Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN ELEKTIF

PERILAKU SWAMEDIKASI MASYARAKAT TANON DALAM PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Dalam Mengikuti Program Pendidikan Klinik Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Di Puskesmas Tanon I

oleh : Arlinda Kusumawati 07711074

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT PUSKESMAS TANON I SRAGEN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA 2013

PERILAKU SWAMEDIKASI MASYARAKAT TANON DALAM PENGGUNAAN ANTIBIOTIK Arlinda Kusumawati ABSTRAK Latar belakang : Pengobatan sendiri adalah upaya yang dilakukan dengan tujuan mengobati diri sendiri menggunakan obat, obat tradisional, maupun cara lain tanpa nasehat dari tenaga kesehatan. Salah satu obat yang sering digunakan untuk swamedikasi di masyarakat adalah antibiotik, antibiotik adalah agen yang digunakan untuk mencegah maupun mangobati suatu infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Tujuan : Mengetahui perilaku swamedikasi masyarakat Tanon dalam penggunaan antibiotik. Metode : Merupakan penelitian yang dilaksanakan dengan metode survai data primer yang dikumpulkan secara potong lintang/ cross sectional dengan menggunakan kuisioner. Dilaksanakan di beberapa apotek di kecamatan Tanon, kabupaten Sragen pada 27 Mei- 31 Mei 2013. Keseluruhan proses perhitungan statistika dilakukan dengan menggunakan program SPSS (Statistical and Service Solution) for Window Penilaian perilaku didasarkan pada tepat indikasi, tepat dosis, dan tepat durasi pengobatan. Hasil : Sebanyak 52 sampel diwawancarai dalam penelitian ini, sebagian besar responden memilih amoxicilin sebagai pengobatan swamedikasi yaitu sebesar 65,4%, ketepatan indikasi dalam penggunaan swamedikasi antibiotik sebesar 42,3%, ketepatan dosis sebesar 73,1%, ketepatan durasi hanya sebesar 30,8%. Banyaknya masyarakat yang melakukan swamedikasi antibiotik namun tidak sampai tuntas dalam pengobatan dengan antibiotik, dapat menyebabkan tingginya resiko terjadinya resistensi terhadap antibiotik. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perilaku tindakan pengobatan sendiri yang dianjurkan pemerintah pada masyarakat Indonesia harus lama penggunaan obat yang terbatas (Ditjen POM, 2007). Namun WHO menyebutkan penggunaan obat di

masyarakat secara rasional didasarkan pada aspek klinik, kebutuhan setiap individu, serta kecukupan period time serta harga yang cukup terjangkau. Hal tersebut fokus kepada 4 aspek penting

didasarkan pada ketepatan golongan, ketepatan obat, ketepatan dosis serta

dalam pengobatan yang rasional yakni ketepatan ketepatan obat, lama ketepatan pengobatan dosis, dan

kloramfenikol, kotrimoksazol.

tetrasiklin, Selain

dan itu

Campylobacter spp juga ditemukan resisten terhadap tetrasiklin, ampicilin dan ciprofloxacim. Resistensi terhadap bakteri merupakan masalah kesehatan yang besar bagi suatu negara bahkan seluruh dunia karena angka dapat kematian.

ketepatan biaya (WHO, 2006). Dalam penatalaksanaan

penyakit infeksi bakterial, tindakan utama yang sering dilakukan adalah dengan memberikan antibiotik.

Menurut Undang Undang No. 149 tahun 1949 antibiotik termasuk dalam daftar G atau Gevaarlijk yang berarti merupakan obat keras, dan hanya dapat diperoleh dengan menyertakan resep dokter atau tanggung jawab pihak yang memiliki kewenangan medis. Dengan meningkatnya

meningkatkan (WHO,2006)

Penelitian yang telah dilakukan di Yogyakarta menunjukkan

pembelian antibiotik tanpa resep di apotek (7%). Amoksisilin merupakan antibiotik swamedikasi yang paling banyak dibeli yaitu sebesar (77%), dan sisanya antara lain ampisilin,

penggunaan antibiotik di masyarakarat yang semakin meluas menimbulkan kemungkinan peningkatan terjadinya resistensi. Pal dan Vila (2010) kejadian antibakteri berpendapatan

tetrasiklin dan ciprofloxacim. Rata-rata antibiotik tersebut digunakan untuk mengobati gejal batuk, flu, demam, sakit tenggorokan, sakit kepala, serta gejala ringan lainnya dengan lama penggunaan sebagian besar kurang dari lima hari. ( Widayati et al2011) Penyedia obat yang melayani pembelian antibiotika secara bebas mendorong perilaku swamedikasi

menunjukkan resistensi disejumlah

besarnya terhadap negara

rendah, termasuk Indonesia. Beberapa bakteri penyebab diare seperti Shigella flexneri ditemukan antibiotik dan Shigella resisten dysentriae terhadap ampicilin,

telah

seperti

terhadap antibiotika. Penyalahgunaan

antibiotika yang dilakukan masyarakat seperti dosis yang berlebihan,

pengobatan antibiotika.

dalam

pembelian

penghentian pengobatan secara tibatiba, penggunaan sisa antibiotik, serta penggunaan antibiotik dalam jangka waktu tidak tepat. Masyarakat juga beralasan merasa diuntungkan dapat menghemat waktu dan uang, dalam membeli antibiotika tanpa resep dokter ( Widayati et al, 2010) Banyaknya pembelian

C. Tujuan Penelitian Untuk menegetahui gambaran perilaku swamedikasi yang dilakukan

masyarakat di kecamatan Tanon.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Perilaku Pengobatan Sendiri Secara umum, pengertian

antibiotika tanpa resep dokter untuk mengatasi berbagai keluhan yang ada di masyarakat merupakan faktor yang melatarbelakangi mengangkat Perilaku peneliti untuk penelitian tentang

pengobatan sendiri adalah upaya yang dilakukan dengan tujuan mengobati diri sendiri menggunakan obat, obat tradisional, maupun cara lain tanpa nasehat dari tenaga kesehatan.

Swamedikasi

Masyarakat

Tanon dalam Penggunaan Antibiotika B. Rumusan Masalah Perumusan masalah pada penelitian ini adalah, bagaimana gambaran perilaku swamedikasi yang dilakukan

Pengobatan sendiri merupakan suatu upaya mencapai kesehatan bagi semua yang memungkinkan masyarakat dapat tetap hidup produktif maupun Sedangkan pengobatan ekonomi. secara sosial (Supardi,2005). lainnya, merupakan

pengertian sendiri

masyarakat Tanon dalam penggunaan antibiotika yang dibeli di apotek. Pada penelitian ini gambaran perilaku

penggunaan obat oleh masyarakat untuk tujuan sakit yang ringan (minor illnesses), tanpa melalui resep maupun intervensi dokter. ( Susi et all, 2008).

disesuaikan atas ketepatan indikasi, ketepatan dosis dan ketepatan durasi

Perilaku pengobatan sendiri dengan memakai obat bebas dan bebas

relative lebih murah dibandingkan dengan biaya pelayanan kesehatan, ,serta rasa puas karena berperan aktif dalam pengambilan keputusan

terbatas merupakan salah satu dari perilaku kesehatan. ( Saputro, 2009). Tujuan dari pengobatan sendiri yaitu untuk peningkatan, mengobati sakit ringan, serta pengobatan rutin penyakit yang kronis setalah dokter.

pengobatan. ( Supardi, 2001) Pengobatan memiliki sendiri antara juga lain

kekurangan,

penggunaan obat yang tidak sesuai dengan aturan dapat membahayakan kesehatan, jika salah menggunakan obat akan memiliki biaya dan dampak waktu,

mendapatkan

perawatan

Sedangkan peran dari pengobatan sendiri yaitu untuk meredakan secara cepat dan efektif keluhan yang tidak membutuhkan mengurangi kesehatan konsultasi beban berkaitan medis, pelayanan dengan

pemborosan

kemungkinan dapat terjadi reaksi obat yang tidak diinginkan, seperti

sensitivitas, efek samping maupun resistensi, penggunaan obat yang tidak tepat akibat minimnya informasi dari iklan obat, tidak efektif akibat salah diagnosis dan pemilihan obat, serta sulit bertindak objektif karena hanya dipengaruhi oleh penggunaan obat di masa lalu dan lingkungan sosial dalam pemilihan obat. ( Supardi, 2001) Upaya masyarakat dalam

terbatasnya sumber daya dan tenaga, serta meningkatkan keterjangkauan

masyarakat yang jauh dari tempat pelayanan kesehatan. ( Supardi, 2001) Keuntungan dari pengobatan sendiri, yaitu aman apabila digunakan sesuai dengan petunjuk ( efek samping yang mungkin ditimbulkan), efektif untuk meredakan keluhan karena 80% sakit bersifat sembuh sendiri tanpa intervensi tenaga kesehatan, dapat menghemat waktu karena tidak perlu berkunjung ke fasilitas/profesi

melakukan pengobatan sendiri dinilai bagaikan pedang bermata dua apabila tidak dilakukan dengan tepat. Di satu sisi meringankan beban pelayanan di

kesehatan, biaya pembelian obat yang

instansi kesehatan, namun di sisi lain penggunaan obat tanpa pengetahuan yang memadai akan menimbulkan halhal yang tidak diinginkan dan

dihasilkan oleh fungi) atau dihasilkan secara sintetik yang dapat menghambat maupun membunuh organisme lain. ( Neal, 2006) Antibiotika dapat digolongkan berdasarkan struktur ataupun

membahayakan apabila obat yang digunakan adalah obat yang termasuk dalam daftar G (obat keras) seperti antibiotika, antihipertensi, hormon,

berdasarkan target kerjanya pada sel, yakni broad spectrum yang merupakan mempunyai membunuh

dan antidiabetes. Dianjurkan untuk pemakaian antibiotika tidak

antibiotika kemampuan

menggunakannya dalam pengobatan sendiri, karena pemakaian antibiotika dalam jangka waktu yang lama, tidak tepat dengan dosis yang rendah, sudah rusak maupun kadaluwarsa, dapat menimbulkan terjadinya resistensi atau superinfeksi atau bahkan timbulnya alergi maupun syok anafilaksis pada individu tertentu. B. Antibiotik Antibiotik adalah agen yang digunakan untuk mencegah maupun mengobati disebabkan 2008). suatu oleh infeksi bakteri. istilah yang (Mitrea, antibiotik

mikroorganisme dari berbagai spesies, sedangkan narrow spectrum

merupakan antibiotika yang hanya mampu membunuh mikroorganisme secara spesifik. ( Bezoen et al, 2000). Pada penggunaan sebagian antibiotika besar harus

mempunyai aktifitas spektrum yang luas, antibiotika dan harus dapat

menghambat

membunuh

pertumbuhan bakteri dari spesies yang berbeda. Antibiotika spektrum luas berguna karena adanya gejala atau symptom yang sama yang disebabkan oleh bakteri dari spesies yang berbeda. ( Nhiem et al ,2005). luas Namun, juga

Namun,

sebenarnya mengacu pada suatu zat kimia yang dihasilkan oleh suatu macam organisme ( khusunya

antibiotika

spectrum

mempunyai kekurangan, yaitu tidak

hanya menyerang bakteri pathogen tetapi juga mengurangi jumlah

2009). memudahkan

Faktor-faktor

yang

berkembangnya

mikroflora yang ada di usus. (Focosi, 2005). Antibiotika yang digunakan harus mampu mencapai bagian tubuh yang terserang infeksi. Penelitian yang telah dilakukan pada tahun 2003, kejadian resistensi terhadap tetrasiklin dan penicillin

resistensi di klinik antara lain: a. Penggunaan irasional b. Penggunaan antibiotik baru antibiotik yang

yang berlebihan c. Penggunaan terlalu sering d. Penggunaan antibiotik untuk jangka waktu yang lama antibiotik yang

terhadap bakteri pathogen penyebab diare dan Neisseria gonorrhoeae di Indonesia hamper mencapai 100%.( Hadi et al, 2008). Resistensi terhadap antibiotik bawaan. bisa didapat maupun bawaan

METODE PENELITIAN
Penelitian menggunakan ini dilaksanakan survai data metode

Resistensi

menyebabkan semua spesies bakteri bisa resisten terhadap suatu antibiotika sebelum antibiotika bakteri kontak dengan

primer yang dikumpulakan secara potong lintang / cross sectional dengan menggunakan kuisioner. A. Tempat dan waktu penelitian Penelitian di beberapa apotek yang berada di kecamatan Tanon, kabupaten Sragen. Penelitian

tersebut.

Sedangkan

resisten didapat merupakan hal yang serius secara klinis, dimana bakteri yang dulu pernah sensitive terhadap suatu antibiotika kini menjadi resisten. Penggunaan antibiotika yang

dilaksanakan selama 5 hari, yaitu dari hari Senin, 27 Mei 2013 sampai dengan 31 Mei 2013.

terlalu sering pada suatu komunitas dapat memicu bakteri terjadinya yang suatu didapat

resistensi

terhadap suatu antibiotika.( Guillemot,

B. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah pasien yang pada tanggal 27 Mei 2013 31 Mei 2013 datang ke apotek wilayah kecamatan Tanon, kabupaten Sragen. Populasi dalam penelitian ini adalah sebanyak 52 orang. Obyek penelitian ini ditentukan

wawancara

dibantu

dengan

menggunakan kuisioner. D. Analisa Data Data yang diperoleh dari

wawancara dan dibantu alat kuisioner, yaitu berupa karakteristik responden dan perilaku secara dalam pengobatan dalam

dianalisa

diskriptif

bentuk prosentase. Keseluruhan proses perhitungan statistika dilakukan

berdasarkan kriteria inklusi, yaitu: a. Pengunjung yang pada tanggal 27 Mei 2013 31 Mei 2013 datang ke apotek wilayah kecamatan Tanon, kabupaten Sragen. b. Pasien yang membeli/menggunakan antibiotik swamedikasi. c. Pasien yang akan mendapat terapi antibiotik, dapat responden dapat juga orang lain. Kriteria ekslusi : a. Menolak ikut dalam penelitian untuk pengobatan

dengan menggunakan program SPSS ( Statistical Solution) perilaku Product for and Service Penilaian tepat

Window.

didasarkan

pada

indikasi, tepat dosis, dan tepat durasi pengobatan.

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Dari hasil penelitian yang

dilakukan pada 27 Mei 2013 sampai dengan 31 Mei 2013 didapatkan sampel sebanyak 52 orang. Hasil

C. Pengumpulan Data Pengumpulan data diperoleh dengan wawancara secara langsung dengan pengunjung apotek yang untuk dan

distribusi penelitian

karakteristik Perilaku

responden Swamedikasi

Masyarakat Tanon dalam Penggunaan Antibiotika dikelompokkan

menggunakan pengobatan

antibiotik swamedikasi,

berdasarkan usia, tingkat pendidikan dan jenis kelamin. Berdasarkan usia,

peneliti mengelompokkan menjadi 5 kelompok, yaitu usia 0-11 tahun sebanyak 0 responden (0%), usia 1225 tahun sebanyak 8 responden (15%), usia 26-45 tahun (46%), sebanyak 46-65 24 tahun

responden (42%). Jenis kelamin lakilaki merupakan jenis kelamin yang paling banyak menjadi responden

dalam penelitian ini. Distribusi berdasarkan

responden

pemilihan antibiotik berdasarkan jenis didapatkan 5 jenis antibiotik yang dibeli masyarakat untuk swamedikasi, antibiotik yang paling banyak dibeli yaitu amoxicilin sebanyak 34 orang (65%), menyusul ciprofloxacim

sebanyak 19 responden (37%), dan usia > 65 tahun sebanyak 1 responden (2%). Usia yang paling banyak

menjadi responden pada penelitian ini yaitu kelompok usia 26-45 tahun yaitu sebanyak 24 responden atau 46%. Karakteristik berdasarkan tingkat reponden pendidikan

sebanyak 13 orang (25%), antibiotik cefadroxil dibeli oleh 3 orang (5,8%), antibiotik ampicilin dibeli 1 orang (1,9%), dan antibiotik tetrasiklin

dikelompokkan menjadi 5 kelompok, yaitu tidak sekolah sebanyak 6

sebanyak 1 orang (1,9%). Distribusi mengenai

responden (11%), SD sebanyak 28 responden (54%), SMP sebanyak 15 responden (29%), SMA sebanyak 2 reponden (4%), sarjana sebanyak 1 responden (2%). Tingkat pendidikan SD merupakan yang paling banyak menjadi responden dalam penelitian ini, yaitu sebanyak 28 atau 54%. Karakterisitik berdasarkan jenis kelamin dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu jenis kelamin laki-laki sebanyak 30 responden (58%), dan jenis kelamin perempuan sebanyak 22

swamedikasi antibiotik berdasarkan perolehan sebanyak mengetahui info 35 tentang orang dari antibiotik, (67,3%) dokter

antibiotik

tanpa periksa terlebih dahulu sebelum membeli antibiotik pada saat penelitian ini berlangsung, sebanyak 15 orang (28,8%) mengetahui antibiotik dengan bertanya kepada petugas antibiotik, sebanyak 2 orang (3,8%) mengetahui antibiotik dengan memperoleh

informasi dari orang lain. Sebagian

10

besar responden mengetahui informasi mengenai antibiotik dari dokter yang dulu pernah memberikan resep ketika periksa sebelumnya, kemudian obat tersebut disimpan dan dibeli kembali jika sudah habis tanpa periksa kontrol terlebih dahulu. Distribusi berdasarkan alasan pemakaian antibiotik tanpa

Distribusi

berdasarkan

tepat

indikasi, pembeli antibiotik yang tepat indikasi sebanyak 22 orang (42,3%), sedangkan pembeli yang tidak tepat indikasi sebanyak 30 orang ( 57,7%) dan merupakan yang terbanyak dalam penelitian ini. Distribusi berdasarkan

penggunaan tepat dosis, sebanyak 38 orang (73,1%) menggunakan antibiotik dengan dosis yang tepat, sedangkan 14 orang ( 26,9%) menggunakan

menggunakan resep dokter, antibiotik yang mudah didapat menjadi alasan sebanyak 15 orang (28,8%), antibiotik yang bisa dibeli dengan harga murah tanpa harus periksa ke dokter terlebih dahulu menjadi alasan sebanyak 32 orang (61,5%), dan sebanyak 5 orang (9,6%) mempunyai alasan

antibiotik dengan dosis yang tidak tepat. Distribusi berdasarkan interval yang tepat, sebanyak 38 orang (73,1%) menggunakan interval sebanyak yang 14 antibiotik tepat, orang antibiotik dengan sedangkan (26,9%) dengan

menggunakan antibiotik tanpa resep dokter karena sudah mengetahui

antibiotik yang biasa dipakai jika keluhan muncul. Penggunaan antibiotika

menggunakan

interval yang tidak tepat. Distribusi berdasarkan durasi yang tepat, sebanyak 16 orang (30,8%) menggunakan antibiotik dengan durasi yang tepat, namun sebagian besar pembeli menggunakan antibiotika

berdasarkan keluhan, ISPA merupakan keluhan yang paling banyak pada pengguna antibiotik swamedikasi yaitu sebanyak 40 orang (76,9%), keluhan infeksi telinga sebanyak 3 orang (5,8%), sedangkan infeksi gigi

dengan durasi yang tidak tepat yaitu sebanyak 36 orang ( 69,2%).

dikeluhkan oleh 9 orang (17,3%).

Distribusi berdasarkan mutu antibiotik, yaitu apakah antibiotik yang dibeli sudah kadaluarsa atau belum, keseluruhan antibiotik yaitu dari 52 orang (100%) pembeli merupakan antibitotik dengan mutu terjamin. Pengetahuan mengenai efek

(88,5%)

tidak

mengetahui

kontraindikasi penggunaan antibiotika.

B. Pembahasan Dari hasil penelitian diatas, dapat diketahui mengenai perilaku masyarakat Tanon dalam penggunaan antibiotik sebagai swamedikasi,

samping antibiotik, sebanyak 8 orang (15,4%) mengetahui efek samping pada penggunaan antibiotik,

amoxicilin merupakan antibiotik yang paling banyak digunakan dalam

sedangkan sebagian besar pembeli yaitu 44 orang efek ( 84,6%) samping tidak dari

swamedikasi. Berdasarkan perolehan info tentang antibiotik, sebagian besar masyarakat swamedikasi mengetahui antibiotik yang dibeli dari dokter yang pernah dikunjungi sewaktu periksa sebelumnya, perilaku masyarakat yang terus menggunakan antibiotik yang diresepkan dokter terdahulu tanpa kontrol kembali ketika keluhan mereka muncul, merupakan alasan yang paling banyak mengapa dipaparkan mereka oleh pembeli

mengetahui

penggunaan antibiotik. Distribusi berdasarkan harga yang terjangkau, sebanyak 50 orang (96,2%) mengaku harga antibiotik yang dibeli terjangkau dan tidak membebani, sedangkan sebanyak 2 orang (3,8%) mengaku harga

antibiotik yang dibeli masih dirasa membebani atau tidak terjangkau. Distribusi pengetahuan pembeli berdasarkan mengenai

berswamedikasi

antibiotik. Dengan cara menyimpan bungkus antibiotik yang telah habis digunakan waktu dahulu, kemudian membelinya kembali ke apotek dengan membawa bungkus bekas tersebut. Dengan hal seperti itu, pembeli

kontraindikasi penggunaan antibiotik, sebanyak 6 orang (11,5%) mengetahui kontraindikasi antibiotik, dalam pemakaian kebanyakan

sedangkan

pembeli yaitu sebanyak 46 orang

12

berpikiran

bahwa

mereka

bisa

resisten

terhadap

antibiotik

yang

menghemat biaya dan waktu untuk tidak perlu datang atau kontrol ke dokter dengan memperoleh obat yang sama ketika keluhan mereka muncul kembali. Keluhan yang paling banyak ditemui pada pengguna antibiotik

digunakan. Ketepatan dosis dan interval (jarak konsumsi antar antibiotik) juga sudah tepat pada sebagian besar pengguna swamedikasi, yaitu sebesar 73,1%. Dosis yang dimaksud yakni ketepatan berdasarkan mg/kgBB/hari. Pengguna swamedikasi menggunakan dosis sama persis seperti dosis yang dianjurkan dokter sewaktu periksa terdahulu. Tetapi untuk masalah durasi atau lamanya pemakaian antibiotik, sebanyak 69,2% tidak tepat durasi. Hal ini yang menyebabkan

swamedikasi yaitu keluhan ISPA ( Infeksi Saluran Pernapasan Akut), sebagian besar pembeli mengeluhkan batuk, pilek, hidung tersumbat, nyeri telan dan nyeri tenggorokan. Hal ini sesuai dengan data sekunder yang diperoleh dari Puskesmas Tanon I bahwa merupakan banyak ISPA penyakit non-pneumonia yang oleh paling pasien.

meningkatkannya kejadian resistensi antibiotik karena penggunaannya yang tidak tuntas. Antibiotik yang minimal banyak

dikeluhkan ketepatan

Sedangkan

penggunaan

seharusnya selama 3

dikonsumsi hari, namun

antibiotik berdasarkan indikasi, masih belum bisa terpenuhi oleh separuh lebih dari pembeli antibiotik untuk swamedikasi, karena tidak semua

pengguna yang mengaku akan berhenti mengkonsumsi jika keluhan yang ada sudah mereda ataupun membaik.

penyakit harus diobati menggunakan antibiotik. Hal ini akan menjadi sia-sia jika penyebab penyakit tersebut

Kemudian sisa dari antibiotik yang dibeli disimpan untuk digunakan di kemudian hari. Mutu antibiotik yang dibeli di apotek 100% memenuhi, mutu yang dimaksud disini adalah antibiotik yang

bukanlah karena bakteri, selain sia-sia juga akan meningkatkan resiko

dibeli tidaklah kadaluarsa. Sehingga tidak pengguna. mengenai membahayakan Untuk efek kepada pengetahuan sebesar

KESIMPULAN

Masih

banyak

masyarakat

samping,

Tanon yang melakukan swamedikasi antibiotik, hal ini dapat menyebabkan resiko terjadinya resistensi terhadap antibiotik. Kesadaran masyarakat

84,6% pembeli tidak mengetahui efek samping yang dapat diakibatkan oleh penggunaan antibiotik. Efek samping yang paling sering ditemukan adalah reaksi alergi, seperti atau rasa gatal, yang

Tanon yang harus ditingkatkan bahwa penggunaan sangatlah obat secara bebas terutama

peradangan

ruam,

berbahaya,

menyebabkan adanya pembengkakan, gangguan pencernaan seperti diare, muntah, sakit perut, dan efek samping terbesar adalah gangguan pada fungsi hepar dan ginjal. Antibiotik dengan harga

antibiotik termasuk dalam daftar obat G (Gevaarlijk) yang berarti merupakan obat keras dan hanya dapat diperoleh menggunakan resep dokter.

terjangkau sebesar 96,2% diakui oleh pembeli, hal ini yang menyebabkan pembeli begitu mudahnya dapat

DAFTAR PUSTAKA

Bezoen, A., W. Vanharen, and J.C. hanekamp. 2000. Emergency of debate AGPs and public health. Human health and antibiotic growth promoters (AGPs),

membeli antibiotik tanpa ada beban biaya. Sedangkan sebesar 88,5%

pengguna antibiotik swamedikasi tidak mengetahui kontraindikasi pemakaian antibiotik tersebut, padahal ini hal yang penting untuk diketahui karena jika mengkonsumsi dalam keadaan tidak aman akan dapat menyebabkan dampak yang berbahaya bagi dirinya sendiri.

reassesing the risk, Heidelberg Appeal Nederland Foundation. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. 2007. Kompendia Obat Bebas, ed 2. Departemen Kesehatan RI, Jakarta

14

Focosi D. 2005. Antimicrobial for bacteria. Http:

Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan farmasi badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kesehatan RI
Supardi S. Notosiswoyo M. 2005. Pengobatan sendiri Sakit Kepala, Deman, Batuk dan Pilek pada masyarakat di Desa Ciwalen

//focosi.altervista.org/ [ 3 June 2013] Guillemot, Didier. 2009. Antibiotic use in humans and bacterial

Departemen

resistance. Current Opinion in Microbiology. Mitre, LS. 2008. Pharmacology

Kecamatan

Warungkondang

Canada : Natural Medicine Books. Hal: 53 Neal, Michael J. 2006. Medical

Kabupaten Cianjur Jawa Barat, Badan Penelitian dan

Pengembangan Kesehatan Depkes RI

Pharmacology At a Glance. Edisi 5. Penerbit Erlangga h.81 Nhiem DV. 2005. Analysis of

Susi AK. Yayi SP. Riswaka S. 2008. Perilaku Pengobatan Sendiri

yang Rasional pada Masyarakat Kecamatan Depok dan

tetracycline residues in marketed pork in Hanoi, Vietnam. Chiang Mai: Chiang Mai University and Freie University Berlin. Saputro S. 2009. Pola Pemilihan Obat Sakit Maag pada Konsumen yang Datang di Apotek di

cangkringan Kabupaten Sleman. Majalah Farmasi Indonesia. U. Hadi, DO. Deurink, Es. Lestari, NJ. Nagelkerke, S. Werter, et al. 2008. Survey of antibiotic use of individual visiting public healthcare facilities in Indonesia. Available from: https://openaccess.leidenuniv.nl/ bitstream/handle/1887/13821/03. pdf;jsessioni

Kecamatan Delanggu. Surakarta: Fakultas Farmasi Universitas

Muhammadiyah Surakarta Supardi S. 2005. Pengobatan Sendiri di Masyarakat dan Masalahnya.

d=DBED9A1D38747EBF2D64 A500F2183E37?sequence=8.

Widayati Aris et al. 2011. Studied Self Medication eith Antibiotic in Yogyakarta City Indonesia. A total of 559 questonairres were analyzed ( respone rate : 90%) World Health Organization, Regional Office for South East Asia 2006. The Role of Education in The Rational Use of Medicines,

SEARO Technical Publication Series No. $%, New Delhi

16

LAMPIRAN

KUISIONER

No : Tempat pengambilan data Nama Apotek : Nama APA :

Data Responden Nama : Usia :

Alamat : Pendidikan : Subjek Penelitian Subjek adalah pasien yang akan mendapat terapi, dapat responden dapat juga orang lain Umur subjek : Alamat : Jenis kelamin : laki - laki perempuan

Antibiotika yang dibeli Hanya antibiotika yang ditujukan untuk digunakan oleh subjek No. Nama Antibiotika Dosis Jumlah (butir)

Keluhan pasien Tanggal munculnya gejala___________________atau______________hari 1. ISPA 2. Diare 3. Infeksi telinga 4. ISK 5. Infeksi gigi 6. Infeksi pada kulit 7. Lain-lain, sebutkan Informasi mengenai pemakaian antibiotik didapat dari: 1. Dokter, dengan periksa terlebih dahulu 2. Dokter, tanpa periksa 3. Petugas apotek 4. Orang lain 5. Lainnya, sebutkan _____________________

18

Jika jawaban pertanyaan diatas selain no.1, mengapa Anda membeli antibiotika tanpa resep dokter? 1. Lebih mudah untuk didapat 2. Lebih murah tanpa harus pergi ke dokter 3. Sudah tahu antibiotika yang biasa dipakai 4. Lainnya, sebutkan _____________________ Penilaian perilaku No. Penilaian 1 Diberikan sesuai dengan indikasi penyakit, yaitu didasarkan atas keluhan indivual dan hasil pemeriksaan fisik yang akurat 2 Diberikan dengan dosis yang tepat, yaitu memperhitungkan umur, berat badan, dan kronologis penyakit 3 Cara pemberian dengan interval waktu pemberian yang tepat, yaitu jarak minum obat sesuai dengan aturan pemakaian yang telah ditentukan. 4 5 Lama pemberian yang tepat Obat yang diberikan efektif dengan mutu terjamin (tidak kedaluarsa) 6 7 8 Mengetahui efek samping obat Harga terjangkau Mengetahui kontraindikasi penggunaan antibiotika Ya Tidak

FOTO KEGIATAN

Meminta ijin dengan apoteker untuk melakukan survey

Wawancara dengan responden

20

PENGOLAHAN DATA
antibiotik Cumulative Frequency Valid amoxicilin ciprofloxacin cefadroxil ampicilin tetrasiklin Total 34 13 3 1 1 52 Percent 65.4 25.0 5.8 1.9 1.9 100.0 Valid Percent 65.4 25.0 5.8 1.9 1.9 100.0 Percent 65.4 90.4 96.2 98.1 100.0

info_antibiotik Cumulative Frequency Valid dokter tanpa periksa petugas apotek orang lain Total 35 15 2 52 Percent 67.3 28.8 3.8 100.0 Valid Percent 67.3 28.8 3.8 100.0 Percent 67.3 96.2 100.0

alasan_tanpa_resep Cumulative Frequency Valid mudah didapat murah tanpa hrs periksa tahu yg biasa dipakai 15 32 5 Percent 28.8 61.5 9.6 Valid Percent 28.8 61.5 9.6 Percent 28.8 90.4 100.0

Total

52

100.0

100.0

keluhan Cumulative Frequency Valid ISPA infeksi telinga infeksi gigi Total 40 3 9 52 Percent 76.9 5.8 17.3 100.0 Valid Percent 76.9 5.8 17.3 100.0 Percent 76.9 82.7 100.0

indikasi_tepat Cumulative Frequency Valid ya tidak Total 22 30 52 Percent 42.3 57.7 100.0 Valid Percent 42.3 57.7 100.0 Percent 42.3 100.0

dosis_tepat Cumulative Frequency Valid ya tidak Total 38 14 52 Percent 73.1 26.9 100.0 Valid Percent 73.1 26.9 100.0 Percent 73.1 100.0

interval_tepat Cumulative Frequency Valid ya tidak Total 38 14 52 Percent 73.1 26.9 100.0 Valid Percent 73.1 26.9 100.0 Percent 73.1 100.0

22

durasi_tepat Cumulative Frequency Valid ya tidak Total 16 36 52 Percent 30.8 69.2 100.0 Valid Percent 30.8 69.2 100.0 Percent 30.8 100.0

mutu_terjamin Cumulative Frequency Valid ya 52 Percent 100.0 Valid Percent 100.0 Percent 100.0

tahu_efeksamping

Cumulative Frequency Valid ya tidak Total 8 44 52 Percent 15.4 84.6 100.0 Valid Percent 15.4 84.6 100.0 Percent 15.4 100.0

harga_terjangkau Cumulative Frequency Valid ya tidak Total 50 2 52 Percent 96.2 3.8 100.0 Valid Percent 96.2 3.8 100.0 Percent 96.2 100.0

tahu_kontraindikasi Cumulative Frequency Valid ya tidak Total 6 46 52 Percent 11.5 88.5 100.0 Valid Percent 11.5 88.5 100.0 Percent 11.5 100.0

24

JADWAL PROGRAM ELEKTIF Hari, tanggal Senin, 27 Mei 2013 Pukul 08.00-12.00 Kegiatan Permohonan ijin kepada apoteker serta berdiskusi mengenai perilaku swamedikasi yang kebanyakan dilakukan masyarakat Melakukan survei dan wawancara terhadap masyarakat tanon yang melakukan swamedikasi antibiotik Melakukan survei dan wawancara terhadap masyarakat tanon yang melakukan swamedikasi antibiotik Melakukan survei dan wawancara terhadap masyarakat tanon yang melakukan swamedikasi antibiotik Melakukan survei dan wawancara terhadap masyarakat tanon yang melakukan swamedikasi antibiotik. Merancang produk elektif dan mempersiapkan bahan untuk sosialisasi Membagikan folder kepada masyarakat

Selasa, 28 Mei 201

08.00-15.00

Rabu, 29 Mei 2013

08.00-15.00

Kamis, 30 Mei 2013

08.00-15.00

Jumat, 31 Mei 2013

08.00-13.00

14.00-16.00

Sabtu, 1 Juni 2013

08.00-15.00