Anda di halaman 1dari 6

A. Tinjauan Umum 1.

Latar Belakang Lahirnya Aliran Realisme Hukum1 Realisme Hukum lahir dan sangat berkembang di Amerika Serikat, tetapi aliran ini juga memiliki teman sehaluan (counterpart) di berbagai negara lain utamanya daratan Eropa. Meskipun suatu ketika sangat mendapat tempat di kalangan para ahli hukum dan mencapai puncak perkembangannya dalam decade 1920-an dan 1930-an melalui karya-karya dari Karl Llewellyn, Fellix Cohen, dan Jerome Frank (karya-karya tersebut terinspirasi dari ajaran-ajaran ahli piker hukum sebelumnya, yaitu Oliver Wendall Holmes dan John Chipman Gray), tetapi kemudian sinarnya meredup seiring dengan wafatnya satu per satu pelopor dari aliran ini. Awal mula kebangkitan dari aliran realisme hukum adalah sebagai jawaban atas teriakan dari kalangan ahli hukum untuk menggantikan konsep hukum yang menekankan pada unsur aksiologis. Karena itu, aliran ini memiliki counterpart di berbagai negara lain yang menekankan pada unsur empiris, yaitu: a. The Interessenjurisprudenz dari Otto Von Jhering di Jerman. b. Aliran Sejarah dari Von Savigny di Jerman. c. Free Law Movement yang dipelopori oleh Durkheim atau di Eropa dikenal dengan Freirechtslehre, misalnya yang dipelopori oleh Eugen Ehrlich dan H. Kantorowicz. d. Sosiologi hukum dari Max Weber, Ehrlich, dan Karl Marx. e. Egological theory dari Carlos Cossio di Argentina. f. Scandinavian Realism. Aliran Realisme Hukum sangat berkembang di Amerika Serikat karena keadaan hkum di Amerika Serikat saat itu (awal abad ke-20) sangat tidak memuaskan, terutama disebabkan besarnya gap antara teori hukum dan parktek peradilan saat itu. Aliran ini juga lahir dengan dilatarbelakagi oleh berbagai faktor hukum dan non hukum, yaitu: a. Perkembangan dalam filsafat dan ilmu pengetahuan. b. Perkembangan social dan politik. c. Perkembangan dalam filsafat hukum. Pada saat lahirnya aliran Realisme Hukum, terjadi suatu kekacauan cultural dimana sangat terasa adanya ketegangan antara stagnasi hukum dan pessatnya perkembangan masyarakat. Di samping itu, teori dan praktek hukum yang konservatif saat itu jelas tidak dapat menampung perkembangan masyarakat yang sangat pesat.

Diakui atau tidak, gerakan realisme hukum sangat dipengaruhi atau setidaktidaknya terinspirasi oleh gerakan New Deal dalam bidang politik saat itu. Karena itu,
1

Munir Fuady, Filsafat dan Teori Hukum, (Jakarta: PT. Citra Aditya Bakti, 2005), hlm. 60-64

pada awal mulanya bahkan juga selanjutnya, gerakan realisme hukum ini tidak banyak menyentuh filsafat hukum, moral atau nilai-nilai, tetapi lebih banyak membahas tentang metodologi hukum. Hanya saja, kemudian para pelopornya menyadari bahwa metodologi bukanlah tujuan, melainkan hanya sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan. Aliran ini juga dipengaruhi oleh filsafat pragmatism yang berkembang dalam bidang dunia filsafat, di samping pengaruh pesatnya perkembangan ilmu-ilmu social ketika itu. Berikutnya, juga terdapat pengaruh perkembangan filsafat dan teori hukum saat itu, terutama pengaruh dari ajaran-ajaran analytical jurisprudence, sociological jurisprudence, dan positivisme hukum, meski dalam banyak hal, realisme hukum bahkan menyerang positivisme hukum.

2. Realisme Amerika Aliran ini tidak mempercayai definisi dan sangat skeptis terhadap penggunaan bahasa. Tidak membutuhkan kata-kata, melainkan fakta. Bukan pengertian dan konsep-konsep teoritis yang diperlukan melainkan fakta empiris. Bukan pernyataan normatif, prinsip atau aturan yang diperlukan, melainkan sikap tindak. Dalam pandangan aliran ini, hukum tidak statis dan selalu bergerak secara terus menerus sesuai dengan perkembangan zamannya dan dinamika masyarakat. Tujuan dari hukum selalu dikaitkan dengan tujuan masyarakat tempat hukum itu diberlakukan2. Karl .N. Llewellyn mengemukakan ciri-ciri aliran ini yaitu3: Tidak ada mazhab realis; realisme adalah gerakan dalam pemikiran dan kerja tentang hukum. Realisme adalah konsepsi hukum yang terus berubah dan alat untuk mencapai tujuan-tujuan sosial, sehingga tiap bagian harus diuji tujuan dan akibatnya. Realisme mengandung konsepsi tentang masyarakat yang berubah lebih cepat daripada hukum. Realisme menganggap adanya pemisahan sementara antara hukum yang ada dan yang seharusnya ada, untuk tujuan-tujuan studi. Realisme tidak percaya pada ketetuan-ketentuan dan konsepsi-konsepsi hukum, sepanjang ketentuan-ketentuan dan konsepsi hukum menggambarkan apa yang sebenarnya dilakukan oleh pengadilan dan fungsionarisnya. Realisme menekankan pada evolusi tiap bagian dari hukum dengan mengingat akibatnya.

1. 2.

3. 4. 5.

Huijbers4 menulis,
2

Muhammad Erwin, Filsafat Hukum Refleksi Kritis Terhadap Hukum , (Jakarta: PT. Rajawali Press, 2011), hlm. 200-201. 3 Friedmann, Teori dan Filsafat Hukum, Telaah Kritis Atas Teori-Teori Hukum (Susunan I) , (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1993), hlm. 191. 4 Huijbers, Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah, Cetakan ke-5. (Yogyakarta: Kanisius, 1988), hlm. 175.

Pragmatisme ini memang merupakan suatu sistem filsafat akan tetapi lebihlebih kepada suatu sikap. Sikap pragmatis ini cukup umum di Amerika dan dianggap sebagai realistis. Oleh karena itu, mazhab hukum yang muncul di Amerika berdasarkan prinsip-prinsip yang disebut tadi diberi nama Mazhab Realisme Hukum. Juga di Skandinavia munculah suatu mazhab realisme hukum, tetapi mazhab ini mencari kebenaran suatu pengertian dalam situasi tertentu dengan menggunakan ilmu psikologi. Realisme berpendapat bahwa tidak ada hukum yang mengatur suatu perkara sampai ada putusan hakim terhadap perkara itu. Apa yang dianggap sebagai hukum dalam buku-buku (law in the books), hanya sekedar taksiran tentang bagaimana hakim akan memutuskan5. Realisme sebagai suatu gerakan dapat dibedakan dalam dua kelompok, yaitu Realisme Amerika dan Realisme Skandinavia. J.W. Haris 6 menerangkan perbedaan antara Realisme Amerika dan Realisme Skandinavia dengan kalimat sederhana: If we are unhappy with the idea that rules are abstract entities, alleged to exist as part of some legal system, one way of anchoring the law in reality is to equate it with the behaviour of officials. that is the approach of extreme American Realisme. Another way is to identify the law with psychological occurences the sensations produced in peoples minds as the result of legal words. The latter is the course taken by a school commonly called Scandinavian realists. Friedmann7 menyatakan, para Ahli Hukum mengembangkan Realisme Amerika dengan ciri khas Anglo Amerika, yakni tekanan pada pekerjaan pengadilan-pengadilan dan tingkah lakunya. Menekankan bekerjanya hukum, baik sebagai pengalaman maupun sebagai konsepsi. Realisme Skandinavia adalah sematamata kritik falsafiah atas dasar-dasar metafisis dari hukum. Bercorak Kontinental dalam pembahasan yang kritis, cenderung abstrak. 2. Kritik Terhadap Realisme Hukum8 Suatu kritik yang pernah diberikan terhadap aliran ini adalah bahwa aliran Realisme Hukum terlalu mengarahkan perhatiannya kepada masalah fakta saja, dan mengabaikan masalah moral. Namun kritik seperti ini tidak sepenuhnya benar karena Kaum Realisme hukum juga mempertimbangkan putusan moral karena menurut mereka, suatu putusan hukum tidaklah dilandasi pada syllogism. Jadi, hukum bukanlah sekumpulan aturan melainkan hanya merupakan realitas faktual. Kritikan lain mengatakan bahwa Realisme Hukum hanya merupakan buah dari aliran Positivismee Hukum. Padahal kesamaannya terletak pada beberapa hal saja, sementara perbedaan dan pertentangannya cukup banyak ditemukan. Menurut aliran
5

Darji Darmodihardjo, Pokok-Pokok Filsafat Hukum, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1995), hlm. 116. 6 J.W. Haris, Legal Philosophies, (London: Butterworth & Co, 1980) 7 Friedmann, Op.Cit 8 Munir Fuady, Op.Cit

Positivismee Hukum, hukum merupakan satu set aturan yang komprehensif yang menempati posisi sentral dalam hukum sementara substansi dari aturan tersebut diabaikan. Sementara Realisme Hukum tidak mengatakan bahwa hukum merupakan satu set aturan-aturan saja, melainkan rangkaian putusan pengadilan. Peraturan dimarginalkan oleh kaum Realisme Hukum dan posisi sentral di tempatkan oleh sikap tindak, kehidupan dan masyarakat. Hal ini menyebabkan akan semakin jauhnya jarak antara Positivismee Hukum dan realisme hukum, bahkan keduanya saling bertolak belakang. Ada juga yang mengkritik aliran Realisme Hukum sebagai aliran yang tidak final dan tidak ada putusan. Aliran Realisme Hukum menekankan pada hukum dalam kenyataan yang diputuskan oleh hakim, jadi memang hukum dalam kenyataan, yang merupakan konsep hukum yang non normatif. Karena itu, aliran Realisme Hukum sangat mempertentangkan antara kehidupan dan hukum, antara norma dan kenyataan, antara norma hukum dengan norma sosiologis dan norma moral. Ada tuduhan bahwa pertentangan tersebut dibiarkan saja terbuka tanpa pemecahannya sehingga ajaran aliran ini meninggalkan kebingungan kepada banyak pihak. Kaum Realisme Hukum juga dituding, karena mempunyai pendapat bahwa hakim mempunyai banyak kebebasan sehingga tidak banyak kaidah hukum yang membatasi kekuasaan hakim. Padahal sebenarnya apa yang dipahami kaum Realisme Hukum adalah setelah diselidiki lebih dalam, ternyata hakim mempunyai kekuasaan dan kebebasan yang besar, lebih besar dari yang selama ini diyakini oleh banyak pihak.

3. Realisme Skandinavia Aliran ini memiliki pandangan yang lebih empirikal dibanding aliran Realisme Amerika. Di satu pihak, aliran ini dengan tegas menolak metafisika hukum, dengan membela nilai-nilai yang dapat diverifikasi secara ilmiah atas gejala-gejala hukum yang faktual. Akan tetapi, di lain pihak, aliran ini juga menolak ajaran Positivismee Hukum dari John Austin karena John Austin membiarkan begitu saja tanpa penjelasan terhadap berbagai karakteristik yang hakiki dari hukum. Sebab, menurut aliran ini, berfungsinya hukum dalam masyarakat dapat dilihat dari perasaan takut ketika melakukan pelanggaran, perasaan takut dikucilkan oleh masyarakat, dsb9.

Ciri-ciri gerakan Realisme Skandinavia10: 1. Merupakan cara berpikir para ahli hukum modern Skandinavia yang tidak ada persamaannya dengan negara lain.
9

Munir Fuady, Filsafat dan Teori Hukum, Op.Cit Lili Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat dan Teori Hukum , Cetakan ke-8, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2001), hlm. 72-73
10

2. Persamaan dengan Realisme Amerika, hanya terletak pada kesamaan nama, tidak ada hubungan dengan yang lain. 3. Filsafat yang memberikan kritik-kritik terhadap metafisika hukum. Gerakan ini mirip dengan filsafat hukum Eropa Kontinental. 4. Pengikutnya menolak berlakunya Hukum Alam. Tokoh-tokoh dari kelompok ini antara lain Axel Hagerstrom, Olivecrona, Alf Ross, H.L.A Hart, Julius Stone, dan John Rawls. B. Tinjauan Pribadi Terhadap Realisme Skandinavia Realisme Skandinavia berpendapat bahwa hukum adalah apa yang hadir dalam pikiran manusia ketika hukum disebut. Bahwa hukum itu adalah perasaan takut dikucilkan masyarakat ketika suatu pelanggaran dilakukan, perasaan bersalah, dsb. Saya setuju dengan aspek ini, bahwa hukum harus terlebih dahulu menempati ruang dalam jiwa dan pikiran manusia. Namun hukum tentunya tidak melulu tentang ketakutan, nestapa, paksaan dan perasaan negative sejenisnya. Dalam bacaan saya yang terbatas mengenai Realisme Skandinavia, saya dapati sebuah keraguan tentang konsep hukum dalam pikiran dan reaksi jiwa manusia yang diterima sebagai hukum dalam pengertian gerakan Realisme Skandinavia. Apakah hukum itu hanya tentang perasaan takut yang membuat manusia menaatinya? Ataukah hukum itu adalah semua hal yang dirasa dan dipikirkan manusia ketika mendengarnya, baik perasaan negative misalnya ketakutan, maupun perasaan positif misalnya ketertiban? Menurut saya, data empiris tentang hukum yang sebenarnya itu justru hanya bisa dilihat dari dampak yang timbul dalam masyarakat. Itu adalah sebenarnya bukti konkrit bahwa hukum itu tidaklah seabstrak yang digambarkan oleh eksponen gerakan Realisme Skandinavia, melainkan juga memiliki sisi nyata, konkrit yaitu pengakuan akan keberlakuan suatu peraturan dan kesadaran diri untuk menaatinya dalam kehidupan sehari-hari. Hukum bukanlah hukum, jika ia hanya berada dalam kotak pikiran ketakutan manusia. Bagaimana menilai suatu reaksi jiwa manusia itu adalah benar atau salah, ketika alam jiwa seseorang melakukan suatu pelanggaran yang justru menurutnya adalah suatu kebenaran? Dimana letak dan bagaimana konsep hukum menurut Realist Skandinavia jika hal ini terjadi? Lebih dari ketidaksepakatan saya di satu sisi jika hukum hanya dinilai secara abstrak, saya berkeyakinan bahwa hukum itu suatu hal yang juga konkrit, dan bisa dilihat dampak dan wujudnya.
MAKALAH FILSAFAT HUKUM

AMERICAN & SCANDINAVIAN REALISM

Dosen Pembimbing: DR. Jufrina Rizal, S.H., M.A Anton Cahyadi, S.H., M.A

Oleh: Dheka Arya Sasmita Suir 1106150105

KELAS PEMINATAN HUKUM KEHIDUPAN KENEGARAAN PASCASARJANA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA 2012

Anda mungkin juga menyukai