Anda di halaman 1dari 13

SKABIES Agra Cesarienne Pradito DEFINISI Skabies merupakan sebuah penyakit KULIT yang disebabkan oleh infestasi dan

dan sensitisasi oleh Sarcoptes scabiei dan produknya Skabies pada orang awam biasa disebut dengan KUDIS yang disebabkan oleh tungau yang merupakan spesies Sarcoptes scabiei Skabies merupakan penyakit menular, dengan gejala gatal pada kulit yang ditimbulkan akibat investasi dari Sarcoptes scabiei pada stratum korneum kulit yang menyebabkan reaksi sensitasi pada kulit

EPIDEMIOLOGI Faktor yang mempengaruhi perkembangan dari penyakit ini : o SOS-EKO RENDAH o HIGIENE yang BURUK Kedua hal tersebut akan berhubungan dengan demografi dan ekologi dari lingkungan tempat tinggal dari sang pasien. o HUB SEX PROMISKUITAS Berganti-ganti pasangan (SEX BEBAS) TERMASUK DALAM PMS o Kepadatan penduduk o Minimnya pengetahuan masyarakat tentang skabies o UNDER Dx and Tx DERMATITIS, dimana pasien dengan skabies akan datang berobat kepada dokter jika telah terjadi infeksi sekunder pada kulitnya, akibat garukan yang dicetuskan oleh rasa gatal akibat sensitisasi sekret dan eksreta tungau. Cara Penularan Terdapat DUA cara penularan yang dapat terjadi : 1. Kontak Langsung Kontak kulit dengan kulit Ex : Berjabat tangan, tidur bersama, Hub Sex 2. Kontak TIDAK Langsung melalui perantara Ex: Pakaian dan Handuk yang tidak dicuci bersih, Sprai. Manusia dapat terinvasi oleh varian Sarcoptes scabiei yang menginvasi hewan, tetapi bentuk investasi tungau tesebut hanya akan menyebabkan gatal dalam tingkat ringan dan dapat bersifat self limiting, karena sesungguhnya habitat dari tungau tersebut bukanlah pada kulit dari manusia. Proses penularan yang terjadi pada penyakit SKABIES, terjadi dengan cara Transmisi dari LARVA SKABIES atau transmisi dari Sarcoptes scabiei BETINA yang telah dibuahi oleh Sarcoptes scabiei JANTAN. Sering terjadi penularan yang bersifat cepat pada kelompok KELUARGA, TETANGGA, dan ASRAMA / YATIM PIATU

SKABIES merupakan penyakit yang bersifat UTAMA pada lingkungan PADAT PENDUDUK

ETIOLOGI dan PARASITOLOGI Penyebab dari penyakit skabies merupakan sebuah PARASIT yang bernama Sarcoptes scabiei Sarcoptes scabiei merupakan PARASIT yang tergolong dalam Hewan parasit (ZOOPARASIT) dalam kelompok hewan bersel banyak (METAZOA) dengan filum serangga (ARTHROPODA) o Filum : Arthropoda o Kelas : Arachnida o Ordo : Ackarima o Super Famili : Sarcoptes Pada Manusia, Sarcoptes scabiei yang menyebabkan SKABIES merupakan spesies Sarcoptes scabiei variety hominis Morfologi Sarcoptes scabiei o TUNGAU KECIL o Berbentuk oval o Punggungnya cembung o Bagian perut rata o Mulut seperti mulut penyu o Tidak memiliki MATA o Berwarna PUTIH KOTOR o Memiliki kaki 4 Pasang JANTAN: 2 pasang di depan dalam bentuk AMBULACRA, dan 2 pasang dibelakang dalam bentuk BULU PANJANG pada kaki ke 3 dan AMBULACRA pada kaki ke 4. BETINA : 2 pasang di depan dalam bentuk AMBULACRA dan 2 pasang dibelakang dalam bentuk bulu panjang. Dapat bergerak dengan kecepatan 2.5 cm/menit pada permukaan kulit AMBULACRA berfungsi untuk melekat, dimana terdapat alat hisap pulvilli

o TUNGAU JANTAN (200-240 X 150-200 mikron) < TUNGAU BETINA (300-450 X 250-350 mikron) Sarcoptes scabiei pada manusia tergolong dalam ECTOPARASIT, yang berarti spesies tersebut berada pada bagian luar dari tubuh manusia yang akan menyebabkan sebuah INVESTASI bukan infeksi. Selain itu, Sarcoptes scabiei juga tidak akan selamanya hidup pada stratum corneum dari kulit manusia, tetapi parasit tersebut akan keluar dari stratum korneum manusia, menuju permukaan kulit pada suatu keadaan saat tungau tersebut akan melakukan KOPULASI. Bersifat TRANSIENT Termasuk dalam parasit TRANSIENT karena keberadaan tungau tersebut bersifat Temporer, dimana Sarcoptes scabiei terdapat dalam hospes dalam waktu sementara dan dapat hidup diluar hospes. Untuk Sarcoptes scabiei biasa terdapat dalam debu rumah, karpet, kain, dll. Sarcoptes scabiei BETINA, dapat hidup 7-14 hari tanpa hospes dalam suhu kamar, sedangkan dalam bentuk larva, dapat bertahan 2-3 hari tanpa hospes dan dalam suhu ruangan. Hospes : Manusia, anjing, dan kucing Lingkar/siklus hidup : Tungau atau Sarcoptes scabiei akan menginvasi kulit manusia, dengan penyebaran melalui KONTAK LANGSUNG maupun TIDAK LANGSUNG. Setelah mengINVASI kulit manusia, jika tungau yang berhasil mengINVASI KULIT terdiri dari JANTAN dan BETINA, Tungau akan melakukan KOPULASI diatas permukaan kulit manusia. Dipermukaan kulit, tungau-tungau tersebut akan mempertahankan posisinya dengan menggunakan alat penghisap yang bernama PULVILLI yang melekat pada kedua kaki terdepannya (AMBULACRA). KOPULASI antara tungau jantan dan tungau betina yang fertile hanya dapat terjadi 1X selama siklus hidup dari

tungau tersebut. Setelah melakukan KOPULASI, tungau jantan dapat mengalami 2 keadaan. PERTAMA, Tungau jantan akan segera mati setelah berkopulasi dengan tungau betina. KEDUA, Tungau jantan tidak segera mati setelah tungau berkopulasi dengan tungau betina, tetapi untuk beberapa waktu sebelum kematiannya, tungau jantan akan kembali membuat terowongan pada kulit untuk tempat hidup dan sumber makanannya. Tetapi, jika yang mengINVASI kulit manusia adalah TUNGAU BETINA yang telah dibuahi oleh tungau jantan sebelumnya, maka tungau betina yang telah dibuahi tersebut akan menggali terowongan pada kulit dengan menembus STRATUM KORNEUM, dengan kecepatan 2-3 mm/hari yang diikuti dengan PELETAKAN TELUR 2-4 butir perhari pada setiap terowongan yang dibuat oleh TUNGAU BETINA tersebut hingga telur tersebut berjumlah 40-50 buah. Karakteristik tungau betina dalam membentuk terowongan adalah, dimana setelah mendapatkan tempat yang cocok untuk membentuk terowongan permanen, tungau betina yang telah fertile tersebut akan membentuk terowongan yang berkelok-kelok membentuk huruf S yang menjadi ciri khasnya. Terowongan pada kulit yang dibuat oleh tungau betina dapat terbentuk sampai ke perbatasan stratum korneum dan stratum granulosum. Tungau BETINA yang telah dibuahi tersebut dapat bertahan hidup selama 4-5 minggu, dan tungau betina yang telah fertile tersebut kemudian akan terus membuat terowongan dengan bentuk khas sambil bertelur selama sisa hidupnya. TELUR-TELUR yang terdapat dalam terowongan, akan segera menetas dalam waktu 3-5 hari setelah peletakkan oleh induknya dalam terowongan, dan akan segera menjadi bentuk LARVA yang mempunyai 3 pasang kaki. LARVA hasil dari telur yang meneta dapat tetap hidup dalam terowongan, maupun dapat hidup bermigrasi menuju permukaan kulit. LARVA yang bermigrasi pada permukaan kulit dapat berpindah tempat dan akan menyebabkan INVASI pada KULIT dari individu lain. Larva yang bermigrasi ke permukaan kulit, untuk kemudiannya akan menggali terowongan baru dengan melubangi kulit hingga stratum korneum, yang biasanya dibentuk pada sekitar folikel rambut untuk membuat suatu bangunan yang disebut MOLTING POUCHES. Molting pouches akan bersifat lebih kecil dan lebih pendek dari terowongan dewasa. Tujuan pembentukan lubang tersebut adalah untuk tempat hidup bagi larva tersebut dan untuk mendapat makanan. Pada stadium LARVA, Tungau belum dapat ditentukan jenis kelaminnya, apakah jantan atau betina, dimana secara morfologipun dapat diketahui bahwa bentuk tungau jantan dan betina dapat dibedakan melalui mrofologi pada kaki ke-4nya. Setelah 2-3 hari, larva akan menetas menjadi bentuk nimfa yang telah mempunyai 4 pasang kaki, dan berdasarkan keadaan tersebut, tungau pada stadium nimfa telah dapat dipastikan untuk jenis kelaminnya, apakah tungau tersebut akan berkembang menjadi tungau jantan ataupun menjadi tungau betina. Bentuk NIMFA dari tungau akan menjadi sedikit lebih besar sebelum akhirnya menetas dan berkembang menjadi bentuk dewasa.

Larva dan Nimfa akan sering ditemukan pada MOLTING POUCHES dan pada folikel-folikel rambut dengan morfologi yang sangat mirip dengan bentuk dewasanya, hanya memiliki ukuran lebih kecil. Bentuk Jantan dalam kehidupannya akan jarang terlihat, karena mereka akan membuat lubang yang lebih dangkal dikulit untuk hidup dan makan, hingga menemukan betina dewasa. Untuk perkawinan selanjutnya antara jantan dan betina, akan terjadi setelah jantan yang aktif akan melakukan penetrasi ke molting pouches betina dewasa. Sarcoptes scabiei akan mengalami METAMORFOSIS TIDAK SEMPURNA dalam perjalanan hidupnya dari TELUR HINGGA DEWASA dalam waktu 8-15 hari. Adapun siklus hidupnya adalah TELUR LARVA NIMFA DEWASA. Pada Jantan, hanya akan melalui satu bentuk siklus nimfa, sedangkan pada betina akan melalui 2 bentuk nimfa, yaitu nimfa 1 dan 2.Yang mempengaruhi proses nifma dari betina lebih lama, dan hingga terbagi dalam dua fase nimfa dalam siklus hidupnya adalah akibat tungau betina yang memiliki ukuran dan komplesifitas tubuh lebih besar dibandingkan tungau jantan, sehingga dibutuhkan proses moulting atau peluruhan yang lebih lama untuk bentuk nimfa berkembang menjadi tungau dewasa. *Metamorfosis sempurna : T-L-PUPA-D *Metamorfosis Tidak Sempurna : T-L-NIMFA-D Pada proses INVASI kulit, Tungau akan menyerang bagian kulit yang bersifat tipis dan lembab, contohnya lipatan kulit pada orang dewasa. Pada bayi, karena seluruh kulitnya masih tipis,maka seluruh badan dapat terserang. Dalam proses invasinya pada stratum korneum dari epidermis kulit, tungau akan menghasilkan protease yang akan menyebabkan terjadinya degradasi atau penguraian protein dari sturuktur stratum korneum. Proses penggalian terowongan pada epidermis oleh tungau betina dilakukan dengan menggunakan mulut dan permukaan khusus untuk memotong pada dua pasang kaki depannya. Sedangkan untuk proses fiksasi dalam proses penggalian, akan digunakan pulvilli sebagai alat penghisap. Tungau tidak bekerja menghisap darah dari pembuluh darah layaknya pedikulosis, tetapi tungau akan bekerja memakan jaringan kulit untuk mempertahankan hidupnya. CARA PENULARAN Penyakit skabies dapat ditularkan melalui kontak langsung maupun kontak tak langsung. Skabies ditularkan oleh tungau betina yang telah dibuahi, melalui kontak fisik yang erat ataupun penularan melalui pakaian dalam, tempat tidur, handuk, maupun melalui binatang peliharaan. Setelah itu, tungau betina akan menggali lubang kedalam epidermis kemudian membentuk terowongan di dalam stratum korneum untuk hidup dan bertelur dalam sepanjang sisa hidupnya. Penyakit ini sangat mudah menular, karena itu bila salah satu anggota keluarga telah terkena, maka biasanya anggota keluarga lain akan ikut tertular juga dengan mudah.

Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan kebersihan perseorangan dan lingkungan. Apabila tingkat kesadaran yang dimiliki oleh banyak kalangan masyarakat masih cukup rendah, derajat keterlibatan penduduk dalam melayani kebutuhan akan kesehatan yang masih kurang, kurangnya pemantauan kesehatan oleh pemerintah, faktor lingkungan terutama masalah penyediaan air

bersih, serta kegagalan pelaksanaan program kesehatan yang masih sering kita jumpai, akan menambah panjang permasalahan kesehatan lingkungan yang telah ada. FAKTOR PREDISPOSISI Kebersihan lingkungan sangat penting pada penularan penyakit ini. Skabies pada umumnya terdapat pada komunitas yang berpenghasilan rendah, yang kurang memperhatikan kebersihan diri (personal hygiene). Skabies juga dapat terjangkit pada mereka yang tinggal berdesakan seperti pengungsi, anggota tentara pada saat perang, asrama, panti, sekolah, dll. PATOGENESIS Tungau atau Sarcoptes scabiei dalam bentuk larva, maupun dewasa dapat mengINVASI kulit melalui beberapa cara penularan, baik melalui kontak langsung maupun tidak langsung. Pada pasien dewasa, tungau tersebut akan menginvasi bagian-bagian kulit yang bersifat tipis dan lembab, sedangkan pada bayi, skabies dapat terjadi pada seluruh badan, dan penyebaran akan dapat terjadi lebih cepat, karena seluruh kulit pada tubuhnya masih bersifat tipis, sehingga tungau penyebab skabies akan lebih mudah menginvasi seluruh bagian kulit dari bayi. Karena tungau tersebut memiliki kinerja dengan cara menginvasi bagian kulit yang lembab dan tipis, maka predileksi dari invasi tungau pada orang dewasa dapat terjadi pada lipatan-lipatan kulit, seperti pada sela jari, siku, axilla/ketiak, pergelangan tangan, lipat paha, areola mammae, umbilicus, penis, pundak, penggung, dan pantat. Setelah menginvasi kulit, tungau tersebut akan melakukan beberapa aktivitas pada kulit hospesnya yang dalam hal ini adalah manusia, seperti melakukan KOPULASI, dan membentuk terowongan yang berfungsi untuk peletakan telur dari betina yang telah dibuahi, tempat tinggal dan perkembangan dari metamorfosis tungau tersebut dalam kulit yang merupakan habitatnya, dan manusia yang merupakan hospes bagi tungau tersebut. Akibat invasi tungau dalam kulit manusia, akan terdapat beberapa keadaan/kelainan yang timbul pada kulit manusia yang terinvasi, antara lain dalam bentuk PRURITUS NOKTURNA, dan terbentuknya KUNIKULUS pada kulit. PRURITUS NOKTURNA atau GATAL pada malam hari yang dialami pasien dengan skabies dapat terjadi akibat adanya tungau yang beraktivitas pada lapisan epidermis kulit yang menyebabkan iritan ataupun reaksi peradangan dalam tubuh. Gatal pada tubuh dapat disebabkan oleh dua mekanisme, yaitu pruritus primer dan pruritus sekunder. Pruritus primer merupakan gatal yang terjadi akibat respon primer tubuh terhadap iritan permukaan atau peradangan yang menyebabkan terjadinya mekanisme pelepasan histamin selama proses peradangan tersebut. Sedangkan pruritus sekunder merupakan rasa gatal yang ditimbulkan dari penyakit sistemik tertentu, seperti DM, penimbunan bilirubin pada kulit, dll. Pruritus primer merupakan mekanisme yang mendasari gatal pada pasien dengan skabies. Gatal yang terjadi juga dapat disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekret dan ekskret tungau terhadap kulit, yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi tungau pada kulit. Adanya pergerakan tungau pada stratum korneum epidermis kulit merupakan pencetus awal dari terjadinya gatal yang intens menyerupai reaksi alergi, dan hal tersebut diperberat dengan terjadinya peletakan telur-telur tungau di sepanjang burrow atau kunikulus yang dibuat oleh tungau betina pada epidermis

kulit. Selain dua keadaan tersebut, reaksi gatal pada kulit juga dapat dicetuskan oleh terdapatnya substansi hasil proses moulting dari proses metamorfosis tungau didalam tubuh. Ketika seseorang terinfestasi dengan tungau skabies untuk pertama kali, gejala gatal yang dialami baru akan muncul hingga 2-6 minggu pasca infestasi. Hal ini dapat terjadi, karena pada awalnya, parasit akan mengubah kode genetiknya, sehingga antibodi dari tubuh host tidak akan mengenali parasit tersebut sebagai antigen. Sedangakan, bagi seseorang yang pernah terinfestasi sebelumnya, gejala akan muncul lebih cepat, yaitu sekitar 1-4 hari setelah terpajan parasit tersebut. Sistem imun dapat bekerja mengenali antigen pada kulit, akibat terdapatnya SALT (Skin Associated Lymphoid Tissue) yang terdiri dari sel langerhans pada stratum spinosum dari epidermis, keratinosit pada epidermis, saluran limfatik khusus yang terdapat diantara ruang interseluler epidermis dan pada lapisan dermis, serta adanya sel endotel kapiler khusus yang memiliki reseptor khusus untuk menarik limfosit T. Berdasarkan fungsinya dalam imunologis, keratinosit yang merupakan sel epidermis terbanyak akan berperan dalam mengeluarkan sitokin IL-1, yang akan mempengaruhi pematangan sel T yang cenderung terlokalisasi pada kulit. Selain itu, keratinosit juga akan bekerja memproduksi cairan yang mengandung protein yang akan berikatan dengan antigen yang masuk ke dalam epidermis untuk membentuk kompleks antigen. Sel langerhans akan berfungsi sebagai antigen presenting cell (APC) yang akan membawa antigen kepada sel limfatik dalam reaksi alergi kontak. Alergi merupakan respon imun humoral yang bekerja tidak sesuai, sehingga disebut sebagai proses hipersensitivitas, dengan bahan penyebab yang disebut alergen. Pada infestasi tungau, diperkirakan bahwa tungau bukan merupakan alergen dari proses alergi yang terjadi, tetapi substansi-substansi lain yang dihasilkan oleh tungau, dapat diperkirakan menjadi penyebab dari tercetusnya reaksi alergi yang menyebabkan gatal. Hal ini didasarkan oleh adanya pernyataan bahwa parasit akan mengubah kode genetiknya, sehingga antibodi dari tubuh host tidak akan mengenali parasit tersebut sebagai antigen Pada proses alergi pada skabies, alergi yang terjadi adalah akibat dari infestasi substansi dari tungau penyebab skabies, tergolong dalam hipersensitivitas tipe cepat. Pada hipersensitivitas tipe cepat, substansi dari parasit sebagai alergen, tanpa alasan yang diketahui akan berikatan dengan Naive B Cell sehingga terjadi proses aktivasi B cell dan terbentuklah IgE melalui proses CLONAL EXPANSION. Setelah IgE terbentuk, IgE tidak akan beredar bebas, dan peningkatan alergen yang terikat oleh IgE akan mencetuskan pengeluaran beberapa zat perantara kimiawi dari sel mast dan basofil yang melekat pada IgE. Salah satu zat kimia yang disintesis oleh sel mast akibat mekanisme tersebut adalah histamin yang menyebabkan rasa gatal.Hipersensitivitas tersebut termasuk dalam hipersensitivitas type 1 atau immediate type dengan mediator IgE. Sedangkan untuk waktu atau frekuensi gatal yang terjadi pada MALAM HARI, didasari oleh sifat dari tungau yang lebih senang beraktivitas tinggi pada keadaan yang lebih lembab dan panas, dimana pada malam hari saat manusia sedang beristirahat, lipatan tubuh yang menjadi predileksi dari invasi tungau akan berada pada posisi statis, dimana keadaan tersebut akan menyebabkan daerah tersebut lebih lembab dan lebih panas. Gatal dalam suatu rangsang saraf termasuk dalam suatu rangsangan nyeri yang bersifat paling ringan. Sensasi gatal yang ditransmisikan oleh serat C menuju medullsa Spinalis dan otak, akan menghasilkan respon refleks spinal dalam bentuk menggaruk. Refleks menggaruk dapat menutupi rasa gatal yang terjadi, karena berdasarkan tingkatan rangsang saraf, garuka memiliki ambang nyeri lebih berat jika dibandingkan dengan gatal, sehingga rasa gatal dapat teratasi dengan menggaruk. Kunikulus merupakan gambaran klinis yang ditimbulkan dari terowonganterowongan (burrow) pada stratum korneum yang dibuat oleh tungau. Secara klinis,

kunikulus akan terdapat pada tempat predileksi dari invasi tungau dengan gambaran berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok-kelok, dengan rata-rata panjang 10mm -3cm, dan pada ujung dari terowongan tersebut akan ditemukan papul atau vesikel. Bentuk erupsi pada kulit yang terjadi pada pasien dengan skabies dipengaruhi oleh derajat sensitasi, lama investasi, hygiene perorangan, dan pengobatan yang dilakukan. Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan yang dilakukan secara tidak sadar akibat pruritus nokturna yang dialami oleh pasien dan menyebabkan infeksi sekunder pada kulit pasien. Garukan yang dilakukan untuk mengatasi gatal, akan menyebabkan terjadinya jejas pad selsel kulit yang mengalami garukan tersebut. Jejas yang terjadi pada sel, akan menyebabkan kerusakan sel, sehingga terjadilah proses inflamasi sel. Terjadinya inflamasi pada sel tersebut, akan kembali merangsang terjadinya pelepasan histamin oleh sel mast dari sistem imun alamiah, sehingga gatal akan menjadi lebih berat dirasakan. Garukan yang dilakukan akibat rasa gatal yang timbul, dapat menyebabkan terjadinya erosi, ekskoriasi, bahkan hingga terbentuknya ulkus jika tidak ditangani dengan baik. Jika terjadi infeksi sekunder akibat keadaan tersebut, akan terbentuk ruam kulit yang bersifat polimorf. Pada saat itu kelainan kulit akan menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul,vesikel, urtika, pustula dan lain-lain. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta, dan infeksi sekunder. Kelainan kulit dan gatal yang terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau akibat garukan yang dilakukan oleh pasien. GEJALA KLINIS Lesi Primer Skabies berupa Terowongan yang berisi TUNGAU,TELUR, dan hasil metabolisme tungau, dimana, saat terjadi proses penggalian terowongan, tungau akan MENGELUARKAN SEKRET yang dapat MELISISKAN STRATUM KORNEUM. SEKRET tersebut akan menyebabkan timbulnya PRURITUS dan LESI SEKUNDER. TUNGAU HANYA AKAN TERDAPAT PADA LESI PRIMER.Terowongan dapat ditemukan apabila belum terdapat infeksi sekunder. LESI SEKUNDER berupa PAPUL,VESIKEL,PUSTUL,dan BULA LESI TERSIER berupa EROSI, EKSKORIASI, EKSEMATISASI. Terdapat empat tanda kardinal skabies: 1.PRURITUS NOKTURNA gatal pada malam hari yang disebabkan karena aktivitas tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas. 2. Penyakit ini menyerang manusia secara BERKELOMPOK, misalnya dalam sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Begitu pula dalam sebuah perkampungan yang padat penduduknya, sebagian besar tetangga yang berdekatan akan diserang oleh tungau tersebut. Dikenal dengan keadaan hiposensitisasi, yang seluruh anggota keluarganya terkena, walaupun mengalami infestasi tungau, tetapi tidak memberikan gejala. Penderita ini bersifat sebagai pembawa (carrier). 3. Adanya TEROWONGAN / KUNIKULUS pada tempat-tempat predileksi . Jika timbul infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimorf (pustule, ekskoriasi dan lain-lain). Tempat predileksinya biasanya merupakan tempat dengan stratum korneum yang tipis, yaitu selasela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipatketiak bagian depan,

areola mammae (wanita), umbilicus, bokong, genitalia eksterna (pria) dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki. 4. MENEMUKAN TUNGAU, merupakan hal yang paling diagnostik. Dapatditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini. Diagnosis dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda kardinal tersebut. PEMBANTU DIAGNOSIS Cara menemukan tungau : 1. Carilah terowongan atau kunikulus, kemudian pada ujung yang terdapat papul atau vesikel dicongkel dengan jarum dan diletakkan disebuah kaca objek, lalu ditutup dengan kaca penutup dan dilihat dibawah mikroskop cahaya. 2. Pengambilan tungau dengan cara menyikat dengan sikat dan ditampung diatas selembar kertas putih dan dilihat dengan kaca pembesar pada bagian yang mengalami kunikulus. 3. Dengan membuat biopsi irisan. Caranya, lesi dijepit dengan dua jari kemudian dibuat irisan tipis dengan pisau dan hasil irisan diperiksa dengan mikroskop cahaya. 4. Dengan biopsi eksisional dan hasil eksisi dari biopsi tersebut diperiksa dengan pewarnaan HE. BENTUK SKABIES Bentuk-bentuk skabies antara lain 1. skabies pada orang bersih, bentuk invasi ditandai dengan adanya lesi berupa papul dan terowongan yang sedikit jumlahnya sehingga sangat sukar ditemukan. . Biasanya sangat sukar ditemukan terowongan. Kutu biasanya hilang akibat mandi secara teratur 2. Skabies In Cognito adalah bentuk ini timbul pada skabies yang diobati dengan kortikosteroid sehingga tanda dan gejala klinis membaik tetapi tungau tetap ada dan penularanya masih tetap bisa terjadi. Obat steroid topikal atau sistemik dapat menyamarkan gejala dan tanda scabies,sementara infestasi tetap ada. Sebaliknya pengobatan dengan steroid topical yanglama dapat pula menyebabkan lesi bertambah hebat. Hal ini disebabkan mungkinoleh karena penurunan respon imum seluler 3. Skabies Nodular adalah skabies berupa nodul coklat kemerahan yang gatal. Nodus biasanyaterdapat di daerah tertutup, terutama pada genitalia laki-laki, inguinal dan aksila. Nodus ini timbul sebagai reaksi hipersensetivitas terhadap tungau scabies. Padanodus yang berumur lebih dari satu bulan tungau jarang ditemukan. Nodusmungkin dapat menetap selama beberapa bulan sampai satu tahun meskipun telah diberi pengobatan anti skabies dan kortikosteroid 4. Skabies yang ditularkan melalui hewan. Kelainan ini berbeda denganskabies manusia yaitu tidak terdapat terowongan, tidak menyerang sela jari dangenitalia eksterna. Lesi biasanya terdapat pada daerah dimana orang seringkontak/memeluk binatang kesayangannya yaitu paha, perut, dada dan lengan.Masa inkubasi lebih pendek dan transmisi lebih mudah. Kelainan ini bersifatsementara (4 8 minggu) dan dapat sembuh sendiri

karena Sarcoptes scabiei pada binatang tidak dapat melanjutkan siklus hidupnya pada manusia 5. Skabies Norwegia ditandai lesi yang luas dengan krusta, skuama generalisata dan hiperkeratoris yang tebal. Tempat predileksi biasanya kulit kepala yang berambut, telinga bokong, siku, lutut, telapak tangan dan kaki yang dapat disertai distrofi kuku.Berbeda dengan skabies biasa, rasa gatal pada penderita skabies Norwegia tidak menonjol tetapi bentuk ini sangat menular karena jumlah tungau yangmenginfestasi sangat banyak (ribuan). Skabies Norwegia terjadi akibat defisiensiimunologik sehingga sistem imun tubuh gagal membatasi proliferasi tungau dapat berkembangbiak dengan mudah. DIAGNOSIS BANDING 1. Prurigo Dimana pada prurigo akan didapatkannya lesi papul, rasa gatal, tanda-tanda bekas garukan dalam bentuk erosi, ekskoriasi, maupun krusta. Dapat terjadi juga infeksi sekunder. Yang membedakan adalah, dimana pada prurigo dapat ditemukan adanya pembesaran KGB regional walaupun tidak diikuti dengan infeksi, dan pada prurigo tidak akan ditemukan kunikulus dan tungau. 2. Dermatitis Akan memiliki gejala yang sama, apabila skabies telah berkembang dengan komplikasi infeksi sekunder. Tetapi pada dermatitis, penyebab terjadinya peradangan pada kulit bukan disebabkan oleh invasi tungau pada kulit. 3. Pedikulosis Korporis Merupakan INFEKS pada kulit OLEH PARASIT. Dominan disertai dengan rasa gatal yang menyebabkan adanya lesi akibat garukan dalam bentuk erosi,ekskoriasi, dan infeksi sekunder. Perbedaannya, dimana pada pedikulosis akan didapatkan pembesaran KGB regional, dan akan ditemukannya Pediculus humanus (kutu) yang bersifat menyerap darah pada lesi yang mengalami rasa gatal. PENGOBATAN Cara Pengobatan : 1. 2. 3. 4. 5. Harus efektif terhadap semua stadium tungau. Harus tidak menimbulkan iritasi terhadap kulit dan tidak toxic terhadap tubuh. Tidak berbau atau kotor serta tidak merusak atau mewarnai kotoran. Mudah diperoleh dan harganya murah. Pengobatan harus dilakukan pada seluruh anggota keluarga atau kelompok masyarakat termasuk pad apenderita yang mengalami hiposensitisasi, yang dicurigai sebagai penyebar dari invasi tungau terhadap kulit.

Jenis Pengobatan Topikal : 1. Belerang endap atau sulfur presifitatum dengan kadar 4-20% dalam bentuk salep atau krim. Kelemahannya tidak efektif terhadap stadium telur, maka penggunaannya tidak boleh kurang dari 3 hari. Bersifat berbau dan mengotori

2.

3.

4.

5.

pakaian serta dapat menimbulkan iritasi. Kelebihan dapat digunakan pada bayi kurang dari 2 tahun. Emulsi benzil benzoas, dengan kadar 20-25%. Kelebihan : Efektif terhadap semua stadium dengan cara pemberian selama 3 hari pada setiap malam. Kekurangan : sulit diperoleh, sering memberi iritasi dan kadang menyebabkan gatal yang semakin hebat. MAHAL Gamma Benzena Hexa Chlorida atau Gamexan. Dengan kadar 1% dalam krim atau losio. Merupakan Drugs of Choice, Karena efektif pada semua stadium, mudah digunakan dan jarang menimbulkan iritasi. Tetapi, obat tersebut tidak dapat digunakan pada anak kurang dari 6 tahun dan wanita hamil karena toxic terhadap SSP. Pemberian cukup 1x. Krotamiton digunakan dengan kadar 10% dalam krim atau losio. Merupakan Drugs of Choic, karena bekerja sebagai anti skabies dan anti gatal. Harus dijauhkan dari mata, mulut dan urethra. MAHAL Permetrin dengan kadar 5% dalam krim. Bersifat kurang toxic dibanding gamexan dengan efektifitas yang sama. Tidak dianjurkan pada bayi kurang dari 2 bulan. Aplikasi hanya 1x dan dapat dihapus setelah 10 jam pemberian.

PENCEGAHAN Pencegahan dan penanggulangan penyakit skabies dapat dilakukan dengan cara perbaikan sanitasi, menjaga kebersihan tubuh sangat penting untuk mencegah infestasi parasit sebaiknya mandi 2 kali sehari, menghindari kontak langsung dengan penderita, mengingat parasit mudah menular pada kulit biasa, tidak membahayakan jiwa namun sangat mengganggu kehidupan seharihari. Semua penderita dalam keluarga/pondok/asram harus di obati. Penyakit skabies adalah penyakit yang menular melalui kontak perorangan, apabila ada salah satu anggota keluarga/pondokan yang menderita skabies harus segera diobati agar tidak menular kepada anggota yang lain/warga sekitar. Mencuci bersih seluruh pakaian, handuk, dan alat tidur bahkan sebagian ahli menganjurkan dengan cara direbus,handuk, seprai maupun baju penderita skabies, kemudian menjemurnya hingga kering

ANATOMI Kulit merupakan bagian terluar dari organ manusia. Secara umum, kulit terbagi dalam 3 LAPISAN UTAMA, yaitu : Epidermis, Dermis, dan Subkutis EPIDERMIS Epidermis tersusun dari 5 Lapisan, yaitu stratum KORNEUM, stratum LUSIDUM, strartum GRANULOSUM, stratum SPINOSUM, dan stratum BASALE.

Stratum Basale merupakan lapisan dasar dari epidermis yang tersusun dari sel SELAPIS KUBIS (KOLUMNAR) yang tersusun teratur dan membentuk gambaran seperti PALISADE. Sela selapis kubis memiliki fungsi untuk bereproduksi dengan mengadakan proses MITOSIS. Mitosis dari sel kolumnar pada stratum basale akan berfungsi untuk proses peremajaan dari sel-sel pembentuk lapisan epidermis yang terdapat di lapisan atasnya. Selain terdapat Sel selapis kubis, terdapat juga sel melanosit yang mengandung melonosom sebagai pembentuk pigmen pada kulit. Stratum Spinosum merupakan lapisan pada epidermis yang tersusun dari berlapis sel poligonal yang terbentuk akibat masih terjadinya mitosis dari sel tersebut. Pada stratum spinosum, PROTOPLASMA yang tersusun dari PROTEIN ELEIDIN yang akan membentuk KERATIN. Sel pada stratum Spinosum masih memiliki inti pada tengah sel, dan bentuk sel pada lapisan ini, semakin ke permukaan, semakin gepeng. Terdapat Sel Langerhans diantara stratum spinosum dan stratum granulosum. Stratum Granulosum, merupakan lapisan pembentuk epidermis yang tersusun atas beberapa lapis sel gepeng berinti dengan sitoplasma berbutir kasar yang disebut KERATOHIALIN. Lapisan ini tidak terdapat pada mukosa. Stratum Lusidum, merupakan lapisan pada epidermis yang tersusn dari sel-sel gepeng tanpa inti, dengan protoplasma. Stratum granulosum merupakan lapisan epidermis yang tersusun dari sel gepeng yang tidak berinti dan telah mengalami kematian. Pada lapisan tersebut, protoplasma telah berubah menjadi KERATIN dan membentuk LAPISAN TANDUK pada kulit. Pada stratum granulosum terjadi mekanisme KERATINISASI yang merupakan proses pengelupasan stratum granulosum secara dinamis, yang terjadi akibat proses regenerasi sel dari lapisan stratum basale yang terus bereproduksi melalui proses MITOSIS. Sel yang mengalami KERATINISASI adalah KERATINOSIT. DERMIS Terbagi dala 2 bagian utama, yaitu PARS PAPILARE DAN PARS RETIKULARE. PARS PAPILARE tersusun dari jaringan ikat longgar. Pada lapisan ini terdapat 2 organ penting, yaitu Ujung serabut saraf bebas dan Pembuluh darah. Sedangan PARS RETIKULARIS tersusun dari jaringan ikat padat irregular yang diikuti oleh beberapa serabut penunjang, seperti serabut kolagen, elastin, dan retikulin. SUBKUTIS

Merupakan kelanjutan dari lapisan dermis yang tersusun dari jaringan ikat longgar yang berisis sel-sel lemak. Pada lapisan tersebut terdapat PD, ujung2 saraf, dan saluran Limfe. Berfungsi sebagai bantalan. Kulit Memiliki Adneksa, yang terdiri dari kelenjar kulit, kuku, dan rambut. Kelenjar kulit terdiri dari 2 jenis, yaitu kelenjar keringat (sudorifera) dan kelenjar sebasea. Kelenjar keringat tersusun dari kelenjar APOKRIN lebih dalam dan sekret kental, dan kelenjar EKRIN letak dangkal dan sekret encer. Sedangkan kelenjar sebasea merupakan kelenjar HOLOKRIN, merupakan kelenjar tidak berlumen yang sekretnya tersusun dari dekomposisi sel-sel kelenjar.

RUAM Ruam terbagi dalam 2 jenis, yaitu ruam primer dan ruam sekunder. Ruam primer merupakan ruam yang terbentuk pertama kali pada kulit, akibat kelainan tertentu, yang tidak dipengaruhi oleh TRAUMA dan MANIPULASI 1. Makula ruam BERBATAS TEGAS, DAN HANYA PERUBAHAN WARNA 2. Eritema HANYA PERUBAHAN WARNA akibat PELEBARAN PD 3. Urtikaria EDEMA SETEMPAT yang TIMBUL TIBA2 dan HILANG PERLAHAN 4. Papul TONJOLAN BERBATAS TEGAS dengan d : < 0,5cm, berisi ZAT PADAT 5. Nodus MASSA PADAT BERBATAS TEGAS dengan INFILTRASI DALAM. 6. Plak PENINGGIAN PERMUKAAN KULIT, berisi ZAT PADAT, dengan PERM RATA. 7. Vesikel TONJOLAN BERISI SERUM dengan d : < 0,5 cm. Jika berisi DARAH : Vesikel Hemoragik. 8. Pustul VESIKEL BERISI PUS. Jika psu MENGENDAP HIPOPION 9. Bula VESIKEL dengan UKURAN >>> 10. EROSI Hilang Jaringan TIDAK SAMPAI STRATUM BASALE 11. EKSKORIASI BILA GARUKAN MENYEBABKAN KERUSAKAN HINGGA PARS PAPILARE 12. ULKUS HILANGNYA JARINGAN LEBIH DALAM DARI EKSKORIASI, mempunyai TEPI,DINDING,ISI,dan DASAR. 13. KRUSTA CAIRANG YANG MENGERING PADA PERMUKAAN KULIT.