Anda di halaman 1dari 9

53

Jurnal Stimuli Ilmu Komunikasi, ISSN. 2088-2742, Edisi II, Juli-Desember 2011

Implementasi Komunikasi Efektif Dalam Dakwah


Muhammad Nur Latief Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar Email: muh-nurlatief@yahoo.co.id Abstrak Komunikasi efektif adalah komunikasi yang ditandai dengan hubungan intrepersonal yang baik. Jika hubungan interpersonal baik, maka rintangan komunikasinya makin berakibat kecil meskipun ada kendala-kendala lain yang biasa merusak komunikasi itu yang bersifat teknis, apakah berasal dari gangguan alat-alat komunikasi, alat-alat pendengaran ataupun keributan (noise) yang berasal dari ideologi dan keegoan masing-masing. Sedangkan dakwah merupakan aktivitas komunikasi. Karena itu, keberhasilan dakwah tidak hanya ditentukan oleh unsur-unsur dakwah saja, seperti; dai (komunikator), pesan (message), saluran (media) dan khalayak (komunikan). Akan tetapi lebih dari itu sangat ditentukan pula oleh bagaimana pesan itu disampaikan. Suatu komunikasi dikatakan berhasil apabila komunikasi menghasilkan satu atau lebih fungsi. Misalnya saja komunikasi dapat menolong kita untuk mengetahui siapa diri kita, atau memapankan suatu hubungan dengan seseorang, atau mencoba untuk mengubah sikap dan perilaku, baik diri kita maupun orang lain. Demikian juga dakwah yang intinya adalah agar pesan yang disampaikan itu dapat direspon baik oleh khalayak, sehingga tercipta amar maruf dan nahi munkar. Kata Kunci : Komunikasi efektif dan dakwah Pendahuluan Komunikasi dan dakwah adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan atau satu sama lain saling terkait (interdependentif). Keduanya merupakan disiplin ilmu yang berdiri sendiri, namun dalam praktek serta aplikasinya selalu terpadu antara satu dengan lainnya serta saling menunjang. Kenyataan menunjukkan bahwa banyak pesan dakwah tidak sampai kepada sasaran, karena dai (komunikator) tidak mampu berkomunikasi secera efektif. Hal ini disebabkan karena ketidakmampuan menuangkan pesannya dalam bahasa yang baik dan benar. Seolah-olah dakwah yang disajikan kering, gersang dan hambar. Bahasanya tidak bergaya, khalayaknya (komunikan) tidak memahami apa yang disampaikannya, minat dan interest khalayaknya hilang dan komunikasi tidak terjalin. Dalam ilmu komunikasi, setiap pesan (message) yang disampaikan oleh seorang komunikator kepada komunikan adalah bertujuan untuk mempengaruhi. Tetapi jika effect tidak tercapai seseuai yang diinginkan, maka yang gagal adalah komunikator. Sedangkan kegagalan yang kedua adalah jika komunikator tidak sanggup merumuskan semua perasaan, pikiran dan harapan dari komunikan (Mochtar Husein, 1986:29). Pesan-pesan komunikasi yang disampaikan dai adalah dakwah. Sedangkan menurut definisi Al-Quran,dakwah adalah undangan menuju kepada semua yang baik dan harus dilaksanakan dengan rendah hati, bijaksana dan penuh santun. Dengan demikian, dakwah menjadi tanggung jawab setiap muslim, pria dan wanita (Mochtar Husein, 1986:2).

54

Dakwah berarti menerjemahkan kepercayaan dan ajaran Islam ke dalam kehidupan pribadi, keluarga, kehidupan sosial, politik dan ekonomi serta budaya secara totalitas. Menerjemahkannya ke dalam komunikasi efektif adalah tugas dai yang sarat dengan beberapa pengetahuan, kecakapan dan keterampilan tentang dakwah strategi dakwah serta pengetahuan yang berkaitan dengan prinsip-prinsip komunikasi. Komunikasi efektif mempunyai nuansa dan varian sesuai dengan kepentingan dan tujuannya. Walaupun pada prinsipnya tujuannya sama, yakni bagaiman pesan komunikasi yang disampaikan dapat diserap, dihayati, dan direspon oleh komunikan secara positif. Karena itu, komunikasi sebagai sarana vital sangat menunjang bagi terlaksananya dakwah. Sehingga pemahaman dai tentang ilmu tersebut akan memberikan arti penting bagi suksesnya dakwah. Yakni terlaksananya ajaran Islam dengan tegaknya amar maruf dan nahi munkar. Menyukseskan Pesan Komunikasi Dakwah Dakwah adalah kabar gembira yang informatif. Pengertian gembira yang disebutkan dalam Al Quran tidak lain adalah informasi edukatif yang diwahyukan oleh Allah SWT kepada Muhammad SAW, untuk diteruskan kepada umat manusia. Informasi dakwah merupakan informasi Kognitif yang berunsurkan; kebenaran, kelurusan dan ketepatan. Oleh karena itu, untuk suksesnya suatu dakwah sangat ditentukan oleh kualitas dai, termasuk kemampuannya dalam mengembang tugas dan tanggung jawab dalam menyampaikan amanah Allah Swt. Dengan demikian, seorang dai sebagai juru penerangan dan dakwah juga berperan penting dalam keseluruhan pekerjaan penerangan dan dakwah sebagai tenaga penggerak dari ketiga unsur-unsur dakwah,yaitu; ide, media, massa/khalayak (Datuk Tombak Alam, 1990:44). Dalam menyukseskan pesan komunikasi dakwah, maka seorang dai yang juga sebagai komunikator dituntut untuk senantiasa melakukan berbagai perencanaan sebagai berikut: a. Membuat perencanaan dan persiapan yang mantap Perencanaan dan persiapan yang mantap adalah bagian terpenting dalam penyelenggaraan dakwah. Karena itu seorang dai yang akan tampil di hadapan khalayak (pendengar) tentu harus berbekal pengetahuan yang luas, sehingga dalam mengimformasikan sesuatu yang berkaitan dengan ajaran Islam dan lainnya tidak tumpang tindih dan dapat mengacaukan pikiran pendengar. Seorang dai sebagai juru penerangan dan dakwah sekaligus berperan sebagai komunikator terjun ke gelanggang dakwah sudah tentu memerlukan perencanaan dan persiapan yang mantap. Lancar tidaknya perhidangan dakwah kepada khalayak, sebagian besar tergantung kepada keduanya (Hamzah Yaqub, 1986:70) b. Menetapkan Teknik Penyajian Dakwah Yang Efektif Dalam hubungannya dengan teknik penyajian dakwah ini, ada 2 (dua) hal yang menjadi pokok perhatian, yaitu: 1. Topik Dan Waktu Yang Tepat Jauh sebelum tampil di hadapan khalayak, seorang dai harus sudah menetapkan topik yang diangkatnya dalam dakwah. Bilamana ia diundang berdakwah pada kelompok orang-orang bisnis yang ingin mengetahui bagaimana pandangan Islam mengenai bisnis, maka tentu sudah dipersiapkan sebelumnya ayat-ayat dan hadits-hadits yang berhubungan dengan masalah tersebut.

55

2. Analisis Khalayak Dalam kaitannya dengan khalayak ini. Maka seorang dai sebelum pergi ke majlis dakwah, terlebih dahulu harus mengetahui segala seluk beluk yang berhubungan dengan keadaan khalayak tersebut, baik mengenai status khalayak, kemungkinan pengaruh pihak lain, demografi, pendidikan dan sebagainya. c. Memilih Dan Memilah Materi Dakwah Seorang dai yang berpengalaman biasanya melakukan proses yang logis untuk menetapkan bahan-bahan yang akan dipergunakan, dengan jalan memilih dan memilah materi dakwah yang relevan untuk disampaikan. Di dalam Al Quran, demikian juga dalam hadist Rasulullah SAW telah di jelaskan tentang apa yang didakwahkan dan sikap dalam melakukan dakwah. Yang utama sekali yang didakwakan itu tidak ada lain hanyalah kebaikan. Sebagaimana firman Allah SWT QS. Ali Imran (3): 104 dan 105 . Terjemahannya: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeruh kepada kebajikan, menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang -orang yang beruntung dan janganlah kamu meniru orang-orang yang bercerai berai dan berselidih setelah dating keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan siksa yang berat (Dep.Agama RI, 1989:93). Ayat tersebut diatas telah dijelaskan apa tujuan dakwah. Yang terutama sekali adalah mengajak orang agar semuanya menuju kepada kebaikan. Pokok dan segala kebaikan itu adalah agama Allah, yaitu kebenaran memperbaiki kehidupan manusia dan menetukan arah tujuannya (Hamka, 1984:79). d. Menerapkan Teknik Presentasi Yang Baik Presentasi yang sama pentingnya dengan pesan dakwah yang disampaikan. Menyampaikan dengan baik berarti bermakna presentasi yang baik. Untuk itu, presentasi yang baik perlu memperhatikan faktor-faktor, yaitu: kata-kata (kosa kata), gerakan badan dan lengan , ekspresi wajah dan kontak mata. (Tambah lagi refrensi Komunikasi disini). Prinsip-Prinsip Komunikasi Dalam Dakwah Sebelum mambahas lebih lanjut tentang prinsip-prinsip komunikasi dalam dakwah, maka telebih dahulu dikemukakn pengertian komunikasi sebagai berikut: Komunikasi (communication) adalah kontak antar dan antara manusia baik individu maupun kelompok. Dalam kehiupan sehari-hari didasari atau tidak komunikasi adalah bagian dari kehidupan manusia itu sendiri (Widjaja, 1986:1). F. Richard Webstern (1991) mengemukakan pengertian komunikasi sebagai berikut: Communication is transmissions or exchange of information signal message or data by any means, which as talk (verbal communication), writing (written communication), telephone, telegraph, radio or other channels with in a group or directed to specific individuals of groups. (Komunikasi adalah suatu transmisi atau pertukaran informasi, pesan atau data melalui berbagai media, seperti berbicara (komunikasi verbal), tulisan (komunikasi tertulis), telepon, telegrap,

56

radio atau saluran-saluran lain dalam sebuah kelompok atau diarahkan pada individu-individu atau kelompok-kelompok tertentu).

Menurut George Gebner (1992:423), mengemukakan pula pendapatnya bahwa : Communications, in its most general sense is a chain of even in which the significant link is a message the chain connect a source the originates and a destination that interpret the message.(Komunikasi dalam pengertian yang umum adalah rangkaian peristiwa-peristiwa dimana sambungan rantai yang banyak, membentuk suatu warta, pesan dan amanah). Sedangkan menurut S. M. Siahaan (1991:4) bahwa dalam komunikasi terdapat dua nilai yang selalu ada. Nilai yang pertama adalah, informasi, baik berupa lambang-lambang atau gambaran yang menjadi stimulans. Pesan (message) itu mempunyai wujud yang jelas dan proses (pengoperannya). Nilai kedua adalah persuasif yakni proses pemindahan guna mencapai satu sasaran. Yakni orang menerima dan memahaminya. Berdasarkan pendapat tersebut di atas, dapat di pahami bahwa komunikasi adalah proses penyampaian lambang-lambang yang mengandung makna yang sama oleh seseorang kepada orang orang lain. Baik dengan maksud agar mengerti maupun agar berubah tingkah lakunya. Dengan demikian komunikasi merupakan usaha yang sistematis untuk merumuskan secara tegas asas-asas penyebaran informasi serta pembentukan opini dan sikap, bukan hanya penyampaian pesan semata. Dalam konteks komunikasi, kemampuan untuk dapat menguraikan, meramalkan dan mengendalikan peristiwa mental dan perilaku merupakan sumbangan yang sangat berharga bagi tercapainya tujuan komunikasi yaitu efektif dan efisien (berdaya guna). Oleh karena itu, komunikasi dikatakan efektif apabila dalam suatu kegiatan berkomunikasi pesan yang disampaikan dapat diterima sebagaimana yang dimaksudkan oleh si pengirim pesan (komunikator) tersebut. Komunikasi yang efektif bukan hanya sekedar menyusun kata atau mengeluarkan bunyi yang berupa kata-kata, tetapi menyankut bagaimana agar orang lain tertarik perhatiannya, mau mendengar, mengerti dan melakukan sesuai dengan pesan yang disampaikan. Sebagaimana halnya dakwah bertujuan untuk menyampaikan (tabligh) materi kepada khalayak (komunikan), tidak lain dimaksudkan untuk mengajak dan mengundang mereka kepada nilai-nilai dan akhlak mulia. Karena itu dakwah merupakan salah satu bentuk komunikasi interpersonal, artinya dapat dilakukan secara perseorangan,kelompok dan atau massa. Sedangkan isi dakwah yang disampaikan bertujuan untuk mempengaruhi pendapat dan pola pikir yang didakwahi (umat) sehingga terjadi perubahan persepsi dan selanjutnya tingkah laku umat menjadi kebiasaan melakat (Ahmad Tirtosudiro, 1997:98). Jadi kriteria keberhasilan dakwah secara maksimal bukan hanya terletak pada sampainya pesan kepada khalayak, akan tetapi lebih dari itu adalah bagaimana dampaknya terhadap tertanamnya nilai dan terlaksananya akhlak mulia. Hal ini sejalan dengan tujuan diutusnya Rasulullah Muhammda SAW, sebagaimana firman Allah swt QS. Al-Ahzab (33): 21 Terjemahannya :

57

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (Dep.Agama RI, 1989:670). Ayat tersebut diatas memberikan petunjuk bahwa Allah SWT, mengutus nabi Muhammad SAW untuk menjadi panutan bagi umat Islam sepanjang sejarah, dan semua umat manusia, di setiap masa dan tempat. Beliau bagaikan lampu terang dan bulan penunjuk jalan. Allah swt, meletakkan pada pribadi Muhammad saw suatu gambaran yang sempurna bagi metode islam untuk dijadikan potret hidup yang abadi bagi umatnya dalam kesempurnaan akhlak dan keangungannya (Abdullah Nashih Ulwan, 1992:2) Salah satu bentuk keteladanan beliau yang menjadi panutan adalah dalam menyampaikan dakwah, dimana beliau tidak pernah kenal lelah dan pantang mundur sebelum beliau dapat melihat lansung umat menerima dakwah ilamiahnya, dan berbondong-bondong masuk Islam. Karena itu, perwujudan dakwah menurut M. Quraisy Shihab (1992:194) bukan sekedar usaha peningkatan pemahaman keagamaan dalam tingkah laku dan pandangan hidup saja, akan tetapi mempunyai sasaran yang lebih luas yakni lebih berperan pada pelaksanaan ajaran Islam secara lebih menyeluruh dalam berbagai aspek kehidupan. Dakwah sebagai suatu kegiatan yang bertujaun untuk menumbuhkan kesadaran pada umat, dalam operasinya merupakan suatu proses pendidikan masyarakat, komunikasi, perubahan sosial, dan atau pembangunan. Media informasi dan komunikasi massa merupakan sarana dan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan dakwah (Machbuhin, 1981:21). Dakwah sepanjang ajaran agama adalah mengajak manusia dengan cara bijaksana dan baik, mengikuti perintah Allah swt agar bahagia di dunia dan di akhirat (Syahmninan Zaini, 1989:34). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dakwah lebih bersifat himbauan menggembirakan, yaitu menghimbau manusia agar tertarik kepada Islam serta bangga beragama Islam. Mengajak manusia ke jalan yang benar dan diridhoi Allah swt, bukanlah pekerjaan yang mudah,akan tetapi memerlukan pengetahuan dan keterampilan khusus. Karena itu dalam menyampaikan dakwah diperlukan proses komunikasi yang baik dengan memperhatikan prinsipprinsip komunikasi yang ada, agar pesan dakwah sampai kepada sasaran. Persoalan komunikasi yang menjadi perhatian dalam hubungan antarmanusia terutama dalam kaitannya dengan aktivitas dakwah adalah bagaimana komunikasi yang dilakukan dapat berlangsung secara efektif (berhasil-guna) terhadap khalayak. Hal itu dapat berarti bahwa dalam urusan bisnis, mencari teman, mempengaruhi orang lain agar mau melakukan apa kita inginkan, menetapkan keputusan, jatuh cinta dan berbagai hubungan pribadi dan professional senantisa berhubungan dengan komunikasi. Menurut Paul Watzlawick,Janet Beavin dan Don J. Jackson (dalam Mutmainah dkk, 2005) bahwa prinsip-prinsip komunikasi itu dapat digambarkan dalam 5 (lima) aksioma,yaitu; pertama: Anda tidak dapat tidak beromunikasi, kedua: Setiap interaksi memiliki dimensi isi dan hubungan, ketiga: Setiap interaksi diartikan oleh bagaimana para pelaku interaksi menjelaskan kejadian, keempat: Pesan itu bersifat digital dan analog, dan kelima: Pertukaran komunikasi bersifat simetrik dan komplementer (Mutmainah dkk, 2005:6). Dalam penjabarannya, prinsip-prinsip komunikasi dalam dakwah itu, dapat dikemukakan sebagai berikut: a. Menumbuhkan Motivasi Khalayak Dalam menyampaikan dakwah secara efektif hendaknya minat khalayak (komunikan) dibangkitkan. Bila khalayak tidak berminat, maka apa yang kita sampaikan hampir tidak ada gunanya. Cara-cara yang dapat di tempuh di antaranya sebagai berikut:

58

Pertama; Menggunakan dorongan kebutuhan manusia, dengan cara mengutarakan pentingnya atau manfaatnya terhadap apa yang kita sampaikan, terutama bagi khalayak. Kedua; Dapat juga kita menyinggung harga diri khalayak dan menokohkannya. Ketiga; Menggunakan dorongan ingin tahu. Teknik ini berdasarkan bahwa pada dasarnya setiap manusia yang sehat selalu mampunyai dorongan ingin tahu baik mengenai dirinya maupun hal-hal yang berada di luar dirinya. Motivasi (pendorong) merupakan penggerak utama di dalam suatu pekerajaan (aktivitas). Karena itu besar kacilnya gairah untuk mengerjakan suatu pekerjaan tergantung kepada besar kecilnya motivasi terhadap pekerjaan tersebut. Sudah jelas aktivitas dakwah yang dikerjakan dengan gairah yang besar, besar pula kemungkinan akan berhasilnya. Menurut Abd. Rosyad Shaleh (1986:112) bahwa persoalan inti motivasi adalah bagaiman para pelaku atau pelaksana dakwah dengan secara ikhlas dan senang hati bersedia melaksanakan segala tugas dakwah yang diserahkan kepada mereka. b. Menarik Perhatian Khalayak Penyampaian dakwah akan berhasil bila dapat menarik perhatian khalayak. Hal ini jelas, sebab tidak mungkin seorang dapat menangkap apa yang disampaikan bila perhatiannya tertuju kepada masalah-masalah lain. Perhatian artinya pemusatan pikiran pada suatu masalah atau objek. Agar khalayak mau memperhatikan, adapun hal-hal yang dapt menarik perhatian khlayak adalah sebagai berikut: ha-hal yang aneh artinya jarang terjadi, hal-hal yang lucu, hal-hal yang meyolok (dominan), hal-hal yang sesuai dengan kebutuhan dan halhal yang sekonyong-konyong terjadi. c. Mengutamakan Kegunaan Materi Dakwah Jelasnya bahwa pokok persoalan bagi seorang dai adalah bagaimana menentukan cara yang tepat dan efektif dalam menghadapi golongan dalam suatu keadaan dan suasana tertentu. Untuk itu ia harus menguasai isi dakwah yang hendak disampaikan, serta intisari dan maksud-maksud yang terkandung di dalamnya, harus dapat melalui apa corak orang atau golongan yang dihadapi, harus bisa merasakan keadaan dan suasana, ruang dan waktu, dimana ia menyampaikan dakwah, harus bisa pula memilih cara dan kata yang tepat, setelah memahamkan semua itu (M.Natsir, 1988:160). Hal-hal yang dirasa ada gunya akan tetap tinggal dalam ingatan seseorang. Karena itu khalayak akan selalu menyaring mana uraian uraian yang diangga pada gunanya. Uraian yang dianggap ada gunanya akan diusahakan, diingat-ingat atau diserapkan, sedangkan uraian yang tidak ada gunanya atau kurang bermanfaat akan segera hilang dari ingatan. d. Menyampaikan Dengan Gaya Bahasa Yang Indah Dan Lemah Lembut 1. Penyampaian dakwah akan mudah ditangkap oleh khalayak bila diuraikan sedemikian rupa. Materi-materi dakwah yang disajikan oleh dai melalui Al- Quran dibuktikan manusia melalui penalaran akalnya yang dianjurkan Al-Quran untuk dilakukan manusia pada saat ia mengemukakan materi dakwah tersebut. 2. e. Menjelaskan Pengertian Materi Dakwah Pada dasarnya materi dakwah menurut Asmuni Syukir (1983:60) tergantung pada tujuan dakwah yang hendak dicapai. Namun secara global dapat dikatakan bahwa materi dakwah

59

dapat diklasifikasikan menjadi tiga hal pokok yaitu: keimanan (aqidah), keislaman (syariah) dan budi pekerti (al-akhlak al-karimah). Hal-hal yang dimengerti mudah dihafalkan atau mudah tertanam dalam pikiran seseorang. Karena itu, materi dakwah hendaknya disampaiakan secara singkat, jelas dan padat. Hal-hal yang berkenaan dengan itu diantarnya adalah : tema-tema yang disampaikan harus disajikan dengan bahsa yang sederhana dan jelas. Gagasan yang sama diulang-ulang berkali-kakli dengan cara penyajian yang mungkin beraneka ragam dan penggunaan emosi secara intensif. f. Mengulang-Ulangi Kalimat Yang Dianggap Perlu Penekanan itu dapat dilakukan dengan mengulang-ulangi maksud kalimat yang hendak ditekankan. Yang diulang adalah maksud kalimat, memakai beberapa macam bentuk kalimat atau perkataan dengan maksud yang sama. Tidak boleh mengulangi kalimat kata demi kata,karena yang demikian itu akan membosankan dan pengulangan itupun hendaknya dilakukan bila dianggap perlu. Demikian uraian komunikasi efektif dalam dakwah, dan bilamana dakwah dilaksanakan dengan cara bijaksana dan baik menurut petunjuk Al Quran dan hadits Rasulullah saw dengan prinsip-prinsip komunikasi, maka akan tercapai apa yang kita harapkan, yakni sampainya pesan dakwah kepada khalayak (komunikan) yang berdampak pada tertanamnya nilai dan terlaksananya akhlak mulia. Kesimpulan Berdasarkan pada uraian terdahulu, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Dai sebagai komunikator memegang peranan penting dalam keseluruhan pekerjaan penerangan dan dakwah. Ia merupakan ujung tombak suksesnya dakwah. Untuk menyukseskan pesan komunikasi dakwah, maka upaya upaya yang harus dilakukan meliputi: membuat perencanaan dan persiapan yang mantap, menetapkan teknik penyajian dakwah yang efektif, memiliki dan memilah materi dakwah dan menerapkan teknik presentase yang baik. 2. Dakwah berarti mengajak manusia dengan cara bijaksana dan baik ke jalan yang benar dan diridhoi Allah swt, tentunya harus dilaksanakan dengan berdasarkan petunjuk Al Quran dan hadist rasulullah saw diformulasikan dengan prinsip-prinsip komunikasi, sehingga harapan sampainya dakwah kepada khalayak (komunikan) akan membuahkan hasil secara maksimal dan baik. Referensi 1. Ahmad Tirtosudiro. Modal Pembangunan Qaryah Thayyibah Cet. I. Jakarta: Intermasa, 1997. 2. Abdullah Nashih Ulwan,. Pendidikan Anak Menurut Islam, Kaidah-Kaidah Dasar Cet. I. Bandung; Remaja Rosda Karya, 1992. 3. Abd Rosyad Shaleh. Manajemen dakwah Cet. II. Jakarta: Bulan Bintang, 1986. 4. Asmuni Syukir. Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam Cet. I. Surabaya: Al-Ikhlas, 1983 5. A.W Widjaja. Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Cet. I. Jakarta: Bina Aksara, 1986. 6. Syaikh Datuk Tombak Alam. Kunci Sukses Penerangan dan Dakwah Cet. II. Jakarta: Rineka Cipta, 1990. 7. Dep Agama RI. Al-Quraan dan Terjemahannya, Surabaya: Mahkota Surabaya, 1989.

60

8. 9. 10. 11. 12. 13.

14. 15. 16. 17. 18.

F. Richard Webstern. Webstern New Dictionary Of Communication, New York. Western New World. 1991. Geore Gebner. Communication in Ensiklopedia, Vol. VII, 1992. Hamzah Yaqub. Publistik Islam Teknik Dawah & Leadership Cet. III. Bandung: Diponegoro, 1986. Hamka, Prinsip dan Kebijaksanaan Dakwah Islam Cet. II. Jakarta: Pustaka Panjimas,1984. M. Qurays Shihab. Membumikan Al-Quran Cet.II. Bandung: Mizan, 1992. Machbuhin. Metodologi Siaran Keagamaan Melalui Radio dan Relevisi. Jakarta; Proyek Penerangan, Bimbingan dan dakwah/ Khutbah Agama Islam Dep. Agam RI, 1981. Mutmainah dkk. Psikologi Komunikasi Cet. VIII. Jakarta: Universitas Terbuka, 2005. Muhammad Natsir. Fiqh Dakwah Cet. V. Jakarta: Media Dakwah, 1988. Mochtar Husain. Dakwah Masa Kini Cet. I Ujung Pandang: Nuhiyah, 1986. Syhaminan Zaini, H. Problematika Ibadah Dalam Kehidupan Manusia Cet. I. Jakarta: Kalam Mulia, 1989. S.M. Siahaan. Komunikasi Pemahaman dan Penerapannya Cet. II. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991.

61