Anda di halaman 1dari 5

FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN JURUSAN TEKNIK PERKAPALAN Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111 Telp : 031 594 7254,

Fax : 031 596 4182 Email : kapal@its.ac.id

BAB IV PENGUJIAN PENETRANT (PENETRANT TEST)

4.1. Gambaran Umum Liquid penetrant inspection termasuk salah satu bagian dari pengujian tidak merusak (non-destructive testing), yaitu salah satu metode pengujian sambungan las yang tidak menimbulkan kerusakan atau perubahan struktur material pada material yang diuji. Jenis pengujian ini banyak dipakai untuk memeriksa kondisi peralatan suatu pabrik atau proses produksi, karena dapat memberikan beberapa keuntungan, antara lain sebagai berikut : o Dapat memberikan peringatan adanya cacat secara dini o Tidak mengakibatkan perubahan berarti pada komponen yang diperiksa o Tidak perlu menghentikan proses yang sedang berjalan o Dapat memperoleh informasi kondisi peralatan baik secara kualitatif maupun kuantitatif, hingga secara keseluruhan dapat menghemat biaya Kembali pada liquid penetrant inspection, bahwa teknik ini bekerja berdasarkan prinsip gaya kapiler, dimana cairan penetrant masuk ke dalam celah karena gaya kapiler. Keunggulan teknik ini dapat diimplikasikan untuk bermacam-macam jenis material seperti ferrous, nonferrous, keramik, plastik, gelas, dan lain-lain.

Gambar 4.1 Alat Uji Penetrant

Cornelius Tony Suteja (4110100053)

LAPORAN PRATIKUM INSPEKSI LAS | 32

FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN JURUSAN TEKNIK PERKAPALAN Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111 Telp : 031 594 7254, Fax : 031 596 4182 Email : kapal@its.ac.id

4.2. Tujuan
Liquid penetrant digunakan untuk mendeteksi cacat permukaan seperti retak, laminasi, surface porosity, undercut, dan lipatan-lipatan. Metoda pengujian ini hanya dapat dilakukan pada benda padat yang tidak berpori dan tidak menyerap cairan. Disconuity yang dicari adalah yang tidak dapat diamati dengan mata telanjang.

4.3. Dasar Teori Pengujian ini mempergunakan sifat kapiler benda cair yang dipergunakan adalah cairan tidak kental dan mempunyai tegangan permukaan kecil, yang biasanya berwarna sebagai penetrant. Material uji dicelup atau disemprot dengan cairan ini, karena sifat kapilernya , maka cairan masuk kedalam retakan, celah atau pori-pori pada perukaan material uji tersebut sampai ke bagian yang paling dalam. Setelah permukaan dibersihkan dipakai detektor untuk menyerap penetran , sehingga terlihat bekas yang jelas pada retakan, celah atu pori-pori. Pemeriksaan dengan penetran ini dilakukanunuk cacat permukaan ( caca retak) dan dapat digunakan untuk material metal atau non metal (keramik dan plastik). Sedangkan untuk cacat yang tidak sampai kepermukaan cara ini tidak dapat dipakai :

Benda yang diperiksa permukaannya harus bersih terhadap segala macam kotoran, minyak, olie, parafin dan lain sebagainya. Dimana kotoran-kotoran tersebut akan menutupi cacat yang diperiksa

Benda yang diperiksa harus dalam keadaan kering dan tidak keropos(porous) Jika permukaan benda dicat, maka hilangkan cat tersebut dengan kertas gosok. Sebagai bahan pembersih untuk membersihkan benda yang akan diperiksa

dapatdigunakan minyak bensin, acctone atau bahan kimia lain yang bersifat serupa denganbahan pebersih diatas. Sedangkan bahan pembersih kedua yang fungsinya untuk membersihkan penetran yang menempel pada benda yang diperiksa adalah cairan pembersih (cleaner) dan biasanya dijual bersama satu set dengan penetran dan developer, tetapi dapat juga dipakai air hangat, minya bensin atau acetone atau cairan lain yang murah harganya. Tidak merusak benda yang diperiksa ( menyebabkan karat) dan tidak beracun. Diskontinuitas dapat dikelommpokkan menjadi 3 jenis, yaitu:
o

Inherent(Bawaan), Biasanya berhubungan dengan diskontinuitas yang ditemukan dalam logam cair. Contoh: porosity

Cornelius Tony Suteja (4110100053)

LAPORAN PRATIKUM INSPEKSI LAS | 33

FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN JURUSAN TEKNIK PERKAPALAN Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111 Telp : 031 594 7254, Fax : 031 596 4182 Email : kapal@its.ac.id

Inherent

Wrought

Discontinuities,

Diskoninuitas

wrough

bawaan,

berhubungan dengan peleburan dan pembekuan ingot sebelum dibentuk menjadi slab, bloom, dan billet.
o

Inherent Cast Discontinuities, Discontinuitas tuangan bawaan, berhubungan dengan peleburan, pengecoran, dan pembekuan benda cor. Biasanya disebabkan karena variabel bawaan seperti kurang pengisian, gating, suhu tuang berlebihan, dan gas yang terperangkap.

Pemrosesan untuk discontinuity biasanya berhubungan dengan aneka proses manufakur seperti permesinan, pembentukan, extruding, pengerolan, pengelasan , laku panas, dan pelapisan. Sedangkan dalam perlakuannya berhubungan dengan aneka kondisi pengoperasian seperti korosi, tegangan, kelelahan dan erosi. 4.4. Spesimen dan Peralatan Uji Pada percobaan ini, dilakukan pengujian terhadap specimen, berupa pelat dengan sambungan butt joint

Gambar 4.2 Specimen Pengujian Diperlukan beberapa peralatan uji dalam menjalankan pengujian ini. Peralatan-peralatan tersebut antara lain : Liquid penetrant set, yang terdiri dari penetrant, developer, dan cleaner. Lampu yang berfungsi sebagai penerang saat proses inspeksi Luxmeter untuk mengukur intensitas cahaya dari lampu Kain lap/tissue untuk membersihkan

Gambar 4.3 Luxmeter


Cornelius Tony Suteja (4110100053)
LAPORAN PRATIKUM INSPEKSI LAS | 34

FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN JURUSAN TEKNIK PERKAPALAN Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111 Telp : 031 594 7254, Fax : 031 596 4182 Email : kapal@its.ac.id

4.5. Prosedur Pengujian Pengujian penetrant dilakukan dengan mempersiapkan test piece dan peralatan uji terlebih dahulu. Setelah peralatan uji siap dan test piece telah memenuhi standard maka pengujian penetrant dapat dilakukan. Dalam melakukan pengujian penetrant, terdapat prosedur pengujian yang harus diperhatikan oleh praktikan antara lain : Surface preparation / persiapan permukaan Pre cleaning/ melakuakan pembersihan terhadap material yang akan di uji Aplikasi pentrant + dwell time = waktu yang dibutuhkan untuk meresap dengan sempurna Pembersihan penetrant yang berlebih secara berkala Aplikasi developer = cairan untuk memunculkan sebuah indikasi Evaluasi Post cleaning

Gambar 4.4 Proses Penetrant Test 4.6. Data Pengujian Pada pengujian ini, diperoleh data-data pengujian sebagai berikut : L B = 178.5 = 17.53 mm mm

Dengan cacat berupa round yang terdapat pada 4 tempat, dengan rincian sebagai berikut : o Round 1 : L = 5.08 mm
LAPORAN PRATIKUM INSPEKSI LAS | 35

Cornelius Tony Suteja (4110100053)

FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN JURUSAN TEKNIK PERKAPALAN Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111 Telp : 031 594 7254, Fax : 031 596 4182 Email : kapal@its.ac.id

W D0

= 5.02 = 37.92

mm mm

o Round 2 : L W D01 = 2.93 = 1.58 = 36.28 mm mm mm

o Round 3 : L W D12 = 1.91 = 1.81 = 41.23 mm mm mm

o Round 4: L W D23 = 1.91 = 1.83 = 35.52 mm mm mm

Gambar 4.4 Sketsa Hasil Penetrant Test 4.7. Analisa Pengujian dan Kesimpulan Pengujian Penentrant merupakan salah satu metode NDT yang dapat memberikan peringatan dini mengenai adanya diskontinuitas yang tidak kasat mata pada material. Pengujian ini juga tidak mengakibatkan perubahan struktur yang berarti pada material dan terbilang sederhana serta tidak membutuhkan peralatan yang banyak dan bisa diterapkan langsung pada material. Dengan demikian dapat diketahui informasi kondisi material secara kualitatif maupun kuantitatif. Kekurangannya adalah dibutuhkan ketelitian yang tinggi dan waktu yang lam untuk melakukan interpretasi dan evaluasi jika indikasi-indikasi yang muncul jumlah banyak.

Cornelius Tony Suteja (4110100053)

LAPORAN PRATIKUM INSPEKSI LAS | 36

Anda mungkin juga menyukai