Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN ELEKTIF IDENTIFIKASI KANDUNGAN ZAT BERBAHAYA PADA JAJANAN FAVORIT ANAK SD DI SDN PADAS 1 DAN 2 DESA PADAS

KECAMATAN TANON KABUPATEN SRAGEN Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia

Disusun Oleh : Annas Nurdin 07711041 KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2013

I.

LATAR BELAKANG Makanan yang dijual di SD sangat bervariasi macamnya, untuk lebih menarik perhatian anak-anak, penjual makanan tersebut tidak jarang yang menghalalkan berbagai cara, seperti menggunakan zat warna tekstil rodhamin, pengawet bhorax dan formalin. Anak sekolah dasar merupakan generasi penerus bangsa dan merupakan modal yang sangat berharga untuk memajukan suatu bangsa, dalam hal perekonomian pembangunan maupun disektor lainnya. Oleh sebab itu derajat kesehatan anak-anak ini perlu diperhatikan dan ditingkatkan. Usaha kesehatan tersebut tidak lain adalah perbaikan gizi di usia sekolah dasar, karena dengan gizi yang baik akan terbentuk sumber daya manusia yang produktif, berkualitas dan cerdas. Jadi perbaikan gizi usia sekolah dasar sangat efektif guna meningkatkan sumber daya manusia, agar Negara ini lebih maju dan berkembang kearah yang lebih baik nantinya. Salah satu factor yang mempengaruhi status gizi anak adalah makanan yang dimakan sehari-hari. Kebiasaan anak yang sering jajan sembarangan dirumah maupun disekolah dapat berdampak buruk, sebab banyak makanan yang mengandung zat berbahaya, tidak aman, tidak sehat, beredar dimana-mana. Memakan makanan yang tidak sehat tersebut dapat berdampak buruk pada status gizi anak, bahkan bisa menyebabkan penurunan status gizi pada anak (Mel,2011). Menurut kami orang tua turut andil dalam kebiasaan anak sering jajan sembarangan, sebab banyak orang tua yang tidak mau ambil pusing dengan memberikan uang jajan dan memperbolehkan anak untuk jajan

disaat anak rewel atau merengek meminta uang jajan, untuk jajan disekolah, sehingga anak tidak mau makan dirumah karena sudah kenyang makan jajanan disekolah. Peran sekolah juga penting menurut kami, karena seharusnya sekolah mengontrol atau menyaring makanan yang masuk disekolah, atau lebih baik lagi menyediakan kantin sekolah yang telah teruji aman dan bergizi jajanannya, bisa juga dengan mengadakan program membawa bekal makan siang dari rumah, yang nantinya pada waktu istirahat dapat dimakan bersama-sama, dengan cara ini diharapkan anak sudah kenyang dan enggan untuk membeli jajanan sembarangan yang dijajakan oleh pedagang kaki lima disekolah. Berbicara masalah jajanan yang aman, sehat dan bergizi, kita tidak bisa melepaskannya dari factor keamanan pangan. Berbagai kasus gangguan kesehatan akibat mengkonsumsi jajanan yang telah tercemar oleh cemaran fisik, biologis maupun kimiawi sudah banyak kejadiannya di Indonesia. Banyak media massa yang memberitakan di suatu sekolah dasar para muridnya jatuh pingsan, muntah-muntah dikarenakan keracunan jajanan yang dijual pedagang kaki lima disekolah, bahkan tergolong menjadi kejadian luar biasa (KLB), ini sangat ironi sekali terjadi di Indonesia, dimana Negara ini termasuk Negara yang berkembang, yang diharapkan sumber daya manusianya sangat produktif untuk membangun Negara ini lebih maju lagi, dengan cara mendidik anak-anak usia dini, seperti anak anak sekolah dasar untuk digojlok kemampuannya, yang nantinya diharapkan pada masa yang akan datang dapat memajukan bangsa ini, kearah yang lebih baik dan dapat bersaing dengan Negara-negara maju lainnya.

Keberadaan makanan jajanan anak sekolah perlu mendapat perhatian khusus. Hal ini berbanding lurus dengan Gerakan Jajanan Sehat Anak Sekolah yang diselenggarakan oleh wakil Presiden republic Indonesia pada tanggal 31 Januari tahun 2011. Focus pemantauan difokuskan pada jajanan anak sekolah dasar, karena jajanan anak sekolah dasar ini yang menyebabkan kejadian luar biasa (KLB), yang setiap tahunnya pasti ada kejadian anak sekolah dasar keracunan akibat jajanan yang dijual pedagang kaki lima disekolahnya (Mel, 2011). Secara keseluruhan, jajanan yang diperdagangkan pedagang kaki lima di sekolah dasar sangat memprihatinkan bila ditinjau dari aspek kesehatan. Data badan POM (Pengawas Obat-obatan dan Makanan) tahun 2010 menunjukan adanya jajanan yang tidak memenuhi syarat dengan ditemukan dari 2.984 sampel yang diuji, 45% diantaranya tidak memenuhi syarat karena mengandung BTP yang dilarang seperti boraks, formalin, rhodamin B, methanol yellow atau BTP yang diperbolehkan seperti benzoate, sakarin, dan siklamat, namun penggunaannya melebihi batas, serta ada yang tidak memenuhi uji mikroba karena mengandung eserchia coli. Hasil penelitian tersebut menunjukan rendahnya perlindungan pada anak sekolah, padahal mengkonsumsi jajanan pedagang kaki lima disekolah adalah kebiasaan setiap hari para murid (Permat, 2010). Untuk mengurangi ataupun mencegah anak sekolah dasar mengkonsumsi jajanan yang berbahaya seperti yang telah disebutkan diatas, harus adanya kerjasama dari berbagai pihak, seperti orang tua, sekolah dan pedagang yang menjajakan makanan berbahaya itu sendiri. Disinilah pentingnya sosialisasi tentang pentingnya jajanan sehat dan bahayanya jajanan yang tidak sehat tersebut, yang pada dasarnya yang mengkonsumsi adalah anak sekolah dalam masa pertumbuhan, yang seharusnya mendapat nutrisi dan gizi yang baik,

sehingga nantinya diharapkan timbul sumber daya manusia yang produktif, yang dapat membangun bangsa ini kearah yang lebih baik.

II.

TUJUAN Untuk mengetahui kandungan jajanan 4 besar terfavorit di SDN Padas 1 dan 2, desa Padas, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, yang nantinya diharapkan untuk proteksi para murid sekolah dasar yang ada di desa Padas tersebut, dalam bentuk tindakan lebih lanjut dari pihak sekolah, dalam bentuk apapun, seperti, penyuluhan tentang bahayanya jajanan yang tidak sehat dan mengandung bahan-bahan berbahaya, mendirikan kantin sehat, mengedukasi para wali murid dan pedagang kaki lima yang menjajakan makanan di lingkungan sekolah maupun program-program yang lainnya.

III.

MANFAAT Manfaat yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah diharapkan pihak sekolah, wali murid, dan murid itu sendiri tahu ciri-ciri jajanan yang berbahaya dan dari pihak sekolah diharapkan melakukan tindakan lebih lanjut seperti, mendirikan kantin sekolah yang sehat, atau mengedukasi kepada wali murid dan pedagang makanan yang berjualan di lingkungan sekolah tentang bahayanya jajanan yang mengandung zat pengawet dan zat pewarna.

IV.

PENGAMBILAN SUMBER DATA Pengambilan sumber data dilakukan dengan survey langsung pada 204 siswa sekolah dasar Padas 1 dan 2, dengan rincian Sekolah Dasar Padas I 97 siswa dan Sekolah Dasar Padas II 107 siswa. Kami menggunakan kuisioner untuk men survey jajanan tervaforit di kedua Sekolah Dasar tersebut. Kuisioner dibagikan kepada seluruh siswa dari kelas ke kelas lainnya secara merata. Adapun isi kuisioner adalah sebagai berikut: PERTANYAAN Apakah anda membeli jajanan disekolah setiap hari? Jika iya jajanan apa yang sering anda beli? (sebutkan satu) JAWABAN

V.

HASIL Setelah kami lakukan survey di kedua sekolah tersebut, yaitu Sekolah Dasar Padas I dan II, di dapatkan 152 siswa pada kedua sekolah dasar tersebut, menjawab, iya membeli jajanan disekolah setiap hari. Dan dipertanyaan selanjutnya, jajanan apa yang sering anda beli, kami mendapat banyak sekali jawaban, dengan rincian sebagai berikut, 63 siswa menjawab sosis goreng, 37 siswa nugget goreng, 35 siswa tempura panjang, 9 siswa tempura stik, 4 siswa menjawab snack gule ayam, 3 siswa snack istimewa, 1 siswa menjawab es teh.

PERTANYAAN Apakah anda membeli jajanan disekolah setiap hari?

JUMLAH 152 Siswa menjawab ya 46 Siswa menjawab

PRESENTASE 74%

26% 41%

Jika iya jajanan apa yang sering anda beli?

tidak Sosis goreng (63)

(sebutkan satu) Nugget goreng ( 37) Tempura panjang (35) Tempura stik (9) Snack gule ayam (4) Snack istimewa (3) Es teh (1) 24% 23% 6% 3% 2% 1%

Setelah dilakukan survey dan mendapatkan hasilnya, kami membeli sampel-sampel tersebut, kami hanya memilih 4 jajanan terfavorit yaitu sosis, nugget, tempura panjang dan tempura stik, untuk dilakukan penelitian di Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen. Adapun zat-zat yang kami teliti adalah zat pengawet yang seharusnya dilarang, tidak boleh dicampurkan dimakanan, yaitu formalin dan bhorax, selain zat pengawet kami juga mendeteksi ada tidaknya zat pewarna yang seharusnya juga tidak boleh ada di dalam makanan, karena zat perwarna tersebut untuk mewarnai tekstil, zat itu adalah rhodamin B dan methanyl yellow. Setelah ke empat sampel makanan terfavorit tersebut kami bawa dan kami teliti di Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen, dengan menggunakan metode tes kit, didapatkan hasil sebagai berikut:

Dari hasil diatas didapatkan, sosis goreng positif formalin,tempura nugget positif formalin dan bhorax, tempura panjang positif formalin, tempura stik negative semua, tidak mengandung formalin,bhorax maupun rhodamin B dan methanyl yellow. Sedangkan saosnya sendiri mengandung bhorax. Hal ini sangat memprihatinkan, bayangkan saja, zat-zat berbahaya tersebut dimakan oleh murid-murid setiap hari, memang dalam jangka pendek dikebanyakan kasus tidak menimbulkan symptom atau keluhan, tapi jangka panjangnya sangat berbahaya, apa lagi yang memakan-makanan tersebut adalah generasi bangsa ini. VI. PEMBAHASAN Formalin adalah larutan tak berwarna, mudah larut dalam air dan mudah menguap, mempunyai bau yang sangat tajam. Didalam formalin terkandung 37 % formaldehid dalam air. Formalin merupakan golongan aldehida, dan mempunyai banyak nama kimia, antara lain: Formal, Paraforin, Morbicid. Pada dasarnya formalin seharusnya digunakan untuk perekat kayu lapis dan disinfektan, serta untuk pengawet mayat. Formalin dan bhorax banyak disalahgunakan untuk pengawetan makanan, seperti yang telah tertera diatas, formlain dan bhorax juga disalah gunakan oleh pedagang kaki lima yang berjualan di sekolah dasar, untuk mengawetkan jajanan yang dijualnya. Efek dari formalin dan bhorax itu sendiri tergantung dari berapa lama dan berapa kadar yang terdapat dalam tubuh. Factor imunitas sangat berperan dalam efek dari formalin dan bhorax ini, tapi anakanak atau murid sekolah dasar masih dalam masa pertumbuhan, dengan kata

10

lain imunitasnya belum sempurna. Sifat oksidator formalin dan bhorax dapat merusak sel-sel tubuh sehingga dapat menghambat metabolism, bahkan dalam jangka panjang bisa menyebabkan pertumbuhan sel yang abnormal dan terjadilah penyakit kanker. Fakta yang telah kami sebutkan diatas sungguh sangat

mencengangkan, itu baru di dua sekolah dasar negri, di kabupaten sragen, bagaimana dengan sekolah yang lainnya, karena formalin dan bhorax bukanlah zat aditif pada makanan, namun justru mengancam kesehatan. Hal ini di akibatkan dari sekolah maupun wali murid dan murid itu sendiri tidak tahu ciri-ciri makanan yang mengandung formalin dan bhorax atau tidak, dan menurut kami factor ketidaktahuan akan bahaya dari formalin dan bhorax juga ikut andil dalam masalah ini, zat ini masih luas dipergunakan. Dampak yang tak terlihat ini juga dimanfaatkan oleh si pembuat makanan tersebut atau produsen acuh tak acuh akan dampak panjang yang disebabkan oleh formalin dan bhorax ini. Akumulasi formalin dan bhorax pada tubuh terus menerus akan berakibat fatal yang mengancam system keseimbangan tubuh, padahal murid-murid Sekolah Dasar Negri yang kami teliti ini, yakni Sekolah Dasar Padas I dan II memakan-makanan yang mengandung formalin dan bhorax ini setiap hari. Gejala yang ditimbulkan jika formalin dan bhorax ini tertelan, maka mulut,tenggorokan dan perut akan terasa terbakar, sakit menelan, mualmuntah, diare kemungkinan terjadi perdarahan, hipotensi, bahkan bisa sampai koma. Selain itu juga bisa menyebabkan kerusakan jantung, hati, pancreas dan ginjal. Begitupun dengan bhorax. Bhorax merupakan garam natrium yang banyak digunakan di industry nonpangan, khususnya kertas, gelas, pengawet

11

kayu dan keramik. Bhorax berupa serbuk Kristal putih dan tidak berbau, daya pengawet dari bhorax berasal dari kandungan asam bhorat didalamnya. Adapun ciri-ciri makanan yang mengandung formalin dan bhorax adalah,makanannya tidak mudah basi, walaupun disimpan disuhu kamar selama 2 hari, sosis atau nugget bila di pegang kenyal sekali, berwarna cerah dan mengkilap, tidak mudah hancur. Dan alasan kami hanya memilih empat besar jajanan terfavorit di Sekolah Dasar Negri Padas I dan II adalah karena terkendala dalam segi biaya, karena reagen yang digunakan untuk penelitian ke empat sampel tersebut tidak murah bagi kami.

VII.

PRODUK Agar selalu teringat akan bahayanya makanan atau jajanan yang mengandung formalin dan bhorax, dan juga adanya action dari pihak sekolah, maka kami melakukan beberapa program: 1. Naskah Publikasi berisikan hasil penelitian dan bahayanya makananmakanan yang mengandung formalin dan bhorax 2. Penyuluhan personal yang kami lakukan kepada kepala sekolah, di kedua sekolah dasar tersebut, yang berisikan, diharapkan adanya tindak lanjut dari pihak sekolah, berupa, didirikannya kantin sekolah yang bersih dan sehat, edukasi dengan wali murid, murid dan pedagang kaki lima yang menjajakan makanan yang mengandung formalin dan bhorax tersebut, di adakannya program membawa bekal dari rumah, agar para siswa tidak jajan disekolah karena sudah kenyang, ataupun program

12

yang lainnnya, yang pada intinya, melindungi murid-murid untuk tidak makan-makanan yang mengandung formalin dan bhorax tersebut. 3. Poster, yang berisi bahayanya formalin dan bhorax pada makanan, jika dikonsumsi setiap hari.

VIII. SIMPULAN DAN SARAN 7.1 Simpulan Setelah dilakukan penelitian pada 4 besar jajanan terfavorit di SDN Padas I dan II, kecamatan Padas, kabupaten Sragen, didapatkan sosis goreng positif formalin,tempura nugget positif formalin dan bhorax, tempura panjang positif formalin, tempura stik negative semua, tidak mengandung formalin,bhorax maupun rhodamin B dan methanyl yellow. Sedangkan saosnya sendiri mengandung bhorax. Hal ini sangat memprihatinkan, bayangkan saja, zat-zat berbahaya tersebut dimakan oleh murid-murid setiap hari, memang dalam jangka pendek dikebanyakan kasus tidak menimbulkan symptom atau keluhan, tapi jangka panjangnya sangat berbahaya, apa lagi yang memakan-makanan tersebut adalah generasi bangsa ini.

7.2 Saran diharapkan pihak sekolah, wali murid, dan murid itu sendiri tahu ciri-ciri jajanan yang berbahaya dan dari pihak sekolah diharapkan melakukan tindakan lebih lanjut seperti, mendirikan kantin sekolah yang sehat, atau

13

mengedukasi kepada wali murid dan pedagang makanan yang berjualan di lingkungan sekolah tentang bahayanya jajanan yang mengandung zat pengawet dan zat pewarna. Dan juga perlunya monitoring dari dinas kesehatan setempat, maupun kader kesehatan, agar program tersebut berjalan secara berkelanjutan.

TUGAS ELEKTIF: JADWAL KEGIATAN

No. 1.

Hari Tanggal Senin, 27 Mei 2013

Kegiatan Perkenalan, perijinan dan wawancara awal dengan kepala Sekolah Dasar Negri Padas I dan II Melakukan survey jajanan favorit di SDN Padas I dan II Perkenalan, perijinan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen, dan menyerahkan sampel jajanan yang akan diteliti Mengambil hasil penelitian Kesehatan diskusi Kabupaten tentang

2. 3.

Selasa, 28 Mei 2013 Rabu, 29 Mei 2013

4.

Kamis, 30 Mei 2013

di

Dinas dan untuk

Sragen,

menyerahkan ke pihak sekolah, sambil solusi,produk

14

pemecahan masalah 5. Jumat, 31 Mei 2013 Melakukan bahaya penyuluhan dan personal bhorax kepada serta tentang dan

kepala sekolah SDN Padas I dan II, tentang formalin menyampaikan 6. Sabtu, 1 Juni 2013 solusi-solusi

permasalahan tersebut Mengumpulkan media I dan II

promkes,

berpamitan kepada kedua sekolah SDN Padas

DOKUMENTASI :

15

16

17

18

19

DAFTAR PUSTAKA 1. Aprilianti, Ayudiyah., 2007. Studi Kasus Penggunaan Formalin Pada Tahu Di Kota Madya Kediri. http://studentresearch.umm.ac.id/index.php/pkmi/article/viewFile/3/3_umm_student_r esearch.pdf. 2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009. Profil Kesehatan Indonesia, Depkes, Jakarta. www.depkes.go.id 3. Hutabarat, Pujita., 2010. Analisa Kandungan Formalin Pada Mie Basah Serta Ciri-ciri Fisik Mie Basah Yang Positif Mengandung Formalin Dan yang Negatif Mengandung Formalin Di Pasar Tradisional Medan Tahun 2010. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21937/6/Cover.pdf. 4. Rosita, Amelia., 2011. Pengaruh penyuluhan dengan metode ceramah dan poster terhadap perilaku konsumsi makanan jajanan murid di SD kelurahan pincuran kerambil kecamatan Sibloga Sambas kota Sibolga tahun 2011. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27028/5/Chapter %20I.pdf

20

21

Anda mungkin juga menyukai