Anda di halaman 1dari 12

STATUS BEDAH UMUM

I. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis kelamin Agama Alamat Pekerjaan : Tn. RA : 78 tahun : Lelaki : Budha : Teluk Harapan :

Status pernikahan : menikah Tgl masuk RS : 15 april 2013

II.

Anamnesa Keluhan utama : terdapat benjolan pada lipat paha sebelah kanan.

Riwayat penyakit sekarang Terdapat benjolan pada lipat paha sebelah kanan kurang lebih sejak 3 hari SMRS. Riwayat Penyakit Dahulu Os ada riwayat hipertensi, CAD, DC FC II, insufisiensi renal, cardiac chirosis.

Riwayat Penyakit Keluarga Tidak diketahui. III. PEMERIKSAAN FISIK A. STATUS GENERALIS 1. Keadaan umum 2. Kesadaran : tampak sakit berat. : somnolen.

3. Tanda-tanda vital : Tekanan Darah Nadi = 160/100 mmHg = 72 x/menit

Suhu RR 4. Kepala

= 36,3 C = 22x/menit :Normocephali, rambut hitam, beruban, distribusi rambut

merata, tidak teraba adanya benjolan. 5. Mata : bentuk normal, palpebra superior dan inferior tidak

udem, CA-/-, SI -/- , kornea jernih, pupil bulat, isokor, RC +/+ 6. Telinga 7. Hidung 8. Mulut : normotia, MAE lapang, secret -/-, serumen -/: bentuk simetris, tak tampak deviasi septum, secret -/: bentuk simetris, sikatrik (-), sianosis (-), bibir tampak

kering, lidah tidak kotor, faring tidak hiperemis, tonsil T1-T1 tenang. 9. Leher 10. Thorax Paru : Inspeksi : simetris dalam stasis dan dinamis Palpasi : vocal fremitus kanan dan kiri sama kuat Perkusi : sonor pada kedua lapang paru Auskultasi : suara nafas vesikuler, Rh -/-, Wh -/Jantung Inspeksi : tidak tampak pulsasi ictus cordis Palpasi : teraba ictus cordis Perkusi : redup Batas atas : ICS II parasternal sinistra Batas kanan: ICS IV sterna dextra Batas kiri : ICS V midclavicula sinistra Auskultasi : 11. Abdomen Inspeksi : perut datar. Tidak tampak tanda-tanda radang. Terdapat benjolan pada inguinal. Palpasi : tegang, nyeri tekan (+) : trakea terletak di tengah, tidak teraba pembesaran KGB

Perkusi

: dalam batas normal.

Auskultasi : Bising usus meningkat 12. Kulit : sawo matang

13. Ekstremitas superior dan inferior: udem (-), deformitas (-) B. STATUS LOKALIS inguinal dextra Inspeksi :

tampak tonjolan dengan diameter sekitar 9-10 cm. Warna lebih merah dibanding kulit sekitar. Palpasi : dengan Batas atas tidak tegas.

Teraba massa berukuran 9-10 cm

Konsistensi kenyal , teraba hangat, Nyeri tekan (+). Auskultasi :

Bising usus minimal Status lokalis region abdomen kanan bawah Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi IV. : perut datar, benjolan pada inguinal kanan, : tegang, nyeri tekan (+) : timpani : Bising usus meningkat

PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium Tgl 15/april/2013 Hb = 14,9 g/dl Urea Creatinin Na = 113,5 mg/dl = 3,35 mg/dl = 143,5 mmol/ l

Lekosit = 17.870/ul Ht = 43,3%

Trombosit= 167.000 /ul GDS SGOT MCH V. = 208 mg/dl = 32 u/l =32,8

K BUN SGPT

= 3,97 mmol/l = 53,04 mg/dl = 23 u/l

RESUME Telah diperiksa Tn.Terdapat benjolan pada lipat paha sebelah kanan kurang lebih sejak 3 hari SMRS. Riwayat Penyakit Dahulu,Os ada riwayat hipertensi, CAD, DC FC II, insufisiensi renal, cardiac chirosis. Pasien datng dalam keaadan somnolen TD ;160/100 s; 36,3 c

VI.DIAGNOSA KERJA Hernia Scrotalis Dextra Strangulata Hipertensi grade 1 tak terkontrol VII.DIAGNOSA BANDING Orchitis dextra Torsio Testis

VII.PEMERIKSAAN ANJURAN Periksa Foto thorax, EKG

VIII.PENATALAKSANAAN Non medikamentosa 1. Posisi tredenburg 2. Pasang O2 3 l/mnt 3. IVFD RL utk rehidrasi cairan 4. Pasang NGT utk dekompresi dan cegah aspirasi 5. Pasang kateter utk monitoring cairan ( cek sampai urin 1 cc/kgBB/jam)

Medikamentosa

1. Antibiotik broad spectrum 2. Ketorolac 1x30 mg im 3. Ranitidin

Operatif Herniotomi dan Bassiniplasty Konsul jantung, paru, penyakit dalam.

IX. PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam

Ad functionam : dubia ad bonam Ad sanationam ; dubia ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA
ANATOMI DINDING PERUT Lapisan dinding perut dari lapisan paling luar ke dalam Lapisan kulit : kutis, subkutis, lemak subkutan, dan fasia superfisialis ( Fascia scarpae). Otot dinding perut : m. obliquus abdominalis eksternus, m. obliquus abdominalis internus, dan m. transverses abdominalis. Peritoneum.

Fungsi otot dinding perut Pernafasan Proses BAK dan BAB dengan meningkatkan tekanan intracranial.

Perdarahan dinding perut Kraniodorsal dari cabang Aa.intercostae VI-XII dan Aa. Epigastrika superior. Kaudal dari A. circumflexa superfisialis, A. Pudenda Eksterna dan A. Epigastrika inferior

DEFINISI

Hernia adalah protrusi atau penonjolan isi rongga melalui detek atau bagian lemah ( lokus minoris resistensi) dari dinding rongga yang bersangkutan. Pada hernia abdomen, isi perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskulo-aponeurotik dinding perut. Hernia meliputi 3 unsur, yakni : 1. Kantong hernia ( peritoneum parietalis) 2. Isi ( viskus) 3. Pintu atau leher hernia ( Lokus minoris resistensia pada dinding abdomen)

KLASIFIKASI Berdasarkan terjadinya: Hernia bawaan / congenital Hernia didapat / akuisita

Berdasarkan letaknya : Hernia diafragmatika Hernia inguinalis Hernia umbilikalis Hernia femoralis Hernia obturatoria

Berdasarkan sifatnya : Hernia reponibilis : isi kantung akan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri ataupun gejala obstruksi usus. Hernia ireponibilis : isi kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga , biasa karena perlengketan pada peritoneum kantong hernia, tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus. Hernia inkarserata : isi hernia terjepit oleh cincin hernia disertai gangguan pasase usus Hernia strangulate : hernia ireponibel disertai gangguan vaskularisasi

Berdasarkan penemunya : Hernia Richter: hernia yang isinya hanya sebagian dinding usus Hernia Littre : hernia yang isinya divertikulum Meckel Hernia Spigelian : hernia yang muncul melalui tempat lemah diantara tepi lateral m. rectus abdominalis dengan linea semisirkularis

Lain-lain Hernia epigastrika : hernia yang keluar melalui defek di linea alba, antara umbilicus dan proc. Xiphoideus Hernia skrotalis : hernia inguinalis lateralis yang mencapai skrotum Hernia Pantaloon : kombinasi hernia inguinalis lateralis dan medialis pada satu sisi

HERNIA INGUINALIS

ANATOMIS Batas region inguinalis kanalis inguinalis Kraniolateral : annulus inguinalis internus ( bagian terbuka dari fascia transversalis dan aponeurosis m. transverses abdominis ) Medial bawah diatas tuberculum pubicum : annulus inguinalis eksternus ( bagian terbuka dari aponeurosis m.obliqus externus) Atap : aponeurosis m.obliqus externus Dasar: lig inguinalis pourparti

Isi kanalis inguinalis Pada wanita: lig. Rotundum Pada pria : spermatic cord

Batas trigonum Hasselbach dinding posterior inguinal Dasar : fasia transversa Atap : m.obliqus internus Medial : tepi m. rectus abdominis Lateral : vasa epigastrika inferior Bawah : lig. Inginale

ETIOLOGI Pada orang sehat ada 3 mekanisme yang dapat mencegah terjadinya henia inguinalis 1. Kanalis inguinalis yang berjalan miring 2. M.obliqus internus abdominis yang menutup annulus inguinalis internus saat berkontraksi 3. Fasia transversa yang kuat, menutupi trigonum Hasselbach

Namun bila ada factor predisposisi: 1. Proc. Vaginalis yang terbuka 2. Peninggian tekanan intraabdomen : batuk kronik, konstipasi, asites, menangis kuat-kuat, berdiri 3. Kelemahan otot dinding perut ( karena usia) Maka dapat menyebabkan hernia inguinalis

DISTRIBUSI Pada laki-laki Terbanyak pada neonates ( 2 mgg pertama) dan usia 12 tahun Dewasa muda ( 18-30 thn) Usia 50-70 thn, karena otot-otot dinding perut sudah lemah. Pada usia tua ini yang paling banyak terjadi adalah hernia inguinalis medialis Pada wanita Terutama pada neonates dan usia 1-2 thn

Usia tua, lebih banyak jenis hernia femoralis. Hernia inguinalis lateralis pada wanita disebut hernia labialis.

JENIS JENIS HERNIA INGUINALIS HERNIA INGUINALIS LATERALIS / INDIREK Lateralis, karena penonjolan berada disebelah lateral vasa epigastrika inferior Indirek, karena tidak langsung keluar ke annulus inguinalis eksternus melainkan masuk melalui annulus inguinalis internus terlebih dulu, kemudian melalui kanalis inguinalis, baru keluar melalui annulus inguinalis eksternus. Umumnya tonjolan berbentuk lonjong. Pada bayi dan anak disebabkan karena kelainan bawaan berupa tidak menutupnya proc vaginalis peritonii akibat penurunan testis ke skrotum.

HERNIA INGUINALIS MEDIALIS / DIREK Medialis karena penonjolan berada disebelah medial vasa epigastrika inferior Direk, karena langsung menuju annulus inguinalis eksterna , lewat kelemahan dinding posterior ( trigonum Hasselbach ) Hampir selalu disebabkan factor peninggian tekanan intraabdomen kronik dan kelemahan dinding trigonum Hasselbach. Umumnya tonjolan berbentuk bulat, dapat terjadi bilateral. Jarang mengalami inkarserata dan strangulasi.

HERNIA FEMORALIS Hernia femoralis umumnya dijumpai pada wanita tua, kejadian pada perempuan 4x dari laki-laki. Pintu masuk hernia femoralis adalah annulus femoralis. Selanjutnya isi hernia masuk ke dalam kanalis femoralis yang berbentuk corong sejajar dengan v.femoralis sepanjang 2 cm

dan keluar pada fossa ovalis di lipat paha. Kadangkala hernia ini terjadi karena komplikasi operasi hernia sebelumnya.

DIAGNOSA Anamnesa Benjolan di lipat paha yang timbul pada waktu berdiri, menangis kuat, batuk, berdiri, atau mengedan dan menghilang setelah berbaring Nyeri jarang dijumpai, kalau ada biasanya pada region epigastrium atau paraumbilikal, berupa nyeri visceral karena regangan pada satu segmen usus halus masuk kedalam kantong hernia. Keluhan nyeri disertai mual muntah ( bila timbul strangulasi karena nekrosis / gangrene / inkarserata akibat ileus)

Pemeriksaan fisik Inspeksi Mengedan : tampak benjolan di region inguinalis yang berjalan dari lateral atas ke medial bawah ( hernia inguinalis lateralis) Biasanya benjolan menghilang waktu istirahat / berbaring Pada bayi dan anak, adanya benjolan yang hilang timbul di lipat paha biasanya diketahui orangtuanya. Jika hernia mengganggu dan anak sering gelisah, menangis, perut kembung, maka pikirkan hernia strangulate Palpasi Konsistensi kenyal Dapat / todak dapt didorong masuk kembali ( reponibel/ireponibel) Setelah benjolan tereposisi dengan jari telunjuk, kadang cincin hernia dapat diraba berupa annulus inguinalis eksternus yang melebar

Periksa keadaan cincin hernia: melalui skrotum, jari telunjuk dimasukkan ke atas lateral dari tuberculum pubicum. Ikuti fasikulus spermatikus sampai ke annulus inguinalis internus ( pada keadaan normal, jari tidak dapat masuk). Pasien mengejan dan rasakan apakah ada massa yang menyentuh jari tangan. Bila massa teraba menyentuh ujung jari tangan maka hernia inguinalis lateral. Bila massa menyentuh sisi jari maka hernia inguinal medial

Perkusi Auskultasi Bising usus (+), bila isi hernia= usus. Tidak dilakukan

PENATALAKSANAAN Konservatif Tindakan reposisi dan pemakaian penyangga untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi Reposisi dengan cara bimanual: tangan kiri pegang isi hernia, membentuk corong. Tangan kanan mendorong kea rah cincin hernia dengan tekanan lambat namun menetap sampai terjadi reposisi. Pada anak, reposisi dilakukan dengan menidurkan anak dengan pemberian sedative dan kompres es diatas hernia. Bila 6 jam gagal maka lakukan herniotomi! Pada bayi / usia lanjut dengan hernia congenital / indirek. Reposisi dilakukan sesegera mungkin karena insiden terhadap inkarserata dan strangulate cukup tinggi. Bila hernia inkarserata tanpa gejala sistemik maka lakukan reposisi postural bila berhasil lakukan operasi elektif 2-3 hari ( saat udem jaringan hilang dan KU baik)

Operatif Segera bila terjadi inkarserata atau strangulasi Prinsip dasar : Herniotomi dan Hernioplasty

Herniotomi : dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya, kantong hernia dibuka, isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi. Kantong hernia dijahit ikat setinggi mungkin lalu dipotong.

Hernioplasty : memperkecil annulus inguinalis internus dan memperkuat dinding posterior kanalis inguinalis, herioplasty lebih penting artinya dalam mencegah terjadinya residif disbanding herniotomi.

Hernioplasty tidak dilakukan pada anak, karena annulus inguinalis internusnya masih cukup elastic dan dinding posterior kanalis inguinalis masih cukup kuat.

Metode Bassini adalah dengan memperkecil annulus inguinalis internus dengan jahitan, memperkuat fasia transvera dan menjahit conjoint tendon ke lig. Pourparti

Metode Mc Vay, dengan cara menjahit fasia transversa m. transverses abdominis internus ke lig. Cooper, biasa dilakukan pada hernia femoralis.

Bila defek cukup besar / terjadi residif berulang, perlu pemakaian bahan sintesis seperti Prolene Mesh, Mersilene, atau Marleks untuk menutup defek