Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN TONSILITIS KRONIS

Disusun untuk memenuhi tugas Praktek Klinik KMB II di Poliklinik THT RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta Dosen Pembimbing : Maria Putri Sari Utami, S.Kep., Ns

Disusun Oleh : Nama : Rossa Sulistyowati NIM : 2220112009

AKADEMI KEPERAWATAN NOTOKUSUMO YOGYAKARTA 2013

1. Pengertian Tonsilitis kronik adalah tonsil yang dapat mengalami peradangan menahun. (M.A. Handerson, Ilmu Bedah untuk Perawat, 1989) Anatomi dan fisiologi tonsil.

Faring dibagi menjadi nasofaring, orofaring dan laringofaring. Nasofaring merupakan bagian dari faring yang terletak diatas pallatum molle, orofaring yaitu bagian yang terletak diantara palatum molle dan tulang hyoid, sedangkan laringofaring bagian dari faring yang meluas dari tulang hyoid sampai ke batas bawah kartilago krikoid. Orofaring terbuka ke rongga mulut pada pilar anterior faring. Pallatum molle (vellum palati) terdiri dari serat otot yang ditunjang oleh jaringan fibrosa yang dilapisi oleh mukosa. Penonjolan di median membaginya menjadi dua bagian. Bentuk seperti kerucut yang terletak disentral disebut uvula. Dua pillar tonsilar terdiri atas tonsil palatina anterior dan posterior. Otot glossoplatina dan pharyngopalatina adalah otot terbesar yang menyusun pilar anterior dan pilar posterior. Tonsil terletak diantara cekungan palatoglossal dan palatopharyngeal. Plika triangularis (tonsilaris) merupakan lipatan mukosa yang tipis, yang menutupi pilar anterior dan sebagian dan sebagian permukaan anterior tonsil. Plika semilunaris (supratonsil) adalah lipatan sebelah atas dari mukosa yang mempersatukan kedua pilar. Fossa supratonsil merupakan celah yang ukurannya bervariasi yang terletak diatas tonsil diantara pilar anterior dan posterior. Tonsil terdiri dari sejumlah penonjolan yang bulat atau melingkar seperti kripte yang mengandung jaringan limfoid dan disekelilingnya terdapat jaringan ikat. Ditengah kripta terdapat muara kelenjar mukus.

Tonsil dan adenoid merupakan bagian terpenting cincin waldeyer dari jaringan limfoid yang mengelilingi faring. Tonsil terletak dalam sinus tonsilaris diantara pilar anterior dan posterior faussium. Tonsil faussium terdapat satu buah pada tiap sisi orofaring adalah jaringan limfoid yang dibungkus oleh kapsul fibrosa yang jelas. Permukaan sebelah dalam tertutup oleh membran epitel skuamosa berlapis yang sangat melekat. Epitel ini meluas kedalam kripta yang membuka kepermukaan tonsil. Kripta pada tonsil berjumlah 8-20, biasa tubular dan hampir selalu memanjang dari dalam tonsil sampai kekapsul pada permukaan luarnya.Bagian luar tonsil terikat pada m.konstriktor faringeus superior, sehingga tertekan setiap kali menelan. m. palatoglusus dan m. palatofaring juga menekan tonsil. Selama masa embrio, tonsil terbentuk dari kantong pharyngeal kedua sebegai tunas dari sel endodermal. Singkatnya setelah lahir, tonsil tumbuh secara irregular dan sampai mencapai ukuran dan bentuk, tergantung dari jumlah adanya jaringan limphoid. Struktur di sekitar tonsil: 1. Anterior : pada bagian anterior tonsilla palatina terdapat arcus palatoglossus, dapat meluas dibawahnya untuk jarak pendek. 2. Posterior : di posterior terdapat arcus palatopharyngeus. 3. Superior : di bagian superior terapat palatum molle. Disini tonsilla bergabung dengan jaringan limfoid pada permukaan bawah palatum molle. 4. Inferior : di inferior merupakan sepertiga posterior lidah. Di sini, tonsilla palatina menyatu dengan tonsilla lingualis. 5. Medial : di bagian medial merupakan ruang oropharynx. 6. Lateral : di sebelah lateral terdapat capsula yang dipisahkan dari m.constristor pharyngis superior oleh jaringan areolar longgar. V. palatina externa berjalan turun dari palatum molle dalam jaringan ikat longgar ini, untuk bergabung dengan pleksus venosus pharyngeus. Lateral terhadap m.constrictor pharynges superior terdapat m. styloglossus dan lengkung a.facialis. A. Carotis interna terletak 2,5 cm di belakang dan lateral tonsilla. Tonsilla palatina mendapat vascularisasi dari : ramus tonsillaris yang merupakan cabang dari arteri facialis; cabang-cabang a. Lingualis; a. Palatina ascendens; a. Pharyngea ascendens. Sedangkan innervasinya, diperoleh dari N. Glossopharyngeus dan nervus palatinus minor. Pembuluh limfe masuk dalam nl. Cervicales profundi. Nodus paling penting pada kelompok ini adalah nodus jugulodigastricus, yang terletak di bawah dan belakangangulus mandibulae. Tonsila disusun oleh jaringan limfoid yang meliputi epitel skuamosa yang berisi beberapa kripta. Celah di atas tonsila merupakan sisa darin endodermal muara arkus bronkial kedua, di mana fistula bronkial/ sinus internal bermuara.. Di dalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel) yaitu kelenjar limfa yang mengandung banyak kelenjar limfoid dan merupakan

pertahanan terhadap infeksi. Tonsil terdiri dari jaringan limfoid yang dilapisi epitel respiratory. Cincin waldeyer merupakan jaringan limfoid yang membentuk lingkaran di faring yang terdiri dari tonsil palatina, tonsil faringeal (adenoid), tonsil lingual. Tonsil merupakan jaringan limfoid yang mengandung sel limfosit. Limfosit B membentuk kirakira 50-60 % dari limfosit tonsilar. Limfosit T pada tonsil 40 % dan 3 % lagi adalah sel plasma yang matang. Limfosit B berproliferasi di pusat germinal. Imunoglobulin G, A, M, D, komplemen-komplemen, interferon, losozim dan sitokin berakumulasi di jaringan tonsilar. Tonsil merupakan organ limfatik sekunder yang diperlukan untuk differensiasi dan proliferasi limfosit yang sudah disensitisasi. Tonsil mempunyai 2 fungsi yaitu : menangkap dan mengumpulkan bahan asing dengan efektif dan sebagai organ utama produksi antibodi dan sensitisasi sel limfosit T dengan antigen spesifik.

2. Etiologi Penyebab tonsillitis kronik sama dengan tonsillitis akut yaitu kuman golongan atreptococcus hemolyticus viridans dan streptococcus pyogenes, tetapi kadang-kadang kuman berubah menjadi kuman golongan gram negatif.

Faktor predisposisi timbulnya radang kronik ini ialah yang menahun (misalnya : makanan), pengaruh cuaca, pengobatan radang akut yang tidak adekuat, serta hygiene yang buruk.

3. Gambaran Klinis Gambaran klinis dari tonsillitis yaitu tonsil membesar dengan adanya hipertropi dan jaringan parut. Sebagian kripta tampak mengalami stenosis, tapi eksudat yang sering kali purulen. Gambaran klinis lain yang sering adalah dari tonsil yang kecil biasanya membuat lekukan. Biakan tonsilia dengan penyakit kronis biasanya menunjukan beberapa organisme yang virulensinya relatif rendah. Gejala tonsillitis kronik sebagai brikut a. Keluhan sakit menelan, liur banyak. b. Panas, sakit kepala, rasa sakit ditelinga c. Tonsil warna merah dan membengkak. d. Tonsil tampak bercak kecil dan sumbatan pada kripta (angila lakrimalis) pada tonsillitis folio kuralis bercaknya besar. e. Bercak tampak bergabung menjadi satu meluas sampai ke arkus varing. f. Oedem pada arkus varing dan mungkin sampai palatum mole. g. Sakit tekan pada limforadi. h. Bercak dapat meluas keseluruh jaringan limfe dilingkaran welldeyer.

4. Patofisiologi Pada tonsilitis kronik terdapat dua bentuk yaitu hipertroil dan aerotnsil karena proses berulang, maka selain epitel mukosa terkikis, jaringan limfoik diganti oleh jaringan parut. Jaringan parut ini sesuai dengan sifatnya akan mengalami pengerutan. Kelompok jaringan limfoid mengerut, sehingga ruang antara kelompok melebar. Hal ini secara klinik tampak sebagai pelebaran kriptus dan kriptus ini diisi oleh defritus. Proses berjalan terus, sehingga menembus kapsul dan

akhirnya timbul perlekatan dengan jaringan disekitar fosa tonsillitis. Pada anak-anak proses ini disertai dengan pembesaran kelenjar limfe sub mandibula.

5. Pathways Tonsilitis berulang Epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis Proses penyembuhan limfoid

Cicatrik Tonsilitis kronik

Hipertropi & cicatrik Pelebaran kripta Mengganggu nervus glasovaringeus gangguan telinga tengah Tonsil membesar & Pengangkatan jaringan adenopati reginal nyeri menelan nyeri

mengkerut dan hiperemis timbul lekukan tonsil tetap kecil tonsilektomi

luka insisi

kesulitan bicara

potensial komplikasi Resiko Infeksi Resiko perdarahan

Input cairan < resti perubahan volume cairan kurang dari kebutuhan

gangguan rasa nyaman, nyeri input nutrisi resti prubahan nutrisi kurang dari kebutuhan Kerusakan komunikasi verbal

6. Komplikasi Tonsillitis yang tidak segera ditangani/diterapi dapat berkembang menjadi penyakit yang berbahaya. Komplikasi ke daerah sekitar tonsil berupa a. Rinitis kronis b. Sirositis Komplikasi ke organ yang jauh dari tonsil seperti Indokarditis Miositis Iridoksitis Pruritis Furun kilosis Artritis Nefritis, ufeisis Dermatitis Utikaria

7. Penatalaksanaan Pengobatan dan perawatan yang diberikan pada pasien tonsillitis kronik adalah: a. Tonsilektomi b. Antibiotika, analgetika/anti panas c. Makan-makanan yang lembut d. Makanan yang pedas dan panas dilarang

TONSILEKTOMI Indikasi tonsilektomi yang penting dapat diterima anak-anak adalah sebagai berikut : 1. Serangan tonsillitis berulang yang tercatat (walaupun telah diberikan penatalaksanaan medis yang adekuat)

2. Tonsilitis berhubungan dengan streptococcus menetap dan patogenik (keadaan karier) 3. Hiperplasia dan obstruksi yang menetap 6 bulan setelah infeksi mononucleosis (biasanya pada dewasa muda) 4. Hiperplasia tonsil yang obstruksi Kontra indikasi 1. Infeksi pernafasan bagian atas yang berulang 2. Infeksi sistemik 3. Asma 4. Tonus otot yang melemah 5. sinositus

KONSEP KEPERAWATAN
Proses keperawatan terdiri dari 5 tahap (Gebbie and Lavin, 1974) yaitu : 1. Pengkajian 2. diagnosa keperawatan 3. Perencanaan 4. Pelaksanaan 5. Evaluasi

1. PENGKAJIAN Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses keperawatan. Diperlukan pengkajian yang cermat untuk mengenali masalah klien, agar dapat memberikan arah pada tindakan keperawatan. Pengkajian data merupakan kegiatan dalam menghimpun informasi data-data dari klien yang meliputi biopsikososial spiritual yang komprehensif. Data dapat dikumpulkan dari berbagai sumber. Data utama adalah pasien. Data-data tambahan yang dibutuhkan dapat diperoleh dari sumber lain, missal : keluarga, tenaga kesehatan lain, catatan-catatan oleh tenaga kesehatan yang tercatat dalam dokumentasi medis pasien dan hasil pemeriksaan penunjang. Adapun data yang diperoleh dari pasien tonsillitis : Data Subyektif

a. Keluhan sakit menelan b. Sakit kepala c. Pasien sakit di telinga d. Pasien sakit tekan di limfoid Data Obyektif a. Panas b. Liur banyak c. Tonsil tampak memerah d. Tonsil bengkak e. Oedema pada arkus faring

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN Beberapa diagnosa keperawatan yang dapat ditemukan pada klien dengan pre atau post operasi tonsillitis antara lain : a. Resiko terhadap kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan penurunan masukan cairan sekunder terhadap nyeri saat menelan. b. Resiko terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan penurunan masukan sekunder terhadap nyeri saat menelan. c. Resiko terhadap ketidakefektifan penatalaksanaan aturan terapeutik yang berhubungan dengan ketidakcukupan pengetahuan tentang komplikasi, penatalaksanaan nyeri, pengaturan posisi dan pembatasan aktivitas. d. Nyeri berhubungan dengan pembedahan. e. Kurang perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan mobilitas fisik terhadap pembedahan. f. Resiko tinggi terhadap kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan dirumah berhubungan dengan kurangya pengetahuan tentang perawatan diri saat pasien pulang. g. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kejadian pra operasi dan post operasi takut tentang beberapa aspek pembedahan. h. Resiko tinggi terhadap komplikasi, infeksi berhubungan dengan factor pembedahan

3. PERENCANAAN Merpakan prioritas, hasil yang diharapkan dari pasien dengan kegiatan keperawatan yang spesifik. Beberapa diagnosa yang menjadi focus intervensinya adalah : a. Resiko terhadap kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan penurunan masukan cairan sekunder terhadap nyeri saat menelan. Rencana tujuan Klien dapat meningkatkan masukan cairan minimal 2000 ml Rencana tindakan Kaji perubahan tanda vital, contoh peningkatan suhu tubuh Kaji turgor kulit, kelembaban membran mukosa. b. Resiko terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan penurunan masukan sekunder nyeri saat menelan. Rencana tujuan Klien menunjukan nafsu makan Rencana tindakan Beri makanan porsi kecil dan sering atau makanan yang menarik untuk pasien. c. Resiko terhadap ketidakefektifan penatalaksanaan aturan terapeutik yang berhubungan dengan ketidakcukupan pengetahuan tentang komplikasi, penatalaksanaan nyeri, pengaturan posisi dan pembatasan aktivitas. Rencana tujuan Klien dapat menggambarkan proses penyakit, penyebab-penyebab dan factor penunjang pada gejala dan aturan untuk penyakit atau kontrol gejala. Rencana tindakan Diskusikan aspek ketidalmampuan dari penyakit, lamanya penyembuhan dan harapan kesembuhan. d. Nyeri berhubungan dengan pembedahan. Rencana tujuan Klien menyatakan nyeri hilang/terkontrol Rencana tindakan Pantau tanda-tanda vital Berikan tindakan nyaman missal perubahan posisi, musik, relaksasi.

e. Kurang perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan mobilitas fisik terhadap pembedahan. Rencana tujuan Klien berpartisipasi secara fisik dan atau verbal dalam aktivitas. tentukan tingkat bantuan yang diperlukan. f. Resiko tinggi terhadap kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan dirumah berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang perawatan diri saat pasien pulang. Rencana tujuan Klien menyatakan mrngerti tentang instruksi, melaksanakan dengan tepat ketrampilan perawatan diri yang diperlukan, mengidentifikasi bagian-bagian yang memerlukan perawatan. Rencana tindakan Ajarkan dan biarkan pasien merawat luka jika penggantian perlu dilakukan di rumah.

g. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kejadian pra operasi dan post operasi, takut tentang beberapa aspek pembedahan. Rencana tujuan Mengungkapkan pemahaman tentang kejadian pra operasi dan pasca operasi, melaporkan berkurangnya perasaan cemas atau gugup, ekspresi wajah rileks, kurang bicara. Rncana tindakan Jelaskan apa yang terjadi selama periode pra operasi dan pasca operasi termasuk tes laboratorium pra operasi, alas an status puasa. h. Resiko tinggi terhadap komplikasi, infeksi berhubungan dengan factor pembedahan. Rencana tujuan Tidak ada infeksi Tidak ada komplikasi Rencana tindakan Pantau suhu badan tiap 4 jam, keadaan luka ketika melakukan perawatan.

4. IMPLEMENTASI Merupakan pelaksanaan perencanaan keperawatan oleh perawat terhadap pasien. Beberapa petunjuk pada implementasi adalah sebagai berikut :

a. Implementasi dilakukan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi. b. Dokumenyasi intervensi dan respon klien.

5. EVALUASI Merupakan tahap akhir dalam proses keperawatan dan menentukan sejauh mana tujuan dapat dicapai. Evaluasi dilakukan dengan memakai criteria evaluasi, dengan melibatkan klien, keluarga dan anggota tim kesehatan lain. Evaluasi dikatakan berhasil apabila masalah sudah dapat diatasi dengan kata lain tujuan sudah tercapai sesuai dengan rencana tujuan yang telah ditetapkan.

PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Tonsilitis kronik adalah tonsil yang dapat mengalami peradangan menahun. 2. Kasus tonsillitis kronik tanpa diragukan merupakan penyakit yang paling sering dari srmua penyakit tenggorokan berulang. 3. Tonsiliyis kronik sering ditemukan pada anak-anak. 4. Pengobatan pada klien tonsillitis kronik adalah berupa tindakan tonsilektomi dan pemberian antibiotik serta anti piretik.

B. Saran Dalam setiap melakukan pengkajian keperawatan, seorang perawat hendaknya mampu melakukan pengkajian secara menyeluruh karena dengan pengkajian yang menyeluruh segala aspek, maka didapatkan data yang lengkap sehingga dapat memunculkan diagnosa keperawatan yang tepat.