Anda di halaman 1dari 3

RESUME CASE STUDY-2 BLOK AESTHETIC DENTISTRY 2 Indah Laraswati (G1G009002)

SKENARIO KASUS A 40-year old woman was referred to our clinic complaining of pain within hours after a trafficcrash. Clinical examination revealed that her maxillary mature left central incisor (A)/ right central incisor (B) had a crown-root fracture with pulp exposure, although the fractured fragment remained in place (fig.1). The fracture crown was removed and the root canal was filled with gutta-percha and resin sealer using the lateral condesation technique. ANALISA KASUS A. PEMERIKSAAN SUBJEKTIF 1. Chief Complaint (CC) Mengeluh sakit 2. Present Illness (PI) Mengeluh sakit setelah beberapa jam mengalami kecelakaan lalu lintas. 3. Past Medical History (PMH) Tidak diketahui 4. Past Dental History (PDH) Perawatan saluran akar 5. Family History (FH) Tidak diketahui 6. Social History (SH) Tidak diketahui B. PEMERIKSAAN OBJEKTIF 1. Pemeriksaan ekstra oral Meliputi penampakan secara umum dari pasien, pembengkakan di muka dan leher, pola skeletal, kompetensi bibir temporomandibular joint serta melakukan palpasi limfonodi, TMJ dan otot-otot mastikasi.1

2. Pemeriksaan intra oral Hasil pemeriksaan intraoral menunjukkan bahwa gigi 11/21mengalami fraktur mahkota akar dengan pulpa terbuka. C. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Radiografi Pada kasus ini diperlukan pemeriksaan radiografi intra oral periapikal untuk melihat keadaan jaringan pendukung gigi, ada/tidaknya lesi patologis dan melihat keadaan pengisian saluran akar (hermetis/tidak).

Gambar 1. Radiografi periapikal

D. DIAGNOSIS Berdasarkan pemeriksaan subjektif dan objektif, dapat di diagnosis pasien menderita fraktur Ellis kelas 3 pada gigi 11/21. Diagnosis ditetapkan berdasarkan adanya fraktur mahkota akar dengan pulpa terbuka. E. RENCANA PERAWATAN Rencana perawatan pada kasus ini adalah mahkota jaket dengan inti pasak pada gigi 11/21. PROSEDUR PERAWATAN 1. Perhatikan keadaan mahkota, oklusi ataupun pengisian saluran akarnya. 1

PENUGASAN BLOK AESTHETIC DENTISTRY TA 2012/2013

2.

Keadaan mahkota harus sesuai dengan indikasi (kehilangan mahkota gigi yang besar), keadaan oklusi yaitu gigi antagonis harus menyediakan tempat bagi inti agar tidak terjadi premature contact serta pengisian saluran akar harus hermentis dan tidak ada lesi pathosis (granuloma, kista maupun overfilling) Pengukuran panjang pasak Panjang pasak = panjang mahkota klinis, panjang pasak = 2/3 panjang akar serta menyisakan gutta perca 4 mm (3-5 mm) dari apikal 1.

Gambar 2. Pengukuran Panjang Pasak

3. Preparasi mahkota Preparasi tonggak seperti preparasi mahkota jaket. 4. Preparasi akar Preparasi akar dimulai dengan membuat sudut 1200 dengan menggunakan bur fissure kemudian buat keyway dengan bur fissure sedalam 0,5-1 mm dengan panjang 4 mm dr orifice (berbentuk box atau kunci). Keyway ini dilakukan untuk mencegah rotasi pasak terhadap tekanan pengunyahan. Pasak yang berbentuk bulat cenderung untuk berputar bila terkena pengunyahan yang terus menerus. Selanjutnya dibuat bevel dengan bur fissure ujung meruncing. Fungsi bevel ini sebagai resistensi agar gigi tidak pecah terhadap tekanan pengunyahan1. 5. Pengambilan gutta perca sesuai panjang kerja

Gutta perca diambil dengan menggunakan gates glidden drill kecepatan rendah secara bertahap agar tidak terjadi kesalahan preparasi saluran akar sampai menyisakan 1/3 apikal3. 6. Pembuatan pola malam pasak inti penuh tuang a. Indirect methode dengan menggunakan bahan cetak elastomer viskositas rendah. b. Direct methode (1)Saluran akar yang telah dipreparasi dibersihkan dan diolesi dengan vaseline. (2)inlay wax dilunakan dan dimasukan ke dalam saluran akar ditekan dan dibentuk sesuai dengan panjang saluran akar yang telah dipreparasi. (3)Sprue dipanaskan dan dimasukan ke dalam saluran akar, setelah malam mengeras dan melekat pada sprue pola malam ditarik keluar dari saluran akar. (4)Selanjutnya membuat malam inti/ core dengan menggunakan lekron panas dan malam inlay membentuk mahkota hingga terbentuk seperti mahkota hasil preparasi3. 7. Pengecoran pasak a. Pembuatan reservoir pada sprue untuk mencegah terjadinya shrinkage porosity. b. Pemendaman malam beserta sprue pada tabung casting ring. c. Pembakaran (burning out). d. Pengecoran (casting). e. Penyelesaian (finishing). 8. Pemasangan pasak a. Pasak dicoba dimasukan ke dalam saluran akar, inti tidak boleh tergigit gigi antagonis. b. Pasak dan saluran akar dilumuri

PENUGASAN BLOK AESTHETIC DENTISTRY TA 2012/2013

dengan adukan semen yang agak encer dan dipertahankan kedudukannya sampai semen mengeras. c. Pencetakan dilakukan untuk pembuatan mahkota jaket 9. Pemasangan mahkota pasak (try in) Setelah mahkota jadi, maka dilakukan try in dengan tujuan untuk mnegetahui kepadatan tepi, ada traumatik oklusi atau tidak, menekan gingival atau tidak pada servikal serta warnanya sesuai atau tidak4. 10. Penyemenan post crown Sementasi mahkota dengan SIK tipe luting atau semen resin1.

mahkota jaket dengan inti pasak pada gigi 11/21. Tahapan pembuatan jaket crown antara lain pengukuran panjang pasak, pengambilan gutta perca, preparasi saluran akar, Pembuatan pola malam pasak inti penuh tuang, pengecoran pasak, pemasangan pasak, penyemenan post crown, edukasi dan kontrol DAFTAR PUSTAKA 1. Bakar, A., 2012, Kedokteran Gigi Klinis, Yogjakarta:Quantum sinergis media 2. Bence, Richard. 1990. Buku Pedoman Endodontik Klinik. Jakarta : UI Press 3. Martanto, P., 1985.Ilmu Mahkota dan Jembatan (Fixed Partial Prosthodontics). Jilid 2, Bandung:Alumni 4. Weine, Franklin., 2004, Endodontic Therapy, sixth edition,Mosby: Elseveir.

Gambar 3. Luting pasak

11. Edukasi dan kontrol Instrusikan pada pasien untuk tidak menggunakan mahkota pasak untuk menggigit sesuatu yang keras dengan sengaja dan kontrol 3-7 hari setelah pemasangan untuk diperiksa oklusi, keadaan sela gusi dan kebersihan mulutnya2. KESIMPULAN Diagnosis pada kasus ini adalah fraktur Ellis kelas 3 pada gigi 11/21. Penegakan diagnosis dapat dilakukan dengan pemeriksaan subjektif dan objektif. Rencana perawatan pada kasus ini adalah

PENUGASAN BLOK AESTHETIC DENTISTRY TA 2012/2013