per sistem) a. Sesak, perdarahan melalui Sistem pernapasan hidung, pernafasan dangkal, epistaksis, pergerakan dada simetris, perkusi sonor, pada auskultasi terdengar ronchi/ krakels. b. Sistem kardiovaskuler Pada grade I padat terjadi hemokonsentrasi, uji torniquet +, trombositopeni pada grade III, dapat terjadi kegagalan sirkulasi, nadi cepat-lemah, hipotensi, cyanosis sekitar mulut, hidung dan
Widiantara//Keperawatan _Anak//PSIK-B 2011/2013 Page

10

jari-jari, pada grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tidak dapat diukur. c. d. Sistem persyarafan Pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan kesadaran. Nutrisi Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, penurunan nafsu makan, mual, muntah, nyeri saat menelan. e. Sistem pencernaan Nyeri tekan pada epigastrik, pembesaran limpa, pembesaran hati, abdomen teregang, dapat hematemesis/ melena. f. Sistem perkemihan Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/ jam, nyeri saat kencing, kencing berwarna merah. g. Sistem integumen Terjadi peningkatan suhu tubuh, kulit kering pada grade I, terdapat hasil + pada uji torniquet, terjadi ptekie, pada grade III dapat terjadi perdarahan spontan pada kulit h. i. j. Aktivitas Kelelahan, kelemahan, ketidakmampuan melaksanakan aktivitas. Sirkulasi Terjadi gangguan sirkulasi : membran mukosa pucat Integritas ego Adanya perasaan tidak berdaya, menangis, ansietas. 2. Diagnosa Keperawatan a. b. c. d. e. Kekurangan volume cairan dan elektrolit b/d peningkatan permeabilitas kapiler, perdarahan, mual dan muntah Hipertermi b/d proses infeksi virus dengue Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual, muntah, dan anoreksia Risiko terjadinya perdarahan b/d trombositopeni Risiko shock hivopolemik b/d perdarahan

Widiantara//Keperawatan _Anak//PSIK-B 2011/2013 Page

11

3. Intervensi Keperawatan a. Dx 1 : Kekurangan volume cairan dan elektrolit b/d peningkatan permeabilitas kapiler, perdarahan, mual dan muntah Tujuan : pasien menunjukkan tanda-tanda rehidrasi dan mempertahankan hidrasi adekuat Kriteria hasil : Intervensi : a) Kaji pengeluaran urine R/ : untuk mengetahui balance cairan b) Monitor tanda-tanda vital R/ : untuk mengetahui keadaan pasien secara umum c) Kaji pemasukan dan pengeluaran cairan R/ : memonitor balance cairan d) Kaji status hidrasi, turgor kulit dan membran mukosa R/ : mengetahui tingkat dehidrasi e) Pemberian cairan dan elektrolit sesuai protokol R/ : meningkatkan keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh pasien f) Meningkatkan tirah baring R/ : meminimalisasi aktivitas pasien sehingga metabolisme tubuh tidak terlalu meningkat b. Dx 2 : Hipertermi b/d proses infeksi virus dengue Tujuan : Pasien mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal Kriteria hasil : suhu tubuh pasien dalam batas normal (36,5C37,2C) Intervensi : a) Monitor temperatur secara ketat R/ : Suhu 38,9 C 41,1 C menunjukkan proses penyakit infeksius akut
Widiantara//Keperawatan _Anak//PSIK-B 2011/2013 Page

Pengeluaran urine dalam batas normal Turgor kulit elastis (normal) Membran mukosa lembab

12

b) biasa

Lakukan Tepid Sponge (seka) dengan air R/ : Tepid sponge (seka) dapat mempercepat penurunan panas tubuh

c) R/ : Kompres

Hindari kompres alkohol dan air es digunakan untuk mengurangi demam. Penggunaan air es / alkohol mungkin menyebabkan kedinginan, peningkatan suhu secara aktual.

d) sesuai program

Berikan terapi antipiretik dan anrtibiotik R/ : Mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus

e) tubuh anak

Ajarkan pada orang tua cara mengukur suhu R/ : Pencegahan dini bisa dilakukan oleh orang tua dirumah bila anak mengalami demam

c.

Dx 3 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual, muntah, dan anoreksia Tujuan : pasien mengkonsumsi nutrisi yang adekuat untu mempertahankan berat badan yang sesuai dengan usia Kriteria hasil : Intervensi : a) Timbang berat badan anak setiap hari R/ : mengetahui pemasukan nutrisi secara adekuat b) Monitor intake dan output R/ : mengetahui status nutrisi pasien c) Berikan makan sedikit demi sedikit tetapi sering R/ : kebutuhan nutrisi pasien tetap terpenuhi selama masa sakit d) Sajikan makanan sesuai selera pasien Berat badan anak tidak mengalami penurunan (dalam batas normal)

Widiantara//Keperawatan _Anak//PSIK-B 2011/2013 Page

13

R/ : makanan yang sesuai dengan selera pasien dapat meningkatkan nafsu makan

4. Evaluasi a. b. tubuh dalam batas normal c. dengan usia Pasien mengkonsumsi nutrisi yang adekuat untu mempertahankan berat badan yang sesuai Pasien menunjukkan tandatanda rehidrasi dan mempertahankan hidrasi adekuat Pasien mempertahankan suhu

Widiantara//Keperawatan _Anak//PSIK-B 2011/2013 Page

14

DAFTAR PUSTAKA Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit.Jakarta: EGC Suriadi & Rita Yuliani. 2006. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta: Sagung Seto Mansjoer, Arif dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius

Widiantara//Keperawatan _Anak//PSIK-B 2011/2013 Page

15