Anda di halaman 1dari 2

Trismus Trismus adalah ketidakmampuan untuk membuka mulut.

Dalam Dorlands Medical Dictionary dikatakan bahwa trismus merupakan gangguan motoric dari nervus Trigeminus, terutama spasme otot-otot mastikasi dengan kesulitan membuka mulut, sebagai karakteristik dari gejala awal tetanus. Normalnya, jarak antar insisal gigi rahang atas dan rahang bawah ketika membuka mulut ialah 40-60 mm, namun terdapat beberapa ahli menentukan jarak yang lebih kecil yakni 35 mm. Ditemukan beberapa bukti yang mendukung bahwa gender menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi gerakan membuka mandibula, dimana umumnya lakilaki menunjukkan jarak membuka mulut yang lebih lebar. (P.J.Dhanrajani And O.Jonaidel, 2002) Beberapa kondisi yang dapat mempengaruhi terjadinya trismus ialah infeksi, trauma, dental treatment, TMD, tumor dan oral care, obat-obatan, radioterapi dan kemoteapi, masalah kongenital dan miscellaneous disorders.

a. Infeksi Infeksi yang dapat menimbulkan trismus ialah infeksi odontogenik dan nonodontogenik. Sumber utama infeksi odontogenik ialah infeksi pulpa, infeksi periodontal dan infeksi pericoronal. Infeksi odontogenik dapat menimbulkan

trismus sebab infeksi ini dapat menyebabkan keradangan pada otot mastikasi. Jika tidak ditangani, infeksi ini dapat berkembang ke berbagai spasia wajah dan dapat menjurus ke komplikasi serius seperti cervical cellulitis. Sedangakan, infeksi noodontogenik seperti tonsillitis, tetanus, meningitis, abses parotid dan abses otak dapat menyebabkan trismus. b. Trauma Fraktur, terutama pada mandibula dapat menyebabkan keterbatasan membuka mulut. Fraktur mandibula dapat terjadi di beberapa lokasi tergantung tipe injuri dan arah dari kekuatan trauma yang dapat menyebabkan hipomobilitas mandibula. Fraktur pada arkus zigomatikus dan zygomaticomaxillary complex (ZMC) dapat mengganggu pergerakan prosesus koronoideus. c. Akibat Perawatan Gigi Prosedur pembedahan mulut dapat mnyebabkan keterbatasan membuka mulut. Ekstraksi gigi, terutama odontektomi dapat menimbulkan trismus karena pasca pembedahan terjadi peradangan pada otot mastikasi ataupun otot sekitar TMJ. Tindakan perawatan lain yang dapat menimbulkan trismus ialah akibat injeksi anestesi local. Trismus umumnya timbul 2-5 hari setelah anestesi blok mandibula. Hal ini dapat terjadi karena ketidakakuratan posisi jarum saat memberikan anestesi blok nervus inferior. d. Temporomandibular Joint Disorders (TMD) TMD dapat dikelompokkan menjadi extracapsular dan intracapsular problem. Intracapsular displacement. problem biasanya timbul karena trauma, misalnya disc

Dapus: P.J.Dhanrajani And O.Jonaidel. Trismus: Aetiology, Differential Diagnosis and Treatment. Dent Update 2002; 29; 88-94